Tag Archives: Bali

Kupu-Kupu Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sama dengan di daerah lain di Indonesia, di Bali Kupu Kupu juga dianggap sebagai mahluk yang sangat cantik dan menarik perhatian kita, terutama anak-anak. Akan tetapi, untuk menjadi Kupu-kupu, mahluk ini harus melalui beberapa fase kehidupan terlebih dahulu. Nah apa bahasa Bali dari Kupu kupu, ulat dan kepompong ?

Kupu kupu Junonia – gbr dari nimadesriandani@wordpres.com

1/. Kekupu/Kupu Kupu = Kupu Kupu. Secara umum orang Bali menyebut Kupu-Kupu sebagai Kupu -kupu juga, dan biasanya disingkat dengan Kekupu. Umumnya jenis kupu-kupu tidak diberi nama khusus, hanya tergantung warnanya saja. Misalnya Kupu-kupu Putih, Kupu-kupu Pelung ( Kupu-kupu Biru), Kupu-kupu Kuning, dsb.

Kupu kupu Barong – gbr dari nimadesriandani@wordpress.com

2/. Kupu Kupu Barong = Rama Rama. Kupu- kupu Barong adalah Kupu kupu superbesar alias Rama- Rama yang sekarang mulai langka keberadaannya.

Ngenget

3/. Ngenget = Ngengat/Moth. Ngenget adalah sejenis kupu kupu yang sayapnya selalu terbuka dan antenanya berbulu. Biasanya aktif di malam hari. Kata Ngenget, sering tertukar dengan kata Ngetnget, yang berarti binatang kecil yang merusak barang barang yang terbuat dari kertas, lontar, kain.

4/. Uled = Ulat. Tentu semuanya tahu, ketika telur Kupu-kupu menetas menjadi Ulat.

Bijal gadang

5/. Bijal = Ulat besar tidak berbulu. Biasanya merupakan ulat dari Kupu kupu besar dan Rama Rama. Misalnya Ulat Kupu kupu jeruk, disebut dengan bijal.

6/. Geeng = Ulat Bulu, sangat gatal jika kena kulit.

Kacut alias Kepompong

7/.Kacut = Kepompong, adalah fase peralihan antara ulat dengan Kupu-kupu.

Nama Buah- Buahan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Seorang teman pernah bercerita “Diantara semua buah-buahan, aku ya paling doyan sama Gedang“.

Tampa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa teman saya itu sangat suka makan buah Pepaya. Penyebabnya karena template berpikir saya adalah Bahasa Bali. Dalam Bahasa Bali, Gedang adalah Pepaya. Begitu mendengar kata “Gedang”, otomatis yang muncul di kepala saya adalah gambar Pepaya.

Sementara yang dimaksudkan dengan Gedang oleh teman saya adalah “Pisang”. Karena Gedang dalsm Bahasa Jawa artinya Pisang .

Hingga akhir percakapan, barulah saya ngeh jika teman saya itu sedang membicarakan buah pisang πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Oh…indahnya Indonesia!! Bhineka Tunggal Ika.

Itu adalah salah satu contoh kejadian yang membuat saya tertarik untuk mendengarkan nama nama buah, sayuran, bumbu dan lain lainnya dalam berbagai Bahasa daerah di Indonesia.

Karena Bahasa Ibu saya adalah Bahasa Bali, maka saya akan sharing apa nama buah- buahan ini dalam Bahasa Bali

1/. Pisang = Biyu.

2/. Pepaya = Gedang.

3/. Jeruk = Juwuk.

4/. Jeruk Bali = Jerungka.

5/. Jeruk Keprok = Sumaga.

6/. Semangka = Sumangka.

7/. Apel = Apel.

8/. Melon = Melon.

9/. Duku = Ceroring

10/. Langsat = Langsep.

11/. Menteng = Kepundung

12/. Kecapi /Sentul = Sentul

13/. Salak = Salak.

14/ . Gowok = Kaliasem

15/. Kiwi = Kiwi

16/. Anggur = Anggur.

17/. Markisa = Anggur Bali.

18/. Kemang = Wani.

19/. Mangga = Poh

20/. Bacang/Ambacang = Pakel.

21/. Manggis = Manggis.

22/. Sawo = Sabo.

23/. Sawo Kecik = Sawi Kecik.

24/. Leci = Leci.

25/. Kelengkeng = Kelengjeng.

26/. Rambutan = Buluan.

27/. Durian = Duren.

28/. Nangka = Nangka.

29/. Timbul = Timbul.

30/. Terap = Teep.

31/. Sukun = Sukun.

32/ . Delima = Delima.

33/. Alpukat = Apokat.

34/. Belimbing = Belimbing.

35/. Nenas = Manas.

36/. Jambu = Nyambu.

37/. Jambu Biji = Sotong.

38/. Sirsak = Silik.

39/. Srikaya/Nona = Silik Badung.

40/. Bidara = Bekul.

41/. Kelapa = Nyuh.

42/. Kelapa Muda / Degan = Kuwud.

43/. Buah Naga = Buah Naga.

44/. Kepel = Kepel.

45/. Labu = Tabu.

46/. Labu Siam = Jepang.

47/. Buni = Boni.

48/. Jamblang /Duwet = Juwet

49/. Kweni = Poh Eni.

50/. Buah Kersen = Buah Singapur.

51/. Mundu = Mundu.

52/. Katulampa = Katilampa.

53/. Ara = Aa.

54/. Pear = Pir.

55/. Timun = Timun

Ada beberapa buah yang tidak umum/ tidak pernah saya lihat ada di Bali, misalnya Kesemek, Cempedak. Jadi saya tidak tahu apa Bahasa Balinya. Barangkali memang tidak ada.

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali – Part 1.

Standard
Anjing Kintamani.

Ada 2 kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada Binatang/Hewan. Yaitu 1/. Ubuhan untuk hewan domestik. 2/ Buron untuk hewan non domestik (hewan liar).

Selain kata Ubuhan dan Buron, orang Bali memiliki kata “Gumatat-Gumitit” untuk kelompok binatang merayap , serangga dan binatang kecil lainnya.

Di tulisan ini saya hanya akan membahas nama Hewan Domestik alias Ubuhan saja dulu.

Hewan domestik adalah jenis jenis hewan yang merupakan peliharaan manusia, atau biasa hidup dan tinggal bersama manusia. Hewan Domestik dalam Bahasa Bali disebut dengan Ubuhan. Ubuhan berasal dari kata “Ubuh+ an”. Ubuh artinya dipelihara. Jadi Ubuhan = hewan peliharaan.

Apa saja yang termasuk ke dalam Ubuhan? Dan apa nama-nama Ubuhan itu dalam Bahasa Bali?. Yuk simak berikut ini:

1/. SIAP = AYAM.

Siap adalah nama umum untuk Ayam. Tetapi Ayam jantan (Siap Muani) dalam Bahasa Bali disebut dengan Penglumbah atau Manuk. Ayam Betina (Siap Luh) disebut dengan Pengina. Sementara anak ayam disebut dengan Pitik. Ayam hutan disebut dengan Keker.

Selain itu orang Bali memberi nama pada beberapa jenis ayam berdasarkan warnanya, berdasarkan bulunya, berdasarkan tajinya, dan ciri ciri fisik lainnya.

Berdasarkan warnanya, seperti misalnya: Siap Selem (Ayam hitam), Siap Biying (Ayam merah), Siap Buik (warna campur-campur), Siap Brumbun (warna campur merah, putih, hitam), Siap Kelau (warna abu abu).

Berdasarkan jenis bulunya, misalnya : Siap Sangkur (ayam jantan yang bulu ekornya pendek), Siap Srawah (ayam yang bulunya tebal) , Siap Grungsang (ayam yang pertumbuhan bulunya tidak rapi, ada yang mencuat ke atas, ke bawah, ke kiri. Ke kanan. Kelihatan seperti ayam berbulu keriting), Siap Godeg ( ayam yang kakinya tumbuh bulu), Olagan (ayam yang gundul /tidak ada bulunya).

2/. ANJING =CICING.

Cicing adalah nama umum untuk Anjing. Sedangkan anak Anjing disebut dengan Konyong.

Di beberapa daerah di Bali, selain disebut dengan Cicing, Anjing juga disebut dengan Kuluk. Sama artinya. Tetapi di bagian daerah yang lain terkadang Kuluk diartikan sebagai Anak Anjing. Sama dengan Konyong.

Cicing dan Kuluk adalah Bahasa kasar/bahasa umum, sedangkan bahasa Bali halus Anjing adalah Asu.

Cicing Belang Bungkem adalah sebutan untuk anjing yang bulu di sekitar moncongnya berbeda dengan warna bulu tubuhnya. Misalnya Anjing berwarna coklat tetapi di sekitar mulutnya berwarna hitam. Anjing ini sering digunakan sebagai hewan kurban.

3/. MIONG = KUCING.

Miong adalah nama umum untuk Kucing. Kucing jantan disebut Garong. Anak kucing di beberapa wilayah disebut dengan Tai. Tetapi karena namanya yang sama dengan kotoran (tai), kata ini jarang disebut orang. Cukup dengan “Panak Miong” (anak kucing) saja.

Ada lagi nama Salon-Salon untuk mengatakan kucing jantan yang super besar. Nama “Salon-Salon” jaman dulu digunakan oleh ibu-ibu untuk menakuti anaknya yang tidak mau tidur walau malan sudah larut. “Ayo segera tidur, ntar dikejar Salon-Salon”. Sang anakpun terpaksa tidur karena takut akan Salon-salon πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Selain Miong, kucing juga disebut dengan Meng.

4/. BEBEK = BEBEK.

Sama dalam Bahasa Indobesia, Bebek juga disebut Bebek dalam Bahasa Bali. Anak Bebek disebut dengan Meri. Kalau jamak menjadi Memeri.

Ada beberapa jenis Bebek ysng istimewa di Bali, antara lain, Bebek Putih Jambul, yaitu bebek berwarna putih yang memiliki jambul di kepalanya, dianggap sebagai bebek yang indah dan bisa terbang cukup tinggi. Namanya disebut dalam nyanyian ” Bebeke putih jambul mekeber ngaja nganginang. Teked kaja kangin ditu ia tuwun mengindang”. Artinya bebek putih jambul terbang ke arah timur laut. Begitu tiba di timur laut. Bebekpun terbang turun berputar putar.

Bebek Kalung, yaitu bebek yang memiliki tanda lingkaran (biasanya putih/hitam) di lehernya. Bebek Kalung dianggap menghasilkan telor yang banyak.

5/. CELENG = BABI

Babi secara umum disebut dengan Celeng di Bali. Celeng adalah bahasa biasa/kasar, sedangkan bahasa halusnya adalah Bawi. Babi betina disebut dengan Bangkung. Babi jantan disebut dengan Kaung. Anak Babi disebut dengan Kucit.

Sementara, Babi Hutan disebut dengan Celeng Alasan.

6/ . SAMPI = SAPI.

Sampi adalah kata Bahasa Bali yang artinya Sapi. Kata Sampi berlaku untuk kedua jenis kelamin laki dan perempuan. Tetapi Sapi jantan yang sangat kokoh bodinya disebut dengan Jagiran. Anak sapi disebut dengan Godel.

Walaupun orang Bali yang mayoritas beragama Hindu tidak memakan daging Sapi, tetapi Sapi tetap dipelihara di kalangan masyarakat agraris untuk membantu mengolah sawah atau kebun.

7/. JARAN = KUDA.

Jaran adalah kata dalam Bahasa Bali untuk Kuda. Tidak ada nama khusus untuk jenis kelamin jantan atau betina. Tetapi untuk anak kuda, ada namanya yaitu Bedag.

Jaman dulu Jaran memiliki peranan penting dalam transportasi. Mengingat bahwa Jaran sekarang tidak banyak lagi dipelihara orang, maka banyak kaum muda di Bali yang tidak tahu lagi apa arti kata Bedag. Walaupun kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari hari.

Ah cai wak cenik sing nawang bedag!“. Artinya “kamu anak kecil nggak tahu apa itu bedag” , secara tidak langsung kalimat itu mengatakan bahwa lawan bicaranya tidak tahu apa apa. Karena ia tidak tahu apa arti kata Bedag. Sing nawang bedag = tidak tahu apa apa.

Ironisnya terkadang yang ngomong begitupun sebenarnya tidak tahu juga apa arti kata Bedag.

8/. KEBO = KERBAU.

Kebo adalah kerbau. Serupa dengan Sapi , orang memelihara kerbau untuk membantu mengolah tanah.

Saya belum pernah mendengar nama khusus untuk Kerbau jantan dan betina. Tapi anak Kerbau disebut Bedigal. Jika kerbau berwarna putih maka disebut dengan Misa.

9/. KEDIS =BURUNG.

Kedis adalah sebutan untuk segala jenis burung. Dan nama jenisnya tinggal mengikuti. Misalnya Kedis Dara = Burung Dara/Merpati, Kedis Perit = Burung Pipit. Kedis Guak = Burung Gagak, Kedis Celalongan = Burung Kepodang. Dan sebagainya. Bahasa halus untuk Kedis adalah Manuk.

Tidak ada nama khusus untuk jantan dan betina. Juga untuk anak burung biasanya hanta disebut dengan nama Panak Kedis saja atau beberapa orang nenyebutnya dengan nama Piyik atau Pitik. Sama dengan anak ayam.

10/. KAMBING = KAMBING.

Kambing tidak punya nama khusus dalam Bahasa Bali. Namanya ya Kambing saja. Kambing jantan dewasa disebut Bandot. Sedangkan anaknya Kambing bernama Wiwi.

Kata Bandot sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk mengibaratkan anak laki-laki yang sudah dewasa. Misalnya” Ah, suba kanti bandotan, tusing masi bani sirep pedidi“. Artinya” Ah, sudah dewasa (anak laki) begini, kok masih juga tidak berani tidur sendiri”.

Gerubug Corona Dan Nyepi.

Standard
Tapak Dara.

Gerubug, adalah Bahasa Bali untuk kata Wabah. Wabah yang menyebabkan kematian masal, baik untuk tanaman, binatang maupun manusia, tidak termasuk bencana alam di dalamnya. Ada tiga jenis Gerubug yang dikenal, yaitu:

1/. Merana, atau Gerubug Mrana adalah wabah penyakit yang menyerang tanaman. Contoh Merana yang dianggap sangat serius di Bali, misalnya Hama Wereng yang menyebakan ratusan hektar sawah rusak. Contoh lain adalah serangan Virus CVPD yang merusak perkebunan jeruk di Bali. Atau hama tikus yang merajalela dan mengakibatkan gagal panen.

2/. Gerubug Sasab, atau lebih sering disebut dengan Gerubug saja, adalah wabah penyakit yang menyerang hewan. Contohnya wabah pada ayam yang disebabkan oleh serangan Paramyxovirus alias penyakit Tetelo (Newcastle Disease). Penyebarannya sangat cepat, dan mortalitasnya pun sangat tinggi. Tiba tiba saja beratus ratus ayam mati di peternakan dan di kampung.

Lalu belakangan ini, ada lagi berita di koran tentang wabah pada ternak Babi. Dimana saya baca tiba tiba puluhan babi mendadak mati. Rupanya serangan African Swine Fever Virus yang sangat menular dan mematikan.

3/. Gerubug Gering, yakni wabah penyakit yang menyerang manusia. Contohnya, wabah diare/ disentri akibat serangan bakteri shigella atau amuba disentri. Banyak orang yang meninggal. Atau wabah demam berdarah, akibat gigitan nyamuk yang membawa Virus Dengue, juga menyebabkan banyak orang meninggal. Nah, sekarang muncul Gerubug baru lagi yang disebabkan oleh Virus Corona. Gerubug Corona. Artinya ya Wabah Corona.

Saya mencoba mengingat ingat apa yang biasanya orang Bali lakukan jika menghadapi Gerubug atau wabah. Tebtunya di luar penanganan medis yang biasa yang juga dilakukan.

Pertama adalah Tapak Dara. Simbul seperti tanda tambah berwarna putih ini dianggap sebagai simbul perlindungan. Saya ingat waktu kecil, ketika terjadi wabah disentri kolera di kampung saya, setiap orang nemasang tanda Tapak Dara ini di gerbang halaman rumahnya. Tuhan Yang Maha Esa akan melindungi.

Lalu ada beberapa upacara yang dilakukan dengan maksud pembersihan bumi dan isinya dari berbagai macam wabah penyakit dan bencana. Misalnya Prayascita – upacara pembersihan, Nangluk Merana – upacara penolak wabah hama tanaman, Labuh Gentuh yaitu upacara penyucian agar tercapai keharmonisan alam, Tawur – misalnya Tawur Kesanga – upacara pembersihan bumi dan alam semesta dari segala wabah dan penyakit. Yang diadakan sehari sebelum hari raya Nyepi.

Upacara “Tawur Kesanga” yang artinya membayar kembali apa yang telah kita ambil dari alam (tawur = bayar) yang dilakukan pada bulan ke sembilan (ke sanga), yakni satu hari sebelum hari raya Nyepi. Dengan demikian diharapkan alam akan kembali dibersihkan dari segala bentuk dosa kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, juga dari segala bentuk wabah peΓ±yakit yang membuat gerubug.

Rangkaian upacara dimulai dari prosesi melasti – pembersihan di tepi laut. Orang Bali percaya bahwa penyakit datang dari seberang lewat laut. Oleh karena itu pembersihanpun dilakukan dekat laut. Upacara ini melibatkan banyak orang. Hampir semua anggota keluarga mengikuti.

Sore hari menjelang malam, dilakukan upacara pengerupukan. Yakni beramai ramai mengusir segala bentuk wabah, penyakit, setan, sifat sifat buruk, angkara murka. Darimana? Tentunya pertama diusir dari diri sendiri dulu, lalu diusir dari pekarangan rumah ke jalan, lalu dari banjar diusir ke luar, berikutnya dari desa diusir lagi, demikian seterusnya sehingga semua bentuk penyakit itu bisa keluar dari Bali. Bentuk penyakit dan setan pengganggu itu dilambangkan dengan Ogoh-ogoh – raksasa buruk muka, yang biasanya dibakar seusai upacara. Sehingga yang tinggal setelahnya hanya ketenangan, kedamaian dan keselarasan dengan alam.

Esoknya tinggal Nyepi. Lock-down dalam arti yang sesungguhnya. Karena orang tidak keluar rumah dan tidak melakukan aktifitas yang berarti selama 24 jam.

Nah… sekarang berkaitan dengan wabah Corona ini, di mana sudah disarankan agar setiap orang merenggangkan jarak satu sama lain (Self Distancing) dan menjauhi keramaian agar terhindar dari resiko penularan, saya jadi terpikir bagaimana nanti saudara saudara saya di Bali akan melakukannya. Besar kemungkinan upacara melasti yang biasanya beramai ramai itu akan sulit dilakukan.

Demikian juga Upacara Pengrupukan. Upacara ini juga biasanya dipenuhi dengan keramaian. Sering kali orang satu banjar (ratusan kk) yang mengusung Ogoh-ogoh bertemu dengan banjar lainnya yang juga mengusung Ogoh ogoh di perempatan jalan. Persatuan masa yang membesar tentu terjadi dan tak bisa dihindarkan. Nah, jadi bagaimana dengan himbauan agar kita menjauhi keramaian?. Rasanya sangat sulit. Apalagi Pemda Bali menyatakan Bali sebagai Siaga Corona, besar kemungkinan pawai Ogoh-ogoh tidak bisa dilaksanakan.

Semoga semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Upacara Tawur Kesanga yang bermaksud membersihkan bumi dan alam dari segala wabah penyakit bia tetap berjalan walaupun tanpa keramaian.

Selamat Menyongsong Hari Raya Nyepi, teman -teman. Semoga damai di hati, damai di bumi, damai alam semesta. Semoga kita semua terhindar dari bahaya Corona.

Batun Teep Dan Tubuh Kita.

Standard
Batun Teep.

Waktu saya kecil, ada seorang nenek yang selalu berjualan Batun Teep di pojok lapangan kabupaten dekat rumah saya. Saya ingat akan rasanya yang sangat enak , gurih dan garing. Sayang sekali, belakangan ini sangat sulit menemukan cemilan Batun Teep ini lagi.

Batun Teep. Mungkin sebagian ada yang bingung dengan apa itu Batun Teep?. Nah, buat mereka yang belum tahu, saya ingin cerita sedikit. Batun Teep atau Biji Terap adalah salah satu camilan traditional yang terbuat dari biji-biji buah Teep yang disangrai atau digoreng. Rasanya memang sangat enak dan gurih.

Teep alias Terap, atau Tarap (Artocarpus odoratissimus) sendiri adalah tanaman sekeluarga dengan nangka, yang memiliki buah dengan biji jecil kecil dan banyak.

Sudah lama sekali saya tidak pernah melihat Batun Teep lagi. Mungkin sudah lebih dari 25 tahun. Iya. Memang selama itu. Tapi saya masih ingat banget rasanya yang gurih dan garing itu. Saking hobbynya makan Batun Teep, saya bisa menang jika ada lomba cepat-cepatan makan Batun Teep dengan kakak dan adik-adik saya.

Beberapa waktu lalu saat sedang lihat lihat Facebook saya menemukan seseorang berdagang Batun Teep secara online. Alangkah girang hati saya. Wah…ini saatnya saya menikmati Batun Teep lagi. Harganya Rp 20 000 per bungkus yang isinya 250g. Tak tanggung-tanggung saya order 2 kg. Jarak jauh ini ya. Denpasar -Jakarta. Daripada ntar bolak-balik lagi belinya.

Sayapun mengorder. Kebetulan banget pedagangnya baik dan ramah.

Hari ini sepulang kerja saya menemukan kuriman Batun Teep sudah sampai di rumah. Tak sabar lagi, saya buka kemasannya dengan gunting. Kress!!!. Muncullah biji biji gurih yang disangrai coklat keemasan dan sedikit menghitam itu keluar. Sangat senang melihatnya. Nyam nyam πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

Saya ambil sebiji dan saya gigit untuk mengupas kulitnya. Muncul bijinya yang bersih, coklat dan mengkilat. Saya kunyah.

Kruk kruk.. OUCHHHH!!!!!. Oh…..Gigi saya terasa sakit. Rasanya nyaris mau lepas. Ternyata biji Batun Teep ini agak keras. Saya periksa gigi saya hati-hati. Untunglah tidak terjadi gangguan yang serius. Biji ini hanya agak keras saja dibanding biji biji lain.

Ooh ya.. Barulah saya ingat jika biji atau Batun Teep ini dari dulu memang keras. Jadi bukan tiba tiba jafi keras. Tapi mengapa baru terasa?

Ha ha ha… ternyata umur memang tidak bisa dibohongi. Batun Teep dari dulu memang keras. Tapi karena gigi saya waktu kecil masih sangat kuat, kerasnya biji Teep bisa saya abaikan. Enteng saja mengunyahnya. Tidak terasa.

Tapi sekarang, dimana gigi geligi mulai merapuh, gusi juga mulai sensitif, ternyata mengunyah Batun Teep tidaklah semudah dahulu saat masih kecil.

Kejadian ini membuat saya jadi lebih memikirkan kesehatan saya.

Berjalannya waktu, membuat beberapa hal menjadi semakin meningkat dalam diri saya. Seperti misalnya pengalaman saya, intisari pelajaran hidup yang saya tangkap, itu semuanya semakin meningkat.

Tetapi di sisi lain, saya menyadari jika selain mengalami peningkatan, saya juga mengalami penurunan atau kemunduran dalam beberapa hal yang tak bisa saya hindarkan. Misalnya kekuatan anggota tubuh saya, ternyata tidak seperti dulu lagi. Ia melemah. Buktinya mengunyah Batun Teep sekarang jadi tidak semudah dulu lagi.

Ibaratnya jika dulu saya menggigit Batun Teep, maka Batun Teepnya lepas dari kulitnya dan bijinya hancur saya kunyah. Tapi jika sekarang saya menggigit Batun Teep, bisa jadi gigi saya yang lepas dan hancur πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Okey. Saya kembali memandang ke Batun Teep di dalam piring ini, seolah ia berkata kepada saya, ” Jangan sok merasa selalu muda!!!”. Ha ha ha.. iya iya.

Tentu saja saya tetap memakan Batun Teep ini satu per satu walaupun kali ini memang harus pelan pelan.

Top Sepuluh Kata Bebauan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Selagi ngobrol dengan seorang saudara di Bali, tiba tiba saya berkeinginan untuk menuliskan nama berbagai bebauan dalam Bahasa Bali.

Bau dalam Bahasa Bali umum disebut Bo ( kasar/biasa), Ambu (halus), Ganda (lebih halus lagi).

Kata “Berbau” jika di terjemahkan ke dalam Bahasa Bali menjadi “Mebo”, atau “Mambu”. Sedangkan kata “Baunya” menjadi “Bone” atau “ambune”.

Bau alias Smell dalam semua Bahasa tentu ada banyak jenisnya. Ada yang wangi, busuk, amis dan sebagainya. Bau adalah sesuatu yang ditangkap oleh hidung kita. Nah bagaimana orang Bali mengatakan berbagai macam bebauan ini?. Yuk kita simak!.

1/. MIYIK.

Kata “Miyik” dalam Bahasa Bali artinya Wangi. Smell Good. Smell nice. Baunya enak. Bau yang kita cium dari botol parfum. Bau bunga bunga, beberapa jenis kayu, bau dari dupa yang dibakar, itu digolongkan sebagai Miyik.

Miyik sangat penting dalam kehidupan orang Bali. Untuk mendapatkannya orang Bali banyak menggunakan dalam kehidupan sehari hari, mulai dari perawatan tubuh (seperti air kumkuman untuk mandi dan keramas, ratus untuk mewangikan badan dan rambut, boreh miyik untuk merawat kulit agar halus ), ibadah (bunga bunga, pengasepan- pembakaran kayu cendana/gaharu, dupa).

Sumber-sumber yang diketahui memberi bau wangi antara lain, Bunga Cempaka, Sandat (Kenanga), Mawar (Rose), Pudak (bunga pandan), Anggrek Linjong (Angrek Kalajengking), Irisan Daun Pandan, Srikili (Yellow Mimosa), Cenana ( Cendana), Majagau( Gaharu).

Contoh penggunaan:

Sekadi Merak mengelo, mekebyur ambune miyik“. Artinya, “Bagaikan burung Merak menari, bertaburan baunya wangi”.

Kata Miyik ini juga memiliki Superlatif. Jika sangat harum, maka orang Bali akan mengatakan “Miyik Ngalub”. Artinya Wangiiiii banget.

2/. PENGIT.

Pengit adalah kaya dalam Bahasa Bali untuk mengatakan bau busuk.

Bau yang digolongkan sebagai “Pengit” antara lain bau yang berasal dari bangkai, dari kotoran, bau kentut, bau bunga lading. Itu Pengit.

3/. ANDIH.

Andih dalam bahasa Bali artinya Amis. Amis ini termasuk bau yang tidak enak walaupun bukan busuk. Tidak disukai.

Yang digolongkan ke dalam bau Andih antara lain bau ikan/bintang air tawar maupun laut, bau darah, bau daging, bau lantai/meja yang dipel dengan lap kotor.

4/. ANGIT.

Angit adalah kata untuk mengatakan bau gosong alias bau terbakar.

Kata Angit ini merujuk pada bau saat sampah dibakar, kain terbakar, korslet listrik.

5/. NYANGLUH.

Nyangluh adalah kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada bau gurih makanan. Sesuatu yang enak dan membuat terbit air liur. Misalnya wangi telor dadar. Itu nyangluh. Wangi kelapa yang dibakar itu juga nyangluh.

6/. APEK.

Tidak berbeda dengan Bahasa Indonesia, bau yang timbul dari sesuatu yang lembab dan kemudian terkontaminasi bakteri disebut dengan Apek.

Contohnya bau pakaian yang menumpuk dan belum dicuci. Bau handuk yang tidak kering akibat hujan berhari hari. Itu apek.

7/. MASEM.

Masem dalam Bahasa Bali artinya Asem. Bau asem. Merujuk pada bau cuka, bau jeruk dan sebagainya yang juga berkaitan dengan rasa di lidah.

Tetapi kata Masem tidak hanya terbatas pada bau yang berkaitan dengan benda benda yang berasa asem di lidah. Juga bisa merujuk pada bau keringat.

Contoh pemakaian dalam kalimat ” Beh, masem san bon peluhne I Ketut” artinya “Waduh, asem banget bau keringatnya Si Ketut”.

Kata “Masem” juga memiliki Superlatif. Jika orang Bsli ingin mengatakan sangat asem, maka is akan bilang “Masem Kelincung”. Artinya super duper asem.

8. MANGSIT.

Mangsit adalah kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada bau kencing. Bau amoniak. Pesing dalam Bahasa Indonesianya.

Contoh pemakaiannya dalam kalimat “Nyen ngelah mionge to nah? Mangsit san bon panyuhne”. Artinya “Siapa gerangan pemilik kucing itu?. Pesing banget bau pipisnya”.

Kata “Mangsit” juga memiliki Superlatif, yaitu “Mangsit Sengir” yang artinya pesiiiing banget.

9. NGAS.

Kata “Ngas” mengacu pada bau kambing. Sering digunakan untuk mengibaratkan bau badan yang tidak enak. Misalnya pada orang yang malas mandi. Bau keringat yang tidak enak. Baunya Ngas seperti bau kambing.

10. MANIS.

Bau manis sama artinya seperti dalam Bahasa Indonesia. Misalnya Bau Strawberry itu dianggap manis, walaupun rasa aslinya asem. Mangga yang harum seperti Pakel atau Kweni itu juga disebut manis baunya.

Superlayif untuk kata “Manis” adalah “Melenyad”. Manis Melenyad artinya manisnya kebangetan. Tetapi kata Manis Melenyad ini lebih sering dikaitkan dengan rasa ketimbang bau.

Demikianlah teman teman. Sepuluh kata bebauan dalam Bahasa Bali. Semoga tulisan ini berguna bagi yang ingin mengenal Bahasa Bali.

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali -Part II.

Standard

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya “Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Bagian II ini lebih membahas tentang ucapan Salam Umum yang tidak terikat dengan waktu ataupun sebuah kejadian, Ucapan buat sahabat atau kerabat yang sedang sakit atau kesusahan dan ucapan Bela Sungkawa jika ada sahabat atau kerabat yang meninggal dunia.

6/. Ucapan Salam saat Berjumpa

Saat berjumpa, kalimat salam pertama yang diucapkan oleh orang Bali adalah “Om Swasti Astu”. Ucapan ini adalah doa dari yang mengucapkan Salam agar orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Karena kata Om adalah seruan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Swasti artinya dalam keadaan baik, dan Astu artinya Semoga.

Om Swasti Astu = Ya Tuhan, Semoga (orang yang saya ajak bicara ini) Engkau berikan dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Ucapan Om Swasti Astu bisa dijawab dengan doa yang sama kembali, Om Swasti Astu. Bisa juga dijawab dengan Om Shanti Shanti Shanti. Shanti = damai.

Diucapkannya kata Shanti sebanyak 3 x adalah merepresentasikan doa pengucap agar kedamaian yang terjadi di 3 Strata mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Yaitu kedamaian di dalam Hati, kedamaian di Bumi dan kedamaian senantiasa di seluruh Alam Semesta.

Salam Om Swasti Astu juga umum digunakan sebagai pembuka pidato, rapat, tulisan. Dan sebagai penutup dari pidato, rapat ataupun tulisan juga diakhiri dengan Om Shanti Shanti Shanti.

Salam ini tidak mengenal waktu. Berlaku untuk kapan saja.

7/. Ucapan Buat Yang Sakit atau yang kena musibah.

Saat mendengar sahabat atau kerabat yang sakit, tentu saja yang kita ucapkan bukanlah selamat tetapi doa agar yang bersangkutan diberi kesembuhan. Jadi ucapannya adalah “Dumogi gelis kenak”. Semoga lekas sembuh. Atau “Dumogi gelis waras” Semoga lekas sehat.

Dan doa yang paling umum diucapkan adalah “Om Sarwa Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Lara Roga, Winasa ya Namah “. artinya “Ya Tuhan, kami mohon agar segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau binasakan ya Tuhan”.

Tetapi jika kita ingin mendoakan si sakit dalam bahasa atau agama/kepercayaan masing-masing juga tidak masalah. umumnya masyarakat Bali sangat terbuka untuk menerima doa orang lain sepanjang niatnya baik. Jadi tidak ada doa baik yang haram hukumnya, walaupun itu diucapkan oleh orang berbangsa/bersuku/beragama lain ataupun dalam bahasa/ agama lain. Sama saja.

Jika kita mendengar ada berita tentang sahabat atau kerabat yang mengalami musibah lain yang tidak terkait dengan kesehatan tubuh i.e kehilangan, kecurian dsb maka ucapan kita adalah “Dumogi polih kerahayuan”

8/. Ucapan Bela Sungkawa.

Orang Bali mengucapkan kalimat “Dumogi amor ring Acintya” saat mendengar teman atau kerabat meninggal dunia. Yang artinya “Semoga bisa menyatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa”.

Atau mengucapkan doa “Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu. Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha” yang artinya ” Ya Tuhan, semoga atna yang menunggal mencapai surga, lalu menyatu denganMu, mencapai keheningan tanpa suka duka. Ampunilah ia, semoga segalanya disempurnakan atas kemahakuasaanMu.

Ini berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap mahluk hidup memiliki Atma (roh) yang merupakan percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa (Paramatma).

Atma ini terlahir ke dunia (dan mungkin berkali kali) untuk membersihkan perbuatan perbuatan buruknya hingga kembali benar-benar bersih dan mampu menyatu kembali denganNYA dan tak perlu dilahirkan kembali lagi.

Ketika mahluk hidup meninggal, maka Atmanya akan lepas meninggalkan tubuh kasarnya. Ia akan melalui proses pengadilan yang membuatnya ke naraka atas perbuatan buruknya atau ke surga atas perbuatan baiknya. Tapi Surga ataupun Neraka bukanlah terminal terakhir. Setelah menjalani masa “rewarding” di surga ataupun neraka, jika Atma / roh belum benar benar bersih dengan perbuatannya maka ia dikasih kesempatan untuk lahir kembali guna memperbaiki dosa dosanya itu hingga ia benar- benar bersih dan menyatu kembali dengan Tuhan. Jadi Tuhan adalah terminal terakhir. Bukan Surga.

Itulah sebabnya mengapa doanya bukan “semoga mendapat tempat di sisiNYA”, karena objectivenya adalah untuk menyatu denganNYA, bukan terpisah dan berada di tempat yang berbeda (di sisiNYA).

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Standard

Salah satu pertanyaan yang sering dialamatkan teman ke saya adalah “Selamat pagi, apa dalam Bahasa Balinya ya Bu?”. Ada juga yang bertanya, bagaimana cara mengucapkan “terimakasih” dalam Bahasa Bali. Karenanya saya tertarik untuk menuliskan di sini bagaimana cara kita menyampaikan dan membalas beberapa Salam dalam Bahasa Bali.

Salam adalah Doa.

Serupa dengan suku/bangsa lain di dunia ini, Masyarakat Bali mengucapkan salam dengan cara menyampaikan Doa untuk keselamatan dan kebaikan orang yang diajaknya berbicara. Itulah sebabnya kebanyakan Salam dimulai dengan kata Selamat.

Selamat dalam Bahasa Bali adalah “Rahayu” atau jika ditambahkan kata semoga (dumogi/dumadak) misalnya Dumogi Rahayu (Semoga Rahayu, semoga dalam keadaan baik/ selamat) , maka kata ini berubah menjadi “Rahajeng“. Dua-duanya artinya sama, yakni kondisi seseorang yang dalam keadaan baik, sehat, selamat dan aman dari gangguan apapun serta tidak dalam kekurangan apapun. Bedanya hanya dalam penggunaan.

Sehingga jika tidak merujuk pada waktu atau kejadian yang spesifik masyarakat Bali mengucapkan kata Rahajeng/ Rahayu dalam memberi Salam.

Contohnya “Rahajeng, Bli” atau “Dumogi Rahayu, Bli”. Rahajeng/ Rahayu = baik, selamat, sehat sentosa. Bli = kakak laki-laki.

Maksudnya adalah “Semoga berada dalam keadaan selamat dan baik baik saja ya Kak”.

1/. Selamat Pagi/Siang/Malam.

Pagi = Semeng. Selamat Pagi = Rahajeng Semeng.

Banyak juga yang membubuhkan akhiran “an” sehingga kata Semeng menjadi Semengan. Artinya sama saja.

Siang = Tengahi. Selamat Siang = Rahajeng Tengahi.

Malam = Wengi. Selamat Malam = Rahajeng Wengi.

Kata Rahayu tidak umum digunakan dalam konteks ini. Jadi tidak ada Rahayu Semeng atau Rahayu Wengi.

2/ Ucapan Selamat Khusus & Hari Raya.

Ulang Tahun = Wanti Warsa. Selamat Ulang Tahun = Rahajeng Wanti Warsa.

Tahun Baru = Warsa Anyar. Selamat Tahun Baru = Rahajeng Warsa Anyar.

Menyampaikan Selamat Hari Raya bisa dilakukan dengan mengucapkan kata Rahajeng Dina (Dina = Hari) lalu bubuhkan nama hari rayanya. Misalnya;

Rahajeng Dina Galungan (Selamat Hari Raya Galungan), Rahajeng Dina Kuningan, Rahajeng Dina Saraswati, Rahajeng Dina Pagerwesi dsb.

Atau bisa juga disederhanakan tanpa kata Dina. misalnya:

Rahajeng Galungan, Rahajeng Kuningan dan sebagainya.

3/. Lanjutan Salam.

Secara umum masyarakat Bali tidak berhenti dengan hanya mengucapkan Salam standard Rahajeng Semeng – Rahajeng Wengi saja, tetapi umumnya memberikan doa tambahan lagi atas ucapan salam ini (terurama jika tertulis).

misalnya “Rahajeng semeng. Dumogi sami rahayu”. (Selamat pagi. Semoga semua dalam keadaan baik).

Atau “Rahajeng Wanti Warsa Putu, dumogi setata kenak, bagya tur lantang yusa”. (Selamat Ulang Tahun Putu, semoga selalu sehat, bahagia dan panjang umur).

4/. Menjawab Salam.

Secara umum salam Rahajeng Semeng/ Wengi bisa dijawab singkat dengan mengucapkan salam yang sama “Rahajeng Semeng’/ Wengi) juga.

Tetapi jika salam yang disampaikan adalah berupa ucapan selamat misalnya, ulang tahun, atau hari Raya, maka salam bisa dijawab dengan terlebih dahulu mengucapkan terimakasih lalu dengan mengucapkan salam kembali.

Terimakasih = Matur Suksma. Atau cukup dengan “Suksma” saja.

misalnya “Suksma. Rahajeng Mewali” yang maksudnya adalah ” Terimakasih. Saya mengucapkan doa yang sama baiknya untukmu juga”.

Atau bisa juga menjawab “Suksma. Dumogi rahayu sareng sami”. Artinya “Terimakasih. Semoga semua orang dalam keadaan baik”.

5/. Membalas berita bahagia.

Terkadang kita mendengar informasi/berita dari teman/kerabat tentang rencana pernikahan anaknya, atau akan menyelenggarakan upacara di rumahnya atau di kampungnya. Bagaimana cara kita mengucapkan selamat?. Cara nembalasnya adalah dengan mengucapkan doa agar pelaksanaan acaranya sukses.

Dumogi memargi antar” (semoga berjalan dengan baik tanpa rintangan).

“Dumogi labda karya” Semoga pekerjaannya berhasil.

“Dumogi labda karya sida sidaning don” Semoga pekerjaannya berhasil sesukses suksesnya.

Atau jika ingin mendoakan pengantin

Dumogi langgeng ngantos riwekasan”. Semoga langgeng hingga ke depannya terus.

Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Standard
Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Berada di rumah untuk urusan adat dan upacara yang super padat, membuat anak saya bertanya. “Kapan kita main, Ma?. Kan sudah di Bali???”. Whuala anakku……, pikirannya kalau ke Bali cuma liburan. Kita ini pulang kampung. Untuk menghadiri upacara adat keluarga. Bukan liburan.

Anak saya tampak kecewa. Untunglah seorang teman akrab mengajak bermain ke DeBrokong. Tempat wisata baru di Bangli. Seketika wajahnya tampak bersemangat lagi.

Seusai upacara berangkatlah kami ke sana. Lokasinya ada di desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Gampang sih mencarinya. Dari rumah saya sebenarnya sangat dekat. Cuma 15 menit.

Waaah…ternyata tempatnya asyik banget. Berada di kebun belakang dengan pemandangan sawah yang sangat indah. Hijau royo-royo. Di sana terbentang 5 Zip lines melintasi sawah kurang lebih berjarak 100 meter di atas ketinggian 7.5 meter hingga 9.5 meter.

Wahana Flying Fox tetapi dengan standard keamanan international. Waah…keren banget.

Terlihat ada sebuah anjungan di sana. Kelihatannya enak nih duduk-duduk di sini sambil ngopi.

Sementara saya memandang hamparan sawah sambil memperhatikan burung burung bangau yang terbang dan hinggap mencari makan di sawah, teman saya memesankan kopi dan Jaja Laklak (sejenis kue serabi dari tepung beras dengan topping kelapa parut dan disiram dengan gula merah cair yang rasanya sangat mantap). Jaja Laklak-nya sangat istimewa dan baru dibuat langsung. Jadi baru matang dan masih hangat. Enak banget. Sungguh. Selain itu teman saya juga memesankan kami Kacang Rebus. Whuesss… mantap banget buat teman nyantai dan nongkrong -nongkrong di sini.

Anak saya tidak sabaran untuk bermain di Zip lines yang kelihatan sangat menantang itu.

Melihat antusiasnya, I Dewa Gede Ngurah Widnyana, sang pengelola De Brokong pun tidak segan untuk turun tangan memberikan Safety Brief dan Teknik bermain yang benar pada anak saya. Saya ikut mendengarkan. Sangat detail dan hati hati di setiap tindakan yang diambil. Berkali-kali ia mengingatkan kepada anak saya agar selalu Focus dan Disiplin. Seketika saya paham.

Bedanya De Brokong dengan wisata outbond lokal yang punya flying fox lain adalah dari International Safety procedurenya yang diimplementasikan dengan sangat baik. Itu yang membuat saya sebagai orang tua merasa tenang akan keselamatan anak saya jika bermain di situ.

Menggelayut di Ziplines.

Ini adalah wahana yang paling menarik perhatian anak saya sejak pertama. Sekarang ia mulai memasang perangkat keamanannya. Dengan instruksi yang sangat jelas dari Dewa Gede.

Tapi ini di ketinggian dan anak saya akan meluncur di tali itu. Saya merasa sangat deg-degan. Nyaris nggak berani melihat. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak saya. Melihat perangkat keamanan dan prosedurnya, akhirnya hati saya tenang kembali. Saya mulai bisa mengambil posisi untuk memotret anak saya.

Ia kelihatan tenang memindahkan cangklingannya dan menggenggam puley lalu…. zwiiiiiing…..ia pun meluncur di udara bebas. Oooh….. Tampak ia sangat menikmati perjalanan udaranya menuju tower di seberang dengan mulus. Ia pun mendarat dengan sukses di tower berbendera merah putih itu.

Setelah menikmati pemandangan sejenak dari tower di seberang, berikutnya anak saya kembali ke pangkalan dengan zipline yang berbeda.

Menurut teman saya, semua zipline akan landing dengan sempurna karena semua konstruksi dan pemasangan sudah menggunakan perhitungan fisika yakni derajat kemiringan dan mengandalkan grafitasi. Dengan demikian zipline sangat ramah lingkungan tanpa perlu bantuan daya listrik dan mesin penggerak. He he…benar juga ya.

Lalu bagaimana jika ternyata, entah karena gerakan kita yang salah ataupun penyebab lain kita nyangkut di tengah- tengah?. Tidak maju dan tidak mundur pula?. Jangan khawatir. Nanti akan ada petugas yang akan menjemput. Waah… keren ya.

Saya melanjutkan minum kopi, sementara anak saya masih terus ingin bermain…

Rajapisuna. Fitnah dalam Pandangan Seorang Wanita Bali.

Standard

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Bali dihebohkan oleh pemberitaan tentang seorang wanita bernama Lisa Marlina yang mengatakan lewat account Twitternya @lisaboedi , kalau di Bali itu nggak ada pelecehan sexual, karena kalau dilecehkan ya senang-senang saja. Selain itu ia juga mengatakan kalau di Bali itu pelacur dan pelacurannya available di setiap jengkal.

Sontak kicauan wanita ini membuat para wanita Bali terkejut dan heran.

Wanita Bali senang-senang saja kalau dilecehkan?????

Pelacuran di setiap jengkal tanah Bali?????”.

Dari mana datanya?. Apakah Lisa sudah datang ke tanah Bali dan check faktanya di lapangan?. Dan menemukan bahwa statementnya itu mengandung kebenaran atau tidak?

Keterkejutan dan respon diberikan dari para netizen baik di Bali maupun dari luar Bali. Ujung-ujungnya Ni Luh Djelantik, seorang wanita designer sepatu asal Bali mengadukan kasus ini ke Kepolisian.

Sebagai seorang Wanita Bali, tentu saja saya sama heran dan terkejutnya dengan Wanita Bali yang lain, akan apa yang dikatakan oleh Lisa Marlina di dunia maya. Karena sebagai Wanita Bali yang tumbuh dan besar di Bali (walau sekarang sebagian besar saya tinggal di Jakarta dan hanya bolak balik saja pulang ke Bali), saya tidak setuju jika kami Wanita Bali disebut senang jika dilecehkan. Karena kenyataannya tidak.

Kemudian sebagai orang Bali, saya juga tidak setuju dengan pernyataan Lisa Marlina, jika di Bali ada sedemikian banyaknya pelacur dan pelacuran, saking banyaknya hingga setiap jengkal tanah Bali pun ada. Karena kenyataannya tidak. Dan saya ingin Lisa membuktikan kepada saya ucapannya itu.

Karena menurut saya apa yang dilakukan oleh Lisa Marlina ini termasuk dalam perbuatan fitnah besar, alias RAJAPISUNA dalam Bahasa Balinya.

Rajapisuna (Fitnah, Memfitnah) adalah memberikan sebuah pernyataan buruk tentang orang lain yang tidak terbukti kebenarannya.

Rajapisuna dan Sad Atatayi – Enam Bentuk Kejahatan Manusia.

Rajapisuna ini dalam tatanan masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu dan sangat cinta akan kedamaian termasuk salah satu dari enam point SAD ATATAYI (Enam Bentuk Kejahatan, Sad= enam, Atatayi = Kejahatan), yang sangat dilarang untuk dilakukan.

Enam Kejahatan dalam Sad Atatayi itu adalah:

1/. Agnida – membakar, meledakkan, nge- bom milik orang lain.

2/. Wisada – meracuni orang dan mahluk lain.

3/. Atharwa – menggunakan ilmu hitam untuk menyerang /menyengsarakan orang lain.

4/. Sastraghna – mengamuk, membunuh orang dan mahluk lain.

5/. Dratikrama – melecehkan, memperkosa orang lain.

6/. Rajapisuna – memfitnah orang lain.

Sangat jelas, bahwa melakukan Rajapisuna merupakan salah satu kejahatan yang dianggap serius di Bali, karena termasuk di dalam daftar SAD ATATAYI.

Dalam kenyataannya, memang terjadi beberapa kasus pelanggaran dan tindakan kejahatan juga yang dilakukan oleh orang Bali, tetapi jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang disiplin mengamalkan pelarangan Sad Atatayi ini. Saya rasa kita juga bisa melihat data di Kepolisian, berapa % yang dilakukan orang Bali dan berapa % yang dilakukan pendatang.

Sad Ripu – Enam Musuh Dalam Diri Manusia.

Nah, bagaimana seseorang bisa melakukan perbuatan jahat yang termasuk dalam daftar Sad Atatayi ini?. Sebatas apa yang saya pahami dalam agama Hindu, bahwa perbuatan ini terjadi jika kita kurang mampu mengendalikan musuh -musuh yang ada di dalam diri kita sendiri yang disebut dengan SAD RIPU yaitu:

1/. KAMA – nafsu

2/. LOBHA – loba, serakah.

3/. KRODHA – amarah

4/. MADA – mabuk, kegila-gilaan.

5/. MOHA – kebingungan, keangkuhan.

6/. MATSARYA – iri hati, dengki.

Orang Bali, tidak percaya bahwa jika ada orang yang berbuat buruk itu karena dipengaruhi setan (mahluk lain di luar dirinya). Tetapi yakin jika perbuatan jahat itu disebabkan oleh kemampuan diri orang itu sendiri yang rendah dalam menaklukkan sifat sifat buruk yang ada dalam dirinya itu sendiri (Sad Ripu). Jadi tidak menyalahkan Setan.

Nah dalam kasus Rajapisuna di atas, perbuatan memfitnah orang lain bisa terjadi karena kelemahan manusia dalam mengendalikan Sad Ripu, misalnya karena Krodha (Amarah) dalam dirinya, dan atau karena Matsarya (Irihati, dengki), atau mungkin juga karena Moha dan sebagainya.

Itu pandangan saya, sebagai salah seorang Bali tentang kasus Lisa Marlina ini.

Lalu bagaimana kita menanggapinya?.

Menurut saya, karena Ni Luh Djelantik, seorang Wanita Bali telah mengambil inisiatif melaporkannya ke pihak Kepolisian, ya biarkanlah pihak kepolisian yang memprosesnya hingga selesai. Walaupun akhirnya Lisa Marlina telah mengucapkan maaf (- tentu dimaafkan), dan mengaku itu mistypo, tetapi proses hukum tentu tetap berlanjut.

Selain proses hukum duniawi, ada juga Hukum Kharma- Phala yang berlaku. Setiap orang yang melakukan perbuatan (Kharma) baik maupun buruk, pasti akan mendapatkan buah dari perbuatannya itu dengan setimpal (Phala). Hukum Kharma-Phala itu berlaku untuk semua mahluk di seluruh alam semesta, tak peduli di manapun ia sembunyi.

Dan tentunya kita tak perlu ikut marah marah juga, karena jika kita marah, itu artinya Lisa Marlina telah berhasil dan sukses menggeret kita untuk kalah melawan Sad Ripu, yakni membiarkan Krodha (amarah), yang ada di dalam diri kita sendiri menjadi menguat dan menguasai diri kita.

Mari kita sikapi dengan tenang dan damai. Jangan biarkan Sad Atatayi orang lain ikut mencemari kebersihan hati dan pikiran kita. Jangan biarkan Rajapisuna, membuat kita tak mampu mengendalikan Krodha amarah dalam diri kita. Tetaplah tenang, damai dan terkendali.

Ragadi musuh meparo, ri ati ya tonggwaniya tan madoh ring awak….

(Musuh yang sesungguhnya itu ada di dalam diri kita, di hati tempatnya, tak jauh dari tubuh kita sendiri).

Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri.

Om Shanti, Shanti, Shanti.

Semoga semua mahluk selalu merasakan damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta.