Tag Archives: Daun Pepaya Jepang

Dapur Hidup : Daun Pepaya Jepang.

Standard

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

=Koes Plus=

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang tanaman sayuran apa yang sebaiknya ditanam di halaman jika tak punya waktu untuk merawatnya, maka jawaban saya akan sangat cepat dan pasti : Daun Pepaya Jepang. Beneran!. Ini kayak yang dibilang sama Koes Plus. Tancepin batangnya, pasti jadi tanaman ūüėÄūüėÄūüėÄ

Tancapkanlah beberapa batang pepaya Jepang di mana saja di halaman. Asalkan ada sejumput tanah, maka iapun akan hidup dan tumbuh dengan baik. Dan ketersediaan sayuran di dapurpun terjamin.

Ini adalah beberapa dari tanaman pepaya jepang saya yang tumbuh di setiap pojok halaman rumah. Setiap ada sesenti tanah yang nganggur saya tancepin batang tanaman ini. Lumayan banget…

Urban Farming: Daun Pepaya Jepang.

Standard

Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah menulis tentang beberapa jenis sayuran yang relatif baru di dapur saya. Nah diantara sayuran yang belum lama saya kenal itu, saya ada menulis Daun Pepaya Jepang. Saya membayangkan pohonnya  tentu seperti pohon pepaya namun kecil-kecil. Saya tak pernah melihat sebelumnya.

Tak disangka, rupanya setahun setelah itu saya mulai menanam pohon Pepaya Jepang ini di halaman rumah saya dalam rangka menopang program ‘Dapur Hidup’ saya. Walaupun tinggal di daerah perkotaan dengan halaman sempit, saya tetap berusaha mengurangi ketergantungan akan kebutuhan dapur, jika tidak bisa disebut sebagai berupaya melakukan swa sembada kebutuhan dapur dari halaman sendiri.

Bagaimana asal muasalnya, mengapa saya bisa memilih tanaman ini sebagai salah satu penghuni Dapur Hidup saya?. Nah.. ini sebenarnya bermula dari sebuah ketidak sengajaan.

Pak Sopir yang mengantarkan saya tiba-tiba bertanya saat kami sedang di jalan “Ibu! Tahu nggak Ibu sayuran Daun Pepaya Jepang?” tanyanya. Ia memang suka mengajak saya ngobrol atau menanyakan pendapat saya tentang berbagai hal yang menarik perhatiannya. Tentang apa saja.

Oh? Saya yang sedang asyik bermain games di jok belakang langsung menutup hape saya. Tentu saja saya tahu. Saya adalah salah seorang ibu rumah tangga yang sangat terkesan akan sayuran itu. Bentuknya mirip daun pepaya tetapi kecil-kecil, sedangkan rasanya seperti daun singkong dan tidak pahit sama sekali. Jadi lumayan membantu banget kalau lagi pengen masak daun pepaya tapi nggak mau pahit.

Pak Supir lalu bercerita, bahwa neneknya yang tinggal seorang diri dulunya sering berjualan daun pepaya jepang untuk menyambung hidupnya. “Ooh? Sekarang masih?” tanya saya. “Sekarang sudah tidak lagi, Bu. Tapi pohonnya masih ada. Ibu mau? Nanti saya bawain” katanya menawarkan. Tentu saja saya langsung mengiyakan dengan senang hati. saya memang sudah lama penasaran akan wujud pohon pepaya Jepag ini.Karena yang saya tahu hanya daunnya dari tukang sayur.

Akhirnya esok harinya Pak Supir membawakanlah saya batang tanaman pepaya jepang ini ke rumah utnuksaya jadikan bibit.  Oooh..jadi begini bentuknya!. Saya mengamat-amati batang tanaman itu.

Bentuknya rupanya mirip dengan batang Ubi Kayu alias singkong. Tapi menurut Pak Supir tanaman ini tidak berumbi. Jadi tidak dibudidayakan orang untuk umbinya. Tidak pula berbuah seperti pepaya.  Hanya berbunga saja kecil-kecil mirip bunga tanaman Jarak mini (Jatropha) bentuknya. Tanaman yang aneh. Berdaun seperti pepaya (Carica) berbatang seperti singkong (Manihot) dan berbunga seperti jarak (Jatropha). Saya terheran-heran, bagaimana dua tanaman yang berada dalam 2 family yang berbeda bisa memiliki kesamaan daun seperti ini. Tapi setelah melihat batang dan bunganya, saya cenderung berkesimpulan bahwa tanaman ini lebih dekat ke  family Euphorbiaceae ketimbang ke family Caricaceae (pepaya).

Ada beberapa batang. Ada yang saya tanam di pot, dan ada juga yang saya tanam di polybag. Tidak ada perbedaan perlakuan ekstreem antara yang di pot dengan yang di polybag. Sama saja suburnya. Tetapi ternyata ada perbedaan kecepatan pertumbuhan antara yang diletakkan di halaman belakang  dengan yang diletakkan di halaman depan di dekat kolam. Yang di dekat kolam dan kecipratan air, ternyata lebih hijau dan subur,

Dalam beberapa minggu ternyata daun pepaya jepang ini sudah bisa dipanen. Lumayan kan buat nambah variasi masakan di dapur? Daunnya bisa ditumis, dimasak kuah santan, atau mau dijadikan botok, diurap, dikasih teri, atau direbus dijadikan lalap dan dicocol sambel terasi juga enak sekali. Tinggal petik segar-segar dari halaman. Diolah. Segar dan manis.

Itulah tanaman pepaya Jepang. Salah satu tanaman sayuran yang layak sekali masuk ke dalam daftar “Dapur Hidup”kita. Menanamnya mudah dan pemeliharaannya juga mudah.

Lumayan banget buat irit-irit belanja dapur.

 

Sayuran Yang Relatif Agak Baru Di Dapurku.

Standard

Setiap kali berada di pasar saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat jenis sayuran yang jarang dibawa tukang sayur. Kadang-kadang malah menemukan jenis sayuran yang sebelumnya tidak pernah ada. lalu biasanya saya coba untuk memasaknya di rumah.  Ada beberapa jenis sayuran yang bagi saya tergolong baru,karena baru muncul di pasaran (setidaknya di pasar tempat saya berbelanja) paling banter 2-max 5  tahun belakangan ini.

1. Sawi Pagoda alias Wuta.

Sawi PagodaSaya tidakingat kapan pertama kali saya melihat sayuran ini. Tapi saya yakin belum terlalu lama. Barangkali setahun dua tahun yang lalu.Sawi Pagoda atau sering juga disebut dengan nama lain Wuta, kelihatannya adalah jenis sawi yang benihnya berasal dari Thailand.

Saya tertarik melihatnya karena bentuk daunnya yang indah,tertata rapi melingkar,makin lama makin tinggi, membentuk kerucut terbalik. Bentuknya itulah yang menyebabkan mengapa ia disebut dengan nama Sawi Pagoda.  Warna  daunnya hijau gelap,  sangat kontras dengan  tangkai daunnya yang berwarna putih bersih. Sungguh menawan sekali penampilannya.Saking cantiknya, rasanya sayang untuk memetiki daunnya. Saya pikir tnaman ini sangat cocok untuk hiasan meja daripada dimasak.

Tapi ketikadimasak,rupanya rasanya juga enak. Saya pikir lebih enak dari jenis sawi biasa.Lalu bagaimana cara memasaknya? Karena saya tidak tahu,ya..saya masak Ca saja. Bisa juga dimasak tumis dengan Seafood, atau buat accesories mie.

2. Daun Pepaya Jepang.

Daun Pepaya JepangNah kalau yang ini saya tahunya baru beberapa bulan terakhir saja. Gara-garanya lagi pengen masak sayuran yang jadul jadul, eh..tiba-tiba melihat daun pepaya kecil-kecil dipajang di lapak tukang sayur di Pasar  Modern Bintaro. Tukang sayurnya mengatakan bahwa itu adalah Daun Pepaya Jepang. Ohh..saya baru pertamakali melihatnya. Warna daunnya juga lucu. Rasanya warna hijau hijaunya lebih gelap dari daun pepaya biasa.

Nte pait, Teh.Tinggal ditumis ajah” katanya. Saya dipanggil “teteh’ karena tukang sayur di pasar itu kebanyakan anak-anak muda Sunda dari Leuwiliang, Bogor. hah?nggak pahit ya? Awalnya saya tidak percaya. Masak sih ada daun pepaya yang tidak pahit? Mana mungkin.

Karena penasaran, maka sayapun membelinya. Saya bersihkan, potong lebih kecil, dan tumis..memang benar tidak pahit sama sekali. Rasanya jadi mirip daun singkong,karena pahitnya hilang. Enak. Sekarang saya malah ketagihan.

3. Sawi Keriting

Sawi KeritingSawi keriting saya kenal sudah sedikit agak lebih lama dibanding 2 sayuran di atas.  Lagi lagi saya memilihnya karena tampilannya yang lucu keriwil keriwil.

Secara struktur, sawi keriting mirip dengan Sawi putih (pitcai/pitsai).  Tidak berbatang (jenis batang yg tipis hanya dibagian pangkal tangkai daun). Tangkai daunnya yang lebar dan pipih mengelompok ditengah sehingga  daunnya yang keriwil praktis lebih banyak di ujung. Hanya saja ukuran sawi keriting ini biasanya jauh lebih kecil dari sawi putih yang biasanya besar, tebal dan padat.   Warna daunnya bervariasi dari hijau pucat  kekuningan hingga hijau tua. Secara keseluruhan tampilannya sangat menarik dan menggiurkan.

Rasanya, kalau menurut saya sih lebih enak dari sai putih ya.  lebih gurih dan sedikit lebih licin. Kalua ditanya enaknya dibuat apa, saya pikir bisa untuk apa saja ya. Direbus dan dijadikan lalap terus dicocol sambel terasi  enak. Ditumis enak, buat campuran cap cay enak. begitu juga buat nemenin mie.  Cocok lah menurut saya.

4. Sawi Manis.

Sawi ManisKalau menurut saya sayuran Sawi Manis ini kelihatannya masih saudara dengan Sawi Hijau (Cai sim).  Rupanya serupa. Agak berbatang, walaupun batangnya tidak berkayu. Tangkai daunnya panjang, demikian juga daunnya.  Warna daunnya hijau standard. Ukurannya lebih kecil dari sawi hijau.

Nah apa yang membedakannya dengan Sawi Hijau? Kalau menurut saya rasanya lebih renyah dan lebih manis. Barangkali itulah mengapa ia disebut dengan nama Sawi manis.

Enaknya dimasak apa?  Sama denga jenis sawi hijau, sawi ini paling enak dipakai untuk teman makan mie.  Atau yang suka makan bakso,mungkin cocok menggunakan jenis sawi ini.