Tag Archives: ficus bengalensis

The Banyan Tree – Living Life To The Fullest.

Standard

Pohon BanyanAda sebuah pohon yang selalu membuat saya penasaran karena saya sering mendengar namanya, namun tidak pernah melihatnya seumur hidup saya. Konon menurut cerita, itu adalah pohon yang terbesar yang mungkin ada di permukaan bumi. Dahannya rindang, akar gantungnya banyak, yang kemudian semakin berkembang membentuk batang-batang baru yang membesar. Sedemikian perkasanya pohon itu, sehingga dikatakan sebagai rajanya pohon. Bahkan beberapa sumber merefer pohon itu sebagai Kalpataru,walaupun beberapa sumber lain menyatakan bukan. Pohon itu adalah Pohon Banyan (Ficus bengalensis).

Setelah usia saya mendekati setengah abad, akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk melihat tanaman itu hidup-hidup.  Walaupun dari jarak beberapa meter saja, karena sore telah menjelang malam. Awalnya saya mengira bahwa pohon Banyan itu sama dengan pohon Beringin (Ficus benyamina). ternyata bukan.  Rupanya cuma bersaudara saja. Daunnya kelihatannya berbeda. Daun Beringin biasanya kecil-kecil, agak kaku dan berbentuk ellips. Namun daun pohon Banyan kelihatannya sedikit lebih besar dan mengkilat, walaupun bentuknya juga ellips.  Batang dan akarnya kelihatan mirip, namun kalau diteliti, rupanya batang pohon Banyan biasanya lebih banyak dari pohon Beringin.  Kenapa demikian? Usut punya usut ternyata perbedaan ini ada sebab musababnya.

Pohon Beringin biasanya tumbuh sebagai batang tunggal yang tumbuh dan membesar, lalu mulai mengembangkan akar-akar gantungnya untuk bernafas dan mencari makan di udara agar bisa tumbuh dengan lebih cepat. Akar-akar gantung ini biasanya tetap menggantung dengan ukuran relatif kecil dibanding batang utamanya. Jarang ada yang sangat membesar. Kalaupun ada, biasanya hanya satu dua dan jaraknya tidak jauh  dari batang utamanya. Sehingga jika kita perhatikan, pohon Beringin biasanya memiliki batang yang sangat besar, dahan yang rimbun penuh dedaunan serta akar yang menggantung banyak dan kecil-kecil.

Pohon Banyan rupanya sedikit berbeda.  Ia mulai tumbuh sebagai pohon kecil, seringkali di sela-sela batang pohon hidup yang lain.  Barangkali karena bijinya disebarkan oleh burung dan jatuh di sana. Ia mulai membesar lalu memiliki akar-akar gantung yang banyak. Nah akar gantungnya ini ada yang tumbuh membesar, melilit tanaman induknya, ada juga yang kemudian tumbuh membesar ke bawah  menyaingi batang utamanya dalam ukuran. Tumbuhnya pun agak beberapa jauh dari batang utamanya.  Sehingga pohon Banyan akan terlihat memiliki banyak sekali batang dan dahan.  Iapun bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang luas. Kebetulan yang saya lihat di tempat itu adalah pohon yang masih muda.  Jadi akarnya yang telah menjadi batang belum terlalu banyak. Namun saya sudah bisa melihat, beberapa diantaranya sudah cukup besar diameternya.

Mengapa saya sangat tertarik ingin melihat pohon ini dengan mata saya sendiri adalah karena cerita yang saya dengar bahwa pohon ini bisa tumbuh menjadi sedemikian besarnya menaungi wilayah lebih dari 1.5 hektar dengan sedemikan banyak batangnya. Sehingga jika kita bayangkan, pohon Banyan yang dibiarkan besar, satu pohon bisa membentuk hutan tersendiri. Cukup untuk menaungi kehidupan satwa liar di bawahnya. Selain itu, pohon Banyan ini juga memiliki banyak kisah, selain merupakan salah satu pohon yang disakralkan di India.

Memandang pohon ini, melihat bagaimana akarnya yang berubah menjadi batang tumbuh dari atas ke bawah (bukan hanya dari bawah ke atas seperti umumnya batang  pohon) membuat kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang diajak berpikir “out of the box ‘ oleh sang pohon. Bahwa dunia ini bukan hanya bisa berjalan seperti bagaimana aturan yang umum berjalan. Namun juga menyediakan berbagai pilihan lain yang selama ini belum berhasil kita lihat.  Kita perlu men’challenge’ diri kita dengan lebih keras lagi untuk mencari pendekatan-pendekatan alternatif yang beda dari biasanya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari.

Untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, pohon Banyan ini telah melakukan upaya hidup yang sepenuhnya. Telah menjalankan segala kemungkinan cara tumbuh baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Jungkir balik tanpa peduli. Jalani hidup yang sepenuhnya. Secara maksimal. Living life to the fullest!. Itulah sebabnya ia menjadi sedemikian digjaya. Sedemikian perkasa diantara pepohonan.

Matahari sore bergerak turun. Meninggalkan desauan angin yang seolah bertanya. Apakah kita sudah menjalankan kehidupan kita dengan maksimal? Mengerahkan segala upaya kita? Sudah jangkir balik? Kaki ke tas kepala ke bawah? Habis-habisan? Sebelum kita merasa puas dengan pencapaian kita. Atau bahkan sebelum kita menyerah dengan mengatakan bahwa  hanya sebatas ini kemampuan kita. Jika belum jungkir balik, ikhtiarkanlah lebih kuat lagi. Sehingga semua potensi yang ada pada diri kita termanfaatkan dengan baik. jangan cepat merasa puas akan pencapaian kita, karena mungkin saja masih banyak potensi yang belum kita gali dengan optimal. Dan hanya baru mengatakan menyerah dan tak sanggup ketika kita memang benar-benar telah menjalani semuanya dengan semaksimal mungkin namun tetap tak berhasil.

Saya menoleh sekali lagi kepada pohon Banyan di Vassanthanahalli itu. Mengucapkan terimakasih di dalam hati saya.  Lalu melangkah pergi.

Advertisements