Tag Archives: Betawi

Ini Dia Si Jali-Jali…

Standard

“Ini dia si jali-jali/Lagunya enak-lagunya enak merdu sekali/

Capek sedikit tidak perduli, sayang/ Asalkan dia, asalkan dia senang di hati…”

 

Jali jaliKebanyakan orang Indonesia  familiar dengan lagu Betawi yang indah dan jenaka itu. Saya sangat sering mendengarnya. Dan sering menyanyikannya ketika bermain ondel-ondelan dengan anak-anak saat mereka masih kecil. Tapi setelah mereka besar, tentu saja saya menjadi lebih jarang bermain ondel-ondelan lagi dengan mereka. Dan lagu Si jali-jali itupun mulai  jarang terdengar lagi di rumah, karena penyanyinya sibuk dengan urusan lain lagi.

Saya ingat pernah suatu kali anak saya bertanya,  Jali-Jali itu apa, Ma? Nama orang? Ha ha! Bang Jali, dong.. Bukan! kata saya. Lalu menjelaskan bahwa Jali-Jali itu adalah sejenis tanaman padi-padian yang  bijinya bisa dibikin bubur.  Rasanya enak juga.

Tapi ada juga jenis Jali-Jali yang bijinya keras ” Waktu kecil, bijinya yang tua  mama suka ambilin di pematang sawah buat bikin kalung dan gelang. Ceritanya itu manik-manik” kata saya. Anak saya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya si jali-Jali itu. Saya ingin menunjukkannya dari internet, tapi selalu kelupaan.

Jali jali 1Ketika kapan hari sempat bermain di sawah yang tak terurus di belakang rumah, saya merasa senang karena melihat ada banyak pohon Jali-Jali ( Coix lacryma jobi) di sana.  Seseorang tentu telah menanamnya di sini dan meninggalkannya begitu saja saat sawah ini dibeli oleh pihak developer.

Tiba-tiba teringat akan pertanyaan anak saya waktu kecil . Jadi saya bisa menunjukkan pada anak saya. “Ini lho yang namanya tanaman Jali-Jali!” – walaupun barangkali ia sudah melupakan pertanyaannya itu. Anak saya terlihat mencoba mengingat-ingat, dimana barangkali ia pernah mendengar kata Jali-jali disebutkan. Lalu saya mengingatkan akan lagu Betawi itu. Barulah ia ingat kembali.

Kalu diperhatikan buah Jali-Jali ini menarik juga tampaknya. Bentuknya  mirip tetesan air mata yang terbalik. Oooh.. barangkali itu sebabnya, mengapa di dalam nama Bahasa Latyn-nya ada disebut kata Lacryma  (Lacrimal gland = kelenjar air mata) . Ha ha penyakit sok tahu saya mulai kambuh.

Tapi sungguh, buah tanaman ini sangat menyerupai tetes air mata. Warnanya hijau saat masih muda. kemudian berubah menjadi ungu dan akhirnya memutih dan mengeras. Pada ujung bakal buahnya muncul bunganya yang bertangkai dan terangguk-angguk di tiup angin senja.  Daunnya mirip daun jagung berukuran mini.

Advertisements

Tegalan Yang Tersisa.

Standard

ladangSalah seorang Satpam di gerbang depan perumahan bercerita bahwa di sekitar tempat tinggalnya masih banyak sawah,sehingga masih banyak jenis burung liar yang berkeliaran. Saya terpesona mendengarnya. Sawah? Di Bintaro?Lahan pertanian yang sangat sulit saya lihat belakangan ini. Karena sebagian besar sudah dirombak jadi areal perumahan. Satpam itu juga terlihat memiliki pengetahuan yang luas tentang burung-burung yang banyak berkeliaran di sekitar Bintaro. Dan tahu banyak mengenai sejarah daerah itu sebelum dirombak dan dijadikan perumahan. Tentu saja saya percaya, karena ia memang lahir sebagai penduduk Betawi asli di situ. Karena saya juga sangat tertarik akan kehidupan burung-burung liar, maka saya senang ngobrol dengannya. Suatu kali suami saya bertanya apakah kami boleh bermain ke rumahnya? Ingin melihat sawah dan melihat-lihat burung. Ia mempersilakan kami datang.

Demikianlah,maka pada akhir pekan kami janjian akan ke sana. Karena kebetulan kami libur dan pak Satpam-pun sedang libur, habis jaga malam. Anak saya yang kecil ingin ikut. Sayang hujan turun sangat deras. Sehingga kami baru bisa berangkat pukul 3 sore ketika hujan mulai reda. Tidak terlalu sulit mencari rumahnya.

Seperti halnya kebanyakan rumah penduduk Betawi, halamannya masih cukup luas untuk memelihara ayam. Namun karena hujan, halamannya jadi becek Di sekelilingnya masih banyak pepohonan hijau yang tinggi. Ada beberapa ekor burung Cerukcuk dan burung Madu tampak terbang. Lalu setelah itu saya melihat lagi seekor burung Tekukur. Saya bisa melihat, populasi burung bebasnya kelihatan lumayan banyak. Kami dikenalkan dengan ibu, istri dan anaknya.

Mengobrol sebentar lalu diajak berangkat ke sawah yang letaknya di sebelah rumahnya. Sedikit meloncati bekas pagar yang rendah, dan lahan yang ditanami pohon bambu, lalu tibalah di kami di sawah. Ooh..rupanya bukan sawah tanaman padi seperti yang ada dalam pikiran saya. Daripada Sawah, mungkin lahan ini sebenarnya lebih tepat kalau disebut dengan Tegalan. Karena sebagian besar lahannya kering, ditanami singkong dan pepaya. Walaupun di sana-sini saya lihat juga ada lahan yang dibedeng-bedeng ditanami bayam dan kangkung dan disekelilingnya dibuat parit untuk penyiraman.  Ada bagian lain dari lahan itu yang masih berbentuk rawa kecil. Ia bercerita masih sering menemukan burung ayam-ayaman atau burung mandar di situ. “Larinya sangat cepat. Saya belum pernah bisa menangkapnya” katanya.

Tegalan itu sangat becek. Saya berjingkat-jingkat berjalan berusaha meminimalisir jumlah lumpur yang menempel di sandal yang saya gunakan.  Seorang bapak tua terlihat sedang berjongkok  mencabuti bayam di tengah gerimis. Ia menggunakan capil lebar. Satpam berkata bahwa orang tua itu adalah babenya. Ia mencabut sayuran untuk dipasarkan keliling di kampung itu dengan sepeda. Entah kenapa hati saya merasa trenyuh,melihat orang tua seumur itu masih bekerja dengan tekun.  Saya jadi terbayang sepeda dengan dua buah keranjang besar yang tadi saya lihat di rumah mereka. Cukup sering saya melihat engkong-engkong Betawi yang sudah renta berkeliling menjajakan hasil panennya, entah itu sayur mayur, singkong, pisang atau nangka. Namun baru kali ini saya melihatnya bekerja di ladang dan memetik sayurannya sebelum dijajakan esok hari berkeliling kampung.

Saya melirik ke hasil panennya sore itu.Kelihatan tidak seberapa. Paling banter hanya sekitar 15- 18 ikat bayam. Dan mungkin sekitar 15-18 ikat kangkung juga.   Akhirnya saya berkata, bahwa saya ingin membeli hasil panennya hari itu. Setelah dihitung ternyata memang ada 15 ikat masing-masing. Saya akan ambil semuanya, selain untuk saya masak di rumah, juga bisa saya bagi-bagikan kepada para tetangga saya.

Pak satpam berkata, bahwa lahan itu dulunya adalah milik babenya. Namun sekarang kepemilikannya sudah pindah kepada Bintaro Jaya. Namun karena belum digunakan, pihak Bintaro masih mengijinkan para petani di situ untuk mengelola lahannya. Kakek itupun bercerita, bahwa tanah itu dilepas sudah lama sekali. Puluhan tahun yang lalu. “Waktu itu harganya masih seribu lima ratus rupiah per meter” katanya. Saya tidak terbayang harga tanah saat ini di Bintaro. Tentunya tidak akan dijual. Kalaupun dijual, sudah pasti dalam bentuk properti seperti rumah ataupun ruko yang bernilai miliaran rupiah.

Saya memandang lahan-lahan luas yang masih belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Lahan-lahan yang tersisa. Lalu rumah-rumah penduduk Betawi asli yang berusaha bertahan dari pergerakan roda  pembangunan.

Gelap merangkak mengisi sore. Ada banyak suara burung. Namun sangat sulit untuk melihatnya. Saya pikir kami datang tidak pada saat yang tepat untuk memantau burung. Mungkin lain kali sebaiknya saya datang lagi saat lahan tegalan kering tidak ada hujan, dan lebih bagus lagi di pagi hari. Kami memutuskan untuk pulang.

Pak Satpam memberikan oleh-oleh tambahan kepada kami. Singkong dan pepaya yang ia baru petik. Pantes saja tadi ia sempat menghilang sebentar. Lalu anak saya juga ingin membeli anak ayam. Waduuuh! Banyak juga bawaan kami. Saya membayarkan sejumlah uang yang menurutnya terlalu banyak. Tapi sesungguhnya saya tahu,  bahwa nilai uang itu tidak melebihi dari jumlah uang yang harus saya keluarkan jika saja saya membeli sayur mayur, singkong dan pepaya itu di Supermarket. Belum plus anak ayamnya.

Terlebih lagi,  persaudaraan yang tulus yang mereka tawarkan kepada kami sekeluarga bukanlah hal yang bisa dibeli dengan uang. Tiada tara harganya.

Ondel-Ondel Ngamen: Riangnya Seni Pertunjukan Jalanan Jakarta.

Standard

Andani - Ondel-Ondel

Pukul  7 malam, saya menutup pintu ruangan kantor saya. Pulang lebih cepat dan ingin istirahat setelah berhari-hari didera kesibukan yang sangat melelahkan. Dalam perjalanan pulang  saya tertidur. Hingga tak terasa kendaraan yang saya tumpangi sudah melintasi pertigaan Ciledug dan sedikit lagi mendekati Pasar Lembang. Saat itulah saya mendengar suara musik Gambang Kromong yang sangat riang dan jenaka. Sayapun terbangun dan ikut bersenandung dalam hati. Oh rupanya ada grup kesenian betawi yang sedang mengamen. Read the rest of this entry

Pernikahan Di Kampung Betawi – Kekerabatan Yang Kental.

Standard


Saya tinggal di sebuah perumahan yang letaknya di dekat pemukiman penduduk Betawi. Karena sudah lama tinggal di sana, maka tanpa terasa saya sudah memiliki banyak kenalan, teman dan sahabat yang cukup dekat dengan saya dan keluarga. Bahkan beberapa diantaranya sudah hampir seperti saudara sendiri. Hubungan baik inilah yang antara lain membuat saya merasa betah tinggal di sana. Karena setidaknya jika terjadi apa-apa, saya tahu kemana harus meminta pertolongan dan bantuan. Read the rest of this entry

Engkong Setion: Pedagang Kacang Rebus Di Tepi Danau Cipondoh.

Standard

Saya diajak teman-teman saya makan siang di sebuah rumah makan di tepi danau Cipondoh. Sebenarnya agak  ragu, khawatir terburu-buru karena akan ada meeting. Namun di sisi lain sebenarnya sudah lama saya ingin melihat dari dekat tepian danau yang tiap pagi saya lintasi dalam perjalanan ke kantor itu. Kebetulan juga saya sedang membawa kamera.Jadilah saya ikut sambil memastikan kepada teman-teman saya bahwa makan siang harus cepat dan jangan banyak ngobrol. Dengan demikian, saya mungkin masih bisa balik ke kantor on time. Read the rest of this entry

Nyai…Si Nenek Penjual Telor – Pelita Nan Tak Kunjung Padam

Gallery