Tag Archives: Cerukcuk

Top 5 Burung Liar Di Sekitar Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Standard

Suatu kali saat akan kembali ke Jakarta, saya diantar oleh adik bungsu saya ke airport agak lebih cepat daripada jadwal penerbangan seharusnya. Karena masih ada waktu selama lebih dari sejam, daripada menunggu dan bengong di bandara, adik saya menyarankan bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sekitar airport. Kelihatannya hijau dan cukup banyak tanaman. Siapa tahu bisa melihat burung-burung liar menclok dari satu dahan ke dahan yang lain diantara pohon-pohon itu.  Saya setuju.

Benar saja kata adik saya. Ternyata bandara menyimpan beberapa species burung yang menarik untuk dilihat. Di luar burung gereja, inilah diantaranya

1. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

CerukcukBurung Cerukcuk  adalah burung dari keluarga burung Bulbul yang terhitung tinggi populasinya di Bali dan di tempat-tempat lain di Indonesia. Demikian juga di area sekitar bandara Ngurah Rai ini. Cukup mudah menemukan  Burung Cerukcuk berkeliaran, karena kicauannya yang sangat merdu dan bervariasi serta hobinya terbang berpasang=pasangan.

2. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Kutilang

Burung Kutilang yang masih merupakan saudara dekat dari Burung Cerukcuk ini, terlihat sangat banyak di sekitar bandara Ngurah Rai.  Kita bisa menemukannya di pohon-pohon tinggi, perdu, di pagar, di kawat,  atau di atas atap bangunan. Bahkan saya melihat suatu kali ada lebih dari 15 ekor kutilang menclok di atas salah satu atap bangunan di bandara.  Saya merasa sangat takjub, karena sebelumnya saya belum pernah melihat populasi yang Kutilang sepadat ini di suatu tempat.

Kutilang 1

Lihatlah betapa riangnya ia bermain-main di atas atap  bangunan.  Seolah tidak takut akan gangguan manusia manusia sekitarnya dan suara pesawat udara yang menderu-deru di atasnya. Saking banyaknya orang awam bisa salah mengira itu burung geraja.

Sangat berterimakasih kepada pihak Desa Adat yang sangat memperhatikan keberlangsungan hidup dan melindungi burung-burung ini tetap berkeliaran di alam bebas.

3. Burung Tekukur (Stretopelia chinensis).

Tekukur

Menarik melihat burung ini karena jumlahnya lumayan banyak berkeliaran di seputar taman-taman di bandara Ngurah Rai. Menclok di tiang-tiang listrik,di atap bangunan, tembok bangunan dan di mana-mana. Sangat damai dengan lingkungannya, burung ini terlihat anteng saja terbang rendah di sekitar areal tempat parkir.

2. Burung Punaan (Treron capellei)

 

Burung Punai

Burung ini bertengger di puncak pohon yang sangat tinggi dan  jaraknya cukup jauh dari tempat saya berdiri. Sehingga sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan gambar yang jelas.  Bahkan awalnya saya sulit mengidentifikasi burung apa itu. Tidak jelas. Saya hanya yakin itu pasti dari keluarga merpati, tekukur ataupun deruk. Beruntung saya bersama adik saya yang matanya lebih cemerlang dan  lebih sering mengidentifikasi jenis burung ini.  “Itu punaan!” kata adik saya dengan cepat dan yakin.  Saya membidikkan kamera saya dan kemudian men’zoom’ hasilnya. Saya setuju, bahwa ini memang burung Punaan.
Burung Punaan alias Burung Punai besar (Treron capellei) memiliki bulu yang didominasi warna hijau dengan kombinasi jingga atau kemerahan di bagian dadanya. Makanannya buah-buahan dan biji-bijian.  Saya melihat bberapa ekor tampak terbang di dahan yang tinggi.

5. Burung Madu Sriganti (Nectarina jugularis).

Burung Madu

Seperti halnya di wilayah lain di Indonesia, burung pemakan madu dari bunga-bunga benalu, bunga pepaya, bunga dapdap atau bunga-bunga lain ini  banyak bertebaran di areal bandara. senang mendengarkan nyanyiannya di tengah hari yang jernih.

 

Advertisements

Burung Cerukcuk, Sang Penanda Pagi.

Standard

Burung Cerukcuk 6Ada sejenis burung, yang suaranya sangat khas terdengar di telinga saya sejak kecil. Cruk cuk cuk cak cruk cuk cuk .. atau …cruk cuik cak cok .. dan seterusnya seputaran kata cruk, cuk, cak, cok, cuik. Kadang-kadang suaranya ditingkah suara ayam jantan berkokok…kuk kuruyuuuuuk kuuuuuuuk.  Jika suara burung itu terdengar nyaring dari pepohonan  di belakang rumah, Itu tandanya saya sudah harus bangun, melipat selimut, menyapu halaman rumah dan mandi serta bergegas ke sekolah.  Karena jika tidak, tentu ibu saya akan menegur saya dengan keras. Mau tidak mau saya harus mendisiplinkan diri, segera bangkit dari tempat tidur secepatnya.   Itulah suara burung Cerukcuk alias Yellow Vented Bulbul (Pycnonotus goiavier), sang penanda pagi.

Setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkan rumah orangtua saya, suara burung Cerukcuk itu tetap menjadi jam alam penanda pagi untuk saya.  Bedanya, saat ini suara burung cerukcuk itu datangnya dari pohon-pohon di pinggir kali di belakang rumah saya. Kelihatannya belakangan ini suara burung Cerukcuk itu semakin banyak dan semakin nyaring. Memikat saya untuk iseng menengoknya ke bantaran kali.  Sayangnya hari masih pagi dan sinar matahari belum cukup untuk memberikan saya penerangan untuk melihat dimanakah gerangan burung Cerukcuk itu bertengger.

Awalnya saya melihat sepasang di atas dahan pohon yang sangat tinggi dan jauh. Sayang sekali lensa saya kurang mampu memberikan gambar yang berkwalitas baik untuk jarak sejauh dan setinggi itu.  Namun saya masih bisa melihat gerak gerik pasangan itu sebelum satu persatu terbang entah ke mana. Oleh karenanya saya tetap coba ambil fotonya dan perbesar, dan belakangan saya perhatikan ternyata  sepasang burung itu bukan Burung Cerukcuk, tapi Burung Kutilng (Pycononotus aurigaster). Kepala burung Kutilang umumnya berwarna hitam -mirip orang memakai topi, sedangkan Burung Cerukcuk berwarna putih keabuan dengan jambul berwarna coklat kehitaman.

Orang bilang, jika kita melihat burung Kutilang, ada kemungkinan kita juga akan melihat Cerukcuk. Karena kedua burung ini memenag sering terlihat bersama  atau berkelompok.

Menjelang siang, saya melihat seekor burung Cerukcuk yang lebih kecil bertengger di pagar tembok yang menjadi dinding kali. Walaupun jaraknya juga agak jauh dari tempat saya berdiri, setidaknya saya bisa melihatnya dengan cukup jelas. Walaupun bisa saya katakan burung ini warnanya memang suram dari ‘sono’nya.

Burung Cerukcuk adalah seekor burung penyanyi yang suaranya memang sangat merdu, merupakan salah satu anggota keluarga dari burung Kutilang alias burung Bulbul (Pyconotidae).  Secara umum, burung-burung jenis ini termasuk ke dalam burung yang berukuran tubuh sedang – dimana burung Cerukcuk itu sendiri   kurang lebih berukuran sekitar 18-20cm.

Bagaimana cara untuk mengidentifikasi?

Jika kita tinggal di pedesaan, koBurung Cerukcuk 2ta kecil  atau di daerah dekat dengan ladang taupun belukar yang terbuka atau taman kota dan sudah sering melihat jenis burung ini sejak kecil, tentu tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengidentifikasi. Namun jika belum terbiasa melihat, mungkin dengan memperhatikan ciri-ciri tubuhnya akan cukup membantu kita untuk melakukan identifikasi.

Pertama tentu kita lihat dari ukuran tubuh burung itu sendiri. Besar, kecil, sedang? Dan burung ini ukurannya sedang.  Kemudian kita lihat bentuk  paruhnya ramping. Tidak bengkok, tidak tebal tapi juga tidak panjang. Lehernya pendek yang membuat jarak antara kepala dengan badannya menjadi dekat.  Sayapnya pendek namun ekornya lumayan panjang.

Berikutnya kita perhatikan warnanya. Secara umum burung ini tampak suram. Warnanya tidak terlalu menarik. Badannya berwarna putih suram hingga kekepala.  Kepalanya lucu, karena matanya dihubungkan dengan garis berwarna hitam dengan paruhnya. Sehingga jika kita perhatikan (terutama dari arah depan) ia seperti mempunyai alis putih di atas matanya. Burung ini  juga berjambul, warnanya coklat kehitaman.  Tapi seingkali kita melihat jambulnya tidak ditegakkan.Tubuh bagian atas dan sayapnya berwarna coklat. Dan perut bagian bawah sampai ke ekor berwarna kuning. Paruhnya berwarna hitam dan kakinya berwarna abu-abu.

Nah kalau masih ragu-ragu juga, maka kita dengarkan suaranya.. Cruk cuk cuk.. karena gara-gara suaranya itulah burung ini disebut Cerukcuk.

Agak siang, saya mendengar suara burung Cerukcuk itu lagi dari arah pinggir kali. Maka sayapun menengok kembali. Wah.. seekor burung Cerukcuk sedang bertengger di pohon pepaya. Sedang makan buah pepaya. Saya baru tahu bahwa Cerukcuk ternyata doyan buah pepaya.  Awalnya saya kira  ia hanya menyukai buah boni yang kecil-kecil , atau serangga – karena dulu saya tahunya burung ini adalah penghuni pohon boni.  Melihat ini saya merasa sangat girang sekali.  Saya pikir sepanjang pohon pepaya itu tetap berbuah dan matang, tentu burung Cerukcuk ini akan rajin mampir di pohon pepaya itu.  Sangat mudah bagi saya untuk mengamat-amatinya.

Semoga tidak ada pemburu yang lewat , sehingga kebahagiaan burung ini di alam bebas tetap terpelihara dengan baik.