Tag Archives: Bali

Rajapisuna. Fitnah dalam Pandangan Seorang Wanita Bali.

Standard

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Bali dihebohkan oleh pemberitaan tentang seorang wanita bernama Lisa Marlina yang mengatakan lewat account Twitternya @lisaboedi , kalau di Bali itu nggak ada pelecehan sexual, karena kalau dilecehkan ya senang-senang saja. Selain itu ia juga mengatakan kalau di Bali itu pelacur dan pelacurannya available di setiap jengkal.

Sontak kicauan wanita ini membuat para wanita Bali terkejut dan heran.

Wanita Bali senang-senang saja kalau dilecehkan?????

Pelacuran di setiap jengkal tanah Bali?????”.

Dari mana datanya?. Apakah Lisa sudah datang ke tanah Bali dan check faktanya di lapangan?. Dan menemukan bahwa statementnya itu mengandung kebenaran atau tidak?

Keterkejutan dan respon diberikan dari para netizen baik di Bali maupun dari luar Bali. Ujung-ujungnya Ni Luh Djelantik, seorang wanita designer sepatu asal Bali mengadukan kasus ini ke Kepolisian.

Sebagai seorang Wanita Bali, tentu saja saya sama heran dan terkejutnya dengan Wanita Bali yang lain, akan apa yang dikatakan oleh Lisa Marlina di dunia maya. Karena sebagai Wanita Bali yang tumbuh dan besar di Bali (walau sekarang sebagian besar saya tinggal di Jakarta dan hanya bolak balik saja pulang ke Bali), saya tidak setuju jika kami Wanita Bali disebut senang jika dilecehkan. Karena kenyataannya tidak.

Kemudian sebagai orang Bali, saya juga tidak setuju dengan pernyataan Lisa Marlina, jika di Bali ada sedemikian banyaknya pelacur dan pelacuran, saking banyaknya hingga setiap jengkal tanah Bali pun ada. Karena kenyataannya tidak. Dan saya ingin Lisa membuktikan kepada saya ucapannya itu.

Karena menurut saya apa yang dilakukan oleh Lisa Marlina ini termasuk dalam perbuatan fitnah besar, alias RAJAPISUNA dalam Bahasa Balinya.

Rajapisuna (Fitnah, Memfitnah) adalah memberikan sebuah pernyataan buruk tentang orang lain yang tidak terbukti kebenarannya.

Rajapisuna dan Sad Atatayi – Enam Bentuk Kejahatan Manusia.

Rajapisuna ini dalam tatanan masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu dan sangat cinta akan kedamaian termasuk salah satu dari enam point SAD ATATAYI (Enam Bentuk Kejahatan, Sad= enam, Atatayi = Kejahatan), yang sangat dilarang untuk dilakukan.

Enam Kejahatan dalam Sad Atatayi itu adalah:

1/. Agnida – membakar, meledakkan, nge- bom milik orang lain.

2/. Wisada – meracuni orang dan mahluk lain.

3/. Atharwa – menggunakan ilmu hitam untuk menyerang /menyengsarakan orang lain.

4/. Sastraghna – mengamuk, membunuh orang dan mahluk lain.

5/. Dratikrama – melecehkan, memperkosa orang lain.

6/. Rajapisuna – memfitnah orang lain.

Sangat jelas, bahwa melakukan Rajapisuna merupakan salah satu kejahatan yang dianggap serius di Bali, karena termasuk di dalam daftar SAD ATATAYI.

Dalam kenyataannya, memang terjadi beberapa kasus pelanggaran dan tindakan kejahatan juga yang dilakukan oleh orang Bali, tetapi jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang disiplin mengamalkan pelarangan Sad Atatayi ini. Saya rasa kita juga bisa melihat data di Kepolisian, berapa % yang dilakukan orang Bali dan berapa % yang dilakukan pendatang.

Sad Ripu – Enam Musuh Dalam Diri Manusia.

Nah, bagaimana seseorang bisa melakukan perbuatan jahat yang termasuk dalam daftar Sad Atatayi ini?. Sebatas apa yang saya pahami dalam agama Hindu, bahwa perbuatan ini terjadi jika kita kurang mampu mengendalikan musuh -musuh yang ada di dalam diri kita sendiri yang disebut dengan SAD RIPU yaitu:

1/. KAMA – nafsu

2/. LOBHA – loba, serakah.

3/. KRODHA – amarah

4/. MADA – mabuk, kegila-gilaan.

5/. MOHA – kebingungan, keangkuhan.

6/. MATSARYA – iri hati, dengki.

Orang Bali, tidak percaya bahwa jika ada orang yang berbuat buruk itu karena dipengaruhi setan (mahluk lain di luar dirinya). Tetapi yakin jika perbuatan jahat itu disebabkan oleh kemampuan diri orang itu sendiri yang rendah dalam menaklukkan sifat sifat buruk yang ada dalam dirinya itu sendiri (Sad Ripu). Jadi tidak menyalahkan Setan.

Nah dalam kasus Rajapisuna di atas, perbuatan memfitnah orang lain bisa terjadi karena kelemahan manusia dalam mengendalikan Sad Ripu, misalnya karena Krodha (Amarah) dalam dirinya, dan atau karena Matsarya (Irihati, dengki), atau mungkin juga karena Moha dan sebagainya.

Itu pandangan saya, sebagai salah seorang Bali tentang kasus Lisa Marlina ini.

Lalu bagaimana kita menanggapinya?.

Menurut saya, karena Ni Luh Djelantik, seorang Wanita Bali telah mengambil inisiatif melaporkannya ke pihak Kepolisian, ya biarkanlah pihak kepolisian yang memprosesnya hingga selesai. Walaupun akhirnya Lisa Marlina telah mengucapkan maaf (- tentu dimaafkan), dan mengaku itu mistypo, tetapi proses hukum tentu tetap berlanjut.

Selain proses hukum duniawi, ada juga Hukum Kharma- Phala yang berlaku. Setiap orang yang melakukan perbuatan (Kharma) baik maupun buruk, pasti akan mendapatkan buah dari perbuatannya itu dengan setimpal (Phala). Hukum Kharma-Phala itu berlaku untuk semua mahluk di seluruh alam semesta, tak peduli di manapun ia sembunyi.

Dan tentunya kita tak perlu ikut marah marah juga, karena jika kita marah, itu artinya Lisa Marlina telah berhasil dan sukses menggeret kita untuk kalah melawan Sad Ripu, yakni membiarkan Krodha (amarah), yang ada di dalam diri kita sendiri menjadi menguat dan menguasai diri kita.

Mari kita sikapi dengan tenang dan damai. Jangan biarkan Sad Atatayi orang lain ikut mencemari kebersihan hati dan pikiran kita. Jangan biarkan Rajapisuna, membuat kita tak mampu mengendalikan Krodha amarah dalam diri kita. Tetaplah tenang, damai dan terkendali.

Ragadi musuh meparo, ri ati ya tonggwaniya tan madoh ring awak….

(Musuh yang sesungguhnya itu ada di dalam diri kita, di hati tempatnya, tak jauh dari tubuh kita sendiri).

Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri.

Om Shanti, Shanti, Shanti.

Semoga semua mahluk selalu merasakan damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta.

Advertisements

Selamat Hari Nyepi!.

Standard

Seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana cara orang Bali me”raya”kan Nyepi?. Kan katanya Nyepi ?. Terus gimana perayaannya?. Ada kue kue atau makanan enak nggak di rumahnya?. Saya tertawa.

Iya betul. Hari Nyepi sesuai dengan namanya memang tidak ada perayaan dalam artian pesta pora raya penuh acara, tidak ada makanan melimpah, pakaian baru dan suasana gemerlap, seperti hari raya pada umumnya. Apalagi kembang api. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya sepi. Kesunyian. Setiap orang berusaha menyepikan diri. Berusaha membawa pikirannya ke dalam dirinya masing -masing, sehingga yang ada hanyalah kesunyian. Sungguh tidak ada perayaan.

Walaupun tidak semua orang melakukannya dengan penuh, pada umumnya warga Bali melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu melakukan tapa brata tidak melakukan 4 hal ini, sejak jam 6 pagi hingga jam 6 pagi keesokan harinya. Apa saja?

Pertama adalah Amati Geni, alias tidak menyalakan api maupun cahaya. Umumnya orang tidak masak, tidak menyalakan kompor. Tidak juga menyalakan lampu/ listrik di malam hari. Sehingga malam hari biasanya gelap gulita.

Kedua adalah Amati Karya, alias tidak bekerja. Orang orang beristirahat total. Tidak kerja kantoran, dan juga tidak msngerjakan pekerjaan lainnya. Tidak menyapu, tidak mengepel, tidak nemasak, tidak mencuci dan sebagainya.

Ketiga adalah Amati Lelungan, alias tidak bepergian. Orang orang umumnya tidak keluar rumah. Tidak berjalan kaki, tidak naik sepeda, motor, mobil dan sebagainya.

Keempat adalah Amati Lelanguan, alias tidak bersenang -senang. Misalnya tidak pesta pesta, tidak minum minuman keras, tidak menari nari dan sebagainya. Sebagian orang mungkin melakukan puasa penuh dari jam 6 pagi ke jam 6 pagi keesokan harinya. Sebagian mungkin melakukan puasa partial.

Karena tidak melakukan 4 hal yang disebut di atas, dengan sendirinya orang orang akan terarah untuk diam. Hening. Kosong.

Dan hal terbaik yang mungkin dilakukan orang saat terdiam adalah merenungkan diri. Entah mengingat ingat dan mengevaluasi diri, entah melakukan perjalanan pikiran ke dalam diri sendiri, memikirkan masa depan diri dan sebagainya. Dalam keheningan dan kesunyian, pemahaman tentang diri, sekitar dan semesta akan sangat mungkin tergali. Dan hanya dalam kekosongan, kita mungkin mengisi ulang kembali jiwa kita agar lebih baik lagi ke depannya.

Nah… karena hal ini lebih banyak merupakan sebuah ajakan ketimbang sebuah keharusan, dalam kenyataannya masyarakat melakukannya sedapat atau sekuat yang bisa dilakukan tanpa unsur pemaksaan. Jika sanggup ya lakukan, jika tidak yaaa sudah.

Misalnya jika kebetulan di rumah itu ada bayi atau anak kecil, dan sang ibu merasa butuh lampu untuk mengurus bayinya, atau anaknya sangat takut kegelapan. Maka mungkin saja di rumah itu tidak semua ruangan dimatikan lampunya. Mungkin ada sebuah ruangan yang dipakai bayi atau anak itu, listrik tetap dinyalakan seperti biasa. Tetapi untuk menghormati yang lain, ruangan itu ditutup rapat, jendela atau kisi kisi ditutup dengan koran atau kain agar cahaya tidak keluar.

Atau misalnya jika ada anggota keluarga yg sedang sakit, yang misalnya perlu makan makanan yang dimasak baru, maka keluarga itu mungkin masak untuk perawatan sang sakit.

Atau misalnya karena keadaan yang sangat mendesak sekali atau yang bersifat darurat, satu dua orang mungkin ada perlu keluar rumah tidak masalah dan tinggal melapor pada pecalang (petugas adat). Tentu diijinkan sepanjang jelas alasannya.

Fasilitas umum yang penting seperti Rumah Sakit umumnya tetap beraktifitas sebagai mana biasa.

Begitulah kurang lebih bagaimana orang Bali menyepi di hari raya Nyepi.

Selamat Nyepi teman teman !.

Warna-Warni Dalam Bahasa Bali.

Standard

Gara gara seorang teman berkomentar pada sebuah post di timeline facebook, saya jadi kepikiran untuk mengajak teman-teman pembaca untuk bersama-sama mengenal warna-warni dalam Bahasa Bali. Dan sekaligus mengenal bagaimana masyarakat Bali memandang warna.

Dalam kehidupan sehari-hari di Bali, warna memegang peranan yang sangat penting, bukan saja dalam kaitannya dengan seni, misalnya warna warni pada lukisan, pakaian, namun juga pada warna warni makanan dan sebagainya.

Bahkan warna warni juga erat hubungannya dengan konsep keTuhanan, misalnya diterapkan dalam konsep Dewata Nawa Sanga, di mana Tuhan Yang Maha Esa diberikan nama tertentu sesuai dengan peranan Beliau, lokasi dalam mandala/ arah mata angin dan diberi kode warna tertentu juga.

Untuk diketahui, Warna dalam Bahasa Balinya sama saja dengan Bahasa Indonesia, yaitu “Warna” juga (dibaca “warne” . A dibaca e seperti membaca e dlm kata “dengan”). Tetapi apa saja jenis warna yang ada dalam perbendaharaan Bahasa Bali? Yuk kita simak bersama.

1/. Hitam.

Ireng, Cemeng (halus). Selem (standard). Badeng (kasar).

Contoh pemakaiannya; Tebu Ireng = tebu hitam/ tebu guak. Miana Cemeng = Miana hitam. Kayu Selem = kayu hitam. Kulitne badeng senged = kulitnya hitam legam.

Masyarakat Bali menempatkan warna hitam di utara. Dan hitam juga merupakan lambang Tuhan yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pemelihara (Wisnu)

2/. Biru.
Nila (halus). Pelung ( standard). Beru (standard).

Warna Biru ditempatkan di Timur Laut. Merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Pencipta Kebahagiaan (Shambu).

3/. Putih.

Petak ( halus). Putih (standard).

Untune petak sekadi gamet = giginya putih seperti kapas.

Warna Putih ditempatkan di Timur. Juga merupakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penguasa Dunia (Iswara).

4/. Pink

Dadu (Halus/ Standard).

Warna Pink di tempatkan di Tenggara. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Yang Maha Besar (Maheswara).

5/. Merah.

Bang (halus). Barak (standard).

Contoh pemakaian:

Mesumpang nganggen Pucuk Bang = menghias rambut/telinga dengan menggunakan bunga kembang sepatu merah.

Warna merah ditempatkan di selatan. Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Sang Maha Pencipta (Brahma).

6/. Orange.

Kudrang (halus). Jingga (standard). Nasak Gedang (standard).

Warna Orange diletakkan di Barat Daya. Merupakan Lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penghancur Kejahatan (Rudra).

7/. Kuning.

Jenar (halus). Kuning ( standard).

Kuning ditempatkan di Barat. Merupakan lambang Tuhan dalam fungsinya sebagai Sang Penguasa Tertinggi Alam Semesta (Mahadewa).

8/. Hijau

Wilis. Gadang. Ijo (standard).

Hijau ditempatkan di Barat Laut. Meruoakan lambang Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Penjaga Keharmonisan (Shangkara).

9/. Ungu.

Tangi (Halus/Standard).

10/. Coklat

Gading.

Contoh pemakaiannya :

– Bokne gading (rambutnya coklat/pirang).

– Kepundunge nasak gading (buah kepundung/menteng matang dan coklat muda).

– Nyuh Gading= kelapa ukuran kecil yang berwarna merah kecoklatan.

11. Abu.

Kelawu.

Itu adalah warna warna umum. Bagaimana jika kita ingin mengatakan ” ke….an”?. Misalnya nih… kecoklatan (brownish) kebiruan (bluish), kekuningan (yellowish)?. Dalam bahasa Bali, kecoklatan disebut dengan “lumlum gading”. Keputihan = lumlum petak. Jadi untuk mengatakan sesuatu yang ke+warna+an, cukup tambahkan kata “lumlum” di depan kata warna (lumlum+warna).

Cara lainnya adalah menambahkan kata “mesawang” di depan kata warna. Mesawang arti aslinya adalah terlihat/tampak. Contoh, “warnan ambarane pelung mesawang barak” artinya, warnanya langit biru agak kemerahan.

Selain itu ada istilah lain lagi yang berkaitan dengan warna.

1. Tri Kona = Tiga Warna = hitam, merah , kuning.

2. Panca Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Kuning.

3. Sanga Warna = Hitam, Putih, Merah, Biru, Ungu, Kuning, Jingga, Pink, Hijau.

4. Berumbun = Warna campur-campur.

Nah…demikianlah kurang lebih bahasa Bali untuk mengatakan berbagai jenis Warna.

Bumbu Dapur Dalam Bahasa Bali.

Standard

Setelah sebelumnya saya menulis tentang bahasa balinya wajah dan bagian-bagiannya, kali ini saya ingin mengajak teman pembaca untuk menengok dapur orang Bali dan mengenal bumbu dapur dalam Bahasa Bali.

Dapur dalam bahasa Bali disebut dengan “Paon”. Atau dalam bahasa halusnya disebut dengan kata “Pewaregan“. Dan Bumbu Dapur disebut dengan “Basa-basa” -dibaca Base base – dengan huruf a dibelakang kata dibaca sebagai “e ” seperti huruf e dalam kata “dengan” di bahasa Indonesia.

Oke!. Sekarang kita langsung mengenali apa saja yang ada di dalam nampan Basa -basa ya.

1/. Cabe = tabya.

2/. Garam = uyah (kasar), tasik (halus).

3/. Bawang merah = bawang.

4/. Bawang putih = suna / kesuna.

5/. Jahe = jae.

6/. Lengkuas = isen.

7/. Kencur = cekuh.

8/. Kunyit = kunyit.

9/. Asem = lunak.

10/. Merica = mica.

11/. Ketumbar = ketumbah.

12/. Lada = tabya bun.

13/. Pala = pala.

14/. Terasi = sera

15/. Pekak = Bungan lawang.

16/. Kecombrang = Kecicang.

17/. Kapulaga = kapulaga.

18/. Temu Kunci = kunci/ bekunci.

19/. Daun Salam = janggar ulam.

20/. Jeruk Limau = lemo.

21/. Jeruk nipis = juuk lengis.

22/. Gula Pasir = gula pasir.

23/. Gula Merah = gula barak/ gula ntal/gula Bali.

24/. Kecap = kecap (tidak umum dalam masakan traditional Bali, tetapi untuk masakan kontemporer, terkadang disediakan kecap di dapur).

25/. Bawang Daun = don pre.

26/. Seledri = seladri.

27/. Wijen = lenga.

28/. Pandan Wangi = pandanarum.

29/. Daun Suji = don kayu sugih.

30/. Kemangi = kecarum.

31/. Selasih = sulasih.

32/. Kemiri = tingkih.

33/. Sereh = serai.

34/. Keluwek = pangi.

35/. Kelapa = nyuh.

36/. Minyak kelapa = lengis nyuh.

37/. Tomat = tomat.

38/. Belimbing buluh = belimbing wuluh.

Demikian kurang lebih jenis basa basa yang mungkin ada di dapur orang Bali.

Wajah Dan Bagian-bagiannya Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sejak tinggal di rantau, praktis penggunaan Bahasa Daerah saya berkurang frekwensinya. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari hari. Karenanya, saya jadi kangen berbahasa Bali.

Mungkin ada teman pembaca yang ingin ikut berbahasa Bali bersama saya?.

Kali ini saya mengambil topik tentang Wajah. Apa sih bahasa Balinya wajah? Dan bagaimana kita mengatakannya? Serta apa bahasa Bali bagian dari wajah seperti hidung, bibir, mulut dan sebagainya.

Sebelum masuk ke topik wajah, sedikit saya jelaskan dulu kalau dalam bahasa Bali, umumnya kita memiliki minimal 2 (terkadang 3, 4 atau 5) tingkatan bahasa berdasarkan kasar halusnya (sor -singgih).

Bahasa Sangat Kasar -untuk binatang/memaki.

Bahasa Kasar – bahasa gaul untuk teman/ adik.

Bahasa Halus – bahasa untuk orang yang kira tuakan/ hormati.

Bahasa Sangat Halus – untuk hal hal niskala dan spiritual.

Nah… dalam hal ini secara umum saya akan membahas bahasa kasar dan halusnya saja.

Wajah.

Wajah dalam bahasa Bali biasa disebut dengan Mua, Prerai.

Kasar = Mua (kata benda), Goba (kata keadaan – terkadang dipakai dalam kalinat teguran/marah)

Halus = Prerai.

Contoh penggunaan sebagai berikut:

Muane I Luh jegeg cara bulan. Wajahnya I Luh cantik bagaikan bulan.

Goban nyaine, judes sajaan!. Mukamu (perempuan), judes sekali.

Tiyang seneng nyingakin Prerain Ida. Saya senang mèlihat wajahnya (orang yang saya hormati i.e ayah, ibu dsb).

Hidung.

Kasar = Cunguh.

Halus = Irung.

Mata

Kasar = Mata

Halus = Penyingakan.

Sangat Halus = Pengaksian, Soca.

Catatan: Soca juga sering digunakan untuk mata cincin dalam bahasa Bali sehari-hari. Socan bungkung = mata cincin.

Alis

Kasar = Alis

Halus = Rarik, Wimba.

Jidat

Kasar = Gidat

Halus = Lelata.

Mulut

Kasar sekali = Bungut.

Halus = Cangkem.

Bibir

Kasar = bibih.

Halus = Lambe.

Dagu

Kasar = Jagut

Halus = Jagut.

Pipi

Kasar = pipi

Halus = pipi.

Bulu mata

Kasar = bulun peningalan.

Halus = bulun penyingakan, ringring

Telinga

Kasar = Kuping.

Halus = Karna.

Leher

Kasar = Baong.

Halus = Kanta.

Janggut

Kasar = Jenggot.

Halus = Cerawis.

Rambut.

Kasar = Bok

Halus = Rambut.

Gigi

Kasar = Gigi

Halus = Untu.

Top 5 Masakan Sayur Traditional Bali Yang Ngangenin.

Standard
Top 5 Masakan Sayur Traditional Bali Yang Ngangenin.

Berada di rantau membuat saya selalu kangen akan Bali, kampung halaman saya. Kangen akan kehangatan keluarga dan sahabat, kangen akan adat dan upacaranya, kangen akan pemandangan alamnya, kangen akan pantainya, lembahnya, gunung dan danaunya, kangen akan apa saja, termasuk makanannya.

Nah ini adalah daftar top 5 masakan sayur traditional Bali yang membuat saya selalu kangen:

1/. Jukut Bulung.

Jukut Bulung adalah sayuran dari rumput laut. Biasanya berbumbu pedas yang terdiri atas kuah pindang, cabai, lengkuas dan parutan kelapa serta jeruk limau dan garam. Dengan kandungan colagen yang tinggi, tak heran banyak wanita Bali percaya bahwa sering sering mengkonsumsi sayuran ini membantu bikin awet muda. Rumput laut, alias Bulung yang umum disayur di Bali adalah dari jenis yang mirip mie berwarna putih. Kadang kita juga menemukan yang berwarna hijau. Sesekali dan jarang adalah jenis Bulung Boni yang biasanya ada saat bulan mati ( Tilem). Bulung Boni ini lebih enak, lebih jarang ada dan tentunya lebih mahal.

2/. Jukut Undis.

Nah… ini sayuran yang cukup sering saya bikin di Jakarta. Tapi anehnya tetap saja kangen πŸ˜€

Undis adalah Kacang Hitam. Black Pea Bean. Banyak dutanam di area pegunungan di Bali Utara. Paling umum dimasak berkuah (soup) , walaupun bisa juga dimasak dengan cara lain. Mengandung protein nabati tinggi, membantu memperbaiki daya pikir dan menjaga kesehatan jantung.

3/. Jukut Pelecing Paku.

Pelecing dalam bahasa Bali artinya Remas. Jukut Pelecing artinya sayuran yang bumbunya dicampur dengan cara meremas ke bahan sayurnya. Nah dalam hal ini bahan sayurannya adalah daun pakis muda dengan bumbu garam, cabai, bawang goreng, terasi goreng dan jeruk limau.

4/. Jukut Ares.

Ares dalam Bahasa Bali artinya batang pisang muda. Batang pisang muda yang diiris iris tipis ini sering dinasak dengan Basa Genep (bumbu lengkap termasuk di dalamnya bawang merah, bawang putih, cabe, garam, lengkuas, kunyit, kencur, jahe, paka, lada, ketumbar) dan dikuah. Beberapa orang menambahkannya dengan daging ayam. Waash…mantap!.

Ares mengandung serat tinggi. Dan tentunya sangat baik untuk menjaga tubuh tetap langsing. (Mungkin itu sebabnya saya susah langsing…karena di rantau tidak menemukan ares ha ha ha πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€).

5/. Jukut Kara Kebo.

Masyarakat Bali mengkonsumsi banyak kacang kacangan. Salah satu kacang yang umum di Bali adalah kacang kara (broad bean). Dan Kacang Kara inipun ada sangat banyak jenisnya. Mulai dari Kara Lungsih, Kara Komak, Kara Kebo dan lain lain. Kara Kebo adalah Kacang Kara yang bijinya besar besar. Nah ini sangat enak disoup.

Ssbenarnya masih banyak lagi masakan sayur traditional Bali yang membuat saya selalu kangen pengen pulang.

Semangat Pak Ketut Nuadi & Bu Ade Pica dibalik Mahapraja Peninjoan.

Standard

Saat saya bermain ke Mahapraja di Br Puraja, desa Peninjoan, sungguh saya sangat beruntung. Karena saat itu sangat kebetulan sang pendiri Mahapraja, yakni pasangan suami -istri Pak Ketut Nuadi Indra Sastrawan dan Bu Luh Ade Pica sedang ada di tempat. Pak Ketut Nuadi adalah penggagas dan pembangun tempat ini, sedangkan Bu Ade Pica adalah pengelola sehari-hari tempat ini. Nah klop kan?. Tentu saya merasa sangat senang bisa bertemu dengan beliau-beliau ini.

Kesempatan ini tidak saya sia siakan begitu saja. Karena saya ingin tahu langsung dari beliau bagaimana sebuah tempat wisata baru dilahirkan. Bagi saya yang sehari hari bekerja sebagai seorang pemasar, ini serasa seperti akan mendengarkan cerita seorang pebisnis mendevelop dan melaunch sebuah brand baru. Jadi saya sangat tertarik pengen tahu dong ya.

Pak Ketut Nuadi bercerita kepada saya bahwa beliau adalah anak bungsu dari 7 bersaudara. Yatim sejak kelas 1 SD, tak membuat semangat Pak Ketut surut. Beliau melanjutkan sekolah dan berfokus karir di bidang pariwisata.

Sambil bekerja di Denpasar, setiap minggu beliau pulang ke Peninjoan. Menengok ibu dan keluarga tentunya. Dan setiap pulang beliau menyepi di sini. Duduk-diduk sambil berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk membangun Bangli, tanah kelahiran tercints. Lalu terbersitlah ide memanfaatkan tanah warisan keluarga untuk membangun tempat wisata ini. Walaupun pada awalnya tidak banyak yang percaya bahwa itu sebuah ide yang baik.

Banjar Puraja di desa Peninjoan berada di sebuah lokasi dengan akses yang sulit. Saking sulitnya, area ini pada jaman dahulu digunakan oleh pahlawan Kapten Mudita dan para pejuang lain sebagai tempat persembunyian dan basis bergerilya melawan Belanda.

Dengan demikian, jika tempat ini dijadikan tempat wisata, maka konsep wisata yang paling tepat adalah konsep wisata “hide-away” yang menawarkan fasilitas ketenangan dan kedamaian, untuk mereka yang jenuh dengan kesibukan dan hingar bingarnya kota.

Demikianlah Pak Ketut mulai menggagas konsep wisata ini. Mahapraja menawarkan nuansa yang trully pedesaan bukan kemewahan. Buat mereka yang memang ingin merasakan suasana alam pedesaan. Target konsumennya sangat jelas, mereka yang membutuhkan suasana tenang dan damai. Bisa sebagai individu ataupun corporate.

Mulai beroperasi sejak 2 tahun yang lalu, saat ini kebanyakan melayani aktifitas perusahaan yang mengadakan acara outing di sana.

Selain sebagai camping gound, tempat ini juga banyak dikunjungi orang yang ingin bermeditasi, melakukan pemotretan pre-wedding, hingga mereka yang hanya sekedar ingin berselfie. Setidaknya ada 2 anjungan selfie yang saya lihat disediakan di tempat ini.

Diluar dari apa yang terlihat tertata dengan sangat apik secara kasat mata, Pak Ketut juga sangat menyelaraskan pembangunan tempat ini dengan alam. Segala sesuatunya ditata dengan mempertimbangkan konsep Tri Hita Karana. Hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, antara manusia dengan Sang Pencipta. Selaras dan harmonis.

Nah…sekarang tempat ini sudah berdiri. Sebuah camping ground yang menarik, dilengkapi dengan 4 bungalow dan ratusan tenda camping. Tempat parkirpun mulai diperluas agar bisa menampung lebih banyak lagi pengunjung. Tentunya merupakan salah satu aset wisata penting bagi Kabupaten Bangli.

Menurut Pak Ketut, pemerintah Kabupaten Bangli telah cukup banyak membantu. Untuk itu Pak Ketut menyampaikan ucapan terimakasih.

Harapan Pak Ketut hanya gimana pemerintah selanjutnya bisa membantu memperbaiki akses ke tempat wisata itu dengan lebih baik lagi. Saat ini jalan ke Br Puraja, desa Peninjoan memang sudah ada, hanya saja jika memang tempat ini berikutnya akan menjadi tujuan wisata yang utama, maka akses jalan yang lebih besar dan lebih mudah sungguh sangat dibutuhkan. Ya… semoga saja pemerintah mendengarkan himbauan ini dan mengambil tindakan yang terbaik untuk memajukan pariwisata Bangli.

Selamat dan semoga makin sukses ya Pak Ketut dan Bu Ade Pica.

Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Standard
Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Awal tahun ini saya ada di rumah ortu di Bangli. Mengetahui saya libur, kakak saya mengajak bermain ke Mahapraja, sebuah tempat wisata baru yang sedang naik daun di Bangli. Wow! Penasaran dong saya ya… apa itu Mahapraja dan di mana pula letaknya?. Ikuuuut…

Mahapraja, letaknya di Banjar Puraja, desa Peninjoan, kecamatan Tembuku – Bangli. Di Bali. Jadi kalau dari Bangli, kita mengarah ke timur menuju kecamatan Tembuku. Di Tembuku kita menuju arah timur laut dengan mengikuti jalan raya Besakih hingga ke desa Undisan. Nah dari desa Undisan lalu kita mengarah ke utara. Ketemulah desa Peninjoan, dan selanjutnya dari sana kita mencari Banjar Puraja dimana tempat wisata Mahapraja ini berlokasi.

Kami memarkir kendaraan tak jauh dari jalan raya, lalu menuju gerbang Mahapraja yang di kiri kanannya adalah kebun jeruk 🍊🍊🍊 yang sedang berbuah lebat. Jadi ngiler melihat buah buah segar bergelantungan di pohonnya yang rendah. Belakangan saya dengar, ternyata kita juga bisa berwisata memetik buah-buahan di kebun sekeliling Mahapraja. Bahkan buksn hanya jeruk lho… ada pepaya, manggis, salak, duren…Waah…tau gitu tentu saya sangat bersemangat ikut memetik-metik πŸ˜€.

Sebuah pintu gerbang dengan aling aling Ganesha menyambut kami di Mahapraja.

Mahapraja Br Puraja desa Peninjoan, Tembuku Bangli.

Ganesha sering ditempatkan sebagai aling aling dalam pekarangan rumah di Bali sebagai permohonan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai pelindung dari kesulitan dan masalah (Ganesha). Demikian juga di dekat pintu masuk Mahapraja. Sehingga dengan memasang Ganesha di pintu masuk, pemilik rumah mendoakan keselamatan bagi semua orang yang berkunjung ke tempat itu.

Dari Ganesha ini kita bisa langsung ke hamparan tanah luas berumput hijau segar yang tepinya menurun dibatasi oleh pohon pohon kayu 🌳🌳🌳 yang rindang dan sungai Puraja. Ada balai balai bambu tempat duduk dan bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Di seberangnya tampak hamparan rumput hijau yang cukup luas juga. Wow!. Tiba tiba seluruh tubuh, mata dan kepala terasa sangat segar. Sebuah tempat untuk me-recharge energy yang sangat menawan. Hijau royo royoπŸƒπŸƒπŸƒ dengan udara sejuk yang menyegarkan. Sangat tenang dan damai. Jauh dari keriuhan dan kepengapan kota. Beda banget dengan Jakarta.

Saya lihat ada 4 bungalow bambu sederhana beratap ilalang berjejer di sebelah kiri. Kayaknya asyik juga jika bisa menginap di sini menikmati suasana alam yang benar benar alami. Nanti deh…kalau dapat libur lagi saya pengen juga nginep di sini.

Mari kita lupakan sejenak kesibukan kota yang berbulan bulan menguras energy kita. Lupakan sejenak polusi dan kebisingannya. Duduklah di sini. Lepaskan kepenatan. Lupakan meeting dan target penjualan sejenak πŸ˜€. Dengarkan hanya suara angin dan nyanyian burungπŸ¦πŸ•Š. Dan wangi rerumputan. Tidak ada TV dan kalau perlu nggak ada jaringan internet. Hanya ada kita dan alam. Sehingga kita benar-benar tahu yang artinya menyepi dan mengisi energy kembali dari kekosongan.

Melamun begitu sambil menyeruput es kelapa muda dengan jeruk nipis, saya pikir, cocoknya tempat ini bernama Mahapraja Hide Away saja he he 😊. Tempat melarikan diri dari kepenatan kota.

Ternyata selain untuk menyepi dan menikmati suasana alam, tempat ini adalah sebuah Camping Ground yang lumayan juga. Bisa digunakan untuk acara outing dengan daya tampung +/- 600 orang pengunjung. Kalau gitu bisa dipakai untuk perusahaan kelas menengah dengan jumlah karyawan 400 – 600 orang ya…

Saya diberi informasi jika ingin menginap, Mahapraja memiliki 58 tenda camping πŸ• dengan daya tampung max 4 orang/ tenda. Nanti kalau saya balik ke Jakarta, saya info deh perusahaan tempat saya bekerja, kali kali aja mau mengadakan acara outing di tempat ini *muka penuh harap πŸ˜€.

Fungsi lain lagi… ternyata di tepi sungai di bawah tempat ini juga digunakan untuk mereka yang senang bermeditasi. Saya nggak sempat turun ke sungai , mengingat gerimis turun dan saya lupa bawa payung. Jadi saya hanya sempat melongok tangga turunnya doang.

Hari itu saya melihat cukup banyak juga orang yang berkunjung. Rata rata membawa keluarganya. Suatu saat saya pengen juga mengajak anak saya ke sini.

Nah…. siapa yang mau ikuttt???.

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu πŸ˜€.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran.

Standard

Di ujung selatan desa adat Penglipuran, terdapat sebuah candi yang merupakan Tugu peringatan terhadap jasa pahlawan pejuang kemerdekaan yang dipimpin oleh Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Muditha.

Walau gerimis turun dan saya tak membawa payung, saya menyempatkan diri berkunjung ke sana.

Saya merasa kunjungan saya ke sana kali ini penting, karena sebagai orang yang lahir dan besar di Bangli, tak banyak yang saya ingat tentang taman makam pahlawan ini. Walaupun dulu sering juga diajak oleh bapak/ ibu guru maupun kakak pembina pramuka ke sini. Jadi saya ingin merefresh kembali ingatan saya tentang tempat ini.

Selain itu, saya baru saja menerima kiriman buku tentang pahlawan Kapten TNI AAG Anom Muditha ini dari Anak Agung Made Karmadanarta, seorang sahabat saya yang merupakan keponakan dari sang pahlawan. Judulnya “Merdeka 100%” yang ditulis oleh Satria Mahardika. Terus terang karena kesibukan, saya belum sempat membacanya. Namun entah kenapa, hati saya terasa terpanggil untuk terlebih dahulu datang sendiri ke Tugu itu guna memberi penghormatan saya secara langsung kepada beliau. Setelah itu, saya akan membaca buku itu hingga selesai.

Demikianlah dalam gerimis saya berjalan ke sana. Segalanya masih tampak sama dengan ketika saya masih kecil. Saya masuk dari pintu gerbang di arah Selatan. Taman dengan tanah lapang dan Bale besar di sisi barat lapangan.

Di hulu lapangan terdapat candi bentar yang kecil, gerbang masuk ke dalam Tugu.

Di sebelahnya terdapat bangunan kecil di mana patung dada Kapten TNI AAG Anom Muditha ditempatkan. Baru kali ini saya memandang wajah beliau. Sangat gagah dan tenang.

Lalu saya menyusuri jalan setapak menuju pohon besar di sebelahnya. Di bawah tempat itu terdapat sebuah batu yang menurut catatan sejarah nerupakan tempat dimana darah sang pahlawan tumpah membasahi pertiwi dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan NICA yang ingin kembali menguasai Indonesia. Beliau tercatat gugur pada tanggal 20 November 1947.

Saya terdiam sebentar di sana. Mencoba membayangkan apa yang terjadi. Rasanya sangat teriris jika memikirkan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan ini demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara generasi berikutnya yang tak ikut berjuang sibuk memperebutkan kekuasaan dan kepentingan politik, pribadi dan golongannya, dengan mudahnya memecah belah masyarakat.

Merasa paling berpengaruh, paling berkuasa dan paling berhak menentukan nasib negeri ini. Sementara yang lain dianggap minoritas dan nge-kost. Tak terasa air mata saya mengambang.

Entah sebuah bentuk pengaduan ataukah jeritan keperihan hati melihat kondisi negeri saat ini yang carut marut diterpa isu politik dan agama yang berpotensi memecah belah bangsa. Saya yakin, bukan kondisi berkebangsaan yang intolerant seperti sekarang inilah yang dicita-citakan oleh para pahlawan kita dulu.

Saya memandang tugu tugu kecil para pahlawan yang berjajar rapi di sebelahnya. Hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keselamatan bangsa.

Gerimis turun semakin deras. Sayapun bergegas pamit.