Tag Archives: Bali

Selamat Jalan & Terimakasih Ibu Guruku Tersayang. 

Standard

Kemarin saya mendapatkan kabar duka berpulangnya Ibu Anak Agung Ayu Anom Alit, ibu guru saya waktu Taman Kanak-Kanak. Dumogi Amor ring Acintya. Om Swargantu, Moksantu, Suryantu. Semoga atmannya menyatu kembali dengan Brahman. 

Berita itu saya terima lewat Whatsapp ketika saya sedang rapat di kantor. Tak mampu menyimpan rasa duka, sayapun berbisik kepada teman di sebelah saya tentang kedukaan hati saya. “Ooh guru waktu TK. Masih ingat, Bu?”komentar teman saya. Ya. Guru TK saya. Tentu saja saya masih ingat dan sangat berterimakasih atas jasa beliau dalam mendidik saya. 

Ibu Anom adalah Kepala Taman Kanak-Kanak Bhayangkari Bangli pada masa saya kecil. Bersama dengan Ibu Raden Roro Sri Imari (Bu Erna) dan Bu Pember, Bu Anom adalah guru pertama yang mendidik saya setelah ke dua orang tua saya. Kebetulan sekali ke tiga ibu guru kami ini adalah ibunda dari sahabat-sahabat baik saya. Bu Anom adalah ibunda dari Gung Swasta Wibawa, Bu Erna adalah ibunda dari Erna dan Bu Pember adalah ibunda dari Putu Purwanthi. Oleh karenanya, kedekatanpun kian terasa. 

Ketika pertama kali saya mengenal sosok “Guru” dalam hidup saya,  maka Bu Anom Alit inilah yang saya tahu dan sebut namanya pertama, beserta Bu Erna dan Bu Pember. Beliau memberikan dasar-dasar kepercayaan diri, tata krama, kedisiplinan, dasar-dasar pemahaman garis, bidang dan ruang serta mendorong saya untuk membuka serta mengasah bakat dan kemampuan saya. 

Tentu saja banyak kenangan yang tertinggal di hati saya tentang ibu guru kami ini. Kenangan yang indah tentunya. 

Dahulu, ada sebatang pohon Wani (Kemang) di depan halaman sekolah. Disanalah detiap pagi kami menunggu kedatangan Ibu guru. Jika sudah ada yang terlihat kami langsung mengelu-elukan dengan nyanyian:

Ibune sampun rawuhibune sampun rawuuuhibune sampun rawuuuh…” berulang -ulang dengan riang gembira.  Bu Anom akan mengembangkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada kami. 

Setelah itu Bu Anom, Bu Erna dan Bu Pember akan meminta kami semua berbaris, siap grak, lencang kanan, lencang kiri dan berhitung sebelum masuk ke dalam kelas. Semuanya harus rapi dan semuanya harus disiplin. 

Belajar disiplin nggak selesai sampai di situ. Setelah masuk kami harus duduk dengan tertib di bangku masing-masing. Dan itupun ada ceremoninya. Sayang saya lupa lagunya. Tapi intinya dimulai dengan sikap duduk yang baik, dengan kedua tangan disilangkan di depan dada (sidakep). Dua tangan atas, lalu dibentangkan ke samping lalu silang. Barulah pelajaran di mulai. Mengenal garis lurus garis lengkung, bernyanyi, berdoa, menari dan sebagainya. 

Atas dorongan Bu Anom juga saya berani tampil untuk pertamakalinya di atas panggung dalam lomba menyanyi tunggal di Balai Masyarakat Bangli (sekarang bangunannya sudah tidak ada lagi dan berganti menjadi pasar senggol). Dan pertamakalinya juga saya tahu rasanya berkompetisi dan menang mendapatkan juara pertama dengan hadiah boneka ikan berwarna hijau yang sangat besar untuk ukuran tubuh saya saat itu. Saya masih memainkan boneka itu hingga sekitar kelas 4 SD. Dan saya tetap mengenang peristiwa itu di dalam hati saya. Beliau telah membangun kepercayaan diri saya. 

Guru TK adalah guru yang meletakkan pondasi pengetahuan pada setiap anak untuk dibangun berikutnya oleh guru guru sekolah lanjutan dan dosen beserta dengan orang tua dan masyarakat dengan melibatkan si anak itu sendiri.

Dan pastinya itulah yang telah dilakukan oleh Bu Anom Alit terhadap diri saya dan teman teman sehingga sekarang kami bisa mandiri dalam menjalani kehidupan. 

Selamat jalan Bu. Saya sangat berterimakasih. Berharap Ibu masih nendengarkan ucapan terimakasih saya dari atas sana. Kenangan tentang ibu akan selalu hidup di hati saya. 

Bubuh Kalimoto, Bubur Sehat Saat Flu dan Musim Hujan.

Standard

Bubuh Kalimoto

Bali memiliki beberapa jenis bubur di dalam daftar di dapurnya. Tapi yang paling populer adalah jenis Bubur Sayur. Dan bubur sayur sendiri setahu saya setidaknya ada 2 jenis. Yaitu Bubuh Urab dengan kuah santan yang sangat umum dan mudah kita temukan di pasar pasar traditional di Bali. Satunya lagi adalah Bubuh Kalimoto. Bubuh =bubur dalam Bahasa Bali.

Bubuh Kalimoto adalah bubur yang terbuat dari beras dimasak dengan daun Kayu Manis (bahasa Bali untuk Daun Katu). Toppingnya biasanya diberi kacang kedelai goreng yang empuk dan renyah dan atau ikan teri goreng. Sambelnya terasi bakar yang diulek dengan cabe rawit pedas dan sedikit garam.

Bubur Kalimoto biasanya dibuat di dapur penduduk. Jarang dijual. Sangat umum dibuat saat musim hujan atau jika ada anggota keluarga yang kena flu. Biasanya seluruh isi rumah ikut makan bubur yang sedap ini. Daun Kayu Manis dipercaya secara traditional merupakan obat yang baik untuk mengatasi flu. 

Melihat daun Kayu Manis, kali ini saya membuat Bubuh Kalimoto. Untuk mengenang cinta dan kasih sayang ibu saya kepada kami anak-anaknya. Selain itu….memang kangen rasanya juga. 

Ada yang mau mencoba?.

Bangli: Menikmati Sensasi Ketinggian Di Anjungan Tukad Melangit.

Standard

​​​​Seorang teman memasang status lokasi di facebook “Hi Bu! Saya sedang di kampung ibu ini di Bangli” tulisnya. Rupanya teman saya itu sedang berlibur dengan keluarganya di Bali. Dan dari foto foto yang diunggsh ke media sosial, salah satu acaranya adalah berkunjung ke desa traditional Penglipuran di Bangli. Wah… mendadak saya jadi kangen pengen pulang ke Bangli. 

Selain Desa Penglipuran, objek wisata di Bangli sebenarnya sangat banyak. Ada Penelokan, Museum Geology, Gunung Batur dan Danau Batur, desa Trunyan, pura Puncak Penulisan yang merupakan pura tertinggi di Bali, Tirta Sudamala, Cekeng, pura Kehen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat pulang terakhir beberapa waktu yang lalu saya sempat bermain ke Anjungan Tukad Melangit di Banjar Antugan di desa Jehem. Juga letaknya di Kabupaten Bangli. 

Tempat ini lagi happening banget. Banyak orang ke sini untuk melihat betapa dalamnya lembah yang terbentuk oleh aliran Tukad (sungai) Melangit ini dan betapa kerennya jika bisa menunjukkan keberanian berdiri di anjungan yang menjorok ke lembah itu dan berselfie di sana. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya tidak sesimple yang kita pikir. Karena bagi mereka yang tidak terbiasa, hanya untuk naik ke anjungan yang strukturnya terbuat dari bilah kayu dan ditopang oleh bambu itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. Belum lagi saat melihat ke bawah ke jurang di mana sungai Melangit mengalir di dasarnya. Bagi yang memiliki penyakit takut ketinggian tentu akan menjadi masalah besar.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak muda yang suka akan tantangan dan haus akan experience. Mampu berdiri di situ rasanya sesuatu banget. Seakan terasa betapa tabahnya kita mampu mengatasi rasa takut. Sensasinya sungguh berbeda!.Maka beramai-ramailah mereka berselfie ria dan menguploadnya ke media sosial untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sangat percaya diri dan tak takut pada ketinggian. Jadi berwisata ke tempat ini adalah tentang ‘experiencing’ dan ‘enjoying’ sensasi saat berani mengambil keputusan untuk berdiri di sana dan menikmati keindahan alam yang ada.  

Saya sendiri juga mencoba naik. Tapi rasanya kok gamang sekali ya. Serasa ragu akankah bilah bilah kayu itu cukup aman menopang berat tubuh saya? Akankah kaki saya menginjak dengan tepat dan masih di dalam kontrol saya sendiri?  ha ha. 

Selain anjungan  yang menjorok ke lembah, di sana ada juga bangunan balai kayu yang dibuat tinggi agar pengunjung yang datang bisa memandang  ke sekeliling lembah dari atas. Semacam balai pandang begitu. Nah di sini saya sedikit agak lebih berani. 

​ Saya mencoba naik ke atas. Mencoba berselfie ria. Ha ha… ternyata sama gemetarnya. Rasanya kok mau jatuh ya. Harus berpegangan erat-erat nih.Takut terbang ditiup angin * hya ha ha.. tidak tahu dirimerasa ringan saja padahal berat badan jika tidak direm segera bisa mendekati sekarung beras ini.  Tapi serius, kalau di sini saya merasa agak sedikit lebih tenang, setidaknya saya masih melihat tanah. 

Beberapa saat kami bermain di sana. Dan sungguh kebetulan saya bertemu dengan Bapak Wayan Lendra sang penggagas yang akhirnya mengelola tempat wisata ini. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan beliau.

​Anjungan Tukad Melangit atau yang sering disingkat dengan nama ATM ini, berada di banjar Antugan di desa Jehem Kecamatan Tembuku kabupaten Bangli. Menurut Pak Wayan Lendra, tempat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan sejak setahun belakangan ini. 

Bagaimana asal muasalnya, mengapa tempat ini tiba-tiba menjadi hits ? Ternyata ada cerita menarik di baliknya. 
Pak Wayan bercerita, bahwa asal mulanya adalah sekumpulan anak muda yang senang duduk-duduk, berkumpul,  ngobrol ngalur ngidul sambil minum-minum di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan karena minimnya hiburan di desa. Lama kelamaan, mungkin karena tidak enak hati mengingat ada banyak orang berlalu lalang melihat mereka minum-minum, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan orang dewasa, maka mereka nemutuskan untuk membuat tempat kecil di tengah ladang di tepi jurang yang terbebas dari pandangan orang yang berlalu lalang.  Di sana mereka bisa bebas ngobrol, merokok, berkumpul dan minum-minum sepuasnya. 

Barangkali karena tempatnya nyaman, sepi dan pemandangannya indah,  lama lama semakin banyak anak-anak muda teman-teman mereka yang ikut juga suka  berkumpul ke sana. Beberapa orang lalu ada yang mengambil foto -foto selfie di sana dan menguploadnya ke media sosial yang kemudian memicu pembicaraan di Sosial Media. 

Menanggapi itu, Pak Wayan Lendra dan kawan kawan lalu berinisiatif mendirikan anjungan  sehingga pengunjung lebih mudah mengamati dan menikmati keindahan alam sekitar Tukad Melangit dari atas. Anak-anak muda banjar Antugan itupun memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih positive.  Mereka berhenti minum minum dan berniat membangun tempat itu dan menjadikannya sebagai Object berwisata dan latar belakang untuk  berselfie ria. Gagasan ini berkembang dan didukung oleh berbagai pihak. 

Semakin lama semakin banyak orang datang berkunjung. Semakin banyak orang-orang berselfie di anjungan kayu itu  dan semakin banyak yang mengupload foto-fotonya di media sosial. Demikianlah pesona Anjungan Tukad Melangit ini akhirnya menjadi viral di dunia maya. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan karena penasaran. 

Hmmm… cerita yang sangat menarik sekali. Dan sangat positive.  Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan cerita ini langsung dari Bapak Wayan Lendra.Salut pada para pemuda di Banjar Antugan yang layak dikasih jempol untuk keputusan dan semangatnya menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. 

Saat di sana saya disuguhi minuman traditional Air Kelapa Muda Jeruk Nipis. Whuaa… minuman alami yang sangat segar, mengingatkan saya pada waktu kecil. Selain minuman traditional ini, di tempat itu juga ada dagang Tipat Santok -sejenis gado-gado traditional Bali yang rasanya selalu ngangenin. Mantap banget deh. 

Nah teman teman, barangkali ada yang punya rencana ke Bali dalam waktu dekat ini, ada baiknya mampir ke Anjungan Tukad Melangit untuk merasakan sensasi ketinggian alami yang disajikan oleh sebuah bentang alam yang indah. 

Yuk, kita berkunjung ke Bangli!

Rudraksha

Standard

image

Di rumah kakak sepupu saya di Bangli, Bali, tumbuh sebatang pohon Rudraksha (Elaeocarpus ganitris), salah satu pohon yang dianggap penting karena menghasilkan biji-biji yang dianggap suci dan digunakan sebagai bahan dasar untuk tasbih /japa mala. Masih sekeluarga dengan pohon Rijasa (Elaeocarpus grandiflorus) tanaman yang seingat saya dulu  banyak tumbuh di halaman Fakultas Kedokteran Hewan Unud. Bunga Rijasa ini juga banyak dimanfaatkan untuk upacara keagamaan.

image

Pohon Rudraksha ini sudah tinggi melewati atap rumah dan sudah cukup sering berbuah. Kakak saya dan istrinya mengambil buahnya yang sudah matang dan yang jatuh  karena tua untuk dibersihkan.

image

Buah Rudraksha yang sudah tua berwarna biru terang dan menarik ekali warnanya. Buah ini banyak dimanfaatkan untuk pengobatan beberapa jenis penyakit.

image

Biji biji Rudraksha dibersihkan dari kulit dan daging buahnya, direndam beberapa hari lalu dijemur agar kering. Biji-biji yang disnggap suci inilah yang disebut dengan nama Rudraksha atau Ganitri. Rudraksha sendiri berasal dari 2 kata yakni Rudra (Siwa) dan Aksha (air mata). Jadi artinya airmata Siwa.

Selanjutnya biji-biji Rudraksha ini dilubangi dan dirangkai menjadi japamala.

image

Japamala atau tasbih terdiri atas 108 ganitri digunakan umat untuk membantu melafalkan mantram pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (misalnya Gayatri mantram)  sebanyak 108 x tanpa harus khawatir salah hitung, hanya dengan memindahkan jari tangan kita setiap kali satu bait selesai diucapkan.

Selain untuk japamala, ganitri juga dirangkai menjadi gelang atau kalung yang diyakini dapat memberikan manfaat kesehatan bagi penggunanya.

image

Kakak saya menghadiahkan 2 buah gelang ganitri kepada saya. Tentu saja saya sangat senang dan berterimakasih.

Sedikit tambahan informasi tentang ganitri atau rudraksha ini, menurut kakak saya rata rata biji rudraksha memiliki 6 mukhi (lobus, juring). Tapi ada juga yang memiliki mukhi yang diluar itu, walaupun jarang. Semakin jarang tentu semakin mahal harganya.

Seandainya saja kakak saya atau istrinya mau menyediakan, saya rasa cukup banyak juga orang yang ingin memiliki japamala, gelang atau kalung ganitri.

Loloh, Minuman Segar dan Sehat dari Bangli.

Standard

image

Kalau mampir ke Bangli, rasanya ada yang tidak lengkap jika tidak minum loloh. Loloh Bangli. Diantara pembaca, tentu ada yang bertanya-tanya, ” Loloh itu apa? “.
Nah… bagi yang belum tahu sedikit saya jelaskan bahwa loloh adalah minuman tradisional Bali yang memiliki khasiat pencegahan ataupun pengobatan dan perbaikan fungsi tubuh. Ada loloh untuk mencegah sariawan, ada loloh untuk mengurangi batuk, ada yang menurunkan demam, menghilangkan sakit perut, untuk menghilangkan bau badan, untuk mengurangi sakit karena rematik, loloh untuk memecah batu ginjal dan sebagainya.  Terbuat dari ekstrak daun-daunan, akar, kulit batang, bunga atau buah tanaman tertentu. Mirip dengan jamu kalau di Jawa.

Rasanya? Ya… yang namanya obat atau jamu,  wajarlah kalau rasanya biasanya agak pahit sampai sangat pahit.
Walaupun demikian ada juga lho beberapa loloh yang rasanya tidak pahit. Justru enak atau segar. Saking enaknya terkadang orang lupa kalau loloh ini sebenarnya memiliki khasiat pengobatan dan bukan semata pelepas dahaga.

Kemarin saya pergi ke Pasar Bangli dan sempat menemukan 3 buah loloh ini ditawarkan di pasar.

1/. Loloh Cemcem.

image

Loloh Cemcem adalah salah satu loloh khas Bangli. Sesuai namanya, loloh ini dibuat dengan cara meremas-remas daun Cemcem untuk mendapatkan ekstraknya lalu disaring dan dibuang ampasnya. Rasanya asam segar mirip rasa buah Kedondong. Cemcem (Spondias sp) adalah tanaman sejenis Kedondong tapi umumnya pendek seperti perdu dan biasa ditanam di pagar rumah, sawah atau tegalan.  Pohonnya tidak sebesar pohon kedondong. Ditanam orang untuk diambil pucuk daunnya yang masih muda dan berwarna hijau kemerahan.

Secara traditional, loloh daun Cemcem yang tinggi kandungan Vitamin C-nya ini dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Waktu kecil saya sering juga disuruh memetik pucuk daun cemcem ini dari pagar untuk dijadikan loloh atau untuk bumbu masak  pepes.

Selain sebagai loloh tunggal (hanya ekstrak daun cemcem saja), loloh cemcem juga sering ditambahkan ekstrak lain seperti misalnya daun dadap untuk membantu menurunkan demam, atau daun jarak untuk membantu mengurangi gatal kulit atau mencegah sariawan atau daun sirih untuk mencegah infeksi. Ada juga yang nenambahkan gula merah, atau kelapa muda dan sebagainya sehingga fungsi sebagai pemuas dahaganya semakin menguat.

Karena banyak dijual di Desa Penglipuran di Bangli, loloh Cemcem saat ini seakan ikut memperkuat citra Penglipuran sebagai desa traditional yang unik di dunia.

2/. Loloh Bungan Teleng.

image

Loloh cantik yang satu ini sebenarnya cukup unik. Karena sangat jarang dijual orang. Biasanya hanya dibuat sesekali di level rumah tangga. Jadi saya sangat beruntung karena tanpa sengaja menemukannya di pasar. Sesuai namanya loloh itu dibuat dari hasil perasan kembang Telang  atau yang di Bali disebut dengan Bungan Teleng.

Bunga Telang dikenal dengan khasiatnya sebagai obat mata. Orang tua di Bali sejak jaman dulu memanfaatkannya untuk mempertajam penglihatan. Ada yang menggunakannya langsung sebagai pencuci mata, ada juga yang menggunakannya sebagai loloh.

Untuk  obat haus, hasil perasan kembang telang dibubuhi dengan sedikit perasan jeruk nipis atau lemon plus gula batu. Wah…rasanya mantap. Sejuk dan menyegarkan.

Yang nenarik lagi adalah warna loloh ini. Ungu biru terang seperti warna bunganya.

3/. Loloh Kunyit.

image

Nah kalau loloh kunyit saya rasa sudah banyak orang yang tahu. Sama dengan jamu kunyit yang saya temukan di pedagang jamu Jawa yang keliling perumahan di Jakarta. Fungsinya sebagai antibiotik. Banyak dimanfaatkan para wanita untuk mencegah keputihan dan merawat tubuh dan mengurangi bau badan.
Kadang-kadang loloh kunyit juga dikombinasi dengan perasan asam dan atau daun sirih untuk menjaga kesehatan area kewanitaan.

Nah itulah cerita saya tentang beberapa dari jenis loloh yang ada secara turun temurun  dalam tradisi masyarakat Bali, khususnya di Bangli dan yang kebetulan kemarin saya temukan dijual di pasar Bangli.

Sebenarnya masih banyak jenis loloh lain lagi yang ada dalam tradisi masyarakat Bangli, tapi tidak umum diperjualbelikan. Seperti misalnya loloh don kayu manis untuk menenangkan alat pencernaan, loloh don sambilata untuk mengatasi infeksi dan penyakit kulit, loloh akah pule  untuk mengatasi infeksi pencernaan,  loloh don dapdap untuk menurunkan demam, loloh don j untuk menurunkan demam, batuk dan pilek, loloh don sembung bikul untuk mencegah batu ginjal, loloh biyu batu untuk  mengatasi panas dalam, loloh baas cekuh untuk meningkatkan stamina, loloh don beluntas untuk menghilangkan bau badan dan sebagainya masih banyak lagi.

Walaupun jaman dulu belum banyak dokter, rupanya para leluhur kita tetap mampu mempertahankan kesehatannya dengan obat-obatan tradisional semacam loloh ini.

Mampir ke Bangli yuuuk…

Bangli: Jukut Tongkol, Sayuran Gurih Dan Unik.

Standard

imageKalau ada masakan yang paling saya kangeni saat ini adalah Jukut Tongkol alias Sayur Kecambah Kacang Kara dari Bangli, Bali – kampung halaman saya tercinta. Dan sekarangpun setahu saya pedagangnya tinggal 1 orang saja. Dan jika pedagang ini tidak membuat Jukut Tongkol lagi, saya khawatir makanan ini hilang dari peredaran pasar, walau barangkali di dapur-dapur penduduk masih ada masyarakat yang membuatnya sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah mengapa sayur ini jarang ada yang menjual, padahal rasanya sangat enak dan gurih serta banyak orang yang menjadikannya sayur favorit?.
Saya pikir masalahnya adalah di bahan baku. Yaitu Tongkol itu sendiri. Jika kita mudah membeli Kecambah kacang hijau atau kecambah kacang kedelai di pasar, tidak demikian halnya dengan Tongkol. Tongkol atau Kecambah Kacang Kara, tidak umum diperdagangkan di pasar. Jadi, jika seseorang ingin membuat Jukut Tongkol, maka ia sendiri harus membuat kecambah tongkolnya sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana proses memasak Jukut Tongkol agar didapatkan cita rasa yang unik, gurih dan sedap?

2016-02-02-23.36.17.png.pngMenurut keterangan begini nih cara memasaknya:
1/. Tongkol dibersihkan dengan baik. Dipotong ujung akarnya.
2/. Tongkol direbus dengan air kunyit untuk memberi warna kuning dan menjamin bebas dari penyakit. Setelah matang, tongkol ditiriskan.
3/. Bumbu yang terdiri atas Bawang Putih, Kencur dan Bawang Merah plus sedikit cabe dan garam diulek lalu digoreng. Ditambahkan santan dan sedikit tepung beras jika ingin kental. Dimasak hingga matang.
4/. Tongkol  diurap dan diaduk rata dengan bumbu.
5/. Dihidangkan dengan ditaburi bawang goreng, cabai dan kelapa goreng.

Nah…begitu kurang lebihnya.  Lebih mantap lagi kalau dimakan dengan nasi panas -panas. Mantap deh.

Untuk yang penasaran, yukkita berkunjung ke Bangli. Di Pasar Kidul, kita masih bisa menemukan dagangnya pada saat ini. Kita nikmati kuliner Bangli yang unik dan langka ini.

Catatan: Gambar adalah milik Putu Suiraoka Gaing

Buah Pare Yang Terlambat Dipanen.

Standard

Ditinggal kesibukan pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari, banyak yang terjadi pada Dapur Hidup saya. Pucuk pucuk selada yang memanjang, daunnya tidak sempat dipanen. Tanaman pakchoi yang juga segera perlu dipanen agar tak ketuaan.  Anakan pohon kemangi sudah bertumbuh dan sudah waktunya di re-potting. Demikian juga anakan pohon tomat cherry. Sudah mulai besar dan sebentar lagi butuh sandaran. Nah…yang paling menarik adalah buah-buah pare yang tidak sempat saya panen. Sudah terlalu tua, kuning dan beberapa diantaranya meledak. Memperlihatkan biji-bijinya yang merah merona.

Ah!. Sayang sekali tidak sempat dimanfaatkan untuk sayur. Padahal sebelumnya saya sempat berjanji kepada seorang teman akan membawakan hasil panen buah pare ini.
Sudah dua kali saya gagal membawakan buah pare buat teman saya itu.

Pertama, saat buah pare sedang banyak-banyaknya.Tapi sayang sekali ketika saya ingat akan memetik, rupanya buah pare sudah dipetik duluan oleh orang rumah dan dibagikan kepada tetangga yang mau. Keduluan deh.

Berikutnya, ya kali ini. Eh…karena tak sempat memetik, buah buah pare ini keburu matang di pohonnya dan meledak. Batal lagi deh saya membawakan buat teman saya.
Saya agak kecewa memikirkannya.Tapi kemudian saya nenghibur diri saya sendiri. Buah yang kematangan ini tetap bisa saya manfaatkan, saya ambil bijinya untuk bibit saja. Selain itu warna warni kuning, jingga dan merah ini juga cukup cantik menghiasi kebun. Kurang optimal memang, tetapi tidak apa apalah. Toh masih ada gunanya juga.

20160120_070458.jpgTapi pelajaran penting yang bisa saya tarik dari sini adalah bahwa segala sesuatu itu butuh “timing” yang tepat untuk mengeksekusi. Waktu yang tepat. Waktu yang pas. Seperti halnya dengan buah pare ini. Jika dipetik terlalu cepat, ukuran dan tekstur serta tingkat kerenyahan buah pare ini tentu belum optimal. Tapi jika kelewatan, dan terlambat memetiknya, bisa jadi sudah keburu dimanfaatkan oleh orang lain, atau mungkin juga sudah menjadi terlalu tua, meledak dan tidak bisa dimasak lagi. Nah… seperti halnya dalam memetik buah pare, dalam kehidupan sehari-hari juga berlaku hal yang sama. Ketepatan mengeksekusi sesuai dengan waktu, sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang menginginkan hasil yang optimal.

Ingat akan waktu, saya jadi teringat akan konsep Desa-Kala-Patra (Tempat-Waktu-Situasi) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dimana “waktu” merupakan salah satu element penyusun konsep Desa-Kala-Patra ini yang sangat penting untuk dijadikan acuan dalam bertindak dan mengeksekusi sebuah rencana, selain juga elemen ruang dan situasi.

Untuk melakukan tindakan tertentu, setiap orang umumnya menggunakan patokan ini. Menyesuaikan dengan Desa (tempat dimana tindakan itu akan dilakukan), Kala (kapan tindakan itu akan dilakukan) dan Patra (bagaimana situasi/pattern /pola keadaan yang terjadi pada saat dan tempat itu), dengan harapan segala sesuatu prosesnya berjalan dengan baik dan mulus tanpa halangan yang berarti dan akhirnya berhasil dengan baik. Jika salah satu element dari Desa-Kala- Patra ini tidak dipertimbangkan, peluang untuk terjadinya masalah dan ketidaksuksesan tentu akan membesar. Bertindak tanpa memahami kondisi tempat kita berada, hasilnya akan tidak optimal. Bertindak tanpa memahami situasi yang terjadi juga sama. Demikisn juga jika kita tidak memahami waktu.

Salah satu contoh sederhana dalam kehidupan sehari hari, ya seperti apa yang ditunjukkan oleh pohon pare ini kepada saya. Saya tidak memetiknya pada waktu yang tepat. Sehingga buah pare ini keburu masak dan meledak.

Sebuah pengingat bagi diri saya sendiri untuk mengingat kembali Desa- Kala-Patra dalam setiap tindakan dan perbuatan saya.

Songan, Kampung Halamanku Ketika Aku Pulang.

Standard

image

Ini sebetulnya hanya catatan kecil dari acara pulang kampung sehari. Sangat singkat. Sangat padat.  Tak sempat mampir ke mana-mana. Hanya pulang ke desa Songan di Kintamani, Bangli. Jadi sebenarnya tidak ada sesuatu yang aneh dan baru bagi saya.

Walaupun demikian, begitu memasuki wilayah kaldera dan menyaksikan hamparan danau biru nan luas beserta gunung Batur di sebelahnya, tetap saja saya merasa takjub terkagum-kagum akan keindahannya.

Berdiri di hulu danau dan melihat pemandangan desa yang sangat memukau, membuat saya berkali kali mengucapkan rasa syukur atas anugerahNYA. Ikan-ikan kecil berkerumun di bawah permukaan air dekat tepian danau.  Sesekali meloncat dengan riangnya, membuat cipratan kecil yang berkilau diterpa sinar matahari.

2016-01-13-07.50.09.jpg.jpegBurung -burung bangau beterbangan dan hinggap di atas flora mengambang di permukaan danau sambil mencari makan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Lalu ada keramba ikan. Nelayan yang asyik di atas perahunya. Dan ladang ladang sayur yang subur. Pemandangan danau dengan latar belakang bukit bukit yang hijau di satu sisi dan atau Gunung Batur yang kemerahan, membuat desa saya itu sedemikian indah bak lukisan dari negeri entah di mana. Saya mengambil beberapa kali gambar dengan kamera ponsel saya untuk mengenang wajah desa  ketika saya pulang kali ini.

Di sini kehidupan terasa berjalan tenang dan damai. Tanah yang begitu subur, diperkaya dengan berbagai mineral dan nutrisi yang dihadiahkan oleh debu vulkanik Gunung Batur membuat daerah itu menjadi kawasan pertanian sayur mayur dengan hasil yang melimpah di setiap musimnya. Tinggal sedikit usaha menyingsingkan lengan baju, olah tanah dan rawat tanaman, hasil panen pasti akan segera menghapus kelelahan. Begitu suburnya tanah di area ini, walaupun di sana-sini juga dihiasi dengan batu lahar hasil letusan Gunung.

image

Begitu juga danau yang biru. Seolah tak rela penduduknya kelaparan, tak hentinya menyediakan ikan yang berlimpah. Jika lapar, tak punya lauk untuk di masak, tinggal ambil pancing atau jala. Kami menangkap ikan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Demikianlah danau dan gunung Batur menyayangi orang-orang di kampung kami. Semoga setiap orang menyadari dan hanya mengambil secukupnya dari apa yang dianugerahkan tanpa harus merusak lingkungan sekitarnya.

image

Setiap orang memiliki kampung halaman dan mencintainya. Demikian juga saya. walau akhirnya tinggal jauh, rasanya memang tiada tempat yang lebih damai selain di kampung halaman sendiri. Semoga desaku selalu tenang dan damai.

Bangli: Sarcophagus Dukuh Prayu Bunutin.

Standard

Wisata Sejarah- Bangli.

Melihat ketertarikan saya akan benda peninggalan sejarah Sarcophagus yang berada di desa adat cekeng, Sulahan kecamatan Susut, di Bangli, Komang Karwijaya bercerita bahwa sebenarnya Sarcophagus tidak hanya ditemukan di desa Cekeng saja lho, tapi di beberapa desa yang lain juga di Bangli.  Salah satunya adalah di desa Bunutin. Tepatnya di Dukuh Prayu. Nah, barangkali diantara para pembaca ada yang sama dengan saya, yakni memiliki ketertarikan untuk melakukan wisata sejarah, yuk kita merapat ke dukuh Prayu di desa Bunutin, Bangli.

Tentu pertanyaan pertama saya adalah, sama nggak sih Sarcophagusnya? Karena kemungkinan besar sarcophagus-sarcophagus itu berasal dari kurun waktu yang sama,  kurang lebih sarcophagusnya serupa lah.  Tetapi saya mendapatkan keterangan yang sangat menarik juga tentang sarcophagus di dukuh Prayu ini.

Total sarcophagi ada 9 buah yang letaknya sesuai dengan mata angin.  Utara, Timur laut, Timur, Tenggara. Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut dan  di Tengah. Saya tidak mendapatkan informasi lebih jauh mengapa letaknya harus sedemikian rupa di sembilan arah mata angin?. Mirip posisi sembilan mata angin dari Dewata Nawa Sanga. Akan tetapi saya tidak yakin apakah ini ada kaitannya dengan Dewata Nawa Sanga, mengingat sarcophagi ini diduga sudah ada sejak jaman pra Hindu.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Menurut keterangan sebagian besar sarcophagus-sarcophagus itu pada saat ini tertutup tanah dan di atasnya berdiri pura. Yang lumayan terbuka dari tutupan tanah adalah yang posisinya di Timur. Sarcophagus ini masih kelihatan menempel di dinding tanah. Barangkali karena saking tuanya telah tertimbun tanah entah dari bekas letusan gunung ataupun humus yang memadat. Yang jelas sebagian masih tertutup tanah.  Sarcophagus kelihatan cukup utuh. Masih terdiri atas  bagian bawah (palungan) dan penutup (lid).  Hanya saja ada lubang di tengahnya. Diduga barangkali karena jaman dulu orang-orang yang pertama kali menemukan tidak begitu paham apa itu sarcophagus lalu penasaran ingin tahu ada apa di dalamnya. Mereka mungkin menemukan ternyata ada sisa-sisa kerangka manusia beserta  pernak pernik bekal kuburnya. Lalu karena takut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, masyarakat lalu cenderung membiarkan sarcophagus itu tetap berada di tempatnya dan setengah tertutup tanah. Bahkan membuat pura kecil di dekatnya untuk melakukan upacara mendoakan roh sang pemilik sarcophagus.

Yang menarik, sama dengan sarcophagus yang di Cekeng, sarcophagus inipun memiliki tonjolan pintu di depannya dengan ukiran yang menyerupai kura-kura. Sayangnya tonjolan yang bagian bawahnya kelihatan sudah putus.

Sarcophagus yang di Timur Laut kondisinya memprihatinkan karena pecah. Barangkali karena kurangnya pemahaman masyarakat jaman dulu yang pertama kali menemukan benda bersejarah ini sebagai sarcophagus.

Berikutnya saya juga diinformasikan bahwa yang berada di Tenggara, penutupnya juga sudah tidak ada.  Hanya tinggal palungan bagian bawah yang sudah kosong. Karena kosong dan posisinya tengadah, serta berada di alam terbuka, tentunya pada musim hujan, sarcophagus ini menjadi tempat penampungan air. Konon jaman dulu masyarakat memanfaatkannya untuk air minum ternak babi, dengan harapan ternaknya cepat hamil dan beranak. Jadi dalam hal ini sarcophagus dikaitkan dengan pembawa kesuburan. Tidak mengherankan, karena di beberapa tempat keberadaan sarcophagus juga dikaitkan dengan kesuburan sawah dan tanaman ladang juga.

Kemudian sarcophagus lain yang juga menarik ceritanya adalah yang posisinya di utara. Konon jaman dulu dari mata kura-kura hiasan tombol sarcophagus ini keluar minyak. Nah, bagaimana penjelasannya – saya kurang paham. Tetapi tentunya itu semua sangat menarik untuk diteliti lebih jauh.

Nah, itu adalah informasi tentang sarcophagus-sarcophagus yang ada di dukuh Prayu, desa Bunutin di Bangli, Bali. Saya ingin sekali ke sana. Ingin sekali melihat langsung dari dekat. Sayang saat ini masih belum punya kesempatan.

Para pembaca yang barangkali sedang berada di Bali atau sedang merencanakan liburan di Bali, bisa memasukkan desa Bunutin di Bangli sebagai salah satu tujuan wisata. Agar mengenal Bali dengan lebih dekat lagi.

Yuk kita berkunjung ke Bangli!.Kita pelajari sejarah dan cintai tanah air kita!.

Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.