Tag Archives: Animals

Katak Pohon Di Halaman Rumahku.

Standard

Katak PohonSore menjelang malam berada di halaman belakang rumah terasa asik. Selain menikmati desau angin di ranting-ranting tanaman, juga mendengarkan suara musik alam. Katak-katak bernyanyi riang saling bersahutan. Suaranya terdengar nyaring dan merdu di telinga. Teman-teman saya yang kebetulan sedang bermain ke rumah banyak juga yang memperhatikan suara katak-katak itu. Kelihatannya ada beberapa ekor, sehingga terdengar mirip orkestra. Saya mendengar suara yang cukup nyaring di sebelah tempat saya berdiri.  Saya menengok. Terlihat seek0r katak sedang duduk di batang pohon frangipani. Saya mendekat. Wow! Bukan seekor. Tapi dua ekor. Yang seekor lagi yang rupanya sang katak jantan, digendong di atas punggung betinanya. Ukurannya lebih kecil. Nyaris 1/3 ukuran betinanya.

Katak Pohon 1Saya mengambil kamera dan mencoba memotretnya dalam kegelapan senja. Mungkin karena merasa tergangu oleh kilatan cahaya  kamera saya, kodok itupun berpindah ke pot lotus yang ada airnya. Setengah tubuhnya berada di permukaan air dan mencoba memanjat ke bibir paso air. Kelihatan sangat lucu dan cantik pemandangannya, karena di sebelahnya sekuntum bunga Kamboja Bali yang gugur terlihat mengambang di permukaan air.

Katak Pohon 2

Katak Pohon Coklat atau kadang disebut juga dengan Katak Pohon Bergaris, Golden Tree Frog (Polypedates leucomystax), sebenarnya bukanlah binatang yang asing. Karena cukup sering saya melihatnya berkeliaran di halaman rumah, terutama saat musim hujan. Saya jarang mengamatinya, tapi saya ingat pernah melihat jenis katak ini diperjualbelikan sebagai binatang peliharaan yang menarik.

Katak Pohon 3Tampangnya lucu. Secara umum ia tampak lebih langsing ketimbang jenis katak yang lain. Badannya berwarna coklat dengan garis-garis motif di punggungnya. Demikian pula di pahanya. Namun leher dan dada hingga ke perutnya terlihat polos tanpa bercak dengan warna lebih pucat. Matanya besar dan belo, berwarna hitam dengan iris berwarna keemasan.

Katak Pohon aktif pada malam hari terutama pada musim hujan.Makanannya adalah serangga yang juga aktif keluar pada malam hari, seperti jangkrik dan laron.  Seperti namanya, katak ini sangat suka memanjat pohon.Itulah sebabnya mengapa ia disebut dengan katak pohon. Kalau kita perhatikan, ujung jari kakinya terlihat berbeda dengan katak biasa. Membulat mirip cakram, berguna sebagai bantalan pelekat saat binatang kecil ini memanjat batang tanaman.

Yuk kita lihat, ada binatang apa saja di sekitar rumah kita!.

Advertisements

Seekor Anak Kelelawar Yang Jatuh Di Halaman.

Standard

Pul sinoge/Jukut timbul, basang gede/Bruakang, bruakang/ Sate lembat/ Jempiit nganceng/Bikul melaibang tum/ Kejeng-kejeng di kumisne/”

terjemahan:

Pul sinoge/Sayur kluwih, perut gendut/Digubrak-gubrak, digubrak-gubrak /Sate lembat – sejenis sate lilit yang terbuat dari campuran kelapa dan daging ayam atau ikan/Kelelawar kecil  macet diam tak bergerak/Tikus mencuri pepes/Bergerak -gerak kaku pada kumisnya/

Anak KelelawarIni cerita beberapa minggu yang lalu.

Petang hari, saat  makan malam. Anak kucing liar yang baru diadopsi anak saya tampak memainkan sebuah benda kecil berwarna hitam di halaman rumah. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan benda apa itu, sampai kemudian anaknya si Mbak yang kecil  bertanya “apa itu?’.  Sayapun menengok. Ooh rupanya seekor Jempiit alias kelelawar kecil. Kecil sekali. Mungkin sebenarnya bukan kelelawar jenis kecil, tapi lebih cocoknya kelihatan seperti anak kelelawar. Karena kelelawar ini kelihatannya belum begitu jago terbang.

Anak-anak saya tidak ada yang berani memegang anak kelelawar itu, karena belum mendapatkan isyarat aman dari saya. penyebabnya adalah karena  sebelumnya saya selalu memperingatkan pada mereka agar jangan pernah  sembarangan memegang binatang liar yang tidak kita kenal sebelumnya, terutama binatang yang suka menggigit seperti monyet, anjing, kucing dan kelelawar – karena bisa saja mereka mengidap rabies, mana kita tahu.

Melihat binatang mungil tak berdaya dan tanpa pertolongan itu, cepat-cepat saya menyelamatkannya dari cakaran kuku kucing. Anak kelelawar itu kelihatan sangat ketakutan. Habis diteror sama kucing. Nafasnya tampak memburu. Kasihan sekali. Saya memperhatikannya sekilas.  Setahu saya, kelelawar sekecil ini biasanya masih digendong oleh induknya sambil terbang mencari makan.  Kenapa ia ada di halaman rumah?Apakah jatuh? kemana induknya? Saya mendongak.  Mencoba mencari-cari induknya di udara. tapi tak terlihat sebuah kepakan sayap kelelewarpun di langit malam itu.

Akhirnya kelelawar itu saya bawa masuk. Sambil berpikir apa yang akan saya lakukan. Dipelihara? Atau dilepasliarkan kembali? Rasanya serba salah. Dipelihara, saya tidak punya waktu mengurusnya. Selain itu belum tentu saya akan berhasil menjaganya agar tetap hidup hingga ia siap terbang kembali ke alam. Kalau dilepaskan, takutnya ia jatuh dan diuber-uber kucing lagi. Melihat saya memegang anak kelelawar itu dengan santai, anak sayapun mulai berani menyentuhnya.

Awalnya saya letakkan di atas bantal kursi. Ia tampak diam. Namun ketika saya tinggalkan sebentar,  ia sudah bergerak.Rupanya ia suka memanjat. Akhirnya saya letakkan di tirai jendela. Tapi ia tampak diam saja bergelayut.

Sehabis mandi, saya melihat ke halaman depan rumah dan ke jalan. Ada dua ekor kelelawar dewasa yang terbang berputar putar di bawah lampu jalanan.Barangkali sedang berburu nyamuk. Apakah itu induknya? Atau hanya sekedar dua ekor kelelawar yang tak ada hubungan kekerabatan dengan kelelawar kecil itu? Karena takut mati jika saya diamkan di dalam rumah, akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan anak kelelawar itu dan meletakkannya di daun Kadaka di halaman depan rumah. Siapa tahu memang itu induknya.

Namun ternyata melepaskan anak kelelawar itu tak semudah yang saya bayangkan. Sesaat ketika saya letakkan, anak kelelawar itu diam saja. Lalu ketika saya tinggalkan, pelan-pelan ia memanjat naik di daun Kadaka yang panjang. Sesekali bercericit. Saya mengintip dari balik jendela. Merasa senang dan berharap induknya menangkap kode suara yang ia keluarkan. Tapi tak berapa lama kemudian tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh ke lantai halaman. Aduuuh …kasihannya! Untung badannya ringan.

Saya mengambil anak kelalawar itu dan mengembalikannya ke daun Kadaka. Ia memanjat lagi dengan riangnya. Agak lama duduk di situ. Barangkali berpikir bagaimana caranya belajar terbang. Lalu ia turun perlahan di balik daun. Mengaitkan jari kakinya di daun lalu bergelantung dan mencoba mengembangkan sayapnya. Satu..dua… hya! jatuh lagi. Untung mendaratnya di daun kadaka lain yang ada di bawahnya. Namun anak kelelawar itu memang tidak ada lelahnya. Ia malah memanjat lagi. Naik dan bergelantung ke bawah… dan jatuh lagi ke lantai. Kembali saya menolongnya. Mengangkat dan meletakkannya di daun kadaka lagi.

Demikian berkali-kali. Semakin lama kelihatannya semakin kuat ia membentangkan sayapnya untuk terbang. Tapi saya tidak bisa berada di sana untuk membantunya menaikkan ke daun kadaka terus menerus. Akhirnya karena sudah malam, dan ia tampak diam saja di ujung daun Kadaka yang panjang, anak kelelawar itu saya tinggal mandi saja.  Setelah mandi saya lihat lagi, ternyata ia sudah tidak kelihatan. Saya periksa setiap helai daun kadaka itu, tapi tidak ketemu. Barangkali jatuh. Sayapun periksa semua lantai halaman. Tidak ada juga. Kemana ya? Hati saya jadi tidak enak. Takutnya anak kelelawar itu kenapa -kenapa. Semoga tidak dimakan kucing.  Tapi kucing kami sedang ada di halaman belakang.   Atau kucing tetangga?  Aduuuh.. pikiran saya jadi kemana-mana.

Akhirnya saya teringat kepada dua ekor kelelawar dewasa yang sebelumnya terbang berputar-putar di bawah lampu jalanan.  Sudah tidak kelihatan juga.  Kemana ya mereka? Apakah pergi membawa anak kelelawar itu? Atau berlalu demikian saja tanpa perduli pada kelelawar kecil itu? Entahlah.

Saya menarik nafas panjang-panjang. Malam terasa lebih gelap. Sebaiknya saya masuk. Tidak ada gunanya saya memikirkannya terlalu lama. Saya telah menyerahkannya kembali kepada alam.  Apakah akhirnya ia selamat atau justru mengalami nasib naas? Biarlah alam yang mengatur mekanismenya.

 

Pinggir Kali & Kasih Sayang Burung Bondol.

Standard

Pohon matiHi! Kali kecil belakang rumah, apa khabar?

Rasanya sudah agak beberapa saat saya tidak bercerita tentang kehidupan di pinggir kali di belakang rumah saya.  Sebenarnya memang karena aktifitas saya menengok tepi kali memang agak berkurang. Tentu ada penyebabnya.

Ceritanya bermula sejak beberapa bulan menjelang puasa. Para petani di pinggiran Jakarta tentu sibuk mulai menabur benih buah timun suri dan blewah untuk dipanen dan dijual saat bulan puasa tiba. petani sibuk menanam – tentu itu sesuatu yang bagus bukan? Lalu apa hubungannya dengan dunia pinggir kali belakang rumah saya? Seseorang rupanya  memanfaatkan lahan kosong  di seberang kali untuk bertanam timun suri. Lahan kosong yg biasanya  ditumbuhi alang-alang dan pepohonan tinggi itu, akhirnya diolah. Sayangnya cara pengolahannya kurang bersahabat dengan alam. Ia menebang beberapa perdu, membakar alang-alang dan sebagai akibatnya, pohon akasia besar di dekatnyapun ikut terbakar dan akhirnya mati. Tak terperikan kegalauan hati saya. Tentu saja saya hanya bisa bersedih melihat pohon akasia  itu mati, dan tak mampu berbuat apa-apa karena lahan kosong itu memang bukan milik saya.

Sejak itu,populasi burung  di tepi kali terasa menurun sangat drastis. Ada burung, ada pohon. Jika  pohon berkurang, maka populasi burungpun berkurang pula. Itulah sebab musababnya mengapa saya jadi jarang bermain ke pinggir kali lagi. Namun demikian, tentu saja sesekali saya masih suka menengok dan mengintip barangkali bisa menemukan biawak. Lubangnyapun terlihat kosong dan tidak ada lagi jejaknya. Saya khawatir biawakpun sudah ditangkap orang. Sesekali saya masih menemukan Burung Terkwak  berjalan berjingkat-jingkat mencari makanan di lumpur.  Burung Tekukur, burung Kipasan dan burung Kedasih tak terdengar bunyinya. Saya berharap mereka hanya bermigrasi ke tempat lain. Dan bukan habis karena ditangkap orang.   Berharap suatu saat mereka pulang kembali.

Namun beberapa ekor Burung Cerukcuk masih terlihat menclok di dahan pohon akasia yang mati itu – walaupun jumlahnya tidak sebanyak biasanya. Suara Ciblek dan Prenjak masih terdengar sesekali dari pohon Kersen. Demikian juga burung Madu dan Burung Cabe.

Anak anak Burung Bondol HajiNah siang ini saya menengok ke belakang. Melihat 3 ekor burung kecil bertengger tenang di dahan pohon Petai Cina. Burung apa itu? Tidak begitu jelas. Saya segera mengambil kacamata minus saya dan melihat anak-anak burung berwarna coklat coklat krem. Wah..rupanya anak-anak burung Bondol Haji (Lonchura maja). Belum begitu pintar terbang. Bulu tubuhnya sebenarnya juga belum merata.

sedikit informasi,anak burung  Bondol Haji memiliki warna yang berbeda dengan induknya. Jika induknya memiliki sayap  berwarna coklat kemerahan dan kepala putih bersih mirip topi Pak Haji, anak-anak burung Bondol Haji tidak memiliki warna puih sedikitpun. Warnanya kombinasi antara warna coklat tua dengan coklat terang. Mirip warna cookies. Sehingga orang awam bisa keliru menyangkanya jenis burung yang berbeda.

Sambil berteduh dari sengatan panas matahari yang terik, sayapun mengamati tingkah laku anak-anak burung itu. Tiba-tiba suaranya ribut. Rupanya induknya datang. Anak-anak burung itu mengangakan mulutnya minta disuapi. Pasangannya juga kelihatan datang.Mereka berdua mengasuh anak-anaknya dengan sangat sabar. Saya menonton dengan penuh keingintahuan.

Induk Burung BondolHaji dan anak-anaknyaKasih sayang orang tua kepada anaknya, bukan hanya dimiliki oleh manusia saja. Binatangpun memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya. Saya tidak tahu kapan induk burung ini sempat makan. Karena ia kelihatan sibuk bolak balik mengambilkan biji biji rumput untuk makanan anaknya. Baginya, asal perut anak-anaknya kenyang itu jauh lebih penting.

Induk burung itu juga rupanya bukan hanya mencarikan makanan buat anak-anaknya. Namun juga mengajarkan dan menuntun anak-anaknya agar berani meloncat dari satu dahan ke dahan yang lainnya. ia memberi contoh bagaimana cara terbang jarak pendek. Lumayan.  Menarik juga. Induk burung itu juga kelihatan sangat waspada dan melihat ke arah saya dengan pandangan curiga. Saya hanya berdiam diri saja dan berkata kepadanya dalam hati saya “Saya hanya ingin menonton saja. Bukan mengganggu” . Karena saya tidak melakukan gerakan apapun juga, induk burung itu kelihatan lebih tenang. Tak berapa lama kemudian, lalu mereka terbang.

Anak-anak burung itu bermain-main sendiri di dahan pohon petai cina. Tapi lama kelamaan mungkin menjadi bosan juga. Selain panas. Saya lihat mereka bergeser ke pangkal sebuah cabang dan bertengger berdesakan di situ. Mau ngapain sih? Saya penasaran. ooh..rupanya mereka mengantuk.  Mau berteduh.

MengantukTernyata jika mengantuk burung-burung itu mirip manusia juga. Ada tiga posisi tidur. Mata merem, kepala menoleh ke samping. Atau mata merem, menyenderkan bahu dan kepalanya di bahu saudaranya yang juga mengantuk. Atau bisa juga ganti posisi, duduk tegak  sambil memeramkan matanya.

Yang duduk tegak benar-benar seperti manusia. Kepalanya merunduk, merunduk lagi, lebih merunduk lagi dan semakin merunduk sampai hampir jatuh ke depan. Lalu anak burung itu kaget sendiri.  Eiiitss! Hati-hati jangan sampai jatuh! Saya membayangkan bagaimana jika mereka tertidur dan jatuh karena lepas cengkraman kakinya.

Anak burung itu menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menahan kantuk. Tapi kelihatannya ia tak kuasa menahan kantuknya. Aduuuh..matanya berat. Ia  malah tertidur lagi. Kepalanya dari tegak, merunduk, merunduk, semakin merunduk,  lalu saking merunduknya hampir jatuh lagi dan kaget!. Ha ha. Saya tertawa geli dalam hati. Asli! Sangat mirip dengan kelakuan manusia kalau lagi terkantuk-kantuk di bus kota. Kaget  takut kalau-kalau ada tukang copet.

Hiburan yang menyenangkan sambil berteduh dari panas yang terik matahari di pinggir kali.

Burung Gelatik Yang Semakin Jarang Terlihat Di Alam.

Standard
Burung Gelatik mencari makan di rerumputan hijau.

Burung Gelatik mencari makan di rerumputan hijau.

Salah satu burung pemakan padi yang menarik perhatian saya adalah burung Gelatik. Bersama-sama dengan burung Pipit, burung Peking ataupun burung Bondol selalu dianggap hama pengganggu oleh Pak Tani. Namun sayangnya karena warna bulunya adalah terindah diantara para burung pemakan padi, maka burung Gelatik adalah yang paling banyak ditangkap sebagai hewan peliharaan manusia. Akhirnya dengan sangat sedih saya membaca informasi dari Wikipedia bahwa burung Gelatik, pada saat  ini sudah dikategorikan sebagai burung  dengan Conservation Status Vulnerable – yakni keberadaannya di alam liar mulai terancam. Sayang sekali! Padahal semasa saya kecil, sangat mudah menemukan gerombolan burung ini berbondong-bondong ke sawah. Bahkan seorang paman saya memiliki sebuah “kungkungan” (rumah burung buatan) yang diletakkan di pohon frangipani di halaman belakang selalu penuh dengan burung gelatik dan burung pipit.

Ketika mengetahui keinginan saya untuk melihat kawanan burung Gelatik di alam bebas, adik saya berkata bahwa iapun tak yakin bisa menemukan gerombolan burung ini dengan mudah di alam, mengingat areal persawahan sudah sangat jauh berkurang dan berganti dengan pemukiman penduduk. Ia lalu mencoba mengingat-ingat dimana kami masih bisa menemukan burung Gelatik bebas terbang di alam.

Keesokan harinya ia mengajak saya bermain ke Nirwana Bali Resort & Golf Club – sebuah lapangan golf yang terletak di desa Beraban, dekat Pura Tanah Lot, Tabanan. Menurutnya ia pernah melihat gerombolan burung gelatik hidup bebas di sana. Benar saja, tempat itu ternyata masih sangat berpihak bagi kehidupan burung-burung liar,termasuk diantaranya burung Gelatik. Rupanya pihak hotel/lapangan golf sangat menaruh konsern akan lingkungan sekitarnya dan memberikan perlindungan kepada burung-burung liar ini dengan sangat baik. Populasi burung Gelatik di sini cukup banyak. Saking banyaknya, burung ini pun mendekat ke bangunan golf club dan tidak begitu takut lagi dengan kehadiran manusia. Ketika melihatnya banyak berkeliaran di sana, saya serasa melihat burung gereja – karena jumlahnya serupa dengan jumlah burung Gereja yang umum  berkeliaran di halaman.

seekor burung Gelatik berteduh di dahan pohon Frangipani

seekor burung Gelatik berteduh di dahan pohon Frangipani

 

Saat saya ke sana, saya melihat sangat banyak burung Gelatik yang hidup di sana. Berloncatan terbang di pohon-pohon frangipani di dekat guest house dan juga di taman-taman bunganya. Ada yang sibuk mencari makan di rerumputan.

Burung-burung Gelatik sedang mandi di kolam, di tengah teriknya matahari.

Burung-burung Gelatik sedang mandi di kolam, di tengah teriknya matahari.

Sebagian ada juga yang sedang mandi  menyegarkan dirinya di kolam. Selain burung gelatik dewasa,banyak sekali saya melihat anak-anak burung Gelatik juga berceloteh riang di dahan-dahan pohon di bawah terik matahari.  Sibuk bercericit dan disuapi makan oleh indkunya. Mudah membedakannya dengan suara burung Gereja,karena Gelatik, sesuai dengan namanya cenderung mengeluarkan bunyi” tik, tik, tik…tik, tik, tik…”.

Seekor induk burung Gelatik sibuk mengasuh anak-anaknya.

Seekor induk burung Gelatik sibuk mengasuh anak-anaknya.

Burung Gelatik alias Java Sparrow (Padda oryzivora), adalah salah sat jenis burung pemakan biji-bijian dari keluarga Lonchura (sekeluarga dengan burung Peking). Berukuran kecil, kurang lebih sebesar burung gereja.

Memiliki warna punggung abu-abu kebiruan, kepala hitam, dengan pipi yang berwarna putih. dadanya berwarna putih,ekornya hitam. Paruhnya berwarna pink.  Dmikian juga kakinya.

Anak-anak burung Gelatik

Anak-anak burung Gelatik

Burung Gelatik muda memiliki warna yang lebih pucat dibanding yang dewasa. Warna punggungnya coklat pucat, bukan kelabu biru seperti dewasanya.  Warna hitam di kepalanya juga belum pekat. Demikian juga warna pinku paruh dan lingkaran di matanya, belum muncul pada burung Gelatik muda.

Burung ini adalah pemakan biji-bijian. Paling senang memakan padi, tetapi juga memakan biji-biji rerumputan. Di sekitar lapangan golf itu masih terlihat sedikit areal persawahan yang cukup untuk menunjang kehidupan burung-burung Gelatik ini. Selain itu, taman-taman dan tentunya lapangan golf merupakan sumber biji rerumputan yang melimpah.

Saya merasa sedikit lebih lega melihatnya.  Walaupun sebuah pertanyaan masih tetap mengganggu pikiran saya. Sampai kapan burung-burung ini akan mampu bertahan? Apakah dalam kurun waktu lima tahun mendatang statusnya bisa kembali membaik? Atau justru malah semakin terancam punah keberadaannya di alam?

Perlu kita ketahui bersama, walaupun sering diperdagangkan ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri, burung gelatik ini adalah burung asli pulau Jawa, Bali dan barangkali Madura. Jadi sudah menjadi kewajiban kita yang tinggal di wilayah ini untuk ikut berpartisipasi menyelamatkan burung Gelatik ini dari kepunahan di masa depan, misalnya dengan tidak ikut memelihara burung ini dalam kandang dan mengajak orang-orang di sekitar kita untuk melepaskannya kembali ke alam. kalau bukan kita, siapa lagi?

Yuk, kita selamatkan burung Gelatik!.

 

 

 

Cekakak Jawa, Bertandang Ke Ladang Kacang.

Standard

Cekakak Jawa 8Orang bilang, mujur terkadang datang tanpa diundang. Nah, sungguh beruntung, mujur itu datang kembali pada saya. Ini masih di Sukabumi di rumah ibu mertua saya. Masih di belakang rumahnya. Masih dalam rangka saya  menunggu jemuran pakaian mengering.

Saya memandang lepas ke belakang. Berjarak sekitar 400 meter dari tempat saya berdiri, di sana ada sebidang lahan yang ditanami kacang. Tumbuhnya sangat subur. Daunnya rimbun, hijau royo-royo. Batangnya membelit tiang-tiang bambu yang dipancangkan. Sungguh damai hati ini memandangnya. Indonesia tanah airku yang memang benar-benar subur!.

Sedang berpikir-pikir tentang betapa suburnya tanah di sini, seekor burung berwarna biru  tampak datang  terbang dari kejauhan dan siuuuuuuut…ia menclok di salah satu tiang penyangga pohon kacang itu. Pas di sisi yang kelihatan dari arah saya berdiri. Walaupun jaraknya jauh. Tapi mata saya masih lumayan bisa menangkap gerak-geriknya. Darah saya benar-benar terasa tersirap. Sungguh tak pernah saya duga, ternyata saya masih bisa melihatnya di sini.

Itu burung Cekakak Jawa!. Sangat jelas kelihatan paruhnya yang besar berwarna merah menyala. Demikian juga dengan kakinya. Merah terang sangat jelas dari kejauhan. Lalu tubuhnya, dada dan perut serta punggungnya berwarna biru terang metalik. Sayapnya berwarna biru muda yang sangat cerah. Lehernya merah kecoklatan dan kepalanya berwarna coklat.

Benar-benar seperti mimpi. Saya mengucek-ucek mata saya. Sulit mempercayai apa yang saya lihat. Tapi saya memang masih melihatnya terbang dan hidup di alam bebas. Sebelumnya saya ingin sekali bertemu burung ini di alam bebas setelah barangkali 35 tahun saya tak pernah melihatnya sedang terbang mengejar mangsa. Terakhir kali saya melihatnya terbang bebas ketika saya masih kanak-kanak.  Berikutnya hanya melihatnya di Kebun Binatang atau di Taman Burung.

Burung itu tampak terdiam lama tidak melakukan apa-apa. Hanya sekali-sekali menengokkan kepalanya, lalu pandangannya lurus kembali ke depan. Diam mematung seolah sedang berpikir. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Saya mengambil kamera dan memotretnya. Sayang karena jaraknya sangat jauh, foto yang saya dapatkan tidak sejelas foto Burung Raja Udang Meninting yang sudah sempat saya ceritakan sebelumnya.

Cekakak Jawa 3Burung Cekakak Jawa alias Javan Kingfisher (Halcyon cyanoventris), masih sekeluarga dengan jenis burung Raja Udang /Kingfisher yang lain. Hanya saja, burung Cekakak Jawa ini  lebih suka berburu serangga seperti belalang dan capung, sedangkan saudaranya Raja Udang lebih suka berburu ikan dan udang. sehingga para ilmuwan mengelompokkan Cekakak Jawa ini dalam group Halcyonidae (Tree Kingfishers), sementara Raja Udang Meninting ke dalam group Alcedinidae (River Kingfishers).

Burung ini termasuk berukuran sedang, sekitar 25cm- lebih besar dari burung Raja Udang Meninting. Jika terbang, kita bisa melihat ujung sayapnya yang putih bersih indah sekali.

Namun sayang sekali, burung berbulu indah  ini populasinya juga semakin menurun dari tahun ke tahun.

Burung Bondol Yang Kembali Ke Alam Bebas.

Standard

Burung Pipit merahSabtu siang saya sedang mengamati kupu-kupu bersama anak saya yang kecil. Suami saya menyusul dan ikut sibuk membidikkan kameranya ke arah pohon keluwih yang tumbuh di seberang. “Wah..burung apa itu? Merah!” serunya. Saya pun  melihat ke arah yang ditunjuk suami saya.

Benar seekor burung kecil sebesar pipit tampak hinggap di dahan pohon itu. Tampangnya mirip pipit. Tapi berwarna merah. Sayang posisinya agak jauh dan sulit dilihat dengan mata minus saya. Sehingga yang saya lihat hanya warna merah kecil nongkrong di sana.

Wow! Amandava amandava!” teriak saya sok tahu. Seketika bersemangat. Saya benar-benar ingin melihat burung Amandava ini dari dekat.  Amandava amandava, adalah burung pipit berwarna merah padam dengan bintik-bintik putih serta sayap dan ekor kehitaman. Nama lainnya adalah Burung Pipit Benggala. Walaupun banyak sumber mengatakan bahwa Burung Pipit Benggala ini ditemukan juga di tanah air, namun terus terang saya belum pernah melihatnya. Terakhir saya melihatnya di ladang-ladang di daerah pedesaan di Bangalore, tak jauh dari wilayah Andra Pradesh India ketika tahun yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Terbang berduyun-duyun di semak-semak di tepi ladang di sore hari menjelang malam.

Burung Bondol merah 1Burung yang jarang terlihat!”. kata saya.

Melihat wajah saya yang sangat meyakinkan, suami sayapun dengan sangat semangat memotret burung pipit berwarna merah itu. Ada sekitar 250 photo shoot dari burung pipit merah ini diambilnya dengan kecepatan tinggi dalam waktu kurang dari 6 menit. Sebelum akhirnya burung itu terbang lagi. Wah..hebat sekali suami saya!.

Amandava amandava!

Pasti ia menyangka apa yang saya katakan tentang binatang selalu benar. Ia tentu berpikir bahwa dokter hewan selalu tahu segala hal  tentang binatang. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Inilah salah satu contohnya.

Ketika saya men’zoom’ foto hasil jepretan suami, saya mulai meragukan penglihatan saya.  Amandava amandava  yang saya tahu dan lihat di India  bukan begini. Warna merahnya berbeda. Sangat kurang kuat. Setahu saya Amandava amandava berwarna merah padam yang bercahaya.  Yang ini kok warna merahnya terasa mendem ya.. Hmmm..

Burung Bondol merah 2Lalu biasanya Amandava amandava juga berbintik-bintik putih. Ini tidak ada bintik-bintiknya. Malah sayap dan ekornya berwarna coklat pudar. Kok begini ya? Rasanya ada yang salah ini.  Ini kelihatannya bukan Amandava.  Tapi burung apa ya? Saya mencoba mengingat-ingat burung apa yang kira-kira berwarna merah pudar begini. Namun tidak berhasil.

Melihat keraguan saya, anak saya ikut mendekat dan melihat. “wah! Itu sih kayanya burung pipit yang dikasih warna, Ma! yang suka dijual di depan sekolah sekolah” komentar anak saya. O ya.. benar juga! Sekarang saya ingat. Di Bintaro ini beberapa kali saya pernah melihat pedagang burung menjajakan anak-anak burung pipit yang dikasih warna warni untuk menarik perhatian anak-anak kecil. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Pink dan sebagainya. Mungkin burung ini sempat tersekap dalam kandang buatan manusia, lalu entah dengan cara apa berhasil meloloskan diri dan terbang kembali ke alam bebas.

Tak lama kemudian burung itu kembali datang mengunjungi rumput gelagah tak jauh dari tempat kami berdiri. Datang bersama dengan rombongannya, para burung Bondol Haji. Ohh..kemungkinan besar, burung pipit merah itu sebenarnya adalah Burung Bondol Haji yang dicat.

BondolHajiItulah sebabnya, ketika ia di alam bebas,  ia pulang kembali ke keluarga atau kelompoknya yakni Burung Bondol Haji.  Bukan pulang ke kelompok Burung Pipit ataupun Burung Peking yang juga ada banyak di situ. Naluri membawanya kembali pulang ke keluarganya.

Kini saya mengerti, mengapa ekor dan sayap burung ini berwarna coklat kemerahan. Karena warna coklat kemerahan itu memang warna yang dimiliki oleh burung Bondol Haji (Lonchura maja).  Hanya saja leher,dada dan kepala burung ini berwarna putih, sehingga memudahkan bagi pedagang burung untuk memberinya warna merah, pink, jingga, hijau,kuning dan sebagainya sesuka hatinya.

Bagi yang ingin tahu bagaimana wajah burung Bondol haji yang sesungguhnya,   bisa melihat gambar burung-burung di atas  ini. Beginilah tampang burung ini jika tidak dicat. Lebih cantik apa adanya, bukan?

Wah…mengidentifikasi burung, ternyata bisa juga dilakukan dengan melihat kelompok burung yang hidup bersamanya.

 

 

 

 

Situ Gunung: Lutung Dan Binatang Lainnya.

Standard

Menikmati hutan, tidak akan lengkap jika tidak melihat binatang yang hidup di dalamnya.  Seperti saya ceritakan sebelumnya, tujuan awal saya sebenarnya datang ke Situ Gunung yang berada di kawasan taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini adalah untuk mengamati burung.  Namun karena burung-burung itu sulit dilihat, yang berhasil saya temukan hanya suaranya yang riuh. Perhatian sayapun jadi beralih kepada mahluk-mahluk lainnya.

Lutung (Trachypithecus auratus).

LutungPertama kali tahu mengenai keberadaan Lutung di hutan ini dari ibu tukang warung yang berada di pelataran parkir II. Ibu itu mengabarkan kepada saya bahwa sulit untuk menemui burung di sana, karena pepohonan sangat tinggi. “Tapi lutung biasanya suka turun” katanya.  Saya merasa sangat tertarik untuk melihat.  Namun si ibu tidak bisa memastikan jam berapa kedatangannya. “Biasanya sih sebentar lagi, sekitar jam delapan”  jelas si Ibu.

Kamipun turun ke danau.Benar saja, ketika sibuk mencari-cari sumber suara burung di pepohonan, suami saya memberi tahu ada sesuatu yang bergerak di kejauhan sana. Saya pun membidikkan kamera saya ke arah pohon yang ditunjuk. Ada sebuah benda berwarna hitam bergerak-gerak di pohon palm. SeekorLutung!  Bergelayutan dari satu daun ke daun yang lainnya. Di pohon yang jaraknya sekitar  100 meter dari kami. Lalu saya perhatikan ada seekor bayi lutung yang menempel di dahan pohon palem. Lalu ada lagi seekor lutung yang lain.  Wow! Bukan seekor. Tapi sekelompok Lutung!. Barangkali sekitar 15 ekor, agak sulit menghitungnya karena ia bergelayutan dan melompat ke sana ke mari.  Rupanya Lutung-Lutung ini suka hidup berkelompok.

Lutung 1Lutung (Trachypithecus auratus)  sering juga disebut dengan monyet hitam, karena mamalia ini memang berwarna hitam. Kalau kita perhatikan, sebenarnya wajahnya sedikit agak kelabu. rambut di sekitar wajahnya dan di kepalanya berdiri mirip rambut manusia. Selain warnanya yang hitam, Lutung juga mudah dikenali dari ekornya yang panjang, yang melebihi panjang tubuhnya sendiri.  Badan dan lengannya langsing, barangkali karena hobinya bergelayutan dari pohon ke pohon.  Tukang perahu mengatakan bahwa Lutung ini sangat jarang turun ke tanah. Hidupnya praktis hanya di pohon-pohon yang tinggi saja.

Makanan utamanya adalah dedaunan, buah-buahan serta bunga-bungaan. Saya memperhatikan bagaimana mereka memetik pucuk-pucuk daun damar, memegangnya dengan tangannya dan memakannya. Sangat mirip dengan cara manusia memegang makanan. beberapa lembar daun berjatuhan ke tanah. Saya berpikir daun-daun damar ini sebenarnya agak keras. Namun Lutung memiliki lambung khusus  serta gigi pengunyah yang baik, untuk membantunya mengunyah selulosa dari dedaunan.

Tingkah lakunya mirip manusia. Seperti yang tadi saya ceritakan di atas, Lutung  senang hidup berkelompok dan membentuk masyarakat. Satu kelompok terdiri atas sekitar 10-20 ekor.  Lutung-lutung ini bergelayutan, berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Kadang duduk bersama dan berdekatan di cabang yang sama sambil memandang ke arah saya. Barangkali sedang mengobrol tentang manusia. . ha ha.

Induk Lutung sangat perhatian pada anaknya. Kelihatan ia menggendong anaknya dengan erat sambil duduk di cabang pohon.  Namun tidak jarang juga induk lain ikut menggendongnya bergantian, sehingga saya tidak jelas yang mana sebenarnya induk aslinya.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus)

Tupai KekesBinatang lain yang cukup mudah di temui adalah Bajing Kelapa.  Saya menemukan beberapa ekor bajing ini sedang bermain-main di ranting pohon yang rendah.  Berlarian ke sana dan kemari dengan lucunya. Tingkah lakunya mirip di film-film kanak-kanak.

Saya tidak ada melihat pohon kelapa di sekitar situ. Namun rupanya sang bajing tidak mau berputus asa. Ibarat kata, tak ada rotan akarpun berguna, maka iapun sibuk meloncat dan menggerogoti buah palma yang merah ranum. Tidak ada kelapa, palma pun jadi.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus), walaupun namanya bajing kelapa dan makanan utamanya buah kelapa, namun sebenarnya binatang ini juga menyukai buah-buah lainnya, pucuk pohon bahkan serangga yang melintas di dekatnya.

Bajing kelapa bisa dikenali dari bulunya  yang  berwarna coklat hijau zaitun dengan campuran warna hitam.  Kepalanya agak gemuk membulat dan moncongnya agak pendek.

Tawon (Vespa sp)

tawonBinatang lain yang menarik perhatian anak saya adalah Tawon (Vespa sp). Saat melintasi sebatang pohon, anak saya yang kecil menunjuk  “Lihat, Ma! Itu ada sarang lebah” katanya.  Sayapun mendekat. Ikut mendongak ke arah ujung telunjuknya menunjuk.

Sebuah sarang tawon kertas tampak menggantung di batang pohon. Belum seberapa besar. Beberapa ekor tawon dewas tampak sedang  hinggap di sana “Ooh, itu bukan lebah. Itu namanya tawon!” kata saya.

Saya lalu memberi isyarat agar anak saya berhati-hati, sambil menjelaskan perbedaan antara lebah dengan tawon. Sama-sama menyukai madu, tapi tawon bukanlah lebah, kata saya memulai. Pinggangnya ramping dan tidak berbulu seperti lebah. Kalau menyengat malah lebih sakit daripada lebah.

Jumlah koloninya lebih sedikit dan ia tidak mengumpulkan madu di sarangnya. Rumahnya terbuat dari kertas hasil kunyahannya sendiri.

 

 

 

 

Burung Caladi Tilik.

Standard

Burung Caladi Tilik 1Ada sebuah suara yang sangat membuat saya terkesan beberapa bulan terakhir ini. ” terrrrrrrrrrrrrr…. terrrrrrrrrrrrrrrr”.  Suaranya sangat jelas di udara. Terutama sekitar jam 8  sampai jam 10 pagi. Sangat mirip  dengan suara sejenis alat bor . Awalnya saya tidak terlalu ngeh suara apa itu. Saya mencoba mencari-cari. Agak sulit menemukannya. Namun akhirnya saya tahu suara itu datangnya dari sebuah pohon keluwih yang mati di belakang rumah.

Caladi Tilik 1

Saya mendongak ke atas. Seekor burung pelatuk (Caladi) rupanya sedang mematuk-matuk batang pohon keluwih yang baru mati itu. Saya mengamati gerakannya. Sangat menarik. Ia mematuk-matuk kulit kayu itu,mencari-cari serangga,ulat atau tempayak yang hidup di kulit batang pohon itu. Lalu ia berjalan naik, mirip seperti orang merambat. Mematuk-matuk lagi. Merambat lagi ke atas. Mematuk-matuk lagi . Dan seterusnya hingga ke pucuk batang itu. Lalu terbang dan hinggap di batang yang lain yang juga mati. Mulai lagi mematuk-matuk dari bawah, lalu merambat ke atas dan seterusnya hingga ke pucuk atas batang. Demikian seterusnya dilakukan berulang-ulang.  Esoknya pun ia berbuat yang sama lagi. Saya jadi mengerti. Ooh.. rupanya begitu cara kerjanya.

Burung Caladi Tilik 8

Belakangan saya memperhatikan, burung Caladi ini rupanya tak pernah datang sendirian. Ia selalu bersama dengan seekor temannya. Atau jika tidak dengan 3 ekor teman. Jadi lumayan mudah terlihat juga oleh saya.

Caladi Tilik

Burung Caladi Tilik  alias Sunda Pigmy Woodpecker (Dendrocopos moluccensis), adalah salah satu jenis Burung Caladi, atau Pelatuk (Woodpecker) yang berukuran kecil. Ukuran tubuhnya tidak jauh berbeda dengan burung  gereja, sekitar 13 cm. Warna dominantnya bertotol-totol hitam dan putih. Kepalanya  berwarna putih dengan garis coklat gelap kehitaman yang mirip topi.  Demikian juga pada wajahnya, terlihat ada garis berwarna coklat gelap di mulai dari matanya ke belakang. Mirip zebra. Punggung dan sayapnya berwarna coklat gelap dengan totol-totol berwarna putih.

Paruh dan kakinya berwarna abu-abu.

Burung Caladi Tilik 8

Jika kita perhatikan baik -baik, pada  burung Caladi Tilik yang jantan, terlihat bintik merah di kepalanya yang cukup mudah terlihat dari jarak yang cukup jauh.

Caladi Tilik 3

Selain bersuara “terrrrrrrrrr’ buruung ini juga mengeluarkan suara “cuiiitttt..cuittttt”  pada saat menacari makan. Makanannya adalah serangga yang hidup di batang pohon seperti tempayak, semut, kumbang, belalang dan lain sebagainya.

Burung Caladi Tilik

Cara termudah untuk menemukan burung ini di alam adalah dengan memperhatikan pohon-pohon yang belum terlalu lama mati. Saya tidak melihat burung ini mengunjungi pohon yang sudah kering, dan terlalu lama mati.

Burung Caladi Tilik 6Hingga saat ini burung pelatuk kecil ini tidak dikelompokkan sebagai burung yang terancam keberadaannya, namun saya tetap merasa bahwa kita perlu menjaga kelestarian burung ini agar jangan sampai berkurang populasinya.

Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro I.

Standard

InsectsSeperti halnya wilayah lain yang sedang mengalami pembangunan,  Bintaro dan sekitarnya juga mengalami perubahan yang sangat pesat.  Cluster-cluster  perumahan bermunculan di sana-sini menggantikan lahan-lahan  yang dulunya merupakan tanah ataupun rumah penduduk setempat. Tentu saja saya tidak akan membahas mengenai masalah pembangunan di sini.

Karena saya adalah seorang pengagum keindahan alam, maka  saya akan bercerita tentang keindahan padang rumput  Bintaro. Hah?!? Bintaro memiliki padang rumput? Saya terbayang para sahabat pembaca tentu akan bertanya-tanya sejak kapan Bintaro mempunyai Padang Rumput?  Yap! Bintaro memiliki beberapa padang rumput kecil-kecil yang sifatnya sementara.  Terbentuk dari lahan-lahan penduduk yang sudah dibebaskan, tapi mungkin sudah diratakan, namun belum dibangun.  Beberapa ada juga yang belum diratakan. Jadi nanti, ketika lahan ini sudah dibangun menjadi  pertokoan, perkantoran maupun perumahan,  tentunya tak bisa lagi kita sebut sebagai padang rumput.

Jadi sebelum dibangun, saya suka melihat-lihat padang rumput ini dan menikmati bunga-bunga liar yang indah serta berbagai insekta yang terbang mencari makan ataupun hanya sekedar bermain-main di sana.

Saya mencatat jenis-jenis kupu-kupu yang ada dan sangat suka menuliskannya, sebagai catatan saya tentang  species yang pernah exist di wilayah ini di tahun 2013.

Junonia jingga.1.  Kupu- Kupu Junonia Jingga.

Kupu-kupu ini disebut juga dengan Kupu-kupu Merak Jingga, Peacock Pansy Butterfly (Junonia almana). Mengidentifikasi Kupu-kupu berukuran sedang ini tentu cukup mudah. Warna keseluruhan tampak atasnya yang jelas adalah orange (jingga) yang sangat terang.   memiliki masing-masing sebuah bulatan mirip mata di sayap depannya. Dan dua bulatan mata – satu besar dan satu kecil pada sayap belakangnya.

Mata yang besar di sayap belakang,  berwarna coklat bergradasi hitam dengan dikelilingi cincin  putih dan hitam yang mebuatnya terlihat sangat mengesankan. Selain bulatan mirip mata, sayap depan kupu-kupu ini memiliki design berupa 3 blok  tebal dan 2 garis tipis yang bergelombang berwarna coklat gelap.  Diluar itu, di tepian sayapnya, baik yang  depan maupun belakang memiliki  3 baris garis yang membentuk renda  berwarna coklat.

Kupu-kupu ini hobbynya terbang rendah di atas bunga-bunga rumput. Berhenti dengan mengembangkan sayapnya dengan cukup sempurna.  Ia senang mampir di bunga rumput pukul  delapan, bunga kacang-kacangan, puteri malu, maupun jenis bunga  rumput lainnya.

Tubuhnya sendiri berwarna coklat.

Kupu-kupu ini termasuk berukuran sedang, sekitar 4-5 cm jika sayapnya kita bentangkan.

2. Kupu-Kupu Junonia Biru.

Junonia BiruKupu-kupu berwarna biru ini masih sekeluarga dengan Kupu-Kupu Merak Jingga. Sering juga disebut dengan Kupu-Kupu Mata Biru , Blue Buckeye Butterfly, Blue Pansy  Butterly (Junonia orithya).  Sangat serupa dengan saudaranya Junonia almana, sepintas lalu Kupu-kupu ini terlihat didominasi oleh warna biru.

Tampak atas sayap depan kupu-kupu ini  berwarna hitam pangkalnya dengan ujung berwarna krem yang terang. Dihiasi dengan dua bulatan berwarna jingga dengan inti hitam mirip mata. Pinggir sayapnya dihiasi dengan 3 baris garis berwarna coklat  gelap.  Di dekat pangkal sayapnya terdapat dua goresan berwana jingga.

Sayap belakang kupu-kupu ini didominasi warna biru (kadang ungu) dengan usapan warna hitam pada pangkalnya. Ada dua bulatan masingmasing pada sayap belakang kiri dan kanannya. Satu bulatan penuh berwarna hitam. Dan satu bulatan lagi berwarna jingga dilapis hitam, dengan iti berwarna hitam dan putih. benar-benar mirip mata.

Bagian bawah sayapnya didominasi warna krem dengan corak berawna coklat pucat. Tubuhnya berwarna hitam.

Sama seperti saudaranya di atas, kupu-kupu ini juga sangat suka terbang rendah dan hinggap di bunga-bunga rerumputan.  Ia bahkan terkadang hinggap di atas rumput atau di tanah.

Ukurannya kurang lebih sama dengan yang jingga.  Walaupun sbeberapa kali saya  pernah juga melihat yang berukuran kerdil.

3. Kupu-Kupu Junonia Coklat.

Kupu Kupu Junonia CoklatKupu-kupu berwana coklat ini sudah pasti berkeluarga dengan dua Kupu-Kupu  merak di atas. Sering disebut dengan Common Buckeye Butterfly atau  Junonia coenia, karena memang paling banyak dijumpai di mana-mana.

Jika kita lihat dari atas dimana kupu-kupu ini membentangkan sayapnya lebar-lebar, maka yang kita tangkap adalah warna colat dengan ujung berwarna krem dan delapan  buah mata yang mencolok. Setiap sayap memiliki bulatan mata masing-masing dua buah. Lumayan banyak untuk menakut-nakuti musuh yang hendak menyerang.

Jika kita perhatikan sayap depanya – sangat serupa dengan Kupu-Kupu Junonia biru, hanya saja pangkalnya berwarna coklat dan bukan hitam.  Bulatan matanya juga serupa dan ada dua, hanya saja pada Kupu-Kupu ini, bulatan mata terlihat lebih sempurna. Dua goresan warna jingga juga menghiasi bagian depan daris ayap depan kupu-kupu ini. Dan tiga baris garis yang serupa juga dimilikinya di ujung sayap.

Sayap belakangnya juga demikian. Pangkalnya didominasi warna coklat dan memudar ke arah krem di ujungnya yang memiliki 3 baris garis. Lalu ada dua bulatan mata di masing-masing sayapnya yang sangat jelas. Tubuhnya berwarna hiatm kelabu.

Ukurannya sama dengan ke dua saudaranya di atas.

 

Kisah Pagi Dan Dua Ekor Bayi Bajing Kelapa.

Standard

Bayi Bajing Kelapa 1Hari libur! Pagi-pagi enaknya berjalan-jalan di sekitar perumahan. Menggerakkan kaki yang berhari hari terpaku di bawah kursi tanpa gerakan yang berarti. Ketika  melintas di gerbang depan, Satpam pintu gerbang menyapa saya dengan semangat. “Bu! Ibu!. Lihat nih Bu . Kami mendapat anak tupai” katanya. Sayapun mendekat untuk melihat. Dua ekor bayi bajing kelapa yang masih kecil tampak meringkuk di dalam sarang burung yang terbuat dari serat-serat tanaman.  Aiiiiih…. lucunya  Rasanya pengen menjawil.  Ukurannya segede bola pingpong. Warnanya coklat hijau zaitun Matanya merem tertutup, seolah-olah tak mau melihat manusia.Ia membenamkan wajahya ke dalams arang burung. Aduuh kasihanya.Tentulah  ia sangat ketakutan. Kemana ibunya ya…

Dapat darimana?” tanya saya kepada Pak Satpam.  “Jatoh, Bu. Dari pohon palem” Jelas satpam. “Itu noh, tempat ibu tadi berdiri” katanya dengan logat Betawi yang sangat kental sambil menunjuk pohon palem tinggi tak jauh dari posisi saya berdiri sekarang. Sayapun menengok. Tinggi juga jatuhnya. Untungnya kedua bayi kecil itu jatuh berikut sarangnya yang empuk, sehingga tidak cedera. “Kenapa tidak dikembalikan saja ke tempatnya?” tanya saya. Satpam menggeleng karena pohon palem itu memang terlalu tinggi untuk dipanjat. Sayapun berpikir. Lagipula jikapun berhasil diletakkan kembali  di sana setelah jatuh dan agak lama di bawah, belum tentu induknya tahu juga kalau anaknya sudah kembali ke atas.  Jika induknya tidak datang, tentu kedua bayi bajing itu bisa bertahan juga jika tidak ada yang memberi makan. Saya tidak bisa mematahkan teori itu. Bisa jadi benar.  Mereka menemukan bayi bajing itu saat pergantian jaga dengan Satpam sebelumnya. Jadi mungkin sebenarnya sudah jatuh sejak kemarin atau semalam, namun tak ada yang melihat.  Hm.. tak mungkin juga saya meminta Satpam untuk memajat pohon itu berkali-kali untuk memeriksa apakah  induknya datang atau tidak, atau untuk memberinya makanan. “Jadi?” Tanya saya.

Daripada mati, seorang dari Satpam itu akan memeliharanya. Memberinya susu dan merawat kesehatannya. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia juga pernah memelihara Bajing sejak bayi hingga besar. Demikian juga dengan anak burung Belekok. Dan binatang-binatang itu sangat jinak . “Kalaupun dilepas, akhirnya ia pulang lagi ke rumah” katanya.  Saya mengangguk-angguk dan  tak berkomentar lagi. Memang ada orang-orang yang puya kesabaran dalam memelihara binatang yang tertimpa kemalangan.

Akhirnya pagi itu diakhiri dengan ngobrol ke kiri dan ke kanan tentang Burung-Burung yang banyak berkeliaran di sekitar perumahan. Satpam mendemonstrasikan kepada saya, bagaimana cara memanggil burung agar berdatangan dengan rekaman suara burung tertentu. Benar saja. Tiba-tiba entah datang darimana belasan burung berdatangan dengan cepat dan bertengger di pohon di dekat tempat kami berdiri. Ada burung Kutilang, Cerukcuk, burung Cabe, burung Prenjak dan burung Madu. Sayapun memotret burung-burung itu.  Sangat menakjubkan! Bagaimana ya sebenarnya cara kerja suara burung itu? Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh burung di rekaman itu yang membuat burung-burung lain tiba-tiba berlomba-lomba datang mendekat? Seandainya saya mengerti bahasa burung.

Matahari merangkak naik. Sambil berjalan pulang saya  memikirkan betapa banyak hal yang tidak kita kuasai sebagai manusia. Yang masih tetap menjadi rahasia alam..