Tag Archives: Dongeng

Kampid Dedalu: Dongeng Tentang Laron Dan Sayap Pinjamannya.

Standard

DedaluMusim penghujan! Gerimis turun satu per satu. Saya memandang lewat jendela. Ada pemandangan menarik di luar.  Ratusan atau bahkan mungkin ribuan laron  beterbangan membubung tinggi mendekati cahaya lampu jalanan. Mereka berputar-putar dengan gerakan yang bisa diikuti mata.  Sayapnya gemerlap tertimpa cahaya di antara butir-butir air hujan  yang  mirip tirai berkilau.  Sungguh  pemandangan yang sangat indah. Memandangnya, membuat saya terasa berada di negeri dongeng. Terasa ikut terbang menuju sumber cahaya bersama laron-laron itu.

Sebentar lagi para laron ini tentu kelelahan terbang berputar-putar seperti itu. Sayapnya akan rontok satu per satu dan akhirnya iapun akan kembali jatuh ke tanah. Sebagian ada yang beruntung menemukan pasanganya. Membangun kerajaan rayap yang baru, di mana mereka yang akan menjadi raja dan ratunya.  Namun sebagian lagi mungkin akan menemui ajalnya begitu saja. Mati sia-sia terendam air hujan. Atau mati bermanfaat  bagi mahluk lain , menjadi sarapan kelelawar, burung  hantu, kodok , cicak atau bahkan manusia.

Di Bali, binatang kecil bernama Laron ini disebut dengan nama Dedalu.  Ada sebuah dongeng, cerita rakyat Bali  yang saya ingat tentang Dedalu ini.

*****

Kampid Dedalu

Pada jaman dulu  terdapatlah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja dan seorang Ratu yang memiliki tiga  anak . Yang pertama diberi nama  I Dedalu. Anak kedua bernama I Prajurit  dan anak yang ketiga diberi nama  I Tetani. Dedalu,  diberi tugas oleh orangtuanya untuk mengumpulkan remah-remah kayu untuk persediaan makanan. I Prajurit diberi tugas oleh ayahnya untuk berjaga-jaga di luar dan menghajar pasukan semut api yang datang menyerbu. Sedangkan  Tetani yang  merupakan pekerja keras dan handal diberi tugas oleh  ibu mereka untuk membangun dan memperluas sarang.

Mereka tinggal di sebuah lembah yang subur.  Namun mereka sangat menderita. Karena  mereka bermusuhan dengan semut api yang menjadi  tetangganya. Belakangan, seringkali pasukan semut  tiba-tiba datang dan menyerang mereka dengan mendadak. Walaupun mereka selamat dan berhasil melarikan diri, tapi tak urung banyak  kerugian yang mereka derita.  Banyak bahan makanan mereka yang disita oleh pasukan semut api. Demikian juga sarang mereka.Sebagian ada yang dirusak.

Sang Raja lalu memanggil ke tiga anaknya. Ia berkata bahwa mulai sekarang, sebaiknya mereka perlu  melakukan patroli berkeliling untuk memantau pasukan musuh.  Sehingga bisa bersiap-siap sebelum meraka datang. Semua setuju. Disepakati bahwa I Tetani lah yang akan berangkat untuk melakukan patroli. Karena I Tetani yang paling awas dan teliti diantara mereka. Untuk tugas itu  I Tetani dihadiahi empat buah sayap (kampid = bahasa Bali) oleh ayahnya, agar ia bisa terbang dan memantau pasukan semut dari udara.

I Tetani menerima tugas dengan baik. Setelah menerima sayap itu, maka berangkatlah ia melakukan patroli. Tiga kali sehari.    Ia terus melakukannya dengan rajin. Setiap kali  si semut api bermaksud menyerang, I Tetani sudah tahu lalu memberitahukan hal ini kepada sang raja. Raja pun memerintahkan I Prajurit untuk berjaga di luar  dan menyerang si Semut Api sebelum mereka sempat mendekati sarang mereka. Sejak saat itu,  rumah mereka pun aman dari serbuan semut api.

I Tetani tetap melakukan patroli udara ke luar rumah secara berkala walaupun sudah aman. Jika ia di rumah,maka ia mengerjakan sarang. Sementara jika ia berpatroli, maka tugasnya membangun sarang digantikan oleh I Dedalu.  Lama kelamaan I Dedalu merasa iri. Ia merasa cape menggantikan tugasnya. Ingin sekali-sekali  bermain dan terbang bebas di luar sana. Ke luar dari rutinitas pekerjaannya. Ia menggerutu. Kenapa sang Raja tidak menugaskan dirinya saja yang berpatroli.

Suatu malam, ia memandang ke luar sarang. Dan melihat betapa  bulan purnama  yang penuh bersinar terang, naik ke langit perlahan-lahan. Menyinari malam dengan sangat indahnya. ooh..betapa inginnya ia ke sana. Terbang dan menari-nari menuju bulan.  Seandainya ia mempunyai sayap.  Tentu ia akan membubung tinggi ke bulan. Melakukan pesta malam yang gemerlap di udara malam. Ia pun membayangkan dirinya  terbang berlenggak lenggok dengan sayapnya. Tentu semua mahluk akan mengaguminya.  Maka  tanpa sepengetahuan sang Raja, iapun pergi menemui I Tetani dan mengutarakan maksudnya untuk meminjam sayap.

Awalnya I Tetani tidak mengijinkan. Namun karena didesak terus oleh I Dedalu, maka iapun meminjamkan sayapnyakepada I Dedalu  dengan catatan segera mengembalikannya sebelum  tengah malam tiba. Karena ia sudah harus melakukan tugas patroli kembali. I Dedalu pun setuju. Dan bergegas mengenakan sayap itu di punggungnya.  Tidak terlalu pas. Sayapnya agak berat dan kebesaran. Namun I Dedalu tetap memaksa terbang dengan sayap yang bergetar karena tidak pas di tubuhya. Ia terbang semakin ke atas dan semakin ke atas. Ke arah rembulan yang bercahaya. Di udara malam ia menari, bernyanyi dan bersuka ria di bawah cahaya bulan. Ia memamerkan sayap I Tetani  yang indah dan berkilau di timpa cahaya bulan kepada semua mahluk yang melihatnya.

Tanpa disadarinya, seekor burung hantu yang lapar melihatnya dan segera menyambar dirinya. I Dedalu meronta-ronta dan menangis meminta pertolongan. Angin datang menolong. Iapun lepas dari cengkeraman burung hantu dan hinggap di dahan pohon asam. Namun sayapnya patah sebuah.  Ketika beristirahat di sana, tiba-tiba seekor cicak menyerangnya.  Sayapnya rontok sebuah lagi. Ia terbang kembali dengan miring karena sayapnya kini tinggal dua buah.  Di tengah jalan seekor kodok keluar dari persembunyiannya di balik semak dan menyerangnya. I Dedalupun berlari dengan cepat. Namun tak urung sebuah sayapnya lepas lagi. Tinggal lah sebuah. Kini ia teringat kepada I Tetani, adiknya. Ia berjanji akan mengembalikan ke empat sayap itu sebelum tengah malam.  Ia berjalan merayap di tanah dan mencoba mencari jalan pulang. ia ingin meminta maaf dan mengembalikan sayap yang tinggal sebuah itu. Tanpa disadarinya ia malah mendekati sarang pasukan semut yang menjadi musuh bebuyutan keluarganya. Iapun dikejar-kejar semut. Sayapnya yang terakhir pun lepas dan tertinggal di dekat sarang semut.  I Dedalu berjalan terus dan terus dengan sedihnya.  Ia tak menemukan jalan pulang ke rumah orang tuanya.

Karena sudah tidak aman gara-gara tidak memiliki lagi sayap untuk berpatroli, sejak saat itu maka keluarga itupun menyelamatkan diri ke dalam tanah dan berubah mejadi rayap. Sang raja dan ratu berubah mejadi Raja dan Ratu Rayap.I Tetani beranak pinak dan menjadi rayap. demikian juga dengan I Prajurat, akhirnya berkembang mejadi rayap Prajurit yang memiliki rahang yang besar dan tajam. Dan I Dedalu berubah mejadi  Laron.

Konon itulah sebabnya mengapa  I Dedalu (Laron) selalu terbang gemeteran dengan kagoknya – karena sayapnya tidak pas, karena sebenarnya sayap  itu milik I Tetani (Rayap) yang dipinjamnya. Itulah pula sebabnya mengapa Laron selalu ingin mendatangi sumber cahaya, dan sayapnya selalu patah satu per satu sehingga ia tidak bisa menemukan jalan pulang.

*****

Namanya juga dongeng, tentu cerita ini adalah hasil karangan semata. Namun yang namanya dongeng, tentu selalu mengandung pesan moral yang disampaikan oleh orang tua kepada anak cucunya.  Salah satu pesan moral yang dipetik dari cerita ini disampaikan dalam bentuk Sesenggakan (Perumpamaan).

Kadang-kadang disela-sela pembicaraan, mungkin kita akan mendengar ada orang tua memberi nasihat kepada anak keponakannya seperti ini “Apang eda buka dedalune, mekeber nganggon kampid baan nyilih” – terjemahan ” Agar jangan sampai seperti laron, hendak terbang tapi menggunakan sayap hasil pinjaman dari orang lain”. Tentu saja petuah ini mengacu pada dongeng rakyat tentang “Kampid Dedalu” di atas.

Petuah itu  bermakna, agar anak anak pandai-pandai membawakan diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan serta kemampuan ekonomi yang ada. Bersikap rendah hati  dan bukan rendah diri. Apa adanya dan tidak berlebihan. Jangan memerkan hal-hal yang  bukan milik kita sendiri. Mau menggunakan pakaian dan perhiasan yang gemerlap namun hasil meminjam dari orang lain. Memamerkan mobil  baru yang mewah, namun hasil pinjaman atau malah hasil korupsi.  Dan sejenisnya.  Tampillah apa adanya. Kalau memang tidak punya, jangan sok kaya.

Saya tidak tahu, apakah petuah seperti ini masih berlaku dan dihargai untuk jaman sekarang ya?

 

 

I Belog Dan Bebeknya.

Standard

BebekSaya duduk di bantaran kali di belakang rumah berdua dengan anak saya yang kecil. Ngapain?  Maksudnya ya …melihat-lihat burung, biawak, bunglon,kupu-kupu serta bunga-bunga liar yang bermekaran. matahari baru saja naik di langit. Sinarnya yang hangat menembus celah-celah dedaunan dari pohon-pohon rindang yang tumbuh di pinggir kali.

Tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah hilir. Serombongan bebek berenang ke hulu.  Saya dan anak sayapun memandang ke arah bebek-bebek yang mengapung dan bergerak maju di atas permukaan air itu. Beberapa ekor nampak ada yang berhenti dan membenamkan paruhnya di lumpur di tepi kali. Tentu mereka sedang menyisir lumpur mencari cacing atau siput.  Beberapa ekor lainnya meneruskan perjalanannya ke hulu.  Berenang dan mengapung di sungai. Bebek siapa itu? Setahu saya bebek-bebek itu adalah milik Pak Amat,  yang rumahnya di hilir sungai di luar perumahan.

Mungkin itu bebek si Belog” kata saya bercanda kepada anak saya. “Apakah masih ingat dongeng mama tentang I Belog dan bebeknya?”. Anak saya tertawa dan mengangguk. Tentu saja ia ingat.  Belog dalam bahasa Bali itu artinya sama dengan Bodoh  atau Pandir. Jadi I Belog = Si Pandir.

*****

Dikisahkan, pada jaman dahulu hiduplah seorang anak lelaki kecil bernama I Belog.  Ia tinggal bersama dengan ibunya yang sudah tua dan menjanda. Bapaknya sudah meninggal saat I Belog masih bayi.  I Belog sesuai dengan namanya, memiliki kekurangan dalam hal kecerdasan. Seringkali ia berbuat yang keliru karena kebodohannya.

Suatu kali Sang Ibu memanggil I Belog. Karena dirasanya anak lelakinya sekarang sudah mulai besar, Sang Ibu ingin agar I Belog mulai bisa bekerja mencari uang sendiri dengan memelihara bebek. Maka disuruhnyalah anaknya itu pergi ke pasar untuk membeli beberapa ekor bebek. “Belog, berangkatlah kamu ke pasar hari ini untuk membeli bebek”. Anaknya mengangguk  setuju dengan rencana ibunya. I Belog pada dasarnya adalah seorang anak yang sangat baik dan penurut. Apapun kata ibunya pasti akan ia ikuti dengan baik. “Baiklah Ibu, saya akan berangkat hari ini” Jawab I Belog.  Ibunya pun segera memberikan I Belog sejumlah uang yang cukup untuk membeli sepuluh ekor anak bebek.

Menyadari bahwa anaknya kurang pintar, maka Ibunya mewanti-wanti I Belog dengan berbagai nasihat. “Kalau memilih anak bebek, pilihlah yang sehat dan lincah.  Pilih yang badannya berat – berat saja.  Jangan pilih bebek yang ringan, karena itu tandanya bebek itu  tidak sehat. Percuma kalau dibawa pulang” . Nasihat ibunya.  I Belog mendengarkan nasihat ibunya dengan baik. Ia menghapalkannya sepanjang jalan, karena ia tidak ingin ibunya yang sudah tua kecewa. Jadi pilih bebek yang sehat. Pilih bebek yang lincah. Dan pilih bebek yang berat.

Sesampainya di pasar, ia langsung mencari pedagang bebek. Melihat-lihat dan memilih sepuluh ekor anak bebek terbaik yang menurutnya sudah sesuai dengan permintaan ibunya.  Sudah terlihat paling sehat,  paling lincah dan paling berat.  Untuk memastikannya, maka iapun bertanya kepada pedagang bebek, apakah menurutnya bebek pilihannya itu sudah sesuai dengan kriteria ibunya atau tidak. Pedagang bebek itu meyakinkan I Belog, bahwa ia telah memenuhi semua persyaratan bebek sehat, lincah dan berat yang dinasihatkan ibunya. Maka dengan riang, iapun menuntun dan mengarahkan bebeknya berjalan pulang ke rumahnya.

Sebelummencapai rumahnya, ada sebuah sungai dangkal yang harus diseberangi oleh I Belog.  Ia pun berhenti sejenak di tepi kali dan bermaksud menyeberangkan bebeknya itu satu per satu.  Melihat badan air itu, maka bebek bebek itupun merasa sangat kegirangan, lalu beramai-ramai berlarian ke kali dengan riangnya. Kwek kewek kwek..jebuurrrrr! jeburrr! jeburrr!!, Kwek kwek kwek… jebur!!..  ke sepuluh ekor bebek itupun  sekarang sudah mengapung dan berenang di air kali itu.  Melihat itu I Belog  terkejut bukan alang kepalang.Ia teringat kepada nasihat ibunya.

Bebeknya mengapung di air!. Ia berpikir,  jika ada sebuah benda yang mengapung di air tentulah benda itu ringan, jika tidak tentu di dalamnya kosong. Waduuuh!. bebek -bebek itu mengapung semuanya. Tentulah bebek itu ringan. Atau kalau tidak tentu di dalamnya kosong.  “Aduuuh, rupanya aku sudah ditipu oleh pedagang bebek itu. Ia bilang bebeknya berat. Kenyataannya bebeknya mengapung. Ternyata aku salah membeli. Bebek kosong  rupanya yang kubeli” Gumamnya di dalam hati. I Belog merasa sangat geram pada pedagang bebek itu. Namun ia tak mungkin kembali ke pasar lagi, karena sekarang hari sudah terlalu siang.  Tentu pedagang bebek itu sudah pulang. Maka iapun akhirnya  pulang juga tanpa membawa bebeknya.  Ia ingat perkataan ibunya, bahwa percuma membawa bebek yang ringan. Ia pun berjalan dengan lunglai ke rumahnya.

Sesampai di rumah, ibunya bertanya mengapa ia terlihat sangat lesu dan dimanakah gerangan bebeknya? I Belogpun menceritakan semua kejadian yang ia alami sejak pergi hingga dalam perjalanan pulang di sungai kecil itu. Dan menunjukkan betapa kesalnya ia pada pedagang bebek yang menurutnya telah menipu dirinya itu. Mendengar cerita itu, ibunyapun terkejut dan mengurut dada .Sedih atas kebodohan anaknya. ” Ya ampuuun,Belog! Semua bebek juga akan mengapung jika kamu lepas di sungai. Tapi bukan berarti bahwa mereka ringan.” Kata ibunya.

Mendengar itu I Belog segera berlari kembali ke sungai. Namun bebek-bebeknya sudah tidak kelihatan lagi. Sudah terlalu jauh karena mengikuti arus sungai sejak ditinggalkan oleh I Belog.

*****

Moral ceritanya adalah hendaknya kita jangan memiliki pikiran sempit dan berhenti pada terjemahan harfiahnya saja, namun hendaknya meningkatkan pemahaman kita tehadap intisarinya dengan lebih mendalam, sehingga ketika kita berhadapan dengan situasi yang berbeda, pikiran  kita masih tetap jernih dan tdak kebingungan.

Burung Cerukcuk Dalam Sastra Bali.

Standard

Ketika sedang mengamat-amati tingkah laku Burung Cerukcuk di pinggir kali  belakang rumah, banyak kenangan masa kecil yang Burung Cerukcuk 9melintas di kepala saya.  Selain suaranya yang selalu setia membangunkan saya setiap pagi, saya juga teringat bahwa burung ini  ternyata cukup punya kontribusi juga dalam dunia kesustraan dan seni di Bali.  Setidaknya saya  ingat, ada sebuah Sasonggan atau Sasenggakan (= Pepatah)  dan Satua (= dongeng /cerita rakyat)   yang membawa-bawa nama Cerukcuk di dalamnya.

Sasonggan (Pepatah) : Sekadi Kedis Cerukcuk Punyah.

Sekadi Kedis Cerukcuk Punyah” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah “Bagaikan Burung Cerukcuk Mabok” .  Seperti kita tahu, burung Cerukcuk tanpa mabokpun sudah banyak sekali kicaunya. Cruk cuk cuk cak cruk cuk cuk cuk …cruk cuk  dan seterusnya. Nah bisa kita bayangkan, apa jadinya jika burung Cerukcuk ini sampai mabok ?. Tentu akan semakin banyak lagi kicaunya  dan tentunya pula kicauannya pun ngawur. Demikianlah jika seseorang yang banyak bicara namun pembicaraannya berkwalitas rendah atau malah tidak bermutu, sering diibaratkan sebagai seekor Cerukcuk  yang sedang Punyah alias mabok.  Karena  dianggap negative, biasanya orangtua menasihati anak-anaknya jangan banyak berbicara  atau sok tahu jika tidak tahu kepastiannya. Agar jangan menjadi seekor Cerukcuk Punyah. Agar jangan diperolok-olok orang lain.

Namun demikian banyak juga orang yang menyebut dirinya dengan nama Cerukcuk Punyah.  Barangkali untuk maksud merendahkan hati. Saya ingat,  bahkan seorang teman saya ada juga yang suka mengibaratkan dirinya dengan “Cerukcuk Punyah”, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak merasa sebutan itu cocok untuk dirinya.  Dan seingat saya bahkan ada juga sebuah tabuh/gamelan traditional yang berjudul Cerukcuk Punyah.

Satua Bali (Dongeng): I Cerukcuk Kuning.

Sebenarnya dongeng rakyat ini lebih tepatnya berjudul “I Bawang Lan I Kesuna”  terjemahannya adalah Bawang Merah Dan Bawang Putih.   Namun karena di dalam cerita itu melibatkan peranan seekor Cerukcuk Kuning, maka terkadang dongeng ini juga disebut dengan nama I Cerukcuk Kuning.

Dikisahkan pada jaman dahulu,hiduplah dua orang anak perempuan bersaudara yang diberi nama I Bawang dan I Kesuna.  Suatu hari karena Ayahnya mau berangkat ke sawah dan ibunya berangkat ke pasar, mereka ditugaskan oleh kedua orangtuanya untuk mengerjakan pekerjaan di rumah,  seperti menyapu, mencuci pakaian, memasak dan sebagainya. Merekapun mengiyakan perintah itu.

Ketika kedua orangtuanya pergi,  Si Bawang berkata kepada adiknya (Si Kesuna) ” Kesuna, kamu saja yang nyapu ya? Nanti biar saya yang ngepel” kata SI Bawang.  Kesunapun setuju. Lalu ia menyapu.  Setelah selesai menyapu, si Bawang berkata lagi “Kesuna, kamu saja yang ngepel ya? nanti saya yang mencuci piring” katanya. Kesunapun mengepel lantai. Setelah selesai, SI Bawang berkata lagi “Kesuna, kamu saja yang mencuci piring ya, nanti saya yang masak”  Kesunapun menurut saja apa kata kakaknya. Demikian seterusnya hingga ia menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Mulai  dari nyapu,ngepel,mencuci piring, memasak, mengisi air, mencuci pakaian, menyeterika.  Kesuna bekerja keras, sedangkan Si Bawang hanya berleha-leha saja dan terus memberi perintah.  Namun Kesuna mengerjakannya dengan senang hati.

Ketika menjelang sore, Kesuna yang rajin dan  telah menyelesaikan pekerjaanya pun mandi dan berhias diri. Sedangkan Bawang yang pemalas segera pergi ke dapur dan membalur tubuhnya dengan abu dapur agar terlihat kotor. Ketika orangtuanya datang, Si bawang bersandiwara dan menangis di hadapan orangtuanya, sambil berkata bahwa  ia sangat kelelahan karena dari pagi harus bekerja sendiri, sementara Kesuna tidak mau membantunya sedikitpun.  Menurutnya Kesuna hanya duduk duduk saja dan asyik berdandan. Mendengar pengaduan Bawang, maka kedua orangtuanya pun marah dan memanggil Kesuna.  Kesuna berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun karena Bawang lebih pintar mengambil hati orangtuanya, maka orangtuanyapun lebih percaya kepada Bawang. Terlebih lagi ketika melihat penampilan Bawang yang kotor penuh abu dan belum sempat mandi, sedangkan Kesuna bersih, rapi dan wangi, membuat kedua orangtua mereka semakin percaya akan perkataan Bawang.

Karena sedih akan kemarahan orangtuanya, maka Kesuna menangis dan pergi membuang diri  ke dalam hutan. Di sana ia bertemu dengan seekor Burung Cerukcuk Kuning yang  bertanya mengapa ia bersedih. Kesunapun menceritakan kisahnya yang menyedihkan dan membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya. Lalu ia pun meminta tolong kepada Burung Cerukcuk Kuning itu agar mematok kepalanya sekuat-kuatnya sampai ia mati, karena merasa sudah tidak tahan lagi akan nasibnya.  “Caiiii caiiiii… Cerukcuk Kuning.  Dong tulungin ja patok sirah tiyange”. Terjemahannya “Wahai engkau Cerukcuk Kuning. Tolong dong kepala saya dipatokin”.

Burung Cerukcuk Kuning itupun mendekat, terbang diatas kepala Kesuna dan  “Cruk cuk cuk…” ia mematok kepalanya.  Namun keajaiban seketika terjadi, diatas kepala si Kesuna sekarang terpasang bunga-bunga emas yang indah dan gemerlap. Demikian juga ketika Si Cerukcuk Kuning mematok leher, pergelangan tangan, jari tangannnya, cruk cuk cruk cuk cruk cuk... maka terpasanglah kalung,gelang dan cincin emas permata yang gemerlapan. Cerkcuk Kuning memberikan semua itu kepada Kesuna karena ia tahu bahwa Kesuna adalah anak perempuan yang rajin dan baik hati. ia lalu memberi nasihat kepada Si Kesuna agar mengurungkan niat bunuh diri dan sebailknya pulang ke rumah. Jika merasa belum siap juga, lalu Cerukcuk Kuning menyarankan agar Kesuna pulang ke rumah neneknya saja.Sejak itu Kesuna lalu tinggal di rumah neneknya yang menerimanya dengan baik.  Di sana  ia membantu neneknya memintal benang dan menenun kain.

Suatu hari Si Bawang berkunjung ke rumah nenek mereka dan menemukan SIKesuna sedang menenun di sana. Wajahnya kelihatan bahagia dan pakaiannya gemerlap dengan perhiasan emas permata. Melihat itu, maka Si Bawang bertanya dari mana Kesuna mendapatkannya. Kesuna  pun menceritakan kisahnya dengan Cerukcuk Kuning.

Seketika Si Bawang berlari ke dalam hutan, menangis dan memanggil-manggil nama Cerukcuk Kuning dan mengarang cerita bahwa ia sudah bekerja keras di rumah, namun difitnah oleh Kesuna sehingga orangtuanya marah dan mengusirnya ke dalam hutan. Ia pun meminta agar Cerukcuk Kuning mematok kepalanya sampai mati.   Caiiii caiiiii… Cerukcuk Kuning.  Dong tulungin ja patok sirah tiyange”.. Atas permintaan itu, maka Cerukcuk Kuningpun mematok kepala Si Bawang. ”  Cruk cuk cuk…”  maka seketika duri-duri tajam menancap di kepala Si bawang.  Demikian juga ketika Cerukcuk Kuning mematok lehernya, maka tiba-tiba seekor ular berbisa sudah membelit lehernya, kelabang yang juga berbisa mengelilingi pergelangan tangannya dan jari-jari tangannya pun dikelilingi ulat bulu yang sangat gatal. Maka SI Bawang pun akhirnya meninggal karena kemalasannya, karena fitnah dan keserakahannya sendiri.  Sifat buruk yang sebaiknya kita semua hindari.

Aesop’s Fable: Seekor Serigala Dan Burung Bangau.

Standard

The WolfSeekor serigala melahap mangsanya dengan rakus, sehingga sebuah tulang tersangkut di kerongkongannya. Dengan penuh kesakitan, ia berlari dan meraung di dalam hutan, memohon kepada setiap binatang yang ditemuinya untuk membantunya mencabut tulang itu.  Serigala itu bahkan menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil mengeluarkan tulang di kerongkongannya itu.  Tergerak oleh permintaan tolong serigala itu dan juga tergiur akan hadiah yang dijanjikan, seekor burung bangau bersedia memasukkan lehernya yang panjang dan menarik tulang itu dari kerongkongan serigala.  Setelah selesai, ia kemudian meminta hadiah yang dijanjikan. Tapi serigala hanya menyeringai memamerkan giginya.

Mahluk tak tahu berterimakasih!” jawabnya dengan marah.  “Beraninya kau meminta imbalan ? Tidak kumakan hidup-hidup saja harusnya kau sudah untung. Lagipula kaulah salah satu dari sedikit binatang yang bisa bercerita bahwa kau telah memasukkan kepalamu ke dalam rawahang serigala dan diijinkan menariknya kembali dengan selamat’.

*****

Hari kedua liburan bersama anak-anak. Sementara masih  komit dengan rencana awal membacakan cerita dari buku Aesop’s Fable, sambil mengusap-usap dan memijat punggungnya sebelum tidur.   Sama dengan kisah sebelumnya, sayapun menanyakan kepada anak-anak tentang isi pesan dari cerita itu.  Pendapatnya beragam.

Si kecil berpendapat, sebaiknya jangan pernah menolong orang jahat, karena tidak tahu berterimakasih.  “Kasihan burung bangaunya, ma!”.  Sedangkan anak saya yang besar berpendapat  lain , bahwa  burung bangau itu sungguh binatang yang tidak berhati-hati dan tergiur oleh hadiah. Padahal itu kan membahayakan jiwanya. “Harusnya ia lebih hati-hati dan sudah curiga akan  kejahatan serigala yang kemungkinan tidak akan menepati janji”.

Expect no reward when you serve the wicked, and be thankful if you escape injury for your pains.

 

 

Catatan:

Kisah serigala dan burung bangau  ini saya tejemahkan dari  buku Aesop’s Fables –hasil kumpulan dan pilihan dari Jack Zipes

Aesop’s Fable: Seekor Rubah Dan Buah Anggur.

Standard

the fox and grapesSeekor rubah yang sedang kelaparan mengendap-endap ke kebun anggur, dimana terdapat banyak sekali buah anggur manis dan matang dengan tampilan yang sangat menggiurkan tergantung di tiang-tiang rambatan yang tinggi.  Dalam usahanya untuk mendapatkan buah yang menerbitkan air liurnya itu, maka iapun melompat dan melompat berkali-kali, tapi gagal dalam semua usahanya.  Ketika akhirnya harus mengakui kegagalannya, ia mundur dan bergumam pada dirinya sendiri “Ah, nggak penting amat! Toh buah anggur itu masam!”.

*****

Anak saya tertawa mendengar kisah itu.  Saya bertanya kepada mereka, mengapa tertawa?  Apanya yang lucu? “ Rubah yang bodoh! Kenapa anggurnya yang disalahkan? Dibilang masam!“ kata anak saya yang kecil.  Jadi harusnya bagaimana? “Harusnya dia berusaha lagi dengan cara lain !”.  katanya lagi.  Anak saya yang besar menyetujui pendapat adiknya.  “Ia gagal, tapi tidak mau mencari tahu kelemahannya dan memperbaikinya. Malah menimpakan kegagalan itu ke buah anggur”.

Menarik membahas kasus ini, karena tidak asing dengan kejadian sehari-hari yang kita alami di sekitar kita. Dimana orang yang gagal, tidak mau mencari tahu kelemahannya sendiri dan melakukan perbaikan, tetapi malah mencari pembenaran atas kegagalannya itu dengan menunjuk kelemahan orang lain.

Contoh sehari-harinya adalah, Ibu rumah tangga yang tidak bisa memasak kare ayam dengan baik, namun tidak mau mengakui kelemahannya malah mengatakan bahwa  toh kare bukan makanan favorit anak-anak dan suaminya. Anak sekolah yang malas belajar sehingga mendapatkan nilai matematika yang rendah, mengatakan bahwa  nilai matematika teman-temannya malah lebih jelek lagi dari dirinya.  Seorang anak yang kalah bermain gangsing, mengatakan bahwa toh permainan gangsing itu tidak menggunakan banyak otak juga .  Dan masih banyak contoh- contoh lainnya lagi.

It is easy to despise what you cannot get!.

Catatan:

Kisah rubah ini saya tejemahkan dari  buku Aesop’s Fables –hasil kumpulan dan pilihan dari Jack Zipes