Tag Archives: cincau hijau

Garden Update: Cincau Perdu.

Standard

Sudah lama nggak sempat ngupdate kebun halaman saya. Kemarau panjang dan serangan penyakit karat serta kutu putih membuat kebun menjadi merana. Jadi saya memilih untuk mengistirahatkannya sebentar untuk membantu memutus penularan penyakit-penyakit itu.

Namun demikian, masih ada beberapa tanaman dapur hidup yang tetap produktif. Misalnya pohon Cincau Hijau. Tetap berdaun lebat. Ever green.

Ada 3 jenis yang saya tanam dan ke tiganya lumayan lebat daunnya. Jadi harus dimanfaatkanlah ya. Kalau tidak toh akan tetap menguning dan layu juga pada akhirnya.

Nah ini adalah salah satunya. Daun Cincau Perdu (Premna oblongifolia). Daun Cincau yang saya baru tahu sejak saya tinggal di Jakarta, karena jenis cincau ini tidak dibudidayakan di Bali.

Daunnya lebar-lebar dan sesuai namanya tanaman ini batangnya tidak merambat, tapi tegak seperti layaknya Perdu. Saya menanamnya dari stek batang yang diberikan oleh salah seorang sahabat.

Advertisements

Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Standard
Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Pohon Katunya batangnya sudah nyampai ke atap. Sudah mulai mengganggu” tegur suami saya ketika kami sedang duduk-duduk di halaman belakang. Saya mendongak. Ya. Bener juga. Daun daun Katu itu tampak menyentuh langit-langit beranda. Juga menutupi tanaman Pakchoy putih dan Spearmint saya dan membuatnya terhalang sinar matahari. “Besok saya panen” janji saya. Dan begitulah…..

Hari ini saya memangkas pohon katu yang tinggi itu. Hasilnya lumayan juga setelah dipilah-pilah dan dipilih-pilih. Walaupun lebih banyak yang ketuaan atau menguning. 

Sebaiknya saya memangkas tanaman ini atau mengambil daunnya secara berkala. Misalnya sebulan sekali atau 2 bulan sekali. Nah…saya luput melakukannya. Tapi nggak apa-apalah. Lebih baik telat daripada sama sekali tidak. 

Nah..selagi memilah milah itulah tiba tiba saya sadar saya telah ikut memutus satu tangkai pohon Cincau Hijau saat memangkas batang pohon Katu. Rupanya pohon Cincau itu ada yang melilit batang pohon Katu  jadi ikut terpotong deh saat ditarik. Kasihan amat. 

Sejenak saya terdiam. Hati saya kelu. Tapi akhirnya saya pikir selagi  terpotong tanpa sengaja, biarlah saya manfaatkan saja daun-daunnya. Saya petiki daun-daunnya satu per satu. Nanti akan saya buat minuman Cincau saja.  Segar juga!. Pikir saya.

Sementara daun Katu bisa dimasak dengan berbagai cara. Direbus dicocol sambal terasi, dimasak bening, ditumis atau dibyat campuran Bubur Kalimoto. 


Dan batangnya saya potong-potong, siap untuk ditanam kembali agar kelak semakin banyak daun Katu yang bisa dipetik dari halaman. 

Sedikit untuk mengenang sejarah keberadaan tanaman ini di rumah, saya mendapatkan stek batangnya pertama kali dari papanya Wilsa. Kebetulan saat itu saya diajak mampir ke rumah papanya oleh Wilsa teman saya itu. Papanya itu penggemar tanaman. Dan memenuhi halaman depannya dengan tabaman tanaman bermanfaat. Salah satunya adalah tanaman Katu ini. Terimakasih papa Wilsa.