Tag Archives: drama

Drama Kecil Di Pesawat.

Standard

Saya hendak pulang kampung. Sedikit mepet waktunya, saya buru-buru masuk ke pesawat. Nomor kursi saya 4B. Ditengah. Sebetulnya agak kurang suka. Tapi apa boleh buat. Nggak punya pilihan lain.

Saya menyimpan ransel saya di kabin atas, lalu segera duduk. Saat itu seorang pria sudah duduk di kursi 4A di sebelah saya di pojok dekat jendela. Pria itu tersenyum ramah pada saya. Tetapi saat saya memasang Seat-belt saya, pria itu tiba tiba mencari-cari seat beltnya dan bilang jika saya sedang mendudukinya.

Sayapun membuka Seatbelt saya dan berdiri. Oh, ternyata memang benar, Seatbeltnya nyasar ke kursi saya dan tanpa sengaja saya duduki. Kok bisa ya?. Bukankah dia sudah duduk sejak tadi dan mengapa belum nemasang Seatbeltnya segera?.

Sebenarnya agak merepotkan, karena saya yang sudah pasang Seatbelt harus buka seatbelt lagi, berdiri dan kemudian pasang seatbelt lagi.Tetapi nggak apa apalah. Mungkin karena dia sedang sibuk chat di WA dengan keluarganya menjelang terbang. Hati baik saya memaklumi.

Sayapun duduk kembali dengan santai dan membaca majalah yang ada di saku kursi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba “gedubukkk!!!”. Aduuuuh!!!. Sakiiit. Hape pria itu jatuh menimpa lutut saya, lalu jatuh ke lantai pesawat. Sayapun ikut mencari-cari di bawah, karena jatuhnya miring ke arah posisi saya. Jadi di bawah kaki saya.

Kok bisa ya?. Hapenya jatuh saat dia pakai. Saya cuma heran saja, karena tangannya kekar kan harusnya dia bisa pegang erat. Tapi okelah. Hati baik saya memaafkan perbuatannya itu yang lumayan membuat lutut saya sakit. Tentunya dia tidak sengaja.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Denpasar saya tidur. Tak terasa sebentar lagi mendarat menurut pengumuman. Mata saya masih mengantuk. Jadi saya meneruskan tidur.

Excuse me!” Terdengar suara dari sebelah. Saya kaget. Ooh… rupanya pesawat sudah hampir sepi. Orang orang sudah sebagian keluar dari pesawat. Sementara saya tertidur. Aduuuh…malunya. Mungkin sebenarnya ia pengen cepat keluar, tapi terhalang oleh saya. Mungkin saya telah membuatnya kesal juga.

Cepat-cepat saya bangun. Berdiri dan sambil mengantuk membuka pintu kabin di atas. Bermaksud mengambil ransel saya. Semoga hati baiknya memaafkan saya.

Terlihat sebuah ransel hijau di tempat tadi saya meletakkannya. Nah ini dia!. Saya mengambil ransel itu, pria yang duduk di sebelah saya itu berusaha membantu saya. Berat. Tapi saya memang masukan beberapa lembar pakaian, tas kosmetik, dompet, laptop dan chargernya. Tapi ranselnya sudah keburu saya turunkan sendiri dan saya letakkan di bangku “Ooh …lumayan baik hati juga dia rupanya” pikir saya.

Saya mencangklongkan ransel saya di punggung dan bersiap-siap mau jalan. Tiba-tiba gerakan saya ditahan pria itu. “This is my backpack!” katanya ke saya. Lho??.

Saya memandang ransel yang saya pegang baik-baik. Warnanya hijau tua. Masak sih ransel ini milik dia?. Bukannya punya saya ya?. Saya memandangnya lebih dekat lagi. Sejujurnya saya juga mulai ragu. Karena ransel yang saya bawa adalah milik anak saya. Sehingga saya nggak ingat pasti detailnya. Lalu saya mendongak. Mencari cari apa ada ransel lain di atas. Oh..syukurlah. Agak ke dalam masih ada sebuah ransel lagi. Warnanya juga hijau. Oh…mungkin itu milik saya. Saya tarik dan benar. Itu memang ransel saya. Sayapun menoleh pada dia dan meminta maaf lalu melangkah pergi. Ia tersenyum ramah pada saya. Semoga hati baiknya memaafkan kesalahan saya.

Sambil berjalan keluar pesawat saya merenung. Sungguh aneh kejadian ini. Dua kali ia melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggu saya dan dua kali saya melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggunya. Seperti saling membayarkan, walaupun tanpa sengaja. Karmaphala Cicih. Lunas ya?. Impasss!.

Untungnya saat ia melakukan perbuatan yang mengganggu, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Segera memaklumi dan memaafkan. Sehingga saat saya berbuat kesalahan tanpa sengaja, iapun tidak terlalu mempermasalahkan saya.

Sesungguhnya kita manusia tidaklah luput dari kesalahan setiap hari. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan yang mengganggu kita, hendaklah kita segera memaklumi, memaafkan dan mengikhlaskan. Karena kita tak pernah tahu kapan kita melakukan kesalahan yang mungkin mengganggu orang lain.

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya 😊.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.