Tag Archives: Balanced Life

Silakan Masuk Duluan!

Standard

???????????????????????????????Saya baru saja meninggalkan pintu pesawat Malaysia Airlines di bandara di Kuala Lumpur. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari lokasi tandas alias toilet terdekat. Begitu ketemu, saya lega. Walaupun ada yang mengantri, tapi antriannya tidak begitu panjang. Sambil menunggu, saya melihat ke cermin di dinding. Wajah dan mata saya kelihatan lelah dan agak kucel. Maklum sudah terlalu malam. Dan saya belum sempat istirahat sejak tadi pagi. Saking asyiknya berkaca, tanpa terasa antrian sudah menipis. Hanya tinggal satu orang wanita kulit putih saja di depan saya.

Suara pintu terbuka dari salah satu bilik itu.  Seorang  ibu keluar, lalu membasuh tangannya sambil berkaca. Saya memperhatikan caranya membasuh tangan. Tiba-tiba wanita kulit putih yang tadi di depan saya mempersilakan saya masuk duluan sambil tersenyum ramah.  “Aiiih.. kok bule ini ramah banget ya?” Pikir saya dalam hati. Sepengetahuan saya, tidak biasanya ada bule mempersilakan orang yang ngantri belakangan untuk masuk duluan. Biasanya mereka lebih disiplin soal antri mengantri. Tidak mau menyerobot dan juga tidak mau diserobot. Tapi bule satu ini kok beda ya.

Karena dipersilakan, sayapun masuk duluan. Tentu setelah membalas senyumnya dan mengucapkan terimakasih. Begitu masuk, … neng nong!. Ooo….pantesan! Seketika saya mengerti, mengapa bule itu mempersilakan saya masuk duluan. Rupanya bilik yang ini menggunakan Closet Jongkok!. Ia sendiri kembali menunggu antrian di bilik sebelah yang menggunakan Closet duduk.   Closet duduk, membuatnya tidak terbiasa lagi dengan closet jongkok.

Perubahan pembangunan dan teknologi membawa perubahan besar terhadap peradaban manusia. Demikian juga terhadap kebiasaan dan kemampuan manusia. Closet duduk membuat nyaman, rileks dan santai,  karena tidak lagi harus berjongkok. Padahal menurut saya, berjongkok setiap hari membantu kita melatih otot-otot di betis dan paha juga lutut agar lebih kuat melakukan fungsinya. Dengan tidak berjongkok, kita jadi mengurangi latihan alami pada otot gastrocnemius di betis. Juga tidak ada lagi latihan alami terhadap otot biceps femoris di paha belakang.  Akibatnya, otot-otot di betis dan paha bagian belakang menjadi cepat letih saat kita memaksanya bekerja di luar kebiasaan. Ototpun mudah cramp.

Kalkulator membuat kita tidak terbiasa lagi berhitung dengan otak ataupun dengan bantuan jari tangan. Ketika kecil, proses penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pangkat, dan kwadrat berlangsung dengan cepat di kepala kita. Dalam hitungan menit atau terkadang bahkan detik, kita sanggup mengangkat tangan ketika Bapak Ibu Guru menanyakan sebuah pertanyaan matematika. Tapi sekarang? Ketika kita tumbuh, seiring dengan semakin sulitnya pelajaran matematika, (mulai ada Sinus, Cozinus, Tangen dsb), Bapak dan Ibu guru mengijinkan kita menggunakan kakulator sebagai alat bantu. Eh..lama-lama untuk membagi, mengali, menambah dan mengurangi pun kita juga memanfaatkan kalkulator. Semakin lama, otak kita semakin tidak terlatih untuk berhitung. Otak lebih sering istirahat. Rest. Rest. Rest.  Sehingga ketika kalkulator tidak ada, kita tak sanggup lagi berhitung dengan cepat. Lambat dan terkadang bahkan buntu.  Berapakah  364 x 756?. Hayooo!

Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu memberi manfaat setara bagi semua aspek kehidupan manusia. Air Conditioner membuat kita tidak terbiasa lagi dengan kipas angin baling-baling. Juga membuat kita tidak tahan lagi dan rentan terhadap panasnya udara alami di luar ruangan. Kita menjadi cepat lelah, letih dan lesu jika harus berada di ruang tanpa Ac. Rice Cooker membuat kita tidak terbiasa lagi memasak nasi dengan dandang dan kukusan. Kendaraan membuat kita tidak terbiasa lagi menempuh jarak dengan berjalan kaki. Sekali berjalan..aduuuh..capeknya. Dan sebagainya.

Tentu saja saya bukan orang yang anti terhadap kemajuan teknologi. Saya hanya berpikir, ketika kita terbiasa dengan cara hidup tertentu yang kita anggap lebih maju dan lebih memudahkan, terkadang kita melupakan cara-cara lama yang menurut kita sudah kuno dan tak layak pakai lagi. Lalu akibatnya apa? Ketika benda-benda itu tidak ada, mendadak kita akan merasa panik, kehilangan  dan bahkan langsung bodoh dan lumpuh karenanya.

Bukan hanya itu, sejarah evolusi menunjukkan bahwa setiap bagian tubuh mahluk hidup yang tidak digunakan, tentu akan semakin mengecil dan menyusut alias mengalami rudimenter. Dan setelah beberapa periode waktu tentu akan hilang. Seperti halnya tulang ekor dan usus buntu yang sudah tidak kita gunakan lagi. Atau kaki pada ular.

Saya membayangkan, apakah yang terjadi pada kita ketika benda-benda peradaban baru itu lenyap dari depan kita? Bagaimana jika tiba tiba jaringan internet tidak ada?  Atau listrik pembangkit listrik mati dan tak bisa dibetulkan dalam waktu yang cukup lama? Waduuuh..kok rasanya ngeri membayangkannya ya.  Saya mungkin tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya dengan baik lagi. Saya juga tidak bisa ngeblog lagi. Itu dampak kecilnya saja. Dampak besarnya, tentu jauh lebih mengerikan dari itu. Ketika manusia memasuki dunia maya dan mendedikasikan seluruh hidupnya di dunia itu, maka kehidupan manusia di dunia nyata barangkali pada suatu saat akan mengalami rudimenter dan tidak akan exist lagi. Saya berusaha membuang jauh pikiran buruk saya.

Sangat jelas, teknologi sangat membantu dan membawa kebaikan pada peradaban manusia. Namun di sisi lain, kita juga perlu menyadari dampak negative-nya terhadap keberadaan kita sebagai manusia.  Lalu apa yang harus kita lakukan?

Terpikir di kepala saya, setidaknya untuk saat ini, bahwa yang terbaik adalah tetap membalance-kan hidup kita. Gunakan kalkulator, namun sesekali perlu juga memanfaatkan otak kita untuk berhitung. Baca e-book, tetapi sesekali baca juga buku cetakan. Gunakan kendaraan, tapi sesekali cobalah berjalan kaki . Gunakan rice cooker atau microwave tapi sesekali gunakanlah dandang atau kukusan. Berada di gedung-gedung pencakar langit di kota yang penuh polusi, sesekali berjalankah keluar. Hirup udara segar, nikmati kehijauan dedaunan, langit yang biru, sungai yang gemericik, air terjun yang gemuruh. Dan sebagainya…

Gunakan Closet duduk, tapi sesekali gunakan jugalah closet jongkok. Atau setidaknya sesekali berjongkoklah untuk melatih kekuatan betis dan paha kita. Sehingga kaki kita tidakmudah cramp dan ketika harus masuk ke bilik dengan closet jongkok seperti ini,  kita masih mampu bertahan…

Malam semakin larut. Saya bergegas keluar karena harus segera mengambil bagasi saya dan meninggalkan airport secepatnya.

 

 

Balanced Life – Menyeimbangkan Kesibukan Dengan Kegiatan Yang Menyenangkan.

Standard

Hidup bukan saja memberi kebahagiaan dan prospek yang mencerahkan, namun juga meninggalkan kepenatan tersendiri yang terkadang terasa mengganggu.  Terutama jika kita tinggal di kota besar macam Jakarta yang serba terburu-buru dikejar waktu. Selain berusaha menyeimbangkan duniamaterialdengan spiritual,mengisi waktu yang tersisa dengan kegiatan yang menyenangkan, tentunya sangat berguna untuk membantu mere-charge kembali energy yang menguap diserap oleh aktifitas  sehari-hari, sehingga tercipta keseimbangan yang baik dan menyenangkan.

Setiap orang tentu memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan kehidupannya.  Di bawah  ini adalah beberapa hal yang paling sering saya lakukan untuk menyeimbangkan kehidupan saya agar tak terlalu penat setelah 5/7 hari kerja penuh di luar rumah.

 1/.  Bermain dengan anak -anak.

Menemani anakOrang bilang, anak adalah obat penawar segala duka. Saya sangat setuju dengan itu. Betapapun lelahnya ataupun penatnya hati karena beban pekerjaan dari kantor, begitu bertemu anak-anak, entah kenapa tiba-tiba jadi hilang. Tidak ada sedikitpun rasa cape lagi.   Itu saya rasakan sendiri.  Anak-anak sepertinya membawa keajaiban dan membawa energy penyembuhan yang luar biasa. Walaupun sekarang ketika mereka mulai bertambah besar,dan mulai lebih sering memilih bermain bersama teman-temannya, namun tetap saya manfaatkan waktu yang cuma sedikit itu untuk bersama mereka.

Saya  sangat senang bermain-main dengan anak saya. Senang mendengar celotehnya yang lucu-lucu. Senang melihat matanya yang berbinar ketika menceritakan sesuatu yang menarik yang dialaminya hari itu. Senang menemaninya membuat mainan atau prakarya.Menyanyi bersama, menari bersama, menemaninya belajar, berlari atau sesekali ikut bermain petak umpet. Senang ikut bermain-main dengannya.

2/. Menulis alias Ngeblog.

BlogMenulis di blog! Adalah hal yang sangat menyenangkan buat saya. Karena saya bisa bercerita tentang hal-hal umum yang menarik perhatian saya.   Tentang burung-burung, tentang bunga, tentang kucing, tentang masakan, lukisan dan lain sebagainya. Intinya tentang hal-hal ringan sehari-hari  yang saya sukai. Walaupun, ada beberapa orang teman yang menyarankan saya menulis blog khusus tentang marketing “Tulislah sesuatu tentang  dunia pemasaran. Tentang marketing praktis, kek. Atau tentang brand” bujuk seorang teman. Ia bilang akan semakin rajin menengok blog saya jika saya bersedia menulis  lebih banyak lagi tentang dunia pemasaran yang merupakan pekerjaan saya sehari-hari. Sebenarnya saya ada juga menulis tentang pemasaran, tapi memang tidak banyak.  Dan hanya berkisar pada cerita-cerita pemasaran yang ringan dan umum saja. Teman saya tidak puas . “Kurang banyak itu” katanya. Saya hanya tersenyum.

Sejak awal sebenarnya saya memang tak punya niat untuk menjadikan blog ini spesifik hanya memuat topik tertentu. Entah itu Blog Marketing, Blog Ibu Rumah Tangga, Blog tentang Hewan, dsb – apapun itu. Alasannya adalah karena salah satu tujuan saya menulis di blog  adalah untuk menyeimbangkan kehidupan saya dari penatnya kehidupan pekerjaan. Bukan untuk mengulang hal yang sama dengan yang di pekerjaan.

Bayangkan, setidaknya 10 jam -kadang lebih – telah saya habiskan untuk berkutat urusan pekerjaan setiap hari (kecuali hari libur).  Sementara satu hari hanya terdiri dari 24 jam. Tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang.  Setelah dikurangi tidur 8 jam, travelling 2 jam, makan-mandi dsb = 1 jam , jadinya yang tersisa hanya sekitar 2-5 jam. Jadi sebaiknya saya pakai untuk urusan domestik saja(ngurus anak dan rumah tangga serta bersenang-senang – termasuk ngeblog).  Jadi buat saya memang sudah tidak ada menariknya untuk berbicara atau menulis lagi tentang dunia marketing, terlebih tentang strategy marketing. Karena alasan tadi. Selain untuk menghormati dan menjaga privacy perusahaan tempat saya bekerja. Nah..yang paling aman, adalah hanya menulis tentang hal-hal di luar pekerjaan.

3/. Melihat-lihat tanaman.

gardenSaya sangat menyukai tanaman. Terutama tanaman hias yang berbunga. Mengamati bagaimana tanaman tumbuh, besar, berbunga dan atau berbuah, kemudian menua, layu dan mati – mengingatkan saya berkali-kali akan cyclus kehidupan. Siklus yang sudah pasti harus dijalani oleh setiap mahluk hidup, termasuk diri saya sendiri.  Mau tidak mau, suka tidak suka, hukum kehidupan di alam semesta ini pasti akan menghampiri kita.

Melihat bungan-bungaan selalu membuat saya merasa bahagia. Bunga memberikan kesenangan yang bisa kita dapatkan dari warna-warninya yang menawan, dari  bentuknya yang rupawan dan dari wanginya yang  beragam. Bunga juga memungkinkan saya untuk mengenal berjenis-jenis kupu-kupu – keindahan alam yang diberikan gratis kepada kita. Kesukaan terhadap tanaman dan bunga ini saya wariskan dari ayah saya.  Bapak saya selalu menyuruh saya membantu merawat tanaman di halaman rumah ketika kecil. Menyapu halaman,menyiram, mencabut rumput liar, memecah anakan dan menanam ulang, memberi pupuk, dan sebagainya.  Saya menyukai tugas itu.  Oleh sebab itu, adik-adik saya sering bercanda memanggil saya  Si “Penyakap” alias si Tukang Kebun (Penyakap = tukang kebun, orang yang merawat kebun, ladang atau sawah, atau taman).

4/. Blusukan Ke Kampung atau Ke Pinggir Kali. 

Kegiatan lain yang juga cukup sering saya Blusukan pinngirkalilakukan adalah blusukan ke kampung, ke sawah atau  ke pinggir kali. Ini tidak ada urusannya dengan blusukannya Pak Jokowi sih. Soalnya kalau Pak Jokowi kan blusukannya untuk kepentingan orang banyak. Nah, ini saya blusukan utuk kepentingan saya sendiri.

Saya suka bermain-main ke sawah, ke  kampung-kampung, ke ladang, ke semak-semak, kesungai dan sebagainya karena saya sangat menyukai alam. Saya selalu terkagum-kagum melihat  kupu-kupu yang beterbangan lincah ke sana kemari dengan sayapnya yang indah berwarna warni. Senang mengendap-endap di balik semak untuk melihat berbagai jenis belalang, kumbang dan kepik.Atau mengamat-amati burung-burung pipit yang bercericit di sawah.  Atau melihat bunga-bunga liar yang mekar tanpa ada yang memperdulikannya. Sekarang, walaupun saya tinggal di kota besar, tetap saja saya tak bisa menghilangkan kesenangan saya untuk pergi blusukan guna menikmati alam.

Walaupun airnya tidak jernih, malah kadang-kadang banyak sampah,  tapi buat saya kali ini menyedot perhatian saya lebih kuat dari mall maupun tempat hiburan manapun yang ada di Jakarta. Setidaknya, kali dan tepiannya yang hijau oleh pepohonan, memberi saya lebih banyak oksigen untuk ditukar dengan karbon dioksida yang menumpuk di dalam tubuh saya. Kali itu juga mendemostrasikan dengan baik keanekaragaman hayati yang dimilikinya.

5/. Menggambar.

MenggambarKetika banyak orang tidak mau menggambar karena merasa dirinya kurang berbakat, saya menggambar dan tetap menggambar. Di media apapunyang sedang tersedia.Dikertas atau di kanvas. Dengan pensil, crayon, cat air,vcat minyak ataupun acrylic. Bukan karena saya merasa diri saya berbakat menggambar, tapi lebih karena saya suka melakukannya. Sayatidak terlalu perduli apakah saya berbakat apa tidak. Buat saya menggambar adalah salah satu cara mengekspresikan diri,pikiran dan perasaan kita.  Saya menggambar hal-hal yang saya sukai saja. Karena tidak ada point-ya mengambar hal yang bahkan kita sendiripun kurang menyukainya.

Masih ada beberapa kegiatan lain lagi yang juga saya sukai . Cukup  banyak jumlah dan jenisnya untuk menyeimbangkan kehidupan saya.

Bagaimana dengan teman-teman? Kegiatan apa yang dilakukan untuk menyeimbangkan diri dari rutinitas  kesibukan sehari-hari?

Happy Life In Simplicity.

Standard

Duduk di bawah pohon di tepi pantai Nusa Lembongan pada suatu siang. Seekor burung tekukur melintas terbang di depan saya dengan riangnya. Terbang rendah lalu mendarat dan berjingkat di tanah yang bertabur pasir. Seolah tak perduli akan kehadiran saya di dekatnya, tekukur itu sesekali mematuk sesuatu dipasir yang barangkali biji-bjian  yang tercecer. Berjalan lagi beberapa langkah, lalu berhenti. Terlihat sangat riang dan trengginas. Mencari sesuatu di pasir. Berjingkat kembali lalu terbang rendah dan hinggap kembali di  tonggak-tonggak batu yang dijadikan pagar tempat itu. Burung itu memandang ke arah laut lepas. Oohh..hidup yang damai!. Tak terlihat sedikitpun kekhawatirannya untuk mengarungi hidup. Padahal siapa tahu apa yang akan terjadi esok hari? Barangkali seekor burung Rajawali akan  datang memangsanya? Barangkali angin laut yang kencang akan menghempaskannya di batu karang yang keras dan terjal?  Tak sedikitpun ketakutan itu tercermin di wajahnya. Hanya kebahagiaan yang terpancarkan dari gerak tubuh dan bola mata kecilnya. Read the rest of this entry

Tas Kecil Dari Bandung…

Standard
Tas Kecil Dari Bandung…

Suatu hari setahun yang lalu, anak saya yang saat itu duduk di  bangku kelas V SD melakukan studi wisata ke kota Bandung bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Pulangnya ia membawakan saya oleh-oleh tas kecil dari lidi kelapa yang dijalin. “Mama, ini tas untuk mama. Aku beli pakai uangku sendiri”. Kata anak saya dengan bangga.  Saya berterimakasih menerima oleh-olehnya. Sungguh terharu akan perhatiannya.  Ia selalu begitu. Baik, penuh perhatian dan sangat romantis. Saya ingat waktu masih kecil ia sering membawakan saya bunga rumput liar setiap kali habis jalan-jalan ke taman dekat perumahan bersama susternya. Ia juga sering menghadiahi saya lukisan tangannya ataupun perhiasan mainan hasil karyanya. Terkadang ia menulis surat untuk saya, berpesan agar saya bekerja dengan baik dan hati-hati di kantor. Tak terkira bersyukurnya saya memiliki anak sebaik dan sepenyayang itu. Tas itu pun saya letakkan di lemari. Read the rest of this entry