Tag Archives: Bahasa

Siang dan Malam Dalam Bahasa Bali.

Standard

“Apa Bahasa Balinya Siang?” Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan kepada saya oleh beberapa orang teman. Ini membuat saya jadi tergelitik untuk menulis.

Bali mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan waktu. Saya mencoba menceritakannya mulai dari yang paling umum dulu ya.

DINA & WAI.

Hari dalam Bahasa Bali umum disebut dengan kata Dina. Jadi satu hari disebut dengan A Dina. A = satu. A dina, duang dina, telung dina, pitung dina dst (1 hari, 2 hari, 3 hari, 7 hari dst). Kata Dina juga umum disebutkan di depan nama-nama hari. Misalnya Dina Redite (hari Minggu), Dina Wraspati (hari Kamis), dsb.

Nama lain dari Dina adalah Rai. Atau umum diucapkan sebagai Wai. Kata Rai ini sesungguhnya berasal dari kata Rawi yang artinya Matahari. Dimana yang dimaksud dengan kata A Rai atau 1 Rai adalah waktu yang ditempuh sejak matahari (sang Rawi) pertama kali terbit di ufuk timur, hingga kembali terbit lagi di ufuk timur. Jadi jika menyebut satuan hari, yaitu A Wai, duang wai, tigang wai.

KEMARIN DAN BESOK.

Bagaimana mengatakan kemarin dan besok dalam Bahasa Bali?.

Ibi adalah kata yang umum digunakan untuk mengatakan kemarin. Kata lain dari Ibi adalah Dibi yang asal katanya dari Di + Ibi = Dibi (saat kemarin).

Sedangkan untuk mengatakan besok , orang umum mengatakan “Buin Mani”. Dua hari lagi / lusa = Buin Puan. Tiga hari lagi = Buin Telung Dina. Empat Hari lagi = Buin Petang Dini. Dan seterusnya.

Jika ingin menyampaikan dalam Bahasa halus, maka Besok = Benjang. Lusa = Malih Kalih Raina. Tiga hari lagi = Malih Tigang Raina.

LEMAH PETENG.

Siang – Malam di dalam Bahasa Bali disebut dengan Lemah – Peteng.

Lemah itu mengacu pada saat hari terang, sejak matahari terbit hingga terbenam. Sekitar jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Sedangkan Peteng itu mengacu pada saat hari gelap. Sejak matahari terbenam hingga terbit lagi. Sekitar jam 6 sore hingga jam 6 pagi esoknya. Disebut Peteng karena saat itu gelap. Peteng Dedet = Gelap Gulita.

Peteng sering juga disebut Lemeng. Sehingga jika menyebutkan satu malam, menjadi a lemeng. Kata a lemeng lebih umum ketimbang a peteng.

Kata halus dari Peteng adalah Ratri.

PAGI SORE

Di dalam satu hari kita tentunya mengenal pagi, siang, sore dan malam. Bagaimana mengatakannya dalam Bahasa Bali?.

Pagi disebut dengan Semeng dalam Bahasa Bali. Dan sering diimbuhi dengan -an untuk mengatakan keadaan, sehingga menjadi Semengan. Kata Semengan itu kira-kira mengacu dari sekitar jam 5 pagi hingga sekitar jam 9 pagi. Rahajeng Semeng adalah ucapN yang umum digunakan yang setara dengan Selamat Pagi.

Siang disebut dengan Tengai. Berasal dari kata Tengah Ai yang artinya Tengah Hari ( Ai/Rahi = Hari). Kata Tengai mengacu dari sekitar 10 pagi hingga pkl 3 sore. Tepat jam 12.00 siang disebut dengan Tengai Tepet.

Sore disebut dengan Sanja. Mengacu dari sekitar 4 sore hingga pukul 6 sore. Antara pukul 5-6 sore disebut dengan Sandya Kala yang artinya “persendian waktu) yakni pertemuan antara siang dan malam. Atau kadang juga disebut dengan “Saru Mua”, yang artinya saat dimana kita sulit mengenali wajah seseorang jika tanpa bantuan cahaya yang baik.

Malam disebut dengan Peteng, Lemeng atau Wengi. Mengacu mulai saat matahari terbenam atau pukul 7 malam – 4 pagi. Tepat pukul 12 00 disebut dengan Tengah Lemeng.

Dini Hari disebut dengan Das Lemah, mengacu sekitar pukul 4 -5 pagi saat binatang binatang terbangun dan memberi penanda pagi seperti misalnya Ayam Berkokok.

Nama Buah- Buahan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Seorang teman pernah bercerita “Diantara semua buah-buahan, aku ya paling doyan sama Gedang“.

Tampa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa teman saya itu sangat suka makan buah Pepaya. Penyebabnya karena template berpikir saya adalah Bahasa Bali. Dalam Bahasa Bali, Gedang adalah Pepaya. Begitu mendengar kata “Gedang”, otomatis yang muncul di kepala saya adalah gambar Pepaya.

Sementara yang dimaksudkan dengan Gedang oleh teman saya adalah “Pisang”. Karena Gedang dalsm Bahasa Jawa artinya Pisang .

Hingga akhir percakapan, barulah saya ngeh jika teman saya itu sedang membicarakan buah pisang ūüėÄūüėÄūüėÄ. Oh…indahnya Indonesia!! Bhineka Tunggal Ika.

Itu adalah salah satu contoh kejadian yang membuat saya tertarik untuk mendengarkan nama nama buah, sayuran, bumbu dan lain lainnya dalam berbagai Bahasa daerah di Indonesia.

Karena Bahasa Ibu saya adalah Bahasa Bali, maka saya akan sharing apa nama buah- buahan ini dalam Bahasa Bali

1/. Pisang = Biyu.

2/. Pepaya = Gedang.

3/. Jeruk = Juwuk.

4/. Jeruk Bali = Jerungka.

5/. Jeruk Keprok = Sumaga.

6/. Semangka = Sumangka.

7/. Apel = Apel.

8/. Melon = Melon.

9/. Duku = Ceroring

10/. Langsat = Langsep.

11/. Menteng = Kepundung

12/. Kecapi /Sentul = Sentul

13/. Salak = Salak.

14/ . Gowok = Kaliasem

15/. Kiwi = Kiwi

16/. Anggur = Anggur.

17/. Markisa = Anggur Bali.

18/. Kemang = Wani.

19/. Mangga = Poh

20/. Bacang/Ambacang = Pakel.

21/. Manggis = Manggis.

22/. Sawo = Sabo.

23/. Sawo Kecik = Sawi Kecik.

24/. Leci = Leci.

25/. Kelengkeng = Kelengjeng.

26/. Rambutan = Buluan.

27/. Durian = Duren.

28/. Nangka = Nangka.

29/. Timbul = Timbul.

30/. Terap = Teep.

31/. Sukun = Sukun.

32/ . Delima = Delima.

33/. Alpukat = Apokat.

34/. Belimbing = Belimbing.

35/. Nenas = Manas.

36/. Jambu = Nyambu.

37/. Jambu Biji = Sotong.

38/. Sirsak = Silik.

39/. Srikaya/Nona = Silik Badung.

40/. Bidara = Bekul.

41/. Kelapa = Nyuh.

42/. Kelapa Muda / Degan = Kuwud.

43/. Buah Naga = Buah Naga.

44/. Kepel = Kepel.

45/. Labu = Tabu.

46/. Labu Siam = Jepang.

47/. Buni = Boni.

48/. Jamblang /Duwet = Juwet

49/. Kweni = Poh Eni.

50/. Buah Kersen = Buah Singapur.

51/. Mundu = Mundu.

52/. Katulampa = Katilampa.

53/. Ara = Aa.

54/. Pear = Pir.

55/. Timun = Timun

Ada beberapa buah yang tidak umum/ tidak pernah saya lihat ada di Bali, misalnya Kesemek, Cempedak. Jadi saya tidak tahu apa Bahasa Balinya. Barangkali memang tidak ada.

Gaya Kita Berbahasa.

Standard

pink-lotusSaya dan suami serta anak-anak sedang dalam perjalanan pulang sehabis membeli beberapa keperluan rumah.  Di jalan suami saya bercerita bahwa ada seorang temannya yang tinggal di luar kota akan ke Jakarta malam ini. Mereka rupanya sedang terlibat pembicaraan lewat sms. Suami saya menawarkan temannya itu agar menginap di rumah kami saja. Karena sedang menyetir, suami saya meminta tolong saya membalaskan smsnya. Ia yang menentukan isinya. Saya hanya mengetikkan kalimatnya. Sebelum dikirim, saya bacakan dulu kalimatnya, guna memastikan apakah redaksionalnya sudah /belum sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh suami saya. Kalau suami saya setuju, maka segera saya kirim. Jika  belum cocok, segera saya perbaiki dan bacakan ulang kembali.

Saat membacakan itu, anak saya yang kecil yang sedari tadi diam ikut menyimak pembicaraan kami tiba-tiba nyeletuk ” Ma, kayanya teman Papa pasti tahu kalau yang membalas sms itu bukan Papa deh. Karena gayanya lain kalau Mama yang menulis” kata anak saya. Oohh!?. “Mengapa begitu?” Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. ” Kalau Mama yang menulis pasti gayanya panjang-panjang” katanya. O ya? Memang begitu ya? Saya takjub karena ternyata anak saya mengamati ¬†gaya menulis saya. Ia juga bisa membedakannya dengan gaya menulis papanya yang menurutnya sangat beda. Pendek-pendek, singkat, padat dan jelas. “Apa? Siapa? Di mana? Ke mana? Kapan?“.

Loh? Memang tulisan Mama sering tidak jelas ya?” tanya saya khawatir. “Bukan tidak jelas, Ma. Malah sangat jelas. Terlalu jelas. Selain ada apa, siapa, kapan dan di mana, pasti selalu pakai tambahan penjelasan dan pendapat. Kenapa begini? Mengapa begitu? Karena begini… Yang ini aja, soalnya begini, ¬†masalahnya begitu. Bagaimana? Oo.. begini aja ya caranya, biar nantinya begini hasilnya…” anak saya nyerocos terus dan membahas dengan panjang lebar kebiasaan saya menulis. Ha ha..saya tertawa.

Juga kalau marahin. Sama juga. Papa pasti marahinnya singkat, padat dan jelas. Kalau Mama biasanya tidak marah. Tapi ngasih tauin, tidak boleh begini begitu, dengan penjelasan kenapa dan mengapa lalu bagaimana, nye nye nye nye…” kata anak saya memberi indikasi kalau saya cerewet.¬† Dan ujung-ujungnya kembali ke pointnya dia tadi, bahwa teman papanya itu pasti bisa merasakan bahwa yang membalaskan sms itu tadi pasti orang lain dan bukan papanya sendiri. Karena menurutnya gaya bahasa kami sangat obvious memang berbeda.

Ketika saya tanyakan gaya bahasa mana yang lebih ia sukai, anak saya mengatakan tidak menyukai dua-duanya. Ia menyukai gaya bahasanya sendiri yang pas. Tahu kapan perlu singkat , kapan perlu panjang. Menurutnya pesan papanya terlalu singkat, sehingga membuat orang harus bertanya lagi ¬†jika butuh penjelasan tambahan. Sedangkan saya, ia merasa kepanjangan “Kadang-kadang kan sudah tau reasonnya. Nggak perlu dijelasin lagi lah“. Saya hanya tertawa dan tidak berkomentar lagi. ¬†Barangkali memang ada benarnya penilaian anak saya itu.

Anak saya yang besar membela saya dengan mengatakan betapa pentingnya melibatkan 5W+ 1 H (What, Who/Whom, Why, Where,  When + How) dalam setiap penjelasan. Semuanya menjadi jauh lebih jelas dan mudah dimengerti. Lalu seperti biasa kedua anak saya pun larut dalam perdebatan panjang mempertahankan pendapatnya masing-masing dan dengan gaya bahasanya masing-masing.

Seringkali kita tidak menyadari jika gaya bahasa kita ternyata unik dan berbeda dengan orang lain. Terbentuk oleh kebiasaan sehari-hari. Bermula dari cara kita bertanya atau menjawab sebuah pertanyaan orang lain, lalu berikutnya kita kembali menjawab dengan gaya yang sama,  yang akhirnya lama-lama menjadi sebuah kebiasaan yang bisa diingat oleh orang lain yang berinteraksi dengan kita sehari-hari. Demikian juga dengan saya. Barangkali karena waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru, saya memiliki kesenangan menjelaskan segala sesuatu dengan detail kepada orang lain. Terutama kepada anak-anak saya. Karena saya ingin anak-anak saya memahami akar setiap permasalahan yang ada, dan mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan utuh dari sebuah kejadian dan bukan hanya sepotong-sepotong atau hanya sebatas di permukaannya saja. Dengan demikian,harapan saya kelak ia akan bisa mengambil keputusan yang tepat dan adil sesuai dengan konteks-nya dan bersikap lebih bijaksana dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada.

Tetapi hari ini saya mendapatkan masukan yang sangat menarik dari anak saya tentang gaya bahasa itu yang ternyata bisa juga jadi membosankan karena kepanjangan dan sering diulang-ulang. Hmmm…menarik juga!. Barangkali saya perlu memikirkan ulang bagaimana sebaiknya saya menanggapi masukan dari anak saya dan melihat kemungkinan cara memperbaiki diri saya.

Bagaimanapun gaya bahasa kita, mau itu pendek, panjang, halus, kasar, sinis, sopan, jelas, tidak jelas, terstruktur, amburadul, ketus, ragu, dan sebagainya, akan ditangkap orang lain dan disimpan dalam memorinya.

Jadi sebaiknya memang kita perlu membentuk kebiasaan berbahasa yang baik untuk diri kita sendiri dan nyaman bagi orang lain.

 

Ngemasin Mati! Sebuah Ekspresi Kejujuran Dan Pengorbanan.

Standard

Gelang emas¬†“Ngemasin mati!” Ungkapan itu ¬†baru saya dengar kembali setelah bertahun-tahun tak pernah terlintas di kepala saya. Saat itu saya sedang bernaung dari teriknya matahari di atas desa Trunyan di tepi Danau Batur. Saya duduk di sebuah bale-bale bambu. Saat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang berasal dari dusun Pedahan ¬†yang duduk di sebelah saya, sebuah pengumuman terdengar kencang dalam bahasa Bali yang mengatakan bahwa ” Seorang anak telah menghilangkan sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk ¬†hati (biasanya terlepas kaitannya dan jatuh). Barangsiapa yang menemukannya, harap segera mengembalikannya ke pos desa (tentunya untuk dikembalikan lagi kepada si anak yang menghilangkannya itu)“.

Awalnya saya hanya mendengarkan pengumuman itu sepintas lalu saja. Kalung atau gelang emas jatuh adalah hal yang biasa. Karena anak-anak selalu bermain dan tak jarang berlari-lari sehingga mungkin saja pengaitnya lepas dan akhirnya jatuh tanpa sepengetahuannya.  Terjadi juga pada saya saat kanak-kanak. Tapi biasanya tak lama kemudian seseorang akan menemukannya dan mengembalikannya. Jadi, kehilangan perhiasan rasanya bukan perkara besar.

Ibu Pedahan yang duduk di dekat saya itu bergumam. “Kalau ada yang menemukan, harus segera mengembalikan. Jika tidak tentu akan ngemasin mati’ katanya dalam bahasa Bali versi Pedahan yang terdengar sangat njelimet di telinga saya. Tapi kurang lebih saya mengertilah maksudnya.

Hmm.. Ngemasin Mati!

Entah sudah berapa tahun saya tidak pernah mendengar istilah “Ngemasin Mati” itu. barangkali sejak saya tinggal di Jakarta. Tapi ya itu memang¬† bener! Itulah kepercayaan masyarakat di Bali, bahwa jika seseorang menemukan emas dan tidak mengembalikannya kepada yang berhak, maka orang itu akan terkutuk oleh emas itu sendiri dan membayarnya dengan kematian.

Ngemasin mati” merupakan istilah yang umum diucapkan di Bali, untuk mengatakan keberanian seseorang melakukan sebuah perbuatan yang beresiko kematian, alias mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang sebenarnya tidak layak dilakukan. Die for crime!.¬† Mati gara-gara emas!.¬† Kepercayaan itu sedemikian kuat, sehingga tentunya tidak ada orang yang mau menukar nyawanya yang sangat berharga hanya demi sepotong perhiasan emas yang ¬†walaupun mahal tentu harganya sangat tidak sepadan dengan harga nyawanya sendiri. Jadi, ketika seseorang sangat apes menemukan emas milik orang lain, tentu ia akan berusaha secepatnya menyerahkannya kepada pihak yang berwenang agar segera dikembalikan lagi kepada pemiliknya, sebelum mala petaka datang menghampirinya. ¬†Atau jika ia malas untuk repot-repot, maka emas itu hanya akan dilewatinya saja tanpa berani disentuh, agar ia terbebas dari resiko harus repot berurusan dengan petugas adat setempat dan mencari-cari siapa gerangan pemiliknya.

Jadi kalau kita lihat dari asal muasal istilah “Ngemasin Mati” ini, (ngemasin =nge+emas+in mati), sangat erat kaitannya dengan cara para tetua jaman dulu mendidik anak-anaknya agar berlaku jujur. Tidak mengambil hak orang lain yang memang bukan haknya. Pantang!.

Kemudian istilah ngemasin mati inipun ¬†terkadang diaplikasikan kepada hal lain yang serupa,namun diluar “menemukan emas”.¬† Misalnya ” Eda bes wanen ngungkabang keropak kerise nto, nyanan bisa ngemasin mati” ¬†maksudnya, “Jangan pernah berani membuka peti tempat keris itu, takutnya malah beresiko kematianmu”. Inti pesannya adalah jangan pernah melakukan perbuatan tertentu yang sebaiknya jangan kau lakukan (perbuatan yang dianggap negative/merusak), karena beresiko bahaya sangat tinggi. Entah itu membuka peti benda pusaka, memasuki rumah orang lain tanpa ijin, dan lain-lain.

Berikutnya istilah ini diaplikasikan juga untuk¬† perbuatan “mempertaruhkan nyawa” lain, yang tidak terbatas hanya pada perbuatan negative saja (menemukan emas yang bukan miliknya, namun tak mau mengembalikannya), namun juga termasuk perbuatan positive. Contohnya pada¬† kalimat “Memen ceninge nak kanti ngemasin mati dugus ngelekadang pianakne, sangkala jani sing dadi cening bani buin degag teken I meme“.Maksudnya, “Ibumu sampai mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan dirimu, oleh karenanya janganlah berani-berani dan durhaka ¬†kepada ¬†Ibu“. Tentu saja dalam hal ini istilah “ngemasin mati” konteksnya sangat positive. Pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Karena pada jaman dulu, mengandung dan melahirkan anak, adalah sebuah upaya yang memang beresiko kematian bagi sang ibu – terutama barangkali pada jaman dahulu ilmu kedokteran dan kebidanan belum secanggih sekarang.

Hal positive lain misalnya ditunjukkan dalam phrase “ Eda adi sangsaya teken tresnan Bline kaping adi. Trenan Bline nak mula sujati. Bli tusing takut ngemasin mati” ¬†maksudnya “ Janganlah dinda meragukan cintaku terhadap dinda. Cintaku sungguh murni. Dan aku tidak khawatir jika harus mengorbankan nyawa karenanya”. ¬†Nah itu adalah upaya sungguh -sungguh sang pria untuk membujuk gadis pujaan hatinya. Ia bahkan tidak takut berkorban nyawa demi cintanya. ¬†Dalam hal ini masyarakat tidak memandang ungkapan “ngemasin mati’ ini sebagai perbuatan negative. Malah positive. Pengorbanan seorang lelaki demi cinta! Sangat diapresiasi.

Jadi, setelah saya pikir-pikir kembali, ungkapan “Ngemasin Mati” ini sesungguhnya memiliki makna tentang kejujuran, yang berikutnya juga berkembang dalam makna tentang kesungguhan hati dan pengorbanan. ¬†Senang mengingat istilah ini kembali.

Yuk, kita cintai Bahasa daerah kita !

Bahasaku, Bahasa Indonesia Yang Dinamis.

Standard

BenderakuTergelitik oleh tulisan beberapa orang sahabat tentang Bahasa Indonesia dan bagaimana sebaiknya kita melestarikannya, serta mengingat bahwa kemarin tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda – saya juga tertarik untuk ikut bercerita dan sekalian menuangkan pemikiran saya tentang Bahasa kita tercinta itu.

Bahasa Daerah.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu saya sangat mencintai Indonesia, tanah air saya. Termasuk di dalamnya Bahasa Indonesia. Walaupun terus terang, Bahasa Indonesia adalah Bahasa kedua yang saya kuasai setelah bahasa Bali. Itu terjadi karena keluarga saya menggunakan Bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari, sedangkan di sekolah, Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar.

Dalam Bahasa Bali pun saya harus menguasai dua jenis sub bahasa.  Pertama adalah Bahasa Bali selatan yang dikenal sebagai Bahasa Bali biasa adalah bahasa umum yang digunakan oleh keluarga ibu saya. Dan kedua adalah Bahasa Songan,  adalah Bahasa yang umum digunakan oleh keluarga Bapak saya. Mengapa dua bahasa ini saya pisahkan? Karena walaupun serupa, Bahasa Songan hanya dituturkan oleh orang-orang dari desa Songan dan di sekitar tepi danau Batur, yang umumnya dikenal dengan nama Orang Bali Mula (penduduk asli di Bali sebelum jaman Majapahit). Memiliki sekitar 30-40% kosa kata yang sama sekali berbeda dengan Bahasa Bali.  Saya sebutkan beberapa contoh kata dalam Bahasa Songan yang tidak ada dalam bahasa Bali biasa,misalnya : anih = aduh; jitnika=cemburu; pancek=bodoh, panci=bagus; lajana = rupanya, nyerowadi= meniru dialek orang lain; seleh = habis-habisan; memanjang= menangis meraung-raung dengan irama, muun= jorok, kurang menjaga kebersihan, dan lain-lain masih banyak sekali. Saya sering bergurau dengan mengatakan bahwa saya bisa membuat sebuah kamus Bahasa Songan tersendiri saking banyaknya yang berbeda.

Sisanya sekitar 60-70% sama namun diucapkan dengan dialek yang sama sekali berbeda. Dimana¬† bahasa Bali Selatan umumnya menggunakan akhiran e, sedangkan Bahasa Songan menggunakan akhiran a. Misalnya ketika menterjemahkan ¬†kata ‘di mana? (bahasa Indonesia)”, kita akan mengucapkan kata ‘di je?’ dalam Bahasa Bali selatan (walaupun dalam tulisan kita akan menuliskannya ‘di ja?”, sementara dalam Bahasa Songan kita akan mengucapkannya “jaa?” .¬† ¬†Walaupun serupa, tapi beda bukan? Juga ada beberapa kata yang jika dalam Bahasa Bali selatan diucapkan berakhiran e, akan diucapkan dengan akhiran i dalam Bahasa Songan. Misalnya, ‘ nyen adane? (siapa namanya?), maka jika diucapkan dalam Bahasa Songan akan menjadi ‘nyen adani?’.

Agar dapat berkomunikasi dengan baik dan akrab dengan saudara dan kerabat saya baik dari pihak Bapak maupun Ibu, saya tidak punya pilihan selain harus menguasai kedua sub bahasa Bali itu.

Bapak saya yang lama bersekolah di Jawa (baca: Semarang dan Yogyakarta) dan sangat fasih berbahasa Jawa,  terkadang mengajarkan saya beberapa kosa kata Bahasa Jawa. Sehingga secara umum saya mengerti Bahasa Jawa. Karena 90% kosa katanya ada dalam Bahasa Bali juga. Walaupun jika untuk berbicara, hingga kini saya tetap tidak pede, takut ketukar antara halus dengan kasarnya.

Bahasa Indonesia Yang Keren.

Karena Bahasa daerah sedemikian pentingnya dalam kehidupan masa kecil saya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua yang saya kuasai. Sekolah membuat saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia  dengan baik dan lancar. Karena pada saat saya kecil tidak semua orang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, maka memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik merupakan kebanggaan tersendiri.  Karena rasanya keren dan lebih modern dibandingkan dengan yang lainnya. Saya menggunakan Bahasa Indonesia hanya terbatas dengan teman-teman yang berasal dari luar Pulau Bali, atau hanya selama jam-jam pelajaran di sekolah. Tentu saja Bahasa Indonesia dengan dialek Bali yang sangat kental.  Dengan Bapak dan Ibu di rumah, saya tetap menggunakan Bahasa Bali halus. Sekali-sekali diselingi dengan Bahasa Indonesia. Sementara dengan kakak dan adik-adik saya menggunakan Bahasa Bali biasa (jabag) dengan porsi Bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak.  Semakin saya besar, penggunaan Bahasa Indonesia saya menjadi semakin banyak. Terutama sejak tinggal di Jakarta. Nyaris-nyaris saya hanya berbahasa Indonesia dalam pergaulan masyarakat. Saya mencintai Bahasa Indonesia sama banyaknya seperti saya mencintai Bahasa Bali.

Bahasa Asing.

Berasal dari daerah Kintamani yang cukup banyak dikunjungi tourist asing, mau tidak mau saya terpapar akan berbagai bahasa asing. ¬† Bapak saya yang menguasai ¬†dengan fasih beberapa bahasa asing, selalu mendorong saya untuk¬† mencoba berbahasa Inggris ¬†dengan para tourist itu – namun terus terang saya tidak begitu bisa. Yang ada di luar kepala saya waktu kecil hanya dua kalimat. “Hellow, ho aryu?” ¬†untuk menanyakan apa kabar turis yang sedang saya sapa (maksudnya ya…” Hallo, how are you?”).¬† Dan ¬†berikutnya adalah ¬†“Wer duyu kamprong?” (maksudnya “Where do you come from?”)¬† untuk menanyakan negara asal turis itu. Sisanya hanya “Yes” dan “No” saja.

Hingga masa kuliah saya praktis hanya menggunakan Bahasa Inggris secara pasif saja. Membaca buku text book, mau tidak mau karena buku-buku text book untuk Kedokteran Hewan hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Punya beberapa kawan berkebangsaan asing, namun lagi-lagi saya hanya mampu sedikit-sedikit ngobrol.  Sampai akhirnya saya bekerja di perusahaan asing. Karena tuntutan pekerjaan mau tidak mau saya harus berbahasa Inggris. Rapat dalam Bahasa Inggris, presentasi dalam Bahasa Inggris, ngomong dengan boss dan beberapa teman-teman expatriate ya berbahasa Inggris dan seterusnya.

Bahasa Indonesia yang Dinamis.

Jadi sekarang, sehari-hari  saya praktis menggunakan Bahasa Indonesia, dengan dicampur kosa kata Bahasa Inggris, Bahasa daerah dan bahasa gaul yang saya tahu Рtergantung dengan siapa saya berbicara.  Terus terang, bahasa  Indonesia yang saya gunakan tentu jauh dari bahasa Indonesia baku.  Tapi apakah itu artinya saya kurang cinta pada Bahasa Indonesia saya?  Tentu saja tidak! Saya mencintai Indonesia dan akan tetap mencintai Indonesia hingga titik darah saya yang penghabisan.

Bagi saya, berbahasa Indonesia dengan selipan bahasa asing di sana sini, bukan berarti saya bermaksud kebarat-baratan. Atau jika saya menyelipkan beberapa kata bahasa daerah, bukan berarti saya sedang membangun primordialisme. Juga jika saya memasukkan satu dua kata gaul bukan berarti saya menjadi Alay.  Menggunakan bahasa dengan ragam yang tak baku terjadi karena kita menyerap kosa kata-kosa kata baru , baik yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing serta bahasa gaul yang lebih nyaman serta relevan digunakan. Hal yang sangat umum terjadi yang menandakan bahwa bahasa itu hidup. Dan punya kehidupan.

Bahasa, seperti halnya mahluk hidup memiliki kehidupan.  Ia tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan jaman. Ia hidup ketika masyarakatnya membicarakannya, dan mati jika masyarakatnya tidak membicarakannya. Ia tumbuh dan berkembang jika terjadi dinamika di dalam kosa katanya, dan ia menjadi mandek jika tidak ada pergerakan di dalam kosa katanya. Bahasa ibaratnya pohon,  dan daun adalah kosa katanya. Jika pohon itu berkembang, tentu akan selalu ada daun baru yang tumbuh dan tak pelak tentu ada juga daun kuning yang layu dan berguguran. Semuanya silih berganti. Demikian juga  kosa kata pada bahasa yang berkembang.  Akan selalu ada kosa kata baru, dan mungkin juga ada kosa kata lama yang terlupakan dan tak digunakan lagi oleh pembicaranya. Itulah hidup.

Tengoklah  Bahasa Indonesia kita tercinta! Darimanakah ia berasal? Secara resmi dikatakan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Namun bagaimanakah ia berkembang? Tak terkira banyaknya kosa kata bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Sansekerta, bahasa Inggris, Mandarin,Portugis, Tamil, Hindi, bahasa daerah dan sebagainya di dalamnya. Itu menandakan bahwa Bahasa Indonesia berkembang dan sangat dinamis. Nah jika kita pernah terbuka dan berkembang sebelumnya, mengapa kita harus menutup diri kedepannya?  Terbukalah. Biarkanlah kosa kata- kosa kata baru masuk dan memperkaya Bahasa kita sesuai dengan kenyamanan penuturnya. Karena demikianlah ia seharusnya hidup dan dituturkan oleh penuturnya. Bahasa yang dinamis.

Karena ini bulan Oktober, biarlah saya merenungkan Bahasa Indonesia saya.  Saya menengok kembali isi Sumpah Pemuda kita yang dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 itu:

Pertama:Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
 Kedoea:Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
 Ketiga:Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihatlah! Ada pergerakan yang telah terjadi dalam ejaan kita. Itu cukup membuktikan bahwa Bahasa kita memang dinamis. Dan dengan segala kedinamisannya hingga detik ini saya tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia!

I Love You, Indonesia!

Body Bahasa Dan Budi Bahasa.

Standard

Bunga SengganiSaya sedang duduk di lobby sebuah perkantoran sambil menunggu taxi yang akan membawa saya ke bandara. Menurut keterangan operator, taxi akan sampai dalam waktu 15 menit lagi. Namun yang namanya menunggu, satu menitpun tetap saja terasa lama. Membosankan. Lalu untuk menghibur diri, akhirnya saya menyibukkan diri dengan smartphone saya. Bosan juga. Akhirnya saya melihat ke sekeliling. Di depan saya duduk seorang wanita setengah baya sedang sibuk berbicara di telpon genggamnya. Wanita itu sangat rapih dan cantik. Rambutnya diikat ekor kuda. Menggunakan three pieces dengan warna seputaran coklat tanah dan keemasan. Tampak modis dan menarik. Ia duduk menumpangkan sebelah kakinya di atas kakinya yang satu lagi. Read the rest of this entry

Pembalut Untuk Anakku.

Standard

Pembalut wanita.Teman saya mempunyai seorang anak yang tahun ajaran lalu, menginjakkan kakinya di bangku SMP untuk pertama kalinya. Tentu saja teman saya itu sangat senang dan bangga sebagai mamanya.  Ia selalu berusaha mendukung anaknya. Mempersiapkan segala keperluan dan perlengkapan sekolahnya  untuk memastikan agar  sekolah anaknya berjalan dengan lancar dan mudah. Intinya, ia sungguh seorang ibu yang baik dan sangat perhatian. Saya tahu dari  ceritanya sehari-hari.

Setelah melakukan pendaftaran kembali,¬† anaknya mendapatkan informasi bahwa pada minggu pertama, siswa baru akan menjalani¬† orientasi yang disertai dengan berbagai kegiatan outdoor. Semua siswa baru diminta untuk membawa perlengkapan yang akan digunakan dalam ¬†acara itu. ‚ÄúMama, besok aku disuruh bawa kapas dan pembalut‚ÄĚkata anaknya kepada mamanya. ¬†Begitu mendapatkan informasi keperluan anaknya itu, teman saya segera membuka lemarinya dan menyiapkan sendiri keperluan ¬†untuk anaknya. Read the rest of this entry

Bahasa Inggris Apa Bahasa Indonesia Yang Benar?

Standard

Andani - heart

Berkaitan dengan hari Valentine, banyak sekali kita lihat symbol cinta bertebaran di mana-mana. Tentu semua orang paham bahwa lambang cinta yang saya maksudkan adalah gambar  hati. Dimana-mana kita melihat lambang hati. Di wall facebook keponakan kita, di acara TV, di campaign produk remaja. Demikian juga pada barang-barang keperluan sehari-hari. Memang selalu seru membicarakan tentang cinta. Read the rest of this entry

‚ÄúW‚ÄĚ For Worm – Lost In Translation.

Standard

Suatu kali seorang teman datang berkunjung untuk pertama kalinya ke Indonesia. Saya dan teman-teman saya mengajaknya makan siang di sebuah restaurant yang saya pikir cukup representatif namun lokasinya agak jauh dari kantor.  Teman saya itu terlihat agak pendiam dan kurang menikmati makanannya. Saya pikir barangkali karena baru pertamakalinya datang ke Indonesia dan belum terlalu kenal dekat dengan kami. Atau barangkali belum familiar dengan masakan Indonesia. Atau barangkali saja memang orangnya pendiam seperti itu. Yah..wajar saja. Saat itu saya tidak terlalu memikirkannya. Read the rest of this entry