Tag Archives: Film

MEISA RATILAELA, Artis Berbakat Yang Digandrungi Penonton di Film Sedekah Gema Ramadhan.

Standard
MEISA RATILAELA,”Tanpa Netizen, Apalah Artinya Kita”. Artis berbakat yang digandrungi penonton di film Sedekah Gema Ramadhan.

Film Sedekah Gema Ramadhan mendapatkan perhatian yang sangat baik dari netizen. Penonton terkesan dengan cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya, terutama tokoh Ibu Lala yang merupakan tokoh utama di film itu.

Banyak penonton yang merasa gemas dan kesal pada tokoh antagonis yang walaupun ramah dan rajin menjadi koordinator mengumpulkan sedekah Ramadhan dari ibu-ibu kompleks perumahan, tetapi ternyata tidak amanah. Tidak jujur dalam menjalankan tugasnya. Ia mengaku bahwa sedekah yang sesungguhnya adalah sumbangan dari ibu-ibu kompleks itu sebagai sumbangan darinya saja.

Nah siapakah pemeran Ibu Lala yang berhasil mengaduk-aduk emosi penonton ini?

MEISA RATILAELA adalah artis yang memerankan tokoh Ibu Lala ini dengan sukses. Ia berhasil menjiwai tokoh yang walaupun menurutnya sifat tokoh Ibu Lala itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatnya sendiri sehari-hari.

Saat ditawarin untuk memerankan tokoh antagonis ini, walau sangat bertolak belakang dengan sifatnya sendiri, tetapi Meisa tetap berpikiran positif. Ia menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Tantangan yang harus ia hadapi dan taklukkan. Dan ternyata, hasilnya memang berkah.

Meisa yang bawaannya selalu periang, ekspresif dan rame, sehari-hatinya adalah karyawati sebuah kantor kelurahan di Lembang, Bandung, yang juga mengisi waktu senggangnya sebagai crew di Triduta Film.

Selain seorang wanita yang bekerja, Meisa juga seorang Ibu rumah tangga dengan 3 anak. Terbayang bagaimana kesibukannya sebagai wanita dengan multi peran ini.

Ditanya tentang kiprahnya di dunia perfilman, MEISA bertutur jika ia memulai karirnya sebagai Ibu kost yang cerewet dalam sebuah film 13 episode pada tahun 2020.

Setelah pandemi, ia sempat vakum dengan kegiatannya di film. Lalu ia kembali mendapatkan peran saat Ramadhan tahun ini sebagai Ibu Lala dalam film Sedekah Gema Ramadhan.

Jadi praktis sebenarnya ia baru bermain sebagai pemeran utama dalam 2 film dan sisanya hanya peran-peran extras saja. Walau demikian, banyak penonton yang memuji kemampuan aktingnya, dan terlihat jika ia sangat menjiwai karakter tokoh yang diperankannya.

Ditanya tentang kiat suksesnya dalam berperan, Meisa bercerita bahwa biasanya ia baca-baca dulu tentang karakter yang akan diperankannya, lalu jalani dan nikmati saja.

Ada rasa tertantang juga, “Bisa nggak sih memerankan tokoh itu?” Dan rasa penasaran saat menunggu filmnya ditayangkan. Ternyata setelah tayang banyak komentar. Berbagai ragam. Ada yang benci, marah kepada tokoh yang ia perankan, walau kebanyakan mendukung dirinya sebagai pemerannya. Itu melegakan, karena itu berarti bahwa Meisa berhasil memerankan tokoh itu dengan baik. Dukungan dari teman-teman dan keluargapun mengalir.

Saat ditanya tentang pengalamannya selama shooting film Sedekah Gema Ramadhan, Meisa bercerita bahwa shootingnya dilakukan benar-benar saat Ramadhan. Tentunya selain harus menahan lelah dan haus, ia dan crew film yang lain juga berusaha menahan kesal, menahan hawa nafsu, misalnya jika ada teman main yang salah-salah sehingga harus ditake ulang. Ia menyatakan enjoy shooting bersama Triduta. Crewnya solid, tidak membeda-bedakan apakah itu crew, talent, atau management. Semua berbaur.

Menurutnya kisah di Film Sedekah Gema Ramadhan ini memang nyata karena pada kenyataannya di sekeliling kita juga memang ada orang yang seperti itu. Orang seoerti Ibu Lala tang licik dan tidak amanah.

Semoga dengan dibuatnya film ini, akan banyak menginspirasi penonton, agar jangan berbuat seperti itu. Bagi yang saat ini sedang atau pernah berbuat begitu agar sadar. Melakukan intropeksi diri dan tidak lagi nelakukan berikutnya. Dan bagi yang tidak melakukan juga berguna untuk mencegah agar jangan sampai melakukan. Jadi film ini penuh dengan nilai-nilai moral dan nilai pendidikan, agar jangan melakukan hal yang tidak baik.

Hal yang menarik lagi tentang MEISA adalah ia seorang yang sangat optimis dan positive. Menurutnya, agar kita bisa selalu menikmati pekerjaan kita, ia punya kiat tersendiri. “Cintai dulu, sukai dulu, nyamankan diri dulu dengan pekerjaan, pasti akhirnya kita bisa nikmati pekerjaan kita. Enjoy aja“.

Namun demikian, dibalik aktingnya yang banyak nenuai pujian, ia tetap rendah hati dan mengatakan bahwa “Tanpa netizen, apalah artinya kita”

Itulah Meisa Ratilaela, yang penuh semangat, terus berkarya dan berusaha agar hasilnya bagus dan viewernya banyak. Semoga Meisa semakin sukses ke depannya.

Film Inspiratif “LEBARAN DAMAI”

Standard

Satu lagi tulisan saya dengan latar belakang bulan Ramadhan & hari raya Idul Fitri dikembangkan menjadi film dengan judul “Lebaran Damai”.

Kali ini digarap oleh Sutradara Harry Ridho menjadi film 2 atau 3 episode (saya belum tahu – tetapi saya sudah dikirimi episode 1-nya).

Film “LEBARAN DAMAI” ini berkisah tentang Bayu dan Rini, sepasang suami istri dengan satu anak yang sesungguhnya harmonis. Saling menyayang dan mencinta. Sayangnya keharmonisan ini mulai terganggu sejak Bayu di-PHK karena perusahaannya terus merugi sejak pandemi. Ia menganggur dan susah mencari pekerjaan kembali. Ia pun menjadi sangat sensitive, mudah marah dan cepat tersinggung.

Rini berusaha menghibur suaminya dan tetap semangat berjualan sambil mengurus anak mereka. Keluh kesah Rini setiap hari, terkadang membuat Bayu merasa tidak nyaman. Saat Rini mengeluh capek dengan pekerjaannya, harga pada naik dan uang tidak cukup untuk menutup kebutuhan dapur, Bayu sering merasa disindir oleh istrinya itu, karena ia merasa diri sedang menganggur, hanya rebahan, tidak bekerja dan tidak mampu memberi uang kepada istrinya.

Semakin hari Bayu semakin perasa dengan keadaannya. Sementara Rini yang kurang peka akan perasaan suaminya tanpa sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Bayu semakin merasa disudutkan. Puncaknya , mereka bertengkar hebat, yang membuat Bayu keluar dari rumah. Meninggalkan anak dan istrinya. Ia merasa terluka. Merasa tidak berguna dan tidak dihargai.

Rini berusaha mencari tahu keberadaan suaminya. Tapi tidak ketemu. Rini merasa sangat bersalah. Harusnya ia lebih sensitive dan hati-hati berbicara saat suami sedang terpuruk.

Sementara itu Bayu yang meninggalkan rumah, akhirnya memutuskan untuk tidur sementara di sebuah mushola. Disana ia mendapat bantuan dari Marbot dan bertemu dengan Pak Haji yang memberinya pencerahan dan nasihat yang sangat menyejukkan.

Selama Ramadhan, Bayu mendapat pekerjaan, membantu mengurus rumah makannya Pak Haji yang kebetulan pegawai sebelumnya pulang kampung.

Saat bekerja di rumah makan itu, ia mulai menyadari bahwa bekerja berjualan makanan itu memang sangat melelahkan. Ia jadi teringat pada istrinya. Ia rindu pada istri dan anaknya. Merasa bersalah dan ingin kembali pulang. Akankah Lebaran mempersatukan mereka kembali ?

Film ini adalah Episode 1 dari Lebaran Damai, yang menceritakan bagaimana Bayu kena Pemutusan Hubungan Kerja , usahanya mencari pekerjaan baru yang gagal dan perasaannya yang mulai terganggu dan tidak nyaman sejak menjadi pengangguran.

Selamat menyimak. Mohon bantu like, share dan comnent atau subscribe ya. Terimakasih sebelumnya.

Film Inspiratif “Sedekah Gema Ramadhan” Episode 2

Standard
Film Sedekah Gema Ramadhan

Penasaran dengan BU LALA ?

Setelah di Episode sebelumnya diceritakan tentang Bu Lala yang setiap tahun selalu sukses menjadi koordinator & membujuk Ibu-Ibu Blok D agar ikut berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan, serta sukses mendapatkan nama sebagai orang yang paling Dermawan dan yang paling tulus ikhlas  se-kompleks perumahan,  di Episode ke 2 dari Film Web series SEDEKAH GEMA RAMADHAN ini,  diceritakan bahwa bulan Ramadhan datang kembali.

Kembali Bu Lala bersemangat mengajak Ibu-ibu Blok D agar berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan tahun ini.

Andani menerima telpon Bu Lala saat baru pulang kerja. Bu Lala mengajak Andani ikut berpartisipasi tahun ini, karena menurutnya  tahun lalu ia lupa  meminta Andani ikut bersedekah. Hal ini membuat Andani kesal dengan ucapan Bu Lala itu, karena ia selalu ikut bersedekah setiap Ramadhan. Kok dilupa-lupakan oleh Bu Lala? Tetapi kemudian ia sadar jika kita bersedekah dengan tulus, sebenarnya tak terlalu penting nama kita sebagai penyumbang diingat atau tidak, sepanjang apa yang kita sedekahkan diterima oleh orang yang seharusnya menerima.

Lalu Bu Lala memanas-manasi Andani agar menyumbang banyak dengan mengatakan bahwa Ibu-ibu yang lain sudah pada menyumbang minimal 10 paket Sembako. Andani ragu antara tidak ikhlas jika harus menyumbang sebanyak itu  dan perasaan malu serta tidak enak pada Bu Lala jika tidak mau memberi dalam jumlah yang disebut Bu Lala. Akhirnya Andani memutuskan untuk menyumbang seikhlas hatinya saja, karena menurutnya percuma juga menyumbang banyak tapi hati kesal dan tidak ikhlas saat menyumbang.

Esok paginya, Bu Lala mengeluh kepada Andani jika ibu-ibu yang lain tidak ada yang mau menyumbang kolektif lagi tahun ini. Sangat berbeda dengan pernyataan Bu Lala saat ditelpon yang mengatakan  bahwa ibu-ibu lain sudah menyumbang minimal 10 paket.

Sebenarnya ia kasihan juga pada Bu Lala yang sudah berbaik hati menjadi koordinator,  mengumpulkan sedekah, membelanjakan sembako , membungkus dan membagi-baikan serta memanggil orang kampung atas untuk menerima sembako. Tetapi karena Bu Lala kurang terbuka masalah pertanggungjawaban uang Ibu-ibu Blok D serta tidak jujur mengatakan kepada para penerima sembako bahwa sedekah itu adalah dari Ibu-ibu Blok D, maka ibu-ibu yang lain sudah tidak ada yang mau lagi menyalurkan sedekahnya lewat Bu Lala.

Banyak pelajaran dan hikmah  yang  ia dapatkan dari kejadian ini. Bahwa jika kita bersedekah, hendaklah dengan ikhlas.

1. Bersedekahlah semampu dan seikhlas hati kita. Jangan memaksakan diri bersedekah dalam jumlah yang kit atak mampu atau tak ikhlas hanya karena takut, malu, gengsi atau merasa tidak enak. 

2 . Shodaqoh, derma, yadnya, punia atau apapun istilahnya sumbangan itu,  hanya akan berarti jika dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Bukan agar nantinya kita mendapat berkah atau rejeki yang lebih banyak. Karena jika begitu, itu namanya hitung-hitungan dagang.

Bukan pula untuk mendapatkan nama atau agar disebut sebagai Dermawan.

Karena begitu kita mengharapkan  berkah dari memberi,  maka saat itulah keikhlasan kita hilang.

3. Marilah kita memberi, karena kita ingin memberi. Dan mari kita membantu sesama, karena memang ingin membantu. Tanpa mengharapkan imbalan apa apa.

4. Mendapatkan kepercayaan itu susah. Maka jagalah kepercayaan, saat orang lain menitipkan rejekinya untuk disalurkan lewat tanganmu. Mencederai kepercayaan akan membuatmu dirimu tak dipetcayai seumur hidup.

Film web series Sedekah Gema Ramadhan ini diangkat dari sebuah kisah di buku “100 CERITA INSPIRATIF” Karya Ni Made Sri Andani dengan judul “Sedekah Seorang Ramadhan”.
https://wp.me/p1eHo4-2SC

https://youtu.be/ax5CeG4Wiao

Para Pemain:
Rima Marisa
Meisya Ratilaela
Riva
Dewi Ayu
Irma
Raisa Putri
Ecin
Iis Sumarni
Rossana
Hajah Ros
Chindi Aprianti
Kiki Putri

Executive Producer : A A Anom
Producer : Rudi Rukman
Director : Harry Ridho
DOP : Arif
Editor: Rashid Qawi
Make Up : Mey Mey
Art: Acil
Photographer: Rifky
Caneraman : Sarifudin
Lightingman: Ferdiansyah
Soundman: Rashid Qawi
Technical: H Dadan

Livi Zheng & Passionnya Dalam Film “Brush With Danger”.

Standard

wpid-20151120_201427.jpgJumat malam tanggal 20 yang lalu, saya diundang oleh sutradara muda Livi Zheng untuk menghadiri pemutaran perdana filmnya yaitu “Brush With Danger” di CGV Blitz di Grand Indonesia. Premierenya ini dibuka oleh pak Djarot Saiful Hidayat,  Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tentu saja saya sangat senang dan berterimakasih pada Livi atas kesempatan bagus yang diberikan olehnya.

Pertama, karena Brush With Danger adalah film Hollywood pertama yang disutradarai oleh orang Indonesia dan saya bisa ikut menyaksikan pemutaran perdananya. Livi Zheng adalah sutradara sekaligus pemeran utama dan penulis cerita film Brush With Danger ini. Ia  berasal dari Blitar, Jawa Timur.

Kedua, dari cerita Livi saya tahu bahwa film ini dibuat dengan usaha yang luarbiasa yang dilakukan oleh seorang wanita yang masih sedemikian muda. Bayangkan saja, scenario film ini sebelumnya sempat ditolak sebanyak 32x. Tetapi Livi yang usianya baru 26 tahun ini, tidak pernah berputus asa. Ia terus berusaha lagi dan berusaha lagi, mencoba kembali dengan segala semangat dan daya upayanya hingga akhirnya berhasil. Nah, apa yang terjadi jika penolakan itu terjadi pada kita? Jangan-jangan baru ditolak sekali atau dua kali saja kita sudah langsung  mundur dan berputus asa. Sungguh wanita muda ini luar biasa sekali.

Dan yang ke tiga, Brush With Danger juga sempat terpilih masuk seleksi Oscar walaupun belum sempat masuk nominasi. Tetap saja ini merupakan prestasi yang luar biasa mengingat untuk bisa masuk ke ajang film bergengsi ini tentu ribuan film telah masuk ke tangan panitya. Sudah berhasil masuk ke babak seleksi saja tentu sudah merupakan sebuah prestasi sendiri yang membanggakan.

Brush With DangerFilm ini sendiri berkisah tentang dua orang kakak beradik imigrant gelap Alice Qiang (diperankan sendiri oleh Livi Zheng) dan Ken Qiang (Ken Zheng) yang datang menyelundup dari Asia dengan menggunakan container untuk mengadu nasib di Amerika yang dilihatnya sebagai tanah impian.
Alice sendiri adalah seorang artist yang selain menekuni aliran  seni yang disebutnya sebagai Asia Art,  juga mampu meniru lukisan orang lain walaupun secara pribadi ia tidak suka dengan perbuatan itu. Selain itu Alice dan adiknya sama-sama jago martial art. Kemampuan yang banyak membantu mereka dalam menjalani kehidupan.

Di film ini digambarkan dengan baik bagaimana susahnya kehidupan mereka di masa awal. Mengais makanan dari tong sampah, mencoba menjual lukisan namun tidak laku namun mereka tetap tabah. Bahkan masih sempat membantu  menyelamatkan seorang wanita pemilik toko yang bernama Elizabeth (Stephanie Hilbert) yang kelak kemudian menawarkan persahabatan bagi mereka berdua.

Untuk mempermudah mendapatkan uang untuk makan sehari-hari, kerapkali Ken memamerkan kemampuan teknisnya dalam bela diri pada kerumunan masa. Ia juga memaksa Alice untuk melakukan hal yang sama. Dan kenyataannya memang lebih mudah mencari uang dengan cara begini daripada menjual lukisan. Namun cara ini juga menarik perhatian Justus Sullivan (Norman Newkirk), pemilik gallery yang kaya raya dari usahanya melakukan pemalsuan lukisan-lukisan ternama. Ia berhasil menarik kakak beradik itu untuk tinggal bersamanya dan mengikuti rencananya. Ia berhasil membujuk Ken untuk ikut club tinju dan bertarung. Ia juga memberikan fasilitas studio agar Alice bisa melukis di sana. Dengans egala fasilitas dan keramahan yang diberikan oleh Justus, mereka menyangka bahwa mereka sudah menemukan impiannya.

Belakangan Justus mulai memanfaatkan Alice untuk membuat copy lukisan Van Gogh.  Sekarang kakak beradik ini berada dalam keadaan bahaya tanpa mereka sadari. Untunglah ada Detektif Nick Thopmson (Nikita Breznikov) yang membantu mereka keluar dari masalah ini. Nick juga yang menjembatani mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah dan akhirnya bisa tinggal menetap di Amerika tanpa rasa was was lagi. Happy ending.

Detail ceritanya bisa ditonton sendiri nanti. Karena per tanggal 26, film Brush With  Danger akan mulai beredar di bioskop -bioskop di seluruh Indonesia.

Terlepas dari feedback pro-kontra yang diterima oleh film ini setelah beredar di Amerika, bagi saya, film yang berdurasi 90 menit ini, berhasil mengangkat sesuatu yang cukup unik juga. Imigrant gelap yang berpikir bahwa Amerika adalah tanah impian dan karenanya mudah untuk mendapatkan sukses di sana, namun kenyataannya tidaklah sedemikian mudah juga. Setiap orang perlu berusaha dan bekerja keras untuk bisa sukses. Dan tidak jarang juga dibarengi bahaya.

Penonton sangat terhibur dengan humor -humor yang diselipkan oleh Livi di sana-sini dalam beberapa adegannya,  yang menjaga film laga penuh pertarungan ini tetap enak ditonton bahkan bagi mereka yang tidak menyukai kekerasan.

Secara keseluruhan film ini sangat menarik untuk ditonton. Ceritanya mengalir dengan baik. Pengambilan gambar demi gambarnya juga bagus. Demikian juga colour tone dan pencahayaannya. Menarik!.

Saya sendiri pertama kali menyaksikan trailer film ini sekitar sebulan sebelumnya dan seketika saya katakan pada Livi bahwa filmnya pasti sangat bagus. Saya ingin menontonnya.

LiviSebagai hasil karya seorang sutradara yang masih sangat muda, tentunya ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.  Tak heran hingga Pak Ahok pun bangga dan ikut mengendorse hasil karya Livi Zheng ini. Tentu saja. Kita semua pasti bangga akan ketekunan dan ketangguhan Livi dalam upayanya mencapai sukses di kelas dunia.

Walaupun demikian Livi yang berasal dari kota Blitar di Jawa Timur ini tetap rendah hati, ramah dan tidak sombong. Ini mengingatkan pada kita semua, bahwa seberapapun tingginya pencapaiankita,  tidak perlu hati dan sikap kitapun ikut meninggi.

Viva Livi Zheng! Semoga makin berprestasi dan tetap humble.

Inside Out – Gejolak Emosi Dibalik Personality Anak.

Standard

INSIDE OUT

INSIDE OUT

Akhir pekan. Sedang sibuk menata ulang halaman belakang agar bisa memuat lebih banyak tanaman, anak saya merengek minta nonton film “Inside Out”. Kalau menonton, biasanya anak saya pergi bersama teman-temannya atau anak tetangga dan didampingi oleh orang tua salah seorang temannya. Rupanya kali ini tidak ada temannya yang menonton. Jadilah dia menggeret-geret saya. Saya menghentikan pekerjaan saya dan mulai mengGoogle jadwal film XXI di Bintaro Plaza dan Bintaro X-Change. Akhirnya kami sepakat menonton jam 16.40 di Bintaro X-Change setelah saya usai merapikan tanaman.

Saya pikir film yang diproduksi Pixar Animation Studios dan direlease oleh Walt Disney Pictures ini menarik dan beda. Menjelaskan bagaimana emosi berperanan dalam membentuk kepribadian seseorang. Bagaimana  memori terbentuk dan disimpan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Barangkali sedikit agak berat dicerna untuk ukuran film kanak-kanak – terutama jika saya lihat ternyata ada cukup banyak Ibu-Ibu yang membawa anaknya yang masih balita untuk menonton film ini. Tetapi di satu sisi untuk anak-anak pra remaja, saya pikir film ini, justru sangat membantu memudahkan anak-anak untuk memahami sedikit neuro-science dan pyschology sederhana. Karena semuanya dikemas dengan simple dalam bentuk 3D animasi.

Barangkali ada yang belum sempat nonton filmnya – saya ceritakan garis besarnya.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley seorang anak perempuan kecil, hidup bahagia bersama ke dua orangtuanya. Seperti kita semua, Riley memiliki emosi di dalam dirinya sendiri yang mengendalikan ekspresinya ke dunia luar setiap hari. Ada Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger.  Kalau di “bahasa-gampang”kannya ya  Gembira, Sedih, Takut, Jijik/Muak, Marah. Walaupun semua emosi ini  mengambil peranan dalam hidup Riley, tetapi Joy alias kegembiraanlah yang mendominasi hidup Riley.

Riley banyak mengalami kejadian-kejadian yang menyenangkan dan membahagiakan dengan kedua orangtuanya, dengan teman-temannya, dengan lingkungan alam sekitarnya. Walaupun tentu saja ada juga hal-hal kecil yang menyedihkan, menakutkan, membuat ia jijik ataupun marah pernah melintas dalam kehidupannya.

Inside out3Misalnya nih… ia merasa sangat jijik akan brokoli, marah ketika ayahnya mengancam tidak akan memberikannya hidangan penutup yang manis jika tidak mau makan brokoli. Atau sedih ketika kalah bermain Hoki dan sebagainya. Tetapi secara umum hidupnya sangat bahagia. Semuanya itu disimpan dalam pulau-pulau memori yang hidup dan menyala. Ada pulau Canda, pulau Sahabat, pulau Kejujuran, pulau Keluarga.

Semua itu berubah ketika ayahnya mendapatkan pekerjaan baru dan mereka harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tempat tinggal baru, sekolah baru dan suasana baru. Rumah yang besar dan kosong, tikus yang lewat, toko piza yang hanya menyediakan piza brokoli dan sebagainya. Di sini emosinya silih berganti menguasai dirinya. Joy masih mampu mendominasi.

Inside Out 4Perubahan sangat terasa ketika ia masuk ke Sekolah barunya. Teman-teman asing dan suasana asing. Terlebih ketika gurunya meminta ia menceritakan dirinya dan Minnesota kota kelahirannya. Ia tak mampu membendung kesedihannya dan menangis di depan kelas. Hal ini membuatnya tertekan. Demikian juga ketika berikutnya ia tak mampu bermain Hoki dengan baik. Semakin membuatnya tertekan. Orangtuanya berusaha membantu, tetapi Riley malah didominasi oleh kemarahan yang memicu kemarahan ayahnya. Satu per satu pulau-pulau memori yang indah dalam dirinyapun hancur. Tiada lagi pulau Canda. Pulau Hoki-nya juga hancur. Ia merasa kesepian. Tiada sahabat yang biasa ia ajak bicara. Pulau Sahabatnya pun hancur.

Ia sangat merindukan Minnesota dan memutuskan untuk kabur dari rumah dan kembali ke sana. Ia mencuri Credit card ibunya untuk membeli ticket bus ke Minnesota. Pulau Kejujurannya pun hancur juga. Kekacauan emosi semakin menjadi-jadi. Tapi seperti biasanya, sudah bisa ditebak kalau film ini pasti juga berakhir dengan Happy Ending. Sebelum pulau Keluarga hancur,  lima sekawan emosi ini plus Bing Bong, teman khayalan Riley waktu kecil berhasil membantu mengembalikan personality Riley seperti sedia kala.  Dimana Sadness yang selama ini dianggap mengganggu kebahagiaan Riley, justru sukses membawa Riley pulang kembali ke pelukan ayah ibunya.

Pada akhirnya, cinta,kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pada akhirnya, cinta, kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pesan moral yang saya tangkap adalah hidup itu memang penuh warna. Setiap emosi itu penting adanya dalam hidup seseorang – dalam hal ini hidup seorang anak. Ada kalanya emosi-emosi yang lain di luar kegembiraan berperanan juga untuk mengembalikan kebahagiaan anak. Ada kalanya kita perlu membiarkan emosi anak-anak kita disalurkan dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah peranan keluarga dalam perkembangan emosi dan personality anak.  Betapa pentingnya kita sebagai orangtua membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, perhatian, kehangatan dan kasih sayang. Karena pada akhirnya itulah fondasi yang sangat kuat yang akan membawa anak-anak kita ke dalam kestabilan emosi dan kejiwaannya. Tontonan yang menarik!.

Selain menarik, Film ini menjadi istimewa karena sudut pandang penceritaan diambil dari sudut internal emosi sang anak (Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger),  dan  bukan si anak itu sendiri (Riley), walaupun film ini berkisah tentang Riley. Jadi yang kita tonton, tokoh utamanya adalah Joy. Ia yang bertindak sebagai Subyek. Sedangkan Riley hanya sebagai obyek. Jadi dari sudut Cinematography-pun memang menarik.