Tag Archives: Burung

Burung Dara Yang Terluka…

Standard

 

 

 

Saya baru saja pulang dari luar. Hujan masih agak gerimis walaupun sudah mereda.Suami saya memberi tahu jika ia mendengar suara gedubrak gedubruk di belakang.Mungkin ada seekor burung yang terdampar. Saya pun ke belakang. Melihat dua ekor kucing saya sedang bermain-main petak umpet dengan sesuatu. Oh..benar saja. Seekor burung tampak bersembunyi dan terjepit diantara tumpukan barang.  Waduuuh!. Besar juga ukurannya.  Seekor burung dara!!. Saya mengangkat burung itu sambil mengusir kedua kucing nakal itu agar jangan lagi mengganggu.

Burung itu basah kuyup oleh hujan dan darah. Banyak luka di sekujur tubuhnya.Rupanya dikoyak-koyak kucing. Di pangkal ekornya, di punggungnya. di bawah sayap kirinya. Di sayap kanannya. Berdarah semua.Walahhh…..banyak banget ya.  Saya sangat sedih melihat keadaannya. Beberapa bulu ekor dan sayapnya  serta bulu-bulu halus warna putih keabuan juga tampak rontok berceceran di sana-sini. Tubuhnya gemetar. Nafas dan detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Tapi suhu tubuhnya terasa masih hangat.Dan yang menarik adalah sorot matanya yang masih tetap sangat tajam. Tidak kuyu sedikitpun. Menyiratkan semangat untuk hidup yang luar biasa tinggi. Walaupun lukanya banyak. Saya rasa burung ini masih akan bisa survive jika dibantu.

Tak habis pikir saya, bagaimana burung sebesar ini  bisa jatuh ke halaman rumah saya. Apakah jatuh dulu baru ditangkap kucing? Atau memang tertangkap kucing saat hinggap di atap rumah lalu dimainkan dan dibawa ke halaman oleh kucing? Kejadian seperti ini (burung jatuh, kelelawar jatuh, biawak luka, kucing liar luka masuk ke halaman rumah) sangat sering terjadi. Sangat sulit menjawabnya. Yang jelas mahluk -mahluk hidup ini membutuhkan pertolongan. Biasanya saya obati lukanya dan pelihara hingga pulih,  lalu saya lepas kembali ke alam liar.

Saya berpikir hal yang sama untuk burung ini. Tentu saja akan sangat berbahaya jika burung ini saya lepas kembali ke alam dalam keadaan terluka seperti ini. Kucing kucing yang nakal sudah siap mengintai dengan semangat untuk menjadikannya bahan mainan sebelum pada akhirnya dimangsa. Saya lalu membubuhkan betadine yang tersedia di kotak obat pada bagian-bagian tubuhnya yang terluka. Mudah-mudahan tidak berlanjut dengan infeksi. Burung ini membutuhkan waktu untuk pemulihan yang baik. Jadi butuh tempat berlindung yang aman dan jauh dari jangkauan kucing. Akhirnya saya memutuskan untuk menempatkannya di dalam sangkar yang selama ini kosong. Saya menyediakan air putih untuk minumannya dan sedikit beras dan biji-bijian untuk cadangan makanannya. Siapa tahu dia merasa kelaparan.

Untuk beberapa saat saya menemaninya di belakang. Sambil mengamati apa yang dilakukan oleh kucing-kucing nakal itu. Keduanya berusaha untuk mendekati sangkar yang saya gantung tinggi.  Kucing itu berusaha untuk menjangkau dengan naik ke ember cucian yang besar, yang tadinya bertumbuk di atas kandang kucing. Lalu ia lalu meloncat tinggi dari sana. Gedubraaakkkkkk!!. Dia jatuh terguling bersama dengan ember itu. Saya tertawa geli melihat kelakuannya.

Kucing yang satunya pun ingin ikut mencoba juga. Saya memindahkan ember itu ke tempat yang lebih rendah dan tidak menumpuknya lagi di atas kandang kucing. Nah… sekarang tidak ada lagi benda-benda tinggi di area sekitar situ. Kedua kucing itu akhirnya menjauh dan bermain di dekat kulkas.

Sekarang saya bisa meninggalkan burung dara itu sendirian dengan tenang. Berharap besok pagi kesehatannya mulai membaik. Tubuhnya menguat dan bisa mengatasi keadaan fisiknya. Sehingga jika ia bisa sembuh dalam beberapa hari ke depan, ia sudah siap kembali  menjalani kehidupannya di alam bebas.

Pagi ini saya bangun dan melihat burung itu tetap semangat di sangkarnya. Semoga cepat pulih kembali.

Hidup menawarkan berbagai hal kepada kita. Ada yang bisa kita pilih, dan ada yang mau tak mau harus kita jalani. Jika hidup menawarkan luka, pilihan kita hanya bertahan dan sembuh atau menyerah dan mati.  Tetap semangat menjalaninya, membuat  penyembuhan niscaya akan lebih cepat terujadi.

 

 

Advertisements

Dunia Pinggir Kali: Burung Peking Di Awal Musim Penghujan.

Standard

Wildlife nextdoor.

Musim kemarau yang panjang tahun ini akhirnya berakhir. Hujan mulai turun menghapuskan panas terik yang mendera selama beberapa bulan sebelumnya.  Saat itu hampir semua tanaman terganggu dan nyaris layu jika tidak rajin-rajin menyiraminya. Tetapi sekarang rasanya lebih lega. Sesekali saya menengok ke kali di belakang rumah. Untuk melihat kehidupan burung-burung liar di sana selama pergantian musim. Apakah mereka masih ada di sana?

Tetangga sebelah sedang membetulkan rumahnya. Banyak puing sisa pengerjaan bangunan berserakan. Selain itu bunyi ketak-ketok tukang yang bekerja saya rasa juga ikut mengganggu kehidupan liar di tepi kali.  Tapi rupanya kekhawatiran saya tidak terlalu beralasan. Memang ada jenis burung yang tak terlihat sepanjang November ini – seperti misalnya Burung Kipasan (Rhipidura javanica). Saya tidak melihat dan tidak mendengar suaranya sama sekali.  Demikian juga Burung Caladi Tilik (Dendrocopos moluccensis). Tetapi masih cukup banyak yang exist dan tertangkap oleh kamera saya. Salah satunya adalah Burung Peking (Lonchura punctulata).

Burung Peking 1

Kali ini rumput benggala tak banyak tumbuh di pinggir kali.  Syukurnya masih ada serumpun yang sedang berbunga dan berbiji.  Cukup untuk mengundang kedatangan Burung Peking yang giat bekerja di pagi hari.

Alangkah sibuknya burung ini  memanen biji-biji rumput benggala dan bermain-main di batangnya. Kepala dan lehernya coklat tua, dengan punggung juga berwarna coklat namun masih lebih terang. Perutnya berwarna putih bermotif mirip sisik. Sebenarnya burung kecilini sangat cantik. Gerak geriknya juga sangat menyenangkan untuk ditonton.

Burung Peking biasanya lebih senang bergerombol. Mencari makan tidak sendirian, tapi beramai-ramai dengan kelompoknya. Tapi kali ini saya melihatnya hanya bermain-main sendiri dengan anteng. Sayang jika tidak diabadikan.

 

Yogyakarta: Burung-Burung Liar Di Alun-Alun Utara.

Standard

Tekukur 5Minggu yang lalu saya ada di Yogyakarta dan kembali ke Jakarta pada hari Sabtu pukul 7 malam. Hari itu kebetulan urusan saya sudah selesai sekitar jam 2.30 siang.  Agak kelamaan kalau menunggu di airport. Jadi saya dan teman-teman ingin mengisi waktu dengan melihat-lihat sudut kota Yogyakarta.  Setelah berembug, kami memutuskan untuk melihat Keraton. Tapi sayangnya ketika kami tiba, Keraton sudah tutup. Yaaah…kecewa deh penonton.

Empat orang teman saya memutuskan untuk melihat-lihat batik produksi rumahan yang dipromosikan tukang becak. Saya sendiri lebih berminat untuk mengamati burung -burung liar di sekitar Alun-Alun Utara. “Melihat burung liar di lapangan?” Seorang teman saya kaget, bagaimana saya yakin di sana ada banyak burung yang bisa dipotret?. Saya tertawa. Ya..barangkali karena saya memang tertarik pada satwa liar (terutama burung-burung liar), jadi ketika kendaraan kami melewati Alun-Alun itu, dari kejauhan mata saya sudah menangkap ada beberapa ekor burung perkutut hinggap di lapangan berpasir itu.  Sementara bagi yang kurang berminat, tentu saja keberadaan urung-burung liar itu akan luput dari pandangannya. Karena mata kita cenderung mencari apa yang ingin kita lihat.

Satu orang teman saya yang lain, akhirnya memutuskan untuk menemani saya berjalan-jalan di sekitar Alun-Alun. jadilah saya berdua dengan teman saya itu memasuki lapangan yang tanahnya kering dan tandus dengan dua pohon beringin terpagkas itu. Selain dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan, ada beberapa pohon beringin lain juga yang mengelilingi lapangan itu. Memberikan akomodasi yang cukup bagi para burung. Tak heran saya mendengar kicauan burung yang riuh serta belasan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

1/. Burung Tekukur.

Saat memasuki lapangan, saya melihat ada belasan ekor burung tekukur sedang sibuk berjalan-jalan atau mencari makan.  Kebanyakan dari mereka berpasangan. Mengais-ngais dan mencari sesuatu di tanah dan rerumputan yang kering. Saya hanya duduk nongkrong mengamati tingkah lakunya. Burung Tekukur alias Kukur, alias Spotted Dove (Streptopelia chinensis) sebenarnya merupakan salah satu burung yang banyak disangkarkan orang. Melihatnya terbang bebas di alam membuat hati saya terasa sangat bahagia.Karena kelihatannya burung-burung itu juga sangat berbahagia. Sebenarnya mereka bisa hidup mandiri. Mereka bisa mencari makanannya sendiri- berupa biji-biji rumput maupun biji pepohonan tanpa perlu bantuan kita, manusia untuk membelikannya makanan setiap hari.

Burung-burung ini tampak santai. Ia membiarkan saya untuk tetap berjongkok mengamati tingkah lakunya dari jarak sekitar  4-5 meter. Hanya ketika saya bergerak terlalu dekat, merekapun terbang.

Sangat mudah mengenali burung ini, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Secara umum berwarna kelabu semu coklat kemerahan dengan sayap coklat berbercak-bercak. Leher bagian belakangnya berkalung hitam putih. Kepalanya kelabu kebiruan.Paruhnya berwarna kelabu. Kakinya berwarna pink.  Melihat kalungnya, tentu kita tidak akan tertukar dengan burung jenis lain.

Suaranya sangat merdu dan penuh kedamaian bagai siapa saja yang mendengarnya “ Tekkkukuurrrrr….. tekkukuurrrrrr…“.

Melihat banyaknya yang terbang berkelompok maupun berpasangan dari satu pohon beringin ke beringin yang lainnya, saya pikir jumlah populasi burung Tekukur di area ini mungkin puluhan mendekati ratusan.

2/. Burung Perkutut.

Burung ke dua yang jumlahnya cukup banyak juga di sekitar alun-alun ini adalah Burung Perkutut. Sama dengan Burung Tekukur, Burung Perkutut  juga merupakan salah satu burung yang sangat digemari untuk dipelihara. Suaranya yng merdu “Kwarrrr ketengkung…Kwarrr ketengkung…” membuatnya diburu orang. Baik untuk didengarkan sendiri maupun untuk dilombakan. Sayang sekali ya….banyak burung ini yang nasibnya berakhir di sangkar.

Burung Perkutut alias Titiran alias Zebra Dove (Geopelia Striata) rupanya agak mirip dengan Burung Tekukur, tetapi jika kita perhatikan tentu saja banyak bedanya.  Ukuran tubuh Burung Perkutut lebih kecil dari burung Tekukur. Warnanya merupakan campuran kelabu dan coklat kemerahan. Burung Perkutut tidak memiliki kalung bintik hitam putih di leher belakangnya.  Sayapnya juga tidak berbercak-bercak, tetapi motifnya cenderung membentuk alur-alur lurik mirip motif zebra, sehingga tidak heran disebut juga dengan nama Zebra Dove.

Populasinya di area ini juga lumayan banyak. Sama seperti Tekukur, mereka mencari makan dan terbang berpasang-pasangan. Syang banyak gambar yang saya ambil sangat blur.

3/.Burung Punai.

Burung Punai

Selain ke dua jenis burung di atas, sebenarnya saya berpikir masih ada beberapa jenis burung lain yang menghuni pohon-pohon beringin di sekitar area itu. Barangkali jenis merpati lain , burung jalak dan sebagainya. Tapi saya tidak bisa melihat dengan baik.Hanya mendengar ocehan suaranya yang berbeda.  Suatu kali saya melihat serombongan burung yang awalnya saya pikir Tekukur menclok di pohon beringin di tengah alun-alun.  Saya mengarahkan kamera saya ke puncak pohon, lalu jeprat jepret ala kadarnya di beberapa bagin puncak pohon itu tanpa memeriksa lagi hasilnya. Belakangan saya baru sadar bahwa yang tertangkap oleh kamera saya justru gerombolan Burung-Burung Punai alias Green Pigeon (Treron Capellei) bukan Burung Tekukur.  Ada belasan jumlahnya bertengger di sana. Salah satunya adalah seperti yang tampak di foto di atas ini. Wahhhh…sungguh saya jadi menyesal tidak mengambil foto yang lebih baik dan lebih banyak lagi.

4/. Burung Gereja.

Burung Gereja

Berbaur dengn para Burung Perkutut dan Burung Tekukur, tak mau kalah adalah gerombolan Burung Gereja (Passer domesticus). Burung-burung kecil ini ikut sibuk mengais-ngais makanan di sela-sela rumput dan pasir Alun-alun ini. Suaranya yang bercerecet lumayan  menghibur, meramaikan suasana sore Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5/. Burung Cerukcuk.

Burung CerukcukMenjelang pulang, tepat sebelum saya masuk ke kendaraan yang akan mengantarkan saya ke bandara, saya melihat seekor Burung Cerukcuk ( Pycnonotus goiavier) di atap bangunan tak jauh dari tempat kami parkir. Burung penanda pagi ini tampaknya hanya beristirahat sebentar di sana lalu terbang menyusul temannya dan menghilang di balik rimbunan daun-daun beringin.

Sore yang sangat menyenangkan di Yogyakarta. Senang bisa menyaksikan kehidupan liar masih ada di seputar kota. Semoga pemerintah setempat memberi perhatian terhadap kehidupan burung-burung ini,  agar kebebasannya tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil yang ingin menangkap dan memperjual-belikannya.

Yuk kita cintai Lingkungan Hidup kita!.

 

Burung Cucak Hijau Yang Mampir Di Halaman.

Standard

Cucak Ijo 5Hari Minggu siang. Panas musim kemarau sangat terik. Anak saya yang baru kembali dari luar bercerita bahwa ia melihat seekor burung yang sangat bagus sedang bermain di kolam kecil di halaman depan.Warnanya hijau. Suaranya sangat bagus. Kicauannya sangat rame.Saya melihat ke luar. Burung itu sudah terbang. “Mungkin burung madu?” tanya saya.”Bukan!“kata anak saya.  Burungnya lebih besar dari burung madu. Anak saya merasa belum pernah melihat burung seperti itu.  Saya mencoba memikir-mikir, burung apa kira-kira yang dilihat anak saya itu.

Cucak Ijo 9Selang kira-kira dua jam berikutnya. Panas matahari mulai sedikit berkurang, walaupun terasa masih menyengat juga. Si Mbak yang lewat di halaman depan memberi tahu saya kalau ada seekor burung hijau sedang bermain di halaman. Saya dan anak saya segera keluar. Seekor burung nampak sedang meloncat-loncat di pinggir kolam. “Ya..itu burung yang tadi”  kata anak saya.

Cucak Ijo

Ooh..itu Burung Cucak Ijo alias Cica Daun (Chloropsis sonnerati). Baru pertama kali ini saya melihat burung ini di alam bebas. Selama ini saya hanya pernah melihatnya  ada di dalam sangkar pedagang burung. Sangat mengejutkan juga bisa melihatnya tiba-tiba di depan mata. Saya rasa kemarau yang panjang membawa burung itu mampir ke kolam saya untuk minum.

Cucak Ijo 11Saya dan anak saya menonton tingkah lakunya dengan takjub. Berloncatan di dekat aliran air. Lalu pindah berjumpalitan ke dahan pohon Bintaro. Sibuk berloncat-loncat di sana. Lalu pindah lagi ke dahan pohon Frangipani. Berloncat-loncatan lagi sambil berjumpalitan dan berkicau. Kelihatan benar jika hatinya sedang riang. Ia tidak takut sedikitpun pada saya dan anak saya. Membuat anak saya gemes ingin menangkapnya.”Jangan!!!. Biarkan dia bebas di alam” kata saya.

Cucak Ijo 3Lihatlah betapa riangnya ia berkicau dengan bebas merdeka. Jika kita menangkapnya dan memasukkannya ke dalam kandang yang sempit, sebenarnya kita sedang merampas kebebasannya. Merampas kemerdekaannya. Juga merampas kebahagiaannya. Memeliharanya dalam sangkar, walaupun kita merawat dan memberinya makan, tetap tidak bisa menggantikan kebahagiaannya. Mengapa kita harus menyakiti mahluk lain? Biarkanlah kebahagiaan itu tetap dimiliki burung-burung di alam bebas. Anak saya bersungut-sungut.Tapi tidak berani membantah kata-kata saya. Akhirnya kembali kami hanya menonton.

Cucak Ijo 8Burung Cucak Ijo sesuai dengan namanya memang secara keseluruhan berwarna hijau.  Sayapnya ada sedikit semu kuning kehijauan. Leher bagian bawah/kerongkongannya berwarna hitam gelap dengan bintik biru. Matanya berwarna hitam, dengan paruh gelap dan demikian juga dengan kakinya.  Makanannya biasanya adalah serangga.

Saya pikir burung ini sebenarnya bukan jenis burung langka. Akan tetapi penangkapan tak terkendali untuk diperdagangkan akan membuat burung ini cepat menghilang dari alam bebas.

Sumber Kehidupan Bagi Mahluk Hidup Di Alam.

Standard

Bediri di pinggir kali. Membuat saya sadar, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta menyediakan sumber makanan yang sangat cukup bagi mahluk hidup di sekitarnya. Tanaman yang hijau berdaun subur, berbunga, berbuah dan berbiji juga berumbi. Semua menjadi sumber makanan yang melimpah untuk serangga dan mahluk hidup lain di alam. Ketika serangga dan binatang kecil melimpah, sangat cukup untuk mengganjal kelaparan para pemangsa yang lebih besar. Keseimbangan ekosistem berlangsung sedemikian stabil jika tidak ada bencana alam, hingga manusia datang dan merusak keseimbangan itu.

Manusia membabat semak dan rumput benggala, menyebabkan burung-burung pemakan biji-bijian terganggu. Manusia membakar ladang dan pohon yang mengakibatkan puluhan burung-burung menjadi tunawisma.  Manusia juga memasang jebakan, menangkapi burung dan biawak sungai, membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan yang mengakibatkan banjir bandang yang akhirnya juga mengikis tanah di pinggir kali dan merobohkan banyak pohon besar di pinggirnya. Banyak sekali hal  lain lagi yang telah dilakukan manusia, yang jika dipikirkan membuat dada saya terasa sesak, karena saya tak mampu mengatasi semua masalah itu seorang diri.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di pinggir kali yang sangat mengesankan hati saya. Bagaimana alam menyediakan makanan yang melimpah untuk para burung, sesungguhnya demikian juga Ia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyediakan sumber kehidupan yang melimpah bagi mahluk lainnya, termasuk kita semua. Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat dan kasih sayangNYA.

Ada banyak sekali jenis makanan yang disediakan alam yang menarik burung-burung ini berdatangan atau bahkan menetap di sini.

Buah Coccinia. 

Sebelumnya saya pernah menulis tentang buah Timun Padang (Coccinia grandis) yang tumbuh merambat di pagar perumahan di pinggir kali. Tanaman ini selain bisa dimakan oleh manusia dalam keadaan mentah dan enak juga disayur, rupanya juga merupakan sumber makanan favorit bagi burung-burung Cerukcuk. Tanaman yang disebut dengan nama lain Little gourd atau baby watermelon ini, berubah warna menjadi jingga lalu merah saat buahnya menua. Rasa daging buahnyapun manis, sehingga mengundang banyak burung pemakan buah datang berkunjung.  Saya sangat senang mengamati-amati burung di dekat tanaman ini.

Buah Kersen 

Buah Kersen atau buah Singapur (Muntingia calabura) adalah buah kecil-kecil yang bertangkai miripbuah cherry, sehingga kadang disebutkan salah kaprah dengan nama buah Cherry. Anak-anak sangat menyukai buah merah ranum yang terasa manis ini. Waktu kecil sayapun sangat suka memanjat pohon ini untuk mengambil buahnya. Namun ternyata bukan hanya anak-anak saja yang suka. Beberapa jenis burung juga sangat menyukainya. Setidaknya saya melihat burung ciblek, burung,burung prenjak, burung kutilang dan burung cerukcuk suka hinggap di dahan dan ranting pohon ini untuk memanen buah yang ranum.

Biji-bijian Untuk Keluarga Burung Pipit.

Rumput benggala banyak tumbuh di tepi kali. Biji-bijinya yang banyak sangat disukai oleh keluarga Burung Pipit. Saya melihat burung-burung ini datang silih berganti dan bergerombol menikmati bijinya. Atau sekedar menarik-narik dan memutus  tangkai atau daunnya untuk dijadikan bahan sarang. Ketika saya datang, burung-burung ini terbang menjauh. Namun tak lama kemudian datang kembali dengan teman-temannya. Senang sekali melihatnya menikmati kehidupan pagi.

Buah Pepaya Dan Burung pemakan Buah.

Tanaman pepaya kadang tumbuh sendiri karena kita membuang biji-bijinya di tepi sungai. Kalau beruntung tanaman ini bisa bersaing dengan baik melawan rerumputan dan gulma di sekitarnya. Tumbuh, berbunga dan berbuah. Tentu saja manusia bisa menikmatinya juga. Namun jika tidak ada yang memetik, burung-burung pemakan buahpun berdatangan ikut berpesta pora. Senang juga hati rasanya bisa  mengintipnya sedang mematuk buah pepaya.

Serangga dan Burung Pelatuk.

Di cabang atau ranting pohon yang mati, banyak tempayak dan serangga hidup di sana. Walaupun mati, pepohonan tetap menjadi penyumbang makanan bagi burung-burung pemakan serangga. Seperi burung Pelatuk kecil alias Caladi Tilik ini. ia selalu rajin datang setiap hari. Jika terdengar suara “terrrrr…terrrr…” saya langsung mendongak ke cabang pohon yang mati ini. Di sana pasti ada burung Pelatuk yang sedang makan atau bercanda dengan temannya.

Bunga Benalu Dan Bunga Lamtoro.

Bukan hanya buah dan biji-bijian, bnga-bungaan juga menjadi sumber makanan menarik bagi burung-burung. Lihatlah burung-burung pemakan madu ini, seperti misalnya Burung Madu ataupun burung Cabe.  Setiap pagi sangat sibuk mencari makan di bunga-bunga benalu yang hidup di pohon mangga, di bunga pohon pepaya ataupun di bunga-bunga pohon lamtoro.

Saya sangat senang melihat-lihat kembali photo-photo ini. Karena selalu mengingatkan saya kembali bahwa sumber penghidupan dan rejeki itu telah disediakan bagi mahluk hidup secukupnya. Tergantung bagaimana kita berusaha mencarinya saja. Seperti burung-burung di pinggir kali ini. Selalu mendapatkan rejeki yang cukup tanpa pernah ada yang mati kelaparan.

 

Kisah Burung Perkutut Dan Supir Taksi.

Standard

Perkutut 1Burung Perkutut oleh banyak orang dipercaya membawa keberuntungan. Perkutut Katuranggan – konon istilahnya.  Orang bilang itu hanya sebuah mitos. Saya pikir, setidaknya bagi penangkar burung  dan penjualnya tentu saja burung ini membawa rejeki – wong namanya juga barang dagangan.  Kalau dijual ya ngasilin duitlah ya. Keuntungan dari hasil jual beli itulah rejekinya.

Saya sendiri  tidak suka memelihara burung. Tapi saya suka mengamati burung di alam bebas sebagaimana halnya binatang liar lainnya. Tanpa mengait-ngaitkannya dengan mitos bahwa binatang ini membawa rejeki atau malah pembawa sial. Tapi  jika ada yang bercerita mitos tentang binatang tertentu, biasanya saya ikut menyimak.  Menjadi pendengar yang baik. Salah satunya adalah cerita  yang diceritakan kembali oleh salah seorang kawan kepada saya. Ini cerita kawan saya, lho!.

Kawan saya berlibur bersama suaminya di sebuah kota di Jawa Tengah. Mereka naik taxi menuju Hotel tempat mereka menginap. Di perjalanan, suaminya menyapa sang supir taxi yang terlihat sangat kalem dan pendiam.

“Sudah lama narik taksi, Mas?” tanya suaminya. Sang supir taksi mengatakan ia baru menarik taksi. Lalu pekerjaan sebelumnya apa dong? Ditanya seperti itu tiba-tiba sang supir taksi menangis sesenggukan. Kawan saya dan suaminya heran, bingung dan merasa tidak enak, lalu meminta maaf karena telah membuat supir taksi itu sedih karena pertanyaannya. Supir taksi itu bukannya berhenti menangis. Malah tangisannya semakin menjadi-jadi.  Pertama kalinya mereka  mengalami kejadian seperti ini. Supir taksi menangis tersedu-sedu saat ditanya apa pekerjaannya sebelum menjadi supir taksi. Maksud meraka hanya untuk ngobrol dan mencairkan suasana. Namun ternyata pertanyaan itu sangat sensitive bagi sang supir taksi.

Kawan saya akhirnya meminta supir taksi agar menepikan kendaraannya. Istirahat sejenak dan memberikan kesempatan kepada sang supir taksi untuk melepaskan kesedihannya. Sang supir taksi pun menangis tersedu-sedu. Kawan saya lalu  memberikan supir taksi itu minum agar ia lebih tenang.

Setelah  tenang, supir taksi itu bercerita  bahwa sebelumnya ia adalah seorang kontraktor bangunan yang sukses. Hidup bahagia dengan seorang istri dan anak-anak yang sangat dicintainya.Namun sekarang usahanya sudah bangkrut dan ia menderita hanya gara-gara seekor burung. Hah? Hanya  gara-gara seekor burung?  Bagimana ceritanya?  Saat kawan saya bercerita, saya menyangka mungkin kontraktor ini menggunakan modal usahanya untuk berbisnis burung dan usahanya itu bangkrut. Ceritanya ternyata jauh dari dugaan saya.

Supir taksi itu bercerita, bahwa suatu kali  ia membeli seekor burung perkutut dengan harga yang cukup mahal. Karena saat itu ia cukup sukses secara finansial, maka harga burung itu tidak menjadi masalah baginya. Dibawalah burung itu ke rumah dan dipeliharanya.  Tak berapa lama setelah itu, seorang anaknya sakit lalu meninggal.  Usahanyapun mengalami kemunduran.  Ia merasa sangat sedih atas kepergian anaknya.Tak lama kemudian, istrinya juga sakit lalu meninggal. Usahanya semakin lama semakin mundur. Hingga terakhir, anaknya yang lain pun ikut sakit dan juga meninggal. Tinggallah ia seorang diri. Dan usahanya yang semakin mundur akhirnya mengalami kebangkrutan. Ketika semuanya sudah hilang dan habis, dan ia berada diambang putus asa, seseorang memberitahu padanya bahwa semua malapetaka yang ia alami itu disebabkan oleh “sesuatu” yang dipeliharanya dirumah.  Iapun mencoba mengingat -ingat, apa itu? Ia tidak memelihara apa-apa, kecuali seekor Burung Perkutut yang dipeliharanya sejak setahun terakhir.

Saking penasarannya, ia menelusuri siapakah pemilik burung ini sebelumnya. Menurutnya ia menemukan bahwa ternyata si pemilik burung yang sebelumnyapun juga mengalami nasib buruk yang serupa dengan dirinya.  Keluarganya habis dan usahanya bangkrut. Dan walaupun ia telah menjual burungnya itu ke orang lain, tetap tidak bisa mengembalikan kesialannya itu. Setelah mengetahui kejadian dan nasib buruk si pemilik burung yang sebelumnya itu, maka iapun akhirnya memutuskan untuk melepas burung itu ke alam bebas.  Dan melanjutkan hidupnya kembali dari nol dengan menjadi supir taksi hingga saat ini.

Kawan saya terheran-heran mendengar cerita itu. Demikian juga saya ketika kawan saya itu menceritakannya kembali kepada saya. Aneh dan sulit dipercaya ya? Banyak pertanyaan menggelantung di kepala saya.  Apa ya benar itu kejadian nyata? Memang anak-anak dan istri supir taksi itu sakit apa? Sayang kawan saya lupa menanyakannya. Lalu kenapa usahanya mundur dan mengalami kebangkrutan? Apakah karena sebelumnya ia melakukan pekerjaan dengan kwalitas yang kurang bagus?  Atau kehabisan modal karena miss -management?  Mungkin penyebabnya  sebenarnya tak ada hubungannya dengan burung itu? Barangkali cuma kebetulan saja? Jadi dianggap membawa sial? Atau burung itu membawa strain virus flu burung yang mematikan? Tapi harusnya ia mati duluan ya sebelum menulari manusia ya? Ah..saya tak mampu memecahkannya.

Tapi menurut kawan saya, supir taksi itu benar-benar percaya dan yakin bahwa penyebab kesialan yang menimpanya itu adalah burung yang pernah dipelihara itu.  Ia pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menghibur supir taksi itu dan memberinya kalimat-kalimat yang menyemangati agar supir taksi itu lupa akan kesedihannya.  Jika seseorang telah sangat percaya akan sesuatu, tentu sulit untuk merubahnya agar menjadi tidak percaya. Demikian juga bagi yang tidak percaya untuk merubahnya menjadi  percaya – tentu bukan pekerjaan mudah.

Saya juga ikut berdoa semoga supir taksi itu cepat keluar dari kesedihannya dan bisa kembali bangkit semangatnya dalam menjalani fragmen kehidupannya yang baru lagi.

Dan saya pikir selalu  lebih baik melepas burung itu ke alam bebas, terlepas apakah burung itu dianggap membawa sial atau membawa berkah. Burung adalah milik alam, maka biarkanlah ia kembali ke alamnya.

 

 

Kegembiraan Pagi Burung-Burung Di Sekitarku.

Standard

Hi! Dunia pinggir kali belakang rumah, apa khabar?

Rasanya belakangan ini saya banyak bepergian meninggalkan rumah dan jadi kangen juga pada kedamaian pagi kehidupan liar tepi kali belakang rumah. Walaupun hujan mulai turun sedikit-sedikit, namun jejak musim kemarau belum membuat air kali menjadi penuh. Tepi kali masih agak kering, tapi  kehidupan di dalamnya kelihatan masih tetap exist.

CerukcukSeekor Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)  hinggap di atas tembok perumahan. Menarik perhatian saya,  karena berada dalam jarak yang cukup dekat dengan tempat saya berdiri. Ia berkicau dengan merdunya. Seolah sedang bercengkrama dengan sinar pagi.

Cerukcuk 2Tak seberapa lama seekor Burung Cerukcuk lain hinggap sambil membawa makanan di paruhnya. Sobekan buah Coccinia yang sudah matang memerah, yang ia cabik dari pohonnya yang merambat di kawat tembok kali. Ia mendekat dan memamerkan makanan yang didapatnya pagi itu, seolah berkata kepada temannya “Mengapa  kau tak nikmati juga anugrah alam yang merah merekah ini?”

Cerukcuk 3

Melihat temannya makan dengan nikmat, maka burung Cerukcuk yang pertamapun ikut menclok di rambatan pohon Coccinia, lalu makan di sana.

Cerukcuk 1

Saya menggeser posisi saya berdiri agar bisa melihat burung itu dengan lebih jelas. Ia sibuk mencabik-cabik buah Coccinia yang matang. Kulitnya sobek dan memperlihatkan biji dan isinya yang berwarna jingga kemerahan. Rasanya tentu sangat manis.  Betapa riangnya mereka mencari makan di pagi hari. Sementara temannya yang sudah menghabiskan makanannya kini kembali berkicau riang. Ah.. rasa gembira itu  ikut menjalar ke dalam hati saya.

Cerukcuk 4

Saya terus memperhatikan tingkah lakunya hingga ia kenyang dan akhirnya  mereka terbang entah kemana. Kembalilah besok, wahai burung-burung!

Alam memberikan kelimpahan makanan bagi burung-burung dengan gratis. Alam memberikan kelimpahan kegembiraan bagi burung-burung dengan gratis.Alam juga memberikan kelimpahan kebahagiaan bagi hati saya  yang  melihat kegembiraan burung-burung itu… juga dengan gratis.

Betapa alam sesungguhnya mencintai kita manusia. Sekarang tergantung bagaimana kita memaknainya…

 

 

Danau Batur: Burung Kokokan.

Standard

Bangau Danau BaturAdakah yang lebih indah dari pemandangan tepi danau di pagi hari? Duduk memandang segarnya Danau Batur selalu memberi saya keteduhan jiwa yang tak bisa saya  gantikan dengan apapun. Di pagi hari, air danau selalu kelihatan lebih  tenang dan hanya beriak kecil. Sinar matahari memantul keemasan dari permukaannya yang mirip cermin raksasa itu. Sementara bukit-bukit hijau menjulang memagari danau. Di  sebelahnya Gunung Batur  berdiri tegak menjadi penyeimbang atas kedalamannya. Saya memandangnya dengan decak kagum. Di tepi danau penduduk tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mencari ikan, ada yang mencangkul, menyiram ladang dan banyak juga yang membersihkan ladangnya dari rumput liar. Kesibukan pagi yang indah.

Bangau Danau Batur 1

Setelah nyaris setengah abad perjalanan hidup saya, saya masih tetap mencintai kampung halaman saya. Walaupun nasib telah membawa langkah kaki saya berjalan ribuan kilometer, namun kampung halaman selalu menjadi magnet yang menarik saya untuk selalu pulang  dan pulang kembali. Laksana burung-burung Kokokan yang pergi terbang jauh entah kemana, namun ada waktunya akan pulang kembali ke sarangnya.

Bangau Danau Batur 2

Hmm.. Burung Kokokan!  Saya berdiri di dermaga kayu yang letaknya di Kedisan. Tak jauh dari sana tampak rumput-rumput danau tumbuh berkelompok membentuk koloni-koloni yang mirip rakit-rakit kecil tempat burung-burung air bertengger. Beberapa ekor kokokan tampak berdiri diam menunggu. Sesekali mematuk sesuatu di air danau. beberapa ekor Kokokan yang lain terbang  dari gundukan rumput ke rumput yang lainnya.

Bangau Danau Batur 3

Kokokan alias Burung Blekok Sawah, alias Javan Pond Heron (Ardeola Speciosa), adalah salah satu burung air yang keberadaannya cukup banyak di perairan Indonesia. Hidupnya terutama di badan-badan air yang banyak ikannya seperti danau, rawa maupun persawahan. Makanannya adalah ikan,  udang, kodok dan sebagainya.  Bagi saya burung ini sangat menarik karena keindahan bentuk tubuhnya. Langsing dengan leher dan paruh yang panjang.

Bangau Danau Batur 4

Berukuran cukup besar, sehingga cukup mudah dikenali dari kejauhan. Burung Kokokan memiliki paruh berwarna kuning dengan ujung hitam, sedangkan di pangkal paruh, warnanya  biru hijau mirip pelangi. Kepala dan tengkuknya berwarna coklat terang kekuningan. Leher dan dadanya berwarna putih dengan garis garis coklat terang. Punggungnya berwarna coklat tua dan sisa tubuh yang lainnya serta sayapnya berwarna putih. Sehingga, jika ia terbang, warna dominant yang terlihat hanyalah putih.

Bangau Danau Batur 5

Pada sore hari, saya lihat burung-burung Kokokan ini bersitirahat di sebatang pohon Beringin yang tak jauh dari tepi danau.

Danau Batur: Burung Layang-Layang Asia.

Standard

burung Layang-Layang AsiaSuatu pagi ketika saya akan pergi ke Desa Trunyan, perjalanan kami  terputus akibat pohon tumbang. Sambil menunggu petugas membereskan pohon itu, saya mengajak adik saya untuk berhenti di ujung Desa Kedisan saja. Ada apa di sana? Saya bercerita kepada adik saya bahwa saat melintas sebelumnya saya melihat kawanan Burung Layang-Layang Asia terbang mencari makan di sekitar area itu. Mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan mengamati tingkah lakunya.

burung Layang-Layang Asia 3

Burung-burung itu tampak sibuk terbang menyambar-nyambar di atas permukaan air danau, atau di atas lahan-lahan yang sedang diolah dan dipupuk kotoran sapi.  Mereka sedang berburu serangga yang banyak terdapat di sana. Melimpahnya jumlah serangga di tepi danau membuat  burung -burung itu tampak betah di sana. Saya sangat menyukai gerakan rerbangnya. Mengepakkan sayapnya, melayang, menyambar, berputar-putar,melingkar. Gesit sekali. Dan bentuk tubuhnya sangat indah dan aerodynamics. Beberaapaa ekor yang kelelahan tampak berisitirahat dengan bertengger di kawat listrik di atas ladang di tepi jalan. Mereka tak tampak terganggu oleh lalulintas atau bahkan suara mesin pompa air yang digunakan saat petani menyiram tanaman tomat di bawahnya.

burung Layang-Layang Asia 2

Burung Layang-Layang Asia atau Barn Swallow ( Hirundo rustica) adalah jenis burung Layang-layang dari keluarga hirundinidae dan masih sangat dekat tampilannya dengan saudaranya Burung Layang-Layang Batu (Hirundo tahitica) yang sering saya tulis di sini,di sini dan di sini. Tampilannya pun sangat mirip. Sepintas lalu agak susah membedakannya. Ukuran tubuhnya sama. Demikian pula warna bulu dominantnya. Nyaris sama. Namun mata yang terlatih akan bisa melihat bahwa burung ini memang bukan Burung Layang-Layang Batu.

Burung layang-layang.

Pertama yang sangat jelas adalah ekornya yang panjang dan menggunting. Lebih panjang dari ekor burung layang-Layang Batu. Burung Layang Layang Batu tidak memiliki dua tangkai bulu ekor ini.  Ynag ke dua, warna putih dada burung layang-layang Asia jauh lebih bersih ketimbang warna putih kotor burung layang-Layang Batu. Ke tiga, burung Layang-Layang Asia memiliki garis biru metalik yang sangat  jelas di batas dada dengan lehernya yang tidak dimiliki oleh jenis burung layang-Layang Batu. Pada Burung Layang-Layang Batu, warna di daerah ini hanya coklat karat saja.

burung Layang-Layang Asia 4

Kalau saya deskripsikan, burung ini berwarna biru metalik pada bagian kepala, punggung hingga ekornya. rahang bawah hingga lehernya berwarna coklat karat. Dada, perut dan ekor bagian bawahnya berwarna putih, dengan tanda biru metalik pada batas dada dan lehernya. Paruh dan matanya berwarna hitam. Demikian juga kakinya.

Menurut catatan, burung ini termasuk burung migrant yang datang ke Indonesia  pada bulan September – November. Menarik bagi saya untuk mengamatinya lebih jauh. Dan sangat kebetulan memang,bulan ini adalah bulan Oktober.

 

 

Bukittinggi: Hanya Sebatang Pohon Karet.

Standard

Burung Cerukcuk 2Saya sedang menikmati sarapan pagi saya di sebuah hotel di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pagi hari yang sangat menyenangkan. Matahari baru saja menyembul dari balik atap bangunan, mengusir kabut pagi. Saya mengambil posisi duduk di pinggir, sedemikian rupa sehingga tidak terkena sinar matahari langsung namun masih  bisa memandang langit dan taman hotel yang hijau dan asri. Pelayan restaurant menawarkan secangkir teh hangat dan saya mengangguk berterimakasih.  Saya menyukai kota berhawa sejuk ini.

Beberapa puluh ekor burung walet tampak bercericip di langit, terbang berputar-putar mengelilingi sebuah menara. Terbang berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Alangkah riang gembiranya kawanan burung itu. Saya hanya memandanginya saja. Ikut bersyukur akan kegembiraan pagi. Tidak berniat untuk memotretnya karena saya tidak  tahu bagaimana teknik memotret burung terbang di angkasa.

Burung Cerukcuk 3

Di halaman tampak tumbuh sebatang pohon karet (Ficus elastica) yang jika ditilik dari ukuran dan jumlah lumut serta tanaman epifit yang tumbuh di batang dan cabangnya menampakkan usianya yang tentu bukan baru setahun dua tahun.  Pohon itu tampak sangat artistik dengan ketuaannya. Di pucuk-pucuk cabangnya tampak banyak sekali buah-buah kecil bermunculan dari sela-sela daunnya yang kaku. Sumber makanan yang berlimpah bagi burung-burung. Saya pikir sebentar lagi tentu saya akan menyaksikan kehadiran burung-burung pemakan buah di sini. Benar saja. Tak seberapa lama seekor burung kecil muncul dan hinggap di dahan. Sayang saya belum siap dengan kamera saya.

Burung Cerukcuk 4

Berikutnya beberapa ekor Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier) mampir. Seekor tampak cukup dekat dengan posisi saya duduk.  Nah, yang ini tentu ada kesempatan buat saya memotret. Burung itu memakan buah-buah karet yang melimpah. Pindah dari satu cabang ke cabang yang lain.  Barangkali mereka memilih hanya buah-buah yang masak dan ranum. Setelah menelan 4-5 buah karet, kedua ekor burung itu terbang.

Berikutnya datang lagi 4 ekor burung Cerukcuk lain. Mereka juga melakukan kegiatan yang sama makan dan pergi. Lalu bergantian lagi dengan beberapa ekor burung yang lain.

Walaupun Burung yang sama sudah cukup sering saya lihat di belakang rumah saya,namun saya tetap senang melihat burung ini di sini. Setidaknya memberi saya pemahaman yang baik bahwa penyebaran Burung ini ternyata memang sangat luas di tanah air – setidaknya saya bisa mencatat minimal mulai dari sisi barat pulau Sumatera, sepanjang pulau Jawa,  pulau Bali , pulau Lombok.

Burung PekingNamun rupanya yang membutuhkan pohon karet itu bukan hanya burung Cerukcuk. Banyak burung-burung kecil juga berdatangan.  Misalnya di cabang utama pohon itu tumbuh beberapa rumpun anggrek merpati. Nampak beberapa ekor burung Peking (Lonchura punctulata) entah mencari makan, entah bersarang di sana.

Burung Bondol Tunggir Putih

 

Demikian juga di cabang yang lain. Saya melihat Burung Bondol Tunggir Putih (Lonchura striata). Semua ikut bernaung dan ikut makan di sana.  Saya memandangnya sambil menghabiskan teh hangat saya. Saya mendengar bahwa hotel itu sedang direnovasi saat ini. Semoga pohon karet itu tidak ditebang. Sehingga ia tetap bisa menjadi penyangga kehidupan bagi mahluk-mahluk lain yang berkunjung ke sana.

Hanya sebatang pohon karet.  Namun walaupun hanya sebatang, buahnya sangat berlimpah. Alangkah banyaknya buah pohon karet itu. Dan alangkah banyaknya jumlah burung yang dihidupinya. Baik untuk mencari makan, untuk berteduh ataupun hanya untuk sekedar mengistirahatkan sayapnya sejenak.

Walaupun hanya sebatang, namun betapa sangat penting keberadaannya. Jika kita bisa menyelamatkan keberadaan pohon, walaupun hanya sebatang, tetap sangat besar artinya bagi keberlangsungan mahluk hidup lain di sekitarnya.