Tag Archives: Dapur

Sok Tahu…

Standard


Diantara jenis kacang-kacangan, saya sangat menyukai Kacang Macadamia. Sayangnya karena kacang itu jarang dijual di pasaran Jakarta dan jika adapun hanya di tempat tertentu saja dan harganya mahal, oleh karenanya saya hanya mampu menikmatinya sesekali saja. Paling banter 3-4 biji itupun saya dapat dari Mix Nut yang dijual di pasar. 

Dari informasi yang saya dapatkan di internet, kacang ini dibudidayakan di Australia. Karena dari 8 species yg ada, konon 7 adalah asli Australia  dan cuma 1 yang asli Sulawesi. Dan sayangnya, udah punya cuma 1 jenis, kelihatannya nggak ada pula orang kita  yang melirik dan menangkap peluang untuk  membudidayakan dan membisniskan kacang yang menurut saya super enak ini di Indonesia. Jadinya mahal deh jatuhnya….ūüėĘūüėĘūüėĘ

Satu kali saya berhasil mendapatkan 1 kg kacang Macadamia mentah. Karena masih mentah, tentu harganya sedikit lebih miring dari yang sudah diroasted. Saya pikir saya akan panggang sendiri nantinya. “Gampanglah itu” pikir saya. 

Nah… tadi sore saya mulai menanaskan oven untuk memanggang kacang. Dengan riang gembira, saya menuang 1/2 kg kacang ini ke dalam tray dan meratakannya dengan maksud agar kacang -kacang ini mendapatkan pemanasan yang merata dan matang bersamaan. 

Karena baru pertama kali memanggang kacang, saya sebenarnya tidak tahu persis berapa lama dan berapa derajat seharusnya kacang ini dipanggang. Saya melirik sebentar. Rasanya kacangnya cukup tebal. Saya set pemanggangan di suhu 180¬į selama 20 menit. Cukup lama ya? Jadi kacangnya saya tinggal ke kamar dulu. “Ntar juga ovennya berbunyi sendiri jika sudah selesai” pikir saya. 

Sambil menunggu waktu, sayapun membuka buka Facebook, WA dan melihat lihat foto foto di Instagram. Jika main SosMed nggak terasa waktu berlalu. Penanda waktu oven berbunyi. Saya tidak bergegas. Masih mantengin Facebook untuk beberapa saat. Tiba-tiba saja tercium bau angit. Gosoong!!!. Waduuuh… kacang Macadamia saya gosong. 

Mama!Mama!. Kacangnya mama hangus” kata anak saya yang besar. Saya cepat bangkit dan berlari memeriksa pemanggangan. Benar saja. Gosong!. Aduuuh… sedihnya. 

Saya masih mencoba menyelamatkan beberapa biji yang terlihat agak kurang gosong diantara yang gosong gosong itu. Rasanya seperti menggigit biji kopi yang disangrai. Pahit pahit gimana gitu. Anak saya nyengir melihat kelakuan saya. 

Sedih banget sih. Tapi saya pikir saya masih punya 1/2 kg lagi. Jadi bisa saya coba panggang lagi ah. Mungkin waktu panggangnya harus saya kurangi sebentar. Saya tuang kira-kira 1/4 kg lagi di atas tray. Lalu saya masukan ke pemanggangan. Tadi kan 20 menit plus kira kira 5 menit sebelum tercium bau gosong. Coba kali ini saya set 15 menit. Mudah-mudahan aman. 

Saya tunggu 15 menit kemudian dan ternyata kacangnya…gosong lagi!. Ngwek ngwek ngwek ngwek…

Setelah kejadian itu barulah saya mencari tahu lewat  Google bagaimana caranya memanggang kacang macadamia. Ternyata kebanyakan menyarankan di suhu sekitar 100¬į-125¬į  selama 10-15 menit. Oooh! Jadi begitu ya. Pantesan kacang saya cepat gosong. Saya manggut-manggut dengan hati gundah gulana. 

Sekarang saya menyesali sikap “Sok Tahu” saya…

Untungnya (masih tetap untung jugaūüėÄūüėÄūüėÄ), saya masih punya kacang mentah 1/4 kg lagi. Jadi besok saya harus lebih berhati-hati. 

Klappertart Sederhana Buatan Rumah.

Standard

wpid-20151114_201904.jpgTinggal di negeri dengan salah satu lagu wajibnya berjudul “Rayuan Pulau Kelapa” membuat saya sangat menyukai kelapa muda.¬† Terutama airnya. Demikian juga anak anak. Tapi sayangnya kadang-kadang airnya saja yang diminum, sementara daging kelapa mudanya tidak. Sayang banget ya kalau dibuang-buang?
Bagaimana kalau kita olah jadi makanan kesukaan anak anak? Bisa dibikin apa ya biar anak-anak suka?
Aha!. Coba buat klappertart sendiri saja. Bisa mengopimalkan kelapa muda yang tersisa. Selain itu kalau beli lumayan mahal kan?
Lalu lihat-lihat bahan lain yang ada di dapur. Masih punya stock telor beberapa butir, ada sedikit margarin, ada sedikit sisa tepung maizena dan tepung terigu. Vanili dan raisin juga ada di kulkas. Yang nggak ada cuma susu. Hmm..barangkali saya juga perlu sedikit rhum, coklat bubuk dan kacang almond. Lalu pergi ke ruko beli susu dan coklat bubuk. Sayangnya rhum dan kacang almond tak dijual di sini. Nggak apa-apalah.Tapi saya punya sedikit kacang mede.

Membuatnya dengan cara sederhana saja.
1/. Margarin sekitar 150 g dicairkan di atas kompor.
2/. Ambil 3 butir kuning telor. Dikocok sampai halus.Tuang ke mentega cair. Aduk aduk di atas api kecil.
3/. Tambahkan 1 kaleng susu kental manis. Aduk aduk terus.
4/. Tepung terigu sekitar 300g dilarutkan dalam air. Diaduk aduk lalu disaring dimasukkan ke dalam mentega cair. Diaduk-aduk.
5/.  Tambahkan tepung maizena yang telah dilarutkan ke dalam air. Aduk aduk terus sampai kental. Pastikan adonan tidak gosong  di bagian bawah panci.
6/. Setelah adonan kental. Masukan serutan kelapa muda. Aduk aduk kembali di atas api kecil.  Lalu angkat.
7/. Ambil adonan masukkan ke dalam gelas atau mangkok kertas timah.
8/. Taburkan coklat bubuk di atasnya. Tambahkan beberapa butir raisin. Biar seru ditambahkan serpihan kacang mede. Simpan dalam lemari pendingin.
Dihidangkan dalam keadaan dingin. Enak deh.

Ide Dapur: Kepompong Sayur Orak -Arik Telor

Standard

image

Memandangi sayuran rebus yang sama nyaris setiap hari kadang membosankan juga. Muter-muter aja mulai dari sawi putih rebus, caisim rebus, tauge rebus,  kol rebus dan sebagainya. Biasanya saya cocol dengan sambal tomat atau sambal terasi. Sebenarnya rasanya enak sih. Tapi karena saking seringnya, lama- lama bosan juga ya.

image

Nah satu kali nih, saat mau mempersiapkan bekal makan siang buat ke kantor, tiba-tiba saja saya keingetan beberapa jenis masakan berbalut sayuran yang pernah saya cicipi di negeri seberang. Aha!
Jadi nemu ide baru nih untuk membuat bekal makan siang yang lebih menarik dan variatif.

image

Saat itu saya punya sedikit orak-arik telor dan rebusan sawi putih. Juga sedikit rebusan sawi hijau (caisim).
Saya bentangkan daun sawi putih yang sudah dipotong dan direbus. Diatasnya saya isi dengan sedikit orak-arik telor, lalu saya gulung perlahan. Wah…mirip kepompong.¬† Kepompong sayuran isi orak-arik telor.

image

Lalu saya susun satu per satu di box makanan. Sungguh kelihatan menarik dan segar.
Rasanya juga so pasti enak ya.

Sayuran Yang Relatif Agak Baru Di Dapurku.

Standard

Setiap kali berada di pasar saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat jenis sayuran yang jarang dibawa tukang sayur. Kadang-kadang malah menemukan jenis sayuran yang sebelumnya tidak pernah ada. lalu biasanya saya coba untuk memasaknya di rumah.  Ada beberapa jenis sayuran yang bagi saya tergolong baru,karena baru muncul di pasaran (setidaknya di pasar tempat saya berbelanja) paling banter 2-max 5  tahun belakangan ini.

1. Sawi Pagoda alias Wuta.

Sawi PagodaSaya tidakingat kapan pertama kali saya melihat sayuran ini. Tapi saya yakin belum terlalu lama. Barangkali setahun dua tahun yang lalu.Sawi Pagoda atau sering juga disebut dengan nama lain Wuta, kelihatannya adalah jenis sawi yang benihnya berasal dari Thailand.

Saya tertarik melihatnya karena bentuk daunnya yang indah,tertata rapi melingkar,makin lama makin tinggi, membentuk kerucut terbalik. Bentuknya itulah yang menyebabkan mengapa ia disebut dengan nama Sawi Pagoda.  Warna  daunnya hijau gelap,  sangat kontras dengan  tangkai daunnya yang berwarna putih bersih. Sungguh menawan sekali penampilannya.Saking cantiknya, rasanya sayang untuk memetiki daunnya. Saya pikir tnaman ini sangat cocok untuk hiasan meja daripada dimasak.

Tapi ketikadimasak,rupanya rasanya juga enak. Saya pikir lebih enak dari jenis sawi biasa.Lalu bagaimana cara memasaknya? Karena saya tidak tahu,ya..saya masak Ca saja. Bisa juga dimasak tumis dengan Seafood, atau buat accesories mie.

2. Daun Pepaya Jepang.

Daun Pepaya JepangNah kalau yang ini saya tahunya baru beberapa bulan terakhir saja. Gara-garanya lagi pengen masak sayuran yang jadul jadul, eh..tiba-tiba melihat daun pepaya kecil-kecil dipajang di lapak tukang sayur di Pasar  Modern Bintaro. Tukang sayurnya mengatakan bahwa itu adalah Daun Pepaya Jepang. Ohh..saya baru pertamakali melihatnya. Warna daunnya juga lucu. Rasanya warna hijau hijaunya lebih gelap dari daun pepaya biasa.

Nte pait, Teh.Tinggal ditumis ajah” katanya. Saya dipanggil “teteh’ karena tukang sayur di pasar itu kebanyakan anak-anak muda Sunda dari Leuwiliang, Bogor. hah?nggak pahit ya? Awalnya saya tidak percaya. Masak sih ada daun pepaya yang tidak pahit? Mana mungkin.

Karena penasaran, maka sayapun membelinya. Saya bersihkan, potong lebih kecil, dan tumis..memang benar tidak pahit sama sekali. Rasanya jadi mirip daun singkong,karena pahitnya hilang. Enak. Sekarang saya malah ketagihan.

3. Sawi Keriting

Sawi KeritingSawi keriting saya kenal sudah sedikit agak lebih lama dibanding 2 sayuran di atas.  Lagi lagi saya memilihnya karena tampilannya yang lucu keriwil keriwil.

Secara struktur, sawi keriting mirip dengan Sawi putih (pitcai/pitsai).  Tidak berbatang (jenis batang yg tipis hanya dibagian pangkal tangkai daun). Tangkai daunnya yang lebar dan pipih mengelompok ditengah sehingga  daunnya yang keriwil praktis lebih banyak di ujung. Hanya saja ukuran sawi keriting ini biasanya jauh lebih kecil dari sawi putih yang biasanya besar, tebal dan padat.   Warna daunnya bervariasi dari hijau pucat  kekuningan hingga hijau tua. Secara keseluruhan tampilannya sangat menarik dan menggiurkan.

Rasanya, kalau menurut saya sih lebih enak dari sai putih ya.  lebih gurih dan sedikit lebih licin. Kalua ditanya enaknya dibuat apa, saya pikir bisa untuk apa saja ya. Direbus dan dijadikan lalap terus dicocol sambel terasi  enak. Ditumis enak, buat campuran cap cay enak. begitu juga buat nemenin mie.  Cocok lah menurut saya.

4. Sawi Manis.

Sawi ManisKalau menurut saya sayuran Sawi Manis ini kelihatannya masih saudara dengan Sawi Hijau (Cai sim).  Rupanya serupa. Agak berbatang, walaupun batangnya tidak berkayu. Tangkai daunnya panjang, demikian juga daunnya.  Warna daunnya hijau standard. Ukurannya lebih kecil dari sawi hijau.

Nah apa yang membedakannya dengan Sawi Hijau? Kalau menurut saya rasanya lebih renyah dan lebih manis. Barangkali itulah mengapa ia disebut dengan nama Sawi manis.

Enaknya dimasak apa?  Sama denga jenis sawi hijau, sawi ini paling enak dipakai untuk teman makan mie.  Atau yang suka makan bakso,mungkin cocok menggunakan jenis sawi ini.

 

 

Membersihkan Kulkas.

Standard

Isi KulkasSalah satu hal yang sangat perlu saya lakukan sebelum meninggalkan rumah untuk berlibur panjang ke luar kota adalah membersihkan kulkas.  Karena saya tidak mau setelah kembali ke rumah dalam keadaan lelah, saya menemukan kulkas saya  juga penuh dengan bahan makanan yang membusuk dan menumpuk. Jadi beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai bersiap-siap. Mengambil ancang-ancang, sejak si Mbak yang membantu urusan rumah tangga pamit pulang untuk berlebaran.

Pertama, saya menghentikan belanja dapur harian ke tukang sayur. Berikutnya, saya mengeluarkan semua isi kulkas.  Memilah bahan-bahan makanan yang masih bisa dimanfaatkan dan memilih mana bahan makanan yang akan segera rusak (perishable food) dan mana yang akan masih bisa bertahan dalam waktu beberapa hari. Beberapa hari terakhir ini kebetulan saya agak  sibuk urusan kantor,jadi benar-benar tidak mengikuti ada jenis bahan makanan apa saja dikulkas.  Nah  kesempatan inilah saya gunakan sekalian untuk memilah sekaligus membersihkan.

Daging, telor dan sumber protein yang lain.

Saya memiliki dada ayam yang bisa saya olah untuk menjadi ayam goreng kering, sepapan tempe, dua buah tofu dan beberapa butir telor. Saya pikir cukup untuk keperluan dua hari. Jadi saya benar-benar memutuskan untuk hanya memanfaatkan yang ada saja tanpa perlu menambah pembelian lagi di tukang sayur.

Sayur mayur.

Nah! Ini peninggalan si Mbak yang paling banyak di kulkas. Ada banyak sekali jenis dan jumlahnya. Saya agak kurang mengikuti, bagaimana bisa kok si Mbak menumpuk banyak sekali sayuran ya? Rasanya sangat sangat lebih untuk keperluan selama dua hari. Ada tauge di dalam kantong plastik. Masih segar. Lalu di kantong plastik yang lain ada daun bayam yang sudah dibersihkan, siap untuk ditumis. Lalu saya melihat sawi keriting beberapa buah,mulai agak layu.  Berikutnya saya membuka bungkusan koran, rupanya ada daun ciwis kesukaan saya Рlumayan untuk sekali nyayur.  Lalu ada caisim.  Terus ada seikat kacang panjang yang masih segar. Terus ada kol ungu Рsaya ingat kol ini saya yang membeli di Supermarket. Lalu ada terong ungu yang panjang Рcukup banyak juga jumlahnya.

Namun itu belum semuanya. Saya masih menemukan  beberapa buah pare, sebatang wortel,  jagung putren, sawi putih, timun, kapri manis, seledri, bawang daun, cherry tomato, broccoli dan jamur shiimeji.  Yang terakhir itu hasil belanjaan saya. Waduuh banyak juga ya. Saya tidak sadar bahwa saya dan Si Mbak telah melakukan penumpukan bahan makanan yang berlimpah di kulkas. Ini pasti terjadi akibat kurangnya koordinasi saya di dapur selama beberapa hari terakhir ini.   Karena saya hanya punya waktu dua hari untuk menghabiskannya, maka saya hanya membersihkan semua sayuran itu, lalu memilahnya. Memasak yang bisa saya masak, sisanya saya bungkus rapat di dalam plastik untuk saya bawa ke rumah ibu mertua saya saja. Daripada layu dengan sia-sia. Di sana lebih banyak orang. Tentu sayuran ini akan lebih bermanfaat.

Buah-buahan.

Tidak sebanyak sayuran. Tapi saya menemukan beberapa jenis. Sebagian sudah ada yang kurang layak dikonsumsi Рjadi saya buang.  Tapi masih ada juga yang layak konsumsi.  Dimakan secukupnya. Lalu masih ada sisa,  saya buat untuk jus.  Lalu ada  buah timun suri. Wah,ini untuk apa ya? Kalau tidak dibuat es buah tentu kurang enak. Akhirnya saya jus saja. Juice Timun Suri! Pernah ada yang mencoba tidak? Rasanya hambar. Tapi jika kita tambahkan gula, sungguh unik juga rasanya. Enak!.

Nah..sekarang kulkas sudah bersih. Sudah siap untuk ditinggal berlibur selama beberapa hari. Hati tenang,kulkas bersih dan tidak ada bahan makanan yang masih layak  terbuang percuma.

Resep Ayam Tomat Cabe Kering Ala Jineng Bali.

Standard
Resep Ayam Tomat Cabe Kering Ala Jineng Bali.

Sore tadi, saat akan menyiapkan makan malam untuk suami dan anak-anak,  saya melihat ada  persediaan cabe kering. Seketika saya terpikir untuk memasak Ayam Tomat Cabe Kering. Barangkali ada yang mau resepnya?

Bahan utama yang diperlukan adalah beberapa potong daging ayam. Takaran bumbu sebenarnya suka-suka. Bisa ditambahkan atau dikurangi  sesuai selera keluarga kita. Tapi untuk memudahkan saya sebutkan saja, 3 butir bawang merah, 3 siung bawang putih, 2 buah tomat sedang, 5-6 buah cabe kering, kecap asin dan kecap manis secukupnya. Serta minyak goreng untuk menumis.

Cara membuatnya cukup mudah. Read the rest of this entry

Cabe Kering ‚Äď Optimalkan Sisa Kebutuhan Dapur.

Standard

Mungkin  ada yang pernah memiliki sisa cabe yang cukup banyak di dapur? Sudah digunakan selama beberapa hari, namun tetap masih ada sisa? Membusuk dan akhirnya terbuang? Sayang sekali. Padahal harga cabai sangat fluktuatif. Kadang mahal, kadang murah. Banyak yang akhirnya hanya membeli cabe agak banyak saat harganya murah.  Walaupun tidak selalu, saya kadang punya cabe agak banyak. Kadang karena memang sengaja membeli agak lebih banyak saat harganya rendah. Kadang karena pohon cabe yang di halaman sedang berbuah cukup banyak.  Atau kadang karena oleh-oleh pemberian teman yang pulang dari ladang.  Nah, kalau kebetulan sedang punya stock yang berlebih, jangan dibiarkan membusuk dan terbuang. Kita bisa mengeringkannya untuk kita gunakan lain kali. Terutama jika harga cabai sedang melambung. Read the rest of this entry

Dapur Hidup!! Yuk , Kita Tanam Di Halaman‚Ķ

Standard

Mungkin diantara kita masih banyak yang ingat akan ‚ÄėDapur Hidup‚Äô? Pada masa kejayaan Pak Harto dulu, proggram ini sangat gencar dikampanyekan di televisi¬† dan media yang lain. Dari judulnya saja, ¬†tentu ¬†mudah dipahami ¬†bahwa ¬†Dapur Hidup maksudnya adalah menanam tumbuh-tumbuhan yang berguna untuk keperluan sehari-hari di dapur, di halaman rumah kita sendiri. Karena tinggal memetik di halaman, jadi kita tidak perlu membeli lagi bila kita membutuhkannya.

Di halaman rumah saya yang tidak seberapa luas, saya mencoba merealisasikan program Dapur Hidup ini. Dan pada kenyataannya memang sangat berguna buat keperluan sehari-hari. Saya bisa ambil sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Dan jika lebih, saya bisa berikan kepada tetangga yang membutuhkan. Apa saja jenis tanaman Dapur Hidup yang mudah kita tanam di halaman halaman yang terbatas? Read the rest of this entry