Tag Archives: Animal Behaviour

The Hunter.

Standard

img_20151030_082711.jpgSaya punya 3 ekor anak kucing yang sekarang sudah mulai besar. Lahir dari seekor kucing liar betina yang diberi makan sejak kecil oleh anak saya. Lama kelamaan kucing betina yang diberi nama Cudly itu betah di rumah dan beranak.

2015-11-23-07.16.12.jpg.jpegTiga ekor anak kucing itu sangat berbeda warnanya. Yang lahir paling awal berwana hitam dengan sedikit bercak putih. Yang lahir ke dua berwana putih dengan sedikit bercak hitam. Sedangkan yang ke tiga berwarna coklat penuh. Karena tidak sempat memikirkan namanya kami menyebut anak kucing itu dengan kode warnanya saja. Si Hitam, Si Putih dan Si Coklat. Induknya sendiri belang tiga, Putih dengan bercak Hitam dan coklat.

Tingkah lakunya pun berbeda beda. Si Coklat cenderung serius. Hobinya makan. Sehingga paling gendut diantaranya. Si Putih sangat tenang dan lembut. Ia seekor kucing rumahan. Sedangkan Si Hitam kucing yang sejak lahir sudah ketahuan bibit bibit bandelnya.

Hal ini membuat saya semakin percaya bahwa setiap individu itu sudah membawa sifatnya masing-masing di luar nilai-nilai kehidupan yang dibangun keluarganya. Walaupun satu keluarga, belum tentu sifatnya sama.

img_20151106_191532.jpgMata kucing saya yang hitam ini termasuk “belo” untuk ukuran mata kucing.
Kelakuannya ampuun. Sangat nakal. Ia hobby merusak tanaman saya. Memanjat barang anggrek dan pohon cabe, lalu menarik-nariknya sampai mati. Ia juga menginjak-injak tanaman sayur saya. Seekor kucing preman. Kalau dilarang, maka ia akan melawan. Matanya melotot tanpa bersalah. Seolah-olah menantang bahwa apa yang ia lakukan adalah benar. Namun demikian tampang dengan mata belonya itu selalu kelihatan lucu.

Suatu hari ia terlihat sedang bermain main dengan sebuah benda berwana hitam di kakinya. Benda itu bergerak-gerak menandakan bahwa ia adalah mahluk hidup. Segera saya mengambil kacamata minus saya. Ya ampuuun…setelah saya perhatikan, benda hitam itu  ternyata seekor anak kelelawar. Dengan segera saya merebut anak kelelawar itu dari kakinya. Takutnya luka luka akibat cakaran kucing. Anak kucing saya terlihat tidak setuju. Ia pun memandang saya dengan mata protes. matanya membesar. Aduuuh…..Ia benar -benar tidak paham bahwa anak kelelawar kecil yang jatuh  itu perlu ditolong dan dilepas ke alam lagi. Bukannya diuyek-uyek dijadikan mainan.

20151209_153043.jpgKebandelan berikutnya yang ia lakukan adalah kabur dari rumah. Ketika saudara-saudaranya yang lain masih sibuk menyusu dan bermalas-malasan dengan induknya, Si Hitam sudah belajar memanjat tembok dan naik ke atap genteng. Semakin dilarang, semakin ia menjalankan niatnya. Jika diturunkan,ia segera naik lagi.

Suatu kali ia kabur dari rumah. Saya sedih bukan kepalang. Coba telusuri dan tanya-tanya tetangga. Barangkali ada yang ketemu. Tapi tidak ada seorangpun yang melihatnya. Ia menghilang begitu saja, seolah-olah ditelan bumi. Walaupun ada yang memberi tahu “kucing jantan memang suka kabur” tapi tetap saja saya merasa sedih. Ia masih terlalu muda.

Setelah beberapa hari menghilang, akhirnya saya mulai bisa menerima keadaan. Berpikir barangkali ada yang sudah mengadopsinya dan memberinya makan. Biarlah,kalau memang begitu. Semoga saja demikian. Setidaknya ia tidak kedinginan dan kelaparan di jalanan.

Tapi pada suatu malam, ketika Si Mbak pulang dari ruko, ia melihat Si Hitam sedang mengeong di dekat Tukang Pecel Ayam. Bercampur dengan kucing -kucing liar yang lain, Si Hitam rupanya menjadi sangat kurus kering. Akhirnya Si Mbak memanggilnya dan kucing hitam itupun pulang kembali ke rumah. Saudara saudaranya sangat senang  ia kembali. Demikian juga dengan saya dan anak-anak. ia segera mendapatkan makanan yang enak dan dimandikan oleh anak saya.

20151209_153110.jpgSetelah itu ia anteng selama beberapa hari. Ia menjalankan tugas menjaga rumah di halaman belakang. Selama ia ada, tidak ada seekor tikuspun yang berani masuk ke halaman. Jika ada yang berani menunjukkan moncongnya sedikit saja, langsung ia terkam tanpa ampun. Beberapa kali ia pergi keluar rumah tapi setelah sehari dua hari ia pulang kembali. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Nah  kemarin pagi, kebetulan saya kurang sehat karena flu dan demam. Saya tidak berangkat ke kantor.  Anak saya memberitahu kalau semalam Si Hitam menangkap seekor Burung Merpati dan mengoyak-ngoyak sayapnya. Ya ampuuun. Kasihan banget burung merpatinya. Saya memeriksa burung merpati itu sebentar. Lukanya tidak separah yang saya duga. Rupanya sudah dikasih obat merah oleh Si Mbak. Setelah agak pulih, burung merpati itupun dilepaskan kembali ke alam bebas. (Saya lupa mengambil foto burung merpati  yang menjadi korban perburuan Si Hitam).

Dan hari ini , anak kucing hitam itu pergi lagi keluar rumah. Saya tidak tahu akankah ia kembali lagi dan kapan. Entahlah. Saya rasa darah pemburu mengalir deras dalam dirinya. Ia seekor petualang sejati. Tak ada gunanya saya berusaha memaksanya menjadi kucing rumahan yang lucu dan manja. Karena alam liar menunggunya di luar sana. Tempat di mana ia menemukan jiwanya sendiri. Tempat di mana ia bisa berdamai dengan nalurinya sendiri.

Dan sebaiknya saya tidak usah terlalu mengkhawatirkan hidupnya.Ia akan menemukan makanannya sendiri tanpa harus dibantu oleh manusia seperti saya. Karena ia seekor pemburu sejati.

Mengejar Ekor Sendiri.

Standard

 

20151213_160205.jpgSaya sedang bekerja di halaman belakang. Menggunting dan mencabut tanaman tomat yang sudah tua dan meranggas, serta bermaksud menggantinya dengan bibit tanaman pakchoi. Tiga ekor anak kucing ikut bermain-main petak umpet di sekitar saya. Di tumpukan sampah pohon-pohon tomat tua itu. Kelihatan sangat riang gembira.

Tak berapa lama saya selesai dengan pekerjaan gunting menggunting saya. Lumayan juga keringetan. Anggap saja berolahraga ya. Saya mengambil minum dan istirahat sejenak. Anak -anak kucing itu pun ikut bubar.  Dua ekor, yang hitam dan yang coklat sekarang sibuk menyusu pada ibunya. Tetapi yang seekor berwarna putih tidak kelihatan bersama. Kemana ya? Saya mencari.

Ooh..rupanya ia masih bermain sendiri di dekat pojok halaman. Sibuk bergerak-gerak sendiri.  Meloncat-loncat dan berputar-putar sendiri. Sedang ngapain sih?  Saya jadi penasaran. Apakah ada anak kelelawar, anak tikus atau mahluk hidup lain yang tertangkap olehnya dan dijadikan mainan kali ini?. Anak kucing ini pernah saya lihat membawa anak kelelawar sebelumnya. Saya lalu mendekat untuk mengamati kelakuan anak kucing itu. Tidak ada anak kelelawar. Tidak ada anak tikus. Tidak ada apa apa. Lalu mengapa ia meloncat loncat dan berputar putar? Ooh rupanya ia mengejar ekornya sendiri.

Anak kucing kecil yang ini ekornya memang agak panjang. Ketika ia menengok ke belakang , barangkali ia melihat ekornya sendiri bergerak-gerak dan menyangka jika itu adalah binatang kecil. Ia tertarik untuk menangkapnya. Bergeraklah ia mengejar ekornya ke belakang. Tetapi karena ia bergerak, maka ekornya mengikuti gerakan tubuhnya ke depan. Anak kucing itu berusaha menangkap lagi. Dan lagi. Berulang- ulang. Tapi tidak pernah tertangkap olehnya sekalipun. Karena si ekor yang menjadi targetnya, bergerak sama gesitnya dengan badan beserta cakar di kaki depannya. Itulah sebabnya mengapa ia berloncat-loncatan dan berputar-putar mirip kucing gila. Ha ha ha… geli juga saya melihat kelakuan anak kucing ini.

Beberapa saat kemudian, akhirnya anak kucing itu menyerah juga. Mungkin ia kelelahan mengejar ekornya sendiri tanpa hasil. Ia terduduk dengan nafas terengah-engah. Saya merasa kasihan padanya. Akhirnya saya usap-usap kepalanya dan saya ambilkan air bersih untuk diminumnya. Cukuplah exercise ini.

Mengejar target itu harusnya memang jelas. Apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya.

Sangat penting bagi si kucing untuk mengetahui dengan jelas, apakah benda yang menarik perhatiannya itu kadal, kelelawar, kodok, tikus ataukah ekornya sendiri. Dengan memahami secara jelas apa yang dijadikan targetnya, sekaligus ia akan mengetahui juga kelemahan dan kekuatan targetnya itu. Serta bagaimana cara memenangkan pertarungannya dengan baik. Misalnya jika itu kodok, setidaknya ia akan tahu bahwa kodok itu jago melompat, bisa sembunyi di celah yang sempit  yang mungkin tidak terjangkau cakar. Dan beberapa jenis tertentu mungkin berbisa juga jika diterkam. Akan tetapi, secara umum kodok adalah target yang sangat mungkin dikejar. Bukan target yang susah. Karena jangkauan dari lompatan kucing lebih jauh dari lompatan kodok. Selain itu kucing juga bisa bergerak lebih cepat dan lebih gesit. Selain itu tubuh kucing sudah pasti lebih besar dari tubuh kodok lah ya.

Tetapi kucing juga perlu memahami di depan untuk apa ia mengejar kodok? Untuk dimakan? Untuk mainan? Atau hanya sekedar menjajal kemampuan dan menjawab tantangan saja? Kalau untuk dimakan kodok beracun jelaslah bikan target yang tepat untuk dikejar.

Jika kita tidak jelas akan apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya, tidaklah heran jika kitapun mirip kucing yang mengejar ekornya sendiri. Berputar -putar tidak jelas. Dan meloncat-loncat ke sana kemari. Mundur maju. Ke depan ke belakang. Menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia -sia. Tanpa hasil.

Sekarang saya jadi mulai mengingat-ingat kembali di kepala saya. Apa-apa saja target yang ingin saya capai dalam hidup saya. Rasanya perlu meneliti ulang apakah saya cukup jelas dengan apa-apa yang ingin saya capai dan mengapa saya menginginkannya.

Tentang Keraguan.

Standard

KolamkuSaya sedang mengamat-amati serangga di cabang Pohon Bintaro di depan rumah, ketika terdengar suara cipratan air kolam.  Saya menengok sebentar. Ternyata suara dari gerakan-gerakan anak-anak ikan mas yang berkumpul dan bercanda di permukaan air berebut oksigen. Ikan-ikan itu terlihat menarik. Warnanya yang merah jingga terlihat sangat cemerlang, kontras dengan warna air kolam yang mulai sedikit keruh. Kebetulan pompa air sedang agak rusak, jadi perputaran air kolam tidak maksimal.

Suara kecipak air karena ikan-ikan kecil itu bukan hanya menarik perhatian saya. Tapi juga kucing liar yang  diadopsi anak saya. Ia  tampak berdiri di depan kolam memandang ke arah ikan-ikan. Apa yang akan dilakukan oleh si kucing ? Karena penasaran, saya memutuskan untuk mengamat-amati kelakuan kucing itu sambil menyandarkan punggung di pagar dan mengurangi gerakan saya agar si Kucing tidak merasa terganggu.

Kucing

Ia berdiri di depan kolam. Matanya lurus ke depan ke arah ikan-ikan yang sedang berenang tanpa berkedip sedikitpun. Saya pikir ia ngiler melihat ikan-ikan itu. Kucing biasanya doyan ikan. Dan saya membayangkan otak kriminal kucing itu sedang bekerja keras bagaiamana caranya menangkap calon mangsanya itu.  Lalu perlahan ia menaikkan kedua kaki depannya ke dinding kolam yang rendah. Menonton gerakan-gerakan ikan dengan penuh perhatian. Lama ia berdiri dengan posisi seperti itu. namun entah apa sebabnya, tiba-tiba ia menarik mundur kembali ke dua kakinya dan berdiri kembali di paving block depan kolam. Tampak seolah sedang berpikir.  Entah apa yang ada di dalam pikiran kucing itu.

Kucing 1

Tak seberapa lama kemudian ia mengangkat kembali ke dua kaki depannya dan melongokkan lagi kepalanya dengan penuh perhatian. Sungguh saya geli melihat kelakuan si kucing. Ia tampak sedemikian ngiler terhadap ikan dan sama sekali tidak “ngeh”akan apa yang terjadi di sekitarnya. Saya rasa ia akan segera menyergap ikan-ikan dipermukaan air itu. Namun tak kunjung ia lakukan juga.Lama saya perhatikan, ia tetap berada di posisi itu. Hanya menonton dengan sikap ancang-ancang mau meloncat. Keplanya sedikit dimajukan ke depan, atau ditarik sedikit kebelakang. Di ulang lagi.  Rupanya ia ragu. Terlihat dari raut wajahnya yang tak pasti. Iapun menurunkan kembali ke dua kaki depannya.  Duduk ladi di bawah. Lalu menaikkan kedua kakinya lagi. Terus turun lagi. Demikian terjadi berulang-ulang.Membuat saya semakin penasaran. Ttak kunjung ia berani juga.

Kucing 3

Hingga akhirnya tibalah saatnya barangkali ia menetapkan hatinya. Ia menaikkan ke dua kaki depannya, lalu disusul dengan kedua kaki belakangnya. Mata lurus ke depan dan posisi siap menyergap.  Saya menunggu dengan tegang. Satu…dua….tiga….empat…. tidak terjadi apa-apa.  Eh… tiba-tiba kucing itu membalikan badannya dan turun. Ngibrit!. Loh? Kok nggak jadi? Kok malah turun?

Kucing 4

Sekarang saya melihat  kegalauan di wajahnya. Ia cuma duduk bengong di dekat pot teratai dan memandang ke sisi  samping kolam. Apayang terjadi? Merasa penasaran,akhirnya saya mendekat. Oooh… rupanya ia takut pada Kura-Kura. Di kolam kami, saat ini tinggal 2 ekor kura-kura bernama Galapago & Sicilia.  Padahal tentu saja kura-kura jinak  itu tidak akan menyerang kucing.  Kura-kura itupun saya lihat hanya anteng-anteng saja di situ. Entah kenapa kucing itu kok keder duluan.  Barangkali karena ukuran kura-kura itu lumayan gede juga. Kucing itu jadi ragu-ragu dalam bertindak. Ragu bertindak yang membuat upaya kucing itu  jadi gagal berantakan. Ragu terhadap keberanian dan kemampuannya sendiri hanya gara-gara melihat kura-kura yang mungkin ia sangka akan menyerangnya atau setidaknya menjegal usahanya dalam menangkap ikan. Keraguan itulah yang pada akhirnya membawa kegagalan bagi kucing ini.

“KERAGUAN DALAM BERTINDAK, MENGURANGI PELUANG KITA UNTUK SUKSES”

Memikirkan kalimat itu,  kok rasanya sangat familiar ya?  Apakah ada yang merasa familiar juga dengan kalimat itu? Yap! Saya rasa kalimat ini tidak hanya berlaku untuk Kucing saja.  Berlaku juga untuk kita manusia. Kita sering gagal, akibat kita tidak terlalu yakin akan apa yang kita lakukan. Akibat perasaan ragu-ragu yang mengganjal.

Kita tidak yakin apakah jalan yang kita tempuh sudah merupakan yang jalan yang tepat atau tidak. Kita tidak yakin apakah keputusan yang kita ambil sudah yang terbaik diantara pilihan yang ada atau tidak. Dan sebagainya. Sehingga sambil menjalankannya, kita masih membayangkan jalan lain atau option lain yang kita pikir seharusnya masih bisa kita pertimbangkan dan pilih. Kita merasa ragu-ragu. Pikiran kita terpecah. Akibatnya kita menjadi kurang fokus dalam eksekusi. Dengan sendirinya, pekerjaan yang dilakukan tanpa fokus tentu hasilnya tidak sebaik jika kita melakukannya dengan tingkat fokus yang lebih tinggi.

Akan menjadi sangat berbeda ketika kita yakin akan apa yang kita lakukan adalah hal yang tepat atau terbaik. Pikiran kita menjadi jauh lebih simple. Dan tidak ada alternatif  lain yang harus kita pikirkan lagi, sehingga pikiran kita benar-benar terfokus dalam menjalankannya. Pikiran dan perasaan kita tercurah seluruhnya untuk menjalankan keputusan itu.Sebagai akibat dari fokus, tentu hasil pekerjaan kita juga akan lebih baik.

Hal lain yang kadang membuat kita ragu adalah kurangnya pemahaman kita akan hal-hal yangberkaitan dengan keputusan yang kita jalankan.   Serupa dengan kura-kura jinak di kolam itu. Hanya gara-gara ukurannya yang besar, kucing itu salah impresi mengira kura-kura itu ganas dan akan menyerangnya. Akibatnya ia ngibrit dan menghentikan usahanya untuk menangkapikan. Ia tidak memperhatikan bahwa sebenarnya kura-kura itu sangat jinak dan bersahabat.  Selain itu pandangan mata kura-kura juga tidak begitu cemerlang. Tidak secemerlang mata kucing. Kalaupun ia melihat kucing itu menangkap ikan di kolam, ia tak akan bisa berbuat apa-apa juga. Jika ia paham, tentu ia tidak akan sekhawatir itu.

Serupa dalam  kehidupan kita, jika kita merasa ragu akan sesuatu, barangkali ada baiknya kita teliti dan pahami dengan baik hal-hal yang membuat kita menjadi ragu. Apakah benar apa yang membuat kita ragu itu adalah hal yang memang seharusnya kita khawatirkan? Atau jangan-jangan hanya sesuatu yang tampaknya saja sulit, tampaknya saja besar padahal sebenarnya  kecil, dan mudah ?

Dengan demikian, hanya jika apa yangkita khawatirkan itu memang benar sesuatu yang besar dan sulit, setidaknya keraguan kita kini lebih terjawab dan berubah menjadi sebuah kepastian.

Saya harap saya bisa  lebih yakin dalam setiap pilihan hidup dan keputusan yang telah dan akan saya ambil.

 

Jahat Sejak Lahir – Kisah Kedasih dan Burung Prenjak.

Standard

Pagi ini saya terbangun oleh suara cicit nyaring  di tepi sungai belakang rumah. Ribut sekali. Saya belum tahu suara apa itu.Sedikit perlu berhati-hati , takutnya suara anak burung yang sedang disergap ular. Siapa tahu. Saya mencoba menelusuri dinding sungai dan menemukan arah suara cicit yang semakin nyaring dari arah pohon kayu Ketapang (Terminallia catappa) di seberang sungai. Cukup lama saya tidak begitu yakin suara apa itu. Tapi akhirnya saya mengetahui bahwa itu adalah suara bercericit  anak burung Kedasih (Cocomantis merulinus). Tidak terlalu jelas. Tapi burung itu kelihatan tidak sendirian. Ada beberapa ekor burung lain yang juga bergerak-gerak naik ke atas dan turun ke bawah di cabang pohon Ketapang itu. Ada burung Prenjak. Ada burung Cerukcuk dan ada juga burung Kipasan. Burung -burung itu tampak seperti menguber-uber anak Burung Kedasih itu yang sibuk mencicit dan meloncat dari satu cabang ke cabang lainnya.

Apa yang terjadi? Kemungkinan besar anak burung itu baru keluar dari sarangnya karena sarangnya sendiri sudah sangat kesempitan.  Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, burung Kedasih (Plaintive Cuckoo, atau disbut juga dengan Burung Wiwik Kelabu, burung Tit Tut Tit, burung Cirit Uncuing) adalah salah satu anggota keluarga Burung Kukuk yang sering disebut sebagai burung parasit.   Induk burung ini sangat pemalas. Ia tidak mau membuat sarang  dan lebih senang menitipkan telornya di sarang burung lain (biasanya Burung Prenjak – Orthotomus sutorius).  Ketika induk burung Prenjak keluar meninggalkan sarang sebentar untuk mencari makan, diam-diam si induk burung Kedasih ini  mendatangi sarang burung Prenjak dan meletakkan telornya di situ. Agar tidak mencurigakan, induk burung ini biasanya mencuri telor si burung prenjak  dan menggantikannya dengan telornya sendiri.  Telor burung Prenjakitudimakan oleh induk burung Kedasih. Sehingga  ketika si burung Prenjak datang lagi, ia tidak tahu kalau telornya telah tertukar sebutir. Jahat ya?

Tapi burung Kedasih ini memang kelakuannya sudah badung sejak bayi.  Sejak baru lahir, ia sudah culas. Berusaha menendang telor-telor burung Prenjak agar semua makanan yang dibawakan oleh si induk Prenjak diberikan hanya untuk dirinya saja.  Karena saya tidak punya video untuk menggambarkan kebadungan si bayi burung Kedasih ini,saya meminjam video di youtube yang diupload oleh  Artur Homan  berjudul “Common Cuckoo chick ejects eggs of Reed Warbler out of the nest.David Attenborough’s opinion “. 

Induk burung Prenjak itu terus memberi makan bayi durhaka itu tanpa pernah menyadari bahwa bayinya itu sebenarnya adalah bayi burung Kedasih. Bayi yang telah menendang telor-telornya sendiri hingga terjatuh ke sungai.  Ia terus memberi makan tanpa lelah. Walaupun kini badan si burung parasit itu jauh lebih besar dari dirinya sendiri.  namun ia tak lelah sama sekali demi bayi burung yang disangka anaknya itu. Terlihat dengan betapa sibuknya ia bolak balik membawakan capung,ulat, tempayak dan  belalang untuk anak burung itu.

Burung Prenjak & Anak Kedasih

Induk burung Prenjak ini  terlihat baru datang membawakan anak burung Kedasih makanan. Diparuhnya terlihat seekor serangga hasil tangkapannya yang ia bawakan untuk bayi burung Kedasih itu.

Burung Prenjak & Anak Kedasih 1

Induk burung itu lalu meloncat naik mendekati  dan melolohkan serangga itu ke mulut anak burung Kedasih itu. Anak burung itu berhenti mencicit sebentar. Namun tak seberapa lama kemudian iapun ribut  dengan manjanya memanggil manggil induk Penjak untuk menyuapinya kembali.

Burung Prenjak & Anak Kedasih 2

Induk burung Prenjak itupun datang kembali membawakan makanan untuknya. Demikian terus bolak balik hingga sore hari. Aduuuh benar-benar kasihan saya melihat induk burung Prenjak itu. Entah sampai kapan ia  akan menyuapi. Entah kapan ia akan sadar bahwa itu bukan anaknya, tapi pembuuh calo anak-anaknya yang di dalam telor. Semoga kelak ia masuk surga.

Kelihatannya burung-burung lain sudah tahu kelakuan anak Burung Kedasih yang jahat ini. Contohnya adalah si Burung Kipasan yag keihatan galak dan berusaha mematuk anak burung ini. Demikian juga si burung Cerukcuk, kelihatan sangat curiga dan ikut mengejar-ngejar anak burung Kedasih ini.

Burung Layang-Layang: Berbagi Tugas Dengan Adil.

Standard

Menunggu anak  sedang melakukan perwatan di dokter gigi lumayan membuat mata mengantuk. Saya mencoba mengakalin beratnya mata saya dengan bermain handphone. Tetap terasa berat.Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan sebentar di depan Klinik.  Tidak ada pemandangan yang menarik. Hanya lalu lintas yang lewat merangkak setengah macet.  Pak Satpam menyapa saya dengan ramah. Lalu entah bagaimana mulainya, percakapan jadi mengalir tentang burung-burung liar yang suka beterbangan di pepohonan sekitar Klinik Gigi itu.

Sarang Burung Layang-Layang 2

Banyak sih, Bu. Tapi biasanya ya Burung Kutilang atau Burung Kemlade” katanya. Saya mendengarkan dengan baik. “Tapi burung Layang-Layang juga suka ada” kata  Pak Satpam restaurant sebelah Klinik Gigi itu yang ikut nimbrung. “Ada sarangnya juga,Bu” katanya.  Saya menjadi tertarik. “Dimana?“tanya saya.

Pak Satpam lalu menunjuk sebuah sarang burung yang menempel di dinding sebuah toko di sebelah Kilinik Gigi itu. “Sayang sedang kosong, Bu. Kadang suka ada isinya” kata bapak itu menjelaskan.Saya mendongak ke atas untuk melihat sarang burung yang disebutkan itu. Tampak sarang terbuat dari lumpur dan serat-serat tanaman. Dinding disekitarnya tampak kotor. Ya, kelihatannya sarang itu  sedang kosong. Tidak berpenghuni.  Pak Satpam menjelaskan bahwa sarang burung itu sudah lama ada di sana. “Mungkin sudah dipakai 4-5 kali musim bertelor, Bu” jelasnya. Hm..jadi rupanya burung Layang-Layang suka membuat sarang permanen yang bisa dipakai ulang.

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seekor Burung Layang-layang yang hinggap di atap rumah yang dijadikan toko itu. Oh! Apa yang dilakukannya. Ia tampak tengak tengok sebentar, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu terbang turun di sudut dinding tak jauh dari sarang itu berada.

Sarang Burung Layang-Layang

Pada saat itu, sebuah kepala burung terlihat menyembul keluar dari sarang itu. Wah! rupanya sarang itu ada isinya. Seekor Burung layang-Layang tampak bergerak gerak dan semakin menampakkan kepala dan tubuhnya.

Sarang Burung Layang-Layang 1

Sejenak ia tampak bengong di pinggir sarang. Lalu ia terbang. “Itu yang betina“kata Pak Satpam. Terus terang saya mengalami kesulitan untuk membedakan mana yang jantan dan mana yang betina.  Setahu saya, yang betina memiliki kepala yang lebih langsing dan ramping.  Tapi kedua ekor burung ini nampak sama saja.

Mungkin ia harus pergi sebentar untuk mencari makan untuk dirinya sendiri. Karena saya tidak melihat jantannya datang menyuapinya makanan.  Ada kemungkinan kalau mereka mencari makannya masing-masing.

Burung Layang-Layang Jantan menunggu sarang

Burung layang-layang yang satu lagi tampak mendekat mengawasi sarangnya. Saya memperhatikan gerak geriknya. Perlahan-lahan ia berjingkat mendekati sarang. Lalu masuk dan menggantikan betinanya mengeram  telor/anak di sarangnya.

Burung Layang-Layang Jantan masuk sarang

Wah hebat juga Burung Layang-Layang jantan itu. Rupanya mereka melakukan penjagaan secara bergilir.  Saya lihat Burung Layang-Layang jantan ini sangat sabar menunggu sarangnya. Kendati betinanya belum muncul-muncul juga, ia tetap nongkrong di situ.

Burung Layang-Layang Jantan menunggu di sarang

Hanya ketika sudah terlalu lama dan betinanya tiada kunjung datang juga, maka si Burung jantan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya dan melakukan ‘body stretching’. Walaupun kelihatan tengak tengok, tapi ia tetap menjaga sarangnya dengan ketat. Ia tidak meninggalkan sarangnya begitu saja tanpa penjagaan.  Sangat bertanggung-jawab.

Saya merasa tingkah laku Burung Layang-Layang ini sangat mirip dengan kelakuan manusia. “Aplusan juga seperti kita ya” kata Pak Satpam sambil tertawa.

 

Ethos Kerja Si Burung Layang-Layang.

Standard

– Mencari Bahan Untuk Membuat Sarang-

pacific SwallowKeingintahuan akan sesuatu biasanya membuat kita berusaha mencari tahu lebih lanjut. Demikianlah yang terjadi dengan saya. Melihat burung Layang-Layang beterbangan di atas kali berburu  jentik-jentik dan nyamuk, saya merasa sangat penasaran. Burung-burung itu terbang hilir mudik, naik turun, berputar-putar berkeliling  tanpa mengenal lelah. Hebat! Kerja melulu. Kapan berhentinya ya? Dan dimana tempatnya bertengger jika ia kelelahan?

Setelah lama mengamat-amati, akhirnya saya tahu bahwa jika kelelahan burung itu akan hinggap sejenak di  sebatang pohon mati di sebuah lahan kosong di perumahan.  Biasanya  hanya sebentar. Seolah-olah memiliki energy kinetik yang jumlahnya berjuta-juta Joule, burung itu akan kembali terbang berputar-putar lagi.  Saya hanya pernah melihatnya dari jarak yang jauh. Belum pernah melihatnya dari jarak dekat.  Sehingga warna aslinya hanya bisa saya tebak dari foto yang diperbesar sekian puluh kali.

pacific Swallow 1

Namun seperti kata pepatah, “Dimana Ada kemauan, Di sana Ada Jalan”.  Beberapa bulan yang lalu, saat saya menunggu di lahan  itu, tiba-tiba seekor burung Layang-Layang hinggap di tanah. Jaraknya sangat dekat dengan tempat saya berdiri. Sekitar 3-4 meter di depan saya.  Dan pasangannya pun ikut hinggap tak jauh dari sana. Benar-benar sebuah mujijat yang membuat badan saya tiba-tiba terasa kaku. Saya belum pernah melihat burung Layang-Layang sedekat ini. Sekarang saya bisa melihat warnanya dengan sangat baik.

Burung Layang-Layang atau disebut dengan Pacific Swallow (Hirundo tahitica) ini kepalanya berwarna biru tua metalic dengan warna merah mirip karat besi di dahinya, pipi, leher dan bagian atas dadanya.  Sayap bagian atasnya berwarna biru metalic namun seterusnya hingga ke ujung berwarna hitam.  Dada bagian bawah dan perutnya berwarna putih kotor.  Di bagian ekor bawahnya nampak garis-garis nyata hitam-putih. Paruh dan kakinya berwarna abu-abu. Sayapnya memang sangat panjang dan ramping melebihi ekornya.

pacific Swallow 3

Burung itu berdiri sangat lama di situ. tengak tengok kiri dan kanan seolah-olah memastikan tidak ada bahaya yang mengancam keselamatannya.  Lalu ia berjalan berjingkat-jingkat ke depan.  Apa yang dicari? Apakah sedang mencari makanan? Saya penasaran.

pacific Swallow 4Rupanya ia tertarik pada seutas benang. Ia merunduk. Tampak oleh saya warna putih di batas leher dan punggungnya. Ia mematok benang itu dan berusaha menarik-nariknya dengan sekuat mungkin. Namun benang putih itu tampaknya tersangkut sesuatu di tanah. Sehingga tak bergerak.  Jadi ia tidak berhasil menariknya. Hmmm…sayang sekali.  Mengapa ya burung ini berusaha menarik benang? Apakah barangkali benang itu ia sangka cacing yang bisa dimakan?. Saya tambah penasaran.

pacific Swallow 5

Burung itu tidak berputus asa. Ia berjalan beberapa langkah lagi ke depan mendekati seonggok kotoran sapi yang sudah kering dan tinggal serat-serat rumputnya saja.  Sisa-sisa pemotongan Idul Qurban sebelumnya. Sekarang ia mencoba menarik  serat tanaman itu sekuat-kuatnya, sementara kaki kanannya dipakai untuk menginjak gumpalan kotoran dan serat yang lain.  Mungkin maksudnya memisahkan seutas serat yang akan ia ambil dari kekusutannya dengan serat yang lain.  Sekarang saya mengerti.Kelihatannya ia sedang mencari bahan-bahan untuk membuat sarang. Bukan mencari makanan.

pacific Swallow 6Saya melihat perjuangannya yang sangat keras dan bersungguh-sungguh untuk berhasil. Ia terus berusaha menarik serat itu. Terus dan terus hingga hampir saja ia terjungkal ke belakang.

pacific Swallow 7

Namun ia seperti tak mengenal kata putus asa. Ia coba lagi dan lagi.  Akhirnya iapun berhasil menarik dan melepasnya dari gumpalan kotoran.  Luar biasa burung ini!.

pacific Swallow 9

Iapun terbang dengan membawa serat untuk bahan membuat sarangnya yang entah di mana.  Demikian juga pasangannya. Ia  melakukan kegiatan yang sama. Mengais kotoran demi mendapatkan seutas serat tumbuhan untuk dijadikan bahan pembuat sarang.  Mereka terbang. Meninggalkan saya yang terbenong-bengong sendirian.

pacific Swallow 10Saya terkagum-kagum akan ethos kerjanya yang luar biasa. Tidak berhenti sebelum berhasil!

*****

Burung Layang-Layang itu. Ia bekerja dengan tidak mengenal lelah. Terbang dan terbang berputar-putar mencari makan hingga sukses dan kenyang. Istirahat hanya seperlunya. Lalu bekerja lagi tanpa lelah.  Demikian juga ketika berusaha mengumpulkan bahan untuk membuat sarang. Ia  berusaha keras, walau nyaris terjungkal. Juga cukup kreatif berusaha mencari alternative, yang penting tujuannya tercapai. Coba lagi, lagi,lagi  dan lagi. Hingga kesuksesan datang menghampiri.

Jangan berhenti sebelum berhasil!

Mengapa Kutilang Bertengger Di Pucuk Pohon?

Standard

Semua tentu ingat lagu kanak-kanak yang diciptakan Ibu Soed ini.

“Di pucuk pohon  Cempaka. Burung Kutilang berbunyi. Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili“. Burung Kutilang 2Nah, kenapa Burung Kutilang harus bertengger di pucuk pohon cempaka? Pertanyaan tolol itu saya ajukan kepada diri saya sendiri. Walaupun saya setuju 100% dengan lagu itu. Saya setuju bahwa Burung Kutilang memang hobbynya bertenggernya di pucuk pohon.

Kutilang atau yang dikenal juga dengan sebutan Sooty Headed Bulbul (Pycnonotus aurigaster) sangat banyak berkeliaran di wilayah Bintaro dan sekitarnya. Kita bisa menemukannya dengan mudah di taman-taman sektor IX, taman  sektor VIII, dan sebagainya hingga ke pohon-pohon di pinggir kali. Karena sering mengamati burung Kutilang, saya jadi tahu bahwa burung Kutilang ini memang punya kesenangan  nangkring di puncak pohon. Burung Kutilang Tidak seperti burung-burung lain yang malah sering berlindung di balik dahan tersembunyi,  Kutilang suka akan tempat terbuka. Sehingga tidak heran, sangat mudah bagi kita untuk melihat Burung Kutilang bahkan dari jarak yang cukup jauh.

Berada di puncak pohon,akan membuat burung Kutilang berada pada ketinggian yang baik. Dimana ia bisa memandang sekeliling tanpa halangan yang berarti. Ia bisa melihat dimana letak pepohonan berbuah yang memberinya makanan berlimpah untuk musim itu. Ia juga bisa melihat dengan mudah, dimana pasangan dan keluarganya sedang bertengger. Bahkan ia pun bisa melihat dengan baik jika ada burung Rajawali yang berniat menyambar anaknya. Namun jika ia membutuhkan pandangan yang lebih jelas, di mana letak dahan yang memiliki buah yang ranum, tentu Burung Kutilang dengan leluasa bisa turun kembali dan masuk menyelusup ke dalam pohon untuk memeriksa dahan dan ranting.

Memikirkan kebiasaan Burung kutilang ini saya jadi teringat akan proses “Zoom In” dan “Zoom Out” kamera. Jika kita ingin melihat gambaran besar sebuah kejadian, maka  kita tinggal men”Zoom Out” photo. Sedangkan jika kita ingin melihat gambaran kecil dan detailnya, kita tinggal memencet tombol “Zoom In”. Demikian juga yang dilakukan oleh Burung Kutilang ini. Jika ia ingin mengetahui gambaran detail dari  sebuah tempat, ia tinggal masuk ke dalam pohon. Zoom In!. Sebaliknya jika ia ingin mendapatkan gambaran besar tentang lingkungannya berada, ia tinggal terbang dan menclok di pucuk yang tinggi. Zoom Out!.

Burung Kutilang

Kemampuan untuk ber’Zoom In’ dan ber “Zoom Out” inipun tentunya dibutuhkan oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin perlu selalu mampu melihat gambaran besar suatu masalah tanpa harus kehilangan pandangan detail.

Ketinggian penglihatan sangat dibutuhkan bagi fungsi leadership dan strategic thinking. Memiliki ketinggian pandangan, akan membantu seorang pemimpin untuk melihat dengan jelas berbagai masalah ataupun peluang yang mungkin ada dengan cara yang lebih baik. Karena dari ketinggian,akan memungkinkan bagi sang pemimpin untuk melihat permasalahan secara utuh  sebagai suatu kesatuan tanpa harus tersegment-segment.

Demikian juga seorang pemimpin sangat perlu membaur  dan masuk ke dalam  untuk memahami  titik-titik permasalahan dengan lebih detail.

Dengan menguasai pemahaman atas keduanya, maka pemimpin akan terbantu untuk mengambil keputusan dengan lebih baik.

 

 

Burung Kipasan: Mengusir Burung Kedasih.

Standard

Animal Behaviour : Territorial Defense.

Burung Kipasan - Kedasih 10

Di rumpun bambu di tepi kali belakang rumah saya, tinggalah sepasang burung Kipasan. Pasangan burung itu kelihatan selalu mesra dan bahagia. Setiap saat mereka bermain dan mencari makan dengan riang gembira. Mereka terbang dari pohon kersen, menclok di semak-semak, istirahat sejenak di atas tembok. Menari berlenggak lenggor sambil mengembangkan sayapnya yang indah, bernyanyi  bersiul siul memamerkan suaranya yang gacor.  Hidup sehat dan bahagia, dengan stock makanan berupa serangga-serangga pinggir kali yang melimpah ruah jumlahnya. Cukup mudah buat saya untuk menemukan burung ini.  Pertama tentu dari suaranya yang khas, yang bisa saya dengar dan identifikasi dari jarak jauh. Kedua dari kebiasaannya berada. Karena sering melihat saya jadi hapal mana-mana saja dahan yang menjadi tempat favoritnya untuk bertengger.

Suatu sore menjelang maghrib, saya melihat seekor Burung Kipasan sedang terbang turun naik, hinggap lagi di pohon kersen.  Saya heran melihat tingkah lakunya yang aneh.  Terbang  dengan gerakan -gerakan gila seolah sedang menyerang sesuatu yang tak terlihat. Suaranya pun aneh seperti sedang marah. Tak berapa lama datang lagi pasangannya. Juga menunjukkan perilaku yang aneh. Ada apa ya?

Saya melihat kejadian itu  dari jarak sekitar 20 meter. Tanpa begitu mengerti akan apa yang sedang terjadi, sayapun  memotret kedua burung itu. Sayang hari sudah mulai gelap. Karena saya tidak menggunakan lampu tambahan pada kamera saya, ditambah dengan jarak burung itu yang cukup jauh dari tempat saya berdiri, membuat gambar-gambar yang saya hasilkan menjadi sangat kabur.  Ketika saya men’zoom’ hasil jepretan, barulah saya sadar akan apa yang rupanya sedang terjadi.  Ternyata ada seekor burung lain yang  terlihat sangat stress  terbang kepinggir dan akhirnya berdiri di pojokan sedang diserang oleh Burung-burung Kipasan itu. Itu adalah Burung Kedasih. Aduuuh kasihannya!. Pantes saja sebelumnya saya ada mendengar suara burung ini dari kali.

Burung Kedasih dan Reputasinya Yang Buruk.

Burung Kedasih  yang sedang berlindung dari serangan Burung Kipasan.Hampir semua orang tentu tahu Burung Kedasih bukan? Setidaknya pernah mendengar nama dan reputasinya yang buruk. Ya. Burung Kedasih alias Daradasih (Cocomantis merulinus), walaupun namanya terdengar sangat cantik, namun memiliki perangai buruk yakni sangat malas dan tidak mau membuat sarang sendiri. Juga tidak mau merawat dan memberi makan anaknya sendiri. Ia lebih suka menitipkan telornya di sarang burung lain dan berharap induk burung lain lah yang akan bekerja memberi makan dan merawat anaknya.  Tak jarang burung kedasih juga mencuri telor di sarang burung yang ditargetkannya.Anak burung Kedasih biasanya lebih cepat besar karena rakus. Ia juga sering menendang anak burung lain keluar sarang hingga terjatuh dan mati. Itulah sebabnya mengapa banyak burung lain tidak menyukainya dan selalu berusaha menyerangnya.

Selain itu, burung Kedasih juga dianggap sebagai burung pembawa berita kematian. Suaranya yang mendayu ” tiiiiir..tiir tiir tiir tiir tiir, terdengar sangat sedih.  Sehingga banyak orang tidak ingin mendengarkannya. Saya tidak tahu kebenarannya, namun mitos ini rupanya ada di berbagai suku di tanah air, dan bahkan pada bangsa lain juga. Banyak tulisan mengenai mithos ini bisa kita baca.

Saya mendengar cerita di kalangan orang tua jaman dulu di Jawa Barat, jika ada mendengar suara burung ini, maka biasanya orang akan membakar tikar dengan harapan kesialan segera pergi. Saya juga pernah membaca bahwa di Lithuania juga  ada cerita rakyat tentang seorang wanita yang kehilangan ketiga orang anaknya di medan perang  dan mendapatkan kabar menyedihkan ini dari seekor Burung Kedasih. Sejak itu ibu itupun mengembara, berusaha mencari kuburan anaknya. “you can only understand the song of a cuckoo, if you suffer from a pain” . Kebenarannya memang tidak pernah ada yang tahu. Namanya juga mitos. Dan faktanya, walaupun banyak yang sering mendengarkan suaranya,  memang tidak banyak orang yang pernah melihat rupa burung ini aslinya.

Beberapa hari setelah melihat burung ini,  kebetulan sekali memang  saya menerima kabar kalau satu-satunya kakak ibu saya meninggal dunia.  Sayang saya tidak bisa pulang, karena saat itu saya sedang tugas di Malaysia.  Tentu saja saya tidak menghubungkan kematian paman saya itu dengan suara burung ini.   Itu hanya sebuah kebetulan.  Bagi saya Burung Kedasih ya memang hanya seekor burung saja yang punya nada suara yang terdengar menyedihkan.

Kipasan, Si Penjaga Teritori.

Burung Kipasan (Rhipidura javanica) adalah salah satu burung yang sangat aggresif dalam menjaga teritorinya selamam usim berbiak. Setahu saya ia memiliki wilayah dekat sarang yang dijaganya dengan sangat ketat. Lalu memiliki wilayah untuk menangkap capung, laba-laba, lalat, belalang dan sebagainya serta  minum yang tak jauh dari sarangnya. Dan berikutnya wilayah jelajah yang agak lebih luas untuk bermain-main. Terutama pada musim berbiak, mereka tidak akan pergi jauh-jauh dari sarangnya. Ia tidak segan-segan mengusir burung lain yang mendekati sarangnya. Dan tentu saja, jika mengetahui ada seekor Burung Kedasih betina yang mendekati sarangnya, sudah pasti akan sangat berang.  Tentu ia tidak mau sarangnya kemasukan maling.  Ia tidak mau burung Kedasih itu memakan telornya dan menukarnya dengan telor burung Kedasih. Sekarang saya mengerti mengapa burung Kipasan itu berlaku sangat aneh.

Saya merasa sangat terkesan dengan cara Burung Kipasan itu mengelola dan menjaga wilayahnya dengan baik.

1. Burung Kipasan membagi wilayahnya dengan baik. Mana wilayah utama dimana ia menempatkan sarangnya, mana wilayah mencari makan dan mana wilayah bermain-main dan bertamasya. Ia sangat fokus pada wilayah utamanya.  Saya sangat sering melihat burung ini berjaga di ranting-ranting yang sama setiap hari tak jauh dari rumpun bambu tempat tinggalnya.

2.  Ia berpatroli secara bergantian dengan rajin untuk memastikan  tidak ada binatang lain yang mendekati sarangnya. Apalagi mencuri telornya.

3. Jika ia melihat seekor musuh (dalam hal ini adalah Burung Kedasih) yang sedang berusaha mendekati sarangnya. maka ia akan berteriak-teriak dan menyerangnya dengan tanpa kenal lelah. Berjam-jam lamanya, hingga burung Kedasih itu bergeser mundur dan menjauh dari wilayahnya.

Tingkah laku Burung Kipasan ini jadi mengingatkan saya akan anak-anak dan keselamatannya. Apakah selama ini kita sudah cukup memberi perlindungan  dan penecagahan terhadap kemungkinan kejahatan terhadap anak-anak kita? Misalnya memastikan rumah terkunci saat kita meninggalkan anak-anak sendiri tanpa penjagaan? Atau mentraining anak-anak bagaimana caranya menghadapi orang tidak dikenal yang mencoba masuk ke dalam rumah?

Mari kita lindungi keluarga anak-anak dan kita tercinta…

Animal Behaviour: Tarian Kasmaran Si Burung Kipasan.

Standard

FANTAIL LOVE DANCE.

Burung Kipasan 6

Jatuh cinta! Setiap orang tentu pernah mengalaminya.  Seperti kata Titiek Puspa; Berjuta rasanya.  Setiap saat teringat akan si dia. Senyumnya, tawanya, tatapan matanya. Membuat dunia terasa lebih indah dari biasanya. Membuat dunia lebih wangi dari biasanya. Membuat dunia lebih berwarna dari biasanya. Semua karena Si Dia.  Rasanya, apapun bersedia kita lakukan untuk menyenangkan hatinya.

Rupanya perkara jatuh cinta ini tidak hanya melanda manusia saja. Burung pun mengalami hal yang sama.  Setidaknya itulah yang sempat saya amati pada suatu sore minggu yang lalu, terjadi  pada sepasang Burung Kipasan.  Saat itu saya baru saja membuka pintu pagar halaman belakang saya, berjingkat sedikit ke belakang dan melongokan kepala  lewat tembok perumahan.  Memandang lurus ke arah tembok di seberang sungai dimana ada beton penyangga dinding kali yang lama yang sekarang ditumbuhi rerumputan. Di dekatnya ada sebatang pohon yang belumterlalu besar.  Saya benar-benar terpana. Seekor burung Kipasan jantan tampak sedang  menari untuk menarik perhatian pasangannya. Sementara pasangannya bertengger di dahan pohon itu memandang pasangannya menari dengan penuh semangat.  Benar-benar real “Love Dance”. Sayapun berdiri kaku menahan keinginan saya untuk bergerak. Khawatir burung itu merasa terganggu dan terbang.

Sayang sekali saya tidak kepikiran untuk memvideokan tarian burung itu. Syukurnya walaupun jaraknya agak jauh, saya masih sempat memotret gerakan burung itu yang benar-benar seru dan kocak.

Nah bagi para penari…barangkali ada yang mau belajar  “Love Dance” ala Si Fantail ini ? Atau barangkali mau memanfaatkan tariannya untuk ide koreografi?

Kurang lebih begini : (anggap saja panggungnya adalah lintasan beton yang panjang , dan posisi saya berdiri adalah  penonton di depan panggung).

1. Hadap ke belakang, angkat kedua sayap, angkat  ekor setinggi-tingginya dan buka lebar-lebar. Kepala ditundukkan dan ekor diangkat dan posisi ekor ke depan panggung  (penonton hanya melihat bagian belakang ekor).

2. Dua langkah ke kanan,  sayap dan ekor tetap diangkat. Posisi masih agak ke depan.

3. Dua langkah ke kanan, sayap diturunkan, ekor setengah terangkat, posisi ekor di belakang.

4. Hadap ke depan.Sayap diturunkan. Ekor melebar di belakang, posisi rendah.

5. Kaki kanan ke depan agak miring,  muka miring ke depan kanan,  ekor ke kiri samping posisi rendah.

6. Kaki kiri ke depan. Wajah ke samping kiri agak  ke depan.

7.  Lompat maju kanan dua langkah. Ekor tetap di posisi rendah

8. Lompat maju selangkah ke kanan. Ekor ditegakkan.

9.  Lompat maju kanan selangkah lagi, ekor diturunkan.

10. Balik wajah ke belakang, ekor dilebarkan, posisi ekor  rendah menghadap penonton.

11. Angkat ekor tinggi-tinggi dan lebar-lebar ke penonton. Ekor digoyang.

12.  Ekor miring ke kanan depan,posisi diturunkan.

13.  Hadap kiri. Lompat  maju dua langkah ke kiri. sayap dan ekor di posisi  tengah.

14. Wajah ke belakang miring. Kaki kanan maju selangkah. Ekor dinaikan setengah dan dikibaskan.

15.  Wajah ke belakang full, ekor diangkat tinggi tinggi menghadap penonton. Goyangkan ekor.

16.  Tubuh direndahkan, badan dan ekor ikut diturunkan.

17. Hadap ke kiri. Maju dua langkah ke kiri.  Ekor posisi agak rendah.

18.  Maju  dua langkah lagi ke kiri. Ekor agak ditegakkan.

19. Hadap ke depan full.  Rundukkan kepala, hormat pada penonton, sambil ekor ditegakkan di belakang.

20. Hap ! Loncat sambil berputar 180º. Hadap ke belakang, hormat penonton dengan ekor tegak ke depan.

21. Hadap ke samping kiri.  Maju selangkah . Ekor diluruskan.

22. Kaki kanan ke depan, wajah dimiringkan. Sayap turun, ekor masih lurus

23. Hadap full ke depan , ekor diturunkan.

24. Maju ke kiri dua langkah.

24. Hadap ke belakang – ekor masih lurus.

25. Hadapke kanan,  maju dua langkah

26. Loncat sambil berputar 90º. wajah ke depan. Sayap diangkat ke atas punggung.

27. Hadap ke depan, sayap diturunkan, ekor diangkat.

28.  Kedua kaki sejajar. Bentangkan. Tundukkan kepala, hormat pada penonton.  Ekor diangkat. Goyangkan ekor.

29. Loncat ke kiri. Hap! Posisi kepala masih menunduk. Ekor ditegakkan tapi kuncup.

30. Loncat ke kanan. Hap! Posisi kepala masih menunduk. Ekor ditegakkan tapi kuncup.

31. Balik badan ke belakang sambil meloncat. Hap!.

dam seterusnya…. Masih panjang sekali gerakannya.  Seru ya? Tak terbayang deh bahagianya hati si burung betina menonton kekasih hatinya bergoyang ekor.

Saya berdiri dengan nafas tertahan selama beberapa saat, hingga akhirnya burung betinanya terbang.   Mungkin ia melihat saya yang sedang memotret.  Maka burung Kipasan jantan itupun berhenti menari dan ikut terbang bersamanya. Yahh..saya sudahmenjadi tukang pengganggu.

Saya benar-benar menyukai burung ini.  Goyang ekornya sangat seru dan sangat indah.  Mungkin akan lebih seru lagi jika diiringi musik. Shake! … Shake!…. Shake the booty!.

Di bawah adalah sebagian dari photo gerakan “Love Dance” nya Si Burung Kipasan.

Animal Behaviour – Kisah Kepahlawanan Seekor Kucing.

Standard

Andani - Persia & La Kitty 7Anak saya memiliki 2 ekor kucing yang diberi nama La Kitty dan Persia. La Kitty berwana putih dengan belang coklat abu-abu, sedangkan Persia berwarna putih dengan belang hitam. Keduanya adalah anak kucing liar yang didomestikasi di rumah kami. Namun keduanya ternyata memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Walaupun sama-sama kucing jantan dan sama-sama berasal dari kehidupan liar ternyata mereka memiliki karakter yang berbeda.  La Kitty tumbuh menjadi seekor kucing yang pendiam, serius dan  seekor petarung yang tak kenal kata menyerah. Suaranya keras dan jelas kalau sedang mengeong. Sebelumnya saya sudah pernah bercerita bagaimana La Kitty dengan tak kenal lelahnya bertarung dengan seekor kucing jantan berwarna hitam untuk mempertahankan sesuatu yang ia pikir harus pertahankan. Sementara Persia adalah seekor kucing yang manja, lucu dan periang. Suaranya pun terdengar sangat manja dan lucu. Read the rest of this entry