Tag Archives: facebook

Friend Requests!.

Standard

Saat sekarang, ber-sosial media rasanya sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar orang. Entah itu lewat Facebook, Instagram, WA dan sebagainya. Saya sendiri termasuk salah satu diantara orang yang senang berbagi cerita, photo, video atau sekedar melihat lihat status teman, sahabat dan keluarga di Sosial Media di saat senggang. Saya melihat lebih banyak manfaatnya ketimbang keburukannya. Berbagai pengalaman dan pengetahuan baru tentu juga saya dapatkan lewat media ini. Juga pertemanan.

Nah…salah satu pengalaman yang ingin saya share di sini adalah soal Friend Request!. Secara umum, kita meminta maupun menerima banyak pertemanan kepada atau dari orang orang yang memang kita krnal di dunia off line. Sangat jarang kita meminta pertemanan dengan orang yang tidak kita kenal. Kecuali jika orang itu artist, public figure atau idola kita.

Tapi jika ada diantara orang yang tidak kita kenal meminta pertemanan dengan kita, apa yang akan kita lakukan?.

Biasanya hal pertama yang saya lakukan adalah melihat mutual friends – nya dengan saya. Jika mutual friendsnya banyak berpuluh puluh jumlahnya, maka saya langsung accept tanpa mikir lagi. Minimal belasanlah. Kemungkinan vesar itu memang teman atau keluarga.

Jika mutual friendsnya ada tapi sedikit (bisa dihitung dengan jari), biasanya saya buka profilenya. Jika kira kira orang baik baik, tidak ada gambar gambar atau kalimat kalimat kurang sopan, umumnya saya accept. Tapi jika ada yang aneh aneh atau promo berlebihan, biasanya tidak saya terima.

Jika account itu tidak saya kenal dan tak ada mutual teman yang saya kenal, biasanya saya berhati hati. Milih milih dan lihat lihat profile serta statusnya. Kadang saya terima kadang tidak.

Tapi ada lagi yang profilenya mencurigakan. Entah apa maksudnya, dia menggunakan foto orang lain sebagai foto profilenya dan namanya saya tak tahu apakah asli atau tidak. Biasanya menggunakan foto foto pria tampan dan berprofesi sebagai tentara, polisi, angkatan udara, pilot, dokter dan sebagainya.

Kalau begini langsung saya delete sajalah. Karena nggak ada gunanya juga meladeni orang yang aneh.

Ini adalah salah satu contoh Account yang meminta pertemanan dalam waktu 2 jam menggunakan foto profile yang sama, tetapi nama account yang berbeda. Masak jam 8 ngaku bernama Pedro Richard, terus jam 10 nya mengaku bernama Melvin Hertling. Baah… aneh banget dah ūü§£ūü§£ūü§£.

Yang macam begini biasanya saya delete..

Tapi setelah itu dapat notifikasilah dari Facebook ūüėÄūüėÄūüėÄ.

Ayo teman-teman, coba sharing bagaimana cara teman teman menyikapi Friend Requests di SosMed?

Advertisements

Siapakah Saya ? I Am…

Standard

I am Happy

Saya menerima sebuah pesan lewat ‘message box’-nya face book. Saya tidak mengenal namanya. Tapi karena informasi pekerjaan dan lokasinya sangat familiar dengan saya maka sayapun membrowsing timeline-nya juga. Kelihatan informasinya cukup dapat dipercaya. Agar lebih aman, saya juga menanyakan ke beberapa orang teman dan saudara, barangkali ia juga mengenal orang itu . Respon teman dan saudara saya cukup baik. Maka sayapun menjawab message-nya. Saya menanyakan tentang dirinya, ia menjelaskan nama aslinya (tidak sama dengan namanya di facebook), dan ia ada menyebut bahwa ia kenal beberapa orang teman saya juga. Singkat kata bertemanlah kami.

Karena merasa sudah berteman, sekarang saya jadi sedikit lebih berani kaypo dong ya….

Saya bertanya,mengapa ia menggunakan nama samaran di media sosial, dan bukan namanya sendiri. Bukankah jika memakai nama sendiri, teman-teman akan lebih mudah mengenali diri kita?. ¬†Ia menjawab, bahwa alasannya adalah agar lebih trendy. Ya ya.. alasan yang cukup bagus. Saya lihat nama online-nya cukup keren juga. Saya mengerti dari foto-foto yang diuploadnya rupanya yang bersangkutan punya hobby menyanyi. Ooh..mungkin itulah sebabnya mengapa namanya diganti dengan nama lain, lalu ditambahkan kata “Star” di belakangnya. Boleh juga idenya. Cukup aspiratif.

Rasanya sih nggak ada salahnya juga, kalau membuat akun dengan nama aspiratif begitu. Tetapi karena peristiwa itu, saya jadi tertarik memperhatikan beberapa orang yang mengganti atau menambah nama on-linenya dengan sesuatu  yang aspiratif. Misalnya nih,  Ranii Shiii Cuantieq, ZhieManiez, Wawan Okeh, Ria The Star, Ariez KeRen, Yudi Cool, GunkAyu ZiCuaem, IfanWongKEraton dan sebagainya yang keren-keren.

Ada juga sih yang menyebut dirinya dengan pengakuan yang netral – misalnya nih…. I am Chepy, Meera ituuwww Mira, Lily Luph Iwan Celalu, Maria Sukhahejo, DeeChayanknaAguz dan sebagainya. Ya..oke. Lumayan kreatif dan mungkin apa adanya.

Nah..tapi ada juga nama-nama yang saya nggak habis pikir  membacanya. Misalnya ada yang membuat namanya kaya begini : Heri Susakaya, Oki Siplagiatz, DaniarStrez, BayuSiZeleks, YoyokStupidz, GagalManing, SiCebongsLinglung, Aldea Error, AgungCulun, Crazy Sensitive, DexWatiBodoh, Mizkin Tapi Norak, dan sebagainya.

Note: Semua nama-nama diatas saya plintir sedikit, bukan nama sebenarnya Рsemoga tidak  menyinggung Рsaya hanya menyebut contoh untuk memperjelas point saya. Minta maaf jika ada yang kurang berkenan.

Nah… kembali lagi ke point saya tadi adalah, mengapa ya mengganti nama di dunia maya dengan nama yang kurang aspiratif begitu? Saya pikir mau di dunia nyata maupun di dunia maya, nama itu hakikatnya sama saja. Yaitu jati diri kita. Siapa diri kita? Nama merefleksikan banyak hal,termasuk pikiran,perasaan kita juga.

Buat saya,  jika saya menggunakan nama di dunia digital, pilihan pertama saya adalah menggunakan nama asli sendiri. Atau minimal menggunakan nama panggilan. Atau mungkin nama kecil atau nama kesayangan kita yang juga umum dikenal orang lain. Mengapa? Karena nama yang diberikan oleh orangtua biasanya bermakna bagus. Dan pasti sudah penuh dengan doa-doa baik orangtua kita agar kita sehat walafiat, selamat, sentosa dan sebagainya yang bagus-bagus.  Saya yakin sangat sangat jarang sekali (atau jangan-jangan tidak ada) ada orang tua yang memberikan anaknya nama yang buruk atau yang bermakna buruk.

Jika kita merasa tak perlu menggunakan nama kita sendiri, pilihan keduanya adalah mengganti nama dengan sesuatu yang baik atau aspiratif. Misalnya ya seperti nama-nama di kelompok pertama yang saya sebut itulah.. seperti dengan tambahan the Star-lah, atau Si Cuantikz, atau Si Guanteng, ZiiBaekhati dan lain sebagainya yang berkonotasi positive dan baik baik begitu (soal gaya menulis ya terserahlah ya..suka-suka sendiri sepanjang tidak melanggar hukum). ¬†Atau minimal seperti gaya yang di kelompok ke dua yang mengatakan dirinya apa adanya I am…

Khusus yang kelompok ke tiga… walaupun ya memang sih, itu kan suka-suka yang punya nama- *kok repot sih?…¬† terus terang sangat bingung. Misalnya nih… memberi sebutan kepada diri sendiri sebagai si Susakaya alias Susah kaya..kok di telinga saya rasanya seperti mendoakan diri sendiri agar tetap miskin. Atau menyebut diri sendiri dengan nama ZiiGagalManing… sami mawon itu buat saya.. Kok seperti mendoakan diri menjadi gagal terus menerus. Lah kapan suksesnya kalau seperti ini? Demikian juga dengan kata Stress, Pandir, Bego, Error dan sebagainya yang tidak berkonotasi positive. ¬†Orang bilang nama itu adalah doa ya..Semakin sering kita sebut, semakin cepat ia datang ke diri kita. Semakin sering kita menyebut diri kita sendiri Bodoh, Bodoh, Bodoh…ya semakin kejadian deh itu, kita jadi beneran Bodoh. Karena kata bodoh itu sekarang menancap ke dalam diri kita dan bekerja dengan sangat cepat membuat keseluruhan diri kita menjadi Bodoh.

Saya pikir ¬†cara kita menyebut diri, ¬†memberi dampak terhadap diri kita sendiri. Coba saja perhatikan apa jawaban kita – misalnya ketika menjawab pertanyaan “Siapakah kamu?”alias “Who Are You?“. Misalnya kita menjawab dengan kata “I am (a) very happy (person)” atau ¬†“Saya bahagia banget ” atawa “Saya orang yang bahagia banget“. Pikirkanlah sejenak kata bahagia itu, lalu rasakan apa yang ada di hati kita? Bahagia!.¬† Beneran, bahagia. Atau misalnya yang terlintas di kepala kita adalah jawaban “I am (a) lucky (person)” alias “Saya beruntung” atawa “Saya orang yang beruntung“. Lalu pikirkan dan rasakan apa yang ada di hati saat kita mengucapkan kata itu. Saya yakin perasaan kita juga bahagia dan senang, karena kita merasakan keberuntungan yang kita miliki.

Sebaliknya jika kita menjawab dengan kata yang berkonotasi buruk seperti tadi “I am StupiDz“, nah..saya rasa diri kita langsung merasa StupiDz dan diri kita juga langsung memberikan konfirmasi bahwa kita memang StupiDz. Atau kalaupun¬† belum bisa memberi konfirmasi segera,¬† maka ia akan mencari-cari sampai benar-benar ketemu bahwa kita memang StupiDz.

Begitulah saya rasa.  Karena nama adalah doa, yuk kita doakan diri kita agar selalu baik-baik. Stop menyebut diri kita dengan nama buruk dan stop mendoakan diri kita dengan hal-hal yang kurang positive.

 

 

Groups Di Media Sosial.

Standard

Semua pengguna Blackberry tentu sangat familiar dengan group-group yang banyak bertebaran di dalam alat komunikasi  itu.  Banyak diantaranya yang menjadi anggota, namun banyak juga bahkan menjadi juru kuncennya. Saya sendiri juga menjadi anggota beberapa group dan menjadi kuncen dari 2 buah group yang lain. Group yang saya ikuti, mulai dari Group keluarga besar saya, Group teman SMP, teman SMA, teman kuliah dan Group teman kerja di hampir setiap perusahaan yang pernah saya masuki. Tentu saja saya tidak bisa aktif setiap saat di semua Groups itu.

Kadang-kadang saya menyimak apa yang sedang diperbincangkan. Sesekali nimbrung, jika ingin nimbrung. Atau jika ada yang lucu, dan menggelitik ingin berkomentar. Tapi jika sedang tidak ingin nimbrung, ya saya baca saja tanpa berkomentar apa-apa. Tentu saja sangat menyenangkan memiliki sarana untuk berbicara lagi dengan teman-teman lama. Jarak dan waktu seolah tidak ada masalah lagi.. Read the rest of this entry

Pertemanan Yang Tidak Adil Di Facebook.

Standard

Seorang kawan bercerita kepada saya tentang kawannya yang lain, yang dianggapnya telah berlaku tidak adil terhadap dirinya di media social facebook. Kawan dari kawan saya ini tiba-tiba meng-customize wall sharingnya sehingga kawan saya tak bisa melihat wall status kawannya itu. Padahal, selama ini di dunia nyata ¬†mereka tidak punya masalah, namun mengapa di dunia maya ia berlaku seperti itu? Kawan saya menjadi curiga, apakah itu suatu pertanda bahwa kawannya tidak mau berkawan lagi dengannya? Kecurigaannya ¬†¬†pun¬† kemudian berkembang menjadi kejengkelan.‚ÄĚLoh..tidak adil dong? Ia bisa melihat wall-ku, karena tak ada sesuatu yang kusembunyikan darinya. Sementara ia menyembunyikan wall-nya dariku. Kalau begini caranya berhubungan, mendingan sekalian saja kita tidak usah berkawan di facebook. Buat apa berkawan dalam ketidakjujuran?‚ÄĚ Keluhnya.

Saya yang tidak mengerti duduk perkara keseluruhan ceritanya, hanya bisa berusaha menenangkan dengan mengajukan beberapa kemungkinan yang barangkali belum ia pertimbangkan sebelumnya.

Kemungkinan pertama yang saya ajukan ke kawan saya adalah bahwa ¬†kawannya itu tidak sengaja melakukan itu karena tidak ngeh status di privacy settingnya. ‚ÄúAh, tidak mungkin!!! Ia bukan type orang yang seteledor itu‚ÄĚ katanya segera mematahkan teori kemungkinan saya.¬† Oke. ‚ÄúBagaimana kalau perubahan itu tejadi saat pihak facebook melakukan perubahan tampilan yang membuat kita perlu melakukan adjustment setting kita?‚ÄĚ Ia tetap tidak setuju dan menganggap itupun¬† tidak mungkin, karena menurutnya kawannya satu itu tidaklah type pemalas seperti saya yang lebih suka melakukan kegiatan lain-lain daripada mengotak-atik setting facebook. ¬†Teori saya berikutnya adalah, bagaimana kalau ia gaptek? Salah klik lalu tidak tahu caranya membetulkan kembali? Atau tidak berbahasa Inggris dengan baik sementara ia menggunakan versi bahasa inggris? Atau .. istrinya, anaknya yang melakukan itu tanpa ia ketahui? Semua teori ‚Äėketidaksengajaan‚Äô saya itu dimentahkan kembali olehnya. Tak satupun yang diterima dan masuk diakalnya. ¬†Teman saya tetap menjuruskannya ke arah ‚Äėkesengajaan‚Äô.

Sesungguhnya saya mulai kehilangan energy untuk ikut melanjutkan obrolan kami, karena saya tidak kenal dengan kawan dari kawan saya itu. ¬†Selain itu saya juga mulai terpancing untuk mengingat ingat¬† apakah ada kawan-kawan saya sendiri yang tidak mensharing wallnya dengan saya. Rasanya memang ada satu dua orang yang begitu, tapi selama ini saya tidak terlalu memperhatikan dan memikirkan penyebabnya.¬† Saya lebih memilih untuk menghormati semua keputusannya. Mungkin teman yang lainpun ada juga ¬†yang mengalaminya. ¬†Mengapa mereka melakukan perbuatan itu? Jika teori ketidaksengajaan tidak berlaku, maka saya mengudek udek apa saja motivasi yang menyebabkan terjadinya ‚Äėkesengajaan‚Äô itu.¬† Beberapa hal bisa saya pahami mungkin saja terjdi:

1.¬†¬†¬†¬†¬†¬† Banyak karyawan yang ingin bersahabat dengan atasannya di facebook untuk berbagai alasan. Mungkin ada yang memang menyukai karakter atasannya; ada yang ¬†ingin mengenal atasannya lebih jauh untuk mengetahui keluarganya dan kehidupan belakang layar lainnya guna lebih mudah menyesuaikan diri. Ada yang memang murni karena pengen bersahabat saja, ada yang pengen dianggap penting oleh rekan sejawatnya karena berhasil berteman dengan ‚Äėpara bos‚Äô, atau hanya sekedar basa basi karena atasannya yang duluan mengundang, jadi ia merasa tidak enak hati untukmenolak pertemanan dsb dsb sejuta alasan lain.

Lalu mengapa ia tidak mau memperlihatkan wallnya pada kawan (baca: atasannya) di facebook? Mungkin saja karena ia suka menumpahkan uneg-unegnya soal kantor, kerjaan dan termasuk atasannya  di dinding facebook. Jadi wajarlah kalau ia tidak mau atasannya melihat itu semua.

Saya pernah memiliki sahabat di facebook yang kebetulan bawahan saya di kantor. Suatu hari saya melihatnya menumpahkan kekesalan atas office policy di wallnya. Esok harinya saya ajak ia bicara, bukan karena saya melarang ia berpendapat, tapi menghimbau kawan saya itu agar jangan menjelek-jelekkan kantor sendiri di wall yang tentunya akan dibaca oleh sejuta umat. Kalau tidak happy, lebih baik dibicarakan off line. Tidak baik untuk image kantor, dan tidak baik juga untuk image dirinya sendiri. Ia setuju dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi di wall. Eh.. hari berikutnya ia malah nulis di wallnya bahwa atasannya telah mencampuri urusan pribadinya untuk menulis di fb. Itu kan haknya dia. Begitu pendapatnya. Ya. Beneer juga.  Saya hanya tertawa membaca statusnya dan tak punya selera lagi untuk mengikuti urusan pribadinya. Nah kebetulan teman saya itu bukanlah orang yang suka menutup-nutupi isi hatinya. Tapi mungkin tidak semua orang seperti itu. Ada yang ingin menumpahkan kekesalannya, tapi tak mau diketahui orang-orang tertentu. Jadi wajarlah kalau ia tak mau sharing wallnya.

2.       Atasan atau mantan atasan yang berteman dengan bawahannya juga mungkin berbuat begitu. Terutama bila mantan bawahannya pindah ke perusahaan pesaing, beberapa atasan memilih untuk menterminate pertemanan di facebook atau merubah setting nya agar mantan bawahannya tidak bisa melihat lagi aktifitas/percakapan yang terjadi berkaitan dengan kantor.Wajarlah. Terutama jika sang atasan itu juga suka membawa bawa aktifitas kantornya ke ruang public yang bernama facebook. Itu berbahaya dan bisa terbaca oleh orang yang bekerja di kantor pesaingnya.

Ada juga atasan yang memang tidak mau membagi kehidupan pribadinya dengan teman-teman kantor.  Baginya dunia kantor adalah hal yang terpisah dengan dunia rumah, jadi mengapa harus di share. Tetap berteman dengan bawahan adalah hanya untuk tata karma saja dalam pergaulan. Alasan lain adalah atasan merasa tidak berada di level yang sama dengan bawahannya untuk dijadikan teman yang layak diberi sharing informasi dari wallnya. Dan masih banyak alasan lain lagi yang mungkin.

3.       Anak/keponakan yang ABG dan mulai pacaran seringkali mengeliminir informasi terhadap keluarganya. Kalau kita perhatikan status para remaja jaman sekarang, kadang kadang kita terkejut dan terheran heran . Terutama dalam hal pacaran. Woo.. Berani banget! Waduhhh kok ngawur ya bicaranya! Gawat.. keponakanku kok kaya gitu ya dst dst. Para tante dan om dari sang keponakan  ini biasanya suka mengkritik  dan menjadi polisi moral bagi status keponakannya yang sedang ABG. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sang keponakanpun akhirnya menjadi tidak senang dan memutuskan untuk tidak sharing wallnya ke Om & tantenya itu.

4.       Para mantan pacar kadang ada juga yang jadi teman di facebook. Mereka juga ingin berteman dengan kita, pengen tahu kehidupan kita sekarang,  namun bisa jadi berusaha menjaga perasaan kita dengan menghalagi kita melihat percakapan pribadi dengan pasangannya yang sekarang di wallnya. Yaaah.. boleh saja. Tu soal pilihan.

5.      sudah pasti masih banyak lagi reason dan kasus serupa yang terjadi dan menimpa banyak orang di facebook yang belum terpikirkan alasannya oleh saya.

Memang terasa agak tidak adil. Namun jika kita sedkit  berusaha memahami alasannya, mungkin kita bisa menerima dan tetap menghormati keputusan para teman kita untuk menghalangi pandangan kita dari wallnya.

Jika kita tetap merasa tidak diperlakukan dengan adil, barangkali pendapat teman saya untuk sekalian saja tidak usah berteman di facebook bisa jadi merupakan pilihan yang lebih baik. Toh kita tetap bisa berteman di dunia nyata yang lebih riil tanpa memiliki prasangka apa-apa.