Tag Archives: Dapur Hidup

Dapur Hidup: Cerita Saya Tentang Lobak Lalap.

Standard

Lobak Lalap

Tentunya semua tahu yang namanya Lobak kan? Itu lho sayuran umbi yang mirip wortel tapi warnanya putih. Masih sekeluarga sama beet. Biasanya saya lihat dijadikan campuran soto.  

Saya sendiri sebenarnya kurang menyukai rasa umbi lobak. Tapi begitu mendengar daun lobak untuk lalap, saya mendadak menjadi suka. Nah saya mau cerita tentang tanaman lobak saya. 

Benih lobak saya lupa dapat dari mana. Rasanya sih beli online. Makanya saya hanya punya beberapa biji saja. 

Biji lobak ukurannya agak besar ketimbang rata rata biji sesawi. Tumbuh cukup mudah juga, walaupun saya tidak punya banyak. Paling banter ada 8 pohon yang saya punya. Saya tanam di polybag.

Tumbuh dengan subur. Daunnya banyak dan hijau royo royo. Senang melihatnya. 

Pangkal akar Lobak sudah mulai terlihat menggembung.

Saya melihat pangkal akarnya juga mulai menggembung. Terlihat putih membenam di tanah.  Wah.. tak sabar rasanya menunggu. Pengen tahu.  

Tanaman Lobak sedang berbunga.

Saya membiarkan tanaman ini tumbuh. Tak berapa lama mulailah bunganya bermunculan. 

Bunga Lobak.

Cantik. Kecil kecil berwarna ungu. Mahkota bunganya ada 4. Mirip bunga sawi sih. Tapi kalau sawi biasanya bunganya kuning. Lobak ini bunganya ungu pucat. Saya senang sekali. Dan berniat membiarkannya hingga menjadi buah.

Buah Lobak.

Sebenarnya proses menjadi buahnya cepat. Tapi saya ingin menunggu buahnya menjadi tua dan kering. 

Nah kemarin saat hujan deras, tiba tiba saya keingetan akan tanaman lobak saya. Sayapun menengoknya. Rupanya sudah layu. Sebelum membusuk segera saya cabut tanamannya dan penasaran melihat umbinya.

Lobak

Tada!!. Beginilah umbinya. Kok kecil banget ya?  Hi hi… ternyata hasilnya jauh dari bayangan saya. Mungkin ada yang salah dari cara saya merawatnya. Atau jangan jangan jenis yang saya tanam itu memang yang jenis berumbi kecil?. Saya menghibur diri.

Tapi nggak apa apa. Saya tetap semangat. Saya petik buahnya.

Buah Lobak

Saya ingin mengambil biji bijinya untuk saya semai kembali. 

Biji Lobak

Saya akan coba tabur lagi di halaman. Siapa tahu bisa tumbuh kembali. 
Selalu semangat untuk berdapur hidup. 

Kali Ini Bukan Tomat Lagi. Tapi Bayam. 

Standard

Ah, jangan minta angpao dari Bu Dani. Ntar dikasihnya tomat“. Gurau seorang teman saat beberapa waktu yang lalu saya mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Ha ha ha. Saya tertawa geli mendengarnya yang disusul oleh derai tawa teman teman saya yang lain. Tentu tahu dari mana datangnya, mengapa teman saya itu berkomentar seperti itu. Pasti karena belakamgan ini saya sering memposting status atau photo photo tomat. Jadi tomat seolah sudah menjadi symbol perwakilan diri saya. Ha ha.

Nah biar lebih beragam dan tidal melulu tentang tomat, kali ini saya memposting tentang sayuran lain saja. Bayam. Mengapa bayam? Begini ceritanya nih…

Saat ini saya di sebagian instalasi hidroponik saya sedang ditanami bayam. Sebenarnya sudah sempat dipanen sekali. Tapi karena memanennya dengan dipotong dan bukan dicabut, cabang cabang kecil yang tertinggalnyapun akhirnya tumbuh lagi dan 2 minggu kemudian menjadi bayam seukuran yang layak di panen. 

Entah karena kesibukan atau apa, lha saya lupa memanen bayam bayam baru itu. Ada 2 box yang sudah kepalang menjadi berbunga. Tentu nggak mantap lagi jika dipanen dan dijadikan sayur. 

Bayam Dapur Hidup.

Untungnya masih ada sebagian yang masih sangat layak panen.
Ini dia hasil panen bayam saya pagi ini. Lumayan ya. Seger seger. Setidaknya lebih seger dari yang di tukang sayur. 

Bayam Dapur Hidup

Memang punya Dapur Hidup itu nggak pernah ada ruginya. 

Benih Sayuran & Produsennya – Bagian I

Standard

Salah satu pertanyaan yang paling sering disampaikan oleh pembaca blog ke email saya adalah “Bagaimana caranya mendapatkan benih sayuran yang bagus Bu? “. Atau “Di mana ibu membeli benih sayuran?”. Ya jawaban saya biasanya adalah membeli dari toko Trubus, toko Ace Hardware dekat rumah saya atau beli online. Tapi malam ini saya lagi bongkar-bongkar box bibit, saya tertarik untuk mengelompokkan brand-brand dan produsen benih sayuran yang pernah saya beli. 

1. CAP PANAH MERAH.

Benih Sayuran Cap Panah Merah. 

Kelihatannya ini adalah merk bibit sayuran yang paling banyak saya beli. Setidaknya ada 15 sisa benih dan kemasan merk yang diproduksi oleh PT East West Seed Indonesia di Purwakarta  ini. Diantaranya yang pernah saya tanam adalah Pare Hijau, Terong Ungu Hybrida, Timun Putih, Bayam Hijau, Kembang Kol, Melon, Kangkung, Wortel, Tomat, Sawi Putih, Selada Hijau, Pakchoy Hijau, dan sisanya benih bunga / tanamam hias. 

Saya cukup happy menggunakan merk ini selama dua tahun terakhir. Daya tumbuhnya rata rata sangat bagus antara 85-95%. Keterangan pada kemasannya juga cukup jelas. Merk ini bisa saya dapatkan dari Toko Trubus atau Ace Hardware.

Belakangan ini Panah Merah memberi fokus pada kegiatan berkebun di perkotaan /urban farming dan keluar dengan kemasan Jumbo Pack untuk yang ingin menanam dalam jumlah besar dan Starter Pack untuk pemula. Harga per packnya cukup terjangkau walaupun jika dibandingkan dengan merk lokal lain terasa sedikit lebih mahal. Mungkin karena diproduksi di tanah air dengan menargetkan ke petani perkotaan. Sayurannya juga tentu sayuran lokal. 

Ada headline pada kemasannya yang saya suka banget bunyinya “Every one/where, can be a farmer”.  Ya..tentu saja. Asal mau. 

2. MR.FOTHERGILLS.

Benih Sayuran Mr. Fothergill’s

Merk ini menyediakan benih sayuran ‘londo’ karena memang benih import. Diproduksi oleh Mr. Fothergill’s Seds Kentford, Newmarket, UK. Sisa benih/kemasan yang ada di saya itu antara lain Sweet Pepper/Papprika, Cabbage/Kol, Leek/Daun Bawang, Pak Choi Red, Wortel, Chives dan Sweet  Pepper Mini. 

Saya suka dengan merk ini karena menyediakan benih sayuran yang jarang ada di Indonesia.  Terutama dulu saat saya masih rajin menanam bunga bungaan. Nge-fans banget deh. Menurut saya, merk ini yang memberi penjelasan tata cara menanam yang sangat detail. Mungkin keterangan sedetail itu memang diperlukan untuk negara yang memiliki 4 musim. Kadang untuk negara kita yang cuma mengenal musim hujan dan kemarau, keterangan detail itu menjadi agak kurang relevant. 

Walaupun menurut saya ini adalah merk benih yang paling keren, tapi juga memiliki kelemahan. Yaitu daya tumbuhnya tidak sebagus merk lokal -barangkali karena perbedaan cuaca dan temperatur (kecuali Chives-daya tumbuhnya cukup bagus).  Dan tentunya … harganya sangat mahal. Menguras kantong. 

Sama dengan Cap Panah Merah, merk Mr Fothergill’s juga bisa kita dapatkan di toko Trubus dan Ace Hardware.

3. DIOBA SEED

Benih Sayuran Dioba Seed.

Merk ini saya dapatkan dari Toko Trubus. Diproduksi lokal oleh Pt.Griya Tanindo Jaya yang belakangan menjadi PT Dioba Griya Huma Tani untuk PT Trubus Mitra Swadaya.

Benih yang pernah saya beli/ tanam adalah Pakcoy Hijau, Terong Hijau Bulat, Seledri dan Selada Daun. Daya tumbuhnya cukup baik sekitar 80-90%. Penjelasan pada kemasan tentang cara tanamnya sangat kurang. Belakangan saya tak pernah membeli merk ini lagi karena rasanya memang sudah tidak kelihatan lagi. Lot terakhir yang saya miliki yang expiry datenya tahun 2015 -2016. Tetapi saat itu saya cukup happy dengan merk ini. 

4. JAWARA.

Benih Sayuran Jawara.

Ini adalah merk yang paling sering saya pakai setelah Panah Merah. Diproduksi lokal oleh CV ENNO & CO SEED di Jember.Merk ini dangat cocok untuk petani lokal.Untuk skala pertanian yang cukup besar untuk industri.  Karena selalu memberikan quantity yang banyak dengan harga yang bagus dan quality juga baik. 
Daya tumbuhnya selama ini cukup bagus sekitar 85% kecuali jika sudah lama tersimpan. Dari merk ini saya pernah menanam Pare Hijau, Kemangi, Kangkung, Caisim Manis, Tomat, Bayam Merah, Bayam Hijau, Cabe Rawit Putih. Kelihatannya memang fokus pada sayuran yang umum diperdagangkan di pasar lokal. 

Sekian dulu cerita saya tentang benih sayuran kali ini. Nanti akan saya lanjutkan lagi dengan cerita Bagian II.

Cara Menikmati Tomat Ala Jaman Dulu.

Standard

Cara menikmati tomat ala jadul.

Masih seputaran panen tomat dan bagaimana cara memanfaatkannya. Saya jadi ingat pada masa kecil saya di kampung. Saya ceritain sedikit di sini ya…
Desa Songan, kampung saya adalah salah satu desa penghasil sayuran yang memasok kebutuhan di pasar-pasar di Bangli dan juga kabupaten lain di Bali. Salah satu hasil panen  yang selalu membanggakan adalah tomat. Ya… tomat yang besar buahnya bisa seukuran telapak tangan orang dewasa. Oleh karenanya, setiap kali musim panen ibu saya juga selalu kebagian banyak tomat yang dikirimkan oleh paman, bibi  dan keluarga kami yang lain. 

Selain untuk dimasak dan membuat sambal, salah satu cara favorit pada jaman dulu untuk menikmati tomat adalah dengan membuatnya menjadi minuman tomat. Sejenis  Juice tomat yang dibuat dan dihancurkan secara manual dengan sendok . Hasilnya tentu tidak sehalus Juice tomat jaman sekarang karena tidak menggunakan mesin juicer ataupun blender. 

Tapi walaupun tidak halus seperti juice tomat, sensasi meminum/memakannya sungguh berbeda. Rasa tomatnya masih kuat  dan lebih enak dibanding juice tomat biasa, karena di dasar gelas kita masih bisa menikmati sisa sisa buah tomat segar yang kurang hancur. Nah… asyiiiknya tuh justru di bagian di sini.

Jaman sekarang kita sudah sangat jarang membuat juice tomat dengan cara seperti ini. Jadinya kangen untyk membuatnya kembali seperti jaman dulu.

Ada yang tertarik untuk mencobanya nggak?. Cara membuatnya sangat gampang:

1. Cuci buah tomat hingga bersih.

2. Bagi yang suka buah tomat yang hancur lebih halus, sebaiknya kulit ari buah tomat dikupas dulu agar lebih mudah dan cepat saat kita menumbuk-numbuknya dengan sendok.

3. Potong-potong buah tomat. Masukkan ke dalam gelas. 

4. Tambahkan gula pasir secukupnya (bagi yang suka manis).

5. Hancurkan buah tomat di dalam gelas dengan sendok atau garpu. 

6. Seduh dengan air panas atau air minum biasa. Aduk aduk sampai hancur.

Jadi deh….

*bagi yang suka minuman dingin, busa disimpan dulu beberapa saat di lemari es sebelum diminum.

Dapur Hidup: Air Pandan Arum Membuat Keringat Pun Ikut Wangi. 

Standard

Pandan Arum aluas Pandan Wangi.

Kalau lagi di rumah, kerjaan saya memeriksa tanaman dan melakukan sesuatu di kebun. Entah penanaman, pemupukan, penyiangan dan sebagainya. Selalu ada yang perlu dilakukan. 

Nah…kali ini saya memilih untuk memisahkan anakan pohon Pandan Arum (Pandanus Amaryllifolius).
Menanamnya dalam polybag siapa tahu ada teman yang ingin minta bibitnya. 

Tanaman ini sudah cukup lama saya miliki dan sering saya ambil daunnya entah untuk memberi rasa dan wangi pada kolak atau bubur kacang hijau. Saya menyukai wanginya. 

Air Daun Pandan

Sambil memindahkan tanaman, saya  melihat beberapa daun yang sudah cukup tua. Sangat layak untuk diambil. Jadi teringat, bahkan jika hanya direbus di air minum pun daun pandan arum memberikan aroma yang enak pada air minum. Dan jika sering meminumnya keringat kita pun lama-lama menjadi ikut wangi. Coba deh!

Tomat Beefsteak: Dari Halaman Ke Atas Meja Makan. 

Standard

“Manen tomat banyak-banyak buat apa sih?” Seorang teman bertanya.Ya… buat dipakai di dapur lah ya.Buat dimakan. Bisa buat sambel. Buat Jus tomat. Buat sayur. Bisa juga buat salad. 

Tomat Beefsteak

Tanaman tomat saya kali ini memang berbuah cukup banyak. 

Tomat Beefsteak

Kebetulan banyak yang matang saat bersamaan. Kalau saya biarkan di pohonnya khawatir nantinya saya lupa metik dan malah busuk sendiri. Jadi selagi ingat, saya petiklah tomat-tomat itu. 

Tomat Beefsteak

Sebenarnya apapun jenis sayuran yang kita panen dari halaman, selalu bermanfaat buat di dapur. Itulah sebabnya mengapa disebut Dapur Hidup.Bagaimana kita memanfaatkannya, sangat banyak pilihannya. Bisa dimasak khusus, bisa juga dicampur bahan lain. 

Salad

Malam ini saya memanfaatkan sayuran dari halaman dicampur dengan bahan-bahan lain yang saya beli dari tukang sayur untuk makan malam. 

Broccoli Tomato Shrimp.

Dapur Hidup: Tiga Jenis Tomat Yang Saya Tanam Di Halaman.

Standard

Salah satu tanaman Dapur Hidup yang sangat penting bagi saya adalah tomat. Karena tomat digunakan setiap hari dan pada banyak jenis masakan yang terhidang di meja makan saya. Dan terutamanya..sambal tomat. Setiap orang di keluarga saya menyukai sambal tomat. 

Ini adalah beberapa jenis tomat yang pernah /sedang saya tanam sebagai koleksi Dapur Hidup di halaman rumah saya.

1.Tomat Cherry Kampung.


Tomat Cherry Kampung

Tomat ini ukurannya sangat kecil-kecil. Kira-kira seukuran kelereng. Rasanya agak asam segar. Tetap sangat menarik untuk dimakan mentah ataupun dibuat sambal. Saya senang mencampurkannya dengan salad. 

Tomat Cherry Kampung

Mengapa namanya saya kasih embel-embel “kampung”?. Karena tomat ini banyak saya temukan di kampung saya di Bali dengan nama Tomat Gerongseng atau “Gereng-Gereng”. Dan karena kampung saya adalah penghasil tomat berkwalitas super dengan ukuran super besar,  tomat ini sering dipandang sebelah mata dan tidak dimanfaatkan. Dibiarkan saja liar dipinggiran tegalan tanpa ada yang peduli. 
Untuk tanaman yang di halaman ini pun saya mendapatkan bibitnya pertama kali dari kampung di Sukabumi.

Jadi baik dari segi ukuran, rasa dan bentuknya memang berbeda dengan tomat cherry yang sering kita beli dari Supermarket yang mana umumnya bijinya import. 

2. Tomat Mutiara

Tomat Mutiara

Tomat Mutiara adalah tomat berukuran sedang dengan bentuk bulat mulus berkilau bak mutiara. Nggak heran diberi nama Tomat Mutiara.

Tomat Mutiara

Benih tomat ini saya dapatkan dari toko Trubus.Dan ini adalah jenis tomat yang benihnya paling banyak saya lihat dijual. Juga paling banyak dijual di tukang sayur.
Rasanya lebih manis dibanding tomat cherry kampung. 

3. Tomat Beefsteak

Tomat Beefsteak.

Ini adalah tomat ukuran sedang yang belakangan ini paling sering saya upload di sosial media, baik di Facebook maupun di Instagram. 
Alasannya karena bentuk tomat ini mengingatkan saya akan jenis tomat jaman dulu yang ada di tanah air sebelum jenis tomat yang halus mulus seperti mutiara datang dan membuat tomat jadul itu kehilangan perhatian dan akhirnya lenyap dari pasar. Bentuknya berlobus lobus. Rasanya menurut saya malah lebih manis. 

Tomat Beefsteak hasil panen dari halaman.

Saya mendapatkan benihnya secara online. Menanamnya di dalam pot. Dan lumayan juga hasilnya. 
#tomat

Tips Dapur Hidup: Panen Berulangkali Dengan Pengguntingan Yang Tepat.

Standard

​Pada umumnya jaman sekarang ini kita membeli kangkung di pasar sekaligus sak akar-akarnya (Kangkung Cabut/kangkung darat  = sekali tanam langsung cabut, lalu tanam lagi untuk periode berikutnya).

Nah… berhubung waktu saya untuk mengurus tanaman juga sangatlah  sempit (saya mengerjakannya di sela-sela kesibukan  pekerjaan saya yang super padat), saya memilih menghemat waktu dengan cara sekali tanam panen berkali-kali. 

Caranya bagaimana? Saya menggunakan metode yang dilakukan petani kangkung  jaman dulu. Yakni dengan memotong batang kangkung dan menyisakannya sedikit batangnya agar kelak cabang kangkung bisa bersemi kembali. Hasil dari cara memanen seperti ini disebut dengan Kangkung Potong. Biasanya dilakukan pada tanaman kangkung yang dibudidayakan di air.

​Pemotongan harus dilakukan pada ruas batang yang ke dua atau yang ke tiga. Dengan demikian tunas yang baru bisa tumbuh daru ruas oertama tanaman itu dengan kokoh tanpa goyah karena dekat dengan akar. Selain itu, tanaman tidak perlu membuang-buang energi untuk memelihara batang yang panjang, sehingga bisa fokus untuk membesarkan tunas yang baru tumbuh.Yang paling penting, tanaman harus tersuply dengan air dan mendapatkan sinar matahari yang banyak.  Pemberian nutrisi yang cukup seminggu sekali juga sangat membantu membuat tanaman semakin sehat. 

​Dengan cara ini saya bisa melakukan panen 4-5 x sebelum saya ganti dengan tanaman baru lagi. Hasil panen juga tetap sehat-sehat dengan daun yang lebar-lebar dan batang yang gendut. Tidak kalah jika dibandingkan dengan hasil panen perdananya. 

Hemat waktu. Sangat cocok untuk ibu rumah tangga yang juga harus bekerja di luar. 

Mau mencoba? 

Hidup Adalah Tentang (Berusaha) Mewujudkan Mimpi.

Standard

*Dapur Hidup: Stacking, Menyiasati Pekarangan Sempit*.

​​Ketika kecil, saya sering bermimpi. Mimpi tinggal di sebuah rumah kecil yang di kelilingi ladang luas penuh buah-buah tomat yang merah ranum,  kentang, labu parang, semangka dan berbagai sayuran yang hijau segar. Serta kandang ayam petelor dengan kokok ayam jago yang membangunkan tidur saya di pagi hari. Rumah  ladang impian saya  itu dihiasi dengan bunga mawar pagar yang mekar super banyak berwarna pink dan wanginya semerbak  ke mana-mana. Romantis banget kan impian saya itu? 

Ketika saya dewasa, sebagian impian itu menjadi kenyataan. Saya tinggal di sebuah rumah kecil. Sama ya dengan mimpinya?. Juga dikelilingi tanaman sayuran. Sama juga dengan mimpi saya. 
Tapi bedanya, rumah saya dikelilingi halaman yang sempit (bukan ladang yang luas) yang tentunya tidak muat untuk menampung semua tanaman sayuran impian itu. Boro-boro kandang ayam petelor. Jauhlah dari mimpi. Dan bunga bunga mawar pagar yang pink romantis? Mmmm… lupakan lah itu, karena mimpi kanak-kanak saya tak pernah menjelaskan bahwa mawar pagar hanya tumbuh di ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Hanya ada di kampung saya di Kintamani sana dan daerah pegunungan lainnya. Sementara sekarang saya tinggal di Jakarta (eh… sebenarnya TangSel deh…) di mana udaranya panas dan sudah pasti mimpi tentang bunga mawar pagar itu sudah terbang entah kemana. Sudah pernah saya tanam (Waktu itu batangnya saya ambil dari Puncak, Bogor). Tapi hanya batangnya saja yang memanjang dan gendut. Bunganya tiada kunjung muncul. Aah… tidak ada romantis-romantisnya amat tanaman ini ketika dibawa ke kota. 

Dengan kenyataan dunia ini,  apakah saya harus berhenti bermimpi? Oww…tentu tidaakkkk!!!!. Saya harus berusaha menikmati hidup sedekat mungkin dengan mimpi masa kecil saya itu. *Kedengeran agak keras kepala, agak ngeyel dan sedikit sombong ya?  

Ha ha… tentu saja karena kenyataannya lahan pekarangan saya sangat sempit saat ini (itu harus saya terima dengan penuh syukur), tapi saya harus mikir bagaimana caranya mengoptimalkan setiap centimeter pekarangan itu agar menghasilkan bahan makanan Sebanyak mungkin.

Saat ini hampir semua permukaan  terbuka di halaman saya tidak ada yang kosong. Full dengan tanaman.Mau diletakkan di ruangan, tanaman tidak dapat sinar matahari. Pertumbuhannya terganggu. Kerdil dan ‘nyalongcong’ kata teman saya yang orang Sunda. Tinggi langsing dan pucat pasi.  Jadi bagaimana akal? satu-satunya areal yang kosong adalah di udara!.  Ya…di udara adalah tempat yang paling memungkinkan bagi saya 2vesaat ini. 

Akhirnya saya berpikir untuk melakukan penumpukan box box tanaman itu ke atas saja selain menggantungnya di udara. Stacking!. Bisa menggunakan rak atau bisa juga memasang paku dan papan penyangga di dinding.

Stacking 4-5 tingkat ke atas, rasanya cukup banyak dan saya letakkan pada dinding. Dengan cara ini memungkinkan saya untuk memberi peluang yang sama kepada setiap tanaman untuk terpapar sinar matahari. Nah …setidaknya saya bisa memproduksi lebih banyak sayuran dengan cara begini. 

Rak ini memuat 3 box kangkung, 3 box selada. 3 box pak choi dan 1 box kailan dan 1 box tanaman sawi jenis lainnya. Lumayan banget ya buat Dapur Hidup berlahan sempit. 

Impian saya untuk hidup di tengah tanaman sayuran, sekarang satu langkah lebih mendekat. Walaupun lahan sangat sempit.

Hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Jangan pernah mau menyerah pada keterbatasan. Jika kenyataan hidup memberi banyak keterbatasan, cari cara agar impian kita semakin mendekat. Minimal mirip-miriplah.Yuk kita terus berusaha!!!.

Apa mimpimu, kawan? 

Patah Oleh Hujan. 

Standard

​Hari Sabtu kemarin, seharusnya saya sudah mulai agak senggang.  Harusnya punya waktu untuk menulis, eh saya malah ketiduran. Bangun bangun, hujan rupanya sangat deras turun di halaman. Saya jadi tertarik menonton hujan yang menimpa tanaman sayuran saya di halaman belakang rumah. Kangkung, bayam, sawi dan tomat terangguk-angguk diterpa bulir bulir hujan.

Tapi hujan rupanya terlalu deras tak mengenal lelah. Curah air sangat berlebih hingga tumpah ruah dari pot pot tanaman. Saya mulai khawatir. Hujan sangat dibutuhkan tanaman. Tapi jika terlalu banyak, juga bisa mengganggu. 

Benar saja!. Barangkali karena tanah sekarang menjadi terlalu lembek, sementara batang dan daunnya semakin berat, tanaman cabe saya merunduk dan semakin merunduk. Dan…akhirnya kraaakkkk…. tumbang. Doyong ke kanan  hampir  menyentuh tanah. Menimpa tanaman cabe di sebelahnya yang kemudian ikut juga doyong dan menimpa lagi tanaman cabe berikutnya. Aduuuh…ini mirip efek domino. Saya hanya bisa memandang dengan hati gundah.

Setelah hujan reda, saya mencoba membantu menopang tanaman saya sedapatnya. Beberapa rantingnya patah. Sedih hati saya bukan kepalang. Tapi sebagian cabangnya masih bisa diselamatkan. Saya ikat ke penopang bambu dengan kawat kabel.Lumayanlah setidaknya masih bisa berdiri sebagian. 

Tanpa rencana, akhirnya saya terpaksa memetik buah -buah cabe dari ranting-ranting yang patah itu. Daripada terbuang percuma. Kebetulan mulai pada merah. Memang sudah waktunya dipetik. Lumayan juga sih. Cukup untuk beberapa kali nyambel. 

Yaah..begitulah. Suka dukanya bertanam. Membayangkan kejadian seperti ini terjadi pada petani, sekarang saya semakin mengerti, mengapa pada saat-saat tertentu harga cabe menjadi sangat mahal.