Tag Archives: Cucurbitaceae

Dapur Hidup: Pare, Si Pahit Yang Ngangenin.

Standard

 

wpid-20151115_095608.jpgDi seberang jalan dekat Pasar Sapi di Sanglah, dulunya ada sebuah tempat makan yang sering saya kunjungi semasa nge-kost di Denpasar. Menu yang paling sering saya order adalah Nasi Campur. Lauknya saya masih ingat terdiri dari  Ayam suwir, Orak-arik Pare dan Telor Menyar (telor rebus dalam bumbu traditional Bali) serta sesendok sambel terasi. Saya sangat terkesan karena masakan Parenya sama sekali tidak pahit.
Terinspirasi oleh masakan di rumah makan itu lalu saya belajar mengolah pare agar tidak pahit. Ternyata caranya sangat sederhana yaitu meremasnya berkali-kali dengan sedikit garam hingga semua cairannya keluar. Pare menjadi  kering barulah di masak. Tentu saja tak perlu ditambahin garam lagi.
Masih terinspirasi oleh masakan di rumah makan yang sama, saya akhirnya mencoba menanam pare di pekarangan rumah saya. Masih dalam semangat membuat Dapur Hidup.
Pare atau Paya atau Bitter Gourd adalah salah satu tanaman sayuran merambat keluarga Cucurbitaceae (keluarga timun timunan) ysng buahnya umum dimasak di dapur Indonesia.

 

Saya membeli biji tanaman ini di Toko Trubus. Kalau tidak salah ingat harganya Rp 15 000 satu pack isinya 22 biji. Saya semaikan mati satu tinggal 21 batang yang tumbuh. Dari 21 pohon itu hanya 19 yang tumbuh dengan baik. Yang dua kurang bagus pertumbuhannya karena kurang mendapatkan sinar matahari.
Tukang Trubus mengatakan bahwa saya akan sudah bisa melihat pohon pare saya berbuah dalam waktu 3 bulan. Hmm…cepat juga ya.
Biji pare yang saya beli rupanya di-coating. Menurut keterangan tukang toko itu agar menjaga biji dari serangan jamur.

Biji pare pertama saya tabur di dalam pot. Dalam waktu 3 hari sudah berkecambah dan akhirnya tumbuh menjadi anakan pohon pare.
Dari sini lalu saya pindahkan ke pot-pot panjang terbuat dari semen  yang sudah saya pasangi kawat agar kelak ia bisa merambat ke pilar rumah.
Tanaman tumbuh subur. Merambat ke atas dengan kecepatan yang berbeda beda. Bahkan cukup signifikan perbedaannya. Walaupun mendapat perlakuan sama, tetapi ada yang tingginya  sudah mencapai 50 cm saat temannya yang lain masih 10 cm atau 15cm. Mengapa?

Apakah karena faktor genetika? Bisa jadi. Walaupun biji biji itu berasal dari bungkus yang sama dan logikanya berasal dari buah yang sama, tetapi variasi genetika dari individu yg sama tetap bisa terjadi. Selain itu tidak menutup kemungkinan jika biji biji ini berasal dari buah atau bahkan pohon yang berbeda. Atau mungkin saja disebabkan oleh fsktor lain di luar genetika.
Salah satunya barangkali karena faktor lokasi penempatan pot. Mendapat intensitas cahaya matahari yang bervariasi. Ada yang terlalu banyak, cukup atau barangkali ada yang kurang juga. Selain itu media yang saya gunakan juga berasal dari karung yang berbeda-beda. Bisa jadi kandungan hara dalam tanah itu berbeda-beda pula. Hmmm…sebenarnya sesuatu yang menarik juga untuk diteliti lebih lanjut.

 

Setelah beberapa minggu pohon pare saya mulai belajar berbunga. Pohon pare ini memiliki dua jenis bunga. Bunga jantan dan bunga betina. Sayangnya yang muncul duluan dan jauh lebih banyak jumlahnya adalah bunga jantan. Jadi begitu mekar lalu gugur. Sedangkan bunga betina baru muncul belakangan dan jumlahnya sangat sedikit.
Walaupun begitu saya tetap senang. Karena pilar-pilar kayu di halaman rumah saya menghijau oleh dedaunan dan penuh bunga kecil-kecil berwarna kuning.  Bunga terdiri atas 5 lembar mahkota dengan benang sari yang kelihatan membulat di tengahnya. Setiap pagi saya memandangi keindahannya dengan takjub. Tawon dan lebah juga mulsi datang berkunjung.

 

Bunga betina bentuknya berbeda dengan yang jantan. Ada bakal buah yang menggelembung di bawah mahkotanya. Bunga betina yang jumlahnya sedikit inu rupanya juga tidak selalu beruntung didatangi lebah pembantu penyerbukan. Jadi diantaranya cukup banyak juga yang gagal menjadi buah. Dan hanya segelintir yang sukses. Melihat fakta ini saya semakin mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi para petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.
Dapur hidup ini menjadi mirip laboratorium percobaan dimana anak anak bisa saya ajak belajar bersama untuk memahami lebih riil kehidupan tanaman dalam skala kecil dan membayangkannya jika kita menjalani kehidupan sebagai petan

i.

 

 

 

Sekarang mulai ada buah pare yang ukurannya cukup besar untuk bisa saya petik. Buahnya bergerigi berwarna hijau.
Benar kata tukang Trubus bahwa tanaman pare akan mulai bisa kita panen di umur sekitar 3 bulan.

Advertisements

Coccinia, Si Timun Padang Penurun Gula Darah.

Standard

CocciniaSuatu ketika saya melihat sejenis tanaman merambat di pagar perumahan di belakang rumah saya.  Tanaman itu memiliki daun yang bentuknya seperti daun labu mini. Batangnya merambat dan memiki sulur yang benar-benar membuatnya semakin mirip dengan labu siam. Bunganya berwarna putih bermahkota 5 lembar – serupa dengan bunga labu parang – namun warnanya putih bukan kuning.

Yang menarik adalah buahnya. Bentuknya mirip mentimun, kecil-kecil berwarna hijau dengan garis-garis memanjang berwarna putih.  Namun disebelahnya saya juga melihat  buahnya yang matang berwarna merah menyala, Menarik sekali warnanya. Beberapa buah yang matang terlihat terbuka memperlihatkan daging buahnya yang merah merekah dan biji-bijinya. Mirip buah pare merekah yang merah. Mungkin rasanya manis juga seperti pare matang. Barangkali buah itu pada dimakanin burung saking manisnya.

Coccinia 1Saya pikir ini tentunya salah satu anggota keluarga mentimun (Cucurbitaceae). Barangkali sejenis pare liar. Saya ingin mencoba mencicipi buahnya. Kelihatan menarik. Tapi karena takut beracun,maka saya mengurungkan niat saya untuk mencicipi.

Karena tidak tahu dan penasaran, saya mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar, barangkali ada yang tahu tanaman apa itu. Ternyata tidak ada seorangpun yang tahu. Saya coba  search di Google, namun karena tidak tahu kata kuncinya, susah juga mencarinya. Akhirnya saya lupa akan buah itu.

Beberapa bulan kemudian,ketika saya sedang memasuki sebuah supermarket di India, saya melihat buah ini dipajang di bagian sayur-mayur. Dan melihat nama Coccinia disebut sebagai namanya. Ooh..jadi namanya Coccinia ya. Dan rupanya memang sejenis sayuran. Jadi tidak beracun, seperti sangkaan saya selama ini.

Coccinia

Minggu yang lalu ketika saya bermain ke kali, saya mencoba mencari-cari tanaman itu kembali. Barangkali masih ada.  Awalnya saya tidak menemukannya. Namun ketika saya sedang memotret kupu-kupu yang hinggap di bunga bougenville, saya melihat tanaman itu kembali. Batangnya melilit batang Bougenville.  Ada beberapa buahnya menggelayut di sana. Beberapa ada juga yang matang. Saya memetik beberapa buah. Mencicipi yang matang – rasanya manis.  Yang muda akan saya masak jadikan sayur.

Dengan berbekal sedikit pengetahuan bahwa tanaman itu bernama Coccinia, akhirnya saya mulai searching di Google.  Coccinia grandis atau disebut dengan Ivy Gourd dalam bahasa Inggrisnya.  Dalam bahasa Indianya disebut dengan Tandora. Ternyata tanaman ini bukanlah tanaman asing di Indonesia. Memang sejenis sayuran. Walah..rupanya cuma saya saja yang tidak tahu. Ada yang menyebut namanya  dengan nama buah Papasan, buah Kemarong atau ada juga yang menyebut dengan nama Timun Padang. Coccinia grandis, kaya akan beta carotene. Dan hebatnya, nenek moyang kita sudah mengetahui bahwa tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk menurunkan gula darah.

Tumis Buah Papasan

Saya membaca beberapa rtikel ilmiah mengenai buah ini dan  merasa sangat takjub.  Banyak sekali efek farmakology yang dimilikinya, antara lain:

1. Efek Antibakterial.Ekstrak dari daun dan batang tanaman ini, rupanya efektif terhadap baik bakteri gram positive (seperti bakteri Bacillus cereus, Corynebacterium diphteria, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes) maupun gram negative (Salmonella typhi, Eschericia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Proteus myrabillis, dan Shigella boydii).

2. Efek Hepato-protective. Tanaman ini juga memberikan efek perlindungan yang sangat baik terhadap hati. Terbukti dari penelitian yang dilakukan cukup efektif menurunkan level SGOT

3. Efek Antidiabetik – penurun gula darah. Juice dari akar dan daunnya banyak digunakan untuk pengobatan diabetes. Daunnya dimanfaatkan juga untuk pengobatan koreng pada kulit. Juga dipergunakan untuk pengobatan Gonorrhea. Ekstrak tanaman ini mempunyai efek  hypoglycaemic dan antihyperglycaemic. Berperanan dalam mengatur kadar gula darah.  Kandungannya menghambat enzyme glucose -6- phosphate.

Buah papasan

4. Anti pyretic – Tanaman ini juga digunakan untuk obat demam.

5. Antelmenthic & larvicidal  – obat cacing & pengobatan terhadap larva.

6. Anti inflamatory – untuk mengatasi peradangan.

7. Analgesic .- pengurang rasa sakit.

Bagian yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan adalah daun dan akarnya. Sayapun mencoba tumis buah papasan alias coccinia ini. Dan  ternyata rasanya enak sekali.  Segar dan sedikit ada rasa manis asemnya. Sekarang saya tidak sabar menunggu buah liar ini menjadi tua untuk saya semai kembali bijinya.

References:

1. http://www.pharmacophorejournal.com/May-June2012-article3.pdf

2.http://www.diabetes.org/news-research/research/access-diabetes-research/kuriyan-coccinia-cordifolia-and-diabetic-patients.html

3. http://www.apjtb.com/zz/2011s2/34.pdf

Loofah, Sayuran Dari Pinggir Kali.

Standard

Masih cerita tentang  dunia pinggir kali. Berharap tidak bosan membacanya.

Buah Oyong.Pinggir kali merupakan tempat yang terbaik di dunia mungkin bagi puluhan jenis  mahluk hidup.  Mulai dari belalang, capung, kunang-kunang, kupu-kupu, burung, kadal, ular, biawak, bebek dan sebagainya.  Pinggir kali merupakan tempat terdapatnya sumber makanan yang berlimpah. Namun sebenarnya, pinggiran kali bukan hanya memiliki sumber makanan bagi hewan liar saja, beberapa tanaman liar yang tumbuh di sana juga sebenarnya bisa dimanfaatkan manusia untuk dimakan. Diantaranya yang saya perhatikan adalah pare liar, pucuk pepaya, biji petai cina, markisa dan ada satu lagi yang cukup menarik adalah sejenis buah Oyong  liar / gambas  yang disebut Loofah tumbuh tidak jauh dari belakang rumah saya.

Awalnya induk  tanaman Oyong  ini tumbuh di halaman belakang tempat saya menjemur pakaian. Batangnya merambat di dinding hingga ke kali . Tak pernah dirawat namun sangat subur.  Tapi buahnya jarang dimanfaatkan. Kebanyakan terbuang percuma begitu saja. Kadang-kadang  ada tukang arit rumput yang meminta  sebuah dua buah, tapi karena banyak jumlahnya, kebanyakan buahnya tumbuh  besar lalu matang dan kering sendiri. Kadang-kadang menjadi tempat tinggal serangga.  Tanaman itu kemudian terpotong oleh mesin pemotong rumput dan mati saat kami membersihkan halaman belakang & tempat jemuran.  Rupanya dari bijinya yang terbuang itu tumbuh lagi anaknya di pinggir kali.  Menjalar liar di sana dan lagi-lagi terbengkalai. Tak ada orang yang memelihara maupun memanfaatkan buahnya. Padahal kalau dipikir-pikir buahnya enak juga dimasak sup ataupun ditumis. Selain itu, secara traditional, buah ini juga dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit.

Oyong liar (Luffa cylindrica) atau yang disebut juga dengan Loofah (Chinese Okra, Vietnamese gourd) merupakan salah satu anggota keluarga pohon Timun (Cucurbitaceae).  Sangat serupa dengan Oyong  bersudut (Okra) yang umum kita temukan sehari-hari di tukang sayur.  Hanya yang ini bentuknya bulat silindris, sedangkan yang di tukang sayur bentuknya bersudut.  Namun keduanya sama-sama bisa dimakan. Dan kedua-duanya sama rasanya.  Enak. Tidak ada bedanya.  “Bisa dimakan?”. tanya anak saya.  Saya mengangguk. Anak saya melihat saya dengan pandangan tidak percaya.  “Mari kita coba !” ajak saya.

Bunganya berwarna kuning terang, dengan lima kelopak mahkota bunga. Muncul dari tangkai di mana biasanya terdapat beberapa kuntum calon bunga.  Saya melihat beberapa ekor kumbang terbang dan hinggap di bunga-bunga itu. Suaranya mendengung, memberi kehangatan pada pagi. Bentuk daunnya sama dengan bentuk daun labu siam pada umumnya, yakni berbentuk trisula tumpul. Batangnya juga merambat dan bersulur. Ada banyak sekali buah yang bergelantungan.

Lalu saya memetik tiga buah Oyong yang masih muda dan hijau. Oyong jenis ini paling enak dimasak saat masih muda, karena jika terlalu tua buahnya sudah keburu berserat dan keras.  Di beberapa tempat seratnya malah sengaja diambil untuk menggosok badan saat mandi.

Sejuta Inspirasi Dari Sulur.

Standard

Bagi seorang pekerja seni, mencari inspirasi, mendapatkannya dan mengaplikasikannya pada karya seninya adalah sebuah rutinitas. Inspirasi bisa datang darimana-mana. Dan tak bisa dipungkiri, inspirasi terbaik selalu datang dari alam. Alam telah menyediakan pattern-pattern yang mempesona di setiap hal yang kita temukan. Pada  biji bunga matahari, pada bunga brokoli, daun pakis muda yang bergulung, pada indahnya nyanyian burung dan sebagainya. Semuanya bisa kita nikmati keidahannya secara langsung, ataupun kita ambil inspirasinya untuk kita aplikasikan kembali ke dalam seni manusia. Jejak mahakarya Sang Seniman Agung, pencipta Alam Semesta ini. Read the rest of this entry