Tag Archives: Bahasa Bali

Warna-Warni Dalam Bahasa Bali.

Standard

Gara gara seorang teman berkomentar pada sebuah post di timeline facebook, saya jadi kepikiran untuk mengajak teman-teman pembaca untuk bersama-sama mengenal warna-warni dalam Bahasa Bali. Dan sekaligus mengenal bagaimana masyarakat Bali memandang warna.

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, warna memegang peranan yang sangat penting, bukan saja dalam kaitannya dengan seni, misalnya warna warni pada lukisan, pakaian, namun juga pada warna warni makanan dan sebagainya.

Bahkan warna warni juga erat hubungannya dengan konsep keTuhanan, misalnya diterapkan dalam konsep Dewata Nawa Sanga, di mana Tuhan Yang Maha Esa diberikan nama tertentu sesuai dengan peranan Beliau, lokasi dalam mandala/ arah mata angin dan diberi kode warna tertentu juga.

Untuk diketahui, Warna dalam Bahasa Balinya sama saja dengan Bahasa Indonesia, yaitu “Warna” juga (dibaca “warne” . A dibaca e seperti membaca e dlm kata “dengan”). Tetapi apa saja jenis warna yang ada dalam perbendaharaan Bahasa Bali? Yuk kita simak bersama.

1/. Hitam.

Ireng, Cemeng (halus). Selem (standard). Badeng (kasar).

Contoh pemakaiannya; Tebu Ireng = tebu hitam/ tebu guak. Miana Cemeng = Miana hitam. Kayu Selem = kayu hitam. Kulitne badeng senged = kulitnya hitam legam.

Masyarakat Bali menempatkan warna hitam di utara. Dan hitam juga merupakan lambang Tuhan yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pemelihara (Wisnu)

2/. Biru.
Nila (halus). Pelung ( standard). Beru (standard).

Warna Biru ditempatkan di Timur Laut. Merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pencipta Kebahagiaan (Shambu).

3/. Putih.

Petak ( halus). Putih (standard).

Untune petak sekadi gamet = giginya putih seperti kapas.

Warna Putih ditempatkan di Timur. Juga merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penguasa Dunia (Iswara).

4/. Pink

Dadu (Halus/ Standard).

Warna Pink di tempatkan di Tenggara. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Besar (Maheswara).

5/. Merah.

Bang (halus). Barak (standard).

Contoh pemakaian:

Mesumpang nganggen Pucuk Bang = menghias rambut/telinga dengan menggunakan bunga kembang sepatu merah.

Warna merah ditempatkan di selatan. Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Sang Maha Pencipta (Brahma).

6/. Orange.

Kudrang (halus). Jingga (standard). Nasak Gedang (standard).

Warna Orange diletakkan di Barat Daya. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penghancur Kejahatan (Rudra).

7/. Kuning.

Jenar (halus). Kuning ( standard).

Kuning ditempatkan di Barat. Merupakan lambang Tuhan dalam fungsinya sebagai Sang Penguasa Tertinggi Alam Semesta (Mahadewa).

8/. Hijau

Wilis. Gadang. Ijo (standard).

Hijau ditempatkan di Barat Laut. Meruoakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penjaga Keharmonisan (Shangkara).

9/. Ungu.

Tangi (Halus/Standard).

10/. Coklat

Gading.

Contoh pemakaiannya :

– Bokne gading (rambutnya coklat/pirang).

– Kepundunge nasak gading (buah kepundung/menteng matang dan coklat muda).

– Nyuh Gading= kelapa ukuran kecil yang berwarna merah kecoklatan.

11. Abu.

Kelawu.

Itu adalah warna warna umum. Bagaimana jika kita ingin mengatakan ” ke….an”?. Misalnya nih… kecoklatan (brownish) kebiruan (bluish), kekuningan (yellowish)?. Dalam bahasa Bali, kecoklatan disebut dengan “lumlum gading”. Keputihan = lumlum petak. Jadi untuk mengatakan sesuatu yang ke+warna+an, cukup tambahkan kata “lumlum” di depan kata warna (lumlum+warna).

Cara lainnya adalah menambahkan kata “mesawang” di depan kata warna. Mesawang arti aslinya adalah terlihat/tampak. Contoh, “warnan ambarane pelung mesawang barak” artinya, warnanya langit biru agak kemerahan.

Selain itu ada istilah lain lagi yang berkaitan dengan warna.

1. Tri Kona = Tiga Warna = hitam, merah , kuning.

2. Panca Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Kuning.

3. Sanga Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Ungu, Kuning, Jingga, Pink, Hijau.

4. Berumbun = Warna campur-campur.

Nah…demikianlah kurang lebih bahasa Bali untuk mengatakan berbagai jenis Warna.

Advertisements

Bumbu Dapur Dalam Bahasa Bali.

Standard

Setelah sebelumnya saya menulis tentang bahasa balinya wajah dan bagian-bagiannya, kali ini saya ingin mengajak teman pembaca untuk menengok dapur orang Bali dan mengenal bumbu dapur dalam Bahasa Bali.

Dapur dalam bahasa Bali disebut dengan “Paon”. Atau dalam bahasa halusnya disebut dengan kata “Pewaregan“. Dan Bumbu Dapur disebut dengan “Basa-basa” -dibaca Base base – dengan huruf a dibelakang kata dibaca sebagai “e ” seperti huruf e dalam kata “dengan” di bahasa Indonesia.

Oke!. Sekarang kita langsung mengenali apa saja yang ada di dalam nampan Basa -basa ya.

1/. Cabe = tabya.

2/. Garam = uyah (kasar), tasik (halus).

3/. Bawang merah = bawang.

4/. Bawang putih = suna / kesuna.

5/. Jahe = jae.

6/. Lengkuas = isen.

7/. Kencur = cekuh.

8/. Kunyit = kunyit.

9/. Asem = lunak.

10/. Merica = mica.

11/. Ketumbar = ketumbah.

12/. Lada = tabya bun.

13/. Pala = pala.

14/. Terasi = sera

15/. Pekak = Bungan lawang.

16/. Kecombrang = Kecicang.

17/. Kapulaga = kapulaga.

18/. Temu Kunci = kunci/ bekunci.

19/. Daun Salam = janggar ulam.

20/. Jeruk Limau = lemo.

21/. Jeruk nipis = juuk lengis.

22/. Gula Pasir = gula pasir.

23/. Gula Merah = gula barak/ gula ntal/gula Bali.

24/. Kecap = kecap (tidak umum dalam masakan traditional Bali, tetapi untuk masakan kontemporer, terkadang disediakan kecap di dapur).

25/. Bawang Daun = don pre.

26/. Seledri = seladri.

27/. Wijen = lenga.

28/. Pandan Wangi = pandanarum.

29/. Daun Suji = don kayu sugih.

30/. Kemangi = kecarum.

31/. Selasih = sulasih.

32/. Kemiri = tingkih.

33/. Sereh = serai.

34/. Keluwek = pangi.

35/. Kelapa = nyuh.

36/. Minyak kelapa = lengis nyuh.

37/. Tomat = tomat.

38/. Belimbing buluh = belimbing wuluh.

Demikian kurang lebih jenis basa basa yang mungkin ada di dapur orang Bali.

Wajah Dan Bagian-bagiannya Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sejak tinggal di rantau, praktis penggunaan Bahasa Daerah saya berkurang frekwensinya. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari hari. Karenanya, saya jadi kangen berbahasa Bali.

Mungkin ada teman pembaca yang ingin ikut berbahasa Bali bersama saya?.

Kali ini saya mengambil topik tentang Wajah. Apa sih bahasa Balinya wajah? Dan bagaimana kita mengatakannya? Serta apa bahasa Bali bagian dari wajah seperti hidung, bibir, mulut dan sebagainya.

Sebelum masuk ke topik wajah, sedikit saya jelaskan dulu kalau dalam bahasa Bali, umumnya kita memiliki minimal 2 (terkadang 3, 4 atau 5) tingkatan bahasa berdasarkan kasar halusnya (sor -singgih).

Bahasa Sangat Kasar -untuk binatang/memaki.

Bahasa Kasar – bahasa gaul untuk teman/ adik.

Bahasa Halus – bahasa untuk orang yang kira tuakan/ hormati.

Bahasa Sangat Halus – untuk hal hal niskala dan spiritual.

Nah… dalam hal ini secara umum saya akan membahas bahasa kasar dan halusnya saja.

Wajah.

Wajah dalam bahasa Bali biasa disebut dengan Mua, Prerai.

Kasar = Mua (kata benda), Goba (kata keadaan – terkadang dipakai dalam kalinat teguran/marah)

Halus = Prerai.

Contoh penggunaan sebagai berikut:

Muane I Luh jegeg cara bulan. Wajahnya I Luh cantik bagaikan bulan.

Goban nyaine, judes sajaan!. Mukamu (perempuan), judes sekali.

Tiyang seneng nyingakin Prerain Ida. Saya senang mèlihat wajahnya (orang yang saya hormati i.e ayah, ibu dsb).

Hidung.

Kasar = Cunguh.

Halus = Irung.

Mata

Kasar = Mata

Halus = Penyingakan.

Sangat Halus = Pengaksian, Soca.

Catatan: Soca juga sering digunakan untuk mata cincin dalam bahasa Bali sehari-hari. Socan bungkung = mata cincin.

Alis

Kasar = Alis

Halus = Rarik, Wimba.

Jidat

Kasar = Gidat

Halus = Lelata.

Mulut

Kasar sekali = Bungut.

Halus = Cangkem.

Bibir

Kasar = bibih.

Halus = Lambe.

Dagu

Kasar = Jagut

Halus = Jagut.

Pipi

Kasar = pipi

Halus = pipi.

Bulu mata

Kasar = bulun peningalan.

Halus = bulun penyingakan, ringring

Telinga

Kasar = Kuping.

Halus = Karna.

Leher

Kasar = Baong.

Halus = Kanta.

Janggut

Kasar = Jenggot.

Halus = Cerawis.

Rambut.

Kasar = Bok

Halus = Rambut.

Gigi

Kasar = Gigi

Halus = Untu.

Ngemasin Mati! Sebuah Ekspresi Kejujuran Dan Pengorbanan.

Standard

Gelang emas “Ngemasin mati!” Ungkapan itu  baru saya dengar kembali setelah bertahun-tahun tak pernah terlintas di kepala saya. Saat itu saya sedang bernaung dari teriknya matahari di atas desa Trunyan di tepi Danau Batur. Saya duduk di sebuah bale-bale bambu. Saat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang berasal dari dusun Pedahan  yang duduk di sebelah saya, sebuah pengumuman terdengar kencang dalam bahasa Bali yang mengatakan bahwa ” Seorang anak telah menghilangkan sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk  hati (biasanya terlepas kaitannya dan jatuh). Barangsiapa yang menemukannya, harap segera mengembalikannya ke pos desa (tentunya untuk dikembalikan lagi kepada si anak yang menghilangkannya itu)“.

Awalnya saya hanya mendengarkan pengumuman itu sepintas lalu saja. Kalung atau gelang emas jatuh adalah hal yang biasa. Karena anak-anak selalu bermain dan tak jarang berlari-lari sehingga mungkin saja pengaitnya lepas dan akhirnya jatuh tanpa sepengetahuannya.  Terjadi juga pada saya saat kanak-kanak. Tapi biasanya tak lama kemudian seseorang akan menemukannya dan mengembalikannya. Jadi, kehilangan perhiasan rasanya bukan perkara besar.

Ibu Pedahan yang duduk di dekat saya itu bergumam. “Kalau ada yang menemukan, harus segera mengembalikan. Jika tidak tentu akan ngemasin mati’ katanya dalam bahasa Bali versi Pedahan yang terdengar sangat njelimet di telinga saya. Tapi kurang lebih saya mengertilah maksudnya.

Hmm.. Ngemasin Mati!

Entah sudah berapa tahun saya tidak pernah mendengar istilah “Ngemasin Mati” itu. barangkali sejak saya tinggal di Jakarta. Tapi ya itu memang  bener! Itulah kepercayaan masyarakat di Bali, bahwa jika seseorang menemukan emas dan tidak mengembalikannya kepada yang berhak, maka orang itu akan terkutuk oleh emas itu sendiri dan membayarnya dengan kematian.

Ngemasin mati” merupakan istilah yang umum diucapkan di Bali, untuk mengatakan keberanian seseorang melakukan sebuah perbuatan yang beresiko kematian, alias mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang sebenarnya tidak layak dilakukan. Die for crime!.  Mati gara-gara emas!.  Kepercayaan itu sedemikian kuat, sehingga tentunya tidak ada orang yang mau menukar nyawanya yang sangat berharga hanya demi sepotong perhiasan emas yang  walaupun mahal tentu harganya sangat tidak sepadan dengan harga nyawanya sendiri. Jadi, ketika seseorang sangat apes menemukan emas milik orang lain, tentu ia akan berusaha secepatnya menyerahkannya kepada pihak yang berwenang agar segera dikembalikan lagi kepada pemiliknya, sebelum mala petaka datang menghampirinya.  Atau jika ia malas untuk repot-repot, maka emas itu hanya akan dilewatinya saja tanpa berani disentuh, agar ia terbebas dari resiko harus repot berurusan dengan petugas adat setempat dan mencari-cari siapa gerangan pemiliknya.

Jadi kalau kita lihat dari asal muasal istilah “Ngemasin Mati” ini, (ngemasin =nge+emas+in mati), sangat erat kaitannya dengan cara para tetua jaman dulu mendidik anak-anaknya agar berlaku jujur. Tidak mengambil hak orang lain yang memang bukan haknya. Pantang!.

Kemudian istilah ngemasin mati inipun  terkadang diaplikasikan kepada hal lain yang serupa,namun diluar “menemukan emas”.  Misalnya ” Eda bes wanen ngungkabang keropak kerise nto, nyanan bisa ngemasin mati”  maksudnya, “Jangan pernah berani membuka peti tempat keris itu, takutnya malah beresiko kematianmu”. Inti pesannya adalah jangan pernah melakukan perbuatan tertentu yang sebaiknya jangan kau lakukan (perbuatan yang dianggap negative/merusak), karena beresiko bahaya sangat tinggi. Entah itu membuka peti benda pusaka, memasuki rumah orang lain tanpa ijin, dan lain-lain.

Berikutnya istilah ini diaplikasikan juga untuk  perbuatan “mempertaruhkan nyawa” lain, yang tidak terbatas hanya pada perbuatan negative saja (menemukan emas yang bukan miliknya, namun tak mau mengembalikannya), namun juga termasuk perbuatan positive. Contohnya pada  kalimat “Memen ceninge nak kanti ngemasin mati dugus ngelekadang pianakne, sangkala jani sing dadi cening bani buin degag teken I meme“.Maksudnya, “Ibumu sampai mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan dirimu, oleh karenanya janganlah berani-berani dan durhaka  kepada  Ibu“. Tentu saja dalam hal ini istilah “ngemasin mati” konteksnya sangat positive. Pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Karena pada jaman dulu, mengandung dan melahirkan anak, adalah sebuah upaya yang memang beresiko kematian bagi sang ibu – terutama barangkali pada jaman dahulu ilmu kedokteran dan kebidanan belum secanggih sekarang.

Hal positive lain misalnya ditunjukkan dalam phrase “ Eda adi sangsaya teken tresnan Bline kaping adi. Trenan Bline nak mula sujati. Bli tusing takut ngemasin mati”  maksudnya “ Janganlah dinda meragukan cintaku terhadap dinda. Cintaku sungguh murni. Dan aku tidak khawatir jika harus mengorbankan nyawa karenanya”.  Nah itu adalah upaya sungguh -sungguh sang pria untuk membujuk gadis pujaan hatinya. Ia bahkan tidak takut berkorban nyawa demi cintanya.  Dalam hal ini masyarakat tidak memandang ungkapan “ngemasin mati’ ini sebagai perbuatan negative. Malah positive. Pengorbanan seorang lelaki demi cinta! Sangat diapresiasi.

Jadi, setelah saya pikir-pikir kembali, ungkapan “Ngemasin Mati” ini sesungguhnya memiliki makna tentang kejujuran, yang berikutnya juga berkembang dalam makna tentang kesungguhan hati dan pengorbanan.  Senang mengingat istilah ini kembali.

Yuk, kita cintai Bahasa daerah kita !

Tulis Gidat.

Standard

Andani 1Ini cerita yang tercecer ketika beberapa minggu yang lalu saya sempat bermain ke Museum Geologi Bandung. Ketika melihat-lihat di ruangan fosil Phitecantrophus erectus dan teman-temannya itu, saya sempat berdiri cukup lama memperhatikan bagian dahi dari tengkorak-tengkorak yang ada di situ. Anak saya bertanya,  ” Sedang melihat apa, Ma?” saya hanya menunjuk ke fosil fosil itu tanpa memberi penjelasan apa-apa. Soalnya ceritanya panjang, jadi agak repot menjelaskannya saat itu.

Anak saya tampak  merasa tidak nyaman melihat tengkorak-tengkorak itu, lalu pergimeninggalkan saya yang masih memandangi tengkorak  Homo erectus itu. Karena ada banyak juga pengunjung lain di ruangan itu, saya tidak terlalu merasa takut. Anggap saja sedang praktikum di Lab Anatomi (sebenarnya sempat juga sih menengok kiri kanan, dan siap siap kabur jika tak ada pengunjung lain.. he.. he..).

Sebenarnya saat melihat-lihat fosil itu, saya sedang teringat akan ungkapan ” TULIS GIDAT” – sebuah istilah dalam Bahasa Bali yang  jika diterjemahkan langsung alias letterlijk ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ” TULISAN DI DAHI”.  Tetapi arti sebenarnya dari ungkapan itu sebenarnya adalah “Takdir  kehidupan yang harus dijalani”. kalau kita hendak mengatakan “suratan takdir’ dalam bahasa Bali biasanya kita mengatakan “tulis gidat”.

Contoh pemakaiannya misalnya dalam kalimat ” Ooh..I Ketut  nak mula pantes dadi Bupati. Nak suba tulis gidatne buka keketo“. terjemahan :  Ooh..Si Ketut memang sudah sepantasnya menjadi Bupati. Karena  takdirnya memang sudah begitu“. Atau misalnya dalam kalimat lain “Jeg buung  tiyang nganten ngajak ia. Enggalan ia nganten jak nak len. Miribang suba tulis gidat tiyange buka kene“. terjemahannya”Saya batal menikah dengannya. Ia keburu menikah dengan orang lain.Mungkin memang sudah takdir saya begini“. sangat jelas bahwa Tulis Gidat orang pertama yang dibicarakan adalah baik.Sementara Tulis Gidat orang yang ke dua kelihatannya kurang baik.

TULIS GIDAT! Darimana asal usul ungkapan ini ? Saya diceritakan oleh para tetua jaman dulu, bahwa konon di setiap tulang dahi manusia, selalu ada script atau  tulisan (entah dalam huruf apa – yang jelas kita tidak bisa membacanya) yang konon bercerita tentang nasib yang akan kita jalani selagi hidup di dunia. Tentang bagaimana kita lahir, tentang siapa saja saudara kita , teman-teman kita, siapa pasangan hidup kita, bagaimana kita bertemu, bagaimana kita sukses dan sebagainya dan sebagainya. Nah..dari cerita itulah ungkapan “TULIS GIDAT” bermuasal.  Jadi karena semua takdir kita sudah tertulis di tulang dahi kita, apapun yang kita alami di dunia ini ya kita harus terima dan jalani dengan tabah dan tawakal. Tulis Gidat bisa mencakup sesuatu  takdir yang bagus, bisa juga kurang bagus.

Dan orangtua juga selalu mengingatkan kepada anak-anak, bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk melakukan perbuatan baik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lampau. Jadi hanya jalani saja hidup ini dengan sebaik baik yang bisa kita lakukan. Walaupun kita kurang beruntung ataupun nasib buruk menimpa kita, tetap harus kita jalani dengan baik. Jika kita jatuh, maka jatuhlah dengan baik, lalu bangkit lagi dengan cara yang baik. Jika kita kalah, kalahlah dengan baik. Akui kemenangan orang lain dengan ksatria. Tak ada yang harus disesali atau dijadikan beban pikiran, jika semuanya telah kita lakukan dengan cara yang baik dan benar.   Karena semua apa yang menimpa kita itu sudah takdir yang tertulis di gidat alias dahi kita. (Sekali lagi, bahwa semuanya itu konon lho ya).

Gara-gara teringat ungkapan TULIS GIDAT itulah saya jadi memperhatikan tulang dahi dari tengkorak fosil-fosil itu. Saya pengen melihat langsung, apakah benar ada semacam tanda-tanda  mirip tulisan begitu pada tulang dahi manusia yang disebut dengan istilah TULIS GIDAT. Sayangnya kebanyakan tulang fosil itu sudah hancur. Atau kalau tidak,  fosil itupun hanya merupakan replika saja yang tentu kehilangan detailnya. Jadi saya tidak bisa melihat adanya tulisan di sana. Ada juga retakan yang mirip script asing pada sebuah kepala Homo erectus, tapi itu bukan pada bagian gidat-nya, tapi justru pada bagian tempurung kepalanya.  Apakah barangkali nenek moyang kita dulunya terinspirasi oleh alur retakan pada tengkorak itu yang memang mirip aksara antah berantah itu,sehingga keluarlah istilah Tulis Gidat itu.

Lalu,apakah saya orang yang percaya pada Tulis Gidat? . Bisa saya bilang kalau saya ada percaya juga pada yang namanya suratan takdir (takdir dalam pehamanan yang lebih luas daripada hanya sekedar tulisan fisik pada tulang dahi). Walaupun saya lebih percaya bahwa hingga level tertentu, usaha dan upaya kita untuk menentukan nasib juga sangat besar peranannya. Jika kita memang sudah habis-habisan berusaha, bekerja dengan baik dan benar, dengan keras dan smart…nah sisanya itulah baru takdir yang memegang peranan.

 

 

Angka- Angka Unik Dalam Bahasa Bali.

Standard

BaliBeberapa orang teman yang merencanakan liburan ke Bali, bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya menyebutkan angka dalan bahasa Bali dengan baik dan benar.  Maksudnya untuk tujuan belanja dan tawar menawar di pasar traditional, agar mendapatkan harga yang lebih miring. Biasanya kalau kita menawar dalam bahasa lokal, kemungkinan sukses dalam menawar meningkat – itu teorinya. Ha ha..mungkin saja sih.

Sayapun sering meminta tolong saudara yang fasih berbahasa Sunda untuk menawar jika belanja di pasar Sukabumi atau di Bogor. Kadang saya mencoba sendiri menawar dalam bahasa Sunda yang terbata-bata. Begitu juga saat menawar di Mas tukang sayur yang lewat depan rumah. Saya berusaha keras berbicara dalam Bahasa Jawa, walaupun tidak jago berbahasa Jawa. Bener sih. Kadang memang lebih sukses juga menawar dengan bahasa daerah, dibandingkan jika menggunakan Bahasa Indonesia.Seandainyapun pedagang tahu saya bukan asli orang Sunda atau Jawa (ketahuan dari logatnya), tapi  saya pikir setidaknya pedagang akan senang jika bahasa daerahnya coba diucapkan oleh orang yang berasal dari daerah lain.  Dan ujung-ujungnya, discount pun diberikan. Lumayan.

Saya lalu mengajarkan teman-teman saya  beberapa angka praktis dalam bahasa Bali. Satuan, Puluhan, Ratusan, Ribuan, Belasan ribu, Puluhan ribu atau Ratusan ribu – merujuk harga barang-barang yang banyak ditawarkan di pasar Kumbasari atau pasar Sukawati dan kemungkinan jumlah barang yang akan dibeli.  Namun sebenarnya ada beberapa angka yang bernama unik di Bali. Angka-angka ini tidak mengikuti pola normalnya. Angka berapa saja itu? Yuk kita mengenal nama-nama angka dalam bahasa Bali!

Di Bali, angka kurang lebih diberi nama nyaris sama dengan dalam Bahasa Jawa, dan serupa dengan nama dalam bahasa Indonesia.

Satuan:

1= sa, besik, siki, a, tunggal,eka. 2 = dua,dadua, kalih, dwi. 3=telu, tetelu, tiga, tri. 4=pat,papat, catur. 5=lima , panca. 6=enem, nenem, sad. 7=pitu, pepitu, sapta. 8=kutus, kutus, wulu, wolu, asta. 9=sia, sanga. 10=dasa.

Puluhan 

Formulanya sederhana, tinggal menambahkan angka satuan dengan kata dasa. Namun biasanya diselipkan sisipan ‘ng’ diantaranya.

10=dasa. 20=duang dasa, kalih dasa 30=telung dasa, tigang dasa. 40 = petang dasa. 50= seket. Ini nama istimewa. Di Bali orang tidak pernah menyebut limangdasa untuk angka 50, tapi seket. 60=nem dasa. 70 =pitung dasa. 80=wulung dasa. 90=siang dasa, sangang dasa

Ratusan

Formula sama dengan puluhan, angka satuan disambung dengan kata ratus atau singkatannya.

100=satus. 200=satak. ini juga tidak mengikuti pola. Di Bali angka 200 tidak pernah dibaca duangratus atau duangatus, tapi satak. 300=telung atus. 400 = samas.  Saya tidak pernah mendengar angka 400 dibaca petang atus. Tapi samas.  500=limang atus, 600=telungatak, maksudnya adalah 3 x satak.  700=pitung atus, 800= domas, maksudnya adalah dua kalinya samas, alias 2 x400.   900=sangang atus, 1000=siyu, siu.

Ribuan

Ribuan di Bali mengggunakan akhiran tali. Formula juga sama dengan ratusan.

1 000= siyu. 2 000=duang tali. 3 000=telung tali. 4 000=petang tali. 5 000 = limang tali. 6 000 = nem tali . 7 000 =pitung tali . 8  000= kutus tali. 9 000 = sia tali. 10 000 = dasa tali, a laksa.

Belasan.

Belasan nyaris sama dengan dalam bahasa Indoensia. Dimana kata dalam satuan tinggal ditambahkan dengan kata belas atau singkatannya (las).

11=solas. 12=roras. Mungkin awalnya dari rolas  lama-lama menjadi roras. 13=telulas, dibaca cepat tlulas.14=patbelas, 15=limolas, sering dibaca cepat menjadi molas.16=nembelas. 17=pitulas. 18 = pelekutus. Nah ini aneh.Dari mana ya datangnya kata depan ‘pele’ di sini?. Mengapa bukan kutus las atau wolu las?. Saya tidak bisa menjelaskannya, tapi yang jelas, jangan menyebut woululas  kalau belanja di Bali. Sebutlah kata pelekutus, kalau menyebut jumlah 18.  19=siangolas – di sini ditambahkan sisipan ng+o ditengah kata sia dan las, untuk memudahkan pembacaan.

Dua Puluhan

Angka dalam Dua Puluhan diberi nama Likur, dalam bahasa Bali.

20 = duang dasa. 21 = sa likur. 22 = dua likur. 23 =telu likur . 24 = pat likur.  25 = selae. Ini istimewa karena tidak ada orang yang menyebut lima likur untuk kata dua puluh lima. Selalu selae. 26 = nem likur. 27= pitu likur. 28= wulu likur. 29 = sanga likur .

Tiga Puluhan

Angka dalam TigaPuluhan tidak memiliki nama khusus. Cukup menambahkan kata telung dasa = 30, ditambah dengan angka satuannya..

30 = telung dasa. 31 = telung dasa besik. 32 = telung dasa dua. 33 =telung dasa telu. 34 = telung dasa pat.  35 = sasur.  angka 35 di Bali umum disebut sasur, dan bukan telung dasa lima. 36 = telung dasa nem. 37= telung dasa pitu. 38= telung dasa kutus. 39 = telung dasa sia. 40 = petang dasa.

Angka-angka lain yang istimewa:

45 = setimaan. 75= telung benang. 150 = keroblah. 175 = lebak.  1 000 000 = yuta, juta. Ada lagi angka yang disebut sebagai a bangsit. Saya tidak ingat persis artinya, agak lupa antara 1 600 atau 6 000.  Karena  belakangan ini, angka a bangsit ini sudah sangat jarang dituturkan dalam percakapan sehari-hari di Bali. Apakah diantara teman pembaca ada yang tahu artinya a bangsit?

Nah..jadi kalau saya jembrengin begini, angka-angka yang unik dan perlu dihapal saat berada di Bali adalah: Roras, Pelekutus, Selae, Sasur, Setimaan, Seket, Telung Benang, Keroblah, Lebak, Satak, Samas, Telungatak, Domas, Siyu, Yuta.

Yang lainnya tidak perlu dihapal, cuma mengikuti pola normal saja.Angka satuan,belasan pake tambahan kata las,atau belas, lalu dua puluhan pakai angka likur, ratusan pakai kata atus,  ribuan pakai kata tali.

Note:

1. Semua kata-kata dalam Bahasa Bali yang berakhiran a selalu dibaca e  seperti membaca huruf e dalam kata sedang. dua, dibaca due. sia dibaca sie. dasa dibaca dase. 

2. Tentu saja ini versi pemahaman sehari-hari saya sebagai penutur Bahasa Bali biasa.  Dan bukan memiliki keahlian sebagai guru atau ahli Bahasa Bali.