Tag Archives: Bayam

Kali Ini Bukan Tomat Lagi. Tapi Bayam. 

Standard

Ah, jangan minta angpao dari Bu Dani. Ntar dikasihnya tomat“. Gurau seorang teman saat beberapa waktu yang lalu saya mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Ha ha ha. Saya tertawa geli mendengarnya yang disusul oleh derai tawa teman teman saya yang lain. Tentu tahu dari mana datangnya, mengapa teman saya itu berkomentar seperti itu. Pasti karena belakamgan ini saya sering memposting status atau photo photo tomat. Jadi tomat seolah sudah menjadi symbol perwakilan diri saya. Ha ha.

Nah biar lebih beragam dan tidal melulu tentang tomat, kali ini saya memposting tentang sayuran lain saja. Bayam. Mengapa bayam? Begini ceritanya nih…

Saat ini saya di sebagian instalasi hidroponik saya sedang ditanami bayam. Sebenarnya sudah sempat dipanen sekali. Tapi karena memanennya dengan dipotong dan bukan dicabut, cabang cabang kecil yang tertinggalnyapun akhirnya tumbuh lagi dan 2 minggu kemudian menjadi bayam seukuran yang layak di panen. 

Entah karena kesibukan atau apa, lha saya lupa memanen bayam bayam baru itu. Ada 2 box yang sudah kepalang menjadi berbunga. Tentu nggak mantap lagi jika dipanen dan dijadikan sayur. 

Bayam Dapur Hidup.

Untungnya masih ada sebagian yang masih sangat layak panen.
Ini dia hasil panen bayam saya pagi ini. Lumayan ya. Seger seger. Setidaknya lebih seger dari yang di tukang sayur. 

Bayam Dapur Hidup

Memang punya Dapur Hidup itu nggak pernah ada ruginya. 

Advertisements

Dunia Pinggir Kali: Bayam Liar Yang Segar.

Standard

 

2015-12-13-22.15.52.jpg.jpegSudah lama saya tidak bermain ke tepi kali belakang rumah. Kesibukan pekerjaanlah yang membuat begitu. Nah..mumpung agak senggang, saya memanfaatkan kesempatan.

Rupanya tetangga saya sudah selesai merenovasi rumahnya. Dan juga sekaligus memperbaiki pagar tepi kali yang mulai doyong. Temboknya tinggi juga. Untungnya masih dibuatkan pintu sehingga saya bisa nerobos keluar pagar jika ingin mengamati kehidupan burung-burung liar. Whuiii!!. Bantaran kali sekaligus juga sudah dibersihkan. Terimakasih tetangga!.

Rumput-rumput liar dicabutin dan sampah dibakar. Tanah di bantaran kali jadi lumayan terang. Rumput Benggala sudah tidak ada. Pohon jarak, pohon lamtoro dan pohon pisang ditebang. Tanaman oyong yang sebelumnya merambat di sana juga sudah tidak ada. Terang benderang!. Sebagian tanah masih kelihatan gundul tanpa penutup. Tanah di sekitar sini warnanya agak merah.

Karena hujan turun, rupanya biji-biji rerumputan dan tanaman mulai berkecambah. Ada banyak anak-anak tanaman baru. Senang melihat bantaran kali seperti ini. Sebentar lagi,  anak-anak tanaman dan rumput ini tentu akan tinggi lagi. Musim hujan membuatnya menjadi sangat subur. Selain di bantaran kali ini sangat jarang orang lewat. Tanaman-tanaman ini akan liar dan merajalela tanpa seorangpun yang peduli, hingga populasinya dibatasi oleh pertumbuhan mereka sendiri.

Agak ke sana saya melihat banyak rerumputan mulai tumbuh dan ada banyak sekali anakan bayam liar di sela-selanya. Puluhan jumlahnya. Daunnya besar besar, lebar dan subur. Wah…sebentar lagi tentu banyak ulat yang akan datang tergiur oleh kegendutan pohon-pohon bayam ini. Bayam-bayam itu menyebar di area sekitar 2 meter persegi.  Ya…saya ingat sebelumnya di sana ada pohon bayam liar yang besar dan berbunga banyak. Rupanya saat dibersihkan biji-bijinya yang halus sempat menyebar di situ. Sekarang tumbuh dan mulai besar. Sebentar lagi tentu akan tumbuh bunga.

Selain daunnya yang lebih lebar-lebar, bayam jenis ini rasanya jauh lebih enak dari jenis bayam cabut. Jaman dulu, sebelum jenis bayam cabut diperkenalkan di pasar,saya selalu menanam jenis bayam ini yang sekarang menjadi liar karena tidak umum dibudidayakan lagi.

Sebelum keduluan ulat, maka bayam itu saya petik sebagian. Saya ambil daunnya yang lebar-lebar saja.Lumayan saya mendapat sekeranjang penuh daun bayam liar segar. Bisa buat masak 2-3 kali.

Rejeki dari pinggir kali.

Urban Farming: Bayam – Berpacu Dengan Ulat.

Standard

bayam 3Berkebun sayuran,  rasanya tidak lengkap jika tidak menanam Bayam.  Bayam (Amaranthus sp) adalah sayuran daun yang barangkali menempati ranking ke dua yang saya sukai setelah kangkung. Mungkin karena bayam ini sering dijadikan campuran Jukut Kables /pelecing, Tipat Santok (sejenis Gado-Gado ala Bali) ataupun Urab Bali yang sering saya makan semasa kecil. Itu sebab mengapasaya jadi suka bayam.

Jadi, bayam sudah pasti perlu saya tanam sebagai bagian dari proggram “Dapur Hidup” saya.  Mengingat lahan yang sempit, tentu saja jumlahnya sangat terbatas ya. Cuma beberapa polybag saja. Tapi jika nanti panen, cukuplah kira-kira buat sekali masak.

Bayam ini saya semai dari bijinya yang sangat kecil-kecil sekecil telor kutu. Cukup cepat tumbuhnya. Hampir berimbanglah dengan kecepatan tumbuh biji jenis sawi-sawian. Setelah tumbuh dipersemaian, begitu daunnya mulai berjumlah 4 lembar, saya mulai memindahkannya ke polybag satu per satu. Tak berapa lama, tumbuh dan berkembanglah tanaman itu.

????????????

Ulat kecil di balik daun bayam.

Sejak niat bertani sayuran (maksudnya di halaman), saya memutuskan untuk tidak menggunakan pestisida sama sekali. Hidup lebih sehat dengan sayuran tanpa pestisida, bukan? Akibatnya, setiap bangun pagi saya perlu melototin daun-daun tanaman kesayangan saya agar jangan sampai dimakan ulat atau diserang kutu putih. Memang agak susah sih. Karena jika halaman rumah penuh tanaman, dengan sendirinya akan mengundang kupu-kupu datang untuk sekedar singgah atau bahkan diam-diam bertelor di balik daun tanaman kita. Itulah yang terjadi dengan tanaman bayam saya.

Yang namanya bayam, daunnya sangat empuk. Tentu sangat menggiurkan bagi para ulat. Rasanya kok saya jadi balapan ya, cepat-cepatan dengan ulat. Siapa yang duluan bisa memakani daun empuk dan lezat hijau royo-royo ini. Saya atau ulat? Waduuuh!. Sebenarnya bayam-bayamini belum cukup besar untuk dipanen.Jadi sayang rasanya  jika gara-gara ulat,  sayuran ini saya panen sebelum waktunya.  Jadi untuk tahap awal saya coba tanggulangi dengan hanya menggunting daun-daun yang rombeng akibat gigitan ulat itu. Berharap sekalian ulatnya juga nangkring di daun yang saya potong itu.

Bayam 5Walaupun semua daun daun yang rombeng sudah saya gunting dan buang, eh..seminggunya kemudian masih ada lagi daun di tanaman bayam lain yang berlubang-lubang digerogoti ulat.  Saya mulai memeriksa tanaman itu satu per satu. Daunnya helai demi helai. Memang ada beberapa ekor ulat kecil berwarna hijau yang bersembunyi di balik daun-daun bayam itu. Entah ada kupu-kupu lain lagi yang bertandang saat saya sedang tidak di rumah, atau kah seekor dua ekor sisa ulat minggu lalu ada yang berhasil sembunyi di bawah daun-daun bayam. Wah..kalau saya biarkan, lama-lama bisa habis deh daun bayam saya.

Apa boleh buat, sekarang saya tidak punya pilihan.Terpaksa adu cepat dengan ulat. Ambil gunting, lalu saya panenlah daun-daun bayam itu. Lumayan dapat seikat. Saya rasa cukup untuk sekali masak tumis bayam. Rupanya ada sebatang bayam yang memiliki daun rombeng yang ikut serta. Anak saya protes. “Tenang! Daun sayuran yang rombeng digerogoti ulat menandakan bahwa sayuran itu tidak terkontaminasi pestisida” kata saya, sambil melihat-lihat dan memastikan tidak ada seekor ulatpun terbawa serta ke dalam wajan.

Happy gardening!