Tag Archives: Bahasa Bali

Siang dan Malam Dalam Bahasa Bali.

Standard

“Apa Bahasa Balinya Siang?” Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan kepada saya oleh beberapa orang teman. Ini membuat saya jadi tergelitik untuk menulis.

Bali mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan waktu. Saya mencoba menceritakannya mulai dari yang paling umum dulu ya.

DINA & WAI.

Hari dalam Bahasa Bali umum disebut dengan kata Dina. Jadi satu hari disebut dengan A Dina. A = satu. A dina, duang dina, telung dina, pitung dina dst (1 hari, 2 hari, 3 hari, 7 hari dst). Kata Dina juga umum disebutkan di depan nama-nama hari. Misalnya Dina Redite (hari Minggu), Dina Wraspati (hari Kamis), dsb.

Nama lain dari Dina adalah Rai. Atau umum diucapkan sebagai Wai. Kata Rai ini sesungguhnya berasal dari kata Rawi yang artinya Matahari. Dimana yang dimaksud dengan kata A Rai atau 1 Rai adalah waktu yang ditempuh sejak matahari (sang Rawi) pertama kali terbit di ufuk timur, hingga kembali terbit lagi di ufuk timur. Jadi jika menyebut satuan hari, yaitu A Wai, duang wai, tigang wai.

KEMARIN DAN BESOK.

Bagaimana mengatakan kemarin dan besok dalam Bahasa Bali?.

Ibi adalah kata yang umum digunakan untuk mengatakan kemarin. Kata lain dari Ibi adalah Dibi yang asal katanya dari Di + Ibi = Dibi (saat kemarin).

Sedangkan untuk mengatakan besok , orang umum mengatakan “Buin Mani”. Dua hari lagi / lusa = Buin Puan. Tiga hari lagi = Buin Telung Dina. Empat Hari lagi = Buin Petang Dini. Dan seterusnya.

Jika ingin menyampaikan dalam Bahasa halus, maka Besok = Benjang. Lusa = Malih Kalih Raina. Tiga hari lagi = Malih Tigang Raina.

LEMAH PETENG.

Siang – Malam di dalam Bahasa Bali disebut dengan Lemah – Peteng.

Lemah itu mengacu pada saat hari terang, sejak matahari terbit hingga terbenam. Sekitar jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Sedangkan Peteng itu mengacu pada saat hari gelap. Sejak matahari terbenam hingga terbit lagi. Sekitar jam 6 sore hingga jam 6 pagi esoknya. Disebut Peteng karena saat itu gelap. Peteng Dedet = Gelap Gulita.

Peteng sering juga disebut Lemeng. Sehingga jika menyebutkan satu malam, menjadi a lemeng. Kata a lemeng lebih umum ketimbang a peteng.

Kata halus dari Peteng adalah Ratri.

PAGI SORE

Di dalam satu hari kita tentunya mengenal pagi, siang, sore dan malam. Bagaimana mengatakannya dalam Bahasa Bali?.

Pagi disebut dengan Semeng dalam Bahasa Bali. Dan sering diimbuhi dengan -an untuk mengatakan keadaan, sehingga menjadi Semengan. Kata Semengan itu kira-kira mengacu dari sekitar jam 5 pagi hingga sekitar jam 9 pagi. Rahajeng Semeng adalah ucapN yang umum digunakan yang setara dengan Selamat Pagi.

Siang disebut dengan Tengai. Berasal dari kata Tengah Ai yang artinya Tengah Hari ( Ai/Rahi = Hari). Kata Tengai mengacu dari sekitar 10 pagi hingga pkl 3 sore. Tepat jam 12.00 siang disebut dengan Tengai Tepet.

Sore disebut dengan Sanja. Mengacu dari sekitar 4 sore hingga pukul 6 sore. Antara pukul 5-6 sore disebut dengan Sandya Kala yang artinya “persendian waktu) yakni pertemuan antara siang dan malam. Atau kadang juga disebut dengan “Saru Mua”, yang artinya saat dimana kita sulit mengenali wajah seseorang jika tanpa bantuan cahaya yang baik.

Malam disebut dengan Peteng, Lemeng atau Wengi. Mengacu mulai saat matahari terbenam atau pukul 7 malam – 4 pagi. Tepat pukul 12 00 disebut dengan Tengah Lemeng.

Dini Hari disebut dengan Das Lemah, mengacu sekitar pukul 4 -5 pagi saat binatang binatang terbangun dan memberi penanda pagi seperti misalnya Ayam Berkokok.

Bagaimana Mengatakan Tidak Dalam Bahasa Bali.

Standard

Dalam sebuah percakapan entah dalam bahasa apapun, tidak selalu kita menyetujui apa yang diucapkan lawan bicara kita. Dan menyatakan ketidak setujuan tentu saja merupakan hal yang sah-sah saja.

Nah bagaimana cara kita mengucapkan ketidak setujuan kita dalam Bahasa Bali?.

Di dalam bahasa Bali kata “tidak” memiliki beberapa kata. Antara lain Sing atau Tusing, Ten atau Nenten. Dan jika diperluas lagi, kata tidak juga masih berkerabat dekat dengan kata Bukan (Boya) dan Tiada (Tuara).

1/. Sing.

Kata “Sing” berasal dari kata “Tusing” yang artinya “Tidak” dalam Bahasa Indonesia. Kata ini dianggap sebagai Bahasa kasar yang dipergunakan sehari hari untuk orang yang seumuran atau di bawah umur kita. Contohnya: Sing ada = Tidak ada. Sing nyak = tidak mau. Sing kengken = Tidak apa apa. Sing dadi = tidak boleh. Sing maan = tidak dapat. Sing taen = tidak pernah. Dan sebagainya.

Kta Sing bisa saja diganti dengan Tusing jika kita berbicara dengan lebih lambat. Sing ada berasal dari Tusing ada. Sing dadi berasal dari Tusing dadi.

2/. Ten atau Nenten.

Sama dengan Sing, kata Ten juga berarti Tidak. Ten berasal sari kata Nenten yang artinya Tidak. Tapi kata Ten dalam bahasa Bali memiliki tingkatan yang lebih halus dari kata Sing. Kata ini diucapkan jika lawan bicara kita lebih tua dari kita, atau seseorang yang kita hormati. Kata Ten juga sering digunakan dalam keluarga yang dalam kesehariannya memang biasa menggunakan kata kata halus.

Karena kata Ten ini sifatnya halus, maka kata penyertanya juga harus halus. Contoh penggunaannya misalnya, Ten wenten = tidak ada, Ten dados = tidak boleh/ tidak bisa, Ten purun =tidak berani/tidak mau (jika yg bersangkutan yg tidak mau), Ten kayun = tidak mau (jika pihak ke tiga atau pihak ke dua yg tidak mau), Ten napi = tidak apa apa, Ten polih = tidak dapat, ten naenin = tidak pernah.

3/. Boya.

Kata “boya” artinya tidak atau bukan. Digunakan jika kita ingin menyangkal atau tidak menyetujui perkataan lawan bicara kita. Contoh penggunaannya misalnya, “Boya ja tiang ngerereh uratian ida dane, niki tiyang nak wantah ngortiang sane kasujatiane”. Artinya, bukannya saya mencari perhatian anda semua, saya hanya menyampaikan kebenarannya saja. Atau contoh lain, ” Eda ja ngalih gae ane boya boya” artinya janganlah mencari kerjaan yang tidak tidak.

4/. Tuara

Tuara dalam Bahasa Bali sebenarnya memiliki arti kata “tiada”, tetapi kerap juga diartikan sebagai “tidak”. Contoh penggunaan, “Tuara ngelah apa” artinya tidak punya apa apa. Contoh lain, Tuara ngidaang = tidak mampu, tuara dingeh = tidak dengar.

5/. Eda.

Kata ” Eda” sebenarnya berarti jangan atau Tidak boleh aluas dilarang. Eda ngambul = jangan ngambek atau tidak boleh ngambek, Eda ngeling = jangan nangis, tidak boleh nangis, Eda merunyuh = jangan resek atau tidak boleh resek.

DemikiNlah sedikit ulasan tentang kata Tidak dalam Bahasa Bali. Semoga berguna bagi yang tertarik belajar Bahasa Bali sehari-hari.

Nama Buah- Buahan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Seorang teman pernah bercerita “Diantara semua buah-buahan, aku ya paling doyan sama Gedang“.

Tampa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa teman saya itu sangat suka makan buah Pepaya. Penyebabnya karena template berpikir saya adalah Bahasa Bali. Dalam Bahasa Bali, Gedang adalah Pepaya. Begitu mendengar kata “Gedang”, otomatis yang muncul di kepala saya adalah gambar Pepaya.

Sementara yang dimaksudkan dengan Gedang oleh teman saya adalah “Pisang”. Karena Gedang dalsm Bahasa Jawa artinya Pisang .

Hingga akhir percakapan, barulah saya ngeh jika teman saya itu sedang membicarakan buah pisang ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€. Oh…indahnya Indonesia!! Bhineka Tunggal Ika.

Itu adalah salah satu contoh kejadian yang membuat saya tertarik untuk mendengarkan nama nama buah, sayuran, bumbu dan lain lainnya dalam berbagai Bahasa daerah di Indonesia.

Karena Bahasa Ibu saya adalah Bahasa Bali, maka saya akan sharing apa nama buah- buahan ini dalam Bahasa Bali

1/. Pisang = Biyu.

2/. Pepaya = Gedang.

3/. Jeruk = Juwuk.

4/. Jeruk Bali = Jerungka.

5/. Jeruk Keprok = Sumaga.

6/. Semangka = Sumangka.

7/. Apel = Apel.

8/. Melon = Melon.

9/. Duku = Ceroring

10/. Langsat = Langsep.

11/. Menteng = Kepundung

12/. Kecapi /Sentul = Sentul

13/. Salak = Salak.

14/ . Gowok = Kaliasem

15/. Kiwi = Kiwi

16/. Anggur = Anggur.

17/. Markisa = Anggur Bali.

18/. Kemang = Wani.

19/. Mangga = Poh

20/. Bacang/Ambacang = Pakel.

21/. Manggis = Manggis.

22/. Sawo = Sabo.

23/. Sawo Kecik = Sawi Kecik.

24/. Leci = Leci.

25/. Kelengkeng = Kelengjeng.

26/. Rambutan = Buluan.

27/. Durian = Duren.

28/. Nangka = Nangka.

29/. Timbul = Timbul.

30/. Terap = Teep.

31/. Sukun = Sukun.

32/ . Delima = Delima.

33/. Alpukat = Apokat.

34/. Belimbing = Belimbing.

35/. Nenas = Manas.

36/. Jambu = Nyambu.

37/. Jambu Biji = Sotong.

38/. Sirsak = Silik.

39/. Srikaya/Nona = Silik Badung.

40/. Bidara = Bekul.

41/. Kelapa = Nyuh.

42/. Kelapa Muda / Degan = Kuwud.

43/. Buah Naga = Buah Naga.

44/. Kepel = Kepel.

45/. Labu = Tabu.

46/. Labu Siam = Jepang.

47/. Buni = Boni.

48/. Jamblang /Duwet = Juwet

49/. Kweni = Poh Eni.

50/. Buah Kersen = Buah Singapur.

51/. Mundu = Mundu.

52/. Katulampa = Katilampa.

53/. Ara = Aa.

54/. Pear = Pir.

55/. Timun = Timun

Ada beberapa buah yang tidak umum/ tidak pernah saya lihat ada di Bali, misalnya Kesemek, Cempedak. Jadi saya tidak tahu apa Bahasa Balinya. Barangkali memang tidak ada.

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali – Part 1.

Standard
Anjing Kintamani.

Ada 2 kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada Binatang/Hewan. Yaitu 1/. Ubuhan untuk hewan domestik. 2/ Buron untuk hewan non domestik (hewan liar).

Selain kata Ubuhan dan Buron, orang Bali memiliki kata “Gumatat-Gumitit” untuk kelompok binatang merayap , serangga dan binatang kecil lainnya.

Di tulisan ini saya hanya akan membahas nama Hewan Domestik alias Ubuhan saja dulu.

Hewan domestik adalah jenis jenis hewan yang merupakan peliharaan manusia, atau biasa hidup dan tinggal bersama manusia. Hewan Domestik dalam Bahasa Bali disebut dengan Ubuhan. Ubuhan berasal dari kata “Ubuh+ an”. Ubuh artinya dipelihara. Jadi Ubuhan = hewan peliharaan.

Apa saja yang termasuk ke dalam Ubuhan? Dan apa nama-nama Ubuhan itu dalam Bahasa Bali?. Yuk simak berikut ini:

1/. SIAP = AYAM.

Siap adalah nama umum untuk Ayam. Tetapi Ayam jantan (Siap Muani) dalam Bahasa Bali disebut dengan Penglumbah atau Manuk. Ayam Betina (Siap Luh) disebut dengan Pengina. Sementara anak ayam disebut dengan Pitik. Ayam hutan disebut dengan Keker.

Selain itu orang Bali memberi nama pada beberapa jenis ayam berdasarkan warnanya, berdasarkan bulunya, berdasarkan tajinya, dan ciri ciri fisik lainnya.

Berdasarkan warnanya, seperti misalnya: Siap Selem (Ayam hitam), Siap Biying (Ayam merah), Siap Buik (warna campur-campur), Siap Brumbun (warna campur merah, putih, hitam), Siap Kelau (warna abu abu).

Berdasarkan jenis bulunya, misalnya : Siap Sangkur (ayam jantan yang bulu ekornya pendek), Siap Srawah (ayam yang bulunya tebal) , Siap Grungsang (ayam yang pertumbuhan bulunya tidak rapi, ada yang mencuat ke atas, ke bawah, ke kiri. Ke kanan. Kelihatan seperti ayam berbulu keriting), Siap Godeg ( ayam yang kakinya tumbuh bulu), Olagan (ayam yang gundul /tidak ada bulunya).

2/. ANJING =CICING.

Cicing adalah nama umum untuk Anjing. Sedangkan anak Anjing disebut dengan Konyong.

Di beberapa daerah di Bali, selain disebut dengan Cicing, Anjing juga disebut dengan Kuluk. Sama artinya. Tetapi di bagian daerah yang lain terkadang Kuluk diartikan sebagai Anak Anjing. Sama dengan Konyong.

Cicing dan Kuluk adalah Bahasa kasar/bahasa umum, sedangkan bahasa Bali halus Anjing adalah Asu.

Cicing Belang Bungkem adalah sebutan untuk anjing yang bulu di sekitar moncongnya berbeda dengan warna bulu tubuhnya. Misalnya Anjing berwarna coklat tetapi di sekitar mulutnya berwarna hitam. Anjing ini sering digunakan sebagai hewan kurban.

3/. MIONG = KUCING.

Miong adalah nama umum untuk Kucing. Kucing jantan disebut Garong. Anak kucing di beberapa wilayah disebut dengan Tai. Tetapi karena namanya yang sama dengan kotoran (tai), kata ini jarang disebut orang. Cukup dengan “Panak Miong” (anak kucing) saja.

Ada lagi nama Salon-Salon untuk mengatakan kucing jantan yang super besar. Nama “Salon-Salon” jaman dulu digunakan oleh ibu-ibu untuk menakuti anaknya yang tidak mau tidur walau malan sudah larut. “Ayo segera tidur, ntar dikejar Salon-Salon”. Sang anakpun terpaksa tidur karena takut akan Salon-salon ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Selain Miong, kucing juga disebut dengan Meng.

4/. BEBEK = BEBEK.

Sama dalam Bahasa Indobesia, Bebek juga disebut Bebek dalam Bahasa Bali. Anak Bebek disebut dengan Meri. Kalau jamak menjadi Memeri.

Ada beberapa jenis Bebek ysng istimewa di Bali, antara lain, Bebek Putih Jambul, yaitu bebek berwarna putih yang memiliki jambul di kepalanya, dianggap sebagai bebek yang indah dan bisa terbang cukup tinggi. Namanya disebut dalam nyanyian ” Bebeke putih jambul mekeber ngaja nganginang. Teked kaja kangin ditu ia tuwun mengindang”. Artinya bebek putih jambul terbang ke arah timur laut. Begitu tiba di timur laut. Bebekpun terbang turun berputar putar.

Bebek Kalung, yaitu bebek yang memiliki tanda lingkaran (biasanya putih/hitam) di lehernya. Bebek Kalung dianggap menghasilkan telor yang banyak.

5/. CELENG = BABI

Babi secara umum disebut dengan Celeng di Bali. Celeng adalah bahasa biasa/kasar, sedangkan bahasa halusnya adalah Bawi. Babi betina disebut dengan Bangkung. Babi jantan disebut dengan Kaung. Anak Babi disebut dengan Kucit.

Sementara, Babi Hutan disebut dengan Celeng Alasan.

6/ . SAMPI = SAPI.

Sampi adalah kata Bahasa Bali yang artinya Sapi. Kata Sampi berlaku untuk kedua jenis kelamin laki dan perempuan. Tetapi Sapi jantan yang sangat kokoh bodinya disebut dengan Jagiran. Anak sapi disebut dengan Godel.

Walaupun orang Bali yang mayoritas beragama Hindu tidak memakan daging Sapi, tetapi Sapi tetap dipelihara di kalangan masyarakat agraris untuk membantu mengolah sawah atau kebun.

7/. JARAN = KUDA.

Jaran adalah kata dalam Bahasa Bali untuk Kuda. Tidak ada nama khusus untuk jenis kelamin jantan atau betina. Tetapi untuk anak kuda, ada namanya yaitu Bedag.

Jaman dulu Jaran memiliki peranan penting dalam transportasi. Mengingat bahwa Jaran sekarang tidak banyak lagi dipelihara orang, maka banyak kaum muda di Bali yang tidak tahu lagi apa arti kata Bedag. Walaupun kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari hari.

Ah cai wak cenik sing nawang bedag!“. Artinya “kamu anak kecil nggak tahu apa itu bedag” , secara tidak langsung kalimat itu mengatakan bahwa lawan bicaranya tidak tahu apa apa. Karena ia tidak tahu apa arti kata Bedag. Sing nawang bedag = tidak tahu apa apa.

Ironisnya terkadang yang ngomong begitupun sebenarnya tidak tahu juga apa arti kata Bedag.

8/. KEBO = KERBAU.

Kebo adalah kerbau. Serupa dengan Sapi , orang memelihara kerbau untuk membantu mengolah tanah.

Saya belum pernah mendengar nama khusus untuk Kerbau jantan dan betina. Tapi anak Kerbau disebut Bedigal. Jika kerbau berwarna putih maka disebut dengan Misa.

9/. KEDIS =BURUNG.

Kedis adalah sebutan untuk segala jenis burung. Dan nama jenisnya tinggal mengikuti. Misalnya Kedis Dara = Burung Dara/Merpati, Kedis Perit = Burung Pipit. Kedis Guak = Burung Gagak, Kedis Celalongan = Burung Kepodang. Dan sebagainya. Bahasa halus untuk Kedis adalah Manuk.

Tidak ada nama khusus untuk jantan dan betina. Juga untuk anak burung biasanya hanta disebut dengan nama Panak Kedis saja atau beberapa orang nenyebutnya dengan nama Piyik atau Pitik. Sama dengan anak ayam.

10/. KAMBING = KAMBING.

Kambing tidak punya nama khusus dalam Bahasa Bali. Namanya ya Kambing saja. Kambing jantan dewasa disebut Bandot. Sedangkan anaknya Kambing bernama Wiwi.

Kata Bandot sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk mengibaratkan anak laki-laki yang sudah dewasa. Misalnya” Ah, suba kanti bandotan, tusing masi bani sirep pedidi“. Artinya” Ah, sudah dewasa (anak laki) begini, kok masih juga tidak berani tidur sendiri”.

Top Sepuluh Kata Bebauan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Selagi ngobrol dengan seorang saudara di Bali, tiba tiba saya berkeinginan untuk menuliskan nama berbagai bebauan dalam Bahasa Bali.

Bau dalam Bahasa Bali umum disebut Bo ( kasar/biasa), Ambu (halus), Ganda (lebih halus lagi).

Kata “Berbau” jika di terjemahkan ke dalam Bahasa Bali menjadi “Mebo”, atau “Mambu”. Sedangkan kata “Baunya” menjadi “Bone” atau “ambune”.

Bau alias Smell dalam semua Bahasa tentu ada banyak jenisnya. Ada yang wangi, busuk, amis dan sebagainya. Bau adalah sesuatu yang ditangkap oleh hidung kita. Nah bagaimana orang Bali mengatakan berbagai macam bebauan ini?. Yuk kita simak!.

1/. MIYIK.

Kata “Miyik” dalam Bahasa Bali artinya Wangi. Smell Good. Smell nice. Baunya enak. Bau yang kita cium dari botol parfum. Bau bunga bunga, beberapa jenis kayu, bau dari dupa yang dibakar, itu digolongkan sebagai Miyik.

Miyik sangat penting dalam kehidupan orang Bali. Untuk mendapatkannya orang Bali banyak menggunakan dalam kehidupan sehari hari, mulai dari perawatan tubuh (seperti air kumkuman untuk mandi dan keramas, ratus untuk mewangikan badan dan rambut, boreh miyik untuk merawat kulit agar halus ), ibadah (bunga bunga, pengasepan- pembakaran kayu cendana/gaharu, dupa).

Sumber-sumber yang diketahui memberi bau wangi antara lain, Bunga Cempaka, Sandat (Kenanga), Mawar (Rose), Pudak (bunga pandan), Anggrek Linjong (Angrek Kalajengking), Irisan Daun Pandan, Srikili (Yellow Mimosa), Cenana ( Cendana), Majagau( Gaharu).

Contoh penggunaan:

Sekadi Merak mengelo, mekebyur ambune miyik“. Artinya, “Bagaikan burung Merak menari, bertaburan baunya wangi”.

Kata Miyik ini juga memiliki Superlatif. Jika sangat harum, maka orang Bali akan mengatakan “Miyik Ngalub”. Artinya Wangiiiii banget.

2/. PENGIT.

Pengit adalah kaya dalam Bahasa Bali untuk mengatakan bau busuk.

Bau yang digolongkan sebagai “Pengit” antara lain bau yang berasal dari bangkai, dari kotoran, bau kentut, bau bunga lading. Itu Pengit.

Kata lain yang serupa dengan Pengit adalah Bengu. Bedanya, jika Pengit digunakan untuk bau tidak enak yang sangat tajam. Sedangkan Bengu digunakan untuk bau tidak enak yang kurang tajam dan berasal dari kotoran manusia.

Selain Bengu masih ada lagi kata Mangkug. Mangkug artinya sana dengan bau, tetapi yang berkaitan dengan benda cair yang sudah lama terbengkalai atau tak terawat. Misalnya air got.

3/. ANDIH.

Andih dalam bahasa Bali artinya Amis. Amis ini termasuk bau yang tidak enak walaupun bukan busuk. Tidak disukai.

Yang digolongkan ke dalam bau Andih antara lain bau ikan/bintang air tawar maupun laut, bau darah, bau daging, bau lantai/meja yang dipel dengan lap kotor.

4/. ANGIT.

Angit adalah kata untuk mengatakan bau gosong alias bau terbakar.

Kata Angit ini merujuk pada bau saat sampah dibakar, kain terbakar, korslet listrik.

5/. NYANGLUH.

Nyangluh adalah kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada bau gurih makanan. Sesuatu yang enak dan membuat terbit air liur. Misalnya wangi telor dadar. Itu nyangluh. Wangi kelapa yang dibakar itu juga nyangluh.

6/. APEK.

Tidak berbeda dengan Bahasa Indonesia, bau yang timbul dari sesuatu yang lembab dan kemudian terkontaminasi bakteri disebut dengan Apek.

Contohnya bau pakaian yang menumpuk dan belum dicuci. Bau handuk yang tidak kering akibat hujan berhari hari. Itu apek.

7/. MASEM.

Masem dalam Bahasa Bali artinya Asem. Bau asem. Merujuk pada bau cuka, bau jeruk dan sebagainya yang juga berkaitan dengan rasa di lidah.

Tetapi kata Masem tidak hanya terbatas pada bau yang berkaitan dengan benda benda yang berasa asem di lidah. Juga bisa merujuk pada bau keringat.

Contoh pemakaian dalam kalimat ” Beh, masem san bon peluhne I Ketut” artinya “Waduh, asem banget bau keringatnya Si Ketut”.

Kata “Masem” juga memiliki Superlatif. Jika orang Bsli ingin mengatakan sangat asem, maka is akan bilang “Masem Kelincung”. Artinya super duper asem.

8. MANGSIT.

Mangsit adalah kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada bau kencing. Bau amoniak. Pesing dalam Bahasa Indonesianya.

Contoh pemakaiannya dalam kalimat “Nyen ngelah mionge to nah? Mangsit san bon panyuhne”. Artinya “Siapa gerangan pemilik kucing itu?. Pesing banget bau pipisnya”.

Kata “Mangsit” juga memiliki Superlatif, yaitu “Mangsit Sengir” yang artinya pesiiiing banget.

9. NGAS.

Kata “Ngas” mengacu pada bau kambing. Sering digunakan untuk mengibaratkan bau badan yang tidak enak. Misalnya pada orang yang malas mandi. Bau keringat yang tidak enak. Baunya Ngas seperti bau kambing.

10. MANIS.

Bau manis sama artinya seperti dalam Bahasa Indonesia. Misalnya Bau Strawberry itu dianggap manis, walaupun rasa aslinya asem. Mangga yang harum seperti Pakel atau Kweni itu juga disebut manis baunya.

Superlayif untuk kata “Manis” adalah “Melenyad”. Manis Melenyad artinya manisnya kebangetan. Tetapi kata Manis Melenyad ini lebih sering dikaitkan dengan rasa ketimbang bau.

Demikianlah teman teman. Sepuluh kata bebauan dalam Bahasa Bali. Semoga tulisan ini berguna bagi yang ingin mengenal Bahasa Bali.

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali -Part II.

Standard

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya “Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Bagian II ini lebih membahas tentang ucapan Salam Umum yang tidak terikat dengan waktu ataupun sebuah kejadian, Ucapan buat sahabat atau kerabat yang sedang sakit atau kesusahan dan ucapan Bela Sungkawa jika ada sahabat atau kerabat yang meninggal dunia.

6/. Ucapan Salam saat Berjumpa

Saat berjumpa, kalimat salam pertama yang diucapkan oleh orang Bali adalah “Om Swasti Astu”. Ucapan ini adalah doa dari yang mengucapkan Salam agar orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Karena kata Om adalah seruan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Swasti artinya dalam keadaan baik, dan Astu artinya Semoga.

Om Swasti Astu = Ya Tuhan, Semoga (orang yang saya ajak bicara ini) Engkau berikan dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Ucapan Om Swasti Astu bisa dijawab dengan doa yang sama kembali, Om Swasti Astu. Bisa juga dijawab dengan Om Shanti Shanti Shanti. Shanti = damai.

Diucapkannya kata Shanti sebanyak 3 x adalah merepresentasikan doa pengucap agar kedamaian yang terjadi di 3 Strata mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Yaitu kedamaian di dalam Hati, kedamaian di Bumi dan kedamaian senantiasa di seluruh Alam Semesta.

Salam Om Swasti Astu juga umum digunakan sebagai pembuka pidato, rapat, tulisan. Dan sebagai penutup dari pidato, rapat ataupun tulisan juga diakhiri dengan Om Shanti Shanti Shanti.

Salam ini tidak mengenal waktu. Berlaku untuk kapan saja.

7/. Ucapan Buat Yang Sakit atau yang kena musibah.

Saat mendengar sahabat atau kerabat yang sakit, tentu saja yang kita ucapkan bukanlah selamat tetapi doa agar yang bersangkutan diberi kesembuhan. Jadi ucapannya adalah “Dumogi gelis kenak”. Semoga lekas sembuh. Atau “Dumogi gelis waras” Semoga lekas sehat.

Dan doa yang paling umum diucapkan adalah “Om Sarwa Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Lara Roga, Winasa ya Namah “. artinya “Ya Tuhan, kami mohon agar segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau binasakan ya Tuhan”.

Tetapi jika kita ingin mendoakan si sakit dalam bahasa atau agama/kepercayaan masing-masing juga tidak masalah. umumnya masyarakat Bali sangat terbuka untuk menerima doa orang lain sepanjang niatnya baik. Jadi tidak ada doa baik yang haram hukumnya, walaupun itu diucapkan oleh orang berbangsa/bersuku/beragama lain ataupun dalam bahasa/ agama lain. Sama saja.

Jika kita mendengar ada berita tentang sahabat atau kerabat yang mengalami musibah lain yang tidak terkait dengan kesehatan tubuh i.e kehilangan, kecurian dsb maka ucapan kita adalah “Dumogi polih kerahayuan”

8/. Ucapan Bela Sungkawa.

Orang Bali mengucapkan kalimat “Dumogi amor ring Acintya” saat mendengar teman atau kerabat meninggal dunia. Yang artinya “Semoga bisa menyatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa”.

Atau mengucapkan doa “Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu. Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha” yang artinya ” Ya Tuhan, semoga atna yang menunggal mencapai surga, lalu menyatu denganMu, mencapai keheningan tanpa suka duka. Ampunilah ia, semoga segalanya disempurnakan atas kemahakuasaanMu.

Ini berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap mahluk hidup memiliki Atma (roh) yang merupakan percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa (Paramatma).

Atma ini terlahir ke dunia (dan mungkin berkali kali) untuk membersihkan perbuatan perbuatan buruknya hingga kembali benar-benar bersih dan mampu menyatu kembali denganNYA dan tak perlu dilahirkan kembali lagi.

Ketika mahluk hidup meninggal, maka Atmanya akan lepas meninggalkan tubuh kasarnya. Ia akan melalui proses pengadilan yang membuatnya ke naraka atas perbuatan buruknya atau ke surga atas perbuatan baiknya. Tapi Surga ataupun Neraka bukanlah terminal terakhir. Setelah menjalani masa “rewarding” di surga ataupun neraka, jika Atma / roh belum benar benar bersih dengan perbuatannya maka ia dikasih kesempatan untuk lahir kembali guna memperbaiki dosa dosanya itu hingga ia benar- benar bersih dan menyatu kembali dengan Tuhan. Jadi Tuhan adalah terminal terakhir. Bukan Surga.

Itulah sebabnya mengapa doanya bukan “semoga mendapat tempat di sisiNYA”, karena objectivenya adalah untuk menyatu denganNYA, bukan terpisah dan berada di tempat yang berbeda (di sisiNYA).

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Standard

Salah satu pertanyaan yang sering dialamatkan teman ke saya adalah “Selamat pagi, apa dalam Bahasa Balinya ya Bu?”. Ada juga yang bertanya, bagaimana cara mengucapkan “terimakasih” dalam Bahasa Bali. Karenanya saya tertarik untuk menuliskan di sini bagaimana cara kita menyampaikan dan membalas beberapa Salam dalam Bahasa Bali.

Salam adalah Doa.

Serupa dengan suku/bangsa lain di dunia ini, Masyarakat Bali mengucapkan salam dengan cara menyampaikan Doa untuk keselamatan dan kebaikan orang yang diajaknya berbicara. Itulah sebabnya kebanyakan Salam dimulai dengan kata Selamat.

Selamat dalam Bahasa Bali adalah “Rahayu” atau jika ditambahkan kata semoga (dumogi/dumadak) misalnya Dumogi Rahayu (Semoga Rahayu, semoga dalam keadaan baik/ selamat) , maka kata ini berubah menjadi “Rahajeng“. Dua-duanya artinya sama, yakni kondisi seseorang yang dalam keadaan baik, sehat, selamat dan aman dari gangguan apapun serta tidak dalam kekurangan apapun. Bedanya hanya dalam penggunaan.

Sehingga jika tidak merujuk pada waktu atau kejadian yang spesifik masyarakat Bali mengucapkan kata Rahajeng/ Rahayu dalam memberi Salam.

Contohnya “Rahajeng, Bli” atau “Dumogi Rahayu, Bli”. Rahajeng/ Rahayu = baik, selamat, sehat sentosa. Bli = kakak laki-laki.

Maksudnya adalah “Semoga berada dalam keadaan selamat dan baik baik saja ya Kak”.

1/. Selamat Pagi/Siang/Malam.

Pagi = Semeng. Selamat Pagi = Rahajeng Semeng.

Banyak juga yang membubuhkan akhiran “an” sehingga kata Semeng menjadi Semengan. Artinya sama saja.

Siang = Tengahi. Selamat Siang = Rahajeng Tengahi.

Malam = Wengi. Selamat Malam = Rahajeng Wengi.

Kata Rahayu tidak umum digunakan dalam konteks ini. Jadi tidak ada Rahayu Semeng atau Rahayu Wengi.

2/ Ucapan Selamat Khusus & Hari Raya.

Ulang Tahun = Wanti Warsa. Selamat Ulang Tahun = Rahajeng Wanti Warsa.

Tahun Baru = Warsa Anyar. Selamat Tahun Baru = Rahajeng Warsa Anyar.

Menyampaikan Selamat Hari Raya bisa dilakukan dengan mengucapkan kata Rahajeng Dina (Dina = Hari) lalu bubuhkan nama hari rayanya. Misalnya;

Rahajeng Dina Galungan (Selamat Hari Raya Galungan), Rahajeng Dina Kuningan, Rahajeng Dina Saraswati, Rahajeng Dina Pagerwesi dsb.

Atau bisa juga disederhanakan tanpa kata Dina. misalnya:

Rahajeng Galungan, Rahajeng Kuningan dan sebagainya.

3/. Lanjutan Salam.

Secara umum masyarakat Bali tidak berhenti dengan hanya mengucapkan Salam standard Rahajeng Semeng – Rahajeng Wengi saja, tetapi umumnya memberikan doa tambahan lagi atas ucapan salam ini (terurama jika tertulis).

misalnya “Rahajeng semeng. Dumogi sami rahayu”. (Selamat pagi. Semoga semua dalam keadaan baik).

Atau “Rahajeng Wanti Warsa Putu, dumogi setata kenak, bagya tur lantang yusa”. (Selamat Ulang Tahun Putu, semoga selalu sehat, bahagia dan panjang umur).

4/. Menjawab Salam.

Secara umum salam Rahajeng Semeng/ Wengi bisa dijawab singkat dengan mengucapkan salam yang sama “Rahajeng Semeng’/ Wengi) juga.

Tetapi jika salam yang disampaikan adalah berupa ucapan selamat misalnya, ulang tahun, atau hari Raya, maka salam bisa dijawab dengan terlebih dahulu mengucapkan terimakasih lalu dengan mengucapkan salam kembali.

Terimakasih = Matur Suksma. Atau cukup dengan “Suksma” saja.

misalnya “Suksma. Rahajeng Mewali” yang maksudnya adalah ” Terimakasih. Saya mengucapkan doa yang sama baiknya untukmu juga”.

Atau bisa juga menjawab “Suksma. Dumogi rahayu sareng sami”. Artinya “Terimakasih. Semoga semua orang dalam keadaan baik”.

5/. Membalas berita bahagia.

Terkadang kita mendengar informasi/berita dari teman/kerabat tentang rencana pernikahan anaknya, atau akan menyelenggarakan upacara di rumahnya atau di kampungnya. Bagaimana cara kita mengucapkan selamat?. Cara nembalasnya adalah dengan mengucapkan doa agar pelaksanaan acaranya sukses.

Dumogi memargi antar” (semoga berjalan dengan baik tanpa rintangan).

“Dumogi labda karya” Semoga pekerjaannya berhasil.

“Dumogi labda karya sida sidaning don” Semoga pekerjaannya berhasil sesukses suksesnya.

Atau jika ingin mendoakan pengantin

Dumogi langgeng ngantos riwekasan”. Semoga langgeng hingga ke depannya terus.

Warna-Warni Dalam Bahasa Bali.

Standard

Gara gara seorang teman berkomentar pada sebuah post di timeline facebook, saya jadi kepikiran untuk mengajak teman-teman pembaca untuk bersama-sama mengenal warna-warni dalam Bahasa Bali. Dan sekaligus mengenal bagaimana masyarakat Bali memandang warna.

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, warna memegang peranan yang sangat penting, bukan saja dalam kaitannya dengan seni, misalnya warna warni pada lukisan, pakaian, namun juga pada warna warni makanan dan sebagainya.

Bahkan warna warni juga erat hubungannya dengan konsep keTuhanan, misalnya diterapkan dalam konsep Dewata Nawa Sanga, di mana Tuhan Yang Maha Esa diberikan nama tertentu sesuai dengan peranan Beliau, lokasi dalam mandala/ arah mata angin dan diberi kode warna tertentu juga.

Untuk diketahui, Warna dalam Bahasa Balinya sama saja dengan Bahasa Indonesia, yaitu “Warna” juga (dibaca “warne” . A dibaca e seperti membaca e dlm kata “dengan”). Tetapi apa saja jenis warna yang ada dalam perbendaharaan Bahasa Bali? Yuk kita simak bersama.

1/. Hitam.

Ireng, Cemeng (halus). Selem (standard). Badeng (kasar).

Contoh pemakaiannya; Tebu Ireng = tebu hitam/ tebu guak. Miana Cemeng = Miana hitam. Kayu Selem = kayu hitam. Kulitne badeng senged = kulitnya hitam legam.

Masyarakat Bali menempatkan warna hitam di utara. Dan hitam juga merupakan lambang Tuhan yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pemelihara (Wisnu)

2/. Biru.
Nila (halus). Pelung ( standard). Beru (standard).

Warna Biru ditempatkan di Timur Laut. Merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pencipta Kebahagiaan (Shambu).

3/. Putih.

Petak ( halus). Putih (standard).

Untune petak sekadi gamet = giginya putih seperti kapas.

Warna Putih ditempatkan di Timur. Juga merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penguasa Dunia (Iswara).

4/. Pink

Dadu (Halus/ Standard).

Warna Pink di tempatkan di Tenggara. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Besar (Maheswara).

5/. Merah.

Bang (halus). Barak (standard).

Contoh pemakaian:

Mesumpang nganggen Pucuk Bang = menghias rambut/telinga dengan menggunakan bunga kembang sepatu merah.

Warna merah ditempatkan di selatan. Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Sang Maha Pencipta (Brahma).

6/. Orange.

Kudrang (halus). Jingga (standard). Nasak Gedang (standard).

Warna Orange diletakkan di Barat Daya. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penghancur Kejahatan (Rudra).

7/. Kuning.

Jenar (halus). Kuning ( standard).

Kuning ditempatkan di Barat. Merupakan lambang Tuhan dalam fungsinya sebagai Sang Penguasa Tertinggi Alam Semesta (Mahadewa).

8/. Hijau

Wilis. Gadang. Ijo (standard).

Hijau ditempatkan di Barat Laut. Meruoakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penjaga Keharmonisan (Shangkara).

9/. Ungu.

Tangi (Halus/Standard).

10/. Coklat

Gading.

Contoh pemakaiannya :

– Bokne gading (rambutnya coklat/pirang).

– Kepundunge nasak gading (buah kepundung/menteng matang dan coklat muda).

– Nyuh Gading= kelapa ukuran kecil yang berwarna merah kecoklatan.

11. Abu.

Kelawu.

Itu adalah warna warna umum. Bagaimana jika kita ingin mengatakan ” ke….an”?. Misalnya nih… kecoklatan (brownish) kebiruan (bluish), kekuningan (yellowish)?. Dalam bahasa Bali, kecoklatan disebut dengan “lumlum gading”. Keputihan = lumlum petak. Jadi untuk mengatakan sesuatu yang ke+warna+an, cukup tambahkan kata “lumlum” di depan kata warna (lumlum+warna).

Cara lainnya adalah menambahkan kata “mesawang” di depan kata warna. Mesawang arti aslinya adalah terlihat/tampak. Contoh, “warnan ambarane pelung mesawang barak” artinya, warnanya langit biru agak kemerahan.

Selain itu ada istilah lain lagi yang berkaitan dengan warna.

1. Tri Kona = Tiga Warna = hitam, merah , kuning.

2. Panca Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Kuning.

3. Sanga Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Ungu, Kuning, Jingga, Pink, Hijau.

4. Berumbun = Warna campur-campur.

Nah…demikianlah kurang lebih bahasa Bali untuk mengatakan berbagai jenis Warna.

Bumbu Dapur Dalam Bahasa Bali.

Standard

Setelah sebelumnya saya menulis tentang bahasa balinya wajah dan bagian-bagiannya, kali ini saya ingin mengajak teman pembaca untuk menengok dapur orang Bali dan mengenal bumbu dapur dalam Bahasa Bali.

Dapur dalam bahasa Bali disebut dengan “Paon”. Atau dalam bahasa halusnya disebut dengan kata “Pewaregan“. Dan Bumbu Dapur disebut dengan “Basa-basa” -dibaca Base base – dengan huruf a dibelakang kata dibaca sebagai “e ” seperti huruf e dalam kata “dengan” di bahasa Indonesia.

Oke!. Sekarang kita langsung mengenali apa saja yang ada di dalam nampan Basa -basa ya.

1/. Cabe = tabya.

2/. Garam = uyah (kasar), tasik (halus).

3/. Bawang merah = bawang.

4/. Bawang putih = suna / kesuna.

5/. Jahe = jae.

6/. Lengkuas = isen.

7/. Kencur = cekuh.

8/. Kunyit = kunyit.

9/. Asem = lunak.

10/. Merica = mica.

11/. Ketumbar = ketumbah.

12/. Lada = tabya bun.

13/. Pala = pala.

14/. Terasi = sera

15/. Pekak = Bungan lawang.

16/. Kecombrang = Kecicang.

17/. Kapulaga = kapulaga.

18/. Temu Kunci = kunci/ bekunci.

19/. Daun Salam = janggar ulam.

20/. Jeruk Limau = lemo.

21/. Jeruk nipis = juuk lengis.

22/. Gula Pasir = gula pasir.

23/. Gula Merah = gula barak/ gula ntal/gula Bali.

24/. Kecap = kecap (tidak umum dalam masakan traditional Bali, tetapi untuk masakan kontemporer, terkadang disediakan kecap di dapur).

25/. Bawang Daun = don pre.

26/. Seledri = seladri.

27/. Wijen = lenga.

28/. Pandan Wangi = pandanarum.

29/. Daun Suji = don kayu sugih.

30/. Kemangi = kecarum.

31/. Selasih = sulasih.

32/. Kemiri = tingkih.

33/. Sereh = serai.

34/. Keluwek = pangi.

35/. Kelapa = nyuh.

36/. Minyak kelapa = lengis nyuh.

37/. Tomat = tomat.

38/. Belimbing buluh = belimbing wuluh.

Demikian kurang lebih jenis basa basa yang mungkin ada di dapur orang Bali.

Wajah Dan Bagian-bagiannya Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sejak tinggal di rantau, praktis penggunaan Bahasa Daerah saya berkurang frekwensinya. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari hari. Karenanya, saya jadi kangen berbahasa Bali.

Mungkin ada teman pembaca yang ingin ikut berbahasa Bali bersama saya?.

Kali ini saya mengambil topik tentang Wajah. Apa sih bahasa Balinya wajah? Dan bagaimana kita mengatakannya? Serta apa bahasa Bali bagian dari wajah seperti hidung, bibir, mulut dan sebagainya.

Sebelum masuk ke topik wajah, sedikit saya jelaskan dulu kalau dalam bahasa Bali, umumnya kita memiliki minimal 2 (terkadang 3, 4 atau 5) tingkatan bahasa berdasarkan kasar halusnya (sor -singgih).

Bahasa Sangat Kasar -untuk binatang/memaki.

Bahasa Kasar – bahasa gaul untuk teman/ adik.

Bahasa Halus – bahasa untuk orang yang kira tuakan/ hormati.

Bahasa Sangat Halus – untuk hal hal niskala dan spiritual.

Nah… dalam hal ini secara umum saya akan membahas bahasa kasar dan halusnya saja.

Wajah.

Wajah dalam bahasa Bali biasa disebut dengan Mua, Prerai.

Kasar = Mua (kata benda), Goba (kata keadaan – terkadang dipakai dalam kalinat teguran/marah)

Halus = Prerai.

Contoh penggunaan sebagai berikut:

Muane I Luh jegeg cara bulan. Wajahnya I Luh cantik bagaikan bulan.

Goban nyaine, judes sajaan!. Mukamu (perempuan), judes sekali.

Tiyang seneng nyingakin Prerain Ida. Saya senang mรจlihat wajahnya (orang yang saya hormati i.e ayah, ibu dsb).

Hidung.

Kasar = Cunguh.

Halus = Irung.

Mata

Kasar = Mata

Halus = Penyingakan.

Sangat Halus = Pengaksian, Soca.

Catatan: Soca juga sering digunakan untuk mata cincin dalam bahasa Bali sehari-hari. Socan bungkung = mata cincin.

Alis

Kasar = Alis

Halus = Rarik, Wimba.

Jidat

Kasar = Gidat

Halus = Lelata.

Mulut

Kasar sekali = Bungut.

Halus = Cangkem.

Bibir

Kasar = bibih.

Halus = Lambe.

Dagu

Kasar = Jagut, Cadik

Halus = Lelentek

Pipi

Kasar = pipi

Halus = pengarasan

Bulu mata

Kasar = bulun peningalan.

Halus = bulun penyingakan, ringring

Telinga

Kasar = Kuping.

Halus = Karna.

Leher

Kasar = Baong.

Halus = Kanta.

Janggut

Kasar = Jenggot.

Halus = Cerawis.

Rambut.

Kasar = Bok

Halus = Rambut.

Gigi

Kasar = Gigi

Halus = Untu

Lidah

Kasar = Layah

Halus = Ilat, Lati

Gusi

Kasar= Isit

Halus = Isit