Tag Archives: Buku

Menyimak Buku Merdeka 100%.

Standard
Menyimak Buku Merdeka 100%.

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku menarik dari Agung Karmadanarta, seorang sahabat saya. Buku itu berjudul”Merdeka Seratus Persen” tulisan dari Satria Mahardika. Bercerita tentang perjalanan hidup Kapten TNI AAG Anom Muditha, seorang pahlawan pejuang kemerdekaan yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tentara NICA yang ingin merebut kembali Indonesia.

Beliau adalah pahlawan yang saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya yakni “Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran“.

Terus terang, walaupun nama pahlawan AAG Anom Muditha ini telah saya kenal sejak kecil, namun sesungguhnya saya baru tahu lebih banyak tentang beliau dari buku ini. Di mana rumahnya, siapa keluarganya, bagaimana perjalanan hidup beliau, dan sebagainya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Sangat salut pada penulisnya yang berhasil memaparkan perjalanan sang pahlawan dengan sedemikian detail dan komprehensif, membantu pembaca supaya mampu memahami lebih dalam. Juga memberi konteks yang jelas agar bisa mencerna nilai-nilai luhur seorang ksatria sejati yang tak segan menyabung nyawa demi membela negaranya.

Satria Mahardika dalam pengantarnya mengatakan bahwa beliau merampungkan buku ini dalam waktu 7 bulan, dengan bantuan team yang terdiri atas AAG Bagus Ardana, AA Anom Suartjana, AA Made Karmadanarta, dan AA Bagus Krisna Adipta W. Jika tidak ada tekad bersama yang kuat, tak terbayang bagi saya bagaimana caranya mengumpulkan semua detail informasi yang digunakan untuk membangun buku ini.

Salah satu yang sangat menarik adalah pernyataan AA Gde Bagus Ardana, adik kandung sang pahlawan, tentang tekadnya untuk menuliskan semua kejadian yang tersimpan dalam ingatan beliau dan termasuk informasi lain yang beliau dapatkan. Karena jika tidak, maka kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini yang memakan banyak korban akan tetap terkubur dan akhirnya lenyap ditelan jaman.

Bersyukurlah keinginan beliau itu akhirnya tercapai.

Buku yang terdiri atas 244 halaman ini, ditulis dalam 6 Bab, yang secara umum berjalan linear, walaupun saat dibutuhkan, cerita terkadang berjalan paralel.

Di awal buku ini, pembaca diperkenalkan dengan masa kecil Kapten Muditha, dengan orang tuanya, kakak dan adik-adiknya di Puri Kilian beserta kerabat lainnya. Sekilas pembaca juga bisa menangkap system pemerintahan yang berlaku pada masa itu, di mana Bangli dipimpin oleh seorang Regent, sementara ayah Kapten Muditha sendiri adalah seorang Punggawa Kota.

Dari sini kita bisa mengikuti pendidikan yang ditempuh Kapten Mudita mulai dari Holland Inlandsche School (HIS) di Klungkung , lalu ke Handles Vak School (HVS) di Surabaya, berlanjut ke Malangse Handle School (MHS) hingga kemudian menapak kariernya di bidang Militer.

Mula mula beliau menjadi tentara Koninklijk Nederlandch Indiesche Leger (KNIL) dengan pangkat Sersan Satu. Kemudian beliau menerima pendidikan militer Kaderschool di Magelang. Pada tahun 1942 ketika Jepang mulai masuk, beliau mulai diterjunkan ke medan tempur dan sempat menjadi tahanan militer di Cilacap setelah Belanda kalah dan menyerah.

Setelah beristirahat sejenak, beliau sempat menjadi Jumpo (Polisi Jepang) dan menjadi Pelatih Sekolah Polisi Jepang di Singaraja, namun kemudian berhenti karena sakit.

Setelah kesehatannya berangsur membaik, Kapten Muditha mulai aktif menjalankan dharma bhaktinya sebagai putra bangsa. Dengan gigih beliau membangun Badan Keamanan Rakyat daerah Bangli, mengkoordinir Markas Besar Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia wilayah Bali Timur dan memimpin perang gerilya melawan NICA untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dari sini kemudian kisah gerilya mulai bergulir. Berbagai aktifitas latihan kemiliteran dan pembangunan kamp militer dilakukan. Mula mula untuk melawan tentara Jepang , kemudian sebagai bagian dari team pahlawan I Gusti Ngurah Rai, Kapten Muditha memimpin perjuangan wilayah Bali Timur melawan tentara NICA setelah Jepang kalah.

Pertempuran demi pertempuran terjadi secara gerilya. Mulai dari daerah Penulisan, hingga desa desa sekitar Gunung Agung bersama Gusti Ngurah Rai. Mereka berjuang dengan perlengkapan seadanya, makanan seadanya, menahan letih, haus dan lapar dengan hanya bermodalkan tekad yang bulat dan dukungan penduduk.

Sungguh, membaca perjuangan mereka yang demikian gigih, rasanya malu jika kita generasi penerusnya tidak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan baik.

Bahkan setelah Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur dalam pertempuran di Marga pada tanggal 20 November 1946, Kapten Muditha tetap berjuang. Beliau tetap bergerilya dan menata perjuangan dari Buleleng, lalu berpindah ke Bangli untuk melawan tentara NICA. Segala sesuatunya sangat sulit dan berkali kali harus menyamar, mengirim utusan dan mengatur ulang strategy sesuai dengan perkembangan situasi dan musuh. Hingga akhirnya beliaupun gugur di Penglipuran pada tanggal 20 November 1947. Tepat setahun sepeninggal I Gusti Ngurah Rai. Beliau telah menjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria.

Merdeka Seratus Persen!” Adalah pekikan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu pertiwi disirami darah salah satu putra terbaiknya. Darah putranya yang mengikrarkan kemerdekaan 100% bagi bangsanya.

Tulisan diakhiri dengan penjabaran makna dari pekikan Kapten Muditha tentang Merdeka 100% itu yang diulas dengan sangat baik oleh sang penulis. Merdeka 100% mempunyai makna yang sangat mendalam. Bisa diartikan sebagai sebuah kemuliaan yang terbangun utuh dalam kesatuan hidup, baik secara skala maupun niskala.

Sungguh sebuah buku perjuangan yang membukakan hati. Sangat layak untuk kita baca agar kita bisa lebih memahami makna perjuangan pahlawan kita, lebih menghargai apa arti kemerdekaan yang diwariskannya kepada kita.

Merdeka 100%, itulah cita cita beliau sebagai bangsa. Merdeka penuh. Merdeka untuk semuanya dan dengan totalitas. Yang artinya setiap anak bangsa ini semuanya merdeka tanpa kecuali. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama, setara dan adil dengan yang lainnya, tanpa dikurangi haknya ataupun dilebihkan terlepas dari apapun suku, ras, agama dan golongannya.

Bukan berkebangsaan atas azas ego sendiri, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun kaumnya sendiri ketimbang bangsa dan negaranya. Merasa diri lebih berhak atas tanah air ini melebihi suku lain, melebihi agama lain, melebihi golongan politik lain, dan sebagainya, sementara yang lain dianggap nge-kost.

Saya rasa bukan model berkebangsaan seperti itu yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini.

Sekali lagi, ini sebuah buku yang sangat baik untuk dibaca dan dijadikan referensi sejarah. Semoga kita bisa lebih menghargai petjuangan mereka. Dan mampu lebih baik lagi memaknai keIndonesiaan kita.

Advertisements

Ceritaku Tentang Buku Lagi.

Standard

nimadesriandani - bookMasih dalam rangka membersihkan dan merapikan buku-buku di rak yang sudah penuh dan tumpang tindih.  Walaupun sudah banyak yang tua dan ada pula yang sobek di sana sini, dan walaupun barangkali suatu saat kelak buku-buku cetak akan digantikan dengan buku digital, saya rasa saya akan tetap mencintai buku cetak ini.  Bagaimanapun juga  saya memiliki banyak kenangan indah dengan buku.

Lho?! Kok terbalik?.

Jika musim ulangan, kami anak-anak selalu diharuskan belajar oleh Bapak.Tapi yang namanya anak kecil barangkali ya, tetap saja bandel dan malas kalau disuruh belajar.  Suatu malam Bapak dan Ibu saya lagi ngobrol di belakang. Saya dan adik-adik belajar di kamar. Ada yang duduk di kursi belajar, ada juga yang membaca sambil tiduran. Pokoknya belajarlah. Entah bagaimana asal mulanya, seseorang berinisiatif untuk bermain kartu remi. Kamipun bermain di tempat tidur di bawah selimut dengan buku pelajaran terlempar entah ke mana. Lupakanlah buku sejenak. Kami asyik bermain kartu. Tiba-tiba terdengar langkah kaki Bapak saya akan masuk ke kamar tempat kami belajar. Saya rasa pasti akan memeriksa apakah kami sedang belajar atau tidak. Maka tanpa diperintah saya dan adik-adik langsung mengambil buku masing-masing dan memasang wajah serius seolah-olah sedang membaca. Apes bagi kami, ternyata Si Ketut, adik saya yang nomer empat melakukan kesalahan fatal. Barangkali karena mengambil bukuya tergesa-gesa, ia membaca dalam posisi buku yang terbalik. Judul dibawah, sementara nomer halaman di atas. O o??!. Ketahuan deh!. Berikutnya bisa ditebak, Bapakpun marah-marah kepada kami semua dan memberi nasihat panjang lebar akan betapa pentingnya belajar dengan serius. Ha ha… geli juga mengingat masa itu.

Buku ini aku pinjam. 

Gaya pacaran remaja jaman dulu barangkali berbeda dengan gaya berpacaran remaja jaman sekarang ya. Saya tidak tahu kalau sekarang bagaimana. Tapi kalau dulu  buku merupakan benda penting sebagai penghubung remaja yang pacaran. Mengapa? Karena tidak berani bertemu, boro-boro mengungkapkan perasaan secara langsung, jadilah aktifitas utamanya adalah surat-suratan. Mengekspresikan perasaan, rindu dendam kepada pujaan hati dan sebagainya, semua lewat surat.  Dan surat itu diselipkan di buku dong, biar nggak ketahuan. Buku cetakan atau buku tulis, sama saja. Lalu dititipkan ke salah seorang sahabat agar disampaikan kepada si dia. Oh, betapa maha pentingnya buku pada jaman itu. Mirip lagunya Iwan Fals, “Buku ini aku pinjam, kan kutulis sajak indah, hanya untukmu seorang, tentang mimpi-mimpi  malam…” hua ha ha.. pokoknya romantis habis deh.. Ada yang ngalamin gaya pacaran macam begini juga nggak ya?

Jadi fungsi buku  di sini adalah sebagai mediator.

Maling Doyan Buku?

Ini cerita waktu saya baru saja menikah. Kalau ada yang bilang bahwa rumah tangganya mulai dari bawah. Nah bisa saya pastikan bahwa rumah tangga kami benar-benar mulai dari bawah dalam arti yang sesungguhnya. Ceritanya begini nih…

Saking terpesonanya saya akan pak suami  waktu itu (ehmm! Kok agak batuk ya..), saya nurut saja diajak nikah dan dibawa kabur dari Bali ke Jakarta. Sebagai taggung jawab atas kenekatan itu, kami harus hidup mandiri tanpa support orang tua. Gengsi dong kalau harus ngeluh dan meminta bantuan. Sapa suruh datang Jakarta. Mulailah kami mengontrak rumah kosong tanpa perabot. Karena tak punya tempat tidur, maka kami tidur di lantai beralaskan kasur gulung (nah ini benar-benar rumah tangga yang dimulai dari bawah alias dari lantai).

Apa yang terjadi dengan tidur di lantai? Entah tanah merupakan pengantar suara yang baik atau bukan, setiap suara langkah kaki orang terdengar lebih jelas. Suatu malam saya terbangun karena mendengar suara kaki orang mengendap-endap di dekat jendela rumah kontrakan kami. “Wah! Ada maling” pikir saya. Cepat-cepat saya membangunkan suami saya, “Bangun!. Bangun!Ada maling” kata saya berbisik ketakutan. Tetapi suami saya susah sekali dibangunin. Setelah saya guncang-guncangkan badannya lebih keras lagi, barulah ia bangun dan berkata dengan sangat malasnya “Biarin aja maling masuk. Apa yang mau dicuri dari kita. Wong kita tidak punya apa-apa.” katanya lalu melihat ke sekeliling. “Kecuali…buku!. Kita hanya punya buku.  Memangnya maling doyan buku?” tanya suami saya menunjuk buku lalu tidur lagi tidak perduli pada si Maling saking ngantuknya.Tinggallah saya sendirian. Melihat ke sekeliling. Benar juga kata suami saya. Kami tak punya apa-apa. Yang ada hanya buku. Dan saya belum pernah mendengar ada maling yang doyan mencuri buku.

Seketika saya sadar, ternyata kami memang miskin harta duniawi. Tidak punya harta apa-apa yang menarik pencuri untuk datang.  Tapi di sisi lain saya mendapatkan kesadaran yang baik, bahwa salah satu kekayaan yang tidak bisa dicuri dan tidak menarik untuk dicuri adalah pengetahuan. Seandainyapun bisa dicuri, pengetahuan adalah harta abadi yang tidak akan hilang ataupun berkurang walaupun dibagikan atau bahkan dicuri orang lain. Karena pengetahuan menempel di dalam diri kita.  Selain itu yang mencuri juga belum tentu tertarik untuk mencuri. Jangankan jika pengetahuan itu sudah menempel di dalam diri kita, bahkan jika masih dalam bentuk buku yang belum terbacapun maling kagak doyan.

Bunga-Bunga dan daun Kering.

Bunga KeringSalah satu kegunaan buku bagi saya adalah untuk mengeringkan bunga-bunga dan daun yang indah untuk prakarya, dijadikan prakarya atau kolase dengan goresan pensil/lukisan. Bisa dibuat untuk hiasan kartu ucapan dan sebagainya. Kebetulan kapan hari anak saya yang pengen tahu, penasaran bagaimana caranya membuat bunga kering. Nah salah satu cara yang bisa saya ajarkan adalah dengan cara mem-press-nya di antara halaman buku.  Sangat kebetulan saya punya specimen daun yang saya press sejak tahun  2000, masih awet hingga sekarang. Padahal sudah 15 tahun yang lalu. Padahal tanpa bahan pengawet.

Horeee! Ada yang ditunjukkan ke anak-anak dengan bangga.

Nah itulah sebagian kenangan saya akan buku. Saya yakin teman-teman yang lain juga pasti memiliki kenangan indah akan buku yang bisa diceritakan.

Ceritaku Tentang Buku.

Standard
nimadesriandani-books

nimadesriandani-books

Banyak yang nanya, ngapain aja lo selama liburan? Nggak pernah kasih kabar, nggak update status di grup, nggak juga nulis di blog. He he.. sebenarnya banyak juga sih yang saya lakukan. Liburan dari kantor, ya …berarti menjadi ibu rumah tangga 100% (walaupun sesekali tetap juga nengok-nengok e-mail kantor barangkali ada yang darurat dan harus di-feed back secepatnya). Saya ada di rumah. Banyak kerjaan rumah tentu saja. Mulai dari kerjaan dapur, masakin anak-anak & suami, ngasih makan kucing, bongkar pasang tanaman, hingga berberes-beres. Kalau diceritain satu per satu pasti banyak deh.

Salah satu yang saya lakukan adalah membongkar dan membersihkan rak buku yang ternyata memakan waktu nyaris seharian penuh. Walaupun bukan kutu buku amat, seingat saya, saya  ini memang penyuka buku sejak kecil.  Sejak jaman majalah si Kuncung beredar (ayoo..masih ada yang inget nggak jaman itu?), saya sudah doyan membaca.

Sejak jaman dulu setiap kali  punya sisa uang jajan, selalu saya belikan buku. Sangat jarang uang jajan saya gunakan untuk membeli lipstick atau pakaian.  Buat saya, punya buku lebih penting daripada punya lipstick atau pakaian bagus. Karena buat saya buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Dan saya tertarik kepada orang-orang yang memiliki ‘software’ yang baik. Oleh karenanya saya selalu merasa perlu mengupgrade software saya sendiri agar tak ketinggalan amat.

Kesenangan akan buku itu terus berlanjut hingga saya tinggal di Jakarta. Saya hanya membawa sedikit sekali buku-buku saya dari Bali. Tapi di Jakarta saya mulai lagi membeli buku bacaan yang menarik hati saya satu per satu. Tanpa sadar eh…jumlahnya lumayan banyak juga ya.  Cuma sayangnya buku saya juga banyak tercecer di sana -sini. Ada yang minjam terus nggak dikembalikan. Ada juga yang hilang saat pindah lokasi, beres-beres, bersih-bersih dan sebagainya. Atau saya lupa ketinggalan entah di mana.

Walaupun dengan kondisi yang sudah banyak hilang itu, saat ini  setidaknya di rak saya masih tersimpan sekitar dua ribuan buku. Barangkali tidak seberapa banyak dibanding koleksi teman-teman pencinta buku lainnya. Tapi jika diturunkan dari raknya lumayan juga memenuhi lantai rumah saya yang sempit dan lumayan membuat sulit melangkah lewat.

Karena saya menyukai banyak hal, buku yang saya koleksi juga jenisnya beragam. Ada buku tentang masakan sekitar 90 buah, buku tentang pemasaran sekitar 50-an buah, buku tentang bisnis management dan leadership sekitar 70-an buah, buku tentang pengembangan  diri sekitar 40 -an buah.

Lalu ada cukup banyak buku tentang farmasi dan obat-obatan, kedokteran, ensiklopedia, kedokteran hewan, buku-buku tentang binatang mulai dari buku tentang burung-burung, buku tentang ikan hias, tentang kambing, tentang sapi, tentang ayam, bebek, kambing, kupu-kupu, kuda, anjing, ular,binatang liar dan sebagainya berbagai binatang lainnya.

Lalu ada juga buku tentang tanaman hias, berbagai jenis tanaman bunga, herbal dan khasiatnya, buku-buku berbagai agama dan spiritual. Buku-buku tentang kewanitaan, buku menjahit, merenda, menyulam, kerja tangan wanita dan sebagainya. Lalu ada juga buku-buku perbankan, ekonomi, accounting dan buku-buku tentang hukum,  bahkan hingga kebuku-buku komik, sastra, novel dan sebagainya.

Jaman sekarang saat di mana semua informasi bisa didapatkan secara on-line, apakah memiliki buku masih penting?. Agak terasa galau juga memikirkan jawaban pertanyaan ini.

Saya pikir ke depannya mungkin memang akan semakin banyak orang mencari dan mendapatkan informasi lewat internet. Membeli buku bisa on-line. Membaca buku bisa lewat e-book. Ingin tau tentang apapun tinggal search di Google atau lihat di Wikipedia.  Sangat menakjubkan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan ilmu sedemikian banyak dengan gratis jika kita rajin mencari informasi di dunia Digital. Jadi kembali lagi, apakah buku cetak masih perlu ke depannya?

Agak sulit menjawabnya. Saya sendiri secara pribadi merasa bahwa buku cetak tetap masih perlu, walaupun  takbisa dipungkiri saya juga mendapatkan banyak sekali infornasi dari dunia digital. Setidaknya saya merasa masih tetap merasa perlu menyimpannya.  Ada banyak alasan.

Pertama buku-buku cetak jaman dulu belum tentu semuanya sudah di ‘on-line’kan. Maksud saya walaupun sudah banyak informasi yang bisa kita dapat di internet, tetapi ada juga banyak pengetahuan yang hanya bisa kita temukan di buku cetak tertentu dan belum ada di internet.

Kedua, membaca buku cetak itu sensasinya beda lho!. Kita bisa meraba covernya, membuka halaman demi halamannya,  terus membacanya sambil berbaring hingga mata mengantuk dan kita tertidur pulas. Jadilah itu buku sebagai bantal pengganti. Nah..sensasi seperti itu tidak kita dapatkan jika kita baca buku di internet bukan?Masak mau tidur di atas laptop? he he..

Ketiga, buku cetak juga bisa dipajang.  Terutama bagi ibu rumah tangga macam saya yang nggak punya barang-barang antik atau benda mewah buat dipajang di rumah, buku -buku cetak bisa juga dijadikan penghias ruangan. Nggak apa-apa nggak kelihatan kaya. Karena memang nggak kaya juga sih. Tapi oke juga lah kalau kelihatan agak banyak membaca dikit. Nah..kalau e-book gimana dong mau majangnya? Dicetak dulu?

Keempat,  buat kasih kado. Nah.. terkadang buku cetak juga merupakan pilihan yang bagus buat ngasih kado ke keponakan atau ke sahabat tersayang. Saya banyak juga menerima buku pemberian dari sahabat-sahabat saya. Sebaliknya saya pernah juga memberikan hadiah buku bagi beberapa orang-orang yang saya sayangi.

Kelima, jika punya tempat yang baik, ada gunanya juga membuka perpustakaan kecil buat orang-orang yang kurang mampu membeli buku atau mengakses internet. Membuka keran ilmu pengetahuan bagi orang lain tentu perbuatan yang baik bukan? Ilmu akan mengalir kepada lebih banyak orang. Ilmu yang mengalir akan membuat dunia yang gelap gulita menjadi lebih terang benderang. Oh, itu cita-citaku.

Saya yakin masih banyak lagi kegunaan buku cetak yang lain. Barangkali ada teman yang mau menambahkan?

 

 

Menyimak “Senggeger”, Menjenguk Dunia Imaginasi DG Kumarsana.

Standard

???????????????????????????????Ketika sibuk mencari buku kecil tentang Management di rak buku, saya  melihat sebuah buku tipis dengan cover merah hitam terhempas melintang di salah satu kotak rak itu. Judulnya “Senggeger” – sebuah kumpulan cerpen karya DG Kumarsana. O ya, sudah lama juga saya tidak melihat buku itu lagi.  Maka sayapun meraihnya dan berpikir, jika kesibukan pekerjaan saya ini agak berkurang saya akan membacanya kembali.

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi pada bulan Desember 2010  ini  tediri atas 15 buah cerpen yang tentunya tidak ada hubungannya satu sama lain. Namun jika kita membaca semuanya, kita bisa menangkap beberapa benang merah yang cukup jelas tentang apa yang menjadi perhatian penulisnya. Yakni seputar kehidupan sehari-hari masyarakat, tentang mitos, tentang wanita (kekasih, ibu) dan sedikit kritik akan kehidupan lembaga pemerintah  yang  disampaikannya dengan cara yang jenaka.

Sangat menarik untuk dibaca, dan  saya menyukainya. Setiap cerpen yang ada memiliki alasannya masing-masing untuk saya sukai.  Contohnya adalah cerpen ke-empat belas yang berjudul “Kambing”.  Sebuah flashback masa silam tentang seseorang yang demi usahanya memajukan pendidikan di desanya memutar otak menyikapi sikap korup yang dilakukan oleh pejabat-pejabat terkait. Alih-alih menghentikan upaya pejabat itu dalam memerasnya dengan meminta disediakan 2 ekor kambing tiap kali proposalnya disetujui, ia mengikuti saja apa permintaan sang pejabat. Lalu mendokumentasikan setiap kambing itu dalam album-albumnya. Pada akhir masa tugasnya, tak terbayang jumlah kambing yang menghiasi album itu. Albumnya ternyata penuh dengan foto kambing!. Ha ha . Kocak juga. Saya tersenyum geli membaca tulisan jenaka ini.

DG Kumarsana juga banyak berkisah tentang wanita. Wanita yang menduduki posisi sebagai kekasih, pacar, istri, teman dengan beragam tingkah lakunya yang sangat perempuan. Bagaimana tingkah laku wanita mempengaruhi pikiran pria, tergambar jelas dalam  cerpen “Istriku dan Senggeger”, “Wah”, “Suatu Ketika, Ayu”, “Ibu”, “Ibu Kapan Pulang?” ataupun pada cerpen “Rumah”.

Pada cepen “Rumah” misalnya , DG Kumarsana menulis bagaimana lamunan seorang pria bisa berjalan sedemikian jauh, tentang wanita pasanganya yang menuntut dibelikan rumah, sementara ia merasa galau dengan penghasilannya yang hanya pas-pasan untuk mengisi perut saja. Di sini saya merasakan sebuah kesenjangan yang tercipta akibat dua hal yang kurang menguntungkan: lelaki dengan penghasilan pas-pasan  versus wanita yang menuntut kesejahteraan.  Tapi apakah kebanyakan wanita memang seperti itu?Hmm..mungkin saja. Setidaknya itu adalah citra yang umum melekat pada kaum perempuan.

Dalam cerpen “Istriku Dan Senggeger”, DG Kumarsana menceritakan kekuatan magis yang disebut dengan Senggeger yang telah merenggut cinta istrinya tanpa belas kasihan dan membuatnya ketakutan tak berdaya. Saya membaca apa yang ada dalam pikiran pria ketika mendapati kenyataan bahwa istrinya berselingkuh dengan pria lain. Kegalauan, kekhawatiran dan rasa memiliki yang tinggi sebagai seorang lelaki dan akhirya lemah tak berdaya  oleh kekuatan lain yang tak mampu dikuasainya. Secara kreatif penulis memanfaatkan mitos tentang ilmu guna-guna  yang dilatar belakangi kepercayaan setempat dalam karya sastranya. Hal yang serupa juga kita lihat pada cerpen “Ayah” dan “Boneka Berdarah”. Terasa agak magis dan mistis. Walaupun sebagian tentu mengeryitkan dahi  membaca tulisan ini, namun  mitos-mitos seperti ini mungkin saja memang masih banyak beredar di masyarakat.

Cerita yang menarik lagi adalah tentang kematian. Saya melihat bagaimana DG Kumarsana  mengemasnya dengan sangat imajinatif. Kita jadi ikut membayangkan perjalanan sang mati  dalam menemukan kenyataan dirinya dalam kematian. Dan terus terang pada akhir cerita saya merasa agak berdegup juga membaca cerita tentang  Mati ini.  semua yang saya ceritakan di atas tentunya belum semua. Masih banyak lagi tulisan-tulisan DG Kumarsana lain yang tak kalah menariknya untuk dibaca.

Secara umum pendapat saya tentang tulisan-tulisan di buku ini adalah :Kreatif dan Imaginatif! Disinilah letak kekuatan DG Kumarsana sebagai seorang sastrawan. Ia memiliki kemampuan mengangkat hal-hal yang absurd dan kurang jelas dimasyarakat menjadi sesuatu yang lebih nampak.

Membaca karya tulis seseorang, membuat saya membayangkan diri memasuki dunia imajinasi penulisnya.  Dunia pikir yang yang teratur, tertata rapi, berantakan atau tunggang langgang. Dunia damai yang teduh, atau dunia yang dinamis dan berapi-api. Juga membuat kita membayangkan imajinasi liar penulisnya.  Sejauh mana imajinasi telah ter’stretch’ ke ujung semesta.Sejauh mana impian membawanya melambung ke angkasa . Juga sejauh mana sang penulis memberika segala kebermungkinan untuk tumbuh equal dalam pemikirannya dan atau sejenis campuran antara cara berpikir seseorang plus nilai-nilai yang dianut dalam hidupya. Demikian juga ketika saya membaca buku Senggeger ini. Saya merasa seakan-akan  saya ikut memasuki alam pikir DG Kumarsana yang sangat imajinatif. Sangat mungkin terjadi karena kepiawaian Kumarsana dalam pemilihan dan pengolahan kata-kata menjadi sebuah fiksi yang kaya fenomena termasuk realitas kehidupan sosial – seperti yang dikomentari oleh I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, seorang Penyair yang tinggal di Tabanan, Bali.

Lalu siapakah DG Kumarsana? Pada bagian ulasan tentang sang pengarang, saya melihat tertulis di sana bahwa Dewa Gede Kumarsana adalah seorang  penulis yang lahir di Denpasar  pada 13 April 1965 dan kini berdomisili di Labuanapi, Lombok Barat. Tidak mengherankan karya-karya sastranya banyak mengambil latar belakang budaya masayarakat Lombok dengan sedikit sentuhan akar budaya Bali sebagai tanah kelahiran sang sastrawan.  Setahu saya DG Kumarsana memang  seorang penulis yang cukup produktif.  Cerpen-cerpennya banyak dimuat di harian BaliPost, Nusa Tenggara, Karya Bakti, Majalah Ceria Remaja dan majalah bulanan Gema Karya.  Selain cerpen, DG Kumarsana juga menulis sajak, esai,prosa dan seputar catatan budaya. Pernah bergabung di Sanggar Persada Bali,Sanggar Minum Kopi bersama dr  Sthiraprana Duarsa. Juga pernah ikut meramaikan lalulitas sastra bersama Dige Amerta, Boping Suryadi, Reina Caesilia, K Landras, dll – juga mengisi lintas Gradag Grudug Bali Post Mingguan yang digerakkan oleh penyair Umbu Landu Paranggi (Motivator Presiden Malioboro). Ah… saya kenal baik dengan beberapa kawan yang namanya disebutkan di buku ini.

Saya sendiri mengenal Dewa Kumarsana dan keluarganya sebagai tetangga pada tahun  delapan puluhan saat saya nge-kos di daerah Gang Keris tak jauh dari kampus Kedokteran Hewan Udayana di Sudirman, Denpasar. Seingat saya pada tahun-tahun itu Dewa Kumarsana  bekerja di apotik Kimia Farma. Di mata saya ia adalah seorang pekerja keras yang tak segan-segan berangkat pagi dan pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaannya,  saat saya dan orang-orang lain  seumurnya  masih bermaja-manja, hanya tahunya kuliah dan  meminta uang pada orang tua saja. Semetara ia sendiri sudah bisa mandiri di umur itu.

Keputusan Penting Dalam Setiap Bab Kehidupan.

Standard

Pelajaran dari sebuah struktur buku.

Beberapa belas tahun yang  lalu, saya membaca sebuah buku petualangan remaja yang sangat menarik perhatian saya. Bukan karena isinya. Tapi karena buku itu memiliki struktur  tulisan yang sangat tidak biasa. Umumnya para penulis buku menuntun pembaca dari halaman  ke halaman melalui cerita yang runut dengan hanya satu pilihan akhir. Entah dengan happy ending ataupun tragis. Terkadang, kita juga menemukan cerita dengan beberapa flash-back. Namun pada akhirnya pembaca akan memahami bahwa kisah itupun berjalan secara linear dengan satu hasil akhir: bahagia atau menyedihkan.

Namun buku lusuh yang saya dapatkan dari tukang loak di pinggir  jalan ini berbeda. Penulis memberikan pembaca beberapa alternative untuk berakhir.  Pada bab tertentu, pembaca tiba-tiba akan dihadapkan pada 2 pilihan yang harus diambil.  A atau B. Misalnya pilihan petualangannya adalah naik pesawat luar angkasa (A) atau berjalan kaki (B). Jika pembaca memilih naik pesawat (A),  maka pembaca akan diminta untuk melanjutkan membaca di halaman tertentu dan cerita akan berlanjut dengan petualangan  dengan segala peluang dan resiko yang dihadapi setelah berada dalam pesawat itu. Misalnya bertemu asteroid , debu angkasa dan sebagainya. Kalau kita memilih melakukan perjalanan darat di planet itu (B), maka kita akan diminta penulis untuk melanjutkan membaca di halaman tertentu yang lain lagi. Dan tentu saja pilihan ini tidak akan membuat kita bertemu dengan asteroid ataupun mahluk angkasa luar. Namun mungkin dengan segala peluang ataupun masalah atau bahkan penjahat asli di planet itu dan seterusnya.

Setiap pilihan awal itupun akan memiliki cabang-cabang pilihan tambahan lagi di bab bab berikutnya. Misalnya nanti akan ada A1, A2 atau A3.  Kita harus memilih salah satu diantaranya. Jika kita memilih cabang A1, maka nanti akan ada lagi cabang pilihan  lagi misalnya A1a, A1b, A1c dan seterusnya dan seterusnya lagi, hingga petualangan kita benar-benar berakhir. Mirip memilih pohon. Setiap pohon memiliki batang. Setiap batang memiliki dahan yang harus kita pilih. Setiap dahan memiliki ranting. Setiap ranting memiliki ranting yang lebih kecil lagi dan seterusnya. Jadi pada akhirnya, semua pilihan yang kita lakukan akan berujung dengan ending yang berbeda beda.  Mungkin pada akhir cerita, kita membaca bahwa kita memenangkan pertarungan dengan gemilang, mungkin juga pesawat kita hancur berkeping-keping, mungkin juga kita mengalami kekalahan dan sebagainya. Dan berbagai macam ending lain lagi sesuai dengan pilihan strategi yang kita putuskan.

Sebenarnya saya tidak ingat persis detail isi cerita di buku itu. Judulnya pun saya lupa. Kalau tidak salah “Petualangan Di Planet Altair”. Atau sejenis begitulah.  Yang jelas ada kata-kata Planet Altair-nya. Karena buku fiksi itu memang  mengambil tempat di planet-planet di tata surya Altair (Bintang Alpha Aquilae).  Sayang buku ini dipinjam seseorang dan tak pernah dikembalikan lagi ke saya. Mungkin karena sudah terlalu busuk. Tapi  tidak apalah. Walaupun tak ingat detailnya, tapi saya toh justru merasa telah mendapatkan intisari pelajarannya. Bahwa,  ‘Ending dari setiap petualangan hidup kita sebenarnya adalah hasil dari rangkaian pengambilan keputusan penting dalam setiap bab kehidupan kita’. Jadi, choose your own adventure!!! Intisari dari struktur buku inilah yang membuat saya tertarik dan tetap mengingatnya hingga sekarang. Angkat topi bagi penulisnya.

Sekarang, walaupun saya tidak tahu  kapan kehidupan saya akan berakhir, namun bila saya flash-back hidup saya sejak lahir hingga hari ini, memang sangat serupa dengan struktur yang  ditunjukkan dalam buku itu.

Kondisi dan posisi saya saat ini adalah hasil dari keputusan yang telah saya ambil pada setiap pilihan hidup yang ada di setiap bab kehidupan. Terus terang saya tak pernah tahu akan begini jadinya. Namun faktanya saat ini saya ada di sini, dalam kondisi kesehatan, keuangan, relationship dan sabagainya seperti saat ini. Tentu saja keputusan itu saya ambil dengan cara yang beragam. Ada  keputusan dengan ikhlas, ada pula keputusan yang terpaksa. Ada keputusan yang besar ada pula yang kecil. Ada keputusan  menyenangkan ada yang tidak menyenangkan. Semuanya!. Mulai soal pilhan makanan, pilhan pakaian, pilihan mempergunakan uang, pilhan mencari uang, pilihan akan pasangan hidup, pilihan pendidikan yang diambil, pilihan pekerjaan, pilihan dalam berteman,  pilhan cara hidup dan sebagainya.

Jika kita paham ini semua, walaupun banyak hal tak bisa kita pilih dalam hidup, namun sebenarnya hidup kita memang banyak sekali mengandung pilihan. Dan banyak dari pilihan hidup itu  sebenarnya bisa kita pikirkan dengan baik dan matang, agar mengantarkan kita mendarat pada halaman kehidupan yang menyenangkan. Walaupun faktor ‘di luar kekuasaan kita  sebagai manusia’ juga cukup berperanan. Walaupun ada juga diantaranya yang memang tidak memberikan hal yang sesuai dengan harapan kita. Apa boleh buat. Jika kita harus memilih dari semua alternative yang buruk, maka pilihlah yang terbaik diantara yang buruk. Setidaknya kita  telah berusaha untuk melakukan yang terbaik.

Jadi, selamat mengambil keputusan penting !.