Tag Archives: Denpasar

Denpasar versus Badung.

Standard

Semasa kanak-kanak, saya tinggal di Bangli, sebuah kota kecil di tengah pulau Bali. Jaman saya itu, kebanyakan dari kami berbahasa Bali sebagai bahasa utama, dan jika bisa berbahasa Indonesia, rasanya sudah keren banget 👌👌👌. Karena banyak banget orang (bahkan orang dewasa) di jaman itu belum bisa berbahasa Indonesia.

Jadi saya sering menggunakan dua bahasa itu dalam percakapan sehari- hari. Berbahasa Bali, lalu pindah berbahasa Indonesia, tergantung situasi dan lawan bicara. Setiap kata dalam Bahasa Bali pasti ada terjemahan Bahasa Indonesianya. Tiang =Saya, Sampun = Sudah, Durung =Belum , Nggih = Ya, dan seterusnya.

Nah yang konyol adalah, waktu kecil itu saya menyangka jika Denpasar adalah Bahasa Indonesia daripada Badung.
“Tiang luwas ke Badung”, maka terjemahannya adalah “Saya pergi ke Denpasar”.

Saya tidak pernah mengatakan “Tiang luwas ke Denpasar” ataupun “Saya pergi ke Badung”. Karena padanan bahasanya tidak klop menurut saya 😀.

Walaupun pergi ke tempat yang sama, pokoknya kalau pake Bahasa Bali sebut kata Badung, tapi jika pake Bhs Indonesia, ganti jadi Denpasar 😀😀😀.

Sungguh saya tidak tahu jika waktu itu Denpasar adalah Ibukota Kabupaten Badung. Bukan Bahasa Indonesia dari Badung. Saya baru tahu setelah belajar Geography di SD. Jadi saya salah besar selama itu.

Dan bahkan sekarang Denpasar adalah sebuah Kotamadya tersendiri. Sedangkan Badung adalah sebuah Kabupaten tersendiri juga, yang sejak tahun 2009, ibu kotanya menjadi Mangupura.

Adakah teman teman yang punya pengalaman serupa dengan saya? Pemahaman masa kecil yang ternyata salah 😀😀😀

Bandara Ngurah Rai Denpasar: Mengenang Bali Lewat Cartoon.

Standard

Sangat senang melihat bandara-bandara di kota-kota di Indonesia mulai berbenah dan jadi cantik bersih layaknya bandara di luar. Mulai dari bandara yang di Makasar,  yang di Medan, yang di Surabaya  hingga yang di  Denpasar. Untuk Bandara Ngurah Rai yang di Denpasar ini, walaupun sudah bolak balik pulang saat bandara sedang dibetulkan, begitu jadi dan semua sekat-sekat daruratnya dibongkar eh..saya malah pangling sendiri. Ketika pulang saya turun di Kedatangan Internationalnya, rasanya ke tempat parkir hanya pendek sekali jaraknya. Tapi ketika harus berangkat lagi, saya masuk dari pintu Keberangkatan Domestik, kok tempatnya jauuuuh dan berbelok-belok. Saya sendiri bingung dan merasa tulalit. Agak lama saya mikir, baru saya ngeh, rupanya area Domestik sekarang bertukar tempat dengan area International. Dan tentunya sudah banyak perombakan juga. Oooh… pantas saja.

Tapi saya senang,  terutama karena sekarang bandara terasa sangat bersih, dingin dan terang benderang.  Semuanya terasa baru. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah pilar-pilar di aula persis di depan  masuk. Pilar-pilar penyangga itu dihiasi dengan panel-panel yang bergambar cartoon. Karena saya menyukai karya-karya lukisan, gambar, cartoon dan sejenisnya, maka sayapun mendekat dan mengamatinya satu per satu.

Rupanya cartoon-cartoon ini adalah karya BOG-BOG, Bali Cartoon Magazine – majalah kartun bulanan yang sangat terkemuka di Bali.

Airport Ngurah Rai Cartoon 1

Cartoon ini bercerita tentang situasi sehari-hari di Bali. Tentang keriuhan susananya. Dan bagaimana Bali menggeliat diantara adat istiadat, pariwisata dan perkembangan teknologi informasi. Semuanya digambarkan oleh Bog-Bog dengan konyol yang mengundang senyum saya. Di tepi pantai misalnya  digambarkan para wisatawan sedang sibuk dengan kegiatan berliburnya. Ada yang berjemur dengan santai, sedangkan pasangan di sebelahnya  saking asyiknya hingga tak sadar kakinya kecapit kepiting dan saat berteriak, ternyata payung mataharinya pun ikut ngejeplak dan menjepitnya sendiri. .ha ha. Di sebelahnya tampak orang penakut yang mencoba memberanikan diri bermain”bungy-jumping”, sementara wisatawan lain juga tampak sedang berselancar. Sementara tak jauh dari satu tampak sebuah Pura sedang ada upacara. Orang-orang digambarkan sedang beriringan membawa banten di atas kepalanya pergi ke pura. Tapi kalau kita perhatikan, ternyata di dekatnya ada juga wanita yang membawa …..tas golf beserta  stick-nya di atas kepalanya. ha ha. Di sini juga kita melihat Pecalang yang sedang  berjaga dengan pentungan dan kain polengnya. Lelaki yang sibuk dengan ponselnya berupaya menggaruk Dollar. Orang bermain layang-layang, sapi yang menganggur di sawah karena tugasnya sudah digantikan oleh mesin. Juga lahan yang makin menyempit yang membuat penduduk sekarang menjemur pakaiannya di tempat ketinggian. Yah.. itulah potret Bali.

Airport Ngurah Rai Cartoon 3

Setelah melihat gambar itu saya berpindah untuk melihat cartoon Bog-Bog yang lainnya.  Ha ha..di sini saya melihat delegasi kesenian Barong yang akan bepergian ke luar dan tentunya Barongpun tidak luput dari pintu Scan ya. Repot sekali tampaknya. Tapi karena harus, ya… Barongpun harus lolos scan terlebih dahulu sebelum naik pesawat.

Airport Ngurah Rai Cartoon 6

Di pilar berikutnya Bog-Bog menggambarkan kebiasaan orang Bali melakukan upacara “melaspas” segala peralatan/tempat yang baru akan digunakan. Tujuan dari upacara ini adalah untuk berterimakasih kepadaNYA bahwa telah diberkahi rejeki sehingga mampu memiliki tempat/peralatan baru yang siap digunakan dan memohon agar diberikan keselamatan dalam penggunaannya. Itu berlaku untuk apa saja.Misalnya jika seseorang membuat rumah baru, membeli motor baru, membeli mobil baru dan tentunya juga jika ada ….pesawat baru. Di sini digambarkan orang-orang sedang mengupacarai pesawat Bog Airways. Sementara pemuka agama sedang melakukan doa di lapangan pacu, para wisatawan terheran-heran dan sibuk memotret dan mengabadikan kegiatan itu.  Ah! Ada-ada saja.

Airport Ngurah Rai Cartoon 7

Cartoon berikutnya masih cerita di seputaran bandara. Bog-Bog berkisah tentang kesukaan pria Bali akan Ayam Jago. Saking sukanya, kemanapun ia pergi si Ayam Jago harus ikut serta. Nah masalahnya kalau dibawa ke bandara, tentu sang Ayam harus juga melewati X-ray scanners untuk memastikan bahwa di dalam tubuh ayam iu tidak diselundupkan benda-benda yang berbahaya bagi penumpang lain. erlihat sang pria pemilik ayam merasa stress khawatir ayamnya akan berakhir menjadi ayam goreng jika melewati tunnel X-ray itu. Ha ha..lucu juga.

Airport Ngurah Rai Cartoon 5

Di pilar yang lain  juga menceritakan tentang siuasi sehari hari di Bali. Kota yang sibuk dan persawahan yang masih tenang namun juga sudah mulai termodernisasikan disertai kegiatan wisata rafting  yang juga merambah sungai-sungai di pedalaman.

Rupanya pillar-pillar itu memiliki panel 2 sisi. Di mana di sisi sebelahnyapun ada gambar cartoonya juga. Semuanya membuat saya tersenyum. Sampai di sini saya berhenti.

Saya pikir cartoon adalah seni yang sangat kontekstual. Jika orang tidak pernah melihat faktanya, tidak pernah mengalaminya,tidak pernah datang ke tempat itu dan tidak mengerti latar belakang budayanya, tentu akan sulit  untuk memahami konteksnya. Sehingga apa yang tergambar lucu bagi orang-orang tertentu yang mengenal Bali dengan baik, belum tentu dianggap lucu bagi orang yang baru mengenal Bali dan tidak memahami konteks yang diceritakan oleh penutur dan penggambarnya. Tapi setidaknya bagi orang yang sudah pernah ke Bali, minimal sebagian dari yang diceritakan oleh cartoon di atas mungkin bisa dipahami. Dan ketika langkah kaki para wisatawan ini menghilang di balik pintu pesawat dan membawa mereka pulang kembali ke kota maupun ke negaranya masing-masing, setidaknya cartoon-cartoon ini akan ikut membantu mereka untuk mengenang Bali. Saya menoleh ke Cartoon itu lagi yang seolah  berkata ” Jangan lupa pulang kembali ke Bali!“. Bog-Bog Cartoon Magazine ikut membantu orang lain tersenyum dan senang ketika mengenang Bali.

Tepat ketika saya akan mengakhiri tulisan ini, entah kenapa dengan sangat kebetulan tiba-tiba sahabat saya Jango Paramartha, sang cartoonist sekaligus pendiri dan boss dari BOG-BOG, Bali Cartoon Magazine yang karyanya baru saja saya bahas dan tulis di atas, tiba-tiba nongol di Time Line FaceBook saya hanya untuk say hello dan berkomentar atas sebuah status yang saya tuliskan di Face Book.

jango 1

Padahal sebelumnya ia tidak tahu kalau saya sedang menulis tentang karya-karyanya yang dipampang di Bandara Ngurah Rai itu. Padahal sebelumnya saya memang berniat untuk memberitahukan soal tulisan saya ini setelah saya publish. Tapi rupanya ia nongol duluan. Sangat kebetulan. Sangat kebetulan!. Saya kaget dan senang, tentu saja… Akhirnya kamipun mengobrol juga tentang hal lain. Wah..kok kebetulan sekali ya?.Nah sekarang barangkali saya perlu memberitahukan kepadanya tentang tullisan saya ini kepadanya.

Sukses untuk Bandara Ngurah Rai! Sukses juga untuk Bog-Bog Magazine!. Sukses untuk Jango Paramartha!

 

Pare Yang Tidak Pahit.

Standard
Pare Yang Tidak Pahit.

Ketika masih menjadi anak kost di tahun 80 an di Denpasar, wilayah jelajah saya adalah seputaran Sudirman- Panjer- Sanglah. Di saat itu, biasanya saya hanya membeli makan dari warung-warung atau rumah makan kecil yang banyak terdapat di sekitar kampus. Paling sering saya membeli makan siang saya di Pasar Sapi. Salah satu  rumah makan favorite saya berlokasi di pertigaan Pasar Sapi – Sanglah. Kalau tidak salah namanya Depot Adi. Entah masih ada atau tidak saat ini.  Saya belum pernah melintas di daerah itu lagi belakangan ini.

Saya masih ingat, menu favorite saya adalah Nasi campur dengan lauk ayam suir, telor menyar ½ butir dengan sambal merah di atasnya, tumis pare telor yang sama sekali tidak terasa pahit, serta ayam goreng kering. Nah,untuk mengenang masa remaja saya itu, saya lalu berusaha menebak bagaimana caranya memasak pare tanpa harus terasa pahit ala rumah makan itu dan menghidangkannya sekali-sekali di atas meja makan saya di rumah. Dan saya pikir, rasanya sama dengan apa yang suka saya beli di rumah makan itu.

Untuk memudahkan, saya juga mengajarkan pembantu rumah tangga di rumah saya bagaimana caranya memasak tumis pare telor  yang tidak pahit ini. Sekarang  ia mulai pintar memasaknya tanpa harus saya supervisi lagi.

Bahan-bahan yang diperlukan hanya buah pare 2 buah, bawang merah, bawang putih, garam, cabai keriting, 2 butir telor. Memasaknya sedikit perlu usaha dan tenaga.

Pertama, kita perlu memilih pare yang bersih dan segar. Yang lebih muda lebih baik.

Cuci buah pare hingga bersih. Belah pare menjadi dua bagian memanjang. Lalu setiap bagian kita iris tipis-tipis membentuk setengah lingkaran.

Masukkan irisan pare ke dalam baskom sayur, lalu taburi dengan sedikit garam. Remas-remas irisan pare hingga layu dan keluar cairannya. Remas terus hingga cairan yang terkumpul cukup banyak, lalu cairannya kita buang. Remas kembali sisa pare yang sudah layu, dan buang kembali airnya. Demikian seterusnya hingga kita yakin, cairannya yang terasa pahit itu sudah keluar semua dan terbuang.

Iris bawang merah, bawang putih dan cabe keriting tipis tipis.

Panaskan wajan, tuangkan sedikit minyak kelapa untuk menumis. Lalu tumis irisan bawang merah dan bawang putih hingga layu dan harum.  Masukkan irisan cabai rawit. Aduk-aduk sebentar, lalu pecahkan telor di atas wajan dan aduk aduk secepatnya.

Segera masukkan pare yang sudah layu untuk ditumis bersama. Aduk merata hingga  bumbu, telor dan pare bercampur rata. Lalu angkat dan hidangkan di atas piring saji.

Hidangan ini sama sekali tidak terasa pahit. Coba, deh.

Ketika Conrad Sakit Perut…

Standard

Saya ingin menceritakan pengalaman saya di sebuah perjalanan pulang seorang diri ke Bali. Setelah check in di counter sebuah maskapai penerbangan, sayapun akhirnya masuk ke pesawat dan  mencari tempat duduk saya sesuai dengan yang tertera  di boarding pass. Hmm.. kebetulan!. Dekat jendela. Kalau siang hari dan udara cerah,  memang saya lebih senang duduk dekat jendela. Karena  bisa melihat langit yang biru, awan-awan putih, hutan, sawah, gunung, pantai atau lautan saat pesawat melintas di atasnya. Read the rest of this entry

“Bamboo Root Artcraft ” …Kul-Kul Berbias Wajah E=mc², Oleh-Oleh Dari Bangli.

Standard
“Bamboo Root Artcraft ” …Kul-Kul Berbias Wajah E=mc², Oleh-Oleh Dari Bangli.

Bangli, kota kecil di tengah-tengah pulau Bali bisa dikatakan adalah area penyangga pariwisata yang sangat penting di Bali. Walaupun tidak  memiliki tujuan wisata, hotel maupun restaurat sebanyak  kabupaten Gianyar maupun Badung dan Denpasar,  namun Bangli memiliki desa-desa penyokong industry pariwisata yang sangat baik. Kita bisa menemukan banyak sekali pengrajin emas & perak di Banjar Pande di Bangli, demikian juga pengrajin ukiran kayu, bamboo dan sebagainya di desa-desa lain di Bangli. Produk-produk hasil pengrajin di Bangli ini juga yang banyak dipasarkan di tempat-tempat pariwisata yang lebih terekspose di Bali. Read the rest of this entry

Berpikir Dari Kiri Ke Kanan Atau Dari Kanan Ke Kiri Ya?

Standard

Beberapa saat yang lalu saya sempat menulis tentang kehidupan yang berjalan  seperti buku cerita. Ada bagian awal, bagian tengah dan bagian akhir. Berjalan pada satu jalur yang linear. Walaupun mungkin saja bercabang dan memiliki banyak alternative yang bisa dipilih, namun  kehidupan manusia dan akhir riwayatnya secara garis besar tetap saja berjalan secara linear. Dari Awal ke Akhir.  Mirip sebuah garis. Jika kita menggambar garis, umumnya kita mulai dari titik di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan. Bukan dari Kanan ke Kiri. Demikian juga garis linear yang  dijalankan manusia.  Umumnya dimulai dari  titik Awal menuju ke titik Akhir. Bukan dari Akhir ke Awal.  Serupa, bukan? Read the rest of this entry

Liburan . Jalan-jalan Ke Monkey Forest Ubud.

Standard

Memperkenalkan Konsep Tri Hita Karana Dalam Kehidupan Pada Anak

Ketika berkesempatan pulang ke Bali bersama keluarga, saya mendapatkan ide untuk mengajak anak saya mengunjungi Wenara Wana atau yang lebih sering disebut Monkey Forest di Ubud sebagai respon atas keinginan mereka untuk melihat binatang. Read the rest of this entry

Dunia Hanya Selebar Daun Kelor.

Standard

Barack ObamaDalam sebuah perjalanan pulang kampung ke Bali, saya duduk di sebelah seorang anak muda yang tidak saya kenal. Namun karena ia ramah, maka dengan cepat kami berteman dan mengobrol di sepanjang penerbangan. Rupanya ia seorang dokter yang belum lama lulus dan ingin mengembangkan karirnya di Ibu kota. Sambil ngobrolpun ia berusaha menanyakan informasi beberapa rumah sakit swasta di Jakarta. Saya memberikan informasi hanya sebatas pengetahuan saya saja. Read the rest of this entry