Tag Archives: Birds

Dunia Pinggir Kali: Burung Peking Di Awal Musim Penghujan.

Standard

Wildlife nextdoor.

Musim kemarau yang panjang tahun ini akhirnya berakhir. Hujan mulai turun menghapuskan panas terik yang mendera selama beberapa bulan sebelumnya.  Saat itu hampir semua tanaman terganggu dan nyaris layu jika tidak rajin-rajin menyiraminya. Tetapi sekarang rasanya lebih lega. Sesekali saya menengok ke kali di belakang rumah. Untuk melihat kehidupan burung-burung liar di sana selama pergantian musim. Apakah mereka masih ada di sana?

Tetangga sebelah sedang membetulkan rumahnya. Banyak puing sisa pengerjaan bangunan berserakan. Selain itu bunyi ketak-ketok tukang yang bekerja saya rasa juga ikut mengganggu kehidupan liar di tepi kali.  Tapi rupanya kekhawatiran saya tidak terlalu beralasan. Memang ada jenis burung yang tak terlihat sepanjang November ini – seperti misalnya Burung Kipasan (Rhipidura javanica). Saya tidak melihat dan tidak mendengar suaranya sama sekali.  Demikian juga Burung Caladi Tilik (Dendrocopos moluccensis). Tetapi masih cukup banyak yang exist dan tertangkap oleh kamera saya. Salah satunya adalah Burung Peking (Lonchura punctulata).

Burung Peking 1

Kali ini rumput benggala tak banyak tumbuh di pinggir kali.  Syukurnya masih ada serumpun yang sedang berbunga dan berbiji.  Cukup untuk mengundang kedatangan Burung Peking yang giat bekerja di pagi hari.

Alangkah sibuknya burung ini  memanen biji-biji rumput benggala dan bermain-main di batangnya. Kepala dan lehernya coklat tua, dengan punggung juga berwarna coklat namun masih lebih terang. Perutnya berwarna putih bermotif mirip sisik. Sebenarnya burung kecilini sangat cantik. Gerak geriknya juga sangat menyenangkan untuk ditonton.

Burung Peking biasanya lebih senang bergerombol. Mencari makan tidak sendirian, tapi beramai-ramai dengan kelompoknya. Tapi kali ini saya melihatnya hanya bermain-main sendiri dengan anteng. Sayang jika tidak diabadikan.

 

Advertisements

Yogyakarta : Menonton “Bird Free Flight”

Standard

Anda pencinta burung? Ingin tetap bisa memelihara burung kesayangan anda tanpa harus mengurungnya dalam sangkar?  Barangkali Free Flight Training untuk burung anda, merupakan jawaban yang baik.

****************************************************************************************************

Burung Wood Swallow

Ini masih cerita di Alun-Alun Utara  Yogyakarta. Ketika saya sedang sibuk memotret sekawanan burung yang hinggap di atas beringin, saya melihat Ricky, teman saya ngobrol dengan seorang anak muda. Ricky melambaikan tangannya ke saya. Saya pun mendekat. Wow! Rupanya ada seekor burung liar di tangannya. Burung berwarna hitam kelabu dengan dada dan perut putih ini terlihat sangat indah. Saya mencoba mengingat-ingat burung apa itu. “Bukannya ini Wood  Swallow ya?” tanya saya. Anak muda yang kemudian saya kenal bernama Adi itu terlihat sedikit terperanjat. “Wah! Kok Ibu tahu ?” tanyanya. “Benar Bu. Ini Wood Swallow“katanya.  “Padahal burung jenis ini sangat jarang lho Bu yang memelihara. Bukan jenis burung yang bersuara merdu” lanjutnya lagi. Ya saya setuju. Burung jenis ini sangat jarang di pasaran burung untuk diperdagangkan. Barangkali memang karena suaranya tidak tergolong merdu sehingga orang kurang tertarik memelihara.

Saya pencinta Burung. Terutama Burung Liar di alam lepas. Ada beberapa jenis burung yang saya kenal. Dan lebih banyak lagi jenis yang saya tidak tahu. Tapi saya tidak memelihara burung. Tidak senang melihat burung dalam sangkar” kata saya. Mendengar itu Adi lalu berkata “Sama Bu. Saya juga pencinta burung. Tapi tidak senang melihat burung dalam sangkar. Itulah sebabnya kenapa saya bergabung dalam Free Flight ini. Biar tetap bisa memelihara burung tanpa harus mengurungnya dalam sangkar“. WOw! Giliran saya yang terperanjat.

Free Flight! Ide yang kedengarannya sangat menarik di telinga saya. Adi lalu bercerita bagaimana asal mulanya ia memelihara Burung Wood Swallow alias Burung Kekep (Artamus leucorynchus). Ia menemukannya sejak usia masih lolohan (bayi) di pasar burung. Ia merawat dan memberi makan bayi burung itu dengan penuh kasih sayang dan melatihnya terbang. Sejak kecil memang tidak pernah disangkarkan. Boleh terbang bebas kemanapun ia suka.  Barangkali karena ia merasa di sana rumahnya, burung itu pasti pulang kembali walau sejauh apapun ia  terbang. Menarik ya?  Bagi saya cerita itu sangat menarik, walaupun sebelumnya saya pernah mendengar cerita serupa tentang burung  bangau yang selalu pulang ke rumah pemeliharanya, walaupun ia terbang jauh.

Love Bird

Selain  Wood Swallow, rupanya Adi juga memelihara seekor Love Bird berwarna biru yang sering dilatihnya terbang bebas.  Saya terpesona melihat burung itu terbang bebas di udara, tapi begitu merasa lelah iapun cepat-cepat turun dan hinggap di tangan Adi.

Adi memberinya makan. Mengusap-usap kepalanya dan melatihnya terbang sambil ia sendiri ikut berlari bersama. Burung itu terbang dengan riang di sampingnya. Saya pikir ia memang seorang penyayang burung. Sehingga tidak berkeberatan mengalokasikan waktunya hanya untuk merawat, memelihara dan  melatih anak burung itu hingga dewasa.

Adi juga memperkenalkan saya pada rekan-rekan pencinta burung dan free flight yang tergabung dalam Yogyakarta “Parrot Lovers” yang sore ini bersama-sama melatih terbang burung kesayangannya masing-masing.

Sore itu Alun -Alun Utara penuh warna warni burung-burung paruh bengkok, mulai dari Love bird, Sun Conure, Australian Cockatiel dan sebagainya.  Burung -burung itu benar-benar terbang bebas. Ada yang terbang lalu hinggap di tanah Alun-Alun. Tapi kebanyakan kembali ke tangan pelatihnya.  Ada juga satu dua yang menclok ke bahu penonton. Termasuk ke bahu saya. Juga ke bahu Ricky. Wah.. ha ha.. rasanya sangat senang ketika ada burung yang tiba-tiba menclok begitu dengan jinaknya di bahu kita.

Cockatiel Free Fligt hinggap di bahuKami tidak takut ia terbang tinggi atau jauh. Karena pasti ia akan kembali. Yang  kami takuti justru jika ada orang yang menangkap dan memasukkannya ke dalam kandang“. kata Adi saat saya bertanya, apakah ia tidak takut burung kesayangannya itu lepas dan pergi tak kembali.

Sukses bagi teman-teman pelatih Free Flight untuk burung-burung dan teman-teman yang tergabung dalam Yogyakarta Parrot Lovers. Saya masih tetap percaya bahwa tempat terbaik bagi burung-burung adalah di alam bebas. Namun jika tidak bisa melepaskannya, maka melatihnya “Free Flight” barangkali menjadi pilihan yang lebih baik. Setidaknya dengan Free Flight burung-burung masih diberi kebebasan untuk terbang tinggi. Juga diberi hak untuk terbang jauh dan tak kembali atau akhirnya pulang. Keputusan diserahkan kepada para burung – walaupun biasanya ia akan pulang kembali.

 

Yogyakarta: Burung-Burung Liar Di Alun-Alun Utara.

Standard

Tekukur 5Minggu yang lalu saya ada di Yogyakarta dan kembali ke Jakarta pada hari Sabtu pukul 7 malam. Hari itu kebetulan urusan saya sudah selesai sekitar jam 2.30 siang.  Agak kelamaan kalau menunggu di airport. Jadi saya dan teman-teman ingin mengisi waktu dengan melihat-lihat sudut kota Yogyakarta.  Setelah berembug, kami memutuskan untuk melihat Keraton. Tapi sayangnya ketika kami tiba, Keraton sudah tutup. Yaaah…kecewa deh penonton.

Empat orang teman saya memutuskan untuk melihat-lihat batik produksi rumahan yang dipromosikan tukang becak. Saya sendiri lebih berminat untuk mengamati burung -burung liar di sekitar Alun-Alun Utara. “Melihat burung liar di lapangan?” Seorang teman saya kaget, bagaimana saya yakin di sana ada banyak burung yang bisa dipotret?. Saya tertawa. Ya..barangkali karena saya memang tertarik pada satwa liar (terutama burung-burung liar), jadi ketika kendaraan kami melewati Alun-Alun itu, dari kejauhan mata saya sudah menangkap ada beberapa ekor burung perkutut hinggap di lapangan berpasir itu.  Sementara bagi yang kurang berminat, tentu saja keberadaan urung-burung liar itu akan luput dari pandangannya. Karena mata kita cenderung mencari apa yang ingin kita lihat.

Satu orang teman saya yang lain, akhirnya memutuskan untuk menemani saya berjalan-jalan di sekitar Alun-Alun. jadilah saya berdua dengan teman saya itu memasuki lapangan yang tanahnya kering dan tandus dengan dua pohon beringin terpagkas itu. Selain dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan, ada beberapa pohon beringin lain juga yang mengelilingi lapangan itu. Memberikan akomodasi yang cukup bagi para burung. Tak heran saya mendengar kicauan burung yang riuh serta belasan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

1/. Burung Tekukur.

Saat memasuki lapangan, saya melihat ada belasan ekor burung tekukur sedang sibuk berjalan-jalan atau mencari makan.  Kebanyakan dari mereka berpasangan. Mengais-ngais dan mencari sesuatu di tanah dan rerumputan yang kering. Saya hanya duduk nongkrong mengamati tingkah lakunya. Burung Tekukur alias Kukur, alias Spotted Dove (Streptopelia chinensis) sebenarnya merupakan salah satu burung yang banyak disangkarkan orang. Melihatnya terbang bebas di alam membuat hati saya terasa sangat bahagia.Karena kelihatannya burung-burung itu juga sangat berbahagia. Sebenarnya mereka bisa hidup mandiri. Mereka bisa mencari makanannya sendiri- berupa biji-biji rumput maupun biji pepohonan tanpa perlu bantuan kita, manusia untuk membelikannya makanan setiap hari.

Burung-burung ini tampak santai. Ia membiarkan saya untuk tetap berjongkok mengamati tingkah lakunya dari jarak sekitar  4-5 meter. Hanya ketika saya bergerak terlalu dekat, merekapun terbang.

Sangat mudah mengenali burung ini, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Secara umum berwarna kelabu semu coklat kemerahan dengan sayap coklat berbercak-bercak. Leher bagian belakangnya berkalung hitam putih. Kepalanya kelabu kebiruan.Paruhnya berwarna kelabu. Kakinya berwarna pink.  Melihat kalungnya, tentu kita tidak akan tertukar dengan burung jenis lain.

Suaranya sangat merdu dan penuh kedamaian bagai siapa saja yang mendengarnya “ Tekkkukuurrrrr….. tekkukuurrrrrr…“.

Melihat banyaknya yang terbang berkelompok maupun berpasangan dari satu pohon beringin ke beringin yang lainnya, saya pikir jumlah populasi burung Tekukur di area ini mungkin puluhan mendekati ratusan.

2/. Burung Perkutut.

Burung ke dua yang jumlahnya cukup banyak juga di sekitar alun-alun ini adalah Burung Perkutut. Sama dengan Burung Tekukur, Burung Perkutut  juga merupakan salah satu burung yang sangat digemari untuk dipelihara. Suaranya yng merdu “Kwarrrr ketengkung…Kwarrr ketengkung…” membuatnya diburu orang. Baik untuk didengarkan sendiri maupun untuk dilombakan. Sayang sekali ya….banyak burung ini yang nasibnya berakhir di sangkar.

Burung Perkutut alias Titiran alias Zebra Dove (Geopelia Striata) rupanya agak mirip dengan Burung Tekukur, tetapi jika kita perhatikan tentu saja banyak bedanya.  Ukuran tubuh Burung Perkutut lebih kecil dari burung Tekukur. Warnanya merupakan campuran kelabu dan coklat kemerahan. Burung Perkutut tidak memiliki kalung bintik hitam putih di leher belakangnya.  Sayapnya juga tidak berbercak-bercak, tetapi motifnya cenderung membentuk alur-alur lurik mirip motif zebra, sehingga tidak heran disebut juga dengan nama Zebra Dove.

Populasinya di area ini juga lumayan banyak. Sama seperti Tekukur, mereka mencari makan dan terbang berpasang-pasangan. Syang banyak gambar yang saya ambil sangat blur.

3/.Burung Punai.

Burung Punai

Selain ke dua jenis burung di atas, sebenarnya saya berpikir masih ada beberapa jenis burung lain yang menghuni pohon-pohon beringin di sekitar area itu. Barangkali jenis merpati lain , burung jalak dan sebagainya. Tapi saya tidak bisa melihat dengan baik.Hanya mendengar ocehan suaranya yang berbeda.  Suatu kali saya melihat serombongan burung yang awalnya saya pikir Tekukur menclok di pohon beringin di tengah alun-alun.  Saya mengarahkan kamera saya ke puncak pohon, lalu jeprat jepret ala kadarnya di beberapa bagin puncak pohon itu tanpa memeriksa lagi hasilnya. Belakangan saya baru sadar bahwa yang tertangkap oleh kamera saya justru gerombolan Burung-Burung Punai alias Green Pigeon (Treron Capellei) bukan Burung Tekukur.  Ada belasan jumlahnya bertengger di sana. Salah satunya adalah seperti yang tampak di foto di atas ini. Wahhhh…sungguh saya jadi menyesal tidak mengambil foto yang lebih baik dan lebih banyak lagi.

4/. Burung Gereja.

Burung Gereja

Berbaur dengn para Burung Perkutut dan Burung Tekukur, tak mau kalah adalah gerombolan Burung Gereja (Passer domesticus). Burung-burung kecil ini ikut sibuk mengais-ngais makanan di sela-sela rumput dan pasir Alun-alun ini. Suaranya yang bercerecet lumayan  menghibur, meramaikan suasana sore Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5/. Burung Cerukcuk.

Burung CerukcukMenjelang pulang, tepat sebelum saya masuk ke kendaraan yang akan mengantarkan saya ke bandara, saya melihat seekor Burung Cerukcuk ( Pycnonotus goiavier) di atap bangunan tak jauh dari tempat kami parkir. Burung penanda pagi ini tampaknya hanya beristirahat sebentar di sana lalu terbang menyusul temannya dan menghilang di balik rimbunan daun-daun beringin.

Sore yang sangat menyenangkan di Yogyakarta. Senang bisa menyaksikan kehidupan liar masih ada di seputar kota. Semoga pemerintah setempat memberi perhatian terhadap kehidupan burung-burung ini,  agar kebebasannya tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil yang ingin menangkap dan memperjual-belikannya.

Yuk kita cintai Lingkungan Hidup kita!.

 

Burung Cucak Hijau Yang Mampir Di Halaman.

Standard

Cucak Ijo 5Hari Minggu siang. Panas musim kemarau sangat terik. Anak saya yang baru kembali dari luar bercerita bahwa ia melihat seekor burung yang sangat bagus sedang bermain di kolam kecil di halaman depan.Warnanya hijau. Suaranya sangat bagus. Kicauannya sangat rame.Saya melihat ke luar. Burung itu sudah terbang. “Mungkin burung madu?” tanya saya.”Bukan!“kata anak saya.  Burungnya lebih besar dari burung madu. Anak saya merasa belum pernah melihat burung seperti itu.  Saya mencoba memikir-mikir, burung apa kira-kira yang dilihat anak saya itu.

Cucak Ijo 9Selang kira-kira dua jam berikutnya. Panas matahari mulai sedikit berkurang, walaupun terasa masih menyengat juga. Si Mbak yang lewat di halaman depan memberi tahu saya kalau ada seekor burung hijau sedang bermain di halaman. Saya dan anak saya segera keluar. Seekor burung nampak sedang meloncat-loncat di pinggir kolam. “Ya..itu burung yang tadi”  kata anak saya.

Cucak Ijo

Ooh..itu Burung Cucak Ijo alias Cica Daun (Chloropsis sonnerati). Baru pertama kali ini saya melihat burung ini di alam bebas. Selama ini saya hanya pernah melihatnya  ada di dalam sangkar pedagang burung. Sangat mengejutkan juga bisa melihatnya tiba-tiba di depan mata. Saya rasa kemarau yang panjang membawa burung itu mampir ke kolam saya untuk minum.

Cucak Ijo 11Saya dan anak saya menonton tingkah lakunya dengan takjub. Berloncatan di dekat aliran air. Lalu pindah berjumpalitan ke dahan pohon Bintaro. Sibuk berloncat-loncat di sana. Lalu pindah lagi ke dahan pohon Frangipani. Berloncat-loncatan lagi sambil berjumpalitan dan berkicau. Kelihatan benar jika hatinya sedang riang. Ia tidak takut sedikitpun pada saya dan anak saya. Membuat anak saya gemes ingin menangkapnya.”Jangan!!!. Biarkan dia bebas di alam” kata saya.

Cucak Ijo 3Lihatlah betapa riangnya ia berkicau dengan bebas merdeka. Jika kita menangkapnya dan memasukkannya ke dalam kandang yang sempit, sebenarnya kita sedang merampas kebebasannya. Merampas kemerdekaannya. Juga merampas kebahagiaannya. Memeliharanya dalam sangkar, walaupun kita merawat dan memberinya makan, tetap tidak bisa menggantikan kebahagiaannya. Mengapa kita harus menyakiti mahluk lain? Biarkanlah kebahagiaan itu tetap dimiliki burung-burung di alam bebas. Anak saya bersungut-sungut.Tapi tidak berani membantah kata-kata saya. Akhirnya kembali kami hanya menonton.

Cucak Ijo 8Burung Cucak Ijo sesuai dengan namanya memang secara keseluruhan berwarna hijau.  Sayapnya ada sedikit semu kuning kehijauan. Leher bagian bawah/kerongkongannya berwarna hitam gelap dengan bintik biru. Matanya berwarna hitam, dengan paruh gelap dan demikian juga dengan kakinya.  Makanannya biasanya adalah serangga.

Saya pikir burung ini sebenarnya bukan jenis burung langka. Akan tetapi penangkapan tak terkendali untuk diperdagangkan akan membuat burung ini cepat menghilang dari alam bebas.

Sumber Kehidupan Bagi Mahluk Hidup Di Alam.

Standard

Bediri di pinggir kali. Membuat saya sadar, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta menyediakan sumber makanan yang sangat cukup bagi mahluk hidup di sekitarnya. Tanaman yang hijau berdaun subur, berbunga, berbuah dan berbiji juga berumbi. Semua menjadi sumber makanan yang melimpah untuk serangga dan mahluk hidup lain di alam. Ketika serangga dan binatang kecil melimpah, sangat cukup untuk mengganjal kelaparan para pemangsa yang lebih besar. Keseimbangan ekosistem berlangsung sedemikian stabil jika tidak ada bencana alam, hingga manusia datang dan merusak keseimbangan itu.

Manusia membabat semak dan rumput benggala, menyebabkan burung-burung pemakan biji-bijian terganggu. Manusia membakar ladang dan pohon yang mengakibatkan puluhan burung-burung menjadi tunawisma.  Manusia juga memasang jebakan, menangkapi burung dan biawak sungai, membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan yang mengakibatkan banjir bandang yang akhirnya juga mengikis tanah di pinggir kali dan merobohkan banyak pohon besar di pinggirnya. Banyak sekali hal  lain lagi yang telah dilakukan manusia, yang jika dipikirkan membuat dada saya terasa sesak, karena saya tak mampu mengatasi semua masalah itu seorang diri.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di pinggir kali yang sangat mengesankan hati saya. Bagaimana alam menyediakan makanan yang melimpah untuk para burung, sesungguhnya demikian juga Ia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyediakan sumber kehidupan yang melimpah bagi mahluk lainnya, termasuk kita semua. Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat dan kasih sayangNYA.

Ada banyak sekali jenis makanan yang disediakan alam yang menarik burung-burung ini berdatangan atau bahkan menetap di sini.

Buah Coccinia. 

Sebelumnya saya pernah menulis tentang buah Timun Padang (Coccinia grandis) yang tumbuh merambat di pagar perumahan di pinggir kali. Tanaman ini selain bisa dimakan oleh manusia dalam keadaan mentah dan enak juga disayur, rupanya juga merupakan sumber makanan favorit bagi burung-burung Cerukcuk. Tanaman yang disebut dengan nama lain Little gourd atau baby watermelon ini, berubah warna menjadi jingga lalu merah saat buahnya menua. Rasa daging buahnyapun manis, sehingga mengundang banyak burung pemakan buah datang berkunjung.  Saya sangat senang mengamati-amati burung di dekat tanaman ini.

Buah Kersen 

Buah Kersen atau buah Singapur (Muntingia calabura) adalah buah kecil-kecil yang bertangkai miripbuah cherry, sehingga kadang disebutkan salah kaprah dengan nama buah Cherry. Anak-anak sangat menyukai buah merah ranum yang terasa manis ini. Waktu kecil sayapun sangat suka memanjat pohon ini untuk mengambil buahnya. Namun ternyata bukan hanya anak-anak saja yang suka. Beberapa jenis burung juga sangat menyukainya. Setidaknya saya melihat burung ciblek, burung,burung prenjak, burung kutilang dan burung cerukcuk suka hinggap di dahan dan ranting pohon ini untuk memanen buah yang ranum.

Biji-bijian Untuk Keluarga Burung Pipit.

Rumput benggala banyak tumbuh di tepi kali. Biji-bijinya yang banyak sangat disukai oleh keluarga Burung Pipit. Saya melihat burung-burung ini datang silih berganti dan bergerombol menikmati bijinya. Atau sekedar menarik-narik dan memutus  tangkai atau daunnya untuk dijadikan bahan sarang. Ketika saya datang, burung-burung ini terbang menjauh. Namun tak lama kemudian datang kembali dengan teman-temannya. Senang sekali melihatnya menikmati kehidupan pagi.

Buah Pepaya Dan Burung pemakan Buah.

Tanaman pepaya kadang tumbuh sendiri karena kita membuang biji-bijinya di tepi sungai. Kalau beruntung tanaman ini bisa bersaing dengan baik melawan rerumputan dan gulma di sekitarnya. Tumbuh, berbunga dan berbuah. Tentu saja manusia bisa menikmatinya juga. Namun jika tidak ada yang memetik, burung-burung pemakan buahpun berdatangan ikut berpesta pora. Senang juga hati rasanya bisa  mengintipnya sedang mematuk buah pepaya.

Serangga dan Burung Pelatuk.

Di cabang atau ranting pohon yang mati, banyak tempayak dan serangga hidup di sana. Walaupun mati, pepohonan tetap menjadi penyumbang makanan bagi burung-burung pemakan serangga. Seperi burung Pelatuk kecil alias Caladi Tilik ini. ia selalu rajin datang setiap hari. Jika terdengar suara “terrrrr…terrrr…” saya langsung mendongak ke cabang pohon yang mati ini. Di sana pasti ada burung Pelatuk yang sedang makan atau bercanda dengan temannya.

Bunga Benalu Dan Bunga Lamtoro.

Bukan hanya buah dan biji-bijian, bnga-bungaan juga menjadi sumber makanan menarik bagi burung-burung. Lihatlah burung-burung pemakan madu ini, seperti misalnya Burung Madu ataupun burung Cabe.  Setiap pagi sangat sibuk mencari makan di bunga-bunga benalu yang hidup di pohon mangga, di bunga pohon pepaya ataupun di bunga-bunga pohon lamtoro.

Saya sangat senang melihat-lihat kembali photo-photo ini. Karena selalu mengingatkan saya kembali bahwa sumber penghidupan dan rejeki itu telah disediakan bagi mahluk hidup secukupnya. Tergantung bagaimana kita berusaha mencarinya saja. Seperti burung-burung di pinggir kali ini. Selalu mendapatkan rejeki yang cukup tanpa pernah ada yang mati kelaparan.

 

Danau Batur: Burung Kokokan.

Standard

Bangau Danau BaturAdakah yang lebih indah dari pemandangan tepi danau di pagi hari? Duduk memandang segarnya Danau Batur selalu memberi saya keteduhan jiwa yang tak bisa saya  gantikan dengan apapun. Di pagi hari, air danau selalu kelihatan lebih  tenang dan hanya beriak kecil. Sinar matahari memantul keemasan dari permukaannya yang mirip cermin raksasa itu. Sementara bukit-bukit hijau menjulang memagari danau. Di  sebelahnya Gunung Batur  berdiri tegak menjadi penyeimbang atas kedalamannya. Saya memandangnya dengan decak kagum. Di tepi danau penduduk tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mencari ikan, ada yang mencangkul, menyiram ladang dan banyak juga yang membersihkan ladangnya dari rumput liar. Kesibukan pagi yang indah.

Bangau Danau Batur 1

Setelah nyaris setengah abad perjalanan hidup saya, saya masih tetap mencintai kampung halaman saya. Walaupun nasib telah membawa langkah kaki saya berjalan ribuan kilometer, namun kampung halaman selalu menjadi magnet yang menarik saya untuk selalu pulang  dan pulang kembali. Laksana burung-burung Kokokan yang pergi terbang jauh entah kemana, namun ada waktunya akan pulang kembali ke sarangnya.

Bangau Danau Batur 2

Hmm.. Burung Kokokan!  Saya berdiri di dermaga kayu yang letaknya di Kedisan. Tak jauh dari sana tampak rumput-rumput danau tumbuh berkelompok membentuk koloni-koloni yang mirip rakit-rakit kecil tempat burung-burung air bertengger. Beberapa ekor kokokan tampak berdiri diam menunggu. Sesekali mematuk sesuatu di air danau. beberapa ekor Kokokan yang lain terbang  dari gundukan rumput ke rumput yang lainnya.

Bangau Danau Batur 3

Kokokan alias Burung Blekok Sawah, alias Javan Pond Heron (Ardeola Speciosa), adalah salah satu burung air yang keberadaannya cukup banyak di perairan Indonesia. Hidupnya terutama di badan-badan air yang banyak ikannya seperti danau, rawa maupun persawahan. Makanannya adalah ikan,  udang, kodok dan sebagainya.  Bagi saya burung ini sangat menarik karena keindahan bentuk tubuhnya. Langsing dengan leher dan paruh yang panjang.

Bangau Danau Batur 4

Berukuran cukup besar, sehingga cukup mudah dikenali dari kejauhan. Burung Kokokan memiliki paruh berwarna kuning dengan ujung hitam, sedangkan di pangkal paruh, warnanya  biru hijau mirip pelangi. Kepala dan tengkuknya berwarna coklat terang kekuningan. Leher dan dadanya berwarna putih dengan garis garis coklat terang. Punggungnya berwarna coklat tua dan sisa tubuh yang lainnya serta sayapnya berwarna putih. Sehingga, jika ia terbang, warna dominant yang terlihat hanyalah putih.

Bangau Danau Batur 5

Pada sore hari, saya lihat burung-burung Kokokan ini bersitirahat di sebatang pohon Beringin yang tak jauh dari tepi danau.

Danau Batur: Burung Layang-Layang Asia.

Standard

burung Layang-Layang AsiaSuatu pagi ketika saya akan pergi ke Desa Trunyan, perjalanan kami  terputus akibat pohon tumbang. Sambil menunggu petugas membereskan pohon itu, saya mengajak adik saya untuk berhenti di ujung Desa Kedisan saja. Ada apa di sana? Saya bercerita kepada adik saya bahwa saat melintas sebelumnya saya melihat kawanan Burung Layang-Layang Asia terbang mencari makan di sekitar area itu. Mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan mengamati tingkah lakunya.

burung Layang-Layang Asia 3

Burung-burung itu tampak sibuk terbang menyambar-nyambar di atas permukaan air danau, atau di atas lahan-lahan yang sedang diolah dan dipupuk kotoran sapi.  Mereka sedang berburu serangga yang banyak terdapat di sana. Melimpahnya jumlah serangga di tepi danau membuat  burung -burung itu tampak betah di sana. Saya sangat menyukai gerakan rerbangnya. Mengepakkan sayapnya, melayang, menyambar, berputar-putar,melingkar. Gesit sekali. Dan bentuk tubuhnya sangat indah dan aerodynamics. Beberaapaa ekor yang kelelahan tampak berisitirahat dengan bertengger di kawat listrik di atas ladang di tepi jalan. Mereka tak tampak terganggu oleh lalulintas atau bahkan suara mesin pompa air yang digunakan saat petani menyiram tanaman tomat di bawahnya.

burung Layang-Layang Asia 2

Burung Layang-Layang Asia atau Barn Swallow ( Hirundo rustica) adalah jenis burung Layang-layang dari keluarga hirundinidae dan masih sangat dekat tampilannya dengan saudaranya Burung Layang-Layang Batu (Hirundo tahitica) yang sering saya tulis di sini,di sini dan di sini. Tampilannya pun sangat mirip. Sepintas lalu agak susah membedakannya. Ukuran tubuhnya sama. Demikian pula warna bulu dominantnya. Nyaris sama. Namun mata yang terlatih akan bisa melihat bahwa burung ini memang bukan Burung Layang-Layang Batu.

Burung layang-layang.

Pertama yang sangat jelas adalah ekornya yang panjang dan menggunting. Lebih panjang dari ekor burung layang-Layang Batu. Burung Layang Layang Batu tidak memiliki dua tangkai bulu ekor ini.  Ynag ke dua, warna putih dada burung layang-layang Asia jauh lebih bersih ketimbang warna putih kotor burung layang-Layang Batu. Ke tiga, burung Layang-Layang Asia memiliki garis biru metalik yang sangat  jelas di batas dada dengan lehernya yang tidak dimiliki oleh jenis burung layang-Layang Batu. Pada Burung Layang-Layang Batu, warna di daerah ini hanya coklat karat saja.

burung Layang-Layang Asia 4

Kalau saya deskripsikan, burung ini berwarna biru metalik pada bagian kepala, punggung hingga ekornya. rahang bawah hingga lehernya berwarna coklat karat. Dada, perut dan ekor bagian bawahnya berwarna putih, dengan tanda biru metalik pada batas dada dan lehernya. Paruh dan matanya berwarna hitam. Demikian juga kakinya.

Menurut catatan, burung ini termasuk burung migrant yang datang ke Indonesia  pada bulan September – November. Menarik bagi saya untuk mengamatinya lebih jauh. Dan sangat kebetulan memang,bulan ini adalah bulan Oktober.

 

 

Mengamati Burung Perkutut Di Alam Bebas.

Standard

PerkututSalah satu burung yang paling banyak diburu manusia di Indonesia khususnya di Pulau Jawa adalah Burung Perkutut.  Karena Burung ini dianggap sebagai penentu ‘status’  dar pemiliknya dan juga dipercaya membawa nasib baik kepada pemiliknya. Entahlah kebenarannya.  Bisa dibilang saya sangat jarang sekali bisa menemukannya di alam liar. Saya sempat menemukannya terbang bebas di Bali, walaupun tidak semudah menemukan Tekukur. Namun selama saya tinggal di Jabodetabek, saya belum pernah melihatnya barang seekorpun terbang bebas. Semuanya hanya di dalam sangkar.  Terbayanglah bagaimana kagetnya saya ketika tiba-tiba melihat seekor burung Perkutut menclok di batang pohon Keluwih di tepi sungai di belakang rumah saya?

Awalnya saya menyangka itu anak Burung Tekukur. Karena ukuran tubuhnya yang kecil. Dan saya hanya melihatnya dari kejauhan. Sementara mata saya minus agak berat.  Tapi lama-lama saya curiga. Itu bukan anak Tekukur, karena tingkah laku hinggapnya agak berbeda. Saya segera mengambil kamera dan men-zoom hasil jepretan saya. Wah.. Perkutut!.  Perkutut dewasa. Alangkah girangnya hati saya. Perkutut di alam bebas. Baru pertama kali ini saya melihatnya di Jabodetabek. Barangkali  ia lepas dari kandang pemiliknya.Sepasang Perkutut

Lama saya menonton Burung itu yang hanya diam duduk di cabang pohon itu. hanya bergeser sedikit atau memutar posisi bertenggernya. Kelihatan seperti tak punya selera untuk terbang atau berpindah. Agak lama kemudian, seekor burung Perkutut lain muncul dan hinggap di sebelahnya. Kini saya melihat mereka sepasang. Nah..kalau sepasang begini,saya menjadi tidak yakin apakah burung ini memang burung peliharaan yang berhasil kabur ?Apakah mungkin lepas berpasangan?  Atau memang burung asli yang bebas di alam?

Keluarga Perkutut

Berikutnya hinggap dua ekor Burung Perkutut lain.  Waduuh sekarang ada empat ekor.  Tapi  yang dua ini kelihatannya adalah anak-anak burung Perkutut, karena warnanya agak lebih coklat dan sayap serta ekornya juga masih pendek. Saya rasa umur mereka baru sekitar dua tiga minggu.  Sedang diajarkan terbang oleh induknya. Sangat senang menonton tingkah laku keluarga perkutut ini.

Induk Perkutut dan anaknya

Burung Perkutut, alias Zebra Dove (Geopelia striata),sebenarnya merupakan burung yang umum di Indonesia.Namun saya pikir, kebanyakan burung yang diperjualbelikan di tukang burung adalah hasil penangkaran. Burung Perkutut termasuk burung yang lumayan jinak. Umumnya tidak terlalu merasa terganggu akan kehadiran manusia. Jika sudah menclok di sebuah cabang, ia akan cenderung berdiam diri di sana. Agak berbeda dengan kebiasaan Burung Tekukur yang biasanya lebih curigaan dan cepat terbang jika di sekitarnya ada manusia.  Di alam liar biasanya membuat sarangnya tidak terlalu tinggi. Telurnya umumnya dua butir. Anaknya berwarna sedikit kecoklatan, kepalanya berwarna putih dengan garis kecoklatan. Sedangkan yang dewasa umumnya memiliki warna kepala abu-abu kebiruan. Dada burung Perkutut berwarna coklat namun dari leher hingga ke bagian badan lainnya bergaris-garis hitam putih mirip kudan zebra. Burung perkutut memiliki ukuran tubuh yang kecil.  Makanannya adalh biji-bijian.

Saya menonton tingkah laku anak-anak dan induk burung ini hingga senja berubah menjadi gelap. Dimanakah mereka tidur? semoga tidak ada manusia jahil yang menangkapnya.

Kodras, Si Burung Bentet Bali.

Standard

Burung KodrasKetika mengamat-amati kelompok burung Kutilang yang sangat ramai dan heboh kicauanya di dekat areal parkir International Ngurah Rai  Airport di Denpasar, adik saya tiba-tiba berseru “ Wow! Lihat itu ada Burung Kodras!” katanya.  Seketika saya memalingkan perhatian saya dari rombongan Kutilang itu. Yang mana burung Kodras?

Burung Kodras 2

 

Adik saya menunjuk ke sebuah ranting pohon dan saya tak bisa melihat apa yang ia tunjuk.  Saya tau di sekitar ranting itu ada seekor burung bersembunyi, tapi awalnya saya mengira itu adalah  salah seekor Kutilang. Sepintas lalu kelihatan warnanya putih, hitam dengan tunggir berwarna kekuningan. Mirip Kutilang. selain itu ia juga bertengger di mana rombongan Kutilang juga berada.

Burung Kodras 1

Hanya ketika burung itu terbang dan menclok di salah satu ranting yang kering dan bebas dari kerimbunan dedaunan, barulah saya bisa melihat dengan jelas Burung Kodras yang dikmaksudkan oleh adik saya itu.

Burung Kodras 3

Kodras adalah Bahasa Bali untuk nama Burung yang dikalangan pedagang burung di Jakarta dikenal dengan nama Burung Bentet atau Burung Pentet atau Shrike (Lanius scach). Ada juga yang mengatakan bahwa Kodras adalah Burung Bentet lokal Bali. Tubuhnya berwarna putih kotor, dengan  sapuan warna coklat karat di punggung sisi samping ke bawahnya. Kepalanya berwarna hitam.  Ekornya panjang berwarna hitam dengan beberapa bagian berwarna putih. Sayapnya juga berwarna hitam dan putih, yang jika sedang bertengger sempurna akan terlihat dari belakang seperti  hiasan graphic hitam di punggungnya. Matanya berwarna hitam. Paruhnya berwarna hitam  agak bengkok ke bawah pada ujung paruh atasnya.  Demikian juga kakinya berwarna hitam.

Burung Kodras berukuran sedang. Kelihatan dari paruhnya yang membentuk kait, tentulah burung ini sejenis burung predator. Makanannya adalah serangga yang banyak berterbangan di udara.

Top 5 Burung Liar Di Sekitar Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Standard

Suatu kali saat akan kembali ke Jakarta, saya diantar oleh adik bungsu saya ke airport agak lebih cepat daripada jadwal penerbangan seharusnya. Karena masih ada waktu selama lebih dari sejam, daripada menunggu dan bengong di bandara, adik saya menyarankan bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sekitar airport. Kelihatannya hijau dan cukup banyak tanaman. Siapa tahu bisa melihat burung-burung liar menclok dari satu dahan ke dahan yang lain diantara pohon-pohon itu.  Saya setuju.

Benar saja kata adik saya. Ternyata bandara menyimpan beberapa species burung yang menarik untuk dilihat. Di luar burung gereja, inilah diantaranya

1. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

CerukcukBurung Cerukcuk  adalah burung dari keluarga burung Bulbul yang terhitung tinggi populasinya di Bali dan di tempat-tempat lain di Indonesia. Demikian juga di area sekitar bandara Ngurah Rai ini. Cukup mudah menemukan  Burung Cerukcuk berkeliaran, karena kicauannya yang sangat merdu dan bervariasi serta hobinya terbang berpasang=pasangan.

2. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Kutilang

Burung Kutilang yang masih merupakan saudara dekat dari Burung Cerukcuk ini, terlihat sangat banyak di sekitar bandara Ngurah Rai.  Kita bisa menemukannya di pohon-pohon tinggi, perdu, di pagar, di kawat,  atau di atas atap bangunan. Bahkan saya melihat suatu kali ada lebih dari 15 ekor kutilang menclok di atas salah satu atap bangunan di bandara.  Saya merasa sangat takjub, karena sebelumnya saya belum pernah melihat populasi yang Kutilang sepadat ini di suatu tempat.

Kutilang 1

Lihatlah betapa riangnya ia bermain-main di atas atap  bangunan.  Seolah tidak takut akan gangguan manusia manusia sekitarnya dan suara pesawat udara yang menderu-deru di atasnya. Saking banyaknya orang awam bisa salah mengira itu burung geraja.

Sangat berterimakasih kepada pihak Desa Adat yang sangat memperhatikan keberlangsungan hidup dan melindungi burung-burung ini tetap berkeliaran di alam bebas.

3. Burung Tekukur (Stretopelia chinensis).

Tekukur

Menarik melihat burung ini karena jumlahnya lumayan banyak berkeliaran di seputar taman-taman di bandara Ngurah Rai. Menclok di tiang-tiang listrik,di atap bangunan, tembok bangunan dan di mana-mana. Sangat damai dengan lingkungannya, burung ini terlihat anteng saja terbang rendah di sekitar areal tempat parkir.

2. Burung Punaan (Treron capellei)

 

Burung Punai

Burung ini bertengger di puncak pohon yang sangat tinggi dan  jaraknya cukup jauh dari tempat saya berdiri. Sehingga sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan gambar yang jelas.  Bahkan awalnya saya sulit mengidentifikasi burung apa itu. Tidak jelas. Saya hanya yakin itu pasti dari keluarga merpati, tekukur ataupun deruk. Beruntung saya bersama adik saya yang matanya lebih cemerlang dan  lebih sering mengidentifikasi jenis burung ini.  “Itu punaan!” kata adik saya dengan cepat dan yakin.  Saya membidikkan kamera saya dan kemudian men’zoom’ hasilnya. Saya setuju, bahwa ini memang burung Punaan.
Burung Punaan alias Burung Punai besar (Treron capellei) memiliki bulu yang didominasi warna hijau dengan kombinasi jingga atau kemerahan di bagian dadanya. Makanannya buah-buahan dan biji-bijian.  Saya melihat bberapa ekor tampak terbang di dahan yang tinggi.

5. Burung Madu Sriganti (Nectarina jugularis).

Burung Madu

Seperti halnya di wilayah lain di Indonesia, burung pemakan madu dari bunga-bunga benalu, bunga pepaya, bunga dapdap atau bunga-bunga lain ini  banyak bertebaran di areal bandara. senang mendengarkan nyanyiannya di tengah hari yang jernih.