Tag Archives: Cerita Rakyat Bali

Julit, Binjulid, serta kisah I Belog dan Be Julit.

Standard

Saya mendengarkan sebuah obrolan. Dalam obrolan itu seorang teman menyebut kata “Julit”, lalu teman teman saya yang lain tertawa berderai karena penyebutan kata “Julit” itu. Sayapun penasaran akan artinya. Cukup sering mendengar kata itu tapi saya tak tahu persis artinya. Mengapa orang -orang pada tertawa?.

Saya mendapatkan penjelasan bahwa “Julit” itu adalah istilah untuk orang yang suka iri hati pada orang lain dan tak segan mengekspresikan ke-iri hati-annya itu dengan terus terang. Contoh Julit misalnya adalah para “haters” artis tertentu, misalnya Syahrini. Ooooh…..begitu ya.

Belakangan saya mengetahui ternyata kata “Julit” ini berasal dari kosa kata bahasa Sunda “Binjulid” untuk menggambarkan orang yang sifatnya kekanakan dan suka iri hati atas kesuksesan orang lain.

Ha ha… itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran saya sebelumnya. Saya yang dibesarkan dengan budaya Bali, mengenal kata “Julit” yang mengingatkan saya pada kebodohan (kurang positive juga) dan kejenakaan.

Julit dalam bahasa Bali adalah nama sejenis ikan tertentu yang tubuhnya panjang seperti belut tetapi bersirip. Ikan Sidat dalam bahasa Indonesianya. Habitatnya di palung palung sungai yang dalam sehingga termasuk susah ditangkap orang.

Be Julit. Be = ikan. Be Julit = Ikan Julit. Lah… nama ikan itu kan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Lalu di mana letak hubungannya dengan kebodohan dan kelucuan? Begini ceritanya…

Alkisah jaman dulu ada seorang pemuda bodoh yang bernama “I Belog”. (Kisah lain tentang I Belog ini juga pernah saya ceritakan dalam tulisan I Belog dan bebeknya dan juga tulisan I Belog pergi ke Kuta sebelumnya.).

Suatu kali I Belog pergi memancing ke sungai. Dan sungguh sangat beruntung kali ini ia berhasil menangkap ikan (Be)Julit yang panjang dan besar. Maka pulanglah ia dengan wajah berseri-seri ke rumahnya.

Sesampai di rumah, I Belog bermaksud untuk memasak Be Julit itu. Waaah… bakalan makan enak nih nanti malam. I Belogpun mulai membersihkan ikannya yang besar dan panjang itu dan seketika ia menyadari bahwa ia tidak memiliki alat masak yang memadai untuk memasak ikan Be Julit itu. Cepat ia berlari mengetuk pintu tetangga. “Me Made, punya panci panjang nggak? Saya ingin pinjam buat memasak?” Begitu tanya I Belog kepada tetangganya. Me Made menggeleng. Ia tak punya panci panjang. Maka ditawarkanlah kepada I Belog panci biasa yang dimilikinya. I Belog menggeleng, lalu pergi dan mengetuk pintu rumah tetangganya yang lain” Mbok Wayan, punya panci panjang nggak? Saya mau pinjam” Mbok Wayan menggeleng. Ia tak punya panci panjang yang bisa ia pinjamkan buat I Belog. “Adanya panci biasa. Mau nggak?”. I Belog menggeleng dan mengucapkan terimakasih. Kalau panci biasa ia juga punya.

Demikianlah I Belog mencoba lagi meminjam pada tetangganya yang lain, Luh Putu, Sak Ketut, Dayu Komang, Dewa Gede dan sebagainya. Tak satupun diantaranya memiliki panci panjang. I Belog merasa kecewa karenanya.

Aha! Lalu dia ingat… kalau panci panjang tak ada, bagaimana kalau penggorengan panjang? Merasa punya ide yang lebih baik, dengan semangat kembali ia mendatangi tetangganya satu per satu dan bertanya apakah ada yang punya penggorengan panjang? Dan kembali lagi jawaban para tetangganya tidak ada yang punya.

Saking heran dan penasarannya, tetangganya lalu bertanya” Hai Belog!Untuk apa sih, kenapa kamu membutuhkan panci panjang atau penggorengan panjang???”

I Belog menyahut “Untuk saya pakai memasak Be Julit yang panjang” jawab I Belog dengan sedih. Para tetangganya terkejut. “Astaga, Belog!!!. Kenapa tidak kamu potong potong saja Be Julitnya baru dimasak? Jadi kamu tidak perlu panci panjang ataupun penggorengan panjang“. Ha ha ha….

Moral ceritanya: Kadang kita perlu menyesuaikan diri kita sendiri agar “pas” dengan lingkungan, karena tak selamanya lingkungan bisa “pas” untuk kita.

Nah…ternyata dalam kemasan yang kocak dan bodoh, terselip pesan pesan luhur dari para tetua untuk generasi penerusnya.

Selamat pagi kawan!

Advertisements

Gerhana, Saat Sang Kala Rahu Nadah Bulan.

Standard

sang kala rauSeorang teman saya mempost di Group BB “Lihat segera ke langit! Ada Kala Rau nadah bulan” katanya (Bahasa Bali: nadah bulan = memakan bulan). Maksudnya adalah mengajak kami untuk ramai-ramai melihat langit menonton Gerhana Bulan.Walaupun tidak bisa segera melihat ke langit, tak urung saya tersenyum juga membaca ajakannya itu. Kala Rau! Alias Kala Rahu.  Sudah lama saya tidak mendengar nama asura/raksasa itu diucapkan.

Kala Rahu dalam mitos yang berkembang di kalangan Masyarakat Bali adalah nama seorang raksasa yang kepalanya putus dipenggal oleh Dewa Wisnu gara-gara ketahuan mencuri dan meminum air suci  tirta amertha milik para Dewa yang diyakini dapat memberinya umur panjang. Karena ia sudah sempat menenggak air suci itu hingga ke kerongkongannya, maka walaupun kepalanya putus namun tetap bisa hidup dan melayang-layang di angkasa. Konon ia sangat dendam kepada Dewi Ratih, sang dewi bulan yang telah melaporkan perbuatannya itu kepada Dewa Wisnu. Itulah sebabnya pada saat tertentu, ia muncul dan memangsa Dewi Ratih dengan lahapnya. Namun karena lehernya putus, setiap kali ia berhasil menelan Dewi Ratih, maka Dewi Ratih keluar lagi dari kerongkongannya yang putus itu. Ha ha.. cocok juga rasanya kalau dipikir-pikir. Bulan terang, lalu  menjadi gelap sedikit demi sedikit sampai bulan habis dan gelap, lalu setelah itu bulan muncul lagi sedikit demi sedikit hingga kembali penuh. Jaman dulu orang-orang membunyikan kentongan untuk mengusir sang Kala Rahu. Agar sang Kala Rahu cepat-cepat pergi dan Dewi Ratih bisa selamat kembali (padahal tanpa dipukulin kentonganpun, dewi Ratih tetap akan segera muncul kembali ya…).

Namun tentunya semua tahu kalau cerita di atas hanyalah mitos belaka ya. Semua tahu kalau gerhana bulan terjadi jika sebagian atau seluruh permukaan bulan tertutup oleh bayangan bumi. Tidak ada urusannya dengan Sang Kala Rahu.  Eiits… tapi tunggu dulu!. Jika dalam bahasa Bali, Kala itu berarti Waktu, setelah saya pikir-pikir, sesungguhnya yang disebut dengan Rahu itu adalah Bayangan Bumi. Sehingga jika kita terjemahkan, sebenarnya Kala Rahu adalah saat Bayangan Bumi menutupi sesuatu . Dan dalam konteks ini, sesuatu itu adalah Bulan. Jadi bulan berada di bawah bayang-bayang Bumi. Betul sekali!. Jadi istilah Kala Rahu itu memang tidak ada salahnya. Memang benar saat Sang Kala Rahu memakan bulan adalah kiasan saat dimana permukaan Bulan berada dalam bayangan Bumi.

Memikirkan itu, saya membayangkan jika seandainya bulan itu adalah manusia, berada di bawah bayang-bayang seseorang tentu tidaklah menyenangkan. Ketika kita hidup dalam bayangan seseorang yang lebih hebat dan lebih dalam banyak hal, kita cenderung akan merasa minder dan kurang berarti. Bayangan besar membuat kita menjadi pemalu, takut dan mengkeret. Sehingga tidak heran orang lainpun akan melihat kita semakin kecil. Bayang-bayang membuat jiwa kita sulit tumbuh karena tidak mendapatkan cahaya yang layak untuk pertumbuhan jiwa kita.  Jadi walaupun terkadang ada untungnya juga berlindung di balik bayangan seseorang,  sesungguhnya hidup di bawah  bayang-bayang seseorang itu lebih banyak ruginya.

Barangkali kita perlu meniru bulan. Jangan mau berlama-lama berada di bawah bayangan orang lain. Cepat-cepatlah keluar dan tunjukkan cahaya kita yang memang cemerlang. Lihatlah gerhana bulan!  Hanya sekian menit total berada dalam kegelapan bayangan, lalu muncul dan meraih kembali kecemerlangannya.

Bulan memberikan kita contoh yang baik, agar jangan berlama-lama berada di bawah bayangan orang lain.

 

 

Kampid Dedalu: Dongeng Tentang Laron Dan Sayap Pinjamannya.

Standard

DedaluMusim penghujan! Gerimis turun satu per satu. Saya memandang lewat jendela. Ada pemandangan menarik di luar.  Ratusan atau bahkan mungkin ribuan laron  beterbangan membubung tinggi mendekati cahaya lampu jalanan. Mereka berputar-putar dengan gerakan yang bisa diikuti mata.  Sayapnya gemerlap tertimpa cahaya di antara butir-butir air hujan  yang  mirip tirai berkilau.  Sungguh  pemandangan yang sangat indah. Memandangnya, membuat saya terasa berada di negeri dongeng. Terasa ikut terbang menuju sumber cahaya bersama laron-laron itu.

Sebentar lagi para laron ini tentu kelelahan terbang berputar-putar seperti itu. Sayapnya akan rontok satu per satu dan akhirnya iapun akan kembali jatuh ke tanah. Sebagian ada yang beruntung menemukan pasanganya. Membangun kerajaan rayap yang baru, di mana mereka yang akan menjadi raja dan ratunya.  Namun sebagian lagi mungkin akan menemui ajalnya begitu saja. Mati sia-sia terendam air hujan. Atau mati bermanfaat  bagi mahluk lain , menjadi sarapan kelelawar, burung  hantu, kodok , cicak atau bahkan manusia.

Di Bali, binatang kecil bernama Laron ini disebut dengan nama Dedalu.  Ada sebuah dongeng, cerita rakyat Bali  yang saya ingat tentang Dedalu ini.

*****

Kampid Dedalu

Pada jaman dulu  terdapatlah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja dan seorang Ratu yang memiliki tiga  anak . Yang pertama diberi nama  I Dedalu. Anak kedua bernama I Prajurit  dan anak yang ketiga diberi nama  I Tetani. Dedalu,  diberi tugas oleh orangtuanya untuk mengumpulkan remah-remah kayu untuk persediaan makanan. I Prajurit diberi tugas oleh ayahnya untuk berjaga-jaga di luar dan menghajar pasukan semut api yang datang menyerbu. Sedangkan  Tetani yang  merupakan pekerja keras dan handal diberi tugas oleh  ibu mereka untuk membangun dan memperluas sarang.

Mereka tinggal di sebuah lembah yang subur.  Namun mereka sangat menderita. Karena  mereka bermusuhan dengan semut api yang menjadi  tetangganya. Belakangan, seringkali pasukan semut  tiba-tiba datang dan menyerang mereka dengan mendadak. Walaupun mereka selamat dan berhasil melarikan diri, tapi tak urung banyak  kerugian yang mereka derita.  Banyak bahan makanan mereka yang disita oleh pasukan semut api. Demikian juga sarang mereka.Sebagian ada yang dirusak.

Sang Raja lalu memanggil ke tiga anaknya. Ia berkata bahwa mulai sekarang, sebaiknya mereka perlu  melakukan patroli berkeliling untuk memantau pasukan musuh.  Sehingga bisa bersiap-siap sebelum meraka datang. Semua setuju. Disepakati bahwa I Tetani lah yang akan berangkat untuk melakukan patroli. Karena I Tetani yang paling awas dan teliti diantara mereka. Untuk tugas itu  I Tetani dihadiahi empat buah sayap (kampid = bahasa Bali) oleh ayahnya, agar ia bisa terbang dan memantau pasukan semut dari udara.

I Tetani menerima tugas dengan baik. Setelah menerima sayap itu, maka berangkatlah ia melakukan patroli. Tiga kali sehari.    Ia terus melakukannya dengan rajin. Setiap kali  si semut api bermaksud menyerang, I Tetani sudah tahu lalu memberitahukan hal ini kepada sang raja. Raja pun memerintahkan I Prajurit untuk berjaga di luar  dan menyerang si Semut Api sebelum mereka sempat mendekati sarang mereka. Sejak saat itu,  rumah mereka pun aman dari serbuan semut api.

I Tetani tetap melakukan patroli udara ke luar rumah secara berkala walaupun sudah aman. Jika ia di rumah,maka ia mengerjakan sarang. Sementara jika ia berpatroli, maka tugasnya membangun sarang digantikan oleh I Dedalu.  Lama kelamaan I Dedalu merasa iri. Ia merasa cape menggantikan tugasnya. Ingin sekali-sekali  bermain dan terbang bebas di luar sana. Ke luar dari rutinitas pekerjaannya. Ia menggerutu. Kenapa sang Raja tidak menugaskan dirinya saja yang berpatroli.

Suatu malam, ia memandang ke luar sarang. Dan melihat betapa  bulan purnama  yang penuh bersinar terang, naik ke langit perlahan-lahan. Menyinari malam dengan sangat indahnya. ooh..betapa inginnya ia ke sana. Terbang dan menari-nari menuju bulan.  Seandainya ia mempunyai sayap.  Tentu ia akan membubung tinggi ke bulan. Melakukan pesta malam yang gemerlap di udara malam. Ia pun membayangkan dirinya  terbang berlenggak lenggok dengan sayapnya. Tentu semua mahluk akan mengaguminya.  Maka  tanpa sepengetahuan sang Raja, iapun pergi menemui I Tetani dan mengutarakan maksudnya untuk meminjam sayap.

Awalnya I Tetani tidak mengijinkan. Namun karena didesak terus oleh I Dedalu, maka iapun meminjamkan sayapnyakepada I Dedalu  dengan catatan segera mengembalikannya sebelum  tengah malam tiba. Karena ia sudah harus melakukan tugas patroli kembali. I Dedalu pun setuju. Dan bergegas mengenakan sayap itu di punggungnya.  Tidak terlalu pas. Sayapnya agak berat dan kebesaran. Namun I Dedalu tetap memaksa terbang dengan sayap yang bergetar karena tidak pas di tubuhya. Ia terbang semakin ke atas dan semakin ke atas. Ke arah rembulan yang bercahaya. Di udara malam ia menari, bernyanyi dan bersuka ria di bawah cahaya bulan. Ia memamerkan sayap I Tetani  yang indah dan berkilau di timpa cahaya bulan kepada semua mahluk yang melihatnya.

Tanpa disadarinya, seekor burung hantu yang lapar melihatnya dan segera menyambar dirinya. I Dedalu meronta-ronta dan menangis meminta pertolongan. Angin datang menolong. Iapun lepas dari cengkeraman burung hantu dan hinggap di dahan pohon asam. Namun sayapnya patah sebuah.  Ketika beristirahat di sana, tiba-tiba seekor cicak menyerangnya.  Sayapnya rontok sebuah lagi. Ia terbang kembali dengan miring karena sayapnya kini tinggal dua buah.  Di tengah jalan seekor kodok keluar dari persembunyiannya di balik semak dan menyerangnya. I Dedalupun berlari dengan cepat. Namun tak urung sebuah sayapnya lepas lagi. Tinggal lah sebuah. Kini ia teringat kepada I Tetani, adiknya. Ia berjanji akan mengembalikan ke empat sayap itu sebelum tengah malam.  Ia berjalan merayap di tanah dan mencoba mencari jalan pulang. ia ingin meminta maaf dan mengembalikan sayap yang tinggal sebuah itu. Tanpa disadarinya ia malah mendekati sarang pasukan semut yang menjadi musuh bebuyutan keluarganya. Iapun dikejar-kejar semut. Sayapnya yang terakhir pun lepas dan tertinggal di dekat sarang semut.  I Dedalu berjalan terus dan terus dengan sedihnya.  Ia tak menemukan jalan pulang ke rumah orang tuanya.

Karena sudah tidak aman gara-gara tidak memiliki lagi sayap untuk berpatroli, sejak saat itu maka keluarga itupun menyelamatkan diri ke dalam tanah dan berubah mejadi rayap. Sang raja dan ratu berubah mejadi Raja dan Ratu Rayap.I Tetani beranak pinak dan menjadi rayap. demikian juga dengan I Prajurat, akhirnya berkembang mejadi rayap Prajurit yang memiliki rahang yang besar dan tajam. Dan I Dedalu berubah mejadi  Laron.

Konon itulah sebabnya mengapa  I Dedalu (Laron) selalu terbang gemeteran dengan kagoknya – karena sayapnya tidak pas, karena sebenarnya sayap  itu milik I Tetani (Rayap) yang dipinjamnya. Itulah pula sebabnya mengapa Laron selalu ingin mendatangi sumber cahaya, dan sayapnya selalu patah satu per satu sehingga ia tidak bisa menemukan jalan pulang.

*****

Namanya juga dongeng, tentu cerita ini adalah hasil karangan semata. Namun yang namanya dongeng, tentu selalu mengandung pesan moral yang disampaikan oleh orang tua kepada anak cucunya.  Salah satu pesan moral yang dipetik dari cerita ini disampaikan dalam bentuk Sesenggakan (Perumpamaan).

Kadang-kadang disela-sela pembicaraan, mungkin kita akan mendengar ada orang tua memberi nasihat kepada anak keponakannya seperti ini “Apang eda buka dedalune, mekeber nganggon kampid baan nyilih” – terjemahan ” Agar jangan sampai seperti laron, hendak terbang tapi menggunakan sayap hasil pinjaman dari orang lain”. Tentu saja petuah ini mengacu pada dongeng rakyat tentang “Kampid Dedalu” di atas.

Petuah itu  bermakna, agar anak anak pandai-pandai membawakan diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan serta kemampuan ekonomi yang ada. Bersikap rendah hati  dan bukan rendah diri. Apa adanya dan tidak berlebihan. Jangan memerkan hal-hal yang  bukan milik kita sendiri. Mau menggunakan pakaian dan perhiasan yang gemerlap namun hasil meminjam dari orang lain. Memamerkan mobil  baru yang mewah, namun hasil pinjaman atau malah hasil korupsi.  Dan sejenisnya.  Tampillah apa adanya. Kalau memang tidak punya, jangan sok kaya.

Saya tidak tahu, apakah petuah seperti ini masih berlaku dan dihargai untuk jaman sekarang ya?