Tag Archives: Competition

Anakku & Indonesia Piano Competition 2015.

Standard

20150412_180710Anak saya menyatakan ingin ikut Indonesia Piano Competition. Semangat sekali. Padahal ia sedang Ujian Akhir Sekolah. Awalnya saya agak ragu. Saya takut ia kurang fokus dengan pelajaran sekolahnya. Tapi melihat semangatnya yang tinggi dan keyakinannya yang menggebu akhirnya saya ijinkan ia ikut kompetisi itu. Tentu saja latihannya hanya boleh disela-sela waktu belajarnya. Tapi rupanya ia tetap menjaga semangatnya.

Nah kemarin tanggal 11 April, ikutlah ia dalam kompetisi itu di Menara Top Food, Alam Sutera. Pesertanya cukup banyak juga. 300 orang lebih.Waduh!. Umurnya 14 tahun. Ia masuk ke kategori Elementary C.  Pukul 2 siang ia sudah siap masuk ke kursi peserta.  Saya melihatnya dari kejauhan. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya bertanding, ia tampak grogi dan gelisah. Saya hanya bisa berdoa semoga ia diberi ketenangan.  Hingga akhirnya saat itupun tiba juga. Ia naik ke panggung, membungkukkan tubuhnya yang jangkung ke arah penonton, lalu mulai duduk di depan piano di atas panggung yang lampunya temaram. Dan mulai membawakan  musiknya. Bach kleine preludien no 4 BMV 927. Barangkali karena grogi, saya mendengar ia memainkannya tidak sebagus biasanya ia memainkannya di rumah. Temponya agak kurang smooth, tapi secara umum ia bisa menguasai diri dan alat musiknya dengan cukup baik.

2015-04-11 16.02.08Ingin sekali saya mengambil gambarnya. Sayang sekali panitia berkali-kali memberi peringatan agar penonton tidak mengambil gambar dengan flash atau blitz. Akhirnya saya hanya mengambil fotonya dengan kamera hape tanpa flash, yang walhasil….buram nyaris gelap gulita. Setelah saya lakukan sedikit edit, ya lumayan bisa terlihat walaupun tidak optimal.

Setelah selesai, anak saya turun dari panggung dan menceritakan betapa grogi dan paniknya dia. Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu hal biasa. Apalagi pengalaman pertama. Sangat wajar. Berikutnya ia hanya perlu belajar menenangkan diri. Permainan musiknya tidak bermasalah. Lalu saya katakan, bahwa  ambisi untuk memenangkan kompetisi itu sangat penting, Tetapi hal pertama yang lebih penting dicapai adalah mendapatkan pengalaman panggung.  Saya adalah salah seorang yang percaya bahwa tingkat kepercayaan diri seseorang dalam berbicara di depan publik, sangat dibantu oleh pengalaman panggung masa kecilnya.

2015-04-13 00.08.31Jika orang itu sejak kecil terlatih naik turun panggung, maka ketika ia dewasa ia akan menjadi terbiasa menghadapi orang banyak dan berbicara di depan publik ketika kelak dibutuhkan. Demikian juga dengan kebiasaan bertanding dan berkompetisi. Orang yang sering ikut kompetisi akan lebih terlatih untuk menghadapi situasi menang ataupun kalah. Ia akan lebih sportif  dan mengerti aturan main yang fair. Jagi bagi saya, kalah ataupun menang baginya kali ini bukanlah hal yang paling penting.Saya hanya ingin ia merasakan bagaimana ia naik ke panggung di depan ratusan pasang mata penonton di ballrooom itu dan bertanding secara jujur.  Cari pengalaman, anakku!

Nah tadi sore keluarlah pengumumannya.Anak saya sangat tegang. Saya menghiburnya dan berkali-kali menegaskan bahwa yang penting adalah pengalamannya,bukan soal menang atau kalahnya. Pembawa acara pun mengumumnkan pemenangnya. Bukan anak saya. Ada beberapa orang yang lebih baik darinya. Tetapi belakangan diumumkan bahwa ia mendapatkan Award untuk Music Achievement. Hadirin pun bertepuk tangan dengan riuh. Wajah anak saya tampak lega. Ia berjalan ke depan untuk menerima Award itu. Saya bangga melihatnya.

Congratulation, anakku!.

Ricci Cup XV: Mendorong Anak Untuk Berprestasi…

Standard

aldoSepulang kerja, saya menemukan anak saya yang kecil sangat sibuk. Biola, kardus, spidol, lem dan gunting bertebaran di lantai. “Lagi ngapaian, nak?” tanya saya pengen tahu dan melihat ke gambar Biola yang ia buat di atas kardus. Anak saya tidak menyahut seketika. Tangannya meneruskan garis dari spidol yang ia bentuk menjadi gagang biola dan matanya sesekali melirik biola sungguhan yang tergeletak di depannya. Saya berdiri menunggu. “Lagi bikin biola mainan, Ma” jawabnya ketika garisnya selesai. Saya menonton ia bekerja.

Lalu ia mulai menggunting. Saya pikir ia mengalami kesulitan, karena wajahnya meringis. Kardus itu agak tebal dan terlalu keras untuk tangannya yang mungil. “Mari Mama bantuin menggunting” saya menawarkan bantuan. Awalnya anak saya tidak mau menyerah pada kardus itu, tapi akhirnya ia menerima tawaran saya untuk membantunya meneruskan menggunting. Ia sendiri beralih membuat mahkota kepala dengan antena yang mirip antena belalang. Setelah saya selesaimenggunting, ia mulai menempel. Akhirnya jadilah biola dari kardus seperti yang ia design. Ha..lumayan bagus juga. “Untuk apa biola mainan ini?” tanya saya ingin tahu.

Anak saya bercerita kalau ia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut Story Telling Competition dalam memperebutkan Ricci Cup XV. Dan ia butuh beberapa alat pendukung untuk pentasnya nanti. Ha?! Story Telling?? Mewakili Sekolah pula??

Anak saya yang kecil ini  berbahasa Inggris dengan baik, namun mata pelajaran Bahasa Inggris bukanlah favoritnya.  Agak berbeda dengan kakaknya yang memang sangat suka belajar Bahasa asing.  Sehingga ketika ia mengatakan terpilih mewakili Sekolahnya dalam kompetisi Story Telling, saya sendiri agak heran.  “Kapan?” tanya saya. “Dua hari lagi. Tapi besok aku di camp, untuk ikut acara sekolah yang lain. Jadi tidak sempat membuat persiapan ini lagi” katanya.

Aduuuh. Kok mendadak begini ya? “Ya.Memang baru juga dikasih tahu Ibu Guru“katanya. Entah kenapa saya merasa was-was. Bagaimana anak saya akan melakukannya ya? Saya belum pernah melihatnya berlatih. Cerita apa yang akan dibawakannya? Bagaimana ia akan mengatur alur ceritanya? Volume suaranya? Mimiknya? Kostumenya? Dan sebagainya?  Aduuuh. Tapi saya harus mendukung anak saya untuk bertarung dengan baik. Karena menurut saya, kompetisi merupakan ajang yang sangat baik untuk mengasah kemampuan anak. Kompetisi memberikan kesempatan buat anak untuk menjajal kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan anak-anak lain setingkatnya, sehingga ia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Kompetisi juga akan melatih jiwanya menjadi lebih sportif.

Saya lalu memintanya mencoba melakukan Story Telling di depan saya terlebih dahulu. Ingin tahu kesiapannya. Ia pun beraksi. Gaya berceritanya sangat jenaka. Kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya dengan sangat lancar. Sambil memperagakan adegan demi adegan antara sang Belalang dan Sang Semut silih berganti diikuti mimik mukanya yang sangat kocak. Saya terpingkal-pingkal dibuatnya. Sungguh ia seorang dalang yang baik.  Ooh..jadi ceritanya tentang “The Ants and The Grasshopper“.

Kini saya mengerti mengapa ia dipilih oleh gurunya untuk mewakili Sekolahnya ke ajang kompetisi. Ia bisa mengekspresikan peranan setiap character dengan cukup baik dan dengan Bahasa Inggris yang fasih.  Saya hanya memintanya untuk mempertajam nada suara antara character satu dengan yang lainnya.Selebihnya saya lihat semuanya sudah cukup bagus.  “Semoga menang!”, tentu saja itu harapan saya.  Saya ingin anak saya bangga dengan apa yang ia capai. Bangga akan prestasinya. Bangga akan dirinya sendiri. Dan bangga itu tidak sama dengan sombong.

Tibalah pada hari H-nya!.

Hari dimana dilangsungkan Ricci Cup XV untuk memperebutkan piala-piala di kompetisi Story Telling, Speech dan Solo Vocal. Diikuti oleh murid-murid perwakilan berbagai Sekolah di Jakarta. Anak saya yang besar bertugas menjadi MC acara Speech Contest di tingkat SMP. Ia bangun lebih cepat dari biasanya dan bergegas berangkat sekolah.  Karena kesibukan kantor yang tidak bisa saya alihkan, sayang sekali saya tidak bisa datang, walaupun jauh-jauh hari anak saya sudah memberi kode ” Parents can come”. Jadi saya hanya memberinya semangat saja.

Andri

Anak saya yang besar ini sudah cukup sering dipercayakan sekolahnya menjadi MC berbahasa Inggris. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Saya yakin ia tidak akan mengalami demam panggung lagi. Walaupun dalam acara ini tentu tamu-tamu, para undangan dan peserta kontes datang dari berbagai Sekolah. Semoga ia bisa me’manage’ dirinya sendiri.  Selain itu, menjadi MC dengan menjadi peserta kompetisi tentu tingkat ketegangannya berbeda.  Kali ini anak saya yang besar tidak ikut berkompetisi apapun juga. Hanya menjadi MC saja.  Jadi sedikit agak lebih santai. So…good luck, Nak! Semoga bisa melakukan job dengan baik dan sukses membawa nama baik Sekolah.

Halnya anak saya yang kecil, rupanya ia bertanding di ruang kelas yang lain. Bukan di ruang di mana kakaknya menjadi MC. Akibatnya sang kakak juga tidak sempat melihat adiknya beraksi di panggung. Syukurnya,  Ibu gurunya berbaik hati merekam anak  saya saat ber’Story Telling ” di atas panggung, lalu memberikan rekamannya kepada kami. Lumayan! Jadi saya bisa melihat aksi anak saya saat berlomba. Tampak bagus dan ia terlihat pede dengan aksinya. Ada 35 orang peserta yang datang dari berbagai sekolah di Jakarta.

Hari Senin, keluarlah pengumumannya. Horeee!!!!. Saya mendapat kabar dari gurunya,  ternyata anak saya berhasil menggondol Juara I dalam kontes Story Telling itu. Wah, hebat!.   Sungguh saya tidak menyangka sebelumnya, ia akan menjadi pemenang pertama dalam pertandingan antar sekolah ini. But he did it!. Ia mendapatkan piagam dan berhasil menggondol piala untuk sekolahnya. Melihat usaha, kreativitas dan kemampuannya, saya pikir ia memang layak mendapatkannya. He deserves for the best!.

Tentu saja saya bangga kepada kedua anak saya. Baik yang menjadi MC maupun yang mengikuti kompetisi Story Telling. Keduanya menunjukkan prestasinya dengan baik.

Kompetisi, mendorong anak untuk berprestasi!

 

 

 

Pizza Making Competition.

Standard

Making Piza CompetitionHari Minggu. Waktunya bersama anak-anak. Ngapain ya biar seru dan menyenangkan? Saya sudah merencanakan untuk mencoba memanggang pizza sendiri. Anak-anak mungkin akan senang, jika mendapatkan piza hasil panggangan emaknya sendiri dan bukan membeli di gerai -gerai pizza di Bintaro.

Terus terang saya tidak bisa membuat pizza dan belum pernah membuat pizza. Selain karena lidah kampung saya agak sulit menyesuaikan diri dengan makanan Non Asia, juga saya tidak pernah makan daging sapi sama sekali sejak kecil. Saya lebih banyak makan sayur. Karena secara umum, kebanyakan orang-orang di Bali memang tidak memakan daging. Dan saya lahir dan besar di situ. Kedua anak saya yang lahir dan besar di Jakarta memakan daging sapi. Sementara kebanyakan pizza menggunakan daging sapi untuk toppingnya. Sehingga makan di restaurant Pizza bukanlah favorite saya.  Walaupun kadang-kadang ikut makan di restaurant Pizza untuk menghormati teman-teman saya atau anak-anak yang ingin makan pizza, biasanya saya memilih yang vegetarian. Atau paling jauh yang seafood atau chicken saja. Tapi anak-anak sangat menyukai Pizza.

Walaupun belum pernah membuat, tapi saya pikir, kalau ada orang lain yang bisa membuat tentu sebenarnya kita punya potensi untuk bisa membuatnya juga. Semua tergantung niat dan usaha.  Saya coba mengingat-ingat,kira-kira apa yang dibutuhkan untuk membuatnya. Dari tampangnya, kayanya bisa ditebak.   Saya menemukan “Pizza Dough” yang siap pakai di sebuah Supermarket,  ah…ini akan sangat membantu saya untuk mempercepat  pembuatannya. Lalu saya tinggal membeli bahan untuk toppingnya. Bawang bombai, Jamur Portabella, Paprika,  keju Mozarella, Tomat,  Dada ayam, Sosis ayam, Margarine. Saya coba mencari olive dan oregano,  tapi tidak ketemu.  Lagi kosong.  Tapi saya punya  Basil dan saus cabe. Lalu untuk anak saya yang makan daging sapi saya membelikan  corned beef, sosis sapi dan beef burger.

 

Walaupun bangunnya siang dan masih bermalas-malasan dulu di tempat tidur, akhirnya Andre anak saya yang besar meloncat bangun dari tempat tidurnya dan siap membantu saya membuat piza dan memanggangnya. Karena saya tidak makan beef, anak saya mendorong kami hanya membuat Non Beef Pizza. Saya bilang “Tidak apa-apa, tidak harus  mikirin mama.” kata saya.  Kalau ia ingin Beef Pizza, semua bahan juga sudah tersedia. Tapi ia berkeras ingin membuat Pizza yang kami semua bisa makan. Okelah kalau begitu.

Lalu ia mengeluarkan Dough, mengolesinya dengan margarin, memberi sedikit saus cabe. Ia meminta tolong saya untuk memasak dulu irisan ayam dan sosis  biar matang*anak saya yang besar ini sangat concern akan kontaminasi kuman pada makanan*.  Lalu ia mulai menata Irisan Jamur, irisan bawang bombay, irisan dada ayam, irisan sosis ayam dan irisan keju Mozarella.  Tak lupa ia menaburkan sedikit basil di atasnya. Saya membantu menambahkan irisan keju Mozarella lagi .

Membuat topping piza Andre mendandani pizzanya.

Tiba-tiba Aldo anak saya yang kecil datang, habis main dari rumah tetangga. Ia melihat ke kakaknya yang sedang mendandani pizza.”Aku juga mau” katanya sambil meletakkan laptopnya yang sedari tadi ia bawa-bawa bermain. “Tapi aku mau Beef Pizza” katanya. “Bikinlah sendiri” kata kakaknya. Sayapun menganjurkan hal yang sama. Akhirnya ia pun mengabil selembar Dough, mengolesinya dengan margarin, menambahkan saus cabe banyak-banyak, menambahkan corned beef, irisan sosis sapi, potongan burger sapi dan menyusun irisan keju Mozarella di atasnya. Saya membantunya dengan menambahkan keju hingga ke pinggir. Namun ia tidak setuju. “Nanti meleleh keluar terlalu banyak” katanya menolak. Okey sayapun mengalah. “Ini akan menjadi lebih enak” katanya penuh percaya diri. “Oke. kalau begitu kita akan berkompetisi. Dan papa yang akan menjadi jurinya“. kata saya. Anak-anak setuju dan melapor pada bapaknya bahwa kami sedang membuat pizza, dan akan berkompetisi, mengharap kesediannya menjadi Juri. Papanya setuju.

Setelah itu saya menyalakan oven. Memoles nampan panggangnya dengan margarin.  Sebenarnya saya bingung, harus berapa lama ya? Dan berapa suhu yang bagus untuk memanggang pizza? Akhirnya saya coba api atas bawah, 200°C, 20 menit.  Di tengah jalan, saya turunkan suhunya ke 170°. Keju meleleh dengan baik dan aroma yang lezat pun tercium.

Tdlara! Pizza pun sudah jadi. Saya mengangkatnya keluar dan menempatkannya di piring saji.

Chicken PizaIni Chicken Pizza buatan Andrei

Pizza Andre terlihat sangat menarik. Warnanya krem didominasi warna putih dari lelehan keju Mozarella yang banyak, menutupi irisan dada ayam, sosis ayam , bawang bombay dan paprika yang muncul mal-malu. Ada sedikit lelehan keju yang keluar dari rotinya ” Ini gosong” kata Aldo sambil tertawa.  Kakaknya ikut terawa sambil berkata ” I’ll blame mom, for the cheese excess” . ha ha.,saya tertawa. Itu memang saya yang  meletakkan banyak keju hingga ke pinggir dan ketika dipanaskan rupanya ada yang meleleh sampai keluar. tapi secara umum tampilannya keren juga.

Beef PizaIn Beef Pizza buatan Aldo

Pizza Aldo terlihat sangat menawan tampilannya.  Warnanya krem dengan bercak-bercak merah saus cabe, potongan sosis dan potongan beef burger di sana sini, terlihat menonjol diantara lelehan keju Mozarella yang memutih. Sangat mirip dengan Pizza commercial keluaran restaurant pizza terkenal. Nah..tinggal deg-degannya sekarang. Dari sisi rasa, siapakah pemenangnya? Andre atau Aldo?. Sang juri mencoba. Hmm..nyam nyam. pemenangnya adalah… Aldo!.

Tentu saja selain karena tampang pizanya kelihatan lebih profesional, juga rasanya pasti lebih enak bagi penggemar beef. Wah! Tapi Aldo sangat hebat.  Ia tidak pernah membuat pizza, tidak mengerti cara membuat pizza, tidak tertarik urusan membuat makanan, tapi bisa memenangkan  kompetisi dengan baik. Enjoying Piza

Aldo menikmati pizza buatannya sendiri yang menang kompetisi.

Andre menerima kekalahannya dengan baik. Saya tahu kekalahannya tentu akibat dari upayanya membuat pizza yang bisa dinikmati juga oleh ibunya. Walaupun ia sendiri sebenarnya adalah penggemar Beef. Sementara jurinya sendiri adalah penggemar beef juga. Ia kalah, tapi ia tahu bahwa hanya pizza buatannyalah yang bisa dinikmatinya bersama ibunya. Saya terharu dengan kebijakan hati anak saya. Setelah itu, karena ia masih lapar dan penasaran, maka iapun membuat pizzanya yang ke dua. Kali ini berjudul : Meat Lover. Dengan segala urusan daging dimasukkannya. Ia memanggang untuk ia makan berdua dengan adiknya.

Piza ke dua

Ini pizza ke dua buatan Andre – Meat Lover.

Saya senang, ke dua anak saya mengerti bahwa ini bukan soal menang kalah. Namun soal bagaimana kita menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan. Bagi saya pemenangnya adalah keduanya. Kedua orang anak saya adalah Chef yang baik. Saya senang karena sudah berhasil membuat kedua anak saya senang.

Hari Minggu yang indah!