Tag Archives: Culture

Yam Seng Dalam Pernikahan Adat Cantonese.

Standard

Saya baru pertama kalinya menghadiri pernikahan adat Cantonese. Ini terjadi beberapa hari yang lalu, di mana kebetulan seorang teman menikah dan saya diundang datang ke pestanya di sebuah restaurant di Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia.

Awalnya saya menyangka pesta ini biasa saja , yang isinya makan-makan dan hiburan biasa. Tapi kemudian ada yang menarik dan unik serta belum pernah saya lihat dalam pesta pesta pernikahan yang pernah saya hadiri, di mana MC meminta kita untuk melakukan Yam Seng. Yakni bersulang dan meneriakkan kata “Yaaaaaaaaaaaaaaam” dan ” Seng” sebanyak 3 x.

Setelah itu kedua pemgantin mendatangi meja undangan satu per satu dan melakukan Yam Seng lagi masing masing sebanyak 3x dan berkompetisi kencang kencangan dan panjang panjangan seruannya. Nah…kebayang nggak jika di restaurant itu ada 50 meja (saya tidak tahu persis berapa jumlahnya, bisa jadi lebih dari 50 meja) dan masing masing meja terdiri atas 10 orang…terbayanglah ya, bagaimana ramenya. Ha ha… seru juga.

Karena unik banget, maka sayapun bertanya itu acara apa. Rupanya Yam Seng adalah adat Cantonese yang umum dilakukan untuk mendoakan kebahagiaan penganten, agar terus langgeng dan cepat punya momongan.

Yam Seng biasanya dilakukan dengan meneriakkan kata “Yaaaaam” sepanjang panjangnya. Lalu ditutup dengan ” seng” yang pendek. Dilakukan 3 x dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mendoakan kebahagiaan pengantin agar langgeng terus hingga akhir hayat.

2. Mendoakan pengantin agar cepat punya anak.

3. Ucapan terimakasih dan mendoakan tamu- tamu undangan yang hadir agar juga selalu bahagia dan sukses.

Sungguh budaya yang sangat baik. Karena baru kali ini saya mendengar pihak tuan rumah menyelipkan doa untuk tamu undangan. Biasanya paling ucapan terimakasih biasa, bukan doa khusus seperti itu. Biasanya doanya hanya untuk pengantin saja.

Waaah… luarbiasa ya.

Selamat Hari Nyepi!.

Standard

Seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana cara orang Bali me”raya”kan Nyepi?. Kan katanya Nyepi ?. Terus gimana perayaannya?. Ada kue kue atau makanan enak nggak di rumahnya?. Saya tertawa.

Iya betul. Hari Nyepi sesuai dengan namanya memang tidak ada perayaan dalam artian pesta pora raya penuh acara, tidak ada makanan melimpah, pakaian baru dan suasana gemerlap, seperti hari raya pada umumnya. Apalagi kembang api. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya sepi. Kesunyian. Setiap orang berusaha menyepikan diri. Berusaha membawa pikirannya ke dalam dirinya masing -masing, sehingga yang ada hanyalah kesunyian. Sungguh tidak ada perayaan.

Walaupun tidak semua orang melakukannya dengan penuh, pada umumnya warga Bali melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu melakukan tapa brata tidak melakukan 4 hal ini, sejak jam 6 pagi hingga jam 6 pagi keesokan harinya. Apa saja?

Pertama adalah Amati Geni, alias tidak menyalakan api maupun cahaya. Umumnya orang tidak masak, tidak menyalakan kompor. Tidak juga menyalakan lampu/ listrik di malam hari. Sehingga malam hari biasanya gelap gulita.

Kedua adalah Amati Karya, alias tidak bekerja. Orang orang beristirahat total. Tidak kerja kantoran, dan juga tidak msngerjakan pekerjaan lainnya. Tidak menyapu, tidak mengepel, tidak nemasak, tidak mencuci dan sebagainya.

Ketiga adalah Amati Lelungan, alias tidak bepergian. Orang orang umumnya tidak keluar rumah. Tidak berjalan kaki, tidak naik sepeda, motor, mobil dan sebagainya.

Keempat adalah Amati Lelanguan, alias tidak bersenang -senang. Misalnya tidak pesta pesta, tidak minum minuman keras, tidak menari nari dan sebagainya. Sebagian orang mungkin melakukan puasa penuh dari jam 6 pagi ke jam 6 pagi keesokan harinya. Sebagian mungkin melakukan puasa partial.

Karena tidak melakukan 4 hal yang disebut di atas, dengan sendirinya orang orang akan terarah untuk diam. Hening. Kosong.

Dan hal terbaik yang mungkin dilakukan orang saat terdiam adalah merenungkan diri. Entah mengingat ingat dan mengevaluasi diri, entah melakukan perjalanan pikiran ke dalam diri sendiri, memikirkan masa depan diri dan sebagainya. Dalam keheningan dan kesunyian, pemahaman tentang diri, sekitar dan semesta akan sangat mungkin tergali. Dan hanya dalam kekosongan, kita mungkin mengisi ulang kembali jiwa kita agar lebih baik lagi ke depannya.

Nah… karena hal ini lebih banyak merupakan sebuah ajakan ketimbang sebuah keharusan, dalam kenyataannya masyarakat melakukannya sedapat atau sekuat yang bisa dilakukan tanpa unsur pemaksaan. Jika sanggup ya lakukan, jika tidak yaaa sudah.

Misalnya jika kebetulan di rumah itu ada bayi atau anak kecil, dan sang ibu merasa butuh lampu untuk mengurus bayinya, atau anaknya sangat takut kegelapan. Maka mungkin saja di rumah itu tidak semua ruangan dimatikan lampunya. Mungkin ada sebuah ruangan yang dipakai bayi atau anak itu, listrik tetap dinyalakan seperti biasa. Tetapi untuk menghormati yang lain, ruangan itu ditutup rapat, jendela atau kisi kisi ditutup dengan koran atau kain agar cahaya tidak keluar.

Atau misalnya jika ada anggota keluarga yg sedang sakit, yang misalnya perlu makan makanan yang dimasak baru, maka keluarga itu mungkin masak untuk perawatan sang sakit.

Atau misalnya karena keadaan yang sangat mendesak sekali atau yang bersifat darurat, satu dua orang mungkin ada perlu keluar rumah tidak masalah dan tinggal melapor pada pecalang (petugas adat). Tentu diijinkan sepanjang jelas alasannya.

Fasilitas umum yang penting seperti Rumah Sakit umumnya tetap beraktifitas sebagai mana biasa.

Begitulah kurang lebih bagaimana orang Bali menyepi di hari raya Nyepi.

Selamat Nyepi teman teman !.

Ondel-Ondelku Ke Mana?.

Standard

Suatu malam sepulang kantor saya dan seorang teman memutuskan untuk makan di sebuah resto di Melia Walk. Kami parkir. Dari kejauhan saya melihat Ondel-ondel sedang beraksi di depan sebuah restaurant lain agak jauh di sana. Musik Betawi yang mengiringinya terdengar sayup-sayup. Saya hanya melirik sekilas karena jalanan agak gelap, lalu masuk ke dalam resto. Kami pun memesan makanan dan menunggu pesanan dihidangkan.

Tak seberapa lama saya mendengar suara musik Betawi semakin keras. Pertanda bahwa kelompok Ondel-Ondel yang tadi menari di kejauhan itu sekarang semakin mendekat. Benar saja. Terlihat seorang pemuda dari kelompok Ondel-ondel itu masuk ke dalam resto dan mengedarkan plastik untuk menampung sumbangan.

Saya berniat untuk menyumbang bagi pemain Ondel-Ondel ini. Alasannya karena saya adalah salah seorang pencinta Kesenian Tradisional Nusantara. Saya ingin melihat Ondel-ondel beraksi dan menari. Beberapa saat saya menunggu dan suara musik makin bertalu-talu. Tetapi Ondel-ondelnya tiada muncul. “Lho?! Kemana Ondel-ondelnya?” Tanya saya kepada pria peminta sumbangan. Pria itu kelihatan bingung. Matanya mencari-cari sang Ondel-ondel yang tak muncul muncul. Padahal suara musik sudah sedemikian kencang. Ditunggu-tunggu, ternyata Ondel-ondel tiada kunjung datang.

Saya melemparkan pandangan saya keluar. Astaga!!! Ternyata Ondel-ondelnya berjalan sendiri nun jauh di seberang sana!. Terpisah jarak lebih dari 300 meter dengan pemusiknya. Aduuuuh… ini mah judulnya nyaplir. Ondel-ondelnya kemana…, tukang musiknya ke manaūü§£ūü§£ūü§£. Sungguh tidak sinkron sama sekali.

Melihat saya serius ingin melihat pertunjukan Ondel-ondel, pria itu tampak malu lalu menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya sambil tersenyum cengengesan. Mimiknya sangat lucu mirip topeng anonymous.

Ya sudahlah. Walau tak berhasil menonton pertunjukan Ondel-ondel, saya tetap mengulurkan sejumlah sumbangan juga. Pemain musik dan pengumpul sumbangan Ondel -ondel itupun pergi.

Tak berapa lama hidanganpun keluar. Saya mulai makan. Saat itu tiba tiba suara musik Jawa terdengar mendekat. Seorang pria dengan kostum traditional masuk dan memperagakan tariannya. Saya tidak tahu persis tari apa. Kelihatannya seperti tarian Ngremo – Jawa Timuran. Sang penari menari dengan lincah dan gemulai. Diiringi musik traditional yang walaupun sedikit mendayu tetapi tetap bertenaga. Mereka cuma berdua. Penari dan pemain musik. Kelihatan sangat harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Lalu sayapun merogoh sejumlah uang dan memberikan sumbangan seikhlas saya.

Seni Traditional Yang Kehilangan Panggung.

Melihat dua pertunjukan traditional ini berturut-turut, entah mengapa saya merasa cengeng. Sangat sedih. Memikirkan bahwa betapa Seni Traditional kita pada kenyataannya kini telah kehilangan panggung. Sementara generasi sekarang lebih menghargai seni asing, entah itu hip hop maupun k-pop lebih membuat mereka histeris dan bangga.

Tiada panggung yang bisa dan mau menampung mereka lagi. Hingga terpaksa menjadikan jalanan terbuka sebagai panggungnya. Para seniman traditional harus berjalan berkilo-kilo untuk mengais rejeki.

Pembinaan dan Apresiasi.

Selain itu, karena untuk menghidupi diri sendiri saja sudah sangat sulit, kelihatan sekali jika para seniman jalanan ini tidak ada yang membina. Tidak punya pembina. Mereka berjalan sendiri sendiri. Tidak ada yang mengarahkan. Tidak ada yang nengajarkan bagaimana berkesenian secara profesional. Sebagai contoh misalnya kedua kelompok kesenian yang baru saja saya tonton.

Bagaimana bisa dikatakan professional jika Ondel-ondelnya jalan sendiri dan menghilang jauuuh… sementara musiknya di sini dan meminta upah. Lha? Apanya yang harus dikasih upah, wong Ondel-ondelnya kabur?. Yang terjadi akhirnya masyarakat menyumbang karena rasa belas kasihan. Bukan karena mengapresiasi keindahan seninya. Dengan cara ini, baik seniman maupun masyarakat telah mendorong Seni Traditional ke dalam kegiatan “MENGEMIS lewat seni” , dan bukan “berkesenian” dengan baik.

Demikian juga jika kita perhatikan para pengamen di jalanan Jakarta. Mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan, tidak untuk menunjukkan kemampuannya berkarya seni, tetapi untuk mengemis. Karena baik sang seniman maupun masyarakat sama sama tidak menunggu sebuah lagu dinyanyikan dengan indah hingga selesai baru menerima upah sebagai bentuk apresiasi. Tetapi baru seperempat jalan, atau bahkan baru mulai sudah diburu buru selesai, diusir, atau cepat cepat dikasih uang agar segera pergi. Seniman diperlakukan tak bedanya dengan pengemis.

Apakah patra pengamen itu atau sang Ondel-ondel itu tahu apa artinya berkesenian secara pofessional?.

Syukurnya di beberapa daerah, seperti misalnya di Yogyakarta, Boyolali, dan sekitarnya para pengamen masih terlihat sangat profesional. Bermusik dan bernyanyi dengan tenang dan indah. Tidak tergiur uang atau terprovokasi untuk segera menghentikan musiknya oleh apa yang terjadi di sekitarnya. Uang hanya diterima di akhir pertunjukan sebagai apresiasi atas apa yang telah mereka persembahkan dengan indah. Nah…itu berkesenian dengan lebih profesional.

Saya berharap pemerintah terutama department terkait membina para seniman jalanan ini dengan lebih baik. Agar Kesenian traditional tetap mendapatkan tempat yang penting di hati masyarakat.

Nah…kalau untuk yang ini saya bisa berdoa dengan style-nya Neno Warisman ūüėÄ

Ya Tuhan, mohon bantu kami ikut melestarikan Kesenian Traditional kami. karena jika tidak, maka kami khawatir kesenian traditional kami ini akan semakin punah “.

Games Dalam Adat Pernikahan Punjabi.

Standard

Tinggal sebentar dengan keluarga Karan dan melihat keseluruhan upacara pernikahan adat Punjabi, saya merasa bahwa orang-orang Punjabi secara umum adalah orang-orang yang bahagia dan gembira. Seluruh rangkaian upacara diisi dengan kegembiraan. Banyak dancing dan games.

Salah satu acara gembira penuh gelak tawa yang saya lihat adalah Games yang diselenggarakan esok harinya setelah upacara di temple. Keluarga mengadakan acara “permainan” bagi suami -istri yang sarat dengan makna dan kegembiraan.

Keluarga besar, orang tua, om, tante, sepupu, ipar, keponakan semua berkumpul di ruang tengah. Permainan dipimpin oleh tetua keluarga dan diikuti oleh mempelai.

Ada 3 jenis permainan yang saya lihat.

Mengurai Ikatan Gelang Benang.

Permainan pertama adalah saling membuka gelang benang di tangan masing-masing mempelai. Kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya tidak semudah yang terlihat. Perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengurai ikatan benang yang kuat dan rumit itu.

Permainan ini mengandung pesan bahwa apapun permasalahan yang dihadapi dalan rumah tangga hendaknya diuraikan dengan baik . Bagus juga ya.

Mencari Cincin Di Air Susu.

Permainan yang ke dua adalah lomba mencari cincin dalam keruhnya air susu. Tetua keluarga mengisi baskom logam dengan bunga bunga dan air lalu menambahkan susu ke dalamnya. Sehingga air menjadi keruh dan sukar untuk melihat ada apa di dasar baskom itu.

Cincin dan saya pikir beberapa uang logam juga dimasukkan ke dalam baskom lalu ke dua mempelai diajak berlomba cepat-cepatan menemukan cincin yang dimaksud.

Kantung Uang

Permainan yang ke tiga adalah permainan mengambil uang. Di permainan ini, ayah Karan yang memimpin. Sekantung uang diletakan di hadapan mempelai sebagai simbol dari hasil usaha suami.

Mempelai wanita diminta untuk merogoh kantung uang dan mengambil sebanyak yang bisa digenggam tangannya. Lalu uang itu diberikan keseluruhannya kepada mempelai wanita. Ini adalah simbol bahwa pria bekerja untuk menafkahi istrinya dan istri berkewajiban mengelola dengan baik setiap rejeki yang diberikan suaminya

Uang dibagi menjadi 4 bagian. Seperempatnya diberikan kepada keluarga yang lebih muda sebagai simbol perhatian dan support.

Saya rasa mungkin sebenarnya ada lebih banyak lagi jenis games pernikahan yang lain, tetapi 3 jenis games ini sungguh sangat seru dan menghibur.

Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Standard
Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Ini adalah saat yang ditunggu -tunggu. Pernikahan sahabat saya Karanjit Singh dengan Shela. Mengambil tempat di sebuah Sikh Temple yang berlokasi di kota kecil Pathankot, tidak jauh dari Amritsar di wilayah Punjab. Pasti pada penasaran dong ya, seperti apa upacara pernikahan adat India di Sikh Temple?.

Bentuk bangunan Temple ini sekilas tampak serupa dengan bangunan masjid. Terutama karena kubah dan lengkung pintu masuknya. Tak heran karena kota Pathankot ini tidak jauh letaknya dengan perbatasan Pakistan, negara yang kebetulan memang kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Padahal jika kita dalami lebih jauh ternyata arsitektur seperti ini bukanlah berkaitan dengan agana tertentu, tetapi lebih berkaitan dengan wilayah tertentu.

Walaupun tampak kecil dari luar, tetapi di dalamnya ternyata cukup lebar juga.

Saya masuk ke Temple ini sebelum pengantin datang. Mencuci tangan, melepas sepatu dan memastikan kepala dan rambut saya tertutup dengan baik. Tentunya untuk menghargai umat Sikh yang bersembahyang di tempat itu. Pasalnya semua Sikh Temple menetapkan peraturan bagi setiap orang yang memasuki wilayah Temple diwajibkan untuk menutup kepala dan rambutnya, terlepas dari apakah ia pria ataupun wanita. Pokoknya sama sama harus menutup kepalanya.

Saya memasuki ruang utama Temple itu dan mengikuti tata cara yang seharusnya. Memberi penghormatan dengan mencakupkan ke dua belah tangan, lalu sujud dan mengakhirinya dengan nencakupkan kedua belah tangan lagi.

Sayapun menepi dan mengambil posisi duduk di sayap sebelah kanan bersama para wanita dari keluarga Karan. Sementara rombongan pria duduk berkumpul di sayap bangunan sebelah kiri.

Dua pemain musik tradisional tabla masuk. Mereka mengambil posisi di depan saya. Merapikan duduknya dan mulai bernyanyi dengan diiringi alunan musik yang ceria.

Lalu kedua pengantin memasuki ruangan. Melakukan upacara penghormatan yang sama lalu bersimpuh di depan altar yang isinya kitab suci.

Pemuka agama melantunkan doa doa yang panjang dengan irama dan suara yang sangat merdu. Tak sepotongpun saya mengerti artinya. Tetapi saya pikir pastinya berisi tentang permohonan agar kedua mempelai diberkahi dengan kebahagiaan yang langgeng sampai akhir hayat.

Saya disarankan duduk di belakang pengantin. Sayapun bergeser posisi. Pendeta kembali melantunkan doa doa yang panjang dan merdu. Saya ikut mendoakan kebahagiaan buat kedua pengantin. Semoga langgeng seterusnya.

Setelah beberapa saat, pemuka agama memberikan aba-aba kepada pengantin untuk berkeliling altar yang isinya kitab suci.

Kedua pengantin pun bangkit dari duduknya dan berjalan berkeliling. Lalu menghadap kembali ke altar dan duduk serta memberikan penghormatan kembali.

Pendeta melantunkan doa doa. Lalu menyuruh pengantin untuk bangun dan berjalan mengelilingi kitab suci lagi.

Demikian seterusnya hingga empat kali berkeliling.

Pemuka agama kembali dengan doa dan wejangan yang saya pikir isinya adalah nasihat- nasihat tentang bagaimana berumah tangga yang baik. Dan pernikahanpun disyahkan.

Upacara lalu ditutup dengan pembagian sejenis penganan yang manis mirip dodol kepada hadirin semua sebagai tanda kehidupan yang manis.

Hadirin berdiri dan memberi selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Selamat nenempuh hidup baru ya Karan dan Shela!. Semoga langgeng dan bahagia sampai seterusnya ūüėėūüėėūüėė

Lokatmala, Komunitas Budaya Dan Batik Sukabumi.

Standard

Fonna Melania & AndriHari itu saya sungguh mujur. Gara-gara mampir ke sebuah rumah tetangga yang sedang panen buah pala di halamannya, mata saya tertarik pada sebuah spanduk kecil bertuliskan “Komunitas Iket Sunda”. Sejenak saya berpikir tentang ikat kepala yang dipakai secara traditional di wilayah priangan. Selain itu saya juga membaca kata “Lokatmala” di depan rumah ini tadi. Aha! Naluri saya mengatakan ada banyak hal yang akan menarik perhatian saya di rumah itu.

Sang tuan rumah yang baru saya kenal saat itu juga mempersilakan saya masuk dengan sangat ramah. Sayapun masuk dan clangak clinguk melihat baju-baju batik di pajang di ruang depannya. Lalu ada seperangkat gamelan Sunda dan kain -kain batik yang baru jadi ataupun setengah jadi. Mencoba menebak tempat apakah gerangan ini? Mirip studio. Saya diajak ke ruang tengah. Rupanya ada orang yang sedang membatik. Terus terang saya baru tahu kalau di Sukabumi ada orang yang membuat  batik. Saya pikir orang membatik hanya di Pekalongan dan Cirebon.

Candramawat, Kucing Keren Milik Nini Anteh.

CandramawatDi ruang tengah itu dibentang sebuah batik tulis yang sangat menarik sekali. Berwarna hitam dengan motif berwarna krem dan kekuningan. Terlihat sangat elegant.”Motif apa ini?” tanya saya. Sang Tuan dan Nyonya rumah yang memperkenalkan namanya sebagai Andri dan Fonna Melania bercerita kepada saya bahwa batik itu mengangkat cerita tentang Candramawat, kucing kesayangan Nini Anteh.

Bagi yang belum tahu cerita rakyat Sunda yang popular di Sukabumi ini, bisa saya ringkas sedikit, bahwa Nyi Anteh adalah seorang dayang-dayang kerajaan yang memiliki kecantikan luarbiasa. Ia mengabdi kepada puteri raja yang sangat disayangi dan dihormatinya. Namun karena kecantikannya itu, Sang Pangeran lebih tertarik dan jatuh cinta kepada Nyi Anteh ketimbang kepada Sang Puteri. Untuk menghindari masalah dan agar tidak menyakiti hati Sang Puteri, akhirnya Nyi Anteh berdoa agar bisa ke bulan. Doanya didengar, akhirnya Nyi Anteh tinggal di bulan bersama kucing kesayangannya yang bernama Candramawat. Menurut dongeng ini, itulah sebabnya mengapa di saat-saat tertentu jika kita melihat bulan, kita bisa melihat bayangan Nini Anteh dan kucingnya di permukaan bulan.  Hmm..cerita yang sangat menarik.

Sang senimanpun menciptakan motif kucing Candramawat ini dari cerita rakyat itu.

Leungli, Sahabat Si Puteri Rangrang.

LeungliSaya melihat-lihat lagi karya batik yang lain. Ada batik tulis dengan motif ikan yang sangat indah dan menarik. Saya lalu bertanya apakah ini ada ceritanya juga? Ya. Fonna mengangguk dan menjelaskan bahwa batik itupun diangkat dari cerita rakyat, yakni tentang seekor ikan yang bernama Leungli. Juga cerita rakyat Sunda yang sangat populer di Sukabumi. Tentu saja saya tertarik untuk mendengar.

Ringkas ceritanya begini; pada jaman dulu ada 7 orang bersaudara. Yang bungsu bernama Puteri Rangrang. Puteri bungsu ini sangat diirikan dan dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Satu-satunya sahabatnya adalah seekor ikan mas bernama Leungli. Ikan ini diselamatkan olehnya dan dipeliharanya sejak kecil hingga besar. Sedemikian indahnya persahabatan antara Leungli dengan Puteri Rangrang, bahkan jika ingin memanggilnya, Puteri Rangrang selalu melantunkan lagu khusus.

Suatu hari ketika Puteri Rangrang sedang pergi, kakak-kakaknya yang jahat mengambil ikan itu dan sengaja memasaknya untuk menyakiti hati Puteri Rangrang. Merekapun berpestapora dan membuang tulang-tulang ikan itu. Puteri Rangrang mencari-cari Leungli dan tak berhasil menemukannya. Lalu sadar kalau Leungli sudah dimakan oleh kakak-kakaknya. Akhirnya dengan sangat sedih ia mengumpulkan tulang-tulang ikan itu dan menguburnya baik-baik. Dari kuburan ikan itu, tumbuhlah sebatang pohon yang berbuah emas permata dan berlian. Hal ini terdengar oleh Pangeran kerajaan yang kemudian menemui Puteri Rangrang. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.

Leungli  dan air adalah dua element yang terexpressi di batik itu. Sungguh indah. Saya terpesona oleh kepiawaian Fonna dan Andri dalam mengangkat elemen-elemen sastra Sunda ke dalam design batiknya.

Melihat-lihat motif batik itu, dan mendengarkan apa yang dituturkan oleh pasangan seniman itu, barulah saya sadar. Bahwa pasangan ini bukan hanya sekedar menambah penghasilan dengan menciptakan kreasi batik, namun jauh di atas itu mereka adalah seniman-seniman yang bangga akan budaya daerahnya sendiri dan bekerja keras berupaya mengangkat dan menghidupkan kembali budayanya yang makin lama makin hilang tergerus perkembangan jaman.

GamelanBersama-sama teman seniman yang lain mereka mendirikan komunitas “Lokatmala” yang memiliki arti bunga Edelweiss, bunga abadi dari ¬†Gunung Gede-Pangrango. Selain itu Lokatmala bisa juga diartikan sebagai tasbih penyucian. Di komunitas ini mereka tidak hanya mengerjakan batik dengan motif khas Sukabumi, namun juga menghidupkan kembali budaya Sunda Sukabumi ¬†jaman dulu melalui kesenian tari dan musik traditional. Mereka juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk seniman lain atau siapa saja yang ingin bersama-sama mengajar atau berlatih menari Sunda. Ooh..pantes saja saya melihat perangkat gamelan di sana.

Mereka membatik dengan tujuan untuk mengangkat budaya daerah dan juga sekaligus untuk membantu menghidupi kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka menumbuhkan kembali rasa cinta kepada kebudayaan traditional yang menjadi warisan leluhur. Selain itu mereka juga tergabung dalam Komunitas Iket Sunda yang peduli dan berusaha melestarikan pemakaian iket kepala warisan leluhur itu.

Budaya dan Kesenian daerah adalah hal yang memiliki peranan penting dalam mempertahankan sebuah masyarakat bahkan negara” pendapat pasangan itu. Saya tercenung mendengarnya. Tapi kemudian saya paham maksudnya. Kecintaan dan rasa kepemilikan masyarakat akan budaya dan kesenian daerahnya sendiri, akan membantu meningkatkan rasa kebanggaan sebagai bangsa. Masyarakat yang paham, cinta dan menjalankan budaya dan kesenian daerahnya sendiri adalah masyarakat yang sangat teguh dan tidak mudah diombang-ambingkan ataupun digerus oleh gelombang kebudayaan bangsa lain dan perkembangan jaman.

Lihatlah Jepang atau Korea! bagaimana mereka bisa beradaptasi atau bahkan memimpin perkembangan namun tetap membawa kebudayaannya sendiri. tetap cinta akan keseniannya sendiri. Mereka tidak tergoyahkan”. Ia memberi contoh. Saya mengangguk setuju. “Jangan sampai saking sibuknya dengan budaya Korea, kita sendiri lupa dengan budaya Sunda. Boleh belajar dan mengenal budaya lain. Itu perlu. Tapi pada akhirnya kita harus kembali kepada budaya kita sendiri. Hal ini hanya mungkin terjadi jika kita kenal, paham dan cinta terhadap budaya kita sendiri terlebih dahulu. Ibaratnya rumah – jika kita tidak tahu di mana rumah kita, kemana kita akan pulang?”.¬†

Leluhur kita mewariskan sedemikian banyaknya kearifan-kearifan dan kebiasaan yang baik. Sebaiknya kita kenali, kita ambil dan teruskan segala yang baik-baik milik kita sendiri itu sebelum kita mengenali dan memahami kearifan bangsa lain.

Wah..luarbiasa. Saya sangat salut pada mereka berdua.

Berbincang dengan pasangan yang terlihat sangat kompak ini sungguh sangat menyenangkan. Saya sangat beruntung bisa berkenalan dengan mereka.  Dua orang seniman yang mengabdikan dirinya untuk mengangkat budaya Sunda khususnya Sukabumi.

 

Menengok Sepintas Kesenian Rakyat Banyuwangi.

Standard

GandrungIni cerita tercecer dalam perjalanan saya ke Banyuwangi beberapa saat yang lalu. Setelah keluar dari Bandara Blimbing Sari dan melewati persawahan yang hijau penuh dengan populasi burung-burung sawah yang menarik perhatian saya, akhirnya saya memasuki kota Bayuwangi.  Hari masih pagi. Teman saya menawarkan pilihan apakah saya mau beristirahat dan sarapan pagi di Hotel sambil menunggu waktu, atau mau ikut dengannya menjemput beberapa orang teman  di Stasiun Kereta Api. Mereka baru datang dari kota-kota lain. Daripada istirahat dan ngopi-ngopi di Hotel, saya lebih memilih untuk ikut saja sambil melihat-lihat suasana.

Ketika kembali dari Stasiun kami melewati sebuah jalan yang sangat ramai. Banyak orang dan mobil parkir di sekitarnya. Terdengar suara musik traditional. Wah! Sangat kebetulan.Sayapun berhenti sejenak dan mendekati tempat keramaian itu. Rupanya ada Kesenian Jaranan, barangkali  dalam rangka memperingatai Hari ABRI.  Karena saya lihat ada banyak bapak-bapak dan ibu-ibu tentara ada di sekitar area itu dan juga duduk di bangku tamu undangan.

Ada seorang penari Gandrung sedang menari sambil bernyanyi. Saya sangat senang melihat liak liuk gerakan tarinya. Sang penari mengenakan kain merah dan selendang merah, dengan penutup dada berwarna hitam yang dihiasi ornamen etnik yang cantik.  Demikian juga mahkota kepalanya dihiasi dengan ornamen-ornamen. Ia terus menari dan menyanyi diiringi suara musik Banyuwangi yang terdengar unik di telinga saya. Kakinya selalu ditutupi dengan kaus kaki berwarna putih. Musiknya didominasi oleh suara gangsa, kendang, suling. Sangat  indah.

Ada banyak ragam Kesenian Banyuwangi.Sebagian diantaranya memiliki kemiripan dengan Kesenian Bali. Demikian pula musiknya. Sangat dinamik. Ada banyak unsur yang serupa. Barangkali karena memang bertetangga ya. Walaupun demikian banyak juga yang berbeda,sehingga saya menjadi sangat ingin tahu. Selain Gandrung yang baru saha habis beraksi, saya juga melihat ada Kesenian Barongan dengan beberapa jenis Barong.

 

 

Ketika saya sedang asyik menonton, tiba-tiba salah seorang Ibu Tentara itu mendekati saya dan memperkenalkan dirinya. Namanya Ibu Serma Dewi SH. Beliau mengajak saya ngobrol dengan ramah dan mempersilakan saya duduk di bangku undangan. Hah? tentu saja saya malu. Saya bukan siapa-siapa. Bukan undangan. Bukan tentara. Bukan pula pejabat. Saya hanya seorang rakyat yang kebetulan lewat dan tertarik mampir ingin mengetahui serta memotret-motret tentang Kesenian Banyuwangi ini.

Rupanya beliau ini adalah  Pembina Sanggar Kesenian Gempar Budoyo yang sedang manggung itu. Pantesan kok seragam pemain gamelannya loreng semua, mirip tentara. Ibu Dewi bercerita bahwa sebagai salah satu bentuk kemanunggalan ABRI dengan rakyat, mereka membina anak-anak susah dan kurang mampu agar menjadi lebih mandiri, termasuk dalam hal berkesenian. Dalam hal ini ABRI mewadahinya dalam bentuk Sanggar Kesenian. Wah..upaya yang sangat bagus dan mulia ya.  Saya merasa salut dengan upaya para Ibu dan bapak tentara ini membina rakyat yang  kurang mampu namun berbakat dalam kesenian. Kesenian Banyuwangi hidup di daerah asalnya sendiri. Tetap cemerlang di tengah bentuk kesenian tradisional yang memudar diserbu oleh perkembangan jaman yang membawa unsur-unsur peradaban lain.

Saya pikir, walau bagaimanapun gencarnya perubahan jaman dan kesenian asing  menginvasi sebuah kelompok masyarakat, namun saya sangat yakin Kesenian traditional itu akan tetap ada dan lestari, hanya  jika masyarakat pemiliknya tetap melakoninya.

Sebenarnya masih sangat ingin berdiri di situ dan menonton lebih banyak lagi.  Sayang, matahari sangat cepat naik.Sebentar lagihari menjadi siang. . Dan saya harus segera pamit karena harus segera menunaikan pekerjaan saya.

Belajar Menari Bali Kembali.

Standard

Latihan menari BaliSaya ¬†mengantarkan anak saya yang kecil untuk bermain di mall di¬† Bintaro. ¬†Sementara menunggu, ¬†saya mengobrol dengan si kakak. ¬†Suara gamelan Bali terdengar ¬†menyentak telinga. . Tergerak oleh rasa kangen akan kampung halaman, maka sayapun ¬†mendekat. ¬† Ada sebuah panggung kecil dengan dekorasi traditional Bali ¬†berdiri di tengah ruangan. Oooh…tempat kursus menari rupanya. Sanggar Dewata.

Seorang pria yang rupanya adalah Guru Tari di sana menyapa saya dengan senyum. ¬†Saya bertanya hal-hal ringan seputaran kegiatan kursus tari itu. Lalu menawarkan si kakak ¬†untuk belajar menari Bali. Anak saya melihat ke arah anak-anak perempuan yang belajar menari di sana lalu menggeleng. “Aku kan cowo, ma. Masak disuruh menari” elaknya. ¬†Saya lalu menjelaskan. “Di Bali, kesenian adalah milik semua orang. Semua orang menari. Mau laki atau perempuan, sama saja. Dan profesi penari traditional¬† merupakan profesi yang sangat dihargai” bujuk saya. Lalu saya menjelaskan bahwa ¬†ia bisa belajar tari¬† laki seperti Tari Baris, Tari Jauk atau Tari Topeng dan sebagainya. Jadi tidak harus belajar¬† tarian wanita. Kecuali jika memang nantinya mau jadi Guru Tari. Anak saya tetap tidak tertarik. Baiklah. Sayapun tidak mau memaksa.

Sambil ngobrol,  tiba-tiba saya merasa Guru Tari ini  mirip wajahnya dengan seorang teman saya.  Namanya Made *saya lupa persisnya Made siapa*. Seorang Guru Tari Bali juga,  saya kenal sekitar tahun 1995 di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat. Saat itu saya pindah dari Bali ke Jakarta.  Sambil bekerja, saya mengisi waktu luang saya dengan berlatih menari di sanggarnya itu.

Saya lalu menanyakan namanya ” Nama saya Made” katanya. ¬†Hmmm… “Made siapa?” tanya saya kembali. Masalahnya, Made adalah nama sejuta umat kalau di Bali. Tidak memberi makna apa-apa selain hanya nomor urut dalam keluarga.Nama saya juga Made. Sama dong.¬† “Made Sutedja” katanya. Oooh. Wah, masalah berikutnya…saya tidak ingat ¬†siapa nama lengkap Bli Made yang saya kenal dulu itu.

Lalu saya menanyakan di mana rumahnya di Bali. Ia menyebut sebuah tempat. Nah, persis!!!. Sama! Besar kemungkinan ia adalah Bli Made  teman lama saya dulu. Lalu saya mengingatkan tentang  diri saya dan Sanggar Tarinya di daerah Anggrek Cakra di Rawa Belong. Barulah ia ingat akan saya.  Tentu saja ia tidak bisa mengenali saya dengan mudah, mengingat perubahan fisik saya yang sudah terlalu jauh dalam rentang waktu nyaris 20 tahun. Wah.. senang sekali. Lalu ia menyarankan saya untuk menari lagi. Melatih badan kembali agar  berkeringat dan lebih sehat. Anggap saja olah raga!. O ya ..benar juga ya.

Kebetulan! Kebetulan banget ! Belakangan saya juga merasa kesehatan saya agak terganggu. Kelebihan berat badan dan mulai mengalami keluhan yang tidak menyenangkan. Saya berniat untuk merawat tubuh saya kembali . Mengatur pola makan dan berniat mau ikut fitness. Saya mau sehat.

Nah, sekarang muncul ide untuk menari lagi sebagai pengganti fitnes. Mungkin yang ini lebih menyenangkan buat saya.

Pertama,  Fitnes ataupun menari sama-sama membuat saya berkeringat. Bagus untuk  membuang sedikit demi sedikit lemak  di tubuh saya.

Kedua, menarikan  tarian  traditional Рartinya saya ikut melestarikan kesenian daerah Indonesia. Penting kan?.

Lalu yang ketiga,  menari memang salah satu hobby saya Рnah karena jika dasarnya memang hobby, jadi kita akan melakukannya dengan senang hati. Hidup saya akan lebih bahagia, ketimbang jika saya melakukan fitnes karena terpaksa. Benar tidak?

Dulu mama-mu ini penari,lho!. Sering nari di panggung” ¬†cerita Bli Made kepada anak saya. ¬†Anak saya heran. Tentu sulit baginya untuk membayangkan mamanya yang segendut ini dulunya pernah menari di panggung. Ia¬† ingin tahu lebih detail.

Ya. Dulu! ¬†Sebenarnya bukan penari profesional yang dibayar sih. Hanya penari amatiran. ¬†Tapi seperti halnya kebanyakan wanita di Bali, saya memang belajar menari dan mulai nenari di Pura-Pura/ panggung sejak umur 5 tahun. Karena wajib. Tentu saja tanpa bayaran. Tapi lebih bersifat “Ngayah” (mengabdi, menyumbangkan tarian untuk upacara atau untuk kepentingan masyarakat).

Latihan menari Bali 1 Guru  Tari pertama saya adalah almarhumah  Ni Ketut Sudiari, adik ibu saya yang memang terkenal sebagai penari yang bagus di jamannya.  Lalu Bapak saya mulai  mendatangkan  Guru Tari serius untuk mengajar kami anak-anaknya. Guru Tari saya itu  berasal dari  Tampaksiring, Gianyar Рbernama  I Wayan Gatri . Pak Wayan Gatri tinggal di rumah kami beberapa bulan untuk mengajar kami menari. Bapak Wayan Gatri ini juga merupakan menantu dari penari kawakan bapak  I Made Pasek Tempo, yang sangat terkenal di jamannya, bukan hanya di Bali namun  hingga ke Jerman.  Sangat kebetulan karena Pak Made Pasek Tempo ini masih satu klan dengan Bapak saya (keluarga Pasek Kayu Selem), maka Pak Made Pasek Tempo juga sering datang berkunjung ke rumah. Ssesekali ikut mengawasi kami berlatih menari. Mengenang itu semua,  saya jadi ingin menyampaikan hormat saya yang sebesar-besarnya kepada guru-guru saya itu  Рdimanapun kini beliau berada.

Mendengar itu, anak saya mulai percaya bahwa dulu saya memang pernah bisa menari. Sekarang? Apakah mama masih bisa menari? Yaah… sudah lupa lah. Wong namanya sudah nyaris 20 tahun tak pernah menari lagi.

Barangkali tahun 1995 itulah terakhir kali saya manggung. Kalau tidak salah ingat di Hotel Sahid. Entah acara apa.Saya lupa. ¬†Anak saya terkikik geli membayangkan bagaimana saya yang segendut ini nantinya akan menari di panggung. Lah…menari kan tidak harus untuk manggung! Menari untuk menjaga kesehatan kan bisa juga. ¬†Usia jangan dijadikan halangan. Yang penting tetap semangat!.

Saya lalu ikut nimbrung ke panggung kecil itu dan kembali belajar menari lagi. Dengan ditonton anak-anak saya. Lumayan melelahkan. Karena sekarang semua otot tubuh terpaksa bergerak. Jari kaki, jari tangan, otot betis, otot paha, dengkul, pantat, pinggang, dada, lengan, tangan, kepala, dagu dan bahkan hingga ke otot mata. Keringat sayapun mengucur seperti habis mandi. Semoga lebih sehat!

Cuci Mata: Motif Dan Trend Terkini Kain Songket Bali.

Standard

 

Kain Songket  Bali- benang perak dan emas 2Setelah kain Endek, jenis kain traditional lainnya yang sangat banyak penggunaannya dalam upacara traditional Bali adalah kain Songket. Walaupun mungkin tidak seterkenal kain Songket Palembang yang sangat mahsyur akan keindahannya itu, kain Songket Bali tetap menjadi tuan rumah yang disegani di tanah kelahirannya. Read the rest of this entry

Menonton Pertandingan Gong Kebyar Wanita Antar Desa di Kabupaten Bangli 2013.

Standard

Sekaha Gong Kebyar Giri Kusuma, Desa Pekraman Sulahan  Bangli.Sungguh sebuah kebetulan ketika hari Minggu, 26 Mei yang lalu saya pulang ke Bali, di lapangan Kabupaten Bangli yang berada persis di depan rumah saya, diselenggarakan pertandingan Gong Kebyar Wanita antar Desa dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Bangli yang ke 809. Ulang Tahun Kota Bangli sendiri seharusnya diperingati  setiap tanggal 10 Mei. Namun perayaan yang penuh suka cita rupanya dilaksanakan agak mundur guna mensukseskan Pilkada Bali minggu setelahnya. Karena kebetulan saya sedang di rumah,maka sungguh beruntung saya jadi ikut menyaksikan sebagian perayaannya. Read the rest of this entry