Tag Archives: boots

SEPATU BOOTS UNTUK TUKANG SAYUR.

Standard

Penampilan diri di depan publik adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang. Ya, setidaknya kita perlu tampil rapi, bersih dan terawat, agar kita merasa nyaman dan orang lain yang bertemu kitapun ikut nyaman.

Berangkat dari sini, banyak orang kemudian melakukan usaha lebih untuk mengoptimalkan penampilannya seperti memakai make up, hair do, menggunakan parfum dan sebagainya. Lebih jauh lagi, menyesuaikan pakaian, tas dan sepatu sesuai dengan kondisi, trend masa kini dan menggunakan merk-merk terkenal untuk meningkatkan image dan prestise-nya.

Secara umum, saya sendiri tentunya serupa. Berupaya agar bisa tampil dengan baik di depan umum. Bersih dan terawat. Tetapi saya kadang rapi, kadang kurang rapi. Dibanding wanita lain, secara relatif saya memiliki ketertarikan yang kurang terhadap pakaian.

Saya jarang membeli pakaian. Apalagi tas dan sepatu. Kalaupun lemari pakaian saya kelihatan penuh, tetapi sebagian sudah tak bisa dipakai dan usang, karena semua itu adalah koleksi sejak puluhan tahun lalu. Saya jarang membuang atau menghibahkan pakaian saya. Karena setiap pakaian memiliki kenangan.

Daster atau pakaian lainnya jika robek, biasanya saya jahit dan pergunakan lagi. Demikian juga sepatu. Saya biasanya menggunakan sepatu untuk jangka waktu yang panjang. Hanya setelah benar-benar sobek atau butut, barulah saya membeli yang baru.

Suami saya menganggap saya bukanlah wanita yang modis atau berpenampilan keren. Karena itu kadang-kadang ia membantu saya membelikan baju-baju, tas dan sepatu. Tentu dengan maksud agar penampilan istrinya bisa lebih keren dan kece. Atau mengikhlaskan baju-baju kemejanya saya pakai jika perlu.

Bekakangan ini entah kenapa dia hobby banget membelikan saya barang-barang yang menurut dia adalah kebutuhan saya. Mungkin karena kemudahan memilih dengan belanja online.

Tiba-tiba saja dia membelikan saya dompet baru dan mengatakan dompet yang saya pakai sudah tua dan layak diganti. Emang sih umurnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Lalu ia membelikan saya tas, karena dilihatnya saya sering menggunakan ransel anak saya yang tidak terpakai untuk ke kantor. Terakhir ia merasa sepatu saya sudah usang dan itu-itu saja.

Ya sih. Saya suka menggunakan boots yang ringkas dan nyaman di kaki. Sudah saya pakai sejak 5 tahun yang lalu dan tak pernah saya ganti. Saya pakai ke kantor, ke mall, ke pasar, ke mana saja. Kecuali jika perlu banget berpakaian resmi, misalnya pakai kain kebaya, barulah saya ganti dengan high-heels.


Sesekali saya lap, bersihkan dan saya semir. Menurut saya sih masih layak banget dipakai. Karena bahannya kulit dan tidak ada kerusakan sama sekali. Jadi saya tidak merasakan urgensi dalam membeli sepatu baru.

Suami saya menunjukkan beberapa model sepatu boots yang dijual di toko-toko online. Barangkali ada yang saya sukai. Hm.. sebenarnya tidak ada yang cocok banget. Saya menggeleng.

Beberapa bulannya kemudian, dia menunjukkan kembali katalog sepatu boots di toko online. Kali ini modelnya cukup mirip dengan sepatu usang saya, tetapi kelihatannya agak ribet. Ada strap, tali dan restleting. Sedangkan sepatu usang saya cukup hanya restleting samping saja. Walaupun harganya cukup mahal, tapi ini lagi ada promo. Jadinya harganya miring. Setengah harga. Okey. Jadi saya setuju dengan pilihannya.

Akhirnya sepatu boots baru itupun datang. Saya mencobanya. Ya seperti diduga, modelnya mirip dengan sepatu yang sekarang tapi agak lebih ribet aja. Tapi saya pakai juga buat ke kantor.
Nggak ada teman saya yang ngeh jika sepatu saya baru 😂😂😂 . Sehari dua hari saya pakai, lama-lama saya jadi ingin memakai sepatu yang lama lagi. Apa pasal?


Saya punya kebiasaan buruk, jika duduk mengeluarkan kaki saya dari sepatu. Lalu memasukkannya lagi jika mau berjalan. Karena kaki saya mudah merasa kepanasan di dalam sepatu. Jadi perlu sepatu yang simple agar mudah memasukkan dan mengeluarkan kaki saya.


Nah…sepatu yang ini ribet banget. Sudah ada restletingnya, ada talinya juga dan ada strapnya lagi. Untuk mengeluarkan kaki, minimal saya harus membuka restleiting dan strapnya.


Lalu untuk memasukkannya pun sama. Minimal harus menutup restleting dan strap. Untung talinya tidak harus selalu dibuka dan diikat ulang.


Diam-diam sayapun mengganti sepatu itu dengan sepatu saya yang usang. Yang lebih nyaman di kaki saya.

Suami saya rupanya mengetahui ini dan kadang-kadang menanyakannya kepada saya. Sayapun kadang-kadang memakainya lagi jika ditegur suami saya. Tetapi berikutnya kembali lagi saya gunakan sepatu butut kesayangan saya itu.

Semalam, suami saya bertanya lagi. Mengapa sepatu pemberiannya tidak pernah saya pakai. Sayapun menjawab jika sepatunya sebenarnya kurang praktis. Kaki saya suka kepanasan dan ribet mengeluarkan-memasukkannya kembali.

Suami saya tersenyum mendengar alasan saya. Lalu ia berkata,

“Baiklah. Kalau begitu besok sepatunya kita kasih ke tukang sayur saja ya. Barangkali ia lebih memerlukannya”.

Saya tertawa dengan gurauan suami saya. Lalu saya menjawab,

“Sepatu Boots Untuk Tukang Sayur. Besok saya tulis di blog. Kelihatannya menarik ini” kata saya.
Sebenarnya ada rasa nggak enak.

Lalu suami saya menjawab dengan tersenyum,


” Tulislah! Agar kamu bisa menyadari dan menghargai pemberian orang lain. Betapa orang yang memberikan sesuatu kepada orang yang disayanginya itu dengan tulus, sesungguhnya ingin agar pemberiannya itu dipakai”.

Saya terdiam. Lalu diam-diam ke kamar mandi. Air mata saya bercucuran. Ooh.. alangkah jahatnya saya pada suami saya selama ini. Ia telah bersusah payah mengumpulkan setiap rupiah penghasilannya agar ada yg bisa dihadiahkannya kepada saya dan anak-anaknya dengan tulus. Tetapi saya kurang menghargai pemberian dan usahanya selama ini.

Semoga Tuhan mengampuni.