Tag Archives: Bulan

Gerhana, Saat Sang Kala Rahu Nadah Bulan.

Standard

sang kala rauSeorang teman saya mempost di Group BB “Lihat segera ke langit! Ada Kala Rau nadah bulan” katanya (Bahasa Bali: nadah bulan = memakan bulan). Maksudnya adalah mengajak kami untuk ramai-ramai melihat langit menonton Gerhana Bulan.Walaupun tidak bisa segera melihat ke langit, tak urung saya tersenyum juga membaca ajakannya itu. Kala Rau! Alias Kala Rahu.  Sudah lama saya tidak mendengar nama asura/raksasa itu diucapkan.

Kala Rahu dalam mitos yang berkembang di kalangan Masyarakat Bali adalah nama seorang raksasa yang kepalanya putus dipenggal oleh Dewa Wisnu gara-gara ketahuan mencuri dan meminum air suci  tirta amertha milik para Dewa yang diyakini dapat memberinya umur panjang. Karena ia sudah sempat menenggak air suci itu hingga ke kerongkongannya, maka walaupun kepalanya putus namun tetap bisa hidup dan melayang-layang di angkasa. Konon ia sangat dendam kepada Dewi Ratih, sang dewi bulan yang telah melaporkan perbuatannya itu kepada Dewa Wisnu. Itulah sebabnya pada saat tertentu, ia muncul dan memangsa Dewi Ratih dengan lahapnya. Namun karena lehernya putus, setiap kali ia berhasil menelan Dewi Ratih, maka Dewi Ratih keluar lagi dari kerongkongannya yang putus itu. Ha ha.. cocok juga rasanya kalau dipikir-pikir. Bulan terang, lalu  menjadi gelap sedikit demi sedikit sampai bulan habis dan gelap, lalu setelah itu bulan muncul lagi sedikit demi sedikit hingga kembali penuh. Jaman dulu orang-orang membunyikan kentongan untuk mengusir sang Kala Rahu. Agar sang Kala Rahu cepat-cepat pergi dan Dewi Ratih bisa selamat kembali (padahal tanpa dipukulin kentonganpun, dewi Ratih tetap akan segera muncul kembali ya…).

Namun tentunya semua tahu kalau cerita di atas hanyalah mitos belaka ya. Semua tahu kalau gerhana bulan terjadi jika sebagian atau seluruh permukaan bulan tertutup oleh bayangan bumi. Tidak ada urusannya dengan Sang Kala Rahu.  Eiits… tapi tunggu dulu!. Jika dalam bahasa Bali, Kala itu berarti Waktu, setelah saya pikir-pikir, sesungguhnya yang disebut dengan Rahu itu adalah Bayangan Bumi. Sehingga jika kita terjemahkan, sebenarnya Kala Rahu adalah saat Bayangan Bumi menutupi sesuatu . Dan dalam konteks ini, sesuatu itu adalah Bulan. Jadi bulan berada di bawah bayang-bayang Bumi. Betul sekali!. Jadi istilah Kala Rahu itu memang tidak ada salahnya. Memang benar saat Sang Kala Rahu memakan bulan adalah kiasan saat dimana permukaan Bulan berada dalam bayangan Bumi.

Memikirkan itu, saya membayangkan jika seandainya bulan itu adalah manusia, berada di bawah bayang-bayang seseorang tentu tidaklah menyenangkan. Ketika kita hidup dalam bayangan seseorang yang lebih hebat dan lebih dalam banyak hal, kita cenderung akan merasa minder dan kurang berarti. Bayangan besar membuat kita menjadi pemalu, takut dan mengkeret. Sehingga tidak heran orang lainpun akan melihat kita semakin kecil. Bayang-bayang membuat jiwa kita sulit tumbuh karena tidak mendapatkan cahaya yang layak untuk pertumbuhan jiwa kita.  Jadi walaupun terkadang ada untungnya juga berlindung di balik bayangan seseorang,  sesungguhnya hidup di bawah  bayang-bayang seseorang itu lebih banyak ruginya.

Barangkali kita perlu meniru bulan. Jangan mau berlama-lama berada di bawah bayangan orang lain. Cepat-cepatlah keluar dan tunjukkan cahaya kita yang memang cemerlang. Lihatlah gerhana bulan!  Hanya sekian menit total berada dalam kegelapan bayangan, lalu muncul dan meraih kembali kecemerlangannya.

Bulan memberikan kita contoh yang baik, agar jangan berlama-lama berada di bawah bayangan orang lain.

 

 

Welcoming October 2012 – Purnama Ke Empat.

Standard

Kartika, penedenging sari…

Semalam saya memotret bulan dan berhasil mendapatkan citranya dengan cukup baik. Walaupun tentu saja tidak sebaik yang bisa didapatkan dengan menggunakan lensa-lensa yang super canggih. Namun paling tidak, dengan segala upaya saya masih bisa melihat posisi beberapa titik penting dalam landscape permukaan Bulan seperti kawah Tycho, kawah Kepler dan kawah Copernicus. Demikian juga Mare Serenitatis, Mare Tranquilitatis ataupun Mare Fecunditatis. Semuanya terlihat baik dan cukup jelas, mengingat bahwa semalam adalah bulan penuh. Setengah permukaan bulan menghadap sepenuhnya ke permukaan bumi. Bulan Purnama ke empat atau disebut juga Purnama Kapat dalam perhitungan kalender Bali. Read the rest of this entry