Tag Archives: Cerita Inspiratif

KISAH TUPAI & BUAH MATOA.

Standard
Buah Matoa

Di taman perumahan tempat saya tinggal, ditanam 2 batang pohon matoa. Walaupun saya sering berada di rerumputan di bawah pohon matoa itu untuk memungut jamur liar, saya kurang nemperhatikan jika pohon matoa itu sedang berbuah.

Hingga suatu pagi saya melihat remah-remah kulit buah matoa berceceran di rumput taman. Wow! Saya mendongakkan kepala saya dan  melihat ternyata pohon itu sedang  berbuah. Masih muda-muda sih. Saya pikir mungkin itu perbuatan tupai. Barangkali tupai bisa menemukan buah yang tua diantara buah-buah muda itu, dan memakannya.

Aah ya. Sangat jelas itu perbuatan tupai. Saya menjadi sangat bersemangat. Bukan karena buah matoa itu. Tetapi karena kemungkinan saya akan bertemu dengan tupai. 

Tupai! Tupai! Sejak kecil saya senang sekali melihat tupai. Di Bali ada banyak tupai.  Tapi sayang, saya jarang melihat tupai sejak tinggal di TangSel. Melihat ada jejak gigitan tupai pada remah-remah  kulit buah matoa bertebaran di sana sini, rasanya sekarang saya jadi sangat bersemangat.

Bangun pagi, setelah matikan lampu taman dan sedikit persiapan  saya langsumg lari ke taman. Mata saya selalu tertuju ke pohon-pohon, berharap menemukan  tupai. Tak usah banyak lah. Seekor saja , sudah bakalan senang hati saya. 

Setiap pohon yang ada di taman saya periksa dengan mata saya. Saya teliti dari batang, cabang  ranting, hingga ke pucuk-pucuk daunnya. Saya tak berhasil menemukan tupai seekorpun. Tapi saya tidak berputus asa.

Esoknya saya datang lagi ke taman. Menemukan lagi remah – remah kulit buah matoa di remputan. Saya makin bersemangat mencari tupai. Tapi tidak ada hasilnya. Demikian setiap pagi….

Akhirnya pencarian saya berhenti, ketika suatu pagi, saya menemukan buah-buah matoa berserakan di rerumputan di bawah pohonnya. Seseorang pasti telah memukul-mukul buah matoa itu agat berjatuhan dari pohonnya.  Banyak banget.

Saya ambil sebuah dan saya buka.  Memang tidak sepat, tetapi masih muda.  Hmm… sayang banget jika buahnya disia-siakan begini ya.

Mungkin orang itu tidak paham. Mungkin ia menyangka buahnya sudah matang. Tetapi setelah dicoba ternyata masih muda. Jadi dibiarkan berserakan begini jadi sampah.  Sekarang saya tahu, pelakunya ternyata bukan tupai. Tetapi manusia .

Sayang banget. Memang pohon ini ada di taman. Bisa dibilang milik umum. Siapapun anggota perumahan boleh ngambil asal mau. Tetapi jika dipetik saat masih muda begini, dan dibiarkan berserakan di rerumputan kan sayang banget ya.

Waktu berlalu. Kembali saya jalan di taman. Kembali saya melihat ada banyak sekali buah matoa berserakan di rerumputan. Tentu semalam atau kemarin sore ada orang yang menggoyang-goyangkan pohon matoa ini lagi dengan galah. Sehingga buahnya berjatuhan sangat banyak.

Kali ini ukurannya sudah lebih besar-besar. Barangkali buah yang matang telah diambil. Sedangkan yang masih hijau dibiarkan berserakan di rerumputan. 

Seorang anak kecil turun dari sepeda. Ia bertanya, “Buah apa ini?”.
“Buah matoa” jawab saya.
“Bisa dimakan?”
“Bisa” kata saya.
“Coba,” katanya lagi.
“Kamu puasa nggak?”
“Nggak” jawabnya 

Saya ambil beberapa buah. Anak itu menunggu dan melihat ke arah saya. Barangkali ingin tahu apakah saya akan baik-baik saja setelah mencicipi buah itu. Saya buka dan manis juga rasanya. 

Wajahnya terlihat lega melihat saya ternyata baik-baik saja. Seolah berkata, buah matoa ini beneran tidak beracun .

Ia ikut mengambil sebuah dan memakannya. Ia mengacungkan jempolnya ke saya. Lalu ia mengambil beberapa buah lagi dan dimasukkan ke saku celananya.

Saya melanjutkan langkah saya. Olah raga jalan kaki pagi itu. Ketika kembali melewati jalan setapak di bawah pohon matoa itu, saya lihat sudah ada beberapa anak lain yang ikut memunguti buah itu dan memasukkannya ke kantong celananya.  Mungkin sebagian besar dari mereka itu sedang puasa. Tidak ikut makan.  Hanya sibuk memungut buah yang ukurannya besar-besar  untuk dibawa pulang.

Sebenarnya masih banyak juga sih yang berserakan  di rerumputan itu. Tapi entah kenapa hati saya merasa senang. Setidaknya sebagian dari buah yang sudah jatuh  berserakan itu ada yang memanfaatkan.

Pemberian alam. Sayang jika dibiarkan tersia-sia.

KEBERATAN BEBAN.

Standard
Bunga Mawar

Saya punya setangkai pohon Mawar dengan bunga yang sangat indah. Kelopak bunganya banyak bertumpuk-tumpuk, berwarna pink sangat lembut dan halus. Melihatnya saya jadi membayangkan keanggunan dan kelembutan seorang wanita cantik yang simple, namun  kebaikannya selalu menenteramkan orang-orang di sekelilingnya   Sungguh, bunga Mawar ini selalu membuat saya terpesona setiap kali mekar.

Namun ada satu hal yang cukup mengganggu tentang Bunga Mawar ini. Karena kelopaknya bertumpuk-tumpuk, bunganya menjadi besar dan berat. Terlalu berat bagi tangkainya yang kecil dan halus. Sehingga terkadang saya khawatir, ini bisa mematahkan tangkai bunganya sendiri.
Lebih parah lagi, di tangkai yang sama terkadang ada 2 – 3 kuncup bunga lagi yang belum mekar. Rasanya hati saya jadi ketar-ketir. Takut patah.

Sebetulnya segala sesuatu di dunia ini sudah ada takaran dan kapasitasnya. Mengambil beban lebih berat dari kapasitas maksimal yang bisa dilakukan, berpotensi mengganggu.

Contoh yang paling dekat dengan saya itu misalnya soal kesehatan. Soal tekanan darah dan kadar garam yang bisa bermanfaat untuk kesehatan tubuh.  Menurut informasi kesehatan, asupan garam yang bisa ditolerir tubuh adalah max 1600 mg per hari. Pada kenyataannya mungkin saya mengkonsumsi garam jauh lebih banyak dari yang bisa ditolerir.  Satu sendok teh garam saja sudah 2000 mg.

Dan itu terjadi nyaris setiap hari selama bertahun-tahun. Sehingga tubuh saya kelebihan beban garam. Muncullah berbagai penyakit, mulai dari tekanan darah tinggi hingga gangguan fungsi tubuh yang lain.

Dalam bidang Penjualan, kelebihan beban juga sangat mungkin terjadi. Misalnya seorang pemasar yang  hanya mampu menyalurkan barang ke toko-toko langganannya, rata-rata 200 -250 juta per bulan, tetapi memaksa distributor agar menyediakan barang senilai 500 juta  per bulan. Nah jika ia tak mampu mencari toko-toko lain lagi, tentu lama-lama stock akan menumpuk dan tak bisa disalurkan dengan normal lagi. Sebagai akibatnya pembayaran dari distributorpun jadi tersendat. Kelebihan stock. Keberatan beban.

Keberatan beban juga mungkin terjadi pada bidang Politik. Orang yang terpilih menduduki posisi ataupun jabatan tertentu, namun tidak memiliki kompetensi yang memadai.

Ambil contoh, seorang kepala daerah yang menang dalam pilkada karena gencarnya kampanye yang ia lakukan dan bukan karena leadership atau kemampuan managerialnya yang bagus atau kemampuan professionalnya yang lain. 

Sementara lawannya yang sebenarnya lebih berkompeten dan lebih professional, entah karena kekurangan dana atau kurang aggresif dalam melancarkan kampanyenya, jadi kurang dikenal oleh publik dan tidak terpilih.

Yang terjadi berikutnya adalah sang pemimpin terpilih tidak mampu mengelola daerahnya dengan baik dan optimal untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan bahkan cenderung hanya mengeluarkan kebijakan dan aturan-aturan yang menguntungkan bisnis personalnya sendiri dan kelompoknya.

Keberatan beban! Dalam bentuk apapun, selalu berpotensi membuat kerusakan. Mau itu dalam bentuk bunga yang lebih berat dari yang bisa ditunjang oleh tangkainya, mau itu murid yang dimasukkan ke dalam kelas percepatan yang kemampuannya sesungguhnya belum di situ, mau itu rumah tangga yang lebih besar pasak dari tiang,  mau itu pejabat yang kurang kompeten, hingga makan yang lebih banyak dari yang bisa diserap tubuh.

Saya memandangi bunga mawar itu.
Banyak isyarat kehidupan yang disampaikan. Saya bepikir untuk membantunya menambahkan tiang penyangga kecil di dekat bunganya.