Tag Archives: Berkebun

Kisahku Dengan Suplir

Standard

Maiden Hair Fern.

Suplir (Adiantum sp), adalah salah satu pakis yang erat sekali hubungannya dengan masa lalu saya. Karena ini adalah salah satu tanaman hias favorit Bapak saya , yang semasa kecil menghiasi halaman dan ditanam berderet yg jika dihitung panjangnya mungkin lebih dari 20 meter.

Bisa dibilang halaman rumah masa kecil saya itu berpagar suplir. Hanya saja, jenis yang ditanam di halaman itu adalah dari jenis suplir yang tingginya sepinggang orang dewasa.

Mengingat di masa kecil saya diberi tugas membersihkan dan mengurus halaman sementara kakak-kakak saya yang lain mendapat bagian tugas lain. Ada yang mengurus kebersihan dalam rumah, ada yg ngurus dapur, dsb..

Maka saya termasuk yang sangat akrab dengan kehidupan suplir. Bagaimana membuat suplir agar bisa bertahan hidup, mencegah jangan layu atau bagaimana caranya memisahkan anakannya, dsb itu spt kerjaan saya sehari-hari di masa kecil.

Pernah suatu kali saat saya masih kuliah di Denpasar, saya jalan-jalan di tukang tanaman di daerah Renon, seorang sahabat saya ngasih ide dagang “De, di rumahmu kan ada banyak sekali tanaman suplir. Mengapa nggak tawarkan saja ke tukang tanaman hias ini?”. Naluri dagang sayapun bangkit.

Sayapun menyampaikan ide ini kepada keluarga saya. Walaupun awalnya ibu saya tidak setuju dan menganggap ide dagang tanaman hias itu tidak begitu menguntungkan dan mungkin kegedean ongkos ketimbang untungnya jika dibawa ke Denpasar (juga karena di keluarga saya belum ada pengalaman jualan tanaman), akhirnya beliau oke untuk saya coba buktikan.

Bapak saya mendukung ide saya dan mulai membantu memisah-misahkan rumpun suplir ke dalam poly bag. Woiii dapat 1 mobil bak terbuka. Banyaklah.

Kamipun (saya lupa, itu rasanya yang pergi saya dg kakak saya dan mungkin 1 orang adik saya) mulai menawar-nawarkan tanaman suplir itu ke tukang tanaman dengan membawa mobil bak terbuka milik bapak saya. Ternyata menawarkan barang dagangan tanaman itu tidak semudah yang saya pikirkan.

Pertama karena kebanyakan tukang tanaman yang di Renon saat itu bukanlah pemilik bisnis itu sendiri. Mereka hanya penjaga toko dan perawat tanaman saja. Jadi mereka tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan membeli barang yang saya tawarkan. Semua itu urusan boss.

Faktor kedua, adalah karena sebagian dari mereka juga sudah punya koleksi supplir dan sudah punya pemasok langganan. Jadi mereka tidak mau mengambil juga.

Kalaupun ada yang mau, mereka inginnya bukan beli putus. Tapi konsinyasi alias titip jual. Hanya jika ada yg laku saja mereka akan bayar ke kita secara berkala.

Akhirnya setelah capek menawarkan ke sana ke mari dan tak ada yg mau beli putus, akhirnya saya menyerah pada dagang yang terakhir yang saya kunjungi untuk menitip jual saja tanaman-tanaman supplir ini. Daripada layu atau dibawa balik pulang ke Bangli .

Seminggunya kemudian (harusnya sebulan sih tapi ini saking semangatnya😆), dengan naik motor kami coba check ke tukang tanaman itu, barangkali sudah ada tanaman suplir kami yang laku. Ternyata yg laku cuma satu. Kecewa. Selain itu pembayarannya juga nanti setalah genap sebulan. Baiklah.

Minggu berikutnya kami tengok lagi. Rasanya yang laku waktu itu ada 3. Tapi 3 dari sekian banyaknya pohon yang kami pasok hingga penuh 1 mobil bak terbuka tentu artinya dikit banget ya. Kurang laku itu artinya.

Minggu berikutnya kami tidak tengok. Karena malu sama tukang tanamannya. Nengok mulu 😀.

Akhirnya karena kesibukan di kampus, setelah lewat sebulan, barulah saya datang lagi menengok. Astaga!!!. Alangkah terkejutnya saya. Ternyata toko itu sudah kosong. Tidak ada tanaman hias lagi di situ. Pemilik dan penjaganya serta seluruh tanaman hiasnya sudah tidak ada sama sekali. Hanya lahan kosong. Mereka raib.
O o🙄🙄🙄.

Setelah tanya-tanya ke tetangganya, saya diberi informasi bahwa toko tanaman hias itu memang sudah tutup karena contractnya sudah habis. Dan mereka tidak bisa perpanjang lagi karena memang tokonya kurang laku. Pemilik dan penjaganya sudah pulang kampung minggu lalu karena mereka di sini pendatang. Dan tidak ada yang tahu alamatnya ataupun nomer telpon yang bisa dihubungi. Lho, kok nggak ngomong-ngomong ke kami?

Pahittttt 😫😫😫.

Ibu saya hanya tertawa tahu kejadian itu dan Bapak saya ikhlas telah kehilangan sebagian tanaman suplir yang sangat dicintainya itu.

Ha ha..itulah pengalaman pertama saya mencoba berdagang. Jangan ditiru !!!.

Sekarang saya jadi kangen kembali dengan tanaman suplir. Bukan saja karena tanaman membawa kembali ingatan saya pada orang tua dan masa kecil saya, tetapi memang daun suplir ini sungguh cantik sih.

Tetap cinta supplir 😍🤩😍

Memilih Tanaman Dapur Hidup Buat Si Penyuka Salad?.

Standard

Salad, adalah sayuran segar bergizi yang sangat populer belakangan ini. Kebanyakan dimakan mentah, seperti kita memakan lalapan. Bedanya hanya didressingnya. Salad semakin populer ketika tubuh ramping dan sehat menjadi impian setiap orang.
Melihat saya sering memposting tanaman dapur hidup, seorang teman bertanya tanaman apa saja yang sebaiknya ditanam biar kebutuhan akan saladnya bisa dipenuhi setiap hari?.

Sebenarnya jawabannya sangat kondisional tergantung jenis sayuran yang disukai. Walaupun demikian saya akan coba menceritakan mix tanaman sayuran yang enak buat campuran salad. Menurut saya tapi lho…

Buat saya, untuk membuat salad setidaknya kita harus punya daun selada (lettuces). Jadi, tanaman pertama yang perlu kita pilih untuk ditanam adalah dari jenis selada. Selada ada banyak jenisnya. Ada yang hijau, ada yang keputihan, ada yang merah atau campuran darinya. Ada yang bulat seperti kol, ada yang berdaun lonjong mirip sawi. Ada yang keriting, ada yang bergerigi. Semuanya enak. Jadi pilihlah jenis selada yang kita sukai. Kita juga bisa mencampurkan beberapa jenis daun selada sekaligus.

Lalu berikutnya kita pilih tanaman pelengkap salad. Misalnya Mint, Basil, Kemangi, kol, seledri, parsley, rosemarry, dsb.

Daun daun tanaman ini memperkaya rasa dari selada yang kita buat. Daun mint memberikan rasa segar dan bersih di mulut. Sweet Basil memberikan rasa nyaman. Parsley dan Seledri ada sedikit rasa pengah tapi enak juga. Rosemerry memberi rasa hangat. Dan sebagainya. Jadi tidak rugi jika kita tanam di halaman.

Sayuran buah atau umbi, misalnya tomat, timun, wortel atau bawang bombai dan sebagainya juga merupakan pilihan menarik untuk ditanam.

Dengan menanam tanaman yangvsaya sebut di atas kita bisa membuat summer Salad hasil petik dari halaman kita sendiri.

Tips Dapur Hidup: Panen Berulangkali Dengan Pengguntingan Yang Tepat.

Standard

Error
This video doesn’t exist
​Pada umumnya jaman sekarang ini kita membeli kangkung di pasar sekaligus sak akar-akarnya (Kangkung Cabut/kangkung darat  = sekali tanam langsung cabut, lalu tanam lagi untuk periode berikutnya).

Nah… berhubung waktu saya untuk mengurus tanaman juga sangatlah  sempit (saya mengerjakannya di sela-sela kesibukan  pekerjaan saya yang super padat), saya memilih menghemat waktu dengan cara sekali tanam panen berkali-kali. 

Caranya bagaimana? Saya menggunakan metode yang dilakukan petani kangkung  jaman dulu. Yakni dengan memotong batang kangkung dan menyisakannya sedikit batangnya agar kelak cabang kangkung bisa bersemi kembali. Hasil dari cara memanen seperti ini disebut dengan Kangkung Potong. Biasanya dilakukan pada tanaman kangkung yang dibudidayakan di air.

​Pemotongan harus dilakukan pada ruas batang yang ke dua atau yang ke tiga. Dengan demikian tunas yang baru bisa tumbuh daru ruas oertama tanaman itu dengan kokoh tanpa goyah karena dekat dengan akar. Selain itu, tanaman tidak perlu membuang-buang energi untuk memelihara batang yang panjang, sehingga bisa fokus untuk membesarkan tunas yang baru tumbuh.Yang paling penting, tanaman harus tersuply dengan air dan mendapatkan sinar matahari yang banyak.  Pemberian nutrisi yang cukup seminggu sekali juga sangat membantu membuat tanaman semakin sehat. 

​Dengan cara ini saya bisa melakukan panen 4-5 x sebelum saya ganti dengan tanaman baru lagi. Hasil panen juga tetap sehat-sehat dengan daun yang lebar-lebar dan batang yang gendut. Tidak kalah jika dibandingkan dengan hasil panen perdananya. 

Hemat waktu. Sangat cocok untuk ibu rumah tangga yang juga harus bekerja di luar. 

Mau mencoba? 

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Urban Farming: Hidroponik Tahap Ke Dua.

Standard

wpid-20151101_104023.jpgSebelumnya saya sempat bercerita tentang berbagai masalah yang saya hadapi saat melakukan percobaan bertanam hidroponik. Mulai dari tanaman yg pucat pasi karena kurang sinar matahari, selang irigasi yang jebol hingga sumbatan sekam bakar di saluran irigasi.
Untungnya pengalaman saya itu sempat saya share di sini. Sehingga mendapat tanggapan dari teman-teman. Salah satunya adalah dari Mas Purple Garden yang menyarankan saya untuk menanam ulang.
Semua tanaman hidroponik yang kurang sukses itu saya turunkan. CUT-OFF!. Orang bilang agar bisa sukses melompat ke depan, kadang dibutuhkan sebuah langkar mundur untuk mengambil ancang-ancang.
Akhirnya saya coba kembali dari awal. Sangat kebetulan saya sudah menemukan tempat dimana saya bisa membeli rockwool. Jadi semua sekam bakar saya tiadakan dan ganti dengan rockwool. Saya menanam ulang. Kali ini saya bereksperimen dg beberapa jenis sayuran mix. Pakchoy, caisim, seledri, kangkung dan selada.
Saya memastikan semua aliran irigasi lancar. Tidak ada yang mampet. Pemupukan dengan pupuk cair hidroponik A&B saya lakukan dg disiplin seminggu sekali. Cahaya matahari juga optimal.

imageHasilnya ternyata lumayan. Tanamannya sehat dan lumayan subur. Hijau royo-royo. Saking hijau dan menggiurkannya, saat saya tinggal keluar kota,  si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah,  ternyata sudah memanen sayuran-sayuran itu tanpa memberi isyarat kepada saya terlebih dahulu. Walaupun umurnya belum mencapai 25 hari. Yaah…

image

Tapi nggak apa apalah. Saya tetap senang karena upaya saya menghasilkan cukup sayuran sehat dari halaman rumah sendiri berhasil dengan cukup baik. Dengan memanfaatkan halaman sempit hanya 1 x 1.5 meter saya bisa memanen setiap 25 – 30 hari sekali. Dengan memiliki Dapur Hidup begini, lumayan bisa sedikit mengirit uang belanja dapur. Betul nggak, teman-teman?
Selain itu dengan bertanam sayuran di halaman saya juga ikut memproduksi oksigen bagi lingkungan di sekitar saya..
Banyak untungnya ya…
Yuk kita bertanam sayuran di halaman! Kita ikut berpartisipasi dalam menghijaukan lingkungan tempat tinggal kita.

Urban Farming: Memanfaatkan Limbah Dapur Yang Ada.

Standard

Urban Farming 1Belakangan ini saya lagi semangat menanam sayur-sayuran di halaman rumah saya yang sangat sempit. Gara-garanya adalah saat membersihkan kangkung. Saya memotong pangkal batang tanaman ini  beserta akarnya hendak saya buang. Yang saya ambil hanya daun dan batangnya yang masih muda saja. Saat akan dibuang, tiba-tiba melintas di kepala saya, mengapa harus dibuang? Bukankah sebenarnya akar dan pangkal kangkung ini bisa saya tanam lagi? Barangkali bisa hidup. Dan jika hidup, jangan-jangan sebulan lagi sudah bisa saya panen kembali untuk dimasak dijadikan  Ca Kangkung.  Iseng-iseng batang dan akar kangkung itupun saya tancapkan di pot. Lalu saya siram setiap hari. Eh..benar saja..kangkung itu tumbuh tunas dengan baik. Sebentar lagi tentu daunnya terlihat.

Karena kelihatan sehat, lalu saya pindahkan ke polybag.  Seminggu berlalu, kangkung itu rupanya tumbuh dengan serius. Daunnya mulai berkembang beberapa helai. Senangnya hati saya. Karena sekarang sudah kelihatan bahwa saya bakalan punya sayuran segar petik langsung dari pohon dalam waktu dua minggu ke  depan. Walaupun jumlahnya masih sedikit sih. Hanya 7 polybag. Tapi lumayan…

Minggu lalu saya menambah lagi tanaman kangkung baru.  Beberapa belas kantong. Sama, diambil dari limbah dapur saat menyiangi sayuran juga. Mulai tumbuh daun, mengejar ketertinggalannya dari kakak-kakaknya yang ditanam seminggu sebelumnya. Anak saya yang melihat betapa segarnya tanaman itu berkata, “Aduuh..Ma. Aku kok rasanya seperti menjadi ulat ya ? Nyam..nyam..nyam…. enak banget daun kangkungnya” kata anak saya ngiler.  Ia pun rajin membantu menyiram tanaman itu setiap hari.

Tadi pagi saya juga menanam potongan akar kangkung lagi. Saya tempatkan di polybag lagi . Wah..setiap akhir pekan saya menanam potongan akar kangkung. Rasanya senang sekali. Dan saya berencana akan terus menanam sampai pekarangan rumah saya yang sempit ini penuh sesak dengan tanaman sayuran. Mumpung lagi semangat. Karena semangat datangnya tidak terus menerus. Jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Selain potongan kangkung, saya juga coba menanam potongan akar daun bawang, serpihan sereh yang kecil dan tidak terpakai, potongan wortel, potongan talas,  potongan akar ketumbar dan sebagainya. Walaupun ternyata..Tidak semuanya sukses juga sih.  Misalnya pohon ketumbar yang sudah sempat hidup dan segar beberapa hari..tiba tiba membusuk. Mungkin kebanyakan air *sedihnya. Tidak apa-apa. Namanya juga mencoba dan berusaha ya. Lain kali saya akan coba lagi.  Terus..itu potongan wortel kira-kira akan bisa tumbuh dan menghasilkan wortel lagi  tidak ya? Tidak tahulah.. pokoknya saya coba saja dulu. Soal hasil nanti belakangan saja. tapi yang jelas daun bawang saya hidup dengan baik. Demikian juga pohon serehnya. Hidup dengan baik.

Judulnya ini kan memanfaatkan limbah dapur untuk dibudidayakan di halaman rumah di daerah perkotaan yang umumnya berlahan sempit. Urban farming! Begitu ceritanya, biar agak sedikit keren.

Sebenarnya kalau diingat-ingat ya. Jaman dulu kan ada tuh proggram Ibu-Ibu PKK yang namanya Dapur Hidup dan Apotik Hidup di pekarangan. Itu sebenarnya proggram amat bagus menurut saya.  Coba saja dipikir-pikir. Apa jadinya jika saya menanam sisa-sisa sayuran limbah dapur ini terus menerus? Setiap kali mau masak kangkung, punya limbahnya lalu saya tanam? Demikian setiap kali beli sayuran di tukang sayur. Tanam lagi dan tanam lagi? Saya rasa suatu saat nanti barangkali saya akan bisa mencukupi kebutuhan dapur saya sendiri. Bahkan kalau lebih rajin lagi, barangkali bisa juga ikut menopang kebutuhan dapur tetangga he he he.  Ya kan? Karena hasilnya bisa dibagi-bagikan juga kepada tetangga terdekat kita. Sayuran segar, hasil tanaman sendiri dan bebas pestisida. Lumayan mengirit uang belanja dapur.

Nah..point saya itu sebenarnya di sana. Beberapa kali saya pernah dicurhatin kenalan yang mengeluhkan masalah keuangan keluarganya. Harga barang-barang kebutuhan hidup melambung naik, sementara penghasilan suaminya segitu-segitu saja. Saat demikian, sebenarnya jawaban praktis saya hanya dua. Pertama, ya ikut bekerja bantuin suami nyari tambahan uang. Atau yang kedua, jika tidak mau ikut bekerja, terima saja uang yang diberikan suami apa adanya tanpa mengeluh, lalu cari akal bagaimana mengoptimalkannya. Salah satunya adalah dengan rajin-rajin sedikitlah memanfaatkan limbah dapur dan menjadikannya Dapur Hidup dan Apotik Hidup.

Tapi terus mungkin ada yang protes. “Tapi saya nggak punya lahan!” . Ya, benar. Namanya tinggal di perkotaan ya…kecuali kita super kaya, rasanya semua orang juga tinggal di rumah yang berhalaman super sempit. Pada tidak punya lahan yang luas. Tapi saya pikir kalau memang niat menanam, di tempat sempit sekalipun, tetap saja kegiatan menanam bisa dilakukan. Entah dengan memanfaatkan pot-pot, polybag atau bahkan botol bekas atau malah bekas gelas gelas mineralpun bisa dimanfaatkan, diisi dengan tanaman dan digantung-gantung. Sederhananya… jika kita lahan kita saking sempitnya hanya cukup untuk menanam satu batang pohon cabe saja, setidaknya  saat pohon cabe ini berbuah, untuk beberapa  hari kita mungkin tak perlu mengeluarkan duit buat beli cabe. Cukup petik dari halaman. Lumayan irit kan? Saya rasa sesempit-sempitnya rumah kontrakanpun tetap lho masih bisa menempatkan satu pot tanaman cabe saja.

Nah bagaimana kalau ternyata di halaman sempit kita itu ternyata muat untuk ditempatkan 2 batang pohon cabe? Atau muat untuk meletakkan satu batang cabe dan satu batang tomat? Atau satu batang pohon cabe, satu batang pohon tomat dan satu batang pohon kemangi? Dan seterusnya. Ha ha ..

Berikutnya tentu ada yang menanyakan mengapa menggunakan wadah plastik? Misalnya pot plastik, polybag, bekas air mineral , bekas botol minuman dan sebagainya? Yang mana kita tahu bahwa plastik tidak ramah lingkungan?. Saya rasa untuk wadah kita bisa menggunakan apapun. Lebih baik pot tanah. Tetapi jika tidak memungkinkan wadah plastik juga tidak apa-apa. Karena justru,  jika kita menggunakan botol atau gelas plastik bekas, sesungguhnya kita sudah ikut mendaur ulang penggunaan plastik dan mencegahnya mencemari lingkungan lebih jauh. Tetapi memanfaatkannya guna keperluan penghijauan. Demikian juga dengan plastik polybag. Polybag untuk tanaman itu dibuat dari plastik bekas yang didaur ulang. Kita bisa memanfaatkannya. Juga tetap bisa menggunakannya kembali bahkan setelah sayuranya kita petik. Jika plastik rusak, sebaiknya dikumpulkan kembali dan diberikan kepada pemulung plastik yang mengumpulkannya ke pengepul  guna didaur ulang kembali.

Yuk, ikut saya mulai memanfaatkan limbah sayuran!. Kita ber-urban farming- ria, walaupun mulai dari sebatang dua batang tanaman sayuran dulu. Tidak apa-apa. Kita bikin Dapur Hidup.

Menyelamatkan Tanaman.

Standard

LedebouriaGara-gara kesibukan sebelumnya dan musim kemarau yang mengeringkan, sepulang dari luar kota saya menemukan banyak tanaman saya yang meranggas karena tidak ada yang mengurus. Kering, coklat dan layu. Bahkan sebagian ada juga yang mati. Salah satu tanaman di pot yang saya lihat sudah sangat sekarat, adalah sejenis tanaman  hias bawang-bawangan yang sering disebut dengan Silver Squill (Ledebouria sp). tanaman ini masih sekeluarga dengan bunga Hyacinth. Tanahnya sangat kering, berbongkah-bongkah terpanggang matahari, sehingga kalaupun digoreng saya rasa akan mengembang dan garing mirip kerupuk. Daunnya sangat layu dan umbinya muncul di permukaan tanah tapi terlihat sangat lemas.

Hampir saja saya memutuskan untukmembuang tanaman itu. Sambil mencoba menarik umbinya, saya tekenang akan keindahan bunganya yang mini. Putih bersih  mirip lonceng yang bereret. Mirip bentuk bungan Lily of the Valley, tapi dalam skala yang sangat kecil. Daunnya hijau keperakan berbintik-bintik hijau gelap. Saya tidak sering menemukan tanaman ini di tukang tanaman. Pun tidak ingat di mana awalnya saya mendapatkan bibit tanaman ini. Berpikir-pikir begitu, rasanya sedih banget. Mengapa tanaman ini harus mati kekeringan?  Saya menyesal sekali tidak merawatnya dengan baik.

Saat menarik umbinya dari tanah, perasaan saya mengatakan jika sebenarnya tanaman ini masih bisa diselamatkan. Seandainya saya dikasih kesempatan untuk melihatnya hidup lagi saya akan mencoba menyelamatkannya. Akhirnya saya membatalkan niat saya untuk membuangnya ke tempat sampah.

Esok harinya saya mampir ke toko Trubus. Saya ingin membeli media tanam. Lalu mulailah saya mencoba mem-pot-kan kembali tanaman Ledebouria saya. Karena umbinya lumayan banyak, saya pecah dari awalnya satu pot menjadi 3 pot.  Daun-daun kering dan bekas bunganya saya siangi dan buang.  Saya berikan tanah baru yang lebih segar lalu saya siram.  Saya rawat 2x sehari, pagi dan sore hari. Hari pertama, belum terlihat pergerakan. Daunnya yang layu masih kelihatan layu dan patah. Hari kedua saya sudah mulai melihat adanya tanda-tanda kehidupan.

Saya takjub. Umbi tanaman ini mirip bawang. Walaupun sudah layu, di dalamnya kehidupan masih tersimpan dengan baik. Menunggu kesempatan kembali untuk hidup seandainya lingkungan sekitarnya memungkinkan. Tanpa saya duga, pada hari ke lima, sebuah calon bunga muncul dari sela-sela daunnya yang sekarang mulai segar. Dan pada hari ke tujuh, saya sekarang melihat benar-benar dengan takjub. Tanaman ini serius berbunga. Luar biasa!. Dan hari ini bunganya yang imut-imut mulai mekar.  Tak terkira terharunya hati saya.

Sungguh!. Tanaman ini menunjukkan keceriaannya di depan mata saya, yang membuat hati saya sangat bahagia dan penuh semangat.

Saya percaya, seberapapun kasih sayang yang mampu kita berikan kepada mahluk lain di sekitar, semuanya akan berpulang kembali ke hati kita dalam bentuk kebahagiaan. Alam merespon kasih sayang kita dengan sangat baik.