Tag Archives: Bangli

Bangli: Menikmati Sensasi Ketinggian Di Anjungan Tukad Melangit.

Standard

​​​​Seorang teman memasang status lokasi di facebook “Hi Bu! Saya sedang di kampung ibu ini di Bangli” tulisnya. Rupanya teman saya itu sedang berlibur dengan keluarganya di Bali. Dan dari foto foto yang diunggsh ke media sosial, salah satu acaranya adalah berkunjung ke desa traditional Penglipuran di Bangli. Wah… mendadak saya jadi kangen pengen pulang ke Bangli. 

Selain Desa Penglipuran, objek wisata di Bangli sebenarnya sangat banyak. Ada Penelokan, Museum Geology, Gunung Batur dan Danau Batur, desa Trunyan, pura Puncak Penulisan yang merupakan pura tertinggi di Bali, Tirta Sudamala, Cekeng, pura Kehen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat pulang terakhir beberapa waktu yang lalu saya sempat bermain ke Anjungan Tukad Melangit di Banjar Antugan di desa Jehem. Juga letaknya di Kabupaten Bangli. 

Tempat ini lagi happening banget. Banyak orang ke sini untuk melihat betapa dalamnya lembah yang terbentuk oleh aliran Tukad (sungai) Melangit ini dan betapa kerennya jika bisa menunjukkan keberanian berdiri di anjungan yang menjorok ke lembah itu dan berselfie di sana. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya tidak sesimple yang kita pikir. Karena bagi mereka yang tidak terbiasa, hanya untuk naik ke anjungan yang strukturnya terbuat dari bilah kayu dan ditopang oleh bambu itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. Belum lagi saat melihat ke bawah ke jurang di mana sungai Melangit mengalir di dasarnya. Bagi yang memiliki penyakit takut ketinggian tentu akan menjadi masalah besar.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak muda yang suka akan tantangan dan haus akan experience. Mampu berdiri di situ rasanya sesuatu banget. Seakan terasa betapa tabahnya kita mampu mengatasi rasa takut. Sensasinya sungguh berbeda!.Maka beramai-ramailah mereka berselfie ria dan menguploadnya ke media sosial untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sangat percaya diri dan tak takut pada ketinggian. Jadi berwisata ke tempat ini adalah tentang ‘experiencing’ dan ‘enjoying’ sensasi saat berani mengambil keputusan untuk berdiri di sana dan menikmati keindahan alam yang ada.  

Saya sendiri juga mencoba naik. Tapi rasanya kok gamang sekali ya. Serasa ragu akankah bilah bilah kayu itu cukup aman menopang berat tubuh saya? Akankah kaki saya menginjak dengan tepat dan masih di dalam kontrol saya sendiri?  ha ha. 

Selain anjungan  yang menjorok ke lembah, di sana ada juga bangunan balai kayu yang dibuat tinggi agar pengunjung yang datang bisa memandang  ke sekeliling lembah dari atas. Semacam balai pandang begitu. Nah di sini saya sedikit agak lebih berani. 

​ Saya mencoba naik ke atas. Mencoba berselfie ria. Ha ha… ternyata sama gemetarnya. Rasanya kok mau jatuh ya. Harus berpegangan erat-erat nih.Takut terbang ditiup angin * hya ha ha.. tidak tahu dirimerasa ringan saja padahal berat badan jika tidak direm segera bisa mendekati sekarung beras ini.  Tapi serius, kalau di sini saya merasa agak sedikit lebih tenang, setidaknya saya masih melihat tanah. 

Beberapa saat kami bermain di sana. Dan sungguh kebetulan saya bertemu dengan Bapak Wayan Lendra sang penggagas yang akhirnya mengelola tempat wisata ini. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan beliau.

​Anjungan Tukad Melangit atau yang sering disingkat dengan nama ATM ini, berada di banjar Antugan di desa Jehem Kecamatan Tembuku kabupaten Bangli. Menurut Pak Wayan Lendra, tempat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan sejak setahun belakangan ini. 

Bagaimana asal muasalnya, mengapa tempat ini tiba-tiba menjadi hits ? Ternyata ada cerita menarik di baliknya. 
Pak Wayan bercerita, bahwa asal mulanya adalah sekumpulan anak muda yang senang duduk-duduk, berkumpul,  ngobrol ngalur ngidul sambil minum-minum di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan karena minimnya hiburan di desa. Lama kelamaan, mungkin karena tidak enak hati mengingat ada banyak orang berlalu lalang melihat mereka minum-minum, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan orang dewasa, maka mereka nemutuskan untuk membuat tempat kecil di tengah ladang di tepi jurang yang terbebas dari pandangan orang yang berlalu lalang.  Di sana mereka bisa bebas ngobrol, merokok, berkumpul dan minum-minum sepuasnya. 

Barangkali karena tempatnya nyaman, sepi dan pemandangannya indah,  lama lama semakin banyak anak-anak muda teman-teman mereka yang ikut juga suka  berkumpul ke sana. Beberapa orang lalu ada yang mengambil foto -foto selfie di sana dan menguploadnya ke media sosial yang kemudian memicu pembicaraan di Sosial Media. 

Menanggapi itu, Pak Wayan Lendra dan kawan kawan lalu berinisiatif mendirikan anjungan  sehingga pengunjung lebih mudah mengamati dan menikmati keindahan alam sekitar Tukad Melangit dari atas. Anak-anak muda banjar Antugan itupun memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih positive.  Mereka berhenti minum minum dan berniat membangun tempat itu dan menjadikannya sebagai Object berwisata dan latar belakang untuk  berselfie ria. Gagasan ini berkembang dan didukung oleh berbagai pihak. 

Semakin lama semakin banyak orang datang berkunjung. Semakin banyak orang-orang berselfie di anjungan kayu itu  dan semakin banyak yang mengupload foto-fotonya di media sosial. Demikianlah pesona Anjungan Tukad Melangit ini akhirnya menjadi viral di dunia maya. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan karena penasaran. 

Hmmm… cerita yang sangat menarik sekali. Dan sangat positive.  Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan cerita ini langsung dari Bapak Wayan Lendra.Salut pada para pemuda di Banjar Antugan yang layak dikasih jempol untuk keputusan dan semangatnya menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. 

Saat di sana saya disuguhi minuman traditional Air Kelapa Muda Jeruk Nipis. Whuaa… minuman alami yang sangat segar, mengingatkan saya pada waktu kecil. Selain minuman traditional ini, di tempat itu juga ada dagang Tipat Santok -sejenis gado-gado traditional Bali yang rasanya selalu ngangenin. Mantap banget deh. 

Nah teman teman, barangkali ada yang punya rencana ke Bali dalam waktu dekat ini, ada baiknya mampir ke Anjungan Tukad Melangit untuk merasakan sensasi ketinggian alami yang disajikan oleh sebuah bentang alam yang indah. 

Yuk, kita berkunjung ke Bangli!

Loloh, Minuman Segar dan Sehat dari Bangli.

Standard

image

Kalau mampir ke Bangli, rasanya ada yang tidak lengkap jika tidak minum loloh. Loloh Bangli. Diantara pembaca, tentu ada yang bertanya-tanya, ” Loloh itu apa? “.
Nah… bagi yang belum tahu sedikit saya jelaskan bahwa loloh adalah minuman tradisional Bali yang memiliki khasiat pencegahan ataupun pengobatan dan perbaikan fungsi tubuh. Ada loloh untuk mencegah sariawan, ada loloh untuk mengurangi batuk, ada yang menurunkan demam, menghilangkan sakit perut, untuk menghilangkan bau badan, untuk mengurangi sakit karena rematik, loloh untuk memecah batu ginjal dan sebagainya.  Terbuat dari ekstrak daun-daunan, akar, kulit batang, bunga atau buah tanaman tertentu. Mirip dengan jamu kalau di Jawa.

Rasanya? Ya… yang namanya obat atau jamu,  wajarlah kalau rasanya biasanya agak pahit sampai sangat pahit.
Walaupun demikian ada juga lho beberapa loloh yang rasanya tidak pahit. Justru enak atau segar. Saking enaknya terkadang orang lupa kalau loloh ini sebenarnya memiliki khasiat pengobatan dan bukan semata pelepas dahaga.

Kemarin saya pergi ke Pasar Bangli dan sempat menemukan 3 buah loloh ini ditawarkan di pasar.

1/. Loloh Cemcem.

image

Loloh Cemcem adalah salah satu loloh khas Bangli. Sesuai namanya, loloh ini dibuat dengan cara meremas-remas daun Cemcem untuk mendapatkan ekstraknya lalu disaring dan dibuang ampasnya. Rasanya asam segar mirip rasa buah Kedondong. Cemcem (Spondias sp) adalah tanaman sejenis Kedondong tapi umumnya pendek seperti perdu dan biasa ditanam di pagar rumah, sawah atau tegalan.  Pohonnya tidak sebesar pohon kedondong. Ditanam orang untuk diambil pucuk daunnya yang masih muda dan berwarna hijau kemerahan.

Secara traditional, loloh daun Cemcem yang tinggi kandungan Vitamin C-nya ini dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Waktu kecil saya sering juga disuruh memetik pucuk daun cemcem ini dari pagar untuk dijadikan loloh atau untuk bumbu masak  pepes.

Selain sebagai loloh tunggal (hanya ekstrak daun cemcem saja), loloh cemcem juga sering ditambahkan ekstrak lain seperti misalnya daun dadap untuk membantu menurunkan demam, atau daun jarak untuk membantu mengurangi gatal kulit atau mencegah sariawan atau daun sirih untuk mencegah infeksi. Ada juga yang nenambahkan gula merah, atau kelapa muda dan sebagainya sehingga fungsi sebagai pemuas dahaganya semakin menguat.

Karena banyak dijual di Desa Penglipuran di Bangli, loloh Cemcem saat ini seakan ikut memperkuat citra Penglipuran sebagai desa traditional yang unik di dunia.

2/. Loloh Bungan Teleng.

image

Loloh cantik yang satu ini sebenarnya cukup unik. Karena sangat jarang dijual orang. Biasanya hanya dibuat sesekali di level rumah tangga. Jadi saya sangat beruntung karena tanpa sengaja menemukannya di pasar. Sesuai namanya loloh itu dibuat dari hasil perasan kembang Telang  atau yang di Bali disebut dengan Bungan Teleng.

Bunga Telang dikenal dengan khasiatnya sebagai obat mata. Orang tua di Bali sejak jaman dulu memanfaatkannya untuk mempertajam penglihatan. Ada yang menggunakannya langsung sebagai pencuci mata, ada juga yang menggunakannya sebagai loloh.

Untuk  obat haus, hasil perasan kembang telang dibubuhi dengan sedikit perasan jeruk nipis atau lemon plus gula batu. Wah…rasanya mantap. Sejuk dan menyegarkan.

Yang nenarik lagi adalah warna loloh ini. Ungu biru terang seperti warna bunganya.

3/. Loloh Kunyit.

image

Nah kalau loloh kunyit saya rasa sudah banyak orang yang tahu. Sama dengan jamu kunyit yang saya temukan di pedagang jamu Jawa yang keliling perumahan di Jakarta. Fungsinya sebagai antibiotik. Banyak dimanfaatkan para wanita untuk mencegah keputihan dan merawat tubuh dan mengurangi bau badan.
Kadang-kadang loloh kunyit juga dikombinasi dengan perasan asam dan atau daun sirih untuk menjaga kesehatan area kewanitaan.

Nah itulah cerita saya tentang beberapa dari jenis loloh yang ada secara turun temurun  dalam tradisi masyarakat Bali, khususnya di Bangli dan yang kebetulan kemarin saya temukan dijual di pasar Bangli.

Sebenarnya masih banyak jenis loloh lain lagi yang ada dalam tradisi masyarakat Bangli, tapi tidak umum diperjualbelikan. Seperti misalnya loloh don kayu manis untuk menenangkan alat pencernaan, loloh don sambilata untuk mengatasi infeksi dan penyakit kulit, loloh akah pule  untuk mengatasi infeksi pencernaan,  loloh don dapdap untuk menurunkan demam, loloh don sembung untuk menurunkan demam, batuk dan pilek, loloh don sembung bikul untuk mencegah batu ginjal, loloh biyu batu untuk  mengatasi panas dalam, loloh baas cekuh untuk meningkatkan stamina, loloh don beluntas untuk menghilangkan bau badan dan sebagainya masih banyak lagi.

Walaupun jaman dulu belum banyak dokter, rupanya para leluhur kita tetap mampu mempertahankan kesehatannya dengan obat-obatan tradisional semacam loloh ini.

Mampir ke Bangli yuuuk…

Mengenang Sekolahku Tercinta, SD II Kawan Bangli Yang Terbakar. Part 2.

Standard

image

Karena sebelumnya saya bercerita tentang betapa bagusnya kualitas ‘non akademis” di SD II Kawan Bangli yg pada jaman dulu bernama SD III Bangli, lalu ada yang bertanya bagaimana dengan kualitas akademisnya? Ada juga adik kelas yang meminta saya menceritakan tentang guru guru kami pada saat itu.

Inilah pengalaman yang saya alami selama bersekolah di sana.

Menurut saya, sekolah ini memiliki kwalitas akademis yang lumayan bagus jika dibandingkan dengan sekolah dasar yang lain pada saat itu. Sekolah kami juga aktif mengirimkan wakilnya di ajang kompetisi Siswa Teladan, ajang Cerdas Cermat dan ajang kompetisi lainnya bagi anak SD dengan menuai cukup banyak kesuksesan dari tahun ke tahun.

Pun berhasil mencetak alumni dengan kwalitas yang unggul. Tidak sedikit kakak kelas maupun  adik kelas saya yang memiliki prestasi bagus yang diakui di tingkat kabupaten, provinsi bahkan di tingkat nasional. Dan tentunya prestasi itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung oleh kwalitas guru yang handal.

Untuk itu saya ingin mengucapkan terimakasih saya yang amat besar kepada para Ibu dan Bapak Guru yang telah mendidik kami dengan susah payah. Dengan sangat sabar dan tulus. Saya ingin mengenang mereka di sini satu persatu.

Guru saya di kelas 1 dan kelas 2, bernama Ibu Rai. Beliau mengajarkan saya dasar-dasar budi pekerti yang baik. Disiplin yang baik dan taat pada tata tertib yang berlaku. Tubuh dan pakaian yang bersih, rambut yang rapi, kuku yang terpotong pendek dan bersih, masuk dan keluar kelas dengan tertib dan tepat waktu. Beliau juga yang memperkenalkan alphabet latin kepada saya sehingga saya bisa nembaca dan menulis. Dan juga sekaligus mengajarkan saya dasar- dasar aksara Bali ha na ca ra ka. Juga mengajarkan saya dasar-dasar ilmu berhitung, tambah, kurang, kali dan bagi. Beliau adalah seorang guru yang sangat sabar, baik, penuh perhatian namun juga sekaligus tegas dan disiplin.
Pada saat kelas satu saya hanya belajar 2 jam per hari. Mulai belajar pukul 7.00 pagi dan pulang pukul 9.00. Sedangkan saat kelas dua, kami masuk mulai jam 9.00 pagi dan pulang pukul 12.00.
Yang menarik untuk saya ceritakan di sini adalah bahwa pada jaman itu buku tulis/buku kertas belum ada. Jadi kami belajar dan latihan menggunakan batu tulis atau Lai. Sedangkan alat untuk menulisnya adalah Grip. Setiap kali latihan , ibu guru akan mengumpulkan Lai kita. Memberi nilai dengan kapur. Saya sangat senang, karena jika saya betul semua atau nilainya 100, saya akan tempelkan ke pipi saya. Angka 100 atau tanda betul semua itupun menempel di pipi. Lalu saya tunjukkan ke Bapak saya dengan bangga. Bapak saya tentu senang melihat saya selalu mendapat score 100 setiap saat. Setelah akhir kelas 2 atau awal kelas 3 barulah muncul buku kertas dan saya termasuk orang yang beruntung bisa mempelopori penggunaan buku kertas dan pensil di sekolah.

Sekarang kalau dipikir-pikir, belajar dengan lai itu sebenarnya sulit juga. Karena kita hanya punya satu  lai. Apa yang kita catat selalu kita hapus lagi. Tulis- hapus- tulis – hapus. Dibutuhkan otak yang sangat kuat untuk memahami dan menghapalnya – karena catatan itu sudah terhapus. Salut juga sama orang-orang jaman dulu yang sepanjang sekolahnya memakai batu tulis. Daya ingatnya tentu luar biasa.

Jaman itu juga belum banyak murid yang punya sepatu. Ke sekolah kami ya nyeker saja atau paling banter menggunakan sandal jepit. Saya juga punya sepatu. Tapi apa daya, karena sepatu pada jaman dulu adalah barang mewah, saya  hanya menggunakan sepatu saat berada di dalam kelas saja. Saat jam istirahat saya melepas sepatu. Demikian juga jika pulang. Sepatunya saya lepas, saya tenteng atau panggul di punggung saya, sementara saya nyeker ke rumah. Sayang sepatu. ..ha ha.

Suatu kali di hari kenaikan kelas, tidak ada pelajaran hari itu. Jadi saya hanya bermain di halaman sekolah bersama teman-teman. Tentunya dengan melepas sepatu. Tiba-tiba saya dipanggil Ibu Rai. Ooh.. dengan terburu-buru saya masuk ke dalam kelas. Sepatu saya ketinggalan di halaman. Ternyata saya mendapat ranking 3. Ranking pertama diduduki oleh teman saya  Komang Suarsana dan ranking ke dua oleh Putri Paramitha.  Sayapun dipotret dan tentunya…..tanpa sepatu!.

Saya sangat senang. Demikian juga Bapak Ibu saya. Itulah saat  pertama kalinya saya tahu ternyata di kelas itu ada ranking- rankingan. Kalau kita pandai, kita dapat juara. Saya ingin mendapat ranking satu. Tidak mau ranking 3!. Bapak saya tertawa. Kata bapak saya, “Kalau begitu  kamu harus berusaha!”.  Dan sayapun berusaha. Demikianlah di tahun berikutnya ranking saya naik bertahap hingga di kelas 4 akhirnya saya berhasil menduduki ranking pertama. Dan seterusnya hingga saya lulus. Selain itu saya juga senang karena berhasil membawa nama baik sekolah saat harus berkompetisi di ajang Siswa Teladan tingkat SD pada tahun 1976.

Guru kelas III saya bernama Ibu Puji. Ibu Puji adalah ibunda dari teman saya Putri Paramitha. Selain mengajar di kelas, Ibu Puji juga sangat terampil menjahit. Kelas 3 kami mulai belajar full. Dari pukul 7.00 -12.00. Di sini kami mulai belajar ilmu hitung yang lebih rumit. Juga berbahasa Indonesia dengan semakin rapi. Rasanya bangga juga bisa fasih berbahasa Indonesia. Karena jaman itu belum 100% orang di daerah saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan fasih. Namun demikian pelajaran Bahasa Bali juga semakin tinggi levelnya.
Seingat saya, saat di kelas 3 ini pada tahun 1974, dinding sekolah yang tadinya berbahan bedeg mulai diganti dengan dinding tembok secara bertahap.

Guru saya di kelas IV bernama Pak Suta. Beliau merupakan guru favorit saya. Sangat pintar mengajar. Karena beliau, saya bercita-cita ingin menjadi guru. Setiap kali bermain sekolah -sekolahan, saya sering berpura-pura menjadi guru. Membayangkan diri saya menjadi sosok sepintar Pak Suta guru saya.
Saya ingat bagaimana beliau menceritakan sejarah dengan cara yang sangat menarik. Kisah Mpu Gandring, Ken Arok, Tunggul Ametung dan Ken Dedes menjadi sangat menarik dan mudah diingat. Demikian juga kisah Raden Wijaya dan hutan tariknya. Juga semua mata pelajaran yang lain. Agama, Ilmu Bumi, ilmu alam, bahasa dan sebagainya dijelaskan dengan cara yang sangat menarik. Karena menceritakannya sangat menarik, membuat mudah bagi kami untuk mengingat dan menjawab.

Saat di kelas V, metode pembelajaran mulai sedikit berubah. Kami memiliki Guru wali kelas dan juga guru-guru mata pelajaran yang berbeda. Guru wali kelas saya di kelas V adalah seorang jago Matematika. Namanya Pak Banjar. Karena beliau jago, maka kamipun terbawa ikut-ikutan menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang paling menyenangkan.

Dan di kelas 6, kelas terakhir di sekolah itu, guru saya bernama pak Sutapa. Guru yang menurut saya sangat pintar dalam segala bidang,  walaupun terkenal keras dalam menerapkan disiplin kepada muridnya.

Guru guru lain yang juga mengajar pada saat itu tetapi tidak pernah menjadi wali kelas saya adalah Ibu Nengah Cenik, Pak Pegol dan Pak Sudena. Dan tentunya ibu Runih yang merupakan Kepala Sekolah kami.
Doa terbaik untuk para guru saya yang sangat mulia.

Sekarang, jika saya pikir balik, sungguh predikat Teladan sangat layak diberikan kepada sekolah saya itu.  System pendidikannya sangat baik. Menggabungkan materi akademis formal dengan muatan lokal dan nilai nilai kemandirian dan kewirausahaan.
Dengan kondisi perekonomian masyarakat yang tidak begitu baik pada jaman itu, setiap anak telah dibekali dengan ketrampilan yang mudah dilakukan dan mudah dijadikan uang. Sehingga separah-parahnya, jika ada murid yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena alasan ekonomi, terpaksa drop out, si anak sudah siap mencari nafkah dengan ketrampilan yang dimilikinya. Mulai dari mengelola kebun sayur, sawah, beternak kambing, membuat arang, sapu lidi, kemoceng dari bulu ayam, kesetan kaki, taplak meja, sarung bantal dan sebagainya.
Dengan bekal pendidikan mental dan budi pekerti yang sangat kuat, kami yakin kami mampu menghadapi setiap masalah dalam kehidupan yang harus kami jalani. Kami bisa. Kami siap menghadapi hidup dan tidak takut menggadapi kemiskinan. Kami bisa. Dan semua itu karena kwalitas pendidikan dasar yang sangat baik yang kami terima darimu.

Terimakasih guruku. Terimakasih sekolahku. Tak terhingga besarnya jasamu dalam kehidupanku.
Sekolah Dasar adalah tempat dimana seorang anak mendapatkan dasar-dasar pengetahuan dan dasar-dasar nilai kehidupan. Ibarat bangunan, jika fondasinya kuat akan menghasilkan bangunan yang sangat kokoh dan tetap kokoh bahkan pada saat bangunan itu harus menjulang tinggi.

Harapan saya semoga sekolah ini bisa dibangun kembali dengan lebih baik secepatnya, agar anak-anak bisa belajar kembali seperti sedia kala. Sementara waktu barangkali pemerintah membantu mencarikan tempat darurat untuk kegiatan sekolah. Tetap semangat dan jangan patah arang.

Bravo SD II Kawan Bangli!

Mengenang Sekolahku Tercinta, SD II Kawan Bangli Yang Terbakar. Part I.

Standard

image

Saya melihat foto  SD II Kawan, Bangli yang sedang terbakar ludes. Rasanya sangat sedih mengetahui sekolahku dilalap si jago merah. Tidak terbayang bagaimana dan di mana nantinya para murid-murid dan guru akan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar mereka. Walaupun saya juga percaya, pemerintah daerah dan setiap anggota masyarakat akan segera bahu membahu untuk mempercepat pembangunan kembali gedung sekolah ini.

Dulu bernama SD III Bangli.

Waktu saya kecil,sekolah ini bernama SD III Bangli. Barangkali karena jaman itu, sekolah dinamakan sesuai dengan nomor urut berdirinya d alam satu kecamatan, yaitu Kecamatan Bangli. Kebetulan Bangli adalah nama kecamatan sekaligus juga nama kabupaten.  Sekarang ini,sekolah diberi nama sesuai dengan nomor urut Desa tempat sekolah itu berada. Dan karena nama desanya  adalah Kawan, maka jadilah ia bernama SD  II Kawan, Bangli.Tapi apalah artina sebuah nama.Dulu sebelum saya masuk bahkan sekolah ini bernama SR III Bangli (SR= Sekolah Rakyat). Bagi saya, kenangan indah dan pelajaran serta ilmu yang saya timba dari sekolah inilah yang jauh lebih penting artinya.

Sekolah Yang Berdinding Anyaman Bambu.

Saya masuk ke sekolah ini pada bulan January tahun 1972. Saat itu, walau sudah berlantai semen, tetapi sekolah saya masih berdinding Bedeg (Bahasa Bali untuk anyaman bambu). Di setiap dinding tergantung gambar-gambar yang indah. Warnanya hitam putih. Ada berbagai gambar jenis-jenis burung beserta keterangannya. Yang paling saya ingat adalah gambar Burung Srigunting (Black drongo) karena sering saya amat-amati setiap jam istirahat.

Lalu ada lagi tulisan-tulisan  tangan Bapak/Ibu guru kami yang sangat indah yang berisi pepatah dan pesan-pesan baik kepada kami. Beberapa diantaranya masih saya ingat. “Pikir itu Pelita Hati“, mengajarkan kepada kami agar senantiasa menggunakan pemikiran kita dengan sebaik-baiknya setiap saat, agar hati kita tidak gelap gulita. Lalu ada tulisan “Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya” yang mengajarkan kami agar belajar dengan rajin agar cepat pintar.  Atau “Tak Akan Dua Kali Orang Tua Kehilangan Tongkatnya“. yang mengajarkan kami agar berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan masih banyak lagi.Kepala Sekolah kami pada jaman itu bernama Ibu Runih. Di mata saya belaiu adalah sosok yang sangat serius, berwibawa dan sangat disegani. Beliau juga yang memprakarsai berbagai proggram ketrampilan luar biasa bagi anak-anak didiknya, sehingga tidak heran sekolah kami digelari dengan SD Teladan.

Kebun Sayur dan Kotoran Sapi.

Tidak seperti sekolah-sekolah lain yang hanya memfokuskan diri pada pendidikan formal akademis, sekolah kami memberikan pendidikan formal akademis dan praktek kewira-usahaan sekaligus.

Sekolah tidak pernah membiarkan halaman depan dan sampingnya kosong menjadi lahan tidur atau hanya sekedar menjadi kebun bunga. Halaman Sekolah itu dijadikan kebun sayur yang menghasilkan. Setiap kelas memiliki lahannya sendiri-sendiri yang harus diolah. Ada kebun kelas 1. Kebun kelas 2. kebun kelas 3, dan seterusnya. Lalu setiap kelas dibagi menjadi 4 group yang masing-masing mendapat 1/4 lahan dari lahan kelasnya untuk dikelola. Kami diajarkan membibit sayuran. Menanamnya pada hari krida (hari Jumat), menyiramnya setiap hari dan memberinya pupuk kandang seminggu sekali. Tentu saja pupuk kandangnya kami bawa dari rumah. Biasanya kami bawa setiap hari Senin. Hari Minggunya biasanya kami bergerilya ke kandang-kandang sapi untuk meminta seember kotorannya yang sudah kering guna kami bawa ke sekolah. Sayuran yang paling sering kami tanam adalah Bayam, Pitsai (Sawi Putih) dan Kacang Jongkok (Kacang Buncis yang pohonnya pendek, bukan melilit). Saya ingat betul, bibit sayuran Pitsai saat itu baru saja memasuki Indonesia dan kami adalah salah satu yang berhasil membudidayakannya. Sisi  selatan sekolah yang berbatasan dengan Asrama Polisi Bangli juga ditanami dengan tebu, sehingga tetap bisa dipanen dan dijual pada waktunya. Di halaman utara, di depan kantor kepala sekolah, ditanam pohon Markisa Besar, (Giant Granadilla) yang merambat. Buahnya mirip melon kalau matang sangat empuk dan rasanya sangat manis menggiurkan. Bunganya juga cantik berwarna ungu.

Sawah Di Belakang Sekolah.

Di belakang sekolah kami, ada sebuah gang sempit yang bisa menjadi jalan pintas ke rumah saya. Di sebelahnya adalah sawah yang cukup luas milik sekolah kami. Siapa yang mengolah sawah? Kami tentunya. Saya ingat ketika pertama kali belajar menanam padi, menginjakkan kaki di lumpur, malamnya saya tidak bisa tidur. Kaki dan betis saya sangat gatal dan pedih. Sementara tulang punggung saya sakit karena seharian bungkuk menanam anakan padi satu per satu sambil mundur di dalam lumpur. Pengalaman itu membuat saya jadi mengerti betapa beratnya hidup menjadi petani. Karena saya pernah menjalaninya sendiri. Apalagi jika harga gabah anjlok sem.entara harga pupuk  melambung. Makin miris jadinya.

Kambing Peranakan Etawa.

Pada tahun 1974, saat itu saya kelas 3, ada berita baru. Indonesia sedang mengembangkan peternakan kambing. Bibit kambing PE (Peranakan Etawa)memasuki pasar Indonesia termasuk Bali dan Bangli di dalamnya. Sekolah saya tentu tidak mau ketinggalan. Kamipun memelihara kambing. Siapa yang memeliharanya? Kami juga. Setiap hari ada regu yang bertugas, memberi makan kambing dan membersihkan kandangnya. Memberi makan kambing biasanya kami lakukan sore hari sambil bermain-main dengan teman-teman. Kami memotong dahan pohon Dadap atau Berere (karena dua jenis tanaman ini sangat disukai kambing), mengambil sepeda lalu ke sekolah memeberi makan kambing dan sekalian lanjut main sepeda keliling-keliling lapangan Kabupaten. Saya tahu bagaimana caranya beternak kambing.

Kerajinan Pohon Kelapa, dari Arang Batok hingga Kesetan.

Jaman dulu, pohon kelapa sangat banyak tumbuh di tempat kami. Guru-guru mengajarkan bagaimana caranya memanfaatkannya. Kami disuruh membawa tempurung kelapa, atau lidi, atau sabut kelapa dari rumah setiap hari Senin. Untuk apa?
Tempurung kelapa ini nantinya akan dibakar  oleh murid-murid pria di dalam lubang yang dibuat dangkal di dalam tanah dan dijadikan Arang Batok.

Lidi biasanya kami ambil dari limbah para wanita dewasa yang membuat sajen menggunakan busung (janur = daun kelapa yang masih muda warnanya putih) atau selepaan (daun kelapa yang sudah lebih tua, warnanya hijau tua). Biasanya yang diambil hanya daun janurnya saja, sedangkan lidinya dibuang. Nah..daripada dibuang-buang lebih baik kami kumpulkan dan bawa ke sekolah untuk kami jadikan sapu lidi. Kami diajarkan bagaimana caranya membuat Sumpe. (Sumpe = gelang sapu lidi yang terbuat dari anyaman pelepah kelapa.
Kami juga sering meminta sabut kelapa yang menjadi limbah dapur dan dibuang (jaman dulu belum ada santan instant atau mesin parutan kelapa, setiap rumah tangga mengolah kelapanya sendiri, jika ingin masak dengan kelapa/santan). Nah..daripada terbuang percuma, kami minta sabut kelapanya lalu kami bawa ke sungai,getok-getok dengan kayu di atas batu, sehingga tinggal seratnya saja,lalu kami jemur. Hari Senin kami bawa ke  Sekolah untuk diperiksa ibu guru dan dikumpulkan sesuai dengan tingkat gradasi warnanya (kuning muda – coklat kemerahan). Untuk apa? Untuk dipintal oleh murid-murid pria menjadi tali sabut kelapa. Selanjutnya bisa dibuat keset ataupun tali tambang.

Menyulam dan Merenda.

Jika murid-murid pria diajar dan ditugaskan membuat arang dan menganyam kesetan, murid wanita tidak kalah terampilnya. Kami diajarkan menyulam dan merenda. Mulai dari membuat tatakan gelas, membuat bantal kursi, membuat taplak meja, sprei, hingga membuat baju. Kami diajarkan bagaimana menggambar design, bunga-bunga, hewan dan sebagainya untuk  ditimpa dengan kertas karbon di atas kain.Lalu kami mulai menjahit satu per satu dengan stitch-stich yang sesuai. Mulai stitch batang, stitch penuh, stitch silang, feston dan sabagainya. Lalu dibawa kemana semua hasil karya kami itu?.

Koperasi Sekolah Kami.

Kami memiliki koperasi yang mengadakan bazar penjualan dan mengundang para orang tua murid dan masyarakat sekitar setiap tahun pada saat Kesaman (kenaikan kelas). Tentu saja sangat  banyak yang dipamerkan dan dijual di sana. Mulai dari hasil panen, sayur-sayuran, tebu, beras, keset,sapu lidi, arang batok, taplak meja, sarung bantal, sprei, renda dan sebagainya.

Selain bazaar tahunan, sekolah kami juga sering melakukan lelang hasil panen. Saya nggak tahu persis uangnya digunakan untuk apa karena waktu itu saya masih kecil dan tak terpikir soal uang, tapi saya pikir tentu uang itu digunakan untuk meningkatkan fasilitas sekolah, seperti menambah koleksi buku-buku di perpustakaan, menambah modal koperasi sekolah dan lain sebagainya.

Koperasi juga menjual penganan kecil seperti permen dan kue-kue. Dan anak kelas 5 bergiliran bertugas menjadi penjaganya saat jam istirahat. Sekalian belajar berdagang dan menghitung uang. Tidak hanya sampai di sana, pada musim Pekan Olah Raga dan Seni, saat ada murid yang bertanding mewakili sekolah, murid yang lain disuruh datang sebagai supporter atau diajarkan menjajakan dagangan kepada murid-murid sekolah lain yang datang untuk bertanding ataupun menjadi penggembira di laga Porseni itu di lapangan kabupaten.

Sekolah saya benar-benar mengajarkan dan melatih  sejak kecil bagaimana kita harus bekerja  dan beusaha keras jika ingin menghasilkan sesuatu. Dan saya rasakan sangat besar manfaatnya sekarang.

 

Bangli: Jukut Tongkol, Sayuran Gurih Dan Unik.

Standard

imageKalau ada masakan yang paling saya kangeni saat ini adalah Jukut Tongkol alias Sayur Kecambah Kacang Kara dari Bangli, Bali – kampung halaman saya tercinta. Dan sekarangpun setahu saya pedagangnya tinggal 1 orang saja. Dan jika pedagang ini tidak membuat Jukut Tongkol lagi, saya khawatir makanan ini hilang dari peredaran pasar, walau barangkali di dapur-dapur penduduk masih ada masyarakat yang membuatnya sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah mengapa sayur ini jarang ada yang menjual, padahal rasanya sangat enak dan gurih serta banyak orang yang menjadikannya sayur favorit?.
Saya pikir masalahnya adalah di bahan baku. Yaitu Tongkol itu sendiri. Jika kita mudah membeli Kecambah kacang hijau atau kecambah kacang kedelai di pasar, tidak demikian halnya dengan Tongkol. Tongkol atau Kecambah Kacang Kara, tidak umum diperdagangkan di pasar. Jadi, jika seseorang ingin membuat Jukut Tongkol, maka ia sendiri harus membuat kecambah tongkolnya sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana proses memasak Jukut Tongkol agar didapatkan cita rasa yang unik, gurih dan sedap?

2016-02-02-23.36.17.png.pngMenurut keterangan begini nih cara memasaknya:
1/. Tongkol dibersihkan dengan baik. Dipotong ujung akarnya.
2/. Tongkol direbus dengan air kunyit untuk memberi warna kuning dan menjamin bebas dari penyakit. Setelah matang, tongkol ditiriskan.
3/. Bumbu yang terdiri atas Bawang Putih, Kencur dan Bawang Merah plus sedikit cabe dan garam diulek lalu digoreng. Ditambahkan santan dan sedikit tepung beras jika ingin kental. Dimasak hingga matang.
4/. Tongkol  diurap dan diaduk rata dengan bumbu.
5/. Dihidangkan dengan ditaburi bawang goreng, cabai dan kelapa goreng.

Nah…begitu kurang lebihnya.  Lebih mantap lagi kalau dimakan dengan nasi panas -panas. Mantap deh.

Untuk yang penasaran, yukkita berkunjung ke Bangli. Di Pasar Kidul, kita masih bisa menemukan dagangnya pada saat ini. Kita nikmati kuliner Bangli yang unik dan langka ini.

Catatan: Gambar adalah milik Putu Suiraoka Gaing

Songan, Kampung Halamanku Ketika Aku Pulang.

Standard

image

Ini sebetulnya hanya catatan kecil dari acara pulang kampung sehari. Sangat singkat. Sangat padat.  Tak sempat mampir ke mana-mana. Hanya pulang ke desa Songan di Kintamani, Bangli. Jadi sebenarnya tidak ada sesuatu yang aneh dan baru bagi saya.

Walaupun demikian, begitu memasuki wilayah kaldera dan menyaksikan hamparan danau biru nan luas beserta gunung Batur di sebelahnya, tetap saja saya merasa takjub terkagum-kagum akan keindahannya.

Berdiri di hulu danau dan melihat pemandangan desa yang sangat memukau, membuat saya berkali kali mengucapkan rasa syukur atas anugerahNYA. Ikan-ikan kecil berkerumun di bawah permukaan air dekat tepian danau.  Sesekali meloncat dengan riangnya, membuat cipratan kecil yang berkilau diterpa sinar matahari.

2016-01-13-07.50.09.jpg.jpegBurung -burung bangau beterbangan dan hinggap di atas flora mengambang di permukaan danau sambil mencari makan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Lalu ada keramba ikan. Nelayan yang asyik di atas perahunya. Dan ladang ladang sayur yang subur. Pemandangan danau dengan latar belakang bukit bukit yang hijau di satu sisi dan atau Gunung Batur yang kemerahan, membuat desa saya itu sedemikian indah bak lukisan dari negeri entah di mana. Saya mengambil beberapa kali gambar dengan kamera ponsel saya untuk mengenang wajah desa  ketika saya pulang kali ini.

Di sini kehidupan terasa berjalan tenang dan damai. Tanah yang begitu subur, diperkaya dengan berbagai mineral dan nutrisi yang dihadiahkan oleh debu vulkanik Gunung Batur membuat daerah itu menjadi kawasan pertanian sayur mayur dengan hasil yang melimpah di setiap musimnya. Tinggal sedikit usaha menyingsingkan lengan baju, olah tanah dan rawat tanaman, hasil panen pasti akan segera menghapus kelelahan. Begitu suburnya tanah di area ini, walaupun di sana-sini juga dihiasi dengan batu lahar hasil letusan Gunung.

image

Begitu juga danau yang biru. Seolah tak rela penduduknya kelaparan, tak hentinya menyediakan ikan yang berlimpah. Jika lapar, tak punya lauk untuk di masak, tinggal ambil pancing atau jala. Kami menangkap ikan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Demikianlah danau dan gunung Batur menyayangi orang-orang di kampung kami. Semoga setiap orang menyadari dan hanya mengambil secukupnya dari apa yang dianugerahkan tanpa harus merusak lingkungan sekitarnya.

image

Setiap orang memiliki kampung halaman dan mencintainya. Demikian juga saya. walau akhirnya tinggal jauh, rasanya memang tiada tempat yang lebih damai selain di kampung halaman sendiri. Semoga desaku selalu tenang dan damai.

Bangli: Sarcophagus Dukuh Prayu Bunutin.

Standard

Wisata Sejarah- Bangli.

Melihat ketertarikan saya akan benda peninggalan sejarah Sarcophagus yang berada di desa adat cekeng, Sulahan kecamatan Susut, di Bangli, Komang Karwijaya bercerita bahwa sebenarnya Sarcophagus tidak hanya ditemukan di desa Cekeng saja lho, tapi di beberapa desa yang lain juga di Bangli.  Salah satunya adalah di desa Bunutin. Tepatnya di Dukuh Prayu. Nah, barangkali diantara para pembaca ada yang sama dengan saya, yakni memiliki ketertarikan untuk melakukan wisata sejarah, yuk kita merapat ke dukuh Prayu di desa Bunutin, Bangli.

Tentu pertanyaan pertama saya adalah, sama nggak sih Sarcophagusnya? Karena kemungkinan besar sarcophagus-sarcophagus itu berasal dari kurun waktu yang sama,  kurang lebih sarcophagusnya serupa lah.  Tetapi saya mendapatkan keterangan yang sangat menarik juga tentang sarcophagus di dukuh Prayu ini.

Total sarcophagi ada 9 buah yang letaknya sesuai dengan mata angin.  Utara, Timur laut, Timur, Tenggara. Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut dan  di Tengah. Saya tidak mendapatkan informasi lebih jauh mengapa letaknya harus sedemikian rupa di sembilan arah mata angin?. Mirip posisi sembilan mata angin dari Dewata Nawa Sanga. Akan tetapi saya tidak yakin apakah ini ada kaitannya dengan Dewata Nawa Sanga, mengingat sarcophagi ini diduga sudah ada sejak jaman pra Hindu.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Menurut keterangan sebagian besar sarcophagus-sarcophagus itu pada saat ini tertutup tanah dan di atasnya berdiri pura. Yang lumayan terbuka dari tutupan tanah adalah yang posisinya di Timur. Sarcophagus ini masih kelihatan menempel di dinding tanah. Barangkali karena saking tuanya telah tertimbun tanah entah dari bekas letusan gunung ataupun humus yang memadat. Yang jelas sebagian masih tertutup tanah.  Sarcophagus kelihatan cukup utuh. Masih terdiri atas  bagian bawah (palungan) dan penutup (lid).  Hanya saja ada lubang di tengahnya. Diduga barangkali karena jaman dulu orang-orang yang pertama kali menemukan tidak begitu paham apa itu sarcophagus lalu penasaran ingin tahu ada apa di dalamnya. Mereka mungkin menemukan ternyata ada sisa-sisa kerangka manusia beserta  pernak pernik bekal kuburnya. Lalu karena takut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, masyarakat lalu cenderung membiarkan sarcophagus itu tetap berada di tempatnya dan setengah tertutup tanah. Bahkan membuat pura kecil di dekatnya untuk melakukan upacara mendoakan roh sang pemilik sarcophagus.

Yang menarik, sama dengan sarcophagus yang di Cekeng, sarcophagus inipun memiliki tonjolan pintu di depannya dengan ukiran yang menyerupai kura-kura. Sayangnya tonjolan yang bagian bawahnya kelihatan sudah putus.

Sarcophagus yang di Timur Laut kondisinya memprihatinkan karena pecah. Barangkali karena kurangnya pemahaman masyarakat jaman dulu yang pertama kali menemukan benda bersejarah ini sebagai sarcophagus.

Berikutnya saya juga diinformasikan bahwa yang berada di Tenggara, penutupnya juga sudah tidak ada.  Hanya tinggal palungan bagian bawah yang sudah kosong. Karena kosong dan posisinya tengadah, serta berada di alam terbuka, tentunya pada musim hujan, sarcophagus ini menjadi tempat penampungan air. Konon jaman dulu masyarakat memanfaatkannya untuk air minum ternak babi, dengan harapan ternaknya cepat hamil dan beranak. Jadi dalam hal ini sarcophagus dikaitkan dengan pembawa kesuburan. Tidak mengherankan, karena di beberapa tempat keberadaan sarcophagus juga dikaitkan dengan kesuburan sawah dan tanaman ladang juga.

Kemudian sarcophagus lain yang juga menarik ceritanya adalah yang posisinya di utara. Konon jaman dulu dari mata kura-kura hiasan tombol sarcophagus ini keluar minyak. Nah, bagaimana penjelasannya – saya kurang paham. Tetapi tentunya itu semua sangat menarik untuk diteliti lebih jauh.

Nah, itu adalah informasi tentang sarcophagus-sarcophagus yang ada di dukuh Prayu, desa Bunutin di Bangli, Bali. Saya ingin sekali ke sana. Ingin sekali melihat langsung dari dekat. Sayang saat ini masih belum punya kesempatan.

Para pembaca yang barangkali sedang berada di Bali atau sedang merencanakan liburan di Bali, bisa memasukkan desa Bunutin di Bangli sebagai salah satu tujuan wisata. Agar mengenal Bali dengan lebih dekat lagi.

Yuk kita berkunjung ke Bangli!.Kita pelajari sejarah dan cintai tanah air kita!.

Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.

Telor Dadar Bangli.

Standard

image

Ngobrol di group teman teman SMA Bangli selalu menyenangkan. Banyaklah yang diobrolkan. Mulai dari kabar teman-teman, keluarga, acara dan upacara, pingpong, joke hingga ke masakan.

Nah sore tadi entah bagaimana mulainya kami ngobrol soal masakan traditional Bali. Bukan rahasia lagi kalau kaum pria di Bali banyak yang lebih jago masak ketimbang para wanitanya. Dan sudah pasti diantara para pria teman-teman kami yang  ada di grup itu ada yang jago masak.

Saya memanfaatkan kesempatan untuk dibimbing membuat sate lilit yang enak. Secara kedua anak saya adalah penggemar sate lilit Bali. Namun sayangnya teman saya itu hanya mengatakan kuncinya ada pada cara mengadonnya. Dan agar menempel baik di tangkai sate, tekanan tangan saat menempelkan bahan sate harus pas sehingga hasil dan bentuknya indah dan mulus. Wah…saya masih tetap tidak tahu clue-nya.

Lalu ia memberi resep sederhana telor dadar/telor goreng yang enak. Sepintas lalu rasanya tidak ada yang baru. 2 butir telor dikocok dengan rajangan halus bawang merah (4 siung), bawang putih (1 siung), 1 batang daun seledri, sekuku jahe, selembar daun jeruk, cabe rawit nerah yang dibuang bijinya (4 buah) dan garam secukupnya. Lalu apanya yang berbeda? Penggunaan rajangan jahe dan daun jeruk. Itu yang membuatnya berbeda.

Merajang bahan-bahan ini harus halus. Dan telor dikocok agak lama hingga benar benar tercampur.

Panaskan sedikit minyak dalam wajan, gerakkan ke seluruh permukaan penggorengan untuk mencegah lengket. Sebenarnya sih terserah mau digoreng atau didadar. Tergantung selera. Intinya masak di atas api kecil hingga matang dan kekuningan.  Angkat telor. Hidangkan di atas piring saji.

Nah… saya pikir ini sesuatu yang mudah dan cepat dibuat. Mengapa tidak dibuat saja? Saya lalu memeriksa apa saja yang ada di dapur. Semuanya ada. Kecuali daun jeruk.  Baiklah untuk kali ini saya tidak pakai daun jeruk dulu. Tapi saya ada jahe.

Ternyata setelah saya coba enak banget. Bahkan wanginya saat mendadar saja sudah menggoda. Rasanya agak hangat-hangat khas begitu. Mungkin karena pengaruh sedikit jahe di dalamnya. Juga mengingatkan akan rasa telor dadar masa lalu di kampung halaman saya di Bangli. Makan dengan nasi hangat-hangat tentu lebih enak lagi.

Nah…saya kasih lah masakan ini dengan nama Telor Dadar Bangli.

Itulah salah satu guna teman. Berbagi resep masakan. Terimakasih ya teman…

Ayam Be Keren, Masakan Ayam Traditional Bali Yang Unik Dari Bangli.

Standard

ayam keren 1Siap Be Tutu alias Ayam Be Tutu dari Bali! Tentu banyak diantaranya yang sudah pernah mencoba. Karena masakan berbahan dasar ayam itu sekarang tidak hanya dimasak di dapur-dapur penduduk di Bali, tetapi juga mulai banyak rumah makan yang menghidangkannya sehingga pelancongpun banyak yang bisa menikmati masakan traditional ini. Baik yang kuah maupun yang digoreng.

Selain Ayam Betutu, Bali juga memiliki masakan traditional berbahan baku ayam yang sangat istimewa. Namanya Be Siap Keren alias Ayam Be Keren (kedua huruf e dibaca seperti membaca huruf e pada kata dengan).

Ayam Be Keren adalah salah satu jenis masakan traditional Bali dimana ayam yang dibumbuin serupa dengan Ayam Betutu namun dibungkus dengan pelepah daun pinang alias Upih lalu dibakar dengan cara khusus dengan menggunakan sekam dan sabut kelapa. Rasanya sangat lezat, empuk dan gurih dengan wangi bumbu yang mengering karena pembakaran dalam upih.

Secara umum, Ayam Be Keren ini hanya dimasak khusus saat hari raya ataupun saat ada upacara.  Sangat jarang sekali. Saya ingat saat saya  kecil, ibu saya juga selalu memasak khusus Ayam Be Keren ini sebagai hidangan istimewa pada hari raya. Mengapa jarang? Saya tidak tahu sebabnya. Tapi saya menduga karena proses pembuatan masakan Ayam Be Keren ini sedemikian ribetnya.  Setelah saya besar, saya mulai tahu bahwa ternyata masakan Ayam Keren ini memang merupakan tata cara masak traditional yang diwariskan secara turun temurun di dapur-dapur penduduk di Bangli sejak jaman dulu. Sayang sekali saat ini hanya tinggal sedikit orang yang bisa memasak Ayam Be Keren ini dengan cara yang baik dan benar.

Ibu Agung Sugantini, BangliNamun demikian masih sangat beruntung ada Ibu Agung Sugantini dari Puri Kelodan Bangli  yang meneruskan tradisi membuat Ayam Keren ini, melestarikannya dan mengembangkannya sebagai bisnis. Sehingga masyarakat yang sudah tidak bisa lagi cara memasak Ayam Be Keren ini (atau tidak punya waktu untuk membuatnya) kini tetap bisa menikmati Ayam Be Keren ini.

Dan sangat beruntung sekali,  minggu yang lalu saya sempat berkunjung ke rumahnya dan sempat berbincang langsung dengan Ibu Agung sendiri. Ada foto-foto Bu Agung ketika muda. Ada juga foto Bu Agung dengan ibu-ibu pejabat. Termasuk ada juga fotonya dengan Ibu Megawati Sukarnoputeri.  Saya senang sekali karena Ibu Agung menerima saya dengan sangat ramah.

Bu Agung bercerita bahwa beberapa pakar tata boga sudah sempat mengunjungi rumahnya  seperti misalnya Pak William Wongso. Demikian juga beberapa station TV, bahkan station TV luar pernah meliput cara memasaknya.

Be Keren 1

Saya bahkan diajaknya untuk melihat-lihat ke dapur.  Dan benar! Masak Ayam ini memang ribetnya bukan main. Tak heran rasanya sangat lezat.  Nah bagaimana memasaknya?

Pertama, ayam satu ekor utuh dibersihkan, lalu diberi bumbu Basa Gede yang diulek (Basa Gede =Bumbu Besar dalam masakan traditional Bali yang terdiri atas Bawang merah, bawang putih, cabe, garam, lengkuas, kunyit, jahe, kencur, ketumbar,merica, tabya bun, daun salam, terasi).  Berikutnya Ayam yang telah dibumbui ini dibungkus dengan rapi dengan menggunakan Upih (pelepah daun pinang). Mengapa harus dibungkus rapat-rapat?

Membungkus rapat-rapat ayam beserta bumbunya  membantu memastikan bahwa aroma dan rasa bumbu tidak menghilang saat proses memasak, namun tetap tertinggal dan meresap ke dalam daging ayam- jelas Ibu Agung.

Be KerenLalu pertanyaan berikutnya,”Mengapa pembungkusnya harus Upih? Mengapa bukan daun yang lain saja-misalnya daun pisang?“.   Bu Agung menjelaskan bahwa secara turun temurun yang digunakan untuk membungkus Ayam Be Keren selalu Upih. Tentu nenek moyang kita punya alasan mengapanya. Pertama karena Upih adalah pembungkus makanan traditional yang tahan api. Sehingga jika dimasukkan ke dalam tungku sekam, ia tidak akan mudah terbakar hingga ayam didalamnya mencapai tingkat kematangannya dengan baik.

Kedua, Upih sangatlah lentur, sehingga tidak mudah sobek dan  tahan bocor. Hal ini membantu mempertahankan aroma bumbu agar tidak menguap keluar.  Selain itu, saat dibakar,  pelepah pinang juga ikut memberikan cita rasa harum yang istimewa dari Ayam Be Keren yang tidak bisa ditemukan pada jenis masakan lain.

Selain cara dan bahan pembungkusnya yang berbeda dan unik, cara memasak Ayam Be Keren juga sangat unik.  Setelah dibumbui dan dibungkus dengan upih, ayam dimasak dengan cara membakarnya di atas tungku sekam, lalu dieram di dalam paso tanah liat lalu dikubur lagi dengan sekam dan dibakar dengan menggunakan sabut kelapa. Itulah sebabnya mengapa masakan ini disebut dengan nama Be Keren, karena keren maksudanya adalah kerem,mengeram. Tentu saja tanah liat, sekam dan sabut kelapa ini juga memperkaya cita rasa ayam Be Keren ini.

Ayam dimasak selama 15 jam hingga bisa dikatakan matang dengan baik. Begitulah jaman dulu orang tua di Bangli memasak Ayam Be Kerennya yang lezat. Astaga! Bener saja, setelah dimasak selama 15 jam, ternyata Upih itu tidak terbakar habis, walaupun sekam telah menjadi abu. Kini Bu Agung tetap mempertahankan tata cara traditional ini dalam memasak Ayam Be Keren.

Saya sempat bertanya kepada Ibu Agung apakah Ayam Be Keren ini tidak bisa dimasak denga presto saja agar lebih cepat matang dan empuk? “Boleh saja. Tetapi cita rasanya akan jauh menyimpang. Karena tidak dimasak sesuai dengan yang seharusnya” jelas Ibu Agung.

Saya salut sekali dengan usaha Ibu Agung Sugantini untuk melestarikan resep dan tata cara memasak traditional warisan para ahli memasak di Bangli. Semoga kuliner unik  dari Bangli ini  bisa terus dilestarikan dan dikembangkan.