Tag Archives: Bajing Kelapa

Situ Gunung: Lutung Dan Binatang Lainnya.

Standard

Menikmati hutan, tidak akan lengkap jika tidak melihat binatang yang hidup di dalamnya.  Seperti saya ceritakan sebelumnya, tujuan awal saya sebenarnya datang ke Situ Gunung yang berada di kawasan taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini adalah untuk mengamati burung.  Namun karena burung-burung itu sulit dilihat, yang berhasil saya temukan hanya suaranya yang riuh. Perhatian sayapun jadi beralih kepada mahluk-mahluk lainnya.

Lutung (Trachypithecus auratus).

LutungPertama kali tahu mengenai keberadaan Lutung di hutan ini dari ibu tukang warung yang berada di pelataran parkir II. Ibu itu mengabarkan kepada saya bahwa sulit untuk menemui burung di sana, karena pepohonan sangat tinggi. “Tapi lutung biasanya suka turun” katanya.  Saya merasa sangat tertarik untuk melihat.  Namun si ibu tidak bisa memastikan jam berapa kedatangannya. “Biasanya sih sebentar lagi, sekitar jam delapan”  jelas si Ibu.

Kamipun turun ke danau.Benar saja, ketika sibuk mencari-cari sumber suara burung di pepohonan, suami saya memberi tahu ada sesuatu yang bergerak di kejauhan sana. Saya pun membidikkan kamera saya ke arah pohon yang ditunjuk. Ada sebuah benda berwarna hitam bergerak-gerak di pohon palm. SeekorLutung!  Bergelayutan dari satu daun ke daun yang lainnya. Di pohon yang jaraknya sekitar  100 meter dari kami. Lalu saya perhatikan ada seekor bayi lutung yang menempel di dahan pohon palem. Lalu ada lagi seekor lutung yang lain.  Wow! Bukan seekor. Tapi sekelompok Lutung!. Barangkali sekitar 15 ekor, agak sulit menghitungnya karena ia bergelayutan dan melompat ke sana ke mari.  Rupanya Lutung-Lutung ini suka hidup berkelompok.

Lutung 1Lutung (Trachypithecus auratus)  sering juga disebut dengan monyet hitam, karena mamalia ini memang berwarna hitam. Kalau kita perhatikan, sebenarnya wajahnya sedikit agak kelabu. rambut di sekitar wajahnya dan di kepalanya berdiri mirip rambut manusia. Selain warnanya yang hitam, Lutung juga mudah dikenali dari ekornya yang panjang, yang melebihi panjang tubuhnya sendiri.  Badan dan lengannya langsing, barangkali karena hobinya bergelayutan dari pohon ke pohon.  Tukang perahu mengatakan bahwa Lutung ini sangat jarang turun ke tanah. Hidupnya praktis hanya di pohon-pohon yang tinggi saja.

Makanan utamanya adalah dedaunan, buah-buahan serta bunga-bungaan. Saya memperhatikan bagaimana mereka memetik pucuk-pucuk daun damar, memegangnya dengan tangannya dan memakannya. Sangat mirip dengan cara manusia memegang makanan. beberapa lembar daun berjatuhan ke tanah. Saya berpikir daun-daun damar ini sebenarnya agak keras. Namun Lutung memiliki lambung khusus  serta gigi pengunyah yang baik, untuk membantunya mengunyah selulosa dari dedaunan.

Tingkah lakunya mirip manusia. Seperti yang tadi saya ceritakan di atas, Lutung  senang hidup berkelompok dan membentuk masyarakat. Satu kelompok terdiri atas sekitar 10-20 ekor.  Lutung-lutung ini bergelayutan, berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Kadang duduk bersama dan berdekatan di cabang yang sama sambil memandang ke arah saya. Barangkali sedang mengobrol tentang manusia. . ha ha.

Induk Lutung sangat perhatian pada anaknya. Kelihatan ia menggendong anaknya dengan erat sambil duduk di cabang pohon.  Namun tidak jarang juga induk lain ikut menggendongnya bergantian, sehingga saya tidak jelas yang mana sebenarnya induk aslinya.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus)

Tupai KekesBinatang lain yang cukup mudah di temui adalah Bajing Kelapa.  Saya menemukan beberapa ekor bajing ini sedang bermain-main di ranting pohon yang rendah.  Berlarian ke sana dan kemari dengan lucunya. Tingkah lakunya mirip di film-film kanak-kanak.

Saya tidak ada melihat pohon kelapa di sekitar situ. Namun rupanya sang bajing tidak mau berputus asa. Ibarat kata, tak ada rotan akarpun berguna, maka iapun sibuk meloncat dan menggerogoti buah palma yang merah ranum. Tidak ada kelapa, palma pun jadi.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus), walaupun namanya bajing kelapa dan makanan utamanya buah kelapa, namun sebenarnya binatang ini juga menyukai buah-buah lainnya, pucuk pohon bahkan serangga yang melintas di dekatnya.

Bajing kelapa bisa dikenali dari bulunya  yang  berwarna coklat hijau zaitun dengan campuran warna hitam.  Kepalanya agak gemuk membulat dan moncongnya agak pendek.

Tawon (Vespa sp)

tawonBinatang lain yang menarik perhatian anak saya adalah Tawon (Vespa sp). Saat melintasi sebatang pohon, anak saya yang kecil menunjuk  “Lihat, Ma! Itu ada sarang lebah” katanya.  Sayapun mendekat. Ikut mendongak ke arah ujung telunjuknya menunjuk.

Sebuah sarang tawon kertas tampak menggantung di batang pohon. Belum seberapa besar. Beberapa ekor tawon dewas tampak sedang  hinggap di sana “Ooh, itu bukan lebah. Itu namanya tawon!” kata saya.

Saya lalu memberi isyarat agar anak saya berhati-hati, sambil menjelaskan perbedaan antara lebah dengan tawon. Sama-sama menyukai madu, tapi tawon bukanlah lebah, kata saya memulai. Pinggangnya ramping dan tidak berbulu seperti lebah. Kalau menyengat malah lebih sakit daripada lebah.

Jumlah koloninya lebih sedikit dan ia tidak mengumpulkan madu di sarangnya. Rumahnya terbuat dari kertas hasil kunyahannya sendiri.

 

 

 

 

Kisah Pagi Dan Dua Ekor Bayi Bajing Kelapa.

Standard

Bayi Bajing Kelapa 1Hari libur! Pagi-pagi enaknya berjalan-jalan di sekitar perumahan. Menggerakkan kaki yang berhari hari terpaku di bawah kursi tanpa gerakan yang berarti. Ketika  melintas di gerbang depan, Satpam pintu gerbang menyapa saya dengan semangat. “Bu! Ibu!. Lihat nih Bu . Kami mendapat anak tupai” katanya. Sayapun mendekat untuk melihat. Dua ekor bayi bajing kelapa yang masih kecil tampak meringkuk di dalam sarang burung yang terbuat dari serat-serat tanaman.  Aiiiiih…. lucunya  Rasanya pengen menjawil.  Ukurannya segede bola pingpong. Warnanya coklat hijau zaitun Matanya merem tertutup, seolah-olah tak mau melihat manusia.Ia membenamkan wajahya ke dalams arang burung. Aduuh kasihanya.Tentulah  ia sangat ketakutan. Kemana ibunya ya…

Dapat darimana?” tanya saya kepada Pak Satpam.  “Jatoh, Bu. Dari pohon palem” Jelas satpam. “Itu noh, tempat ibu tadi berdiri” katanya dengan logat Betawi yang sangat kental sambil menunjuk pohon palem tinggi tak jauh dari posisi saya berdiri sekarang. Sayapun menengok. Tinggi juga jatuhnya. Untungnya kedua bayi kecil itu jatuh berikut sarangnya yang empuk, sehingga tidak cedera. “Kenapa tidak dikembalikan saja ke tempatnya?” tanya saya. Satpam menggeleng karena pohon palem itu memang terlalu tinggi untuk dipanjat. Sayapun berpikir. Lagipula jikapun berhasil diletakkan kembali  di sana setelah jatuh dan agak lama di bawah, belum tentu induknya tahu juga kalau anaknya sudah kembali ke atas.  Jika induknya tidak datang, tentu kedua bayi bajing itu bisa bertahan juga jika tidak ada yang memberi makan. Saya tidak bisa mematahkan teori itu. Bisa jadi benar.  Mereka menemukan bayi bajing itu saat pergantian jaga dengan Satpam sebelumnya. Jadi mungkin sebenarnya sudah jatuh sejak kemarin atau semalam, namun tak ada yang melihat.  Hm.. tak mungkin juga saya meminta Satpam untuk memajat pohon itu berkali-kali untuk memeriksa apakah  induknya datang atau tidak, atau untuk memberinya makanan. “Jadi?” Tanya saya.

Daripada mati, seorang dari Satpam itu akan memeliharanya. Memberinya susu dan merawat kesehatannya. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia juga pernah memelihara Bajing sejak bayi hingga besar. Demikian juga dengan anak burung Belekok. Dan binatang-binatang itu sangat jinak . “Kalaupun dilepas, akhirnya ia pulang lagi ke rumah” katanya.  Saya mengangguk-angguk dan  tak berkomentar lagi. Memang ada orang-orang yang puya kesabaran dalam memelihara binatang yang tertimpa kemalangan.

Akhirnya pagi itu diakhiri dengan ngobrol ke kiri dan ke kanan tentang Burung-Burung yang banyak berkeliaran di sekitar perumahan. Satpam mendemonstrasikan kepada saya, bagaimana cara memanggil burung agar berdatangan dengan rekaman suara burung tertentu. Benar saja. Tiba-tiba entah datang darimana belasan burung berdatangan dengan cepat dan bertengger di pohon di dekat tempat kami berdiri. Ada burung Kutilang, Cerukcuk, burung Cabe, burung Prenjak dan burung Madu. Sayapun memotret burung-burung itu.  Sangat menakjubkan! Bagaimana ya sebenarnya cara kerja suara burung itu? Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh burung di rekaman itu yang membuat burung-burung lain tiba-tiba berlomba-lomba datang mendekat? Seandainya saya mengerti bahasa burung.

Matahari merangkak naik. Sambil berjalan pulang saya  memikirkan betapa banyak hal yang tidak kita kuasai sebagai manusia. Yang masih tetap menjadi rahasia alam..