Tag Archives: East Java

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung II.

Standard

Selain relief yang menggambarkan Sumpah Amukti Palapa, di dinding belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat daftar Raja-Raja Majapahit. Saya mencoba membaca daftar itu walaupun agak susah, karena jenis font yang dipakai agak keriting selain juga karena hari mulai gelap.

Raja-Raja MajapahitMelihat daftar para raja beserta tahun pemerintahannya, kita jadi tahu bahwa Kerajaan Majapahit berdiri selama nyaris 200 tahun. Tepatnya 193 tahun, sejak pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya (1294), hingga runtuhnya di tangan Prabhu Girinderawardhana (1487). Lama juga ya umur negara itu. Indonesia sendiri baru berumur 70 pada tahun ini. Masih dibutuhkan 123 tahun lagi agar minimal bisa meyamai panjangnya umur negara Majapahit. Dan tentunya kita semua berharap agar Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan bisa melebihi Majapahit. Lalu mengapa negara yang sedemikian besar dan sedemikian lama eksistensinya di Nusantara ini akhirnya bisa runtuh?

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Di daftar ini, sepintas lalu semua kelihatan sangat rapi. Namun jika kita tilik lebih jauh, dan pelajari kembali sejarah, di balik kejayaannya, pemerintahan kerajaan Majapahit ini sebenarnya juga tidak mulus-mulus amat.  Dihiasi dengan banyak pemberontakan, mulai dari Ra Kuti, Semi, hingga Ronggolawe. Juga dipenuhi dengan intrik-intrik politik dalam keluarga. Memperebutkan tahta dan kekuasaan, terutama sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan antara tahun 1453-1456, sempat terjadi kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Nah apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari sini?

Ketika Ego dan Keserakahan mengalahkan rasa Persaudaraan dan Kepedulian pada orang lain, maka ketika itu juga kemampuan manusia untuk berjalan ke arah kejayaan akan memudar. Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaannya. Para pendongkel sibuk berusaha merebut kekuasaan. Mereka saling menjatuhkan. Lupa bagaimana cara mengelola negara dengan baik. Lupa memikirkan kesejahteraan rakyat. Perang dan pemberontakan tak terhindarkan. Negara menjadi lemah. Rakyat menderita. Negara yang lemah, dengan sendirinya sangat mudah diguncang dan runtuh.

Hari semakin gelap. Saya tidak mampu lagi membaca. Penjaga pendopo mengajak kami ke bagian belakang Pendopo.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Di sana ada sebuah batu tempat menambatkan gajah tunggangan kerajaan. Konon batu itu sangat kuat tertancap ke tanah, sehingga bahkan tenaga gajahpun tak mampu menariknya.

Petilasan Raden Wijaya.

Di balik tembok belakang Pendopo Agung itu ada sebuah pintu. Saya melongokkan kepala saya ingin tahu. Oops! Alangkah terkejutnya saya. Waduuuh! Kuburan!. Rupanya itu tempat pemakaman. Sebuah pohon besar tampak menaungi. Ada jalan kecil membelah tempat pemakaman itu menuju sebuah bangunan kecil mirip rumah penjaga kuburan. Saya tertegun dan menghentikan langkah saya seketika.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan.Terus terang saya merasa gentar juga. Demikian juga kelihatannya ke dua teman saya. Mana malam sudah mulai turun pula. Suasana gelap remang-remang. Sekarang saya mulai meratapi keingin-tahuan saya yang terlalu besar, yang mengantarkan saya nyasar ke tempat seperti ini. Tapi sebagai orang yang tertua diantara mereka, dan yang juga memberi ide untuk bermain ke Trowulan adalah saya sendiri, mau tidak mau terpaksa saya menggagah-gagahkan diri saya agar tidak kelihatan takut di depan mereka. Jika saya menunjukkan rasa takut, pasti mereka berdua akan segera lari terbirit-birit. Jadi saya harus kelihatan setenang mungkin.

Tempat apa ini?” tanya saya kepada penjaga Pendopo. “Petilasan Raden Wijaya. Silakan ke sana” jawab bapak penjaga. Entah kenapa saya merasa kalau orang yang ada di dalam bangunan kecil itu sudah tahu, melihat dan menunggu kedatangan saya. Tentu tidak sopan jika saya menolak masuk dan kabur begitu saja. Sekarang saya tidak punya pilihan selain harus lanjut berjalan dan melawan rasa takut saya. Sayapun berjingkat di jalan kecil di bawah pohon yang kelihatan angker dengan makam di kiri-kanannya itu. Kedua teman saya mengikuti dari belakang dengan ragu.

Panggung.

Di depan gerbangnya ada tulisan.”Panggung. Tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya. Tempat Pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Patih Gajah Mada“. Saya berhenti sejenak. Dari sana saya lalu mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam yang mempersilakan saya masuk. Saya dan teman-teman sayapun masuk.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Di dalam ada seorang pria yang kelihatan masih muda duduk di lantai dan menyapa kami. Wajahnya kelihatan tenang dan tampan di bawah sinar lampu kecil.  Beliau memperkenalkan diri sebagai pemelihara tempat itu. Sayangnya saya tidak mampu mengingat nama beliau. Saya menjelaskan perihal diri saya apa adanya. Bahwa beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di Kompas tentang situs Kerajaan Majapahit dan sangat tertarik ingin tahu dan melihat sendiri situs-situs itu, tapi baru bisa datang berkunjung hari ini. Pria itu berkata bahwa tidak ada orang yang datang ke tempat itu jika tidak ada yang menuntunnya ke sana. Jika niat itu sudah lama dan ternyata baru bisa datang hari ini, ya itu artinya bahwa jodohnya memang hari ini. Semuanya sudah atas petunjukNya. Entah karena ucapannya itu atau karena suaranya yang rendah dan lambat, saya menjadi semakin ngeper.

Tapi beberapa saat kemudian saya mulai berhasil menguasai ketakutan saya. Saya lalu diberi penjelasan bahwa tempat ini adalah petilasan dari Raden Wijaya. Petilasan adalah tempat dimana Raden Wijaya melakukan tapa semadhi dan mendapatkan inspirasinya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Bukan makam Raden Wijaya. Raden Wijaya tidak dimakamkan, karena beliau adalah penganut agama Hindu Ciwa-Budha yang tentu jasadnya dibakar (diaben/diperabukan) dengan maksud mengembalikan Atma (rohnya) kepada Sang Pencipta, sementara unsur-unsur pembentuk badan kasarnya dikembalikan ke alam (Panca Maha Butha – kembali ke air, ke tanah, ke api, ke udara dan ke cahaya). Jadi tidak ada makamnya. Saya sependapat dengannya.

Namun karena keturunan beliau sangat banyak dan saat ini tidak semuanya menganut agama Hindu-Ciwa, karena sebagian diantaranya ada yang kemudian memeluk agama lain dan ingin melakukan ziarah ke leluhurnya, sementara beliau sendiri tidak punya makam. Maka dibuatkanlah maqom (bukan makam) di tempat itu, sebagai tempat berziarah.

Sedangkan makam-makam yang banyak bertebaran di sekitar tempat itu adalah makam-makam penduduk dari generasi belakangan. Paling banter baru sekitar seratusan tahun umurnya.  Bukan dari generasi Majapahit – demikian penjelasannya.

Selain itu saya juga dijelaskan bahwa di tempat ini dahulunya juga merupakan panggung tempat di mana Maha  Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa-nya yang sangat terkenal itu.

Ponco Waliko

Pria itu bercerita panjang dan lebar tentang Raden Wijaya , Gajah Mada dan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Saya mendengarkan dengan takzim. Saya juga dijelaskan tentang tuntunan hidup dari jaman Majapahit yang disebut dengan PONCO WALIKO seperti yang tertera di dinding itu  yang isinya:

1/. Kudu trisno marang sepadaning urip (Harus mencintai sesama mahluk hidup)

2/.Ora pareng nerak wewalering negara (Tidak boleh melanggar hukum negara)

3/. Ora pareng milik sing dudu semestine (Tidak boleh menguasai yang bukan hak miliknya).

4/.Ora pareng sepata nyepatani (Tidak boleh saling menghujat)

5/. Ora pareng cidra hing ubaya ( Tidak boleh melanggar janji).

Petuah hidup yang sangat baik. Jika semua orang di dunia ini berlaku seperti apa yang diajarkan Ponco Waliko itu, tentu dunia akan jauh lebih tenteram dan damai. Semoga kita semua bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Teman saya memberi saya kode kalau kami harus segera ke Surabaya agar tidak ketinggalan pesawat. Saya mencari celah agar bisa memohon pamit dengan sopan  tanpa harus memotong pembicaraan pria itu.  Saya mengucapkan terimakasih atas obrolan dan kesediaannya menerima kedatangan kami.

Sebenarnya, masih banyak  yang ingin saya lihat, dengar dan ketahui tentang Kerajaan Majapahit. Banyak yang belum saya lihat. Namun sayang saya datang sudah terlalu sore. Sudah gelap. Sehingga membuat kunjungan sangat terburu-buru . Baru sempat mengunjungi Pendopo Agung Trowulan itu saja. Suatu saat jika saya memiliki kesempatan, saya ingin datang berkunjung kembali untuk melihat situs-situs Majapahit yang lain.

 

 

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung – I.

Standard

Pendopo Agung

Beberapa tahun  yang lalu sebuah artikel di harian Kompas menceritakan tentang penggalian situs yang diduga bekas istana Majapahit di Trowulan. Saya sangat tertarik dengan tulisan itu. Dan memendam keinginan untuk bisa bermain ke sana dan melihat sendiri situs-situs peninggalan kerajaan terbesar di Nusantara itu. Sayang hingga berapa tahun berlalu, niat saya belum juga kesampaian.

Sekembalinya dari Gunung Bromo, saya punya sedikit waktu untuk bermain ke Trowulan di Mojokerto. Jalanan agak macet. Perjalanan dari Probolinggo ke Mojokerto memakan waktu lebih lama daris eharusnya. Sehingga kami baru bisa mencapai Trowulan pukul lima sore. Museum Majapahit sudah tutup. Mencoba mencari tahu di mana persisnya lokasi penggalian situs yang diduga istana itu, sayangnya bolak balik nanya ke penduduk setempat tidak ada yang tahu persis. Pak sopir jadi muter-muter karena informasi berbeda-beda yang kami terima. Sementara hari semakin sore dan saya khawatir gelap malam akan segera tiba. Akhirnya seseorang memberi tahu kami sebaiknya kami berkunjung ke Pendopo Agung saja. Daripada tidak ada situs yang berhasil kami kunjungi hari itu, akhirnya kami pun ke sana.

Petugas yang berjaga di pintu depan Pendopo Agung menemani kami masuk. Pendopo itu adalah bangunan terbuka tanpa dinding. Mirip bangunan bale banjar kalau di Bali. Saya mencoba menerka-nerka, bangunan apakah sebenarnya ini? Terlihat sangat modern dan jauuuuuuuh  sekali dari kesan bahwa itu adalah salah satu situs peninggalan Majapahit. Tidak terlihat bangunan batu bata merah khas Majapahit seperti yang terlihat di photo-photo. Saya dijelaskan bahwa areal itu sekarang merupakan property yang dibangun dan dikelola oleh TNI. Itulah sebabnya mengapa terlihat baru dan modern.

 

Maha Patih Gajah MadaMaha Patih Gajah Mada.

Begitu memasuki halaman depan, kita akan melihat sebuah arca Maha Patih Gajah Mada yang  juga terlihat sangat baru,  dipersembahkan oleh Corps Polisi Militer tahun 1986. Walaupun hati saya  agak kecewa melihat tingkat ke’baru’annya, namun sedikitnya saya terhibur bisa diajak mengenang kembali kebesaran cita-cita dan upaya sang Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya itu dalam menyatukan Nusantara. Sebuah cita-cita yang memang selayaknya tetap kita junjung sebagai bagsa Indonesia.

Raden Wijaya

Raden Wijaya Dan Resiliensi Manusia.

Di depan pendopo tampak berdiri sebuah arca baru perwujudan dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Terus terang, melihat arca itu membuat pikiran saya berlari pesat ke pelajaran sejarah yang dijelaskan oleh Pak Wayan Suta , guru saya saat kelas IV SD.  Apa yang berkecamuk dalam pikiran Raden Wijaya sebagai sang menantu Prabu Kerthanegara – raja Singasari terakhir ketika kerajaan Singasari diserang dan dihancurkan habis oleh Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang? Walaupun pasukannya sendiri menang di utara, tetapi sang prabu dan istananya telah hancur diserang dari arah selatan. Tentu beliau sangat kecewa, lelah dan sedih. Namun apakah beliau berputus asa? Tidak! sama sekali tidak!. Yang jelas beliau tetap semangat. Tetap mencari jalan keluar. Dengan bantuan sahabatnya Arya Wiraraja, sang Bupati Sumenep, beliau kembali menyusun strategy-nya dengan baik. Mencari jalan keluar yang lebih baik dan bahkan berhasil membangun  kerajaan baru, yakni Kerajaan Majapahit yang justru jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kerajaan Singasari sebelumnya.

Guru saya satu itu memang sangat jago bercerita sejarah. Sehingga ketika beliau mengajar, rasanya saya seperti ikut berada di sana. Ikut saat Raden Wijaya terlunta-lunta di dalam hutan, mencari bantuan Arya Wiraraja lalu masuk dan membangun wilayah hutan Tarik.

Saya menundukkan kepala saya. Memberikan penghormatan saya yang tertinggi terhadap Resiliensi yang beliau miliki. Kemampuan yang sangat sangat tinggi dari seorang anak manusia untuk keluar dari permasalahan yang terjadi, menata dirinya kembali, jalan pikirannya, kata-kata serta langkah-langkah yang beliau ambil  untuk akhirnya memenangkan pertarungan dalam kehidupan. Keluar dari kekisruhan Singasari dan membangun kejayaan Majapahit!.

Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah  Mada menyatakan sumpahnya

Sumpah Amukti Palapa.

Di bagian belakang pendopo terdapat dinding dengan relief yang menggambarkan peristiwa pengambilan “Sumpah Amukti Palapa” yang sangat terkenal itu diucapkan oleh Gajah Mada pada saat beliau diangkat sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit. Saya melihat ke relief itu dan membaca kalimat sumpah itu dalam keremangan senja.

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjung Pura,  ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Artinya kira-kira begini:  Jika Nusantara masih kalah, saya akan amukti palapa. Jika kalah di Gurun, di Seran, di Tanjung Pura, di Haru, di Pahang, Dompo, di Bali, Sunda,Palembang, Tumasik, selamanya saya akan amukti palapa.

Saya tidak tahu persis apa artinya “Amukti Palapa” karena sebagian orang menterjemahkannya sebagai “puasa memakan buah palapa”, sebagian lagi mengatakan “puasa istirahat & tidak mengambil cuti kerja”. Sementara guru saya waktu kelas IV SD  menjelaskan bahwa palapa = rebung bambu muda, yang konon merupakan makanan enak pada jaman dulu.  Sehingga Amukti Palapa arti literalnya adalah “puasa memakan rebung bambu” namun makna sesungguhnya adalah “Puasa dalam menikmati kenikmatan duniawi (tidak makan enak/tidak bersenang-senang/tidak berplesir- ria/tidak berhura-hura, dsb)”. Saya sendiri cenderung mengikuti penjelasan dari bapak Guru saya itu.

Namun demikian, sedikit perbedaan pemahaman buat saya tidak jadi masalah, karena pada prinisipnya semua kita paham bahwa Maha patih dari kerajaan majapahit ini telah bersumpah tidak akan bersenang-senang sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Membaca Sumpah yang tertera di dinding itu membuat saya merinding. Darah terasa mengalir sangat cepat. Gajah Mada telah menunjukkan kepada kita bahwa sebuah tekad dalam menentukan cita-cita yang tinggi dan dengan penuh ketekunan melaksanakn apa yang seharusnya dilakukan akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tidak terbayang betapa besar kerja keras yang harus dilakukan untuk menyatukan Nusantara pada jaman itu, namun Maha Patih Gajah Mada  menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan dengan keteguhan hati. Dan beliau berhasil!.

Rasanya saya sangat kagum dan terharu memikirkan ini. Gajah Mada dan kebulatan tekadnya. Majapahit yang jaya. Nusantara yang bersatu dan kuat. Semoga Indonesia tetap bersatu dan semakin jaya.

Adakah yang lebih baik dilakukan oleh seorang anak bangsa daripada mempelajari sejarah leluhurnya dan mengambil intisari pelajaran darinya dan berusaha menggunakannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari?

Yuk kita pelajari sejarah kita dan cintai tanah air dan bangsa kita!.

 

 

Bunga-Bunga Liar Pegunungan Tengger.

Standard
Mt. Bromo Savana Flowers Bouquet.

Mt. Bromo Savana Flowers Bouquet.

Ketika hendak  turun dari Pananjakan pagi harinya, saya ditawari seikat bunga oleh pedagang di sana. Warnanya sangat menarik. Putih, krem, ungu, merah, kuning. Dan yang lebih menarik lagi, bunga itu ditata sedemikian rupa menjadi berbagai bentuk. Ada yang berupa flower bouquet biasa, ada juga yang berupa boneka lucu-lucu. Awalnya saya pikir itu bunga kering, tapi setelah saya dekati ternyata bunganya masih segar.  Terdiri atas bunga-bunga edelweiss dan bunga-bunga rumput berwarna-warni yang memang secara umum tahan kekeringan. Wah…cantik sekali. Saya harus acungkan jempol untuk kreatifitasnya.

Gara-gara melihat bouquet -bouquet bunga liar itu, saya  jadi menyadari bahwa di pegunungan Tengger ini tentu tumbuh beraneka ragam tanaman liar dan rerumputan yang berbunga indah-indah. Maka ketika turun dari Pananjakan menuju ke Lautan Pasir, mata saya tak lepas dari bunga-bunga tanaman liar yang saya temui di perjalanan.  Ada beberapa yang saya kenali jenisnya. Namun  kebanyakan tidak saya ketahui juga. Di bawah ini adalah beberapa diantaranya.

1/. Kuning secerah matahari pagi.

Yang paling menyolok mata saya pagi itu adalah bunga-bunga kuning yang menghampar di sana-sini. Warna kuning seperti mendominasi perjalanan saya selama di Tengger hari itu.  Yang paling jelas adalah bunga Adas pedas (Foeniculum vulgare)  yang saya temukan sangat banyak populasinya menempati sebagian padang savana di ujung lautan pasir.

Tanaman liar lain yang berbunga kuning dan juga terlihat sangat banyak di sana adalah tanaman sawi liar. Saya melihat kumpulan tanaman ini di sebuah tebing di bawah Pananjakan. Barangkali karena sawi-sawi liar itu tumbuh berkumpul di sana dan mereka serempak berbunga, seluruh dinding tebing kelihatan berwarna kuning cerah.

Lalu ada juga tanaman Dandelion, yang jika sudah tua dan kering bunganya kerap diterbangkan angin mirip orang naik payung udara. Walaupun tidak berkelompok, namun saya melihatnya sangat cemerlang pagi itu.

Selain itu ada lagi jenis tanaman liar berbunga kuning yang saya tidak tahu namanya. Bentuknya lucu. Mahkota bunganya  yang berwarna kuning menggelembung menjadi kantong udara membuat keseluruhan bunga itu mirip sarung tangan bayi berwarna kuning. Ada banyak di Pananjakan. Bunga jenis ini baru pertama kali saya lihat dalam hidup saya.

2/. Ungu yang menenteramkan hati.

Selain bunga-bunga yang berwarna kuning, saya juga menemukan banyak bunga liar yang berwarna ungu. Diantaranya yang paling banyak saya temukan di Savana adalah bunga Verbena liar (Verbena bonariensis) yang ujungnya berwarna ungu. Kelihatannya ada 2 gradasi warna ungu yang saya jumpai.Ungu tua dan ungu sedikit lebih muda. Bunganya kecil-kecil. Di savana ini rumput Verbena tumbuh sangat tinggi, lebih tinggi dari tubuh saya.

Selain Verbena ini, di sela-sela semak saya juga menemukan jenis tanaman lain yang berbunga ungu di ketinggian Pananjakan, yaitu bunga Cestrum liar. Bunga itu  jika ditilik dari batang dan daun serta bunganya tentu masih sekeluarga dengan tanaman Arum Dalu yang berbunga putih kehijauan. Mungkin karena habitatnya tepat, tanaman ini berbunga cukup lebat.

3/. Pink dan Merah yang romantis.

Pegunungan Tengger dan savananya tidak hanya menyediakan bunga berwarna kuning dan ungu. Ternyata tanaman Cestrum liar yang berbunga pink juga ada di semak-semak. Saya membayangkan jika tanaman menyender ini ditanam di pinggir tembok taman-taman yang luas di daerah dingin, tentu akan sangat menarik sekali. Karena bunganya cukup lebat juga.

Bunga warna merah lain yang juga menarik perhatian saya adalah bunga dari rumput Sorell. Warnanya merah karat bercampur hijau memenuhi tajuk bunganya yang panjang. Sepintas mirip bunga bayam atau bunga kemangi merah. Saya temukan dalam jumlah cukup banyak di sela sela rumput dan semak savana.

 

4/. Putih  yang membawa kedamaian.

Bunga -bunga liar berwarna putih juga  cukup banyak menghiasi pegunungan Tengger. Banyak diantaranya yang saya tidak tahu namanya. Tapi diantaranya ada juga bunga bunga yang mudah saya kenali, seperti misalnya Edelweiss, bunga Girang-girang (Elder flower), bunga Fox Gloves liar.

Bunga Edelweiss selalu menjadi penghuni abadi daerah pegunungan tinggi. Setiap orang yang mendaki gunung tentunya mengenali bunga ini dengan mudah. Bunga Edelweiss yang di atas saya temukan di tepi jurang saat saya berhenti dan turun sebentar dari jeep untuk memotret Gunung Batok dari kejauhan. Warnanya putih kecil dan halus teranguk angguk di tiup angin.

Lalu saya juga menemukan bunga Fox Glove liar yang berwarna putih. Cantik sekali diterpa cahaya pagi. Lalu ada lagi kembang Girang yang bunganya merupakan kumpulan bunga-bunga kecil membentuk payung lebar.

Nah..itulah antara lain foto-foto dari bunga-bunga liar yang saya temukan di Pegunungan Tengger. Cukup banyak dan cantik-cantik bukan? Sehingga tidak heran, banyak penduduk setempat memanfaatkannya untuk dirangkai menjadi bouquet yang cantik dan menarik.

 

Gunung Bromo: Berkunjung Ke Savana Tengger.

Standard

Savana Gunung Bromo 3Pak Sutiko, supir jeep yang mengantarkan kami selama perjalanan di Gunung Bromo, bertanya apakah saya tertarik untuk melihat Bukit Teletubbies? Karena belum merasa lelah, tentu saja saya merasa tertarik dan setuju untuk ke sana dengan hati senang. Tapi apa itu Bukit Teletubbies? Saya yakin tentu bukan begitu nama aslinya. Barangkali sebuah bukit hijau gundul yang ditutupi dengan rerumputan pendek, sehingga terlihat rapi mirip seperti yang diperlihatkan di film kanak-kanak Teletubbies. Tentu sangat indah. Ayo kita ke sana!

Bukit itu berada di ujung lautan pasir, di balik bukit yang berdiri di sebelah Gunung Bromo. Jadi kalau kita lihat di peta, tempat itu berada di bibir kaldera yang berseberangan dengan Pananjakan. Lumayan jauh juga. Walaupun kaki keseleo saya mulai sedikit rewel, tapi karena menggunakan jeep, jadi perjalanan melintasi padang pasir itu tidak terasa melelahkan.

Padang pasir di area sini sedikit berbeda. Jika di area sekitar Gunung Bromo tadi terlihat sangat tandus, kering dan tanpa pepohonan,  di sini terasa lebih hijau. Barangkali karena tidak terlalu banyak kena dampak letusan, banyak rumput yang tumbuh dan menyemak. Bahkan banyak diantaranya  yang berbunga. Sehingga sepanjang perjalanan, mata saya disuguhi pemandangan yang luar biasa menawan. Hamparan bunga liar yang sangat luas, didominasi oleh warna kuning dan ungu.

Savana Gunung Bromo 4Saya mengenali rumput berbunga kuning itu sebagai tanaman Adas, yang dibenarkan oleh Pak Sutiko. Dulu di halaman rumah, adik saya pernah menanam jenis Adas manis (Pimpinella anisum) yang berbunga putih. Jenis ini menghasilkan minyak atsiri Anis Oil. Sedangkan yang berbunga kuning ini adalah  jenis Adas pedas (Foeniculum vulgare) yang menghasilkan minyak atsiri Fennel Oil. Populasinya sangat banyak di sini.

Bunga Verbena liar di Savana Gunung Bromo 3Di beberapa area, tanaman Verbena liar yang berbunga ungu tampak mendominasi. Dari kejauhan tampak seperti ladang Lavender. Tapi jika didekati kita akan mengetahui kalau itu bukan Lavender, namun rumput Verbena yang menyemak dan tinggi-tinggi sekali setinggi tubuh manusia.

Savana Gunung Bromo 2

Setelah sekian lama berkendara, tibalah kami di ujung padang pasir di mana mobil jeep berhenti hingga sampai di situ. Di depan mata saya terlihat ada banyak sekali bukit -bukit kecil dengan kontur tanah yang menggelembung dan tertutup rumput hijau pendek-pendek mirip seperti di film kanak-kanak itu. Saya turun dari jeep dan menjejakkan kaki saya di atas pasir. Di sekitar situ juga banyak semak-semak Adas dan Verbena yang sedang berbunga. Angin pegunungan  yang dingin bertiup, menerpa bunga-bunga dan dedaunan semak-semak itu. Udara sangat segar. Tenang dan damai rasanya.

Savana Gunung Bromo 1

Rupanya banyak juga pengunjung yang datang ke sana. Ada yang duduk-duduk di atas jeep.Ada yang berkuda. Memotret atau hanya sekedar berjalan-jalan dan memandang ke bukit-bukit itu. Bahkan saat itu ada serombongan remaja yang merayakan ulang tahun temannya di tempat itu. Seru juga kelihatannya. Sementara para pemilik kuda menunggu tamunya sambil membiarkan kudanya makan rumput sepuas-puasnya. melihat pemandangan menarik itu, kuda-kuda, padang rumput dan bebukitan, saya  kok jadi teringat buku-buku cerita Indian yang ditulis Karl May.

Savana Gunung BromoSaya berjalan-jalan di padang savana itu. Melihat-lihat sekeliling, mengamat-amati vegetasi yang tumbuh subur di tempat itu dan mengambil beberapa photo untuk kenang-kenangan. Indah sekali tempat ini. Rasanya enggan pulang. Bersyukur  sekali tempat indah ini ada di tanah air.

 

Gunung Bromo: Berkunjung Ke Pura Luhur Poten.

Standard

Pura Luhur PotenKarena hari sudah sangat terang dan pengunjung Pananjakan sudah pada turun, kamipun akhirnya ikut turun juga  menuju lautan pasir Segara Wedi. Sepanjang mata memandang yang ada hanya pasir dan rumput-rumput pendek. Lautan pasir yang berdinding gunung dan bukit. Di bawah ini terasa gersang. Terlebih jika kita memandang ke Gunung Bromo yang kelabu gosong dengan asap yang mengepul di puncaknya. Untungnya, Gunung Batok di sebelahnya tampak tenang dan hijau.

Tiba di perbatasan di mana jeep harus berhenti, saya dan teman-teman berpisah. Karena dari sini kami ingin pergi ke tempat yang berbeda. Teman saya yang hobbynya memotret ingin bertualang mencari spot-spot yang bagus untuk dipotret. Teman saya yang lebih muda ingin mendaki dan melihat kawah Gunung Bromo. Yang jelas saya tidak bisa ikut mendaki karena kaki saya yang sempat keseleo minggu lalu saat ke Jogjakarta, sekarang mulai terasa panas dan membengkak lagi. Jadi saya hanya ingin berkunjung ke tempat suci di tengah lautan pasir itu saja. Seperti yang saya niatkan tadi pagi saat melihat tempat suci itu  dari ketinggian Pananjakan. Sebuah pura yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pura Luhur Poten. Tempat itu terasa seperti magnet buat saya. Saya akan ke sana.

Dengan menunggang seekor kuda putih,  saya pun berangkat menuju tempat itu.  Selama perjalanan saya berbincang dengan pemilik kuda itu tentang Suku Tengger dan upacara Ke Sada. Saya juga bertanya apakah pintu Pura dibuka? Ia menjelaskan kepada saya bahwa saat ini Pemangku Pura sedang ada di dalam Pura. Jadi jika saya kebetulan datang hari ini, sungguh sangat tepat waktunya. Saya bisa bertemu beliau.

Tidak seberapa jauh, tibalah saya di depan pintu gerbang pura itu. Sepintas kelihatan dari ukurannya, Pura itu rasanya belum lama direnovasi. Tukang kuda mempersilakan saya masuk saja langsung ke dalam Pura. Saya pun menaiki anak tangga gerbang dan  masuk ke dalam. Di sini pagi terasa sangat tenang dan damai. Di jaba tengah, saya bertemu dengan seorang gadis yang kelihatannya baru saja habis sembahyang dan tersenyum ramah kepada saya. Sayapun bertanya kembali apakah Pemangku Pura ada. Gadis itu mengatakan kalau Pemangku ada di dalam dan mempersilakan saya masuk.

Pura Luhur Poten Di Gunung Bromo

Pura Luhur Poten Di Gunung Bromo

Sayapun masuk ke Jeroan dan melihat pemangku sedang sibuk membereskan sisa-sisa persembahyangan. Beliau melihat kedatangan saya dan tersenyum. Saya menjelaskan tentang diri saya dan maksud kedatangan saya. Pemangku lalu memberikan saya bunga dan dupa serta mempersilakan jika saya ingin berdoa. Beliau membantu dan menyucikan diri saya dengan Tirtha. Lalu memberkati saya dengan Bija (biji beras) yang saya letakkan di kening, dengan harapan agar benih-benih kebijaksanaan berkembang di dalam diri saya.

Pura ini merupakan tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Brahma, yang menciptakan semesta jagat raya beserta seluruh isinya. Tempat memuja kebesaran Tuhan, bersyukur dan berterimakasih atas segala ciptaanNYA dan menyadari  bahwa diri saya hanyalah salah satu diantaranya.

Pura Luhur Poten 2Saya juga merasa sangat bersyukur dan berterimakasih sudah diberikan kesempatan bisa datang dan melihat sendiri tempat ini.  Tempat yang memberi saya kesadaran makro -kosmik, kebesaran ciptaanNYA yang tak tersentuh oleh pikiran saya. Kesadaran akan betapa kecil diri saya, laksana sebutir debu tak kasat mata di padang pasir kehidupan. Juga tidak lupa untuk bersyukur dan berterimakasih telah diberi kesempatan sebelumnya, untuk melakukan perjalanan ke tepi laut di Jember, yang memberi saya kesadaran mikro-kosmik, perenungan akan arti potensi diri dan penggeraknya. Kesadaran akan betapa besar potensi diri yang dianugerahkan olehNYA, jika niat dan keinginan positive di gunakan untuk menggerakkannya.

Saya merunut kembali perjalanan saya dari Candi Singosari di Malang, ke Probolinggo, Lumajang lalu ke tepi laut, pantai Papuma di Jember. Lalu kembali ke Lumajang, Probolinggo dan naik ke Gunung Bromo. Sebuah perjalanan Nyegara-Gunung, yang memicu perjalanan ke dalam diri sendiri menuju ke kesadaran diri dan alam semesta serta menangkap makna dari  pesan-pesan  kehidupan.

2015-04-19 10.46.14Saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Pemangku Pura dan seorang Bhagawan dari Bali  yang  baru saja selesai melakukan persembahyangan di situ. Percakapan yang sangat menenteramkan hati.

Saya mengucapkan salam damai kepada semua mahluk, seluruh semesta dan Sang Pencipta. Semoga selalu damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta untuk selamanya. Om Shanti, Shanti , Shanti, Om.

 

Kisah Petualangan: Mengejar Matahari Terbit Di Bromo.

Standard

Petualangan Segara Gunung -part II.

 

IMG-20150419-WA0005Seusainya menikmati pantai Papuma di Jember, kami bermaksud melanjutkan perjalanan ke gunung Bromo. Hari telah benar-benar gelap.  Perjalanan ke sana akan memakan waktu sekitar 4 jam. Jika kami berhenti untuk istirahat dan makan malam di jalan, saya memperkirakan kami akan tiba di Gunung Bromo tepat tengah malam.

Kembali  menyusuri bukit dan jalanan yang berkelok. Jalan sama yang kami lalui saat berangkat, melewati Puger, Gumuk Mas dan seterusnya. Hujan turun sangat deras saat kami tiba di Lumajang. Jalanan menjadi licin akibat hujan. Pak Hari, sopir yang mengantarkan kami -memperlambat laju kendaraan dan lebih berhati-hati.

Lewat pukul sepuluh malam kami tiba di Probolinggo. Istirahat dan makan malam sebentar lalu  melanjutkan perjalanan kembali menuju Gunung Bromo. Naik, naik dan naik terus. Udara semakin dingin. Beberapa kali kami coba diberhentikan oleh penduduk yang menawarkan jeep, tapi Pak Hari mengatakan bahwa jeep yang kami butuhkan sudah disiapkan oleh hotel tempat kami menginap.

Tepat tengah malam kami tiba di hotel. Pengurus hotel segera menemui kami. Mendiskusikan dan mempersiapkan segala kebutuhan kami. Termasuk juga rencana perjalanan kami ke Pananjakan untuk melihat matahari terbit. Kami diberitahu bahwa kami akan berangkat pada pukul 3.00 pagi dengan jeep. Wah! Pagi amat ya?!Ya..memang harus sepagi itu. Karena jika tidak, jalan ke Pananjakan akan macet dan tidak bisa dilalui lagi. Waduuuh!. Akhirnya saya memutuskan untuk mengisi waktu dengan tidur. Dua setengah jam lumayan juga untuk beristirahat.

Pukul 2.30 saya bangun dan mandi serta bersiap untuk berangkat. Banyak yang memberi nasihat agar saya mengenakan jacket berlapis karena katanya sangat dingin. Daripada mengambil resiko, akhirnya saya mengenakan jacket tahan angin berbahan parachut tebal dan jacket musim dingin yang quilted. Pak Sutiko, sopir jeep mengingatkan  nomer jeep yang kami tumpangi dan memberikan nomer telponnya buat jaga-jaga seandainya ada sesuatu terjadi dengan kami nanti.

Kami berangkat dari Hotel dan menuruni bibir kaldera menuju Segara wedi lalu naik ke Pananjakan. Astagaa! Rupanya apa yang kami kira kepagian ternyata sama sekali salah. Jalanan sudah sangat ramai. Saya takjub melihat jumlah jeep yang beroperasi pagi itu. Ada ratusan. Bahkan belum sampai di Pananjakan, jeep terpaksa berhenti dan saya harus jalan kaki atau naik ojek jika tetap ingin ke atas. Rasanya agak ngos-ngosan juga jika memaksakan jalan kaki. Saya naik ojek saja sampai ke tempat dimana ojek dilarang masuk dan meneruskan berjalan kaki.

Di puncak sini gelap. Dingin dan berangin. Banyak orang duduk-duduk dan berdiri di balkon yang tersedia. Semuanya berebut agar berada di posisi yang bisa melihat matahari terbit pertama kali. Sayapun ikut berjejal di situ.  Ikut berdiri memandang ke dalam kegelapan. Tak ada yang saya lakukan kecuali hanya menunggu dan menguping pembicaraan orang-orang di sebelah saya.  Mereka bercakap-cakap . Riuh seperti suara kumbang.

Akhirnya warna merah pertama muncul di langit. Tapi sayang sekali, langit agak mendung. Sehingga kali inipun tak ada orang yang berhasil mengabadikan matahari terbit. Saya jadi kasihan akan teman saya yang hobinya photography. Sudah jauh-jauh ke sini  mengejar matahai terbit atau kabut bromo, keinginannya tidak tercapai. Matahari terbit tertutup awan tebal, sementara kabutpun tidak ada menyelimuti lautan pasir. Syukurnya ia tetap semangat dan terus mengabadikan moment-moment lain dari perjalanan itu.

Kaldera Tengger dengan Gunung Batok, Gunung Bromo serta Gunung Semeru di latar belakang.

Kaldera Tengger dengan Gunung Batok, Gunung Bromo serta Gunung Semeru di latar belakang.

Walaupun banyak orang yang terlihat kecewa dan bergegas meninggalkan tempat itu, saya sendiri  masih tetap berdiri di situ hingga sejamnya kemudian. Saya sangat senang bisa berada di situ. Masih terpaku dan terkagum-kagum memandang ke arah Gunung Batok, Gunung Bromo dan Gunung Semeru yang makin lama makin jelas bentuknya. Sekarang saya bisa melihat jika saya sedang berdiri di bibir sebuah kaldera. Kaldera Gunung purba Tengger yang luar biasa besarnya. WOW!. Mega Volcanic!.

Saking besar diameternya, di dalamnya bisa menampung beberapa gunung dan lautan pasir. Rada-rada mirip dengan kaldera besar Gunung Batur di kampung halaman saya di Kintamani. Bedanya jika di dalam kaldera purba ini ada lautan pasir, di kaldera Gunung Batur purba ada danau Batur yang luas.

Saya membayangkan betapa dahsyat letusan yang menghasilkan kaldera raksasa seperti ini. Ledakan yang luar biasa, dengan dentuman yang menggelegar dan goncangan  yang melemparkan bongkahan batu, pasir dan  debu, disertai bunga api dan asap yang bergulung-gulung menggelapkan dunia, terasa membayang di depan mata saya. Kapan terjadinya?. Tentunya sudah lama sekali. Barangkali ratusan ribu tahun yang lalu ?. Saya tidak tahu  persis. Yang jelas, daerah sekitar Gunung Tengger purba itu sekarang sudah hijau royo-royo. Batuan bekas letusannya sudah mengalami pelapukan dan berubah menjadi ladang yang subur. Ladang tomat, kol, kentang dan berbagai jenis sayur mayur lain yang subur, memberi penghidupan kepada ribuan penduduk yang yang berdiam di sana.  Berkah gunung.

Di Gunung Bromo 3Kembali saya memandang ke dalam kaldera itu. Paling depan yang warnanya hijau adalah Gunung Batok. Gunung mati yang tak pernah aktif itu bentuknya sangat sempurna. Seperti kerucut yang dipapas puncaknya. Tak habis pikir rasanya bagaimana gunung itu diciptakan kok bisa ya bentuknya sesempurna itu.

Di belakangnya tampak Gunung Bromo yang gersang kelabu akibat sisa letusan tahun 2011. Gunung aktif itu masih mengepulkan asap pagi itu. Di belakangnya ada beberapa bukit atau gunung yang saya tak tahu namanya. Lalu paling tinggi di latar belakang kaldera raksasa Tengger ini adalah Gunung Semeru.

Kaldera raksasa, lautan pasir, gunung yang gosong dengan asap yang mengepul. Pemandangan yang menakjubkan ini tiba-tiba mengingatkan betapa kecil dan tak berdayanya diri saya.  Padahal kompleks pegunungan ini hanyalah satu dari entah berapa ribu kompleks pegunungan yang ada di permukaan bumi ini. Dan bumi, hanyalah satu diantara planet dari sebuah tata surya yang berada di dalam sebuah galaxy. Hanya dari sebuah galaxy diantara milyaran galaxy yang berada di dalam semesta ini yang selanjutnya tak terpikirkan lagi oleh saya. Siapakah saya? Hanya mahluk kecil, lemah dan tak berdaya diantara ciptaanNYA. Ibarat setitik debu yang melayang dan tak kasat mata diantara luasnya lautan pasir di bawah itu.

Perasaan kecil, lemah dan tak berdaya itu terasa membasuh segala kesombongan dan kebanggaan diri saya dengan cepat. Manusia, seberapapun tinggi derajatnya, besar  kesuksesannya dan pencapaiannya, ia tetap adalah mahluk yang lemah dan tidak ada apa-apanya dibanding semua ini. Saya menundukkan kepala saya di bawah kebesaranNYA. Memohon agar segala bentuk ketinggian hati dan kesombongan diri dibersihkan dari hati saya. Perlahan-lahan terang terasa memenuhi pikiran saya.

Teman saya sudah selesai memotret. Sekali lagi saya melempar pandang ke Gunung Bromo dan lautan pasirnya. Sebuah  bangunan tampak di tengah lautan pasir, di kaki gunung itu. Sangat kecil terlihat dari kejauhan sini. Orang yang berdiri di sebelah saya mengatakan bahwa itu adalah bangunan sebuah tempat suci. Saya ingin sekali berkunjung ke sana.

Pak Sutiko, supir jip yang mengantarkan kami  sudah menyusul dan mengkhawatirkan keberadaan kami serta mengajak kami turun kembali. Barangkali karena kami terlalu lama berada di sana.

 

 

 

 

Kisah Petualangan: Mengejar Matahari Terbenam Di Papuma.

Standard

Petualangan Segara Gunung  – part I.

Tanjung Papuma. Foto milik Wasti Priandjani.

Tanjung Papuma. Foto milik Wasti Priandjani.

Seorang teman  mengajak berkunjung ke pantai PAPUMA. Saya tidak tahu seperti apa dan di mana letak pantai Papuma itu. Namanya unik. Kedengeran di telinga saya seperti PAPUA. Jadi penasaran juga. Tanpa bertanya apa-apa, saya dan seorang teman lain ikut saja. Percaya penuh kepada teman saya yang sering melanglang buana demi kecintaannya akan dunia photography. Ia pasti tahu jauh lebih banyak ketimbang saya.  Jadi berangkatlah kami bertiga.

Empat Petualang.

Kami mengejar matahari terbenam. Mau dipotret, tentu saja. Namanya photographer memang begitu barangkali ya?. Demi selembar photo indah, ke ujung duniapun diuber olehnya.  Saya sendiri bukan photographer. Tapi saya senang mengikutinya, dengan motivasi yang berbeda. Saya ingin ikut melihat-lihat, barangkali ada hal menarik di perjalanan yang bisa saya tulis di blog saya. Ha ha. Sementara teman saya yang ke tiga, yang sangat jauh lebih muda, memiliki motivasi tersendiri. Ia haus pengetahuan dan ingin melihat setiap sudut dunia.  Kami diantar oleh seorang sopir sewaan yang tentunya ikut melakukan perjalanan ini dengan motivasi untuk mencari nafkah. Mendapatkan uang.

Empat orang manusia  dengan motivasinya masing-masing, melakukan perjalanan, berpetualang dan menggelandang bersama-sama. Ha ha.. bakalan seru juga ini kelihatannya!.

Sopir Yang Sepuh.

Bapak sopir  yang mengantarkan kami kelihatannya sudah sepuh. Pengalaman puluhan tahun menyetir, memberinya pengetahuan akan seluk-beluk kota, kabupaten, jalan bahkan gang yang akan kami lalui. Juga memberinya pemahaman akan tingkat kelancaran, kemacetan, mana jalan yang berlubang, mana yang sedang diperbaiki. Termasuk juga mana area rawan dan area yang aman tenteram, di mana nanti kami bisa berhenti dan makan. Serta barangkali juga pemahaman tentang adat istiadat, budaya bahkan sejarah daerah itu, di mana nanti saya bisa banyak bertanya. Itulah kelebihan dari sebuah ke”sepuh”an.

Namun  di sisi lain ke’sepuh’an juga memberi keraguan tersendiri. Apakah fisik beliau akan cukup kuat jika menyetir mengantar kami berkeliling hingga esok hari. Apakah beliau cukup sigap dan tangkas untuk menghindar jika sesuatu terjadi di jalan raya. Ah! Saya menepis keraguan saya. Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Saya harus yakin jika Bapak itu sehat, kuat , awas dan sigap.

Perjalanan yang sangat  panjang.

Kami berangkat agak siang dari Singosari, Malang. Istirahat sebentar di Probolinggo  untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Di perjalanan saya memandang keluar jendela. Sawah ladang berseling dengan rumah penduduk. Sangat menarik. Desa demi desa berlalu, saya tidak melihat ada tanda-tanda kami sudah dekat dengan laut. Tidak tercium bau laut. Saya bahkan merasa kami menjauh dari pantai. Ini aneh. Padahal bukannya Probolinggo ada di tepi pantai ya? Lalu Papuma ada di sebelah mana ya?

Karena penasaran, saya lalu menggunakan Google Maps untuk memastikan di mana kiranya saya sedang berada. Rupanya kami ada di jalur Probolinggo menuju Lumajang. Pantai Papuma itu ternyata berada di Jember.  Whua la… jauh juga ya?  Dan PAPUMA itu rupanya singkatan dari pantai PAsir PUtih MAlikan. Wah..ada-ada saja.

Sekarang saya tahu kami akan menemui masalah baru. Saat itu jam menunjukkan pukul empat sore dan kami baru memasuki Lumajang. Perjalanan kelihatannya masih panjang. Sementara matahari akan terbenam pada pukul 5.23 sore.  Teman saya ingin memotret indahnya matahari menjelang terbenam. Mampukah kami tiba sebelum jam itu? Kekhawatiran saya bertambah begitu menatap langit  dan melihat banyak mendung menggelayut. Kasihan teman saya.

Saya sendiri tidak perlu dikhawatirkan. Dengan atau tanpa matahari, perjalanan itu sendiri sudah menjadi sebuah cerita menarik bagi saya, yang bisa saya tuliskan dan ceritakan kembali kepada orang lain.

Kendaran terus melaju. Akhirnya kami memasuki wilayah Jember. Teringat akan sahabat blogger RZ Hakim yang tinggal di kota ini. Jika punya waktu ingin rasanya mampir buat kopdar dan bersilaturahmi, namun apa daya sore semakin mendesak.

Jombang, Kencong, Gumuk Mas, Puger kami lewati. Lalu kami berbelok masuk ke  Ambulu melalui Wuluhan. Yang terlihat sekarang hamparan bukit karang yang membentang.  Mana pantainya ya? Apakah di balik bukit itu?

Papuma 2

Pantai Papuma

Benar saja. Setelah mendaki bukit karang itu, akhirnya kami tiba di pantai Papuma. Tepat pada pukul 5.23. Tepat saat matahari terbenam.  Rupanya pantai ini memang berada di balik bukit. Teman saya menghibur dirinya sendiri “Walaupun jika kita tiba lebih awal, toh matahari tetap tidak akan terlihat karena mendung” katanya.  Namun demikian ia tetap semangat memotret dan mengajak kami mencari lokasi yang lebih baik.  Itu hal yang sangat saya sukai darinya. Pantang menyerah!!!!.

Sementara ia sibuk memotret, saya juga memotret, namun hasilnya buram. Akhirnya saya hanya menikmati pantai dan senja.

papuma 12

Samudera dan Penggeraknya.

Saya berdiri memandang bukit-bukit batu  yang berserakan di situ, sepertinya membentuk sebuah garis. Apa yang terjadi di sana sebelumnya? Barangkali dulunya bukit ini menjorok ke tengah laut, lalu dihempas gelombang yang membuatnya jebol dan ambruk. Tinggallah puing-puingnya yang berserakan seperti ini. Bukit-bukit batu kecil. Sebagian tegak, sebagian ambruk.  Alangkah dahsyatnya gelombang Samudera Indonesia ini.

Pikiran saya melayang. Siapakah samudera? Siapakah laut? Hanya air. Hanya kumpulan molekul-molekul air yang sangat kecil dan mikroskopik. Namun jika ia berkumpul bersama-sama dan bekerjasama dengan sang bayu, maka ia menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat, yang bahkan hanya lidah gelombangnya saja pun mampu menghancurkan bukit batu yang kokoh. Luar biasa!!.

Sesungguhnya benih kedahsyatan yang dimiliki oleh samudera, juga bersemayam dalam diri kita. Molekul-molekul air di samudera ini, adalah molekul molekul air yang sama yang juga membentuk tubuh kita juga. Bukankah 70% dari tubuh kita tersusun oleh air?. Sepanjang unsur air masih membangun diri kita, maka benih kedahsyatan seperti samudera tetap ada di dalam diri kita. Kuncinya hanyalah pada bayu. Pada sesuatu yang mampu menggerakkannya.

Laksana angin yang menggerakkan samudera, demikian juga “niat dan keinginan” akan menggerakkan potensi yang ada dalam diri setiap manusia. Karena jika “niat dan keinginan” itu tidak ada, maka potensi itu tidak akan pernah keluar dengan optimal, sebagaimana halnya laut  jika tidak ada sang bayu.  Ia tidak lebih dari sebuah kumpulan raksasa dari  molekul-molekul air yang diam dan tak bergerak.

Keterhubungan.

Saya berjalan mendekati bibir air. Pantai ini posisinya di sebelah barat Taman nasional Meru Betiri. Jika kita berjalan ke timur, maka kita akan bertemu dengan pantai-pantai di Banyuwangi. Seterusnya jika kita berjalan lagi tentu kita akan tiba di Selat Bali. Alangkah dekatnya Bali dari sini. Memikirkan Bali, saya menjadi kangen dan ingin pulang.

Saya berjongkok. Air laut ini terhubung dengan air laut-laut lain di seluruh dunia. Laut ini sama dengan laut yang juga menyentuh pesisir Afrika, pantai-pantai di Jepang, di Eropa dan sebagainya, bahkan di Kutub dan juga di Bali tentu saja. Artinya, jika saya memberi salam dengan menyentuh ujung ombak pantai ini dengan jemari tangan saya saat ini, salam dan sentuhan saya akan dibawa gelombang dan disampaikan ke pantai -pantai di di Bali dan tempat -tempat lain di seluruh dunia.  Ah! Laut membuat saya merasa terhubungkan dengan cepat ke Bali. Saya merasa sangat senang dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan.

Sekarang saya merasa bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh Segara kepada diri saya. Tentang potensi diri dan penggeraknya,  serta tentang sebuah keterhubungan. Pesan yang tidak sempat terpikirkan oleh saya, jika saya tidak datang ke pantai ini.

Malam mulai turun. Pantai menjadi terlalu gelap. Kedua orang teman saya masih sibuk memotret. Saya berjingkat mendekati mereka. Kamipun kembali berangkat ke tempat tujuan berikutnya.

 

Malang: Mengunjungi Candi Singosari.

Standard
photo milik Wasti Priandjani.

photo milik Wasti Priandjani.

Masih ingat tentang Kerajaan Singosari dan pendirinya? Ken Arok beserta istrinya yang sangat cantik Ken Dedes yang berhasil direbutnya dari Tunggul Ametung, Sang Akuwu Tumapel ?. Salah satu topik pelajaran Sejarah yang paling menarik bagi saya adalah tentang Kerajaan  Kediri, Kerajaan Singosari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Saya masih ingat bagaimana gaya Pak Wayan Suta, guru saya waktu di kelas IV SD saat menceritakan Empu Gandring dan kerisnya beserta malapetaka yang terjadi akibat intrik kekuasaan itu.

Demikianlah ketika minggu lalu saya ada urusan di Malang, dengan sengaja saya memperpanjang keberadaan saya di kota itu agar bisa menyempatkan diri berkunjung ke Candi Singosari. Walaupun hanya sejenak. Guna melihat dari dekat jejak-jejak nyata yang ditinggalkan oleh kerajaan itu dan yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang.

Candi Singosari, terletak di Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ketika masuk ke halamannya, saya melihat banyak sekali arca dan batu-batu  yang berserakan dan semuanya tidak dalam keadaan utuh. Menurut keterangan yang saya dapatkan, dahulunya tempat itu merupakan kompleks candi yang sangat luas yang terdiri atas 7 candi yang penuh dengan arca. Dimana candi yang tersisa yang masih bisa kita lihat sekarang itu (yang kita kenal dengan nama Candi Singosari) hanyalah salah satu dari 7 candi itu. Sisanya yang enam sudah rusak dan pecahan arca-arca yang kita lihat  di halaman candi itu dikumpulkan dari reruntuhan candi yang rusak tersebut.  Bukan hanya itu, beberapa arca yang ada di dalam ruangan-ruangan candi yang utuh itu pun sudah diangkut pula ke Belanda. Yang tertinggal hanya sebuah arca Ciwa Mahaguru di ruang sisi selatan. Sangat disayangkan.

Jika ditilik dari keadaan banguan dan ukirannya, candi itu sebenarnya adalah candi yang belum tuntas dibangun keburu hancur (tepatnya dihancurkan) sebelum bangunan itu selesai. Besar kemungkinan pengrusakan itu terjadi pada saat Jayakatwang menyerang Prabu Kertanegara, raja terakhir Singosari.  Serangan yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Singosari pada tahun 1292. Hal itu terbukti dari ukiran yang baru rampung pada bagian atas, namun belum tuntas pada bagian tengah dan bawahnya. Juga menurut keterangan penjaga, arca-arca yang rusak, hancur terpenggal kepala dan tubuhnya, menunjukkan bahwa itu adalah bekas pengrusakan manusia. Bukan bencana alam ataupun aus karena waktu.

Reruntuhan candi ini secara akademis dilaporkan keberadaannya pertama kali pada tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard, lalu direstorasi oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1934 dan pemugaran selesai pada tahun 1937.

Ciwa Maha Guru

Ciwa Maha Guru

Ketika saya mendengar ada 2 pendapat yang berbeda tentang apakah Candi Singosari itu merupakan tempat pemujaan atau makam dari Prabu Kertanegara? Setelah melihat tempat itu dan membaca keterangan yang ada, saya sendiri berpendapat bahwa candi itu tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Ciwa. Ada banyak arca  yang berkaitan dengan Ciwa (Yang utuh sudah diangkut ke Belanda). Misalnya arca Ciwa Bairawa yang awalnya ada di ruang utama, lalu Durga yang awalnya ada di ruang sisi utara, lalu Ganesha yang tadinya ada di ruang sisi timur. Lalu di ruang sisi sebelah selatan ada arca Ciwa Mahaguru. Termasuk juga sebuah arca Parwati yang diletakkan berseberangan dengan pintu ruang utama candi.  Menurut saya semua arca itu ada kaitannya dengan Ciwa. Arca -arca itu digunakan untuk membantu umat memusatkan pikiran saat berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Ciwa, sang maha pelebur.

Jadi menurut hemat saya yang awam ini, candi  itu bukan makam sang prabu.

Selain itu , mengingat juga bahwa beliau adalah penganut  Hindu/Ciwa-Budha yang tentu jasadnya tidak dimakamkan namun dibakar dan abunya biasanya dikembalikan ke air, misalnya dihanyutkan ke sungai atau dilarung ke laut. Kalaupun ada kalimat dalam Kitab Pararaton yang mengatakan ” Cri Ciwabudha dhinarma ring Tumapel, bhisekaning dharma ring Purwapatapan”  menurut saya pribadi, itu hanya penjelasan bahwa pedharman -tempat keturunannya melakukan doa dan upacara penghormatan kepada Sang Prabu Kertanegara (Cri Ciwabudha) – adanya di sebuah tempat yang bernama Purwapatapan (Pertapaan Timur). Nah di manakah letak Purwapatapan itu? Apakah sama dengan Candi Singosari? Bisa jadi itu dua tempat yang berbeda. Kalaupun ternyata tempat yang sama, saya pikir itu tidak membuat Candi Singosari kehilangan fungsinya sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa.

Candi Singhasari

Kembali jika kita amat-amati bentuk candi ini, rasanya memang sangat menyedihkan. Karena walaupun sudah dipugar, candi ini sebenarnya tidak utuh. Bagian dasar candi (batur) terlihat lumayan utuh, demikian juga pada bagian kaki candi yang tinggi dan langsing, dimana  terdapat ruangan-ruangan dan awalnya ditempatkan arca-arca yang berkaitan dengan Ciwa. Walaupun saat ini hanya tersisa satu arca saja di ruangan selatan, tapi secara umum kondisi kaki candi terlihat utuh. Bagian tubuh dan atap candi banyak mengalami kerusakan.

Saat akan pulang, kembali saya harus melintasi halaman candi. Di sana tampak kondisi batu-batu yang mengenaskan. Berikut adalah beberapa diantaranya.

Arca Dewi Parwati

Arca Dewi Parwati

Di atas adalah arca Dewi Parwati yang tidak utuh. Saya tidak jelas apakah memang karena belum tuntas atau memang begini karena rusak.  Di sini diperlihatkan Dewi Parwati dalam posisi berdiri tegak (Samabhangga) dengan sikap tangan Ciwa Lingga Mudra (jari tangan kanan mengepal dengan ibu jari ke atas, di atas tangan kiri yang terbuka).

Arca Ken Dedes & Tunggul Ametung

Arca ini sudah tidak terlihat bentuknya.  Yang utuh hanya alasnya saja yang disebut dengan asana yang berbetuk bunga teratai (padmasana) dan dinding penyangganya.Warna batunya beda sendiri. Merah. Kelihatan seperti bukan berasal dari tempat yang sama. Menurut penjaga, itu adalah arca Ken Dedes dan Tunggul Ametung suaminya yang Akuwu di Tumapel.

Arca Ken Dedes

Arca Ken Dedes

Ini adalah arca seorang dewi yang oleh penjaga disebut dengan Prajna paramitha atau  sering juga dianggap sebagi perwujudan Ken Dedes. Arca ini merupakan arca yang sama dengan arca yang sempat di bawa ke Belanda dan akhirnya dikembalikan ke Museum Nasional Indonesia.

Sebenarnya masih banyak lagi arca-arca lainnya yang kondisinya sudah rusak di sana. Sayang sekali.