Tag Archives: Bintaro

Melepas Anak Bermain Ice Skating.

Standard

Ice Skating.Sudah sejak lama anak-anak menyampaikan keinginannya untuk bermain Ice Skating kepada saya.  Karena dua hal, saya belum bisa memenuhinya. Pertama, karena saya sendiri tidak bisa bermain Ice Skate, sehingga tidak bisa menemani. Dan yang ke dua, saat liburan sekolah begini, saya masih cukup sibuk di kantor, sehingga belum  punya waktu untuk menemani mereka. Namun anak-anak  tidak kehilangan akalnya. Merasa cita-citanya tidak kesampaian ditemani bermain Ice Skating oleh saya, mereka rupanya menitipkan diri pada seorang tetangga yang kebetulan anaknya yang bernama Matthew  adalah sahabat karib mereka. Mamanya  Matt meninggalkan pesan di telpon genggam saya, bahwa mereka sedang bermain Ice Skating di Bintaro X-change. Sepulangnya   mereka berceloteh betapa menyenangkannya bermain Skate di atas lapangan yang berlapis es.

Beruntungnya punya tetangga yang juga sekaligus ibu dari teman-teman bermainnya anak-anak. Jika sibuk, jadi kami bisa bergantian menemani anak-anak melakukan aktifitasnya. Karena minggu kemarin saya kebetulan di rumah, dan anak-anak  minta bermain Ice Skating lagi, tentu  kali ini giliran saya untuk menemani mereka. Yang bermain ada empat orang anak.

Tiba di Bintaro X-change pukul dua siang. Anak-anak memesan ticket yang harganya sedikit lebih mahal karena weekend. Ticketnya seharga Rp 70 000/orang pada saat weekend. Dan saya mengingatkan agar anak-anak juga mengenakan glove agar tidak kedinginan saat berada di ruangan es dan menyewa sebuah locker untuk menyimpan barang bawaannya.

Lapangan terlihat sangat penuh. Maklum musim liburan sekolah. Katanya Ice Skating ring yang ada di dekat rumah ini adalah Ice skating yang terbaik dan terluas di Indonesia. Saya tidak tahu kebenarannya. Namun bisa jadi sih. Rasanya lapangan es yang saya lihat di Malaysia, agak lebih kecil dari yang ini.

Saat akan masuk, petugas menginformasikan bahwa setengah jam  lagi  akan dilakukan pelapisan es. Proses pelapisan es akan memakan waktu setengah jam sendiri. Ia menyarankan agar anak-anak masuk sekitar jam tiga saja.  Saya melongokkan kepala saya ke lapangan es dan memang lapangan itu mulai kelihatan mencair. Saya setuju dan menjelaskan keadaan itu pada anak-anak. Merekapun setuju untuk menunda masuk, lalu mengisi waktu dengan bermain games di  counter Hawaii. Saya memutuskan untuk duduk di Food Exchange satu lantai di atas Ice Skating ring itu dan melihat proses pelapisan es dilakukan oleh petugas.

Pukul tiga sore, anak-anak turun ke ring. Ke dua anak saya kelihatan belum bisa bermain dengan baik. Namun atas bantuan Matt yang kelihatan lebih percaya diri dan lebih jago, perlahan-lahan yang kecil  mulai bisa bergerak sedikit ke tengah. Mulai melepaskan pegangannya di tepi ring.

Ia mulai berjalan pelan-pelan. Sempat terjatuh sekali, lalu bangkit lagi. Kelihatan tidak patah semangat sama sekali. Berdiri dan mencoba bergerak lagi. Kali ini lebih stabil. Ia melepaskan tangannya sama sekali dari ring dan berjalan ke tengah dituntun Matt. Saya melihat betapa tinggi tingkat kesabaran  si Matt dalam menuntun dia agar bisa lepas berjalan sendiri di tengah-tengah lapangan es. Beberapa saat kemudian ia sudah mulai bisa bergerak sendiri, meluncur dan melakukan aktifitas seperti halnya orang-orang lain di lapangan es itu. Ah, big thanks to Matt!. Ketika anak saya mulai bergerak sendiri,Matt tetap mengikuti dengan pandangannya dan sesekali mendekat untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Sehingga ia sendiri mengorbankan waktunya sendiri untuk bersenang-senang demi memastikan sahabatnya bisa meluncur sendiri.  Hanya setelah lebih dari dua jam dan anak saya memutuskan untuk berhenti bermain,barulah Matt kelihatan  meluncur sendiri  dengan kecepatan yang tinggi,menikmati permainannya sendiri dan enjoy life!.  Saya terharu melihat persahanatan luar biasa yang ditawarkan Matt kepada Aldo, anak saya.

Anak saya yang gede kelihaannya tidak mengalami kemajuan sebaik adiknya. Kerjanya hanya nempel dan berpegangan di pinggir ring saja. Namun demikian ketika saya tanya apakah ia ketakutan, putus asa atau masih tertarik untuk bermain Ice Skating? Iia mengatakan ia bahwa ia masih tetap ingin mencoba. Melihat itu semua saya berpikir lain kali saya  akan mencarikan coach yang benar untuk mengajarkan anak saya agar bisa bermain Ice Skating dengan baik dan benar.

Pelajaran yang saya ambil dalam menemani anak bermain Ice Skating ini antara lain:

1/.  Karena lapangan es cukup licin, dibutuhkan keberanian dan kesiapan mental untuk jatuh, dan kesediaan untuk bangun kembali. Dorong anak yang memang tertarik dan memiliki minat besar untuk bermain Ice Skating. Jika anak mengatakan takut untuk mencoba sejak awal, sebaiknya jangan dipaksa. Omong-omong, bermain Ice Skating ini juga cukup bagus untuk keberanian dan melatih mental siap jatuh bangun dari anak.

2/.  Anak yang belum sukses pada hari pertama, bukan berarti tidak akan sukses di kali berikutnya. Jika ia menyatakan tetap berminat, perlu dibantu oleh orang yang sudah lebih pengalaman dan berani. Atau jika tidak ada, mencarikannya seorang coach bisa jadi merupakan hal yang tepat.

3/ Sahabat merupakan orang yang tepat bagi anak untuk diajak bersama bermain.Mereka bisa saling mendukung dan saling menyemangati.

4/. Pastikan anak-anak berpakaian dengan cukup baik agar tidak mudah kedinginan. Sarung tangan dan kaus kaki bisa disewa, tapi jika sering bermain,  lebih baik bawa sendiri dari rumah.  Cegah anak bermain Ice Skating dalam keadaan flu. Karena dingin es akan menambah beban pada hidungnya.

Dan pelajaran terakhir yang sangat menyentuh hati saya kali ini adalah tentang persahabatan yang tulus pada anak-anak – dimana saya bisa melihat sebuah bentuk kebersamaan dan dukungan penuh terhadap sahabat yang berada diatas kepentingan sendiri yang ditunjukkan oleh Matt kepada saya. Sekali lagi, thanks to Matt for the inspiration!.

 

Advertisements

Tegalan Yang Tersisa.

Standard

ladangSalah seorang Satpam di gerbang depan perumahan bercerita bahwa di sekitar tempat tinggalnya masih banyak sawah,sehingga masih banyak jenis burung liar yang berkeliaran. Saya terpesona mendengarnya. Sawah? Di Bintaro?Lahan pertanian yang sangat sulit saya lihat belakangan ini. Karena sebagian besar sudah dirombak jadi areal perumahan. Satpam itu juga terlihat memiliki pengetahuan yang luas tentang burung-burung yang banyak berkeliaran di sekitar Bintaro. Dan tahu banyak mengenai sejarah daerah itu sebelum dirombak dan dijadikan perumahan. Tentu saja saya percaya, karena ia memang lahir sebagai penduduk Betawi asli di situ. Karena saya juga sangat tertarik akan kehidupan burung-burung liar, maka saya senang ngobrol dengannya. Suatu kali suami saya bertanya apakah kami boleh bermain ke rumahnya? Ingin melihat sawah dan melihat-lihat burung. Ia mempersilakan kami datang.

Demikianlah,maka pada akhir pekan kami janjian akan ke sana. Karena kebetulan kami libur dan pak Satpam-pun sedang libur, habis jaga malam. Anak saya yang kecil ingin ikut. Sayang hujan turun sangat deras. Sehingga kami baru bisa berangkat pukul 3 sore ketika hujan mulai reda. Tidak terlalu sulit mencari rumahnya.

Seperti halnya kebanyakan rumah penduduk Betawi, halamannya masih cukup luas untuk memelihara ayam. Namun karena hujan, halamannya jadi becek Di sekelilingnya masih banyak pepohonan hijau yang tinggi. Ada beberapa ekor burung Cerukcuk dan burung Madu tampak terbang. Lalu setelah itu saya melihat lagi seekor burung Tekukur. Saya bisa melihat, populasi burung bebasnya kelihatan lumayan banyak. Kami dikenalkan dengan ibu, istri dan anaknya.

Mengobrol sebentar lalu diajak berangkat ke sawah yang letaknya di sebelah rumahnya. Sedikit meloncati bekas pagar yang rendah, dan lahan yang ditanami pohon bambu, lalu tibalah di kami di sawah. Ooh..rupanya bukan sawah tanaman padi seperti yang ada dalam pikiran saya. Daripada Sawah, mungkin lahan ini sebenarnya lebih tepat kalau disebut dengan Tegalan. Karena sebagian besar lahannya kering, ditanami singkong dan pepaya. Walaupun di sana-sini saya lihat juga ada lahan yang dibedeng-bedeng ditanami bayam dan kangkung dan disekelilingnya dibuat parit untuk penyiraman.  Ada bagian lain dari lahan itu yang masih berbentuk rawa kecil. Ia bercerita masih sering menemukan burung ayam-ayaman atau burung mandar di situ. “Larinya sangat cepat. Saya belum pernah bisa menangkapnya” katanya.

Tegalan itu sangat becek. Saya berjingkat-jingkat berjalan berusaha meminimalisir jumlah lumpur yang menempel di sandal yang saya gunakan.  Seorang bapak tua terlihat sedang berjongkok  mencabuti bayam di tengah gerimis. Ia menggunakan capil lebar. Satpam berkata bahwa orang tua itu adalah babenya. Ia mencabut sayuran untuk dipasarkan keliling di kampung itu dengan sepeda. Entah kenapa hati saya merasa trenyuh,melihat orang tua seumur itu masih bekerja dengan tekun.  Saya jadi terbayang sepeda dengan dua buah keranjang besar yang tadi saya lihat di rumah mereka. Cukup sering saya melihat engkong-engkong Betawi yang sudah renta berkeliling menjajakan hasil panennya, entah itu sayur mayur, singkong, pisang atau nangka. Namun baru kali ini saya melihatnya bekerja di ladang dan memetik sayurannya sebelum dijajakan esok hari berkeliling kampung.

Saya melirik ke hasil panennya sore itu.Kelihatan tidak seberapa. Paling banter hanya sekitar 15- 18 ikat bayam. Dan mungkin sekitar 15-18 ikat kangkung juga.   Akhirnya saya berkata, bahwa saya ingin membeli hasil panennya hari itu. Setelah dihitung ternyata memang ada 15 ikat masing-masing. Saya akan ambil semuanya, selain untuk saya masak di rumah, juga bisa saya bagi-bagikan kepada para tetangga saya.

Pak satpam berkata, bahwa lahan itu dulunya adalah milik babenya. Namun sekarang kepemilikannya sudah pindah kepada Bintaro Jaya. Namun karena belum digunakan, pihak Bintaro masih mengijinkan para petani di situ untuk mengelola lahannya. Kakek itupun bercerita, bahwa tanah itu dilepas sudah lama sekali. Puluhan tahun yang lalu. “Waktu itu harganya masih seribu lima ratus rupiah per meter” katanya. Saya tidak terbayang harga tanah saat ini di Bintaro. Tentunya tidak akan dijual. Kalaupun dijual, sudah pasti dalam bentuk properti seperti rumah ataupun ruko yang bernilai miliaran rupiah.

Saya memandang lahan-lahan luas yang masih belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Lahan-lahan yang tersisa. Lalu rumah-rumah penduduk Betawi asli yang berusaha bertahan dari pergerakan roda  pembangunan.

Gelap merangkak mengisi sore. Ada banyak suara burung. Namun sangat sulit untuk melihatnya. Saya pikir kami datang tidak pada saat yang tepat untuk memantau burung. Mungkin lain kali sebaiknya saya datang lagi saat lahan tegalan kering tidak ada hujan, dan lebih bagus lagi di pagi hari. Kami memutuskan untuk pulang.

Pak Satpam memberikan oleh-oleh tambahan kepada kami. Singkong dan pepaya yang ia baru petik. Pantes saja tadi ia sempat menghilang sebentar. Lalu anak saya juga ingin membeli anak ayam. Waduuuh! Banyak juga bawaan kami. Saya membayarkan sejumlah uang yang menurutnya terlalu banyak. Tapi sesungguhnya saya tahu,  bahwa nilai uang itu tidak melebihi dari jumlah uang yang harus saya keluarkan jika saja saya membeli sayur mayur, singkong dan pepaya itu di Supermarket. Belum plus anak ayamnya.

Terlebih lagi,  persaudaraan yang tulus yang mereka tawarkan kepada kami sekeluarga bukanlah hal yang bisa dibeli dengan uang. Tiada tara harganya.

Burung Prenjak Di Pohon Petai Cina.

Standard

PrenjakBurung Prenjak!. Ini adalah salah satu burung favorit saya. Burungnya kecil tapi suaranya itu lho.Sibuk banget  pindah dari satu cabang pohon ke cabang yang lain.Mencari makan dan bermain-main di tanaman perdu yang rendah. Meloncat loncat sambil bercinglar-cinglar setiap pagi. Mendekat lalu menjauh.Mendekat lagi lalu terbang entah kemana. Kedengarannya di telinga saya seperti  cing larr, cing larrr, cing larr…. cing larr, cing larr, cing larrr…. begitu terus berulang ulang.  Tapi sayangnya walaupun burung ini sangat sering mampir ke rumah saya, sangat jarang sekali saya bisa memotretnya. Kalau pun bisa fotonya selalu sangat kecil dan blur karena saya mengambilnya dari jarak yang jauh.

Namun suatu hari saya bisa berada dalam jarak yang cukup dekat dengan burung ini.  Ia datang bermain di pohon petai cina di belakang tembok rumah. Lumayanlah akhirnya saya dapat memiliki beberapa buah fotonya.

Burung Prenjak atau Taylor Bird (Orthotomus sutorius), kalau di kampung saya di Bali disebut dengan nama Kedis (burung) Kecinglar, barangkali karena suaranya  yang terdengar cing larr cing larr itu. Di Jakarta, kelihatannya sering juga disebut dengan nama Ciblek atau Cinenen.  Burung ini berukuran kecil,kurang lebih 10 cm atau mungkin sedikit lebih besar dibandingkan dengan Burung Madu. Makanannya terutama ulat. Itulah sebabnya ia sangat rajin mengunjungi perdu dan pohon-pohon rendah di taman-taman perumahan dimana ada banyakKupu-kupu bertelor dan menetas menjadi ulat.

Burung ini memiliki warna mahkota agak kemerah-merahan, demikian juga sisi kepala bagain atasnya. Pipinya berwarna putih suram dengan tanda hitam di leher sisi sampingnya.  Tengkuknya berwarna coklat, sayap dan punggungnya berwarna hijau zaitun.Ekor bagian atas berwarna hijau zaitun dengan sapuan warna putih pada bagian bawahnya. Kaki dan paruhnya berwarna merah.

Burung ini suka membuat sarangnya dengan cara menjahit beberapa lembar daun dan melapisinya dengan serat kapas dan rerumputan,sehingga dikenal juga sebagai burung penjahit. Saya pernah menemukan sarangnya di pohon Kacapiring di halaman rumah saya. Padahal pohon Kacapiring itu tidak terlalu tinggi.  Paling banter hanya 2 meteran dari tanah. Awalnya saya pikir itu sarang semut yang agak besar. Tapi setelah saya periksa ternyata itu sarang burung. Telurnya ada 3 butir dengan warna kehijauan.

Burung ini kelihatannya tersebar dengan baik di pulau Jawa dan Bali. Saya tidak perhatikan apakah di luar dua pulau itu juga ada. Namun sayang sekali, burung ini termasuk salah satu burung yang cukup banyak diuber oleh pemburu burung untuk dipelihara dan  diperjualbelikan, walaupun mungkin harganya tidak terlalu mahal. Penyebabnya adalah karena suara burung ini sangat kencang dan merdu.

Saya juga sangat menyukai suara burung ini. Suaranya yang riang selalu mengingatkan saya akan pagi. Pagi yang penuh semangat dan suka cita. Namun saya lebih menyukai suaranya  terdengar di udara yang bebas, dari burung yang bebas merdeka di alam.

Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro II.

Standard

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang bertajuk Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro bagian I,  saya  kembali menulis kupu-kupu yang saya temukan di area-area terbuka dan berumput dari Bintaro Jaya yang sudah dibebaskan namun belum sempat dibangun yang saya istilahkan dengan Padang Rumput. Pada bagian ke dua ini, kupu-kupu yang saya tuliskan adalah dari jenis yang lebih kecil ukurannya dari kupu-kupu yang saya sebutkan di bagian I.

1/. Kupu-Kupu Teluk.

Kupu Kupu Teluk -Agraulis vanillaeKupu-kupu yang dalam bahasa latin bernama Agraulis vanillae ini sebenarnya merupakan penghuni padang rumput Bintaro yang cukup menarik perhatian. Jumlahnya tidak banyak. Namun karena warnanya jingga sangat cemerlang ditimpa sinar matahari, maka keberadaannya terasa sangat menyolok mata. Kalau kita lihat terbang dari kejauhan, kadang-kadang kita bisa terkecoh dan menyangkanya sebagai Kupu-Kupu Junonia jingga yang memiliki warna serupa. namun setelah kita dekati, segera kita menyadari bahwa kupu-kupu ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan berbeda dengan Junonia jingga (Junonia almana).

Selain tubuhnya dan bagian ujung sayap belakangnya yang berwarna hitam berbercak putih, keseluruhan kupu-kupu ini nyaris hanya terdiri atas warna jingga dan sedikit hitam  saja.  Sayap depannya memiliki ukuran yang signifikan lebih pajang dari sayap belakangnya.  Warnanya jingga dengan tepi garis berwarna hitam dan beberapa bercak yang terdiri atas empat kelompok juga berwarna hitam.

Sayap bagian belakang terlihat sangat artistik, karena adanya pita hitam dengan bulatan-bulatan putih mirip bando pada ujungnya. Sisanya berwarna jingga cerah dengan sedikit bercak bercak hitam.

Jenis kupu-kupu  ini terbang cepat di atas bunga-bunga rumput dan kurang ‘friendly’ jika didekati.  Buru-buru pergi. Menyukai bunga pukul delapan.

2/. Kupu-Kupu Ksatria Kelabu.

Dusky KnightKupu-kupu berwarna coklat debu ini berukuran sangat kecil. Saya pikir jika sayapnya dibentangkan tentu tidak akan melebihi 3 cm. Umum disebut dengan nama Dusky Knight Butterfly (Ypthima arctous).

Kupu-kupu ini memiliki warna yang sama, baik jika kita lihat dari atas mapun dari bawah. Sama saja. Coklat mirip abu pembakaran.  Sangat serupa dengan warna tanah dan warna rumput-rumpit yang mati.  terelbih dengan ukurannya yang kecil, agak sulit bagi kita untuk melihatnya. Kecuali pada saat kupu-kupu ini bergerak barulah mudah bagi kita untuk melihatnya.

Sayap depannya  memiliki sebuah bulatan besar mirip mata yang berwarna hitam dengan bingkai coklat kekuningan. Sedangkan sayap belakangnya memiliki masing masing dua  bulatan kecil berwarna sama dengan bulatan besar di sayap depannya.

Kupu-kupu ini paling hobby hinggap di bunga puteri malu dan bunga rumput lainnya yang kecil-kecil.

3/. Kupu-Kupu Biru Kecil.

Kupu Kupu Kecil Biru -Common Little Blue Butterfly1Kupu-kupu ini berukuran bahkan lebih kecil lagi dari Kupu-Kupu Ksatria Kelabu. Saya rasa mungkin tidak akan lebih dari 2.5 cm. Umum disebut dengan nama Common Little Blue Butterfly (Cupido minimus).

Secara umum warna kupu-kupu ini memang biru kelabu, dengan warna yang lebih biru pada pangkalnya,lalu dilanjutkan dengan lapisan warna kelabu dan diakhiri dengan garis tipis putih membingkai sayapnya.

Tidak ada bulatan-bulatan yang saya temukan pada sayapnya. hanya warna biru dan sedikit coretan dengan warna senada. Tubuhnya juga berwarna biru kelabu.

Kupu-kupu  ini menyukai bunga rumput yang mungil-mungil. Terbangnya zigzag di atas rerumputan.

Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro I.

Standard

InsectsSeperti halnya wilayah lain yang sedang mengalami pembangunan,  Bintaro dan sekitarnya juga mengalami perubahan yang sangat pesat.  Cluster-cluster  perumahan bermunculan di sana-sini menggantikan lahan-lahan  yang dulunya merupakan tanah ataupun rumah penduduk setempat. Tentu saja saya tidak akan membahas mengenai masalah pembangunan di sini.

Karena saya adalah seorang pengagum keindahan alam, maka  saya akan bercerita tentang keindahan padang rumput  Bintaro. Hah?!? Bintaro memiliki padang rumput? Saya terbayang para sahabat pembaca tentu akan bertanya-tanya sejak kapan Bintaro mempunyai Padang Rumput?  Yap! Bintaro memiliki beberapa padang rumput kecil-kecil yang sifatnya sementara.  Terbentuk dari lahan-lahan penduduk yang sudah dibebaskan, tapi mungkin sudah diratakan, namun belum dibangun.  Beberapa ada juga yang belum diratakan. Jadi nanti, ketika lahan ini sudah dibangun menjadi  pertokoan, perkantoran maupun perumahan,  tentunya tak bisa lagi kita sebut sebagai padang rumput.

Jadi sebelum dibangun, saya suka melihat-lihat padang rumput ini dan menikmati bunga-bunga liar yang indah serta berbagai insekta yang terbang mencari makan ataupun hanya sekedar bermain-main di sana.

Saya mencatat jenis-jenis kupu-kupu yang ada dan sangat suka menuliskannya, sebagai catatan saya tentang  species yang pernah exist di wilayah ini di tahun 2013.

Junonia jingga.1.  Kupu- Kupu Junonia Jingga.

Kupu-kupu ini disebut juga dengan Kupu-kupu Merak Jingga, Peacock Pansy Butterfly (Junonia almana). Mengidentifikasi Kupu-kupu berukuran sedang ini tentu cukup mudah. Warna keseluruhan tampak atasnya yang jelas adalah orange (jingga) yang sangat terang.   memiliki masing-masing sebuah bulatan mirip mata di sayap depannya. Dan dua bulatan mata – satu besar dan satu kecil pada sayap belakangnya.

Mata yang besar di sayap belakang,  berwarna coklat bergradasi hitam dengan dikelilingi cincin  putih dan hitam yang mebuatnya terlihat sangat mengesankan. Selain bulatan mirip mata, sayap depan kupu-kupu ini memiliki design berupa 3 blok  tebal dan 2 garis tipis yang bergelombang berwarna coklat gelap.  Diluar itu, di tepian sayapnya, baik yang  depan maupun belakang memiliki  3 baris garis yang membentuk renda  berwarna coklat.

Kupu-kupu ini hobbynya terbang rendah di atas bunga-bunga rumput. Berhenti dengan mengembangkan sayapnya dengan cukup sempurna.  Ia senang mampir di bunga rumput pukul  delapan, bunga kacang-kacangan, puteri malu, maupun jenis bunga  rumput lainnya.

Tubuhnya sendiri berwarna coklat.

Kupu-kupu ini termasuk berukuran sedang, sekitar 4-5 cm jika sayapnya kita bentangkan.

2. Kupu-Kupu Junonia Biru.

Junonia BiruKupu-kupu berwarna biru ini masih sekeluarga dengan Kupu-Kupu Merak Jingga. Sering juga disebut dengan Kupu-Kupu Mata Biru , Blue Buckeye Butterfly, Blue Pansy  Butterly (Junonia orithya).  Sangat serupa dengan saudaranya Junonia almana, sepintas lalu Kupu-kupu ini terlihat didominasi oleh warna biru.

Tampak atas sayap depan kupu-kupu ini  berwarna hitam pangkalnya dengan ujung berwarna krem yang terang. Dihiasi dengan dua bulatan berwarna jingga dengan inti hitam mirip mata. Pinggir sayapnya dihiasi dengan 3 baris garis berwarna coklat  gelap.  Di dekat pangkal sayapnya terdapat dua goresan berwana jingga.

Sayap belakang kupu-kupu ini didominasi warna biru (kadang ungu) dengan usapan warna hitam pada pangkalnya. Ada dua bulatan masingmasing pada sayap belakang kiri dan kanannya. Satu bulatan penuh berwarna hitam. Dan satu bulatan lagi berwarna jingga dilapis hitam, dengan iti berwarna hitam dan putih. benar-benar mirip mata.

Bagian bawah sayapnya didominasi warna krem dengan corak berawna coklat pucat. Tubuhnya berwarna hitam.

Sama seperti saudaranya di atas, kupu-kupu ini juga sangat suka terbang rendah dan hinggap di bunga-bunga rerumputan.  Ia bahkan terkadang hinggap di atas rumput atau di tanah.

Ukurannya kurang lebih sama dengan yang jingga.  Walaupun sbeberapa kali saya  pernah juga melihat yang berukuran kerdil.

3. Kupu-Kupu Junonia Coklat.

Kupu Kupu Junonia CoklatKupu-kupu berwana coklat ini sudah pasti berkeluarga dengan dua Kupu-Kupu  merak di atas. Sering disebut dengan Common Buckeye Butterfly atau  Junonia coenia, karena memang paling banyak dijumpai di mana-mana.

Jika kita lihat dari atas dimana kupu-kupu ini membentangkan sayapnya lebar-lebar, maka yang kita tangkap adalah warna colat dengan ujung berwarna krem dan delapan  buah mata yang mencolok. Setiap sayap memiliki bulatan mata masing-masing dua buah. Lumayan banyak untuk menakut-nakuti musuh yang hendak menyerang.

Jika kita perhatikan sayap depanya – sangat serupa dengan Kupu-Kupu Junonia biru, hanya saja pangkalnya berwarna coklat dan bukan hitam.  Bulatan matanya juga serupa dan ada dua, hanya saja pada Kupu-Kupu ini, bulatan mata terlihat lebih sempurna. Dua goresan warna jingga juga menghiasi bagian depan daris ayap depan kupu-kupu ini. Dan tiga baris garis yang serupa juga dimilikinya di ujung sayap.

Sayap belakangnya juga demikian. Pangkalnya didominasi warna coklat dan memudar ke arah krem di ujungnya yang memiliki 3 baris garis. Lalu ada dua bulatan mata di masing-masing sayapnya yang sangat jelas. Tubuhnya berwarna hiatm kelabu.

Ukurannya sama dengan ke dua saudaranya di atas.

 

Cerita Tentang Sepasang Sepeda.

Standard

SepedaHari Minggu pagi yang indah.  Saya dan suami saya memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua  untuk berjalan-jalan  di sekitar Bintaro. Anak-anak tidak mau ikut dan lebih senang tenggelam dengan komputernya masing-masing.  Kami berputar-putar mencari tukang bubur ayam yang dulu pernah mangkal di depan Rumah Sakit International Bintaro  . Tidak ketemu. Rupanya sudah pindah ke Sektor III dan ke pasar modern. Dari sana saya berencana akan nongkrong di taman sambil hunting memotret burung. Ketika berkeliling dan tiba di lampu merah perempatan yang ada jembatan layangnya, pandangan saya tertuju pada sepasang suami istri yang asyik menikmati hari Minggu paginya dengan bersepeda.

Sangat menarik. Pasangan itu terlihat sangat kompak.  Yang wanita memakai celana sepeda berwarna putih dengan strip hitam – yang lakipun memakai celana yang sama model dan warnanya. Demikian juga bajunya – keduanya memakai baju lengan panjang berwarna putih dengan strip hitam di lengannya.  Helmet sepedanya berwarna hitam . Bagus dan kompak.  Mereka bercakap-cakap sambil menunggu lampu merah berganti hijau.  Saya tetap memandangnya dari arah belakang.

Ketika lampu hijau menyala, maka pasangan itupun bergerak. Disusul oleh kendaraan lain di belakangnya.  Saya melihat Sang wanita menggowes sepedanya dengan penuh semangat. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ayo gowes terus!. Lalu pandangan saya pindah ke suaminya. Ia menggowes dengan santai dan pelan. Jauh lebih santai dan lebih lambat dibandingkan istrinya.   Saaaaaatuuuuu, duuuuuuaaaa… dan seterusnya.  Tapi saya perhatikan, ternyata sepeda mereka tetap sejajar.  Berdampingan! Padahal si istri menggowes 2-3kali, sementara si suami hanya sekali.  Mengapa begitu ya? .

Terheran-heran, saya pun memperhatikan jenis sepeda yang digunakan. Rupanya sang istri menggunakan sepeda jenis city-bike  yang lebih rendah dudukannya dengan roda yang lebih kecil, sehingga secara umum ukuran sepedanya memang lebih kecil. Sementara sang suami menggunakan  Sepeda Gunung yang tinggi dengan roda yang lebih besar. Ooh ..pantes saja.  Sekali berputra, roda yang lebih besar tentu akan menggapai jarak yang lebih jauh ketimbang roda yang lebih kecil. Saya kelupaan memotret pasangan itu dari belakang. Keburu mereka lewat dan sementara kami harus berbelok arah.

Seolah sedang membaca pikiran saya, suami saya menjelaskan mengapa  sang istri harus menggowes 2- 3x lebih sering dibandingkan suaminya yang menggowes dengan santai. Penyebabnya adalah perbedaan jenis sepeda dan ukuran bannya itu.   Jadi agar bisa mengimbangi laju dari sepeda sang suami yang lebih besar, maka sang istri harus menggowes sepeda kecilnya dengan lebih sering dan lebih kuat. “Sudah pasti lebih melelahkan” kata suami saya.   Seandainya kedua sepeda itu sama besar dan jenisnya, mungkin sang istri tak perlu menggowes sesering itu.    Walaupun demikian,kelihatannya sang istri anteng-anteng saja menggowes sepedanya. Tetap semangat dan tidak mengendor sedikitpun.

Saya merenungkan kalimat suami saya itu.  Hukum itu kelihatannya tidak hanya berlaku pada sepeda saja.  Juga berlaku pada fragment kehidupan yang lain. Misalnya dalam menjalankan usaha.  Jika kita adalah sebuah perusahaan kecil dengan modal kecil dan ingin bertumbuh mengimbangi perusahaan besar dengan modal yang lebih besar, maka kita harus bekerja dengan lebih cepat, lebih smart dan lebih keras dari perusahaan yang lebih besar.  Itu baru jika hanya ingin mengimbangi. Apalagi jika kita ingin bertumbuh lebih cepat dari perusahaan besar. Tentu kita harus bekerja ekstra smart, extra keras dan extra cepat lagi dibandingkan dengan mereka yang lebih besar. Tanpa itu usaha extra itu, tidaklah mungkin kita akan menjadi lebih sukses. Serupalah dengan sepasang sepeda itu.

Renungan yang sangat baik buat diri saya di hari Minggu pagi…

Top 10 Kupu-Kupu Di Bintaro Dan Sekitarnya.

Standard

Ketika menulis tentang Top 10  Burung Liar yang ada di Bintaro dan menyeleksi foto-fotonya, saya  menemukan banyak sekali foto-foto kupu-kupu di file saya.  Walaupun sebagian ada yang saya ambil di tempat lain, namun sebagian besar lagi saya ambil di wilayah Bintaro dan sekitarnya.  Banyak juga jenisanya. Dan banyak yang cantik cantik sayapnya.

Di bawah ini adalah 10 Kupu-kupu  yang saya pilih diantara yang paling sering saya jumpai di wilayah Bintaro dan sekitarnya.

1. Kupu-Kupu  Lingkaran Tahun (Ariadne  ariadne).

Kupu-kupu Ariadne ariadne

Kupu -kupu berukuran kecil ini sering saya lihat terbang rendah di rerumputan.  Hinggap dengan membuka sayapnya lebar-lebar,sehingga tidak terlalu sulit untuk difoto.  Warnanya coklat dengan level warna coklat yang bergradasi dari individu ke individu lainnya, sehingga ada yang tampak coklat terang agak ke jingga, dan ada juga yang  coklat agak gelap.  Yang menarik dari kupu-kupu ini adalah corak sayapnya yang bergaris dan memiliki alur-alur yang sepintas mirip dengan  irisan melintang batang kayu, dimana kita bisa melihat adanya  garis-garis lingkaran tahun  yang berulang dari kecil, membesar dan membesar. Saya membayangkan jika kupu-kupu ini -terutama yang warnanya coklat gelap  hinggap pada sebuah tonggak batang kayu yang terpotong melintang, pasti ia tidak akan kelihatan. Bahkan jika hinggap di tanah atau di rerumputan, mungkin saja pemangsanya menyangka itu adalah potongan kayu. Ada bintik putih pada bagian depan sayap depannya. banyak di area Pondok Aren.

2. Kupu-Kupu Segitiga Hijau (Graphium agamemnon).

Kupu Kupu Segitiga hijau

Sesuai namanya,  jika hinggap, sayap kupu-kupu ini mirip dengan segitiga.  Sebenarnya sangat banyak beterbangan dari bunga ke bunga.  Warna sayapnya hitam bertotol-totol hijau terang, mirip zebra terbang  berwarna hijau. Tapi karena terbangnya sangat cepat, tidak begitu mudah memotretnya dalam keadaan sayap yang terbuka.  Itu sebabnya kebanyakan fotonya di file saya adalah saat dia sedang hinggap.  Sayangnya kalau hinggap kupu-kupu ini menutup sayapnya rapat-rapat.  Sehingga yang terlihat hanya sisi bawah dari sayapnya  yang berwarna coklat kehitaman dan hijau.  pada ujung belakang sayapnya terdapat tonjolan yang menyebabkan kupu-kupu ini dimasukkan ke dalam kelompok kupu -kupu Swallowtail.  Sangat  menyukai bunga Jatropha, bunga kersen, dan sebagainya. Kupu-kupu ini menyebar di seluruh wilayah Bintaro dan sekitarnya.

3. Kupu-kupu  Segitiga Biru (Graphium sarpedon).

Kupu Kupu Graphium sarpedon 1

Kupu-kupu yang masih bersaudara dekat dengan Si Segitiga Hijau ini, juga  sangat banyak beterbangan di halaman rumah. Serupa dengan yang hijau, kepakan sayapnya juga sangat cepat, sehingga sangat jarang saya bisa memotretnya dalam keadaan sayap terbuka. Kebanyakan dari satu sisi saja dalam keadaan sayap tertutup. Kupu-kupu ini juga sering disebut dengan Blue Bottle. Paling mudah ditemukan di bunga zinnia, bunga kersen, jatropha dan sebagainya. Menyebar luas di seluruh wilayah Bintaro, Pondok Aren hingga ke Graha Raya.

4. Kupu-Kupu  Zebra Hitam Putih (Neptis hylas)

KupuKupu

Warnanya yang bergaris putih di atas hitam mengingatkan kita pada warna kuda Zebra. Ukurannya kecil . Hobinya terbang rendah di rerumputan. Menurut saya kupu-kupu ini tergolong jinak dan tidak terlalu takut pada manusia. Banyak terlihat berkeliaran di daerah Pondok Aren.

5. Kupu-Kupu Gagak Coklat ( Euploea crameri)

Kupukupu

The Crow!. Kupu kupu berukuran besar ini memiliki kepakan sayap yang lambat, sehingga relatif mudah untuk memotretnya dalam keadaan sayap terkembang. Warnanya coklat mirip warna burung gagak, dengan bintik-bintik  kecil berwarna putih. Penyebarannya sangat luas. Terlihat mulai dari pinggir jalan Tol Bintaro,  tanaman di sepanjang jalan Sektor I  hingga ke area Graha Raya.

6. Kupu-Kupu Bola Mata Biru (Junonia orithya).

buckeye-blue

Blue Buckeye Butterfly!. Sebelumnya saya tidak menemukan referensi nama Kupu-kupu ini,walaupun sepengetahuan saya Kupu-Kupu ini berasal dari keluarga Junonia.  Mungkin sebenarnya varietas lain dari Junonia coenia biasa yang umumnya berwarna coklat. Jadi sebelumnya saya menyebutnya sebagai Junonia  coenia saja – karena paling mendekati. namun belakangan saya mengetahui bahwa Kupu-Kupu ini ternyata bernama latyn Junonia orithya. Sayapun baru hanya menemukannya di sekitar Graha Raya Bintaro – daerah sektor IX dan sekitarnya, tapi populasinya cukup tinggi. Senang terbang rendah di rerumputan.  Menyukai bunga -bunga rumput dan tanaman penutup taman lainnya. Ada juga yang variantnya berwarna ungu, ketimbang biru.

7. Kupu-Kupu Renda (Hypolimnas bolina)

kupu-hypolimnas-betina

Kupu-kupu ini adalah dari jenis yang paling mudah difoto, karena sangat fotogenik dan sadar kamera.  Terbangnya di ketinggian yang sedang dengan kecepatan kepak sayap yang rendah, seolah  memarkan keindahan sayapnya yang sangat mirip dengan renda pada pakaian wanita. Sangat menyukai bunga Zinia. Juga menyebar di wilayah yang luas,mulai sari Graha hingga Pondok Aren.

8. Kupu-Kupu Jeruk ( Papilio demolius).

Kupu-Kupu Jeruk

Lime Butterfly!. Ini kupu-kupu favorit saya. Paling hobby datang bermain ke pohon jeruk nipis saya di halaman. Tapi ia bisa ditemukan dimana-mana. menyebar luas di wilayah Coraknya sangat cantik, berwarna krem dengan garis  garis warna hitam, dengan sapuan warna jingga pada sayap belakangnya. Sangat mudah dikenali. Saya mengetahui ada dua ukuran dari kupu-kupu ini, yakni ukuran sedang agak besar dan kupu-kupu kerdil. Tapi tampangnya sangat serupa.  photo  diatas adalah dari jenis yang kerdil.

9. Kupu-Kupu Hitam Besar (Papilio memnon)

great-mormon-black1

Disebut umum sebagai The Great Mormon, kupu-kupu ini terlihat sangat berwibawa diantara para kupu-kupu lain. Semua kupu-kupu lain tiba-tiba terlihat kecil dan minggir oleh aura kupu-kupu ini. Mungkin karena ukurannya yang besar dan warnanya yang gelap. Terbang tinggi dan seolah-olah tidak perduli. menyebar di seluruh area Bintaro dan sekitarnya.

10.  Kupu-Kupu Chocolate Pansy (Junonia iphita).

Kupu-kupu  Chocolate Pansy

Kupu-kupu ini   jika hinggap suka mengembangkan sayapnya yang coklat mirip minuman chocolate bercampur sedikit susu.  Punya corak yang mirip dengan tumpahan coklat/kopi yang menguap dan sudah kering.  Walaupun kupu-kupu ini cukup banyak, namun agak sulit dilihatnya, karena warnanya yang terlalu mirip dengan tanah atau bebatuan. Pada sayap belakangnya terdapat beberapa buah bulatan kecil yang berbaris  ke atas dan sedikit bersambung ke bagian sayap depannya. Beberapakali saya lihat hinggap di atas daun pisang dan di daun bunga Bougenville. Saya menemukan di area Bintaro Regency.

Sebenarnya masih banyak sekali jenis-jenis kupu-kupu yang mudah saya lihat di Bintaro – tapi tulisan ini hanya mengulas 10 jenis diantaranya.

Top 10 Burung Liar Di Bintaro Dan Sekitarnya.

Standard

Bintaro dan sekitarnya yang sebenarnya sudah memasuki wilayah Tangerang Selatan  (Pondok Aren, Pondok Jagung, Paku Jaya), merupakan wilayah  yang mengalami perubahan sangat cepat. Berpuluh-puluh perumahan baru bermunculan yang pada akhirnya merubah drastis permukaan wilayah itu  yang dulunya adalah sawah ladang dan perkebunan serta kampung, menjadi perumahan modern dengan segala fasilitasnya.   Sudah pasti vegetasi dan juga hewan-hewan liar yang berhabitat di dalamnya juga ikut berubah. Entah jenisnya, maupun jumlahnya.  Untungnya area hijau juga masih ada walaupun sedikit, baik berupa taman-taman perumahan, bantaran sungai maupun upaya warganya untuk bertanam pohon – sehingga setidaknya kita masih bisa mengintip  kehidupan beberapa jenis satwa liar di alam bebas di wilayah ini.

Bagi saya, mengamati burung-burung liar di habitatnya merupakan salah satukegiatan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan pada akhir pekan bersama anak-anak.

Berikut adalah daftar 10  burung liar yang paling umum kita temukan di wilayah ini,  tentunya di luar Burung Gereja atau House Sparrow(Passer domesticus) yang bisa kita anggap sudah sebagai burung domestik ketimbang burung liar.

1.  Burung Terkwak ( Amaurornis phoenicurus).

Burung Terkwak 6

Burung yang hidupnya di badan-badan air ini, sering juga disebut dengan Burung Ayam-ayaman atau Ayam Air Berdada Putih /White Breasted Water Hen. Berhabitat di sepanjang sungai sungai kecil yang mengalir di wilayah  Bintaro Sektor IX hingga ke area Pondok Kacang. Sangat mudah menemukannya, karena populasinya yang cukup tinggi dan terutama karena bunyinya yang sangat ribut, terrrrr..kwaaakkkkk, terrrrr kwakkkk…

2. Burung Pipit (Lonchura leucogastroides)

Burung Pipit

Burung kecil pemakan padi dan biji rermputan ini  sering juga disebut dengan nama Burung Bondol Jawa /Javan Munia). Barangkali karena dulunya wilayah ini adalah areal sawah yang luas, sehingga populasi Burung Pipit ini masih cukup tinggi di sini. Sangat mudah kita temukan  di mana-mana, terutama di area terbuka yang belum tergarap dengan baik, di taman, di pinggir kali atau bahkan di pinggir jalan. Sibuk memakan biji-biji rerumputan sambil bercericit riang.

3. Burung Peking (Lonchura punctulata)

Burung Peking

Sama dengan burung Pipit, burung kecil  yang juga disebut dengan Bondol Dada Sisik /Scaly Breasted Munia  ini juga sangat mudah kita temukan di mana-mana di area yang berumput. Seringkali  bahkan mencari makan bersama dengan burung-burung pipit tanpa terlihat saling mengganggu.

4. Burung Kipasan (Rhipidura javanica)

Burung Kipasan 10

Burung lincah, centil dan energetic yang kadang disebut juga dengan nama Burung Murai Gila  ini sangat mudah kita temukan bernyanyi riang dan berkejar-kejaran dengan pasangannya sambi memamerkan keindahan ekornya yang sangat mirip dengan kipas.  Bermain dan hinggap di semak-semak berbunga dan pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi seperti misalnya pohon kersen, pohon lamtoro atau di lahan-lahan terbuka yang kiri kanannya bersemak.

5. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung pemakan buah-buahan dan serangga  yang sering juga disebut dengan Terucukan, Trocok, Crocokan atau Kutilang Dada Kuning / Yellow Vented Bulbul ini juga sangat mudah ditemukan di wilayah Bintaro. Burung ini menghuni pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Sangat mudah dipergoki sedang bertengger menikmati buah kersen yang matang. Sangat sering terlihat terbang berpasangan.

6. Burung  Cabe (Dicaeum trochileum)

Burung Cabe 1

Burung Cabe atau Burung Tabia -Tabia / Scarlet Headed Flower Pecker, juga merupakan burung yang cukup mudah ditemukan. Walaupun ukurannya kecil, namun karena warna jantannya merah  (walaupun tingkat kecemerlangan warnanya bisa berbeda dari satu burung ke burung yang lain).  Ia sangat sering berengger di tiang telpon/ listrik, selain di  pepohonan rendah yang banyak benalunya.

7. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)

Burung Madu Sriganti

Sesuai dengan namanya, burung ini adalah pengumpul nektar dari bunga ke bunga. Untuk menemukannya, kita bisa menyusuri pepohonan yang banyak bunga benalunya, atau pohon-pohon pepaya  yang sedang berbunga.

8. Burung Cinenen (Orthotomus sutorius).

Burung CinenenBurung yang juga digelari sebagai Burung Tukang Jahit ( Common Taylorbird) ini banyak bisa kita temukan di taman-taman yang memiliki perdu berbunga seperti bunga Asoka, bunga Kacapiring, Bougenville dan sebagainya. Sibuk berteriak    cuik, cuik, cuik…sambil mencari serangga di dahan-dahan yang rendah.

9. Burung Tekukur (Streptopelia chinensis)

TekukurBurung Tekukur atau yang sering juga disebut dengan Burung Balam.  Beberapa kali saya menemukannya sedang menclok di tembok perumahan di sekitar Bintaro atau sedang minum di pinggir kali atau sedang makan biji-bijian.

10. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster).

Burung KutilangBurung penyanyi  yang merupakan saudara dari Burung Cerukcuk ini biasanya bertengger di pucuk-pucuk pohon. Bernyanyi dari dahan-dahan yang tinggi. Karena ukuran tubuhnya yang lumayan besar, burung ini agak mudah terlihat.  Seringnya terlihat berpasangan.

Saya hanya bisa berharap, lingkungan hijau di sekitar Bintaro ini tetap bisa dipertahankan walaupun laju pembangunan sulit untuk dihentikan, sehingga burung-burung liar yang menarik ini tetap bisa lestari di alamnya.

Kuda Copot Dan Ayam Pake Kayu.

Standard
Di Rumah Sakit International Bintaro

Di Rumah Sakit International Bintaro

Hari minggu sore saya meluangkan waktu untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga di sebuah Supermarket di daerah bisnis Bintaro. Matahari sudah condong ke barat. Tanda senja mulai menjelang. Tempat parkir sangat penuh, sehingga saya harus mendorong kereta belanjaan saya ke luar area Supermaket. Persis di depan salah satu menara kembar di Bintaro. Sangat aneh! Suasana senja itu  membuat saya tiba-tiba terkenang kembali akan masa lalu. Entah apanya. Barangkali temaram sinar matahari yang sama. Atau barangkali desir angin yang serupa. Entahlah… Read the rest of this entry

Green & Healthy Living…meningkatkan kualitas kehidupan dengan memperbaiki kualitas lingkungan

Standard

Siang tadi saya mendapat undangan untuk hadir dalam acara Green & Healthy Living di Bintaro. Walaupun saat ini saya hanya berhasil masuk nominasi dengan mendapatkan hadiah voucher belanja dari sebuah hypermarket dan bebas pembayaran uang iuran kebersihan & keamanan selama 3 bulan, saya sungguh merasa sangat senang. Read the rest of this entry