Tag Archives: Binatang

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali – Part 1.

Standard
Anjing Kintamani.

Ada 2 kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada Binatang/Hewan. Yaitu 1/. Ubuhan untuk hewan domestik. 2/ Buron untuk hewan non domestik (hewan liar).

Selain kata Ubuhan dan Buron, orang Bali memiliki kata “Gumatat-Gumitit” untuk kelompok binatang merayap , serangga dan binatang kecil lainnya.

Di tulisan ini saya hanya akan membahas nama Hewan Domestik alias Ubuhan saja dulu.

Hewan domestik adalah jenis jenis hewan yang merupakan peliharaan manusia, atau biasa hidup dan tinggal bersama manusia. Hewan Domestik dalam Bahasa Bali disebut dengan Ubuhan. Ubuhan berasal dari kata “Ubuh+ an”. Ubuh artinya dipelihara. Jadi Ubuhan = hewan peliharaan.

Apa saja yang termasuk ke dalam Ubuhan? Dan apa nama-nama Ubuhan itu dalam Bahasa Bali?. Yuk simak berikut ini:

1/. SIAP = AYAM.

Siap adalah nama umum untuk Ayam. Tetapi Ayam jantan (Siap Muani) dalam Bahasa Bali disebut dengan Penglumbah atau Manuk. Ayam Betina (Siap Luh) disebut dengan Pengina. Sementara anak ayam disebut dengan Pitik. Ayam hutan disebut dengan Keker.

Selain itu orang Bali memberi nama pada beberapa jenis ayam berdasarkan warnanya, berdasarkan bulunya, berdasarkan tajinya, dan ciri ciri fisik lainnya.

Berdasarkan warnanya, seperti misalnya: Siap Selem (Ayam hitam), Siap Biying (Ayam merah), Siap Buik (warna campur-campur), Siap Brumbun (warna campur merah, putih, hitam), Siap Kelau (warna abu abu).

Berdasarkan jenis bulunya, misalnya : Siap Sangkur (ayam jantan yang bulu ekornya pendek), Siap Srawah (ayam yang bulunya tebal) , Siap Grungsang (ayam yang pertumbuhan bulunya tidak rapi, ada yang mencuat ke atas, ke bawah, ke kiri. Ke kanan. Kelihatan seperti ayam berbulu keriting), Siap Godeg ( ayam yang kakinya tumbuh bulu), Olagan (ayam yang gundul /tidak ada bulunya).

2/. ANJING =CICING.

Cicing adalah nama umum untuk Anjing. Sedangkan anak Anjing disebut dengan Konyong.

Di beberapa daerah di Bali, selain disebut dengan Cicing, Anjing juga disebut dengan Kuluk. Sama artinya. Tetapi di bagian daerah yang lain terkadang Kuluk diartikan sebagai Anak Anjing. Sama dengan Konyong.

Cicing dan Kuluk adalah Bahasa kasar/bahasa umum, sedangkan bahasa Bali halus Anjing adalah Asu.

Cicing Belang Bungkem adalah sebutan untuk anjing yang bulu di sekitar moncongnya berbeda dengan warna bulu tubuhnya. Misalnya Anjing berwarna coklat tetapi di sekitar mulutnya berwarna hitam. Anjing ini sering digunakan sebagai hewan kurban.

3/. MIONG = KUCING.

Miong adalah nama umum untuk Kucing. Kucing jantan disebut Garong. Anak kucing di beberapa wilayah disebut dengan Tai. Tetapi karena namanya yang sama dengan kotoran (tai), kata ini jarang disebut orang. Cukup dengan “Panak Miong” (anak kucing) saja.

Ada lagi nama Salon-Salon untuk mengatakan kucing jantan yang super besar. Nama “Salon-Salon” jaman dulu digunakan oleh ibu-ibu untuk menakuti anaknya yang tidak mau tidur walau malan sudah larut. “Ayo segera tidur, ntar dikejar Salon-Salon”. Sang anakpun terpaksa tidur karena takut akan Salon-salon ūüėÄūüėÄūüėÄ.

Selain Miong, kucing juga disebut dengan Meng.

4/. BEBEK = BEBEK.

Sama dalam Bahasa Indobesia, Bebek juga disebut Bebek dalam Bahasa Bali. Anak Bebek disebut dengan Meri. Kalau jamak menjadi Memeri.

Ada beberapa jenis Bebek ysng istimewa di Bali, antara lain, Bebek Putih Jambul, yaitu bebek berwarna putih yang memiliki jambul di kepalanya, dianggap sebagai bebek yang indah dan bisa terbang cukup tinggi. Namanya disebut dalam nyanyian ” Bebeke putih jambul mekeber ngaja nganginang. Teked kaja kangin ditu ia tuwun mengindang”. Artinya bebek putih jambul terbang ke arah timur laut. Begitu tiba di timur laut. Bebekpun terbang turun berputar putar.

Bebek Kalung, yaitu bebek yang memiliki tanda lingkaran (biasanya putih/hitam) di lehernya. Bebek Kalung dianggap menghasilkan telor yang banyak.

5/. CELENG = BABI

Babi secara umum disebut dengan Celeng di Bali. Celeng adalah bahasa biasa/kasar, sedangkan bahasa halusnya adalah Bawi. Babi betina disebut dengan Bangkung. Babi jantan disebut dengan Kaung. Anak Babi disebut dengan Kucit.

Sementara, Babi Hutan disebut dengan Celeng Alasan.

6/ . SAMPI = SAPI.

Sampi adalah kata Bahasa Bali yang artinya Sapi. Kata Sampi berlaku untuk kedua jenis kelamin laki dan perempuan. Tetapi Sapi jantan yang sangat kokoh bodinya disebut dengan Jagiran. Anak sapi disebut dengan Godel.

Walaupun orang Bali yang mayoritas beragama Hindu tidak memakan daging Sapi, tetapi Sapi tetap dipelihara di kalangan masyarakat agraris untuk membantu mengolah sawah atau kebun.

7/. JARAN = KUDA.

Jaran adalah kata dalam Bahasa Bali untuk Kuda. Tidak ada nama khusus untuk jenis kelamin jantan atau betina. Tetapi untuk anak kuda, ada namanya yaitu Bedag.

Jaman dulu Jaran memiliki peranan penting dalam transportasi. Mengingat bahwa Jaran sekarang tidak banyak lagi dipelihara orang, maka banyak kaum muda di Bali yang tidak tahu lagi apa arti kata Bedag. Walaupun kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari hari.

Ah cai wak cenik sing nawang bedag!“. Artinya “kamu anak kecil nggak tahu apa itu bedag” , secara tidak langsung kalimat itu mengatakan bahwa lawan bicaranya tidak tahu apa apa. Karena ia tidak tahu apa arti kata Bedag. Sing nawang bedag = tidak tahu apa apa.

Ironisnya terkadang yang ngomong begitupun sebenarnya tidak tahu juga apa arti kata Bedag.

8/. KEBO = KERBAU.

Kebo adalah kerbau. Serupa dengan Sapi , orang memelihara kerbau untuk membantu mengolah tanah.

Saya belum pernah mendengar nama khusus untuk Kerbau jantan dan betina. Tapi anak Kerbau disebut Bedigal. Jika kerbau berwarna putih maka disebut dengan Misa.

9/. KEDIS =BURUNG.

Kedis adalah sebutan untuk segala jenis burung. Dan nama jenisnya tinggal mengikuti. Misalnya Kedis Dara = Burung Dara/Merpati, Kedis Perit = Burung Pipit. Kedis Guak = Burung Gagak, Kedis Celalongan = Burung Kepodang. Dan sebagainya. Bahasa halus untuk Kedis adalah Manuk.

Tidak ada nama khusus untuk jantan dan betina. Juga untuk anak burung biasanya hanta disebut dengan nama Panak Kedis saja atau beberapa orang nenyebutnya dengan nama Piyik atau Pitik. Sama dengan anak ayam.

10/. KAMBING = KAMBING.

Kambing tidak punya nama khusus dalam Bahasa Bali. Namanya ya Kambing saja. Kambing jantan dewasa disebut Bandot. Sedangkan anaknya Kambing bernama Wiwi.

Kata Bandot sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk mengibaratkan anak laki-laki yang sudah dewasa. Misalnya” Ah, suba kanti bandotan, tusing masi bani sirep pedidi“. Artinya” Ah, sudah dewasa (anak laki) begini, kok masih juga tidak berani tidur sendiri”.

Dunia Pinggir Kali: Anak Biawak.

Standard

Wildlife next door.

Sudah lama saya tidak melihat Biawak alias Asian Water Monitor (Varanus salvator) yang biasanya berkeliaran di kali belakang rumah. Sarangnya kelihatan tak berpenghuni karena tak terlihat jejak-jejaknya lagi di sana. Entah kemana perginya. Hati saya sangat sedih. Saya menduga kalau biawak itu pada ditangkapin dan dijadikan sate oleh orang-orang yang tidak perduli pada kelestarian lingkungan.

Syukurnya sejak bulan Oktober lalu saya mulai ada melihat penampakan seekor anak Biawak kembali.  Mudah-mudahan yang ini bisa berkembang dengan selamat hingga dewasa dan tua.

Anak Biawak 2Anak biawak merayap di tembok kali.  Ukurannya masih sangat kecil. Bisa dibandingkan dengan daun di sebelahnya. tak berbeda jauh dengan ukuran tokek.

Anak Biawak 1Ia merayap ke atas. Kepalanya sangat mirip kepala ular tapi bertelinga. Warnanya kekuningan di timpa sinar mathari. Garis-garis di lehernya serta bercakbercak di punggung serta ekor dan kakinya membentuk design yang sangat khas.

Anak Biawak 3Sejenak ia memalingkan mukanya sebelum berupaya merayap semakin naik.

Anak Biawak 4Sekarang ia ingin tahu ada apa di balik tembok. Atau inginmenjajalkemampuannya memanjat tebing?

Anak Biawak 5Ia berjalan di atas tembok kali. Sayang tidak menemukan apa yang ingin ia cari. ia pun berbalik lagi dan memanjat tembok berikutmya.

Anak Biawak 6Lihatlah! Lidahnya bercabang dua. Ia mendeteksi panas dan menyambung pesan akan bau mangsanya ketika ia menjulurkan lidah bercabangnya ke udara.

Biawak memakan kodok, ikan, tikus, burung ataupun ular yang ia temukan di pinggir kali.

Yuk kenali dan cintai lingkungan hidup kita!

Mitos Tentang Binatang.

Standard

Minggu sore  ibu tukang pijit datang ke rumah menawarkan jasanya. Karena tidak ada acara lain, saya setuju untuk dipijit.  Sambil mijit si Ibu bercerita banyak. Mulai dari pengalaman pertamanya naik pesawat terbang, ikut menantu pulang kampung ke Bukit Tinggi,  hingga musim hujan yang membuat hatinya dag dig dug  takut kebanjiran. Lalu obrolan berlanjut tentang sungai di depan rumahnya yang sering meluap dan pohon-pohon bambu yang sangat rimbun  di tepi sungai itu. Saya tertarik mendengar ceritanya, terutama tentang binatang-binatang yang menghuni pinggiran kali dan rumpun bambu itu. Lalu saya meminta ijin apakah suatu saat saya boleh main ke sana.

Sementara saya berpikir tentang  pengamatan terhadap burung-burung dan habitatnya di tepi sungai , ternyata Ibu tukang pijit ini lebih melihat keberadaan binatang-binatang ini dari sudut yang mistis.

Otus_lempiji_040613_0028_tdpKalau malam ¬†kadang-kadang terdengar suara menyeramkan: buuk, buuk. Kalau sudah begitu saya langsung tutup pintu” kata ibu tukang pijit. “Ooh, itu suara burung hantu.” Kata saya.”Sebenarnya burung hantu itu burung beneran atau hantu sih bu?. tanya si Ibu meminta konfirmasi dari saya.”Bukan!” kata saya.”Itu suara burung biasa. Namanya saja Burung Hantu“. kata saya bingung. Bagaimana mungkin si ibu ini tidak tahu suara burung hantu biasa yang memang aktif di malam hari mencari makan berupa ngengat,kodok dan lain lain .“Tapi kata orang di kampung saya, itu burung jadi-jadian. Katanya tunggangan Kuntilanak” jelas si Ibu. “Kata orang, kalau terdengar suara burung hantu, harus cepat-cepat tutup pintu, karena pasti di sekitar situ sedang ada kuntilanak gentayangan’ lanjut si Ibu lagi.

Saya juga tidak tahu persis, mengapa burung ini diberi nama Burung Hantu. ¬†Mungkin karena matanya besar dan melotot. Tapi di Bali burung ini tidak disebut dengan Burung Hantu, tapi Celepuk. Karena ¬†suara burung ini terdengar seperti kata “Puuk” oleh karena itu burung hantu biasa berukuran kecil ini disebut dengan burung Celepuk (Otus lempiji). Ibu itu manggut-manggut mendengar penjelasan saya. ¬†Saya tidak terlalu pasti apakah ia yakin pada saya atau meragukan penjelasan saya. Kemudian ia juga bercerita kepada saya tentang burung Uncuing, alias burung Kedasih. Saya sudah bisa menebak apa yang akan diceritakannya tentang burung itu. Saya juga sudah pernah menulis tentang hal itu sebelumnya.

Kedasih 3Semua orang takut Bu, ¬†kalau mendengar suara burung itu” katanya. Saya tidak membantah apa-apa. Karena sudah mendengar mitos itu ada di berbagai daerah di Indonesia. “Dan sering terbukti. Kalau ada burung itu berbunyi, maka tak lama kemudian di sekitar iru akan ada orang yang meninggal”. Lalu si Ibu bercerita, bahwa pernah suatu kali saat ia memijat di rumah seorang tetangga saya, ada burung Uncuing hinggap di pohon mangganya. “Pak A langsung ngambil batu dan melempar ke burung itu, Bu. Eh, burung! Pergi kamu dari sini. Jangan ngajak-ngajak orang sini. Tidak ada yang mau. Pergi aja ke kampung lain. Dan ajak orang lain, kata Pak A.”¬†cerita si Ibu. Saya ¬†hanya mendengarkan dan membayangkan bagaimana tetangga saya bisa berinisiatif melempar burung yang kebetulan menclok di dahan pohon mangganya. Setahu saya banyak burung Kedasih ¬†yang memang tinggal di kali di belakang rumah kami. Sejak jaman dulu. Dan saya mendengarkan suaranya nyaris setiap hari. Mungkin karena saya tahu bahwa habitat burung itu memang di sana, jadi saya biasa saja mendengarnya. Bukan berarti bahwa saya takabur, kadang kadang malah saya menunggu kedatangan burung itu dalam jarak dekat agar bisa saya potret dan pelajari tingkah lakunya.

Kucing hitamAda lagi binatang lain yang juga digosipkan buruk alias ditakuti. Dialah kucing hitam yang dianggap jahat dan seram Saya juga heran dan tidak paham mengapa binatang lucu ini dianggap menakutkan. Namun kejadian pada suatu subuh, membuat saya mengerti mengapa kucing hitam itu dianggap menakutkan.

Pagi-pagi pada suatu hari libur saya berniat ¬†untuk berjalan-jalan di pinggir kali. Seperti biasa untuk melihat tingkah laku burung-burung prenjak yang biasanya memang lebih aktif di pagi hari mencari makan. Ketika sedang sayik ¬†memotret burung-burung pipit yang hinggap di rumput benggala, saya dikejutkan oleh sesuatu yang bergerak dari balik tembok perumahan. Saya menengok untuk memastikan binatang apakah itu.Warnanya hitam legam. ¬†Rupanya seekor kucing liar berwarna hitam. Ia duduk di atas tanah yang dilapis ¬†hard block beberapa meter di hadapan saya. ¬†Memandang ke arah saya dengan tajam. ¬†Saya melihat ke arahnya dan merasa agak risih dipandang seperti itu. Akhirnya saya coba mengusir kucing itu. “Hush! Hush! Hush!” tapi tidak sedikitpun ia bergeser. ¬†Malah semakin menatap saya dengan mata bercahaya* tentu saja matanya bercahaya karena di bagian belakang retina mata kucing terdapat lapisan yang mampu merefleksikan sinar yang disebut dengan Tapetum Lucidum. Keberadaan Tapetum Lucidum ini memungkinkan kucing untuk melihat dengan jelas walau dalam keadaan remang-remang .Aduuuh goblok banget aku ini*. ¬†Entah kenapa saya merasa agak gentar juga. Walaupun dalam hati saya berusaha meyakinkan” Itu kucing!!!! Itu kucing!!!!. Itu pasien yang mau berobat!.Kenapa takut?” tetap saja rasanya tidak nyaman.

Karena tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, maka saya arahkan lensa saya ke kucing itu dan saya potret. Mungkin karena kilatan flash kamera, kucing itupun akhirnya pergi juga.   Ha ha ha..

Note: foto burung hantu saya pinjam dari Wikipedia

Alu, Si Biawak Sungai.

Standard

BiawakSalah satu binatang yang selalu menjadi cerita banyak orang di perumahan saya adalah biawak. Ya!. Biawak yang hidup di sungai di belakang rumah saya. ¬†Katanya banyak jumlahnya dan sangat sering melakukan ‘penampakan’. Rasanya hampir setiap satpam pernah bercerita kepada saya tentang binatang kadal itu. Namun anehnya sudah hampir 14 tahun saya tinggal di sini, tak seekorpun biawak pernah saya jumpai. ¬†Namun cerita-cerita tentang biawak sungai itu tetap saja bergulir dan membuat saya penasaran.

Beberapa kali saya mencoba menelusuri sungai dan berharap bisa bertemu dengan mahluk itu,namun tetap tidak berhasil. Hingga sekitar dua minggu yang lalu  ketika saya sedang memotret burung  Рtanpa sengaja saya melihat sesuatu bergerak di rerumputan di tepi sungai. Saya menahan nafas agar tidak mengganggu.

biawakSebuah benda gelap tampak bergerak dan menyembul dari rerumputan yang tinggi, merayap di dinding sungai. Wow! besar juga. Saya taksir panjangnya sekitar 2 meter dari moncong hingga ke ekornya.  Bentuknya seperti kadal kebun raksasa. Warnanya hitam kecoklatan dengan totol-totol warna keam kehijauan yang membentuk corak garis-garis melintang di tubuhnya hingga ke bagian ekor.  berkaki empat tentu saja, dengan jari-jari kaki yang lancip.  Sepintas lalu mirip buaya. Ia kemudian menyelinap di balik pohon kersen. Saya tak mampu melihatnya lagi.

Itulah Biawak Sungai (Varanus salvator)  yang saya cari-cari selama ini. Di Bali orang menyebutnya dengan nama  Alu.

Pertemuan yang hanya beberapa detik itu cukup memberi saya petunjuk tentang area jelajahnya. Keesokan harinya,  sayapun menunggu biawak itu melintas di tempat yang sama.  Benar saja, tidak lama kemudian seekor biawak keluar dari rerumputan itu dan memanjat dinding kali. Ukurannya sedikit lebih kecil dari yang kemarinnya.  Ia bergerak ke atas terus dan berbelok di pertengahan dinding. Nah sekarang saya melihat ada sebuah lubang di dinding itu. Rupanya ke lubang itulah sang biawak masuk. Jadi itu rumahnya. saya menunggu hingga biawak itu benar-benar  masuk ke  dalam lubangnya dan ekornya lenyap dari pandangan mata saya.

Biawak 1Setelah itu saya masih melihat 3 x  lagi ada biawak di sekitar itu. Dan saya juga menemukan sebuah lubang rumah biawak yang lebih kecil lagi dari sebelumnya.  dan juga melihat  dua ekor biawak yang lebih kecil sedang bersembunyi dibalik sebatang anak pohon kersen.

Biawak sungai memang hidup di tepi-tepi sungai  dan mencari makannya di sana. Makananya adalah ikan, kodok, cacing, burung ataupun tikus yang banyak juga berkeliaran di pinggir kali.

Walaupun secara umum, para satpam di perumahan saya mengatakan bahwa populasi biawak ini masih tinggi di sekitar sungai, namun entah kenapa saya merasa  keberadaannya semakin lama semakin menyusut.  Habitatnya  terganggu oleh perkembangan industri perumahan. Saya dengar banyak juga yang berusaha untuk menangkap, entah untuk diambil dagingnya buat disate, atau buat dijual dan dijadikan mainan.

Sambil menulis ini, saya memikirkan apakah generasi setelah anak saya akan masih sempat melihat mahluk ini hidup-hidup sebelum terdesak habis oleh peradaban manusia..

Bunglon…

Standard

Bunglon 1Anak saya yang kecil baru saja habis belajar  Science pada bab Adaptasi Mahluk Hidup Terhadap Lingkungannya.  Sepulang kerja, saya memeriksa kesiapannya untuk menghadapi ulangan dengan memberikan pertanyaan random seputar  jenis-jenis paruh burung dan kaki burung yang berbeda-beda sesuai makanan dan habitatnya, cicak yang memutuskan ekornya, cumi-cumi yang mengeluarkan tinta, kupu-kupu yang memiliki bulatan mirip mata pada sayapnya, bunglon yang merubah warna kulitnya dan lain sebagainya untuk mempertahankan dirinya. Setelah saya rasa ia mampu menjawab semuanya, saya menyuruhnya tidur agar besok ia tidak bangun kesiangan atau ngantuk saat ulangan.

Hari Minggu-nya, saya  mengajaknya pergi ke bantaran kali di belakang rumah untuk mencari bunglon dan mengamati tingkah lakunya dari dekat.  Saya pikir jika ia bisa melihat bunglon dengan mata kepalanya sendiri, tentu ia tidak perlu mengulang pelajaran lagi, karena semua yang dilihatnya akan terekam di dalam otaknya sebagai sebuah pengalaman dan ingatan yang panjang.

Mimikri.

Bunglon (Bronchocela jubata), atau yang juga disebut dengan Baluan (Bahasa Bali), atau Kadal  Hijau Bersurai /Green Crested Lizard, merupakan salah satu kadal dari keluarga Agamidae yang umum bisa kita temukan di semak-semak yang rendah di Indonesia. Seperti kita tahu, bintang ini bisa merubah warna kulitnya mendekati warna lingkungan sekitarnya dengan maksud untuk menyamarkan diri entah saat menghindar dari musuhnya, maupun saat akan menyergap mangsanya.  Beberapa sumber mengatakan bahwa perubahan warna juga  dipicu oleh suhu udara, sinar matahari, mood bahkan musim berbiak.

Umumnya ia terlihat berwarna hijau saat berada di dedaunan, namun terkadang ia bisa juga terlihat abu-abu jika latar belakangnya kelabu atau berubah coklat jika latar belakangnya coklat. Itulah yang disebut dengan MIMIKRI. Saya menjelaskan lagi kepada anak saya, walaupun saya tahu ia sudah membacanya dari buku.

Tepat ketika  berdiri di dekat batang pohon pepaya yang masih kecil, sesuatu tampak bergerak diantara dedaunannya. Anak saya meloncat kaget. Kami melihat sejenis  Bunglon hijau bersurai dalam jarak yang sangat dekat.  Tubuhnya panjang, di bagian belakang kepalanya tampak bersurai pendek, warnanya  hijau abu-abu.  Saat itu ia hanya berdiam saja di sana. barangkali menunggu mangsanya lewat. Makanannya adalah serangga seperti kupu-kupu, belalang , kumbang atau capung.

Agak lama kemudian, ia bergerak perlahan menuju tembok perumahan. Saya melihat seekor lagi di batang pohon pepaya yang lain. Setelah puas melihat-lihat dan kaki menjadi bentol oleh gigitan nyamuk,  saya dan anak saya pulang  membawa cerita tentang Bunglon, hewan yang bermimikri.

Membunglon.

Walaupun secara umum, manusia mengagumi kemampuan Bunglon untuk mempertahankan diri dengan cara bermimikri, namun¬† kemampuan Bunglon bermimikri ini tidak selalu dipandang positif oleh manusia. ¬†Misalnya jika ada yang berkata ” Dasar Bunglon lu!” Apa yang ada di pikiran kita?

Jika pernyataan ini ditujukan untuk kita, besar kemungkinan kita akan setuju untuk mengatakan bahwa disebut Bunglon itu tidak menyenangkan. Mengandung persepsi dan image yang negative, yang kurang lebih menganggap kita sebagai manusia yang plin plan. Yang tidak punya pendirian tetap. Tergantung situasi dan kondisi  Рdalam pengertian negative. Dimana tempat yang paling menguntungkan baginya , kesanalah ia memihak.   Seseorang yang disebut Bunglon, selalu dianggap sebagai orang oportunistik yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan pribadinya.    Bukan memihak kepada kebenaran, melainkan memihak pada keuntungan.

Nah..kalau sudah begini yang kasihan Bunglonnya ya.  Ia tidak tahu menahu soal untung rugi maupun sikap yang plin plan, namun namanya ikut terbawa-bawa.

Dunia Pinggir Kali III: Mengajak Anak Mengamati Burung Terkwak.

Standard

¬†Burung Terkwak 1Sore mulai menjelang. Matahari mulai meredup cahayanya. Saya memutuskan untuk pulang dan merasa sudah menghabiskan waktu yang cukup dengan anak saya untuk mengamati burung-burung Pipit dan burung Peking. Persis ketika anak saya mengeluh bahwa kakinya dikerubungi nyamuk, tiba-tiba saya melihat sesuatu bergerak di semak-semak. ¬†Sayapun segera meminta anak saya untuk menahan diri kembali. Yang saya khawatirkan hanya ular. Suara ribut terdengar dari balik semak-semak. Terrrrr…kwaakkk…. terrrrr kwaakkkk….terrrr kwaakkkkk…. Saya mengenali suara itu. Seketika kekhawatiran saya sirna, berubah menjadi senyum yang sumringah. Itu suara burung Terkwak!. Read the rest of this entry

Mengajak Anak Mengamati Bajing Di Alam.

Standard
Mengajak Anak Mengamati Bajing Di Alam.

Bajing!!. Binatang pengerat mirip tikus dan berekor panjang ini  sering dikelirukan sebagai Tupai. Walaupun sebenarnya, bajing dan tupai bukanlah binatang yang sama. Bajing  (Callosciurus sp) adalah pemakan buah kelapa, kacang-kacangan atau biji-bijian, sedangkan Tupai (Tupaiia sp) adalah pemakan serangga. Tampangnya juga sedikit berbeda. Bajing memiliki wajah yang lebih bulat sedangkan tupai memiliki wajah yang lebih panjang. Sayangnya banyak orang yang menyangka Bajing dan Tupai adalah sama. Demikian juga di Bali, kedua jenis binatang ini hanya disebut sebagai Semal saja. Namun karena jenis bajing lebih umum ditemukan, tentu saja kata Semal ini akhirnya lebih mengacu kepada Bajing yang biasa ditemukan berlarian di pelepah pohon kelapa. Read the rest of this entry

Everybody Wants To Be A Cat.

Standard
Everybody Wants To Be A Cat.

Diantara kita semua tentu banyak yang suka menemani putra-putrinya menonton film kartun. Selain untuk memastikan kwalitas informasi yang diterima anak, meningkatkan kebersamaan dengan anak, juga sekalian menikmati kembali kegembiraan masa kecil yang tidak lagi kita nikmati setelah dewasa. Film kanak-kanak, selain memiliki alur cerita dan ide, juga menyajikan musik dan lagu-lagu yang enak dinikmati.¬† Salah satu lagu yang enak menurut saya adalah ‚ÄúEverybody Wants To Be A Cat‚ÄĚ dalam film ¬†‚ÄúThe Aristocats‚ÄĚ yang sebenarnya bukan film baru. Read the rest of this entry

Mengajak Anak Untuk Memahami Anatomi Sederhana Kura-Kura.

Standard

Banyak sekali pertanyaan yang menggelitik seputar dunia hewan  ditanyakan oleh anak-anak kepada saya, ibunya. Mereka menyangka bahwa dokter hewan tahu semua urusan perbinatangan. Padahal tentu saja tidak. Saya mencoba menjelaskan, bahwa apa yang saya pelajari adalah mengenai penyakit hewan, diagnosa dan therapynya. Bukan segala urusan tetek bengek tentang hewan. Serupa dengan dokter manusia, apakah dokter manusia mampu menjawab semua tetek bengek urusan manusia? Tentu saja tidak. Demikian juga dokter hewan. Apalagi jumlah hewan beribu-ribu kali lebih banyak jenisnya dibanding manusia. Pasti lebih banyak yang tak terjawab daripada yang terjawab. Namun tetap saja mereka berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari saya. Read the rest of this entry

Menemani Anak Memelihara Bebek..

Standard

Anak anak saya sangat menyukai binatang. Dan saya sebagai ibunya cenderung untuk membiarkan saja kesenangan anak anak itu, mengingat  saat saya masih kecil orangtua sayapun tak pernah melarang-larang saya untuk menyukai binatang apa saja dan saya merasakan kebahagiaan atas pengertian orang tua saya atas kesukaan saya pada binatang. Dan bahkan ketika saya memutuskan untuk mengambil kuliah di Kedokteran Hewan Universitas Udayana, orangtua sayapun akhirnya tetap menghormati & mendukung pilihan saya. Namun untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik dan aman, sebagai orangtua saya hanya merasa perlu mengawasi dan mengarahkan anak anak saya agar semuanya berjalan lancar & natural serta tidak membahayakan.

Beberapa hari yang lalu, saat saya ajak pergi ke poultry shop untuk membeli anak ayam,  anak saya terlihat sangat tertarik pada anak bebek yang ditawarkan di sana dan bertanya pada saya apakah suatu hal yang mungkin jika ia meminta ijin pada saya untuk memelihara bebek di rumah. Tentu saja saya mengijinkan. Saya selalu berusaha melihat sisi positif dari keinginan anak saya pada binatang. Saya lalu membantu anak saya untuk melihat lihat dan memilih anak anak bebek itu.

Memilih Anak Bebek

Sama dengan memilih anak ayam, sebaiknya kita arahkan anak anak untuk memilih anak bebek yang terlihat aktif dan trengginas diantara kelompoknya. Anak bebek yang aktif, banyak bergerak, makan atau bermain dengan temannya menandakan bahwa anak bebek itu sehat.  Sebenarnya ada beberapa jenis bebek yang umum kita temui di Indonesia, namun pada akhirnya kita hanya akan bisa memilih dari apa yang tersedia di poultry shop itu pada saat itu.

Makanan Bebek

Karena ini bukanlah pemeliharaan bebek untuk skala ekonomi, maka pemberian makanan yang praktis adalah dengan memberinya makanan/ransum yang sudah diracik dan dijual untuk anak bebek di poultry shop. Jika tidak, bebek juga bisa kita berikan ransum sisa makanan kita berupa nasi, jagung maupun sayuran. Bebek juga senang jika kita beri cincang daging siput sawah, daun eceng gondok dsb.

Membuat Kandang Bebek

Kandang Bebek bisa dibuat dengan memanfaatkan kayu bekas/bamboo. Namun jika rumah kita berdekatan dengan sungai atau lahan terbuka, sebaiknya digunakan kandang yang lebih kokoh atau yang terbuat dari besai/kawat untuk menghindari serangan musang pada malam hari. Dalam membuat kandang, yang perlu diperhatikan adalah lokasi dimana nanti kita akan meletakkan kandang agar ventilasinya baik dan mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Sesekali bebek bisa dikeluarkan dari kandangnya dan biarkan anak anak mengajaknya berenang di air yang disediakan (misalnya di kolam rumah, ataupun di bak air/ember besar).

Penyakit Bebek Yang Umum.

Sebagai orangtua, kita perlu waspada akan beberapa jenis penyakit bebek yang mungkin saja diderita oleh bebek peliharaan anak kita. Beberapa penyakit yang cukup sering menyerang bebek antara lain:

  1. a.       Coccidiosis.

Penyakit ini disebabkan oleh sejenis protozoa yang disebut Coccidia. Umumnya bisa kita ketahui dari gejala gejalanya yang antara lain : bebek terlihat lemah dan tak mau makan, serta umumnya kotorannya terlihat encer dan kadang berdarah. Penularan penyakit umumnya terjadi lewat makanan/minuman yang tercemar.

  1. b.      Pasteurellosis

Penyakit Pasteurellosis cukup berbahaya bagi bebek, karena jika tidak kita tangani dengan baik bisa menyebabkan kematian pada bebek kesayangan anak kita. Gejala penyakit Pasteurellosis pada bebek yang mudah dikenali adalah¬† kotorannya yang berwarna putih ‚Äďhijau, bebek keluar lender baik dari mata maupun hidungnya.

  1. c.       Salmonellosis

Salmonellosis  adalah penyakit pada bebek yang disebabkan oleh bakteri Salmonella yang gejalanya pada bebek adalah terjadinya pembengkakan pada muka bebek, keluarnya lender dari hidung dan mulut yang disertai dengan menurunnya nafsu makan bebek ini.

Sebenarnya masih ada beberapa jenis penyakit lain yang umum menyerang bebek juga yang tidak saya sebutkan disini. Namun jika terjadi gangguan kesehatan pada binatang kesayangan anak anda ini, sebaiknya segera meminta bantuan dokter hewan terdekat.