Tag Archives: Bubur Ayam

Cara Memakan Bubur Yang Panas…

Standard
Bubur Ayam

Bubur Ayam

Masih seputaran tentang kota Sukabumi yang ngetop dengan bubur ayamnya. Kali ini saya sarapan bubur ayam lagi di tukang bubur yang sama. Agak lama juga memesannya, karena kelihatannya jumlah pelayan tidak sepadan dengan jumlah pengunjung. Selain itu, setelah lama sekali menunggu, sang pelayan mengatakan kalau bubur ayam yang special sudah habis. Adanya yang biasa saja – maksudnya jumlah dan jenis toppingya pasti terbatas. Ya oke deh…

Pesananpun akhirnya tiba. Saya segera mencicipi bubur saya. Anak saya mengeluh “Buburnya panas banget Ma“. Saya lihat anak saya bengong memandangi mangkok buburnya. O ya..namanya bubur, tentunya dihidangkan selagi panas. Saya lalu mengajari anak saya bagaimana cara memakan bubur yang panas.

Mulailah sendok sedikit dari bagian permukaan yang paling pinggir dulu. Yang paling dekat dengan mangkok. “Coba cicip dikit. Jika masih terasa panas, tiup aja dulu” kata saya memberi tahu anak saya. Ia mencoba sedikit. Saya menunggu expresi wajahnya. Ternyata sekarang ia mampu menahan rasa panas bubur itu di lidahnya.  Bagus!. “Nah, sekarang sendok lagi disebelahnya. Sisir terus dari pinggir mangkok aja dulu. Baru makin lama makin ke tengah. Jangan sekali-sekali mulai menyendok dari bagian tengah! Dan jangan sekali-sekali menyendok terlalu dalam!“. Sekarang anak saya mulai bisa memakan bubur panasnya sendiri tanpa harus saya tuntun lagi.

Bubur selalu dihidangkan terbaik saat dalam keadaan panas. Karena suhu mangkok lebih dingin dari suhu bubur, tentu saja bagian bubur yang bersentuhan dengan mangkok akan turun suhunya menyesuaikan dengan suhu mangkok. Selain itu, suhu udara juga lebih dingin dari suhu bubur. Hal serupa terjadi pada bubur yang berada di bagian permukaan yang bersentuhan dengan udara. Suhunya akan turun.  Akibat persentuhan dengan udara dan mangkok, maka bagian bubur yang terdingin adalah yang di permukaan dekat mangkok. Itulah sebabnya mengapa cara terbaik memakan bubur panas adalah dengan menyisir permukaan di tepi mangkok seperti lingkaran terlebih dahulu, baru makin lama makin ke tengah dan makin ke dalam.

Hei! Ini sebenarnya sama caranya dengan jika kita sedang menghadapi konflik. Atau pertengkaran. Entah itu dalam hubungan sosial, pekerjaan ataupun rumah tangga. Setiap permasalahan tentu memiliki titik panas dan sensitive. Menyinggung langsung pada bagian yang panas dan sensitive itu bisa jadi akan memicu ledakan pertengkaran  dahsyat yang tidak kita kehendaki. Walaupun apa yang kita usulkan atau katakan benar, tetap saja konflik takbisa dihindarkan. Apalagi jika kita yang diposisi salah. Makin parah lagi.

Yang terbaik memang berdiam diri sejak, sambil menunggu yang panas menjadi turun suhunya terlebih dahulu. Kita bisa mulai dengan membicarakan hal-hal yang tidak panas dan biasa biasa saja dulu.  Alihkan pembicaraan pada hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan yang sedang dipermasalahkan. Perlu sabar dan pelan-pelan.  Hingga partner yang kita ajak berkonflik merasa tenang dan tidak temperamental lagi. Selain itu, kita juga perlu memberi waktu untuk mengkaji diri kita sendiri dan kebenaran serta kebaikan sikap dan usulan kita. Jika ternyata kita menemukan bahwa diri kita dan usulan kita kurang baik atau bahkan salah, ya.. sudah jelas kitalah yang harus membatalkan usalan kita dan kalau perlu meminta maaf.

Anggaplah jika usulan kita memang baik dan benar, maka kita tetap perlu bersabar untuk tidak menceburkan diri ke masalah itu dulu. Setelah yakin sudah tidak panas lagi suasananya barulah kita bisa menjelaskan apa yang kita maksudkan dengan baik. Tentunya dengan alasan yang baik, jelas dan fair mengapa kita berpikir dan mengusulkan seperti itu.  Saya rasa, jika memang apa yang kita usulkan itu adalah baik dan benar, didengarkan oleh partner atau kawan kita yang hati dan kepalanya sedang tenang dan dingin, tentu pendapat dan usulan kita akan mudah diterima dengan baik.

Menghadapi timbunan pekerjaan yang memusingkan juga serupa. Jika mulai terasa mumet dan melelahkan, ada baiknya ambil jeda sebentar untuk melihat dan memetakan mana bagian pekerjaan yang relatif lebih berat dan sulit dan mana bagian yang relatif lebih ringan dan mudah menyelesaikannya. Lalu mulailah menyelesaikan pekerjaan dari yang mudah terlebih dahulu, baru kemudian ke bagian yang kurang mudah dan sulit. Tapi jangan lupa lihat juga mana yang urgent dan mana yang kira-kira jika ditunda tidak akan memberikan musibah kepada kita atau kepada perusahaan tempat kita bekerja. Tentu jika ada yang urgent, ya harus diselesaikan terlebih dahulu.

Pekerjaan rumah tangga juga begitu ya? Kalau nggak ada si Embak… kita bisa mulai dengan yang mudah-mudah dulu. Menyapu lantai, mencuci piring, mencuci baju, menanak nasi dulu. Nah..urusan memasak lauk, menyeterika, mengepel, atau membongkar lemari dan sebagainya yang relatif lebih sulit, kerjakan belakangan saja. Yah..serupa dengan cara kita memakan bubur ayam yang panas itulah kurang lebihnya.

Bikin hidup lebih mudah dengan menyelesaikan perkara-perkara yang mudah-mudah saja terlebih dahulu, sebelum menyelesaikan perkara yang lebih sulit. Sehingga ketika saatnya kita harus menyelesaikan perkara yang sulit, setidaknya perkara-perkara lain yang lebih mudah tidak perlu ikut merecoki dan membebani pikiran kita juga.

Mari membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan ringan.

 

Cerita Si Tukang Bubur Ayam.

Standard

Bubur ayamPagi ini, karena sisa nasi semalam yang dijadikan Nasi Goreng jumlahnya tidak memadai untuk dikonsumsi olehseluruh keluarga, maka saya memutuskan untuk sarapan bubur ayam saja.  Belinya tentu di tukang bubur ayam yang lewat di depan rumah. Sebenarnya di sekitar tempat tinggal saya, ada 2 orang tukang bubur ayam. Yang pertama adalah yang manteng di depan ruko. Yang satunya lagi adalah yang berkeliling dengan sepeda motor.

Tukang bubur yang pertama,  sudah manteng  di perumahan ini barangkali sejak 5 tahun terakhir ini. Model buburnya mirip dengan bubur ayam Cirebon. Terdiri atas Bubur, kuah, kacang kedelai goreng, suwir ayam, irisan daun bawang -seledri, kecap, kerupuk dan sambal. Terus ada sate hati-rempela- usus- telor puyuh. Saya tidak terlalu nge-fans dengan bubur ini. Terutama pada kuah dan sambelnya. Menurut saya banyak Bubur Cirebon lain yang jauh lebih enak dari bubur ini. Walaupun harus saya akui, bahwa pelanggan tukang bubur ini sebenarnya lumayan banyak juga.  Berarti sebenarnya enak kan?

Lalu tukang bubur yang ke dua. Yang berputar-putar setiap pagi dari satu blok ke blok yang lain di perumahan, adalah tukang bubur yang sudah berjualan di sini sejak lebih dari  15 tahun. Mungkin mendekati 20 tahun.  Buburnya berbeda. Komposisinya kurang lebih begini: bubur,ayam suwir, tongcai, irisan cakwe, irisan daun seledri, sambal dan kerupuk. Sambelnya adalah sambel kacang yang enak yang membuat keseluruhan rasa bubur ini menjadi lebih enak dari bubur yang pertama – tentu saja ini menurut saya lho ya. Belum tentu menurut orang lain.

Sambil menunggu ia menyiapkan, saya bertanya kepadanya,dimanakah ia tinggal? “Di Bekasi, Bu” jawabnya. Hah??!!. Alangkah terkejutnya saya. Wow! Bekasi! Jauh banget ya?  Pantesan ia selalu mengenakan bandana batik segitiga yang dikalungkan di lehernya. Rupanya itu dipakai untuk menutup hidungnya agar tidak terlalu banyak menghirup polusi udara saat berkendara melintasi  Jakarta dari arah Bekasi ke Tangerang.

Ada semacam perasaan tidak enak di hati saya. Mengapa setelah nyaris dua puluh tahun mengenalnya, saya baru bertanya. Kelihatan betapa cuek dan tidak perdulinya saya terhadap lingkungan sekitar saya.  Tapi entah kenapa saya merasa pernah tahu bahwa tukang bubur ini tinggalnya tak jauh-jauh dari perumahan ini juga. Lalu pelan-pelan saya bertanya  “Dulu bukannya tinggal di dekat sini ya? Atau dari dulu memang tinggal di Bekasi?” tanya saya. “Ya, Bu. Dulu waktu belum berkeluarga saya ngontrak di dekat sini. Tapi setelah berkeluarga, saya  pindah ke Bekasi ke rumah istri saya” katanya. Oooh. Saya merasa sedikit lebih lega. Setidaknya saya tidak secuek bebek.

Nah, pertanyaan berikutnya, mengapa ia tidak mencari pelanggan baru saja di daerah Bekasi sana saja? Ngapain jauh-jauh dari Bekasi ke TangSel sini  hanya untuk berjualan bubur?

Ia lalu bercerita bahwa jumlah pelanggannya sudah terlalu banyak di wilayah Bintaro dan sekitarnya sini dan ia tidak mau meninggalkan pelanggannya begitu saja. “Mereka sudah cocok dengan rasa bubur ayam saya. Dan saya juga sudah hapal selera mereka.   Ada yang suka banyak sambal, ada yang tidak suka pedas, ada yang mau cakwenya yang banyak, ada juga yang mau buburnya yang banyak. Beda-bedalah Bu. Jumlahnya juga sudah sangat banyak. Tidak mungkin saya menghilang begitu saja dari Bintaro. Soalnya kalau tidak jualan sehari saja, banyak yang menanyakan.” katanya sambil menambahkan sambel ke bubur pesanan saya. Ooh..rupanya ada semacam ikatan emosi antara pelanggan dan tukang bubur ini. Ikatan yang tidak mau saling kehilangan.

“Mencari pembeli baru di Bekasi mungkin sebenarnya tidak telalu sulit, Bu.  Tapi perlu waktu lama untuk membuat pembeli di Bekasi mau berlangganan kepada saya.  Jadi, di Bekasi saya punya pembeli, tapi kalau di Bintaro saya punya pelanggan. Kalau saya muter-muter di Bintaro sini, sudah pasti dagangan saya akan habis sebelum tengah hari. Kalau di bekasi belum tentu.  Makanya demi pelanggan, lebih baik saya berangkat ke sini setiap pagi . Buat saya melayani pelanggan yang sudah lebih pasti membeli lebih penting daripada mencari pembeli baru” tambahnya.

Lebih lanjutnya si Tukang Bubur bercerita kepada saya bahwa setiap hari ia bangun pukul dua dinihari untuk mempersiapkan dagangan sehingga bisa berangkat jam 4 subuh-subuh dari Bekasi agar bisa sampai di Bintaro sekitar jam setengah enam atau jam enam pagi. Itu dilakoninya setiap hari. Wow!  Setelah saya membayar, tukang bubur itupun pergi dengan motor bebeknya.

Sambil memandangi punggungnya dari kejauhan, saya jadi memikirkan kata-katanya itu. Sangat jelas terlihat bahwa ia memang sangat memahami pelanggannya. Dan sangat mengutamakan pelanggannya.

Pembeli memang beda dengan Pelanggan. Mencari pembeli bisa saja mudah, namun mengubahnya menjadi pelanggan belum tentu pekerjaan mudah. Oleh karena itu, mempertahankan pembeli yang sudah menjadi pelanggan setia kita jauh lebih penting daripada mencari pembeli baru dan membuatnya menjadi pelangggan kita.

Sekarang saya baru tahu, mengapa tukang bubur ini selalu membunyikan klakson setiap kali ia lewat di depan rumah saya. Ia selalu tersenyum ramah, tak perduli saya membeli ataupun tidak. Dan jika saya membeli, tanpa perlu saya sebutkan lagi, ia selalu hapal bahwa saya memerlukan sambal lebih banyak. Demikianlah caranya ia membuat saya senang dan suka membeli bubur ayamnya. Barangkali saya adalah salah satu orang yang dihitungnya sebagai salah satu pelanggannya.