Tag Archives: Bandara

Cerita Perjalanan: 28 Menit Ke Banyuwangi.

Standard

Pesawat Garuda ke BanyuwangiBeberapa minggu yang lalu, saya ada sedikit urusan pekerjaan di Banyuwangi. Berhubung  Banyuwangi  lebih mudah ditempuh dari Denpasar ketimbang dari Surabaya, saya memutuskan untuk berangkat dari Jakarta dan menginap di Denpasar semalam, lalu esoknya pagi-pagi saya akan berangkat lewat darat lalu menyeberang Selat Bali, sampai deh ke Banyuwangi. “Naik pesawat aja, Bu. Sekarang sudah ada pesawat dari Denpasar ke sana. Jam 7 pagi kita sudah tiba di sana. Jadi sudah bisa kerja normal jam 8.” jelas teman saya. Oh? Begitu ya? Saya malahan tidak tahu sebelumnya.   Saya setuju ajakannya itu, dan iapun mencari tiket ke sana. Horreee…dapat!.

Pagi-pagi saya sudah siap dan langsung ke Bandara Ngurah Rai. Tak berapa lama menunggu, penumpang dipersilakan masuk pesawat. Wah..  pesawat kecil dengan dua buah baling-baling.   Rasanya stress juga, karena jika udara sedang kurang bersahabat, lumayan juga sangat terasa guncangannya.  Jauh lebih terasa jika dibandingkan dengan menumpang pesawat-pesawat besar seperti Air Bus  atau Boeing  747.  Bangku di dalamnya juga terdiri atas 2 seats -2 seats. Sebenarnya saya agak deg-degan juga. Sejujurnya saya agak takut naik pesawat.

Sebelumnya saya sudah pernah naik pesawat seukuran ini sebanyak 2x.  Pertama dalam perjalanan  dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung menuju ke Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta. Tapi itu sudah lamaaaa sekali.  Jaman Pak Harto. Jaman pesawat dai Bandung kalau ke Jakarta mendaratnya di Halim (sekarang masih nggak ya?). Pesawat rasanya terbang  klepek klepek  limbung ditiup angin. Rasanya sangat stress,untung akhirnya tiba juga di atas Halim. Namun sayangnya, entah kenapa rupanya terjadi kesalahan. Pesawat itu tidak bisa mendarat karena Pak Harto sedang menerima tamu di sana. Aduuuh..bagaimana ini?Kok tidak ada koordinasi antara satu bandara dengan bandara lainnya ya. Tak habis pikir. Akhirnya terpaksalah balik lagi ke Bandung.  Lalu setelah turun sebentar, balik lagi untuk merasakan stress yang sama dengan pesawat baling-baling itu.

Kali  keduanya juga sudah lama bangettttt. Kalau tidak salah dalam sebuah perjalanan dari Frankfurt  ke Manchester. Rasanya pesawatnya sih lebih modern, tapi kayanya ukurannya tidak jauh berbeda juga. Kecil dengan 2 seats- 2seats begitu juga. Saat itu musim dingin. Tapi cuaca kelihatannya cukup baik. Tidak ada goncangan sih. Saya merasa sedikit agak tenang dan masih bisa melongok ke bawah lewat jendela menonton pohon-pohon dan tanah yang tertutup salju.  Jadi sebenarnya pesawat kecil nggak selalu menakutkan juga sih.

Nah sekarang saya mendapatkan kesempatan yang ketiga kalinya. Dari Bandara Ngurah Rai di Denpasar menuju Bandara Blimbingsaridi Banyuwangi. Berdoa semoga udara sedang tenang dan baik. Dan doa saya dikabulkan, plus dikasih bonus melihat-lihat pemandangan dari udara. Karena pesawatnya kecil, dengan sendirinya ia tidak bisa terbang terlalu tinggi dari permukaan laut.  Dan karena terbang rendah, ditambah dengan udara yang tenang dan cuaca terang di pagi hari, maka landscape bumi kelihatan sangat baik dan jelas. Kesempatan yang jarang-jarang bisa didapatkan.

di atas sanur

 

 

Untuk ke Banyuwangi, pertama pesawat itu mengambil arah ke timur, berlawanan dengan arah Banyuwangi yang ada di sebelah barat pulau Bali.  Lalu setelah sedikit agak tinggi, baru memutar balik ke arah barat. Jangan tanya saya alasannya, karena saya tidak tahu persis. Barangkali karena landasan pacu arahnya ke timur.. he he..nebak-nebak saja.  Jadi saya bisa melihat sekarang kalau saya sedang berada di atas wilayah Sanur atau Padang Galak.

di atas pulau Serangan

Pulau Serangan terlihat sangat jelas di pagi hari. Walaupun di sana-sini ada awan putih yang menghalangi pemandangan. Pulau kecil itu bentuknya lucu juga ya kalau dilihat dari udara.  Ada banyak sekali kapal-kapal nelayan yang berlabuh di salah satu sisinya. Kelihatan putih-putih mirip bercak ketombe. Saya ingat bermain ke sana dengan adik saya.  Pulau itu sangat menarik buat saya.

Tol Bandara - Nusa Dua

Pesawat terus melaju dan sekarang saya bisa melihat tol Benoa yang dari Bandara Ngurah Rai mengapung di atas laut menuju Nusa Dua. Lucu juga kelihatannya dari atas sini. Mirip galah (tiang panjang) berwarna putih yang membentang di atas laut yang tenang.

pesisir Banyuwangi

Banyak sekali yang saya lihat di sepanjang perjalanan. Tanpa terasa pesawat sudah mencapai pesisir  Banyuwangi di Jawa Timur. pantainya mungkin tidak putih, tapi Banyuwangi menunjukkan pemandangan yang juga sangat menarik.

Ladang garam

Wah..apa itu putih-putih? Tampak berkilau dari ketinggian?  Saya melihat lebih dekat. Apa tambak ikan ya? Kelihatannya seperti Ladang Garam!! Ada beberapa petak. Ada yang airnya sudah sasat. Barangkali jika hari ini matahari bersinar sangat terik, garam-garamitu mungkin sudah kering dan bisa segera dipanen.

di atas sawah yang semakin berkurang

Pesawat terbang semakin rendah. Kami hampir sampai. Sawah-sawah nan menghijau tampak di sana-sini.Alangkah hijaunya Banyuwangi. Banyak sekali burung-burung bangau berwarna putih berkeliaran. jika tadi di atas Bali, kapal-kapal nelayan terlihat mirip ketombe, sekarang dari  ketinggian Banyuwangi,  burung-burung ini yang terlihat seperti ketombe saking banyaknya.

 

Blimbingsari

Sebentar kemudian pesawat mendarat.  Welcome to Banyuwangi! Welcome to Blimbingsari Airport!  Bandara ini masih sedang dibangun. Terlihat dari adanya alat berat  yang sedang beroperasi di sana untuk meratakan tanah lapang yang luas.  Saat ini hanya memiliki satu landasan pacu. Dan pesawat yang saya tumpangi adalah satu-satunya pesawat yang mendarat pagi itu.

Bandara Blimbingsari

Menurut keterangan , bandara ini baru  dua tahun beroperasi. Saya salut pada upaya Pemda setempat untuk membuka akses ini. Memudahkan para wisatawan untuk mengunjungi Banyuwangi. Karena sebenarnya Banyuwangi memang memiliki banyak potensi untuk  dikembangkan sebagai daerah Pariwisata. Mulai dari kebudayaan dan adat istiadatnya, pantainya, hutan-hutannya, kulinernya dan sebagainya. Selain itu lokasinya yang tidak jauh dari Bali, juga membuat semuanya sangat memungkinkan. Selain turis-turis yang memang sengaja datang hanya untuk ke Banyuwangi, saya rasa para turis yang datang dari jauh untuk ke Bali, pasti cukup banyak diantaranya yang tidak keberatan meluangkan waktu kurang dari setengah jam perjalanan udara untuk menuju Banyuwangi.

Banyuwangi

Beberapa menit kemudian ketika saya sudah benar-benar tiba di Banyuwangi, keluar dari bandara menuju kota, saya benar-benar merasa jatuh cinta  terhadap Banyuwangi. Pada sawah-sawahnya yang  menghijau, para petani yang sangat rajin bekerja dan pada burung-burung sawah yang sangat banyak di sana. Dan bahkan saya  melihat ada beberapa ekor Burung Raja Udang sedang bertengger di kawat listrik di tepi sawah. Saya ingin datang lagi ke Banyuwangi. Tapi kalau bisa bukan untuk urusan kerja lagi. Namun sebagai warga negara Indonesia yang ingin menikmati keindahan tanah airnya.

Bravo untuk  Banyuwangi! Semoga semakin sukses!

 

Kisah Pagi Di Bandara Ngurah Rai.

Standard

Sarapan pagiPagi-pagi buta saya bangun. Berdua dengan seorang teman, saya bermaksud berangkat ke pulau Lombok  mengambil jadwal penerbangan pagi. Perjalanan yang pendek sebenarnya. Paling banter hanya 15 menit dari Denpasar.

Setelah lepas counter check-in  kami lalu melenggang menuju  ruang tunggu.  Bandara Ngurah Rai sudah sangat ramai sepagi ini. Kursi di ruang tunggu terasa agak penuh. Rupanya tempat itu juga menjadi gate untuk beberapa penerbangan lokal ke Ende, Labuan Bajo,  Kupang, selain ke Praya.

Ada sebuah sebuah kafe  kecil  didekat situ. Lumayan nyaman untuk duduk dan menikmati sarapan pagi.  Kebetulan ada kursi yang kosong dan kami memang belum sempat sarapan pagi. Saya mengajak teman saya untuk menunggu boarding di sana saja. Dua orang yang tampaknya suami istri  tampak duduk di meja di sebelah kami. Melihat dua buah ransel di dekatnya, saya menduga mereka adalah tourist yang akan back pack-an melanglang Nusa Tenggara dari Bali. Mereka asyik berbincang sambil menyeruput kopi panas. Dari logatnya saya menduga mereka berkebangsaan Inggris. Yang perempuan kebetulan duduk berseberangan arah dengan saya. Ia tersenyum ramah saat saya mengambil tempat duduk. Sayapun membalas senyumnya sepintas, lalu melihat ke daftar menu yang ada. Tak banyak pilihan, tapi lumayanlah untuk sarapan saja.

Saya lalu  memesan secangkir teh panas dan pisang goreng untuk sarapan. Sementara teman saya memesan makanan lain. Sambil menunggu saya ngobrol ke kiri dan ke kanan dengan teman saya itu. Teh hangat muncul dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Tiba-tiba  wanita di sebelah kami mengasongkan sebuah salak ke teman saya untuk diambil.

Buah apa ini? saya baru melihatnya..” tanya wanita itu  kepada kami. “Salak” jawab saya. Pria  pasangannya tampak berkerenyit.  Kelihatan ia memang tidak pernah tahu buah salak sebelumnya. Saya lalu menjelaskan bahwa buah Salak adalah buah dari salah satu tanaman sejenis palma yang berduri.  Sangat umum dijumpai di Indonesia, termasuk di Bali. Terkadang disebut Snake Fruit juga karena kulitnya bersisik mirip kulit ular. Ia menggigitnya sebentar dan tampak ekspresinya biasa saja. Saya pikir barangkali ia mendapatkan salak yang agak sepet dan asem, bukan yang manis. Saya lalu menambahkan penjelasan saya, bahwa buah salak saat muda terasa agak sepat dan asam, tapi jika dipetik tepat saat matang, selalu terasa manis dan renyah.  Jika beruntung, kadang kita juga bisa menemukan jenis salak yang memang terasa sangat manis dan lebih manis dari yang lainnya. Namanya Salak Gula Pasir. “Barangkali saya kurang beruntung” kata pria itu sambil tertawa kecut.  Kamipun ikut tertawa.

Mereka  lalu memberikan lagi  Orange Juice dalam kemasan tetra pack kepada kami. Ia bilang tidak sanggup lagi meminumnya karena kebanyakan. Rupanya mereka membawa dua kotak makanan yang isinya snack, minuman dan buah-buahan. Barangkali dari Hotel tempatnya menginap semalam dan mereka tak bisa menghabiskannya. Itulah sebabnya mereka membaginya kepada kami daripada tidak termakan atau terminum. Wah..tahu gitu tentu kami tak perlu memesan minuman tadi.

Pengumuman penerbangan di ruangan itu  terdengar bergema. Petugas memanggil penumpang yang akan berangkat ke Labuan Bajo dan Ende untuk memasuki pesawat. Dua orang tourist itupun mempersiapkan ranselnya dan pamit kepada kami.

Saya memandang langkah kakinya dan tiba-tiba teringat. Baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini. Menerima pemberian makanan/buah-buahan dan minuman dari orang asing yang sama sekali tidak kami kenal.  Saya pikir apa yang mereka lakukan itu adalah ide yang sangat bagus. Mereka tahu bahwa mereka tak sanggup menghabiskannya. Dan karena tidak mau membuang-buang makanan, maka iapun memberikannya kepada kami. Sangat simple. Sangat praktis.  Sangat santai dan tidak ada beban. Seolah-olah kami telah kenal akrab bertahun-tahun lamanya.

Rasanya  saya tidak pernah melihat orang lain melakukan itu. Termasuk saya.Saya tidak  pernah punya ide sebelumnya untuk membagikan kelebihan makanan kepada orang yang  tidak saya kenal.  Kecuali itu teman dekat atau keluarga. Selama ini jika saya memiliki kelebihan makanan yang tidak sanggup saya makan (walaupun sangat jarang sih),  ada dua hal yang mungkin akan saya lakukan: 1/ jika makanannya bisa dikemas, mungkin akan saya  masukkan ke dalam tas, untuk saya makan lagi nantinya.  Atau jika saya tidak mau repot dan agak malas, mungkin saja  saya tinggal begitu saja di meja kafe/atau restaurant/ruang tunggu  tempat saya duduk.

Padahal kalau dipikir-pikir, membuang makanan tentu saja bukan perbuatan yang terpuji ya?. Sementara banyak orang sangat susah untuk makan.

Saya mencoba mencari-cari alasan mengapa saya tidak pernah membagi makanan di perjalanan kepada orang asing.  Barangkali saya takut jika orang merasa tersinggung jika tiba-tiba ditawarin makanan. Atau lebih parahnya bisa-bisa saya diduga tukang tipu yang sedang melakukan aksi lewat pemberian makanan. Entahlah…saya agak takut disangka begini dan disangka begitu. Jadi untuk amannya ya…makanan itu akhirnya tidak saya tawarkan. Padahal , barangkali itu hanya perasaan saya saja ya?.

Perbuatan dua orang tourist itu memberi saya inspirasi baru. Barangkali  akan coba saya contek  di kemudian hari, jika kebetulan saya mengalami hal yang sama…

 

 

 

i

Catatan Dari Bandara Ke Bandara: Kuala Lumpur.

Standard

Hari ini saya  berniat balik kembali ke Jakarta, setelah  setelah menghabiskan beberapa waktu di Selangor. Tukang taxi yang mengantarkan saya ke bandara di Kuala Lumpur menyebutkan ongkos yang harus saya bayar. 65 ringgit. Lalu ia bertanya, apakah saya membutuhkan bon. Ya, saya bilang saya membutuhkannya untuk saya claim ke kantor. Berikutnya ia bertanya lagi, apakah saya ingin menuliskannya sendiri atau ia yang akan menuliskannya? Sejenak saya mengernyitkan alis saya. Maksudnya apa ya? Tentu saja ia yang harus menuliskannya. Kan ia yang menerima duitnya?

Belakangan saya mengerti bahwa,  ternyata ia memberi saya kesempatan, jika saya ingin berbuat curang menulis angka sendiri sesuka saya di bon, sehingga saya bisa claim lebih ke kantor. Ia memberi isyarat bahwa banyak orang yang berbuat seperti itu. Oops!. Parah juga rupanya!. Tidak habis pikir rasanya, mengapa kecurangan sejenis ini disupport ya?.Tapi saya tidak ingin berpikir lama-lama. Biarlah itu urusan orang lain. Saya memilih jalan hidup saya sendiri. Simple saja. Bayar apa adanya. Dan claim apa adanya. Hidup kita akan jauh lebih mudah jika menghindarkan diri dari praktek kecurangan. Live life in simplicity. Ga usah neko-neko!

 Setelah membayar taxi dan mengucapkan terimakasih kepada pengemudinya, sayapun bergegas ke counter check in. Agak lumayan, karena saya menumpang penerbangan Malaysia, jadi saya tidak perlu berlari-lari mengejar sky train untuk pergi ke terminal udara yang lain.  Jadi saya masih sempat membasuh muka saya, merapikan diri lalu berjalan santai sambil melihat-lihat. Memotret sebuah accessories interior di langit-langit bandara yang terlihat artistik. Baling-baling dengan design mirip papan selancar. Lalu mampir ke Duty Free untuk membelikan anak saya coklat.

Di dekat ruang tunggu,  tanpa sengaja saya melihat seorang teman saya yang berkebangsaan India  sedang menggeret kopernya. Setahu saya ia berangkat sebelum makan siang. Oh,mengapa ia masih berada di bandara sesore ini? Rupanya banyak hal yang melelahkan dan membuat bete telah terjadi, yang menyebabkan penerbangannya mundur ke sore. Ia pun menceritakan uneg-unegnya ke saya. Saya mendengarkannya dan berharap ia lega setelah berhasil bercurhat ria kepada saya.  Seusainya, saya kemudian memeluk dan mencium pipinya, sambil mendokan keselamatan baginya dalam perjalanannya.Semoga ia mendapatkan hari yang menyenangkan bersama keluarganya sesampai di rumah.

Persis di depan ruang tunggu, saya diberi informasi bahwa saya belum boleh masuk. Karena pesawat yang akan saya tumpangi belum datang. Celangak celinguk sendirian,akhirnya saya mencari tempat duduk.  Seorang gadis berambut panjang  duduk sendiri bersama ransel dan tasnya tersenyum kepada saya. Saya merasa senang.Setidaknya ada orang yang memberikan senyum sebelum saya sempat tersenyum terlebih dahulu.

“Hai!” Kata saya. Dari wajahnya, saya menebak ia orang Indonesia. “Silakan duduk, Bu” ajaknya mempersilakan saya duduk di sebelahnya. “Ibu mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab bahwa saya akan ke Jakarta.Ia bilang bahwa ia akan ke Maldives dan tinggal di situ setahun teakhir ini. Sayapun memanfaatkan kesempatan untuk  bertanya-tanya sedikit tentang Maldives. Mana daerah yang enak dikunjungi, yang murah  meriah tanpa harus bermain air. “Nggak ada. Semuanya mahal.Semuanya air” katanya tertawa. Setelah mengobrol beberapa lama ia bertanya, dari mana saya berasal di Indonesia. Saya bilang dari Bali. Dengan cepat ia mengatakan bahwa ia juga berasal dari Bali. Oh! Di mananya di Bali? Saya bilang di Bangli. Di Kintamani. Dia tampak terkejut. “Lho, saya juga dari Kintamani” katanya. Giliran saya yang terkejut. Kintamani mana? Dia menyebutkan sebuah desa. Oh! Tentu saja saya tahu desa itu. Saya lalu mengatakan bahwa saya juga punya keluarga di desa itu. Lagi-lagi dia terkejut. Akhirnya usut punya usut, ternyata masih berkerabat dengan kerabat saya juga. Ah, dunia memang benar-benar selebar daun kelor.

Kami berpisah, karena gerbang ruang tunggu saya sudah dibuka.  Saya melambaikan tangan saya dan memintanya agar hati-hati di jalan dan menjaga dirinya dengan baik di negeri orang.

Namun penerbangan rupanya ditunda akibat cuaca buruk. Dengan memanfaatkan wifi gratisan di bandara, akhirnya saya membunuh waktu dengan berkomunikasi dengan orang-orang yang saya cintai di tanah air. Betapa saya merindukan mereka. Saya memandang ke luar jendela kaca bandara. Hujan turun masih deras dan langitpun gelap berkabut. Sepi dan kesendirian mendera. Alangkah tidak enaknya bepergian sendiri.

Oh, tapi layakkah saya mengeluh? Karena tuntutan pekerjaan, saya melakukan cukup sering perjalanan dari satu bandara ke bandara yang lain. Namun tentu saja perjalanan saya tidak seberapa sering dibandingkan orang-orang yang karena tuntutan pekerjaan harus selalu berada di atas kapal dan jauh dari keluarga serta orang-orang yang dicintainya? Bagaimana dengan para pilot, para pramugari, para pelaut atau bahkan mereka yang bekerja sebagi tenaga kerja di negara asing?

“…cause  I’m leavin’ on  a jet plane, don’t know when I’ll be back again. Oh babe, I hate to go…” suara lembutnya Chantal Kreviazuk terngiang di telinga saya. Nah, lagu itu lebih menyedihkan lagi. Masih untung saya tidak mengalaminya.

 Setidaknya  masalah saya masih jauh lebih ringan. Dan saya masih memiliki orang yang mencintai saya dan mendoakan keselamatan saya diperjalanan. Sekarang, saya tahu maknanya bersyukur…