Tag Archives: Ego

Kisah Pagi Di Sebuah ATM.

Standard

Pagi ini saya terpaksa keluar karena ada keperluan mendesak ke ATM dekat rumah. Mini Market tempat ATM ini sangat sepi. Hanya ada saya, 1 orang SPG dan kasir. Tidak ada pembeli. Tidak ada juga yang sedang mengambil uang atau mengantri. Ah, senangnya. Kesempatan yang jarang, karena biasanya antrian di ATM ini panjang.

Kesempatan ini akan saya pakai untuk bayar listrik dan bayar Iuran Satpam sekalian, selain mengambil uang tunai tentunya. Saya membayar listrik dulu. Lancar. Saya menengok ke belakang. Tidak ada yang ngantri. Aman. Lalu saya mentransfer uang iuran bulanan Satpam. Lancar juga Saya menengok ke belakang lagi. Masih belum ada orang yang ngantri. Jadi aman ya. Saya teruskan kalau begitu.

Sekarang mengambil uang Cash untuk keperluan bayar bayar juga dalam bentuk cash. Saya memasukkan nomer PIN. Sambil menunggu instruksi berikutnya, sudut mata saya menangkap sesuatu.

Tiba tiba ada seorang wanita datang dari arah samping kanan agak belakang saya. Persis di depan ATM Bank lain. Tapi anehnya ia berdiri miring dan melihat ke arah saya. Kelihatannya seperti ngantri ke ATM yang sama dengan yang sedang saya gunakan.

Bukan ke ATM Bank lain yang ada di depannya “Ooh ok. Mungkin mau ke ATM ini….tapi kok ngantrinya di situ ya” bathin saya sambil berusaha cepat cepat menyelesaikan transaksi yang terakhir. Harusnya kan ia berdiri di belakang saya ya dg jarak +/- 1 meter. Tapi oke lah.

Tapi astaga!!!. Ternyata mesin ATM ini kehabisan uang. Dia tidak bisa melayani pengambilan uang untuk saya. Waduh.. gimana ya. Saya lagi butuh banget. Akhirnya saya coba lagi masukkan nomer PIN saya lalu menoleh ke orang yang sedang ngantri itu dan kasih kode ringan minta maaf karena saya mau coba ulang lagi mengambil uang dengan jumlah yang lebih kecil. Siapa tahu bisa. Wanita itu tidak menjawab kode saya karena lagi sibuk membuka dompetnya. Sayapun melanjutkan kegiatan saya.

Tiba tiba orang itu maju dan berdehem kencang “hemmm!!!”. Saya kaget dan menoleh. Waduuuh. Walaupun wajahnya tertutup oleh masker dan kerudung, tapi sorot matanya yang tajam kelihatan kalau ia marah dan tidak suka pada saya. Saya merasa nggak nyaman.

Lalu saya jelaskan padanya bahwa mesin ATM ini tidak mengeluarkan uang. Dan transaksi pengambilan uang saya tadi gagal. Jadi saya coba ulang dengan ukuran yang lebih kecil. Mohon pengertiannya juga.

Wanita itu tidak menjawab. Kelihatan masih tetap kesal pada saya. Saya tetap melanjutkan usaha saya untuk mengambil uang. Dan ternyata tetap tidak keluar juga. Ya sudah. Saya menyerah. Mungkin duit di mesin ATM ini memang habis.

Sayapun berlalu. Mengambil pasta gigi dan pembalut lalu membayar di kasir dengan sisa uang yang sebelumnya menang ada di dompet. Sambil menunggu kasir, saya menoleh ke mesin ATM di mana wanita tadi masih berdiri. Kedengaran ia mengomel sendiri dan mengetuk- ngetuk mesin ATM dengan jarinya dengan tidak sabar. Berulang ulang. Dengan tidak sabar. Saya lihat Mbak Kasir pun menoleh sebentar ke orang itu, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Dalam hati saya heran. Kan memang uangnya habis. Sudah saya kasih tahu sebelumnya. Tapi ia tidak menggubris. Mana bisa uangnya keluar. Ditendangpun mesin ATM itu jika nemang uangnya habis, ya tetap tidak akan mengeluarkan uang.

Beberapa saat kemudian, orang itu keluar dari toko. Ia lewat di belakang saya karena posisi kasir di dekat pintu. Dan entah kenapa pula, saya kok refleks menoleh. Apesnya, rupanya ia juga sedang melihat ke arah saya. Tatapan matanya marah dan mengancan. Lho?!. Saya jadi bingung dan heran dengan orang ini. Maksudnya apa ya kok jadi marah besar ke saya gitu?. Untungnya ia keluar setelahnya.

Saya menarik nafas panjang dan menghibur diri saya agar tidak terlalu galau. Rasanya memang sangat tidak nyaman diperlakukan begitu. Saya menelisiki perbuatan saya, barangkali ada kesalahan saya yang telah saya perbuat yang membuat orang lain sampai sedemikian marahnya kepada saya.

1/. Mungkin dia marah karena saya kelamaan di mesin ATM. Saya melakukan 2 x transaksi non tunai dan sukses, lalu2 x transaksi tunai tapi gagal karena uang tidak ada. Saya melakukan multiple transaction karena sebelumnya toko itu sepi. Tidak ada yang ngantri di ATM. Dia muncul saat saya melakukan transaksi non tunai yg gagal itu. Lalu marah karena saya mencoba mengulang lagi. Padahal kan saya sudah ngasih kode minta maaf karena saya harus nengulang transaksi lagi. Dianya sendiri tidak merespon.

Ya… kalau saya cari cari kesalahan saya, mungkin dalam hal ini saya ada setengah salah juga. Mungkin harusnya, saat transaksi saya gagal, saya berhenti dulu, mundur dan mempersilakan dia dulu dan saya mengantri di belakang dia. Jadi untuk kasus ini saya kasih score kesalahan saya 50%.

2/. Mungkin dia marah karena uang cash tidak keluar setelah ia coba coba beberapa kali. Lah ?? Ini jelas bukan kesalahan saya. Kan tidak mungkin uang itu habis karena saya yang mengambilnya semua dan tidak menyisakan untuk dia. Lah, siapa pula saya ini, sisa uang di kartu ATM saya juga tidak seberapa. Selain itu sayapun gagal juga mengambilnya. Dalam kasus ini saya yakin kesalahan saya 0%. Lalu mengapa dia marah?

Ah!!!. Saya merasa capek memikirkannya. Rasanya tidak bisa saya jelaskan dengan akal sehat saya. Saya tidak kenal orang itu sebelumnya dan ia cuma lewat sepintas lalu dalam hidup saya. Mengapa saya biarkan ia merusak kebahagiaan hidup saya.

Mari kita pikirkan hal hal lain yang lebih membuat hati bahagia” ajak saya kepada diri saya sendiri.

Emang Gue Kaya Gini.

Standard

LilyDalam pergaulan, tidak jarang kita mendengar seseorang berkata dengan tegas “Emang GUE kaya gini” atau kadang-kadang malah ditambah “ Ya udah. Lo mau apa?”.  Baik itu ucapan langsung kepada semua pendengar yang ada di situ, ataupun sebenarnya ucapan untuk orang lain yang diucapkan di depan kita saat seseorang curhat atau menuangkan uneg-unegnya kepada kita.

Beberapa kali saya pernah mendengarkan kalimat sejenis itu diucapkan oleh beberapa orang yang berbeda-beda.  Dan saya perhatikan biasanya yang mendengarkan hanya tersenyum, tertawa – entah memaklumi, menyetujui atau bahkan ada yang sebenarnya kurang menyetujui namun enggan berbicara. Atau mungkin juga tidak terlalu mau tahu atau ikut mencampuri urusan orang lain.

“Emang gue kaya gini” adalah sebuah pernyataan agar orang lain memaklumi bahwa si pembicara adalah memang seperti itu adanya. Dan sekaligus juga peryataan yang tersirat bahwa ia tidak akan merubah keadaan itu. Ia ingin menjadi dirinya sendiri seperti apa adanya itu.  Jadi tolong maklum.

Menjadi diri sendiri seperti apa adanya buat saya adalah sesuatu hal yang penting. Menjadi diri sendiri tapa harus meniru orang lain membuat kita menjadi lebih percaya diri. Menjadi diri sendiri apa adanya juga membantu kita untuk bersyukur dan tidak terganggu akan godaan arus pergaulan yang belum tentu selalu baik. Itulah sebabnya mengapa saya selalu merasa penting untuk menjadi diri sendiri.

Namun seperti kita tahu, bahwa yang namanya diri manusia tentu tidak terlepas dari sisi baik dan buruk. Ada sifat-sifat di dalam diri kita yang sangat baik – sudah pasti. Dan kita pun tentunya sedang berjuang untuk mengubah sifat-sifat kita yang kurang baik untuk mejadi baik, agar secara umum kita menjadi orang yang baik dengan sifat buruk yang sangat terminimalisir.

Jika hal ini kita kaitkan konteks-nya dengan pernyataan “Emang gue kaya gini” , tentu semuanya akhirnya menjadi relatif. Kalau kebetulan yang diacu oleh ‘kaya gininya’ si gue  ini adalah hal-hal yang baik tentu saja kalimat “emang gue kaya gini” ini memang sangat penting untuk dikatakan. Karena mempertahankan “status quo” karakter kita yang baik tentu wajib hukumya.

Nah, bagaimana jika yang diacu oleh ‘kaya gininya’ si gue ini adalah justru sifat-sifat atau perangai yang buruk? Bukankah itu akhirnya hanya menjadi sebuah ego yang berlebihan? Sebuah upaya yang berlebihan untuk menjadi diri sendiri yang…. berperangai buruk?  Benarkah sifat buruk di dalam diri kita itu harus dipertahankan erat-erat? Dan kita berharap orang lain maklum, mengerti dan menerima hal itu dengan mudah?   

Walaupun menjadi diri sendiri itu penting, menurut pendapat saya, ada baiknya bagi kita  untuk berpikir sejenak, bagaimana kira-kira dampak dan peranan dari sifat “kaya gini” yang kita maksudkan dalam mensukseskan masa depan kita baik dalam kehidupan karir maupun kehidupan sosial? Jika kira-kira akan merugikan, mungkin ada baiknya dipertimbangkan untuk dirubah. Dan sebalikya jika kira-kira justru akan membantu kita tentu saja harus kita pertahankan. 

Atau misalnya jika kita tahu bahwa sifat itu kurang baik dan susah dirubah -isalnya kita sudah pernah mencoba untuk merubahnya dan kurang sukses –  tetap saja saya berpikir bahwa kita  harus terus mencoba. Jangan merasa lelah berusaha dan akhirnya memaafkan perangai buruk itu terjadi dalam diri kita. Jangan pula jadikan hambatan untuk maju. Namun justru sebagai area yang perlu diperbaiki. Jika kita berusaha, kemungkinan untuk memperbaikiya sudah tentu terbuka lebar-lebar. 

Mengasah Hati Yang Tidak Peka.

Standard

Kursi PijatDi sebuah bandara International di negeri tetangga, terdapat 4 buah kursi pijat gratis yang difasilitasi oleh pihak bandara. Kursi pijat yang saya maksud adalah yang serupa dengan yang bertebaran di mall-mall di Indonesia, yang bisa kita gunakan selama 15 menit dengan ongkos Rp 5 000, 10 000 atau maximum Rp 15 000. Bedanya yang ini gratis. Read the rest of this entry