Tag Archives: dari Loksado Untuk Indonesia

Loksado Writers & Adventure 2017. Menyimak Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”.

Standard

Buku Antologi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”

Salah satu hal yang saya “setengah tahu” tentang Loksado Writers &Adventure 2017 adalah bahwa ternyata penyelenggara telah meminta karya karya para penyair yang diundang ke forum untuk dikumpulkan dan dijadikan buku Antologi Puisi Hutan Tropis yang berjudul “dari Loksado Untuk Indonesia” sebelum kami tiba di sana. Whuaaa…keren!. 
Maksud saya dengan setengah tahu adalah bahwa saya tahu ada beberapa penyair telah menuliskan puisinya dari timeline facebook Mbak Agustina Thamrin, tetapi saya tidak tahu jika ternyata itu diterbitkan sebagai sebuah buku. Saya pikir sebelumnya hanya untuk selebaran saja ha ha.. Maafkan pikiran saya yang pendek dan sempit. 

Nah, malam hari saat acara penyambutan dan ramah tamah dengan para pemuka adat suku Dayak Meratus, saya mendapatkan buku bersampul cantik ini. Yuk kita bahas!. 

Mulai dari sampulnya dulu ya. Design sampul dan lay out dari buku ini sungguh menarik dan “Catchy”. Berlatar belakang biru langit, bergambarkan pohon, burung-burung dan kupu-kupu. Tiga hal yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya sangat representatif mewakili hutan tropis pegunungan Meratus. Pohon itu sangat cantik berhiaskan motif Dayak yang indah dengan warna etnik yang menarik. Agak mendua, karena selain keindahan yang terpancar, serasa ada yang membara di sana. Design buku ini disiapkan oleh penyair Salimi Ahmad, yang salah satu tulisannya juga dimuat dalam Antologi Puisi ini.

Buku diisi oleh karya-karya indah dari 17 penyair. Yang semuanya mengambil latar belakang Loksado dan Pegunungan Meratus sekitarnya. Siapakah mereka dan karyanya? 

1/. Adri Darmadji Woko. Penyair dan Wartawan senior ini menuliskan puisi berjudul “Tarian Enggang”. 

2/. Agustina Thamrin. Penyair kelahiran Banjarbaru Kalimantan Selatan yang sekaligus juga instruktur vokal ini memuat 2 buah tulisannya yaitu Gung Garantung dan Ketika Rimba Menggugat.

3/. Arsyad Indradi. Penyair fenomenal kelahiran Barabai ini menulis 2 puisi panjang yakni Minyak Balian dan Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati.

4/. Bambang Widiatmoko. Penyair kelahiran Yogya (sayang saya tidak berkesempatan mengenal beliau di Loksado) menulis puisi dengan judul Persinggahan 1 dan Persinggahan 2.

5/. Cornelia Endah Wulandari. Satu lagi penyair wanita dari Kalimantan yang lahir di Hulu Sungai Tengah. Menulis puisi Perempuan dan Kopi Hutan. Puisinya ini dipilih oleh Aldo anak saya untuk dibacakan di acara malam Loksado.

6/. El Trip Umiuki. Penyair kelahiran Yogyakarta yang berdomisili di Tangerang ini menulis puisi Meratus (Juga) Indonesia. 

7/. Handrawan Nadesul. Penyair yang juga berprofesi sebagai dokter ini menulis puisi Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi. 

8/. Handry TM. Rasanya saya tak bertemu penyair ini di Loksado. Tapi tulisannya yang berjudul Dari Kriyo Ke Panitiranggang di muat di buku ini. 

9/. Kurniawan Junaedhie. Penyair kelahiran Magelang ini membuat 2 buah puisi untuk dimuat di buku ini .  Judul yang pertama Bersama Arsyad, Suatu Hari, Di Loksado. Satunya lagi berjudul Anak Samosir Di Surga Meratus.

10/. Micky Hidayat. Penyair yang juga penulis esai sastra dan teater ini menuliskan  Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus. Pada saat acara malam penyambutan Loksado Writers 2017, penyair dan seniman Isuur Loeweng bersama Bagan membawakan puisi ini. 

11/. Prasetyohadi Prayitno. Pimpinan redaksi majalah Kicau Bintaro ini menuliskan Haiku Meratus. 

12/. Rini Intama. Pendidik dan penulis kelahiran Jawa Barat ini menulis 2 buah puisi berjudul Perempuan Di Lereng Meratus dan Sasirangan.

13/. Roymon Lemosol. Penyair dengan cerita keberangkatan yang spektakuler menuju Loksado dari Ambon ini menulis Narasi Hujan Puncak Meratus. 

14/. Salimi Ahmad. Asli Jakarta. Menuliskan puisi dengan judul Meratus, Gunung Besar Dan Hutan yang terdiri atas 3 fragment I, II, III.

15/. Setia Budhi alias Budhi Borneo, dosen di Universitas Lambung Mangkurat ini menulis puisi Perahu Kayu Dari Sungai Amandit dan Jejak Padi Meratus.

16/. Sulis Bambang. Wanita yang berwiraswasta dan pekerja sosial ini menulus puisi Pulang dan Kangen.

17/. Yahya Andi Saputra. Pencinta tradisi lisan Sohibul Hikayat ini menulis sebuah puisi untuk Loksado Writers berjudul Monolog Perempuan Meratus. 

Jika kita menyimak puisi puisi yang termuat dalam buku ini, sangat mudah menemukan benang merah yang menghubungkan antar satu puisi ke puisi yang lain. Semuanya berbicara soal yang sama. Tentang alam Meratus dan sekitarnya!. Yang tentunya dibidik dari beragam sudut pandang yang berbeda beda. 

Yang sangat mengesankan adalah, walaupun sebagian besar penulisnya mengaku bahwa belum pernah mengunjungi Loksado atau daerah pegunungan Meratus sebelumnya, dan hanya memahaminya lewat informasi yang disajikan oleh Google, tetapi bagi pembaca awam seperti saya puisi puisi itu terasa sangat nge-link dengan alam Meratus. Terasa banget ketika dibacakan dalam acara Loksado Writers 2017 yang diselenggarakan di tepi Sungai Amandit di Loksado.

Pak Setia Budhi menjelaskan bahwa rencananya Loksado Writers ini akan meliputi seluruh Kalimantan. Dan yang disebut dengan Dayak Meratus itu bertempat tinggal membentang dari selatan, timur, tengah dan barat Kalimantan. Itu sebabnya Meratus yang kita sebut tidak hanya Loksado, tetapi juga Dayak Maanyan, Paser, Dayak Bawo,  Dayak Bahau, Dayak Tunjooy.  

Oleh karena itu, backdrop acara Loksado Writers tempat buku Antologi Puisi ini direlease juga didesign cepat sedemikian rupa agar semua suku Dayak se Kalimantan terwakili di Loksado. Dayak di Brunei, Dayak di Sabah dan Sarawak juga akan terwakili.

Secara umum jiwa dan nafas dari puisi puisi di Antologi Puisi Hutan Tropis itu tetap menyatu dengan alam Meratus dan Kalimantan pada umumnya.  Puisi adalah expresi jiwa, pikiran dan ungkapan perasaan setiap penyair atas apa yang ia lihat, dengar ataupun alami yang dalam hal ini adalah apa yang mereka ekspresikan untuk Kalimantan secara umum. 

Secara pribadi saya tertarik menyimak karya karya penyair kelahiran bumi Borneo. Agustina Thamrin, Arsyad Indradi, Cornelia Endah Wulandari, Micky Hidayat, Setia Budhi. Tentu saja sebagai pembaca saya tergelitik untuk ikut menyibak apa yang ada di alam pikir mereka yang memang sejak kecil ada di pulau besar itu. Karena merekalah yang lebih tahu. 

Ada Kepedihan dan Penderitaan terefleksi dengan sangat kuat dalam tulisan tulisan tangan para penyair Kalimantan ini. Hampir di semua tulisan. Misalnya:

Gung, biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus” Agustina Thamrin dalam Gung Garantung.

Hutan rimba dijarah menjadi padang anaksima., Gunung batubara runtuh menjadi danau kubangan bumburaya. Meranti, lanan, ulin, para dijajah kelapa sawit menjadi halimatak, Dayak terperangkap dalam perangkap kabibitak“. Arsyad Indradi dalam Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati. 

“…Buah kopi hutan yang tumbuh terhimpit oleh hamparan sawit milik investor. Hatinya kelu bercampur pilu. Ia rindu pada aroma harumnya bunga kopi Meratus dan hutan tropis yang hangat yang pernah dipuja di seantero negeri“. Cornelia Endah Wulandari dalam Perempuan dan Kopi Hutan.

Lalu misalnya penggalan dari puisi Micky Hidayat dalam Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus ” Maka aku pun tak sanggup lagi bertanya tentang hari depanmu. Tersebab hari depanmu adalah buldoser, ekskavator, chainsaw, dump truk, trailer, tronton, kontiner, tongkang,ekspor non migas, dan mesin mesin peradaban. Karena hari depanmu telah menjelma virus teknologi yang bersemayam di jantungku. Karena hari depanmu hanyalah sebuah kehancuran:erosi, longsor, danaudanau raksasa pasca eksploitadi dan eksplorasi batu bara tanpa reklamasi, banjir bandang, kobaran api, kabut asap…..”

Hal yang senafa jika kita simak puisi Jejak Padi Meratus  tulisan Setia B. Borneo. “Riwayat Meratus dalam rimbun daun kini mengering. Terbakar di atas kekuasaan menebas tabir mimpi Balian di balai balai. Jerit tangisan burung Enggang dan gelegar mesin gergaji. Kepak sayap luruh tercabut di sela rumahnya yang roboh sebelum pohon lain sempat bertunas. OoiiPunai yang bersarang di rantingranting Tengkawang. Berlimpah darah perlawanan, jangan menyerah“.

Saya menangkap, kepedihan itu adalah refleksi perasaan mereka terhadap apa yang berlangsung di Meratus. Yang jika tidak salah saya tangkap adalah menipisnya hutan-hutan akibat penebangan liar, penjarahan isi hutan besar-besaran oleh pemilik modal besar, kebakaran hutan, tanah longsor dan memudarnya kearifan lokal dan melemahnya adat istiadat dan budaya masyarakat asli Kalimantan. Sungguh tulisan yang sangat menyentuh,  membukakan mata hati dan jiwa akan apa yang tengah berlangsung di sana yang tidak terlihat dengan mudah oleh mata awam. 

Berharap pesan pesan dalam tulisan tulisan ini yang disusun oleh para penyair Kalimantan dan didukung oleh tulisan tulisan penyair lain dari luar Kalimantan dengan nada serupa, pesannya bisa sampai kepada pihak terkait, para pengambil keputusan, penentu kebijakan dan pelaksananya baik di tingkat Kabupaten,  Provinsi maupun di tingkat Nasional. Agar keputusan dan kebijakan apapun yang diambil tetap mengedepankan kelestarian lingkungan pegunungan Meratus dan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat penghuninya.

Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia” ini bisa saya katakan sebagai buku yang sangat bagus sekali untuk menjadi bacaan kita semua. Sangat menarik dan sangat membukakan mata.  Salah satu bentuk kepedulian para penyair atas apa yang terjadi saat ini di Meratus. Karena mengutip apa yang disampaikan oleh Pak Setia Budhi sang koordinator dalam pengantarnya “… sastrawan berikut karya sastranya hendaklah tidak terasing dari persoalan yang ada di masyarakat….”.

Cuma memang jika ada pertanyaan dimana kita bisa membeli buku ini, saat ini saya belum tahu jawabannya. Apakah sudah didistribusikan di toko toko buku nasional atau belum. Nanti bisa saya tanyakan ke panityanya. 

Semoga masa depan Meratus bisa menjadi jauh lebih baik. Alamnya tetap lestari dan masyarakat aslinya bisa terus maju seiring dengan perkembangan jaman tanpa harus meninggalkan adat istiadat dan budaya aslinya.

Salam hangat dari saya. 

Advertisements