Tag Archives: Gardening

Kisahku Dengan Suplir

Standard

Maiden Hair Fern.

Suplir (Adiantum sp), adalah salah satu pakis yang erat sekali hubungannya dengan masa lalu saya. Karena ini adalah salah satu tanaman hias favorit Bapak saya , yang semasa kecil menghiasi halaman dan ditanam berderet yg jika dihitung panjangnya mungkin lebih dari 20 meter.

Bisa dibilang halaman rumah masa kecil saya itu berpagar suplir. Hanya saja, jenis yang ditanam di halaman itu adalah dari jenis suplir yang tingginya sepinggang orang dewasa.

Mengingat di masa kecil saya diberi tugas membersihkan dan mengurus halaman sementara kakak-kakak saya yang lain mendapat bagian tugas lain. Ada yang mengurus kebersihan dalam rumah, ada yg ngurus dapur, dsb..

Maka saya termasuk yang sangat akrab dengan kehidupan suplir. Bagaimana membuat suplir agar bisa bertahan hidup, mencegah jangan layu atau bagaimana caranya memisahkan anakannya, dsb itu spt kerjaan saya sehari-hari di masa kecil.

Pernah suatu kali saat saya masih kuliah di Denpasar, saya jalan-jalan di tukang tanaman di daerah Renon, seorang sahabat saya ngasih ide dagang “De, di rumahmu kan ada banyak sekali tanaman suplir. Mengapa nggak tawarkan saja ke tukang tanaman hias ini?”. Naluri dagang sayapun bangkit.

Sayapun menyampaikan ide ini kepada keluarga saya. Walaupun awalnya ibu saya tidak setuju dan menganggap ide dagang tanaman hias itu tidak begitu menguntungkan dan mungkin kegedean ongkos ketimbang untungnya jika dibawa ke Denpasar (juga karena di keluarga saya belum ada pengalaman jualan tanaman), akhirnya beliau oke untuk saya coba buktikan.

Bapak saya mendukung ide saya dan mulai membantu memisah-misahkan rumpun suplir ke dalam poly bag. Woiii dapat 1 mobil bak terbuka. Banyaklah.

Kamipun (saya lupa, itu rasanya yang pergi saya dg kakak saya dan mungkin 1 orang adik saya) mulai menawar-nawarkan tanaman suplir itu ke tukang tanaman dengan membawa mobil bak terbuka milik bapak saya. Ternyata menawarkan barang dagangan tanaman itu tidak semudah yang saya pikirkan.

Pertama karena kebanyakan tukang tanaman yang di Renon saat itu bukanlah pemilik bisnis itu sendiri. Mereka hanya penjaga toko dan perawat tanaman saja. Jadi mereka tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan membeli barang yang saya tawarkan. Semua itu urusan boss.

Faktor kedua, adalah karena sebagian dari mereka juga sudah punya koleksi supplir dan sudah punya pemasok langganan. Jadi mereka tidak mau mengambil juga.

Kalaupun ada yang mau, mereka inginnya bukan beli putus. Tapi konsinyasi alias titip jual. Hanya jika ada yg laku saja mereka akan bayar ke kita secara berkala.

Akhirnya setelah capek menawarkan ke sana ke mari dan tak ada yg mau beli putus, akhirnya saya menyerah pada dagang yang terakhir yang saya kunjungi untuk menitip jual saja tanaman-tanaman supplir ini. Daripada layu atau dibawa balik pulang ke Bangli .

Seminggunya kemudian (harusnya sebulan sih tapi ini saking semangatnya😆), dengan naik motor kami coba check ke tukang tanaman itu, barangkali sudah ada tanaman suplir kami yang laku. Ternyata yg laku cuma satu. Kecewa. Selain itu pembayarannya juga nanti setalah genap sebulan. Baiklah.

Minggu berikutnya kami tengok lagi. Rasanya yang laku waktu itu ada 3. Tapi 3 dari sekian banyaknya pohon yang kami pasok hingga penuh 1 mobil bak terbuka tentu artinya dikit banget ya. Kurang laku itu artinya.

Minggu berikutnya kami tidak tengok. Karena malu sama tukang tanamannya. Nengok mulu 😀.

Akhirnya karena kesibukan di kampus, setelah lewat sebulan, barulah saya datang lagi menengok. Astaga!!!. Alangkah terkejutnya saya. Ternyata toko itu sudah kosong. Tidak ada tanaman hias lagi di situ. Pemilik dan penjaganya serta seluruh tanaman hiasnya sudah tidak ada sama sekali. Hanya lahan kosong. Mereka raib.
O o🙄🙄🙄.

Setelah tanya-tanya ke tetangganya, saya diberi informasi bahwa toko tanaman hias itu memang sudah tutup karena contractnya sudah habis. Dan mereka tidak bisa perpanjang lagi karena memang tokonya kurang laku. Pemilik dan penjaganya sudah pulang kampung minggu lalu karena mereka di sini pendatang. Dan tidak ada yang tahu alamatnya ataupun nomer telpon yang bisa dihubungi. Lho, kok nggak ngomong-ngomong ke kami?

Pahittttt 😫😫😫.

Ibu saya hanya tertawa tahu kejadian itu dan Bapak saya ikhlas telah kehilangan sebagian tanaman suplir yang sangat dicintainya itu.

Ha ha..itulah pengalaman pertama saya mencoba berdagang. Jangan ditiru !!!.

Sekarang saya jadi kangen kembali dengan tanaman suplir. Bukan saja karena tanaman membawa kembali ingatan saya pada orang tua dan masa kecil saya, tetapi memang daun suplir ini sungguh cantik sih.

Tetap cinta supplir 😍🤩😍

SORE DALAM GERIMIS.

Standard

Kebunku sore ini dalam gerimis.
Entah apa yg menyebabkanku tidak produktif akhir pekan ini. Hanya memandangi tanaman dan tidak berbuat apapun. Ada sedikit menyemprot bibit Ketumbar agar daunnya tumbuh segar. Setelah itu rasa lelah dan kantuk mengganggu.
Akupun berbaring dengan lesu.
Lalu kubuka mataku.
Kupikir harusnya aku melakukan sesuatu.

Barangkali menyiangi daun daun yg kuning melayu. Atau menakar pupuk dan mencampurnya dalam larutan yang benar. Ya sesungguhnya tanamanku butuh nutrisi. Tapi entah kenapa tak beranjak juga aku dari tempat dudukku.

Barangkali aku bisa mencincang jamur merang yang kubeli tadi pagi. Lalu mencampurnya di atas wajan dengan merica, garam, kecap dan sedikit minyak wijen. Lalu kugulung dalam kulit lumpia. Ya, sesungguhnya anakku butuh cemilan iseng iseng sambil menanti gerimis. Tapi entah kenapa, aku hanya berpangku tangan.

Barangkali aku bisa mengambil kain, benang dan jarum. Lalu memotongnya menjadi beberapa pola. Entah untuk masker, tas, maupun bantal kursi. Eh, sesungguhnya pembungkus bantal kursiku sudah lama tak diganti.Tapi entah kenapa aku hanya membiarkan pikiranku sendiri yang melayang.

Barangkali aku bisa membuka kotak cat warna, membentangkan kanvas kosong dan mulai menarikan kuasku di sana. Ya, dinding kamarku yang putih rasanya butuh lukisan penuh warna untuk menghangatkannya. Tapi entah kenapa aku hanya bisa memandangi kotak itu dan rasa berat tanganku untuk membukanya.

Barangkali aku….. bisa apa saja. Tapi masalahnya bukan soal bisanya.
Tapi kapan aku memulainya….

Memperbanyak Tanaman Melati Air.

Standard
Melati Air

Hari Minggu adalah hari beberes tanaman. Karena hari itu saya punya waktu cukup banyak untuk diri saya dan tanaman saya.

Minggu ini saya beberes di halaman depan, memotong dan membuang daun daun Teratai, Melati Air, Calla Lily, pakis dan tanaman gantung lainnya yg menguning.

Yang menarik adalah tanaman Melati Air (Echinodorus palifolius), tanaman air yang bunganya berwarna putih bersih mirip melati, tetapi tentunya bukan keluarga Melati. Mahkota bunganya sangat halus dan agak transparant, sehingga kita bisa merasakan kelembutan dan jebersihan hanya dengan memandangnya saja sarinya berwarna kuning pucat dan menjadi rebutan serangga penghirup nektar seperti lebah, klanceng, kupu kupu dan bahkan semut.

Kali ini ia banyak sekali memiliki anakan yang tumbuh dari biji biji kering di batangnya. Biji biji kering hasil dari perbungaan beberapa bulan yang lalu itu tidak rontok jatuh ke tanah /ke air. Melainkan tetap menempel di tangkainya. Akibatnya ketika biji ini bersemai, maka anakan tanaman Melati Air ini pun tumbuh di tangkai bekas bunganya. Menarik bukan?.

Anakan Melati Air.

Dalam satu tangkai kita bisa menemukan belasan anakan tanamam Melati Air. Dan jika kita mau memperbanyaknya, tinggal kita stek, potong dan ambil anakannya lalu tancapkan pada media lumpur yang tersedia.

Menanam Melati Air

Anakan akan tumbuh dengan cepat menjadi tanaman Melati Air baru.

Terong Belanda.

Standard

Terong Belanda (Solanum betaceum), adalah salah satu buah yang cukup populer untuk dibuat campuran jus. Atau dijus langsung tanpa campuran apapun. Rasanya lumayan enak, seger sedikit manis dan kecut bernuansa rasa terong.

Di daerah Kintamani, tanaman ini cukup banyak dibudidayakan penduduk. Kita bisa menemukan buah ini dijajakan oleh pedagang buah di daerah Penelokan. Tetapi di Jakarta saya menemukan buah ini di Supermarket Hari- Hari. Saya beli sebungkus yang isinya 10 biji.

Buahnya saya jus, ditambah sedikit gula

Dan sisanya saya ambil bijinya untuk ditanam.

Jeruk Kalamansi.

Standard
Jeruk Kalamansi.

Suatu ketika saya datang ke pameran di JCC yang memajang hasil-hasil bumi dan olahan dari setiap propinsi di Indonesia. Salah satunya adalah Sirup Jeruk Kalamansi, kalau tidak salah dari Bengkulu. Tertarik saya untuk membeli, karena baru pertama kali mendengar nama Jeruk Kalamansi.

Setelah sampai di rumah dan mencicipinya barulah saya sadar bahwa Jeruk Kalamansi itu sama dengan Jeruk Kasturi atau Jeruk Sonkit. Ooh…kalau begitu saya punya dong pohonnya di halaman. Dan saat ini sedang berbuah. Lumayan banyak. Walaupun sudah mulai berkurang buahnya karena saya petikin hampir setiap hari.

Jeruk Kalamansi (Citrofortunella microcarpa), memang menarik untuk ditanam di halaman. Buahnya kecil-kecil dengan diameter tidak lebih dari diameter uang logam. Walau demikian 1 butir jeruk ini cukup untuk membuat segelas air jeruk.

Lumayan banget pas hujan hujan pengen minum sesuatu yang hangat.

Dapur Hidup : Jahe Merah Yang Sedang Diburu.

Standard
Jahe Merah baru dibongkar dari pot.

Hari ini saya baru sadar jika tanaman jahe di halaman rumah agak kurang terurus. Banyak batangnya yang sudah layu, lunglai dan coklat layu. Karena saya sedang menanam bibit tomat di dalam pot, maka sekalian saya bongkar saja tanaman jahenya dan tanam ulang lagi.

Pohon Jahe Merah.

Sambil membersihkan tangkai tangkai yang layu dan menggemburkan tanah di sekitar rimpangnya, saya mengambil beberapa buah untuk dimanfaatkan di dapur. Anak saya sangat senang minum air jahe. Dan kebetulan juga Jahe Merah saat ini sedang sulit dicari di pasaran. Dan jikapun ketemu harganya menjulang hingga mencapai Rp 80 000 per kg. Apalagi penyebabnya selain wabah Corona Virus yang sedang merebak.

Jahe Merah (Zingiber officinale rubrum), adalah Jenis jahe yang berukuran kecil dan berimpang kecil dibanding Jahe kuning biasa. Apalagi jika dibandingkan dengan Jahe Gajah. Akan tetapi walaupun kecil, Jahe Merah dianggap memiliki khasiat yang jauh lebih baik dibandingkan Jahe kuning. Rasanya pun terasa lebih pedas dibanding Jahe kuning.

Secara turun temurun, para tetua kita mengambil manfaat Jahe untuk berbagai macam keperluan. Sebagai bumbu dapur dan pengobatan.

Sebagai bumbu, Jahe termasuk ke dalam jenis bahan makanan Rajasika, karena kemampuannya menstimulus energi, meningkatkan semangat dan gairah (afrodisiak).

Saya sendiri tidak tahu pasti manfaatnya Jahe Merah dalam melawan Virus seperti yang banyak diberitakan, tetapi saya setuju jika Jahe termasuk Jahe Merah bisa nembantu meredam batuk. Dan Hahe juga banyak digunakan secara tradisional untuk mekawan radang.

Rimpang Jahe Merah.

Sebagian sisa rimpangnya saya tanam kembali dalam pot pot agar nanti bisa saya ambil lagi saat membutuhkan.

Yuk kita nenanam Jahe Merah!!!.

Ragam Bunga Pecah Seribu di Negeri Sakura.

Standard

Jepang, sangat terkenal dengan bunga Sakuranya. Saat musim bunga, berbondong- bondong tourist datang untuk menyaksikan keindahannya. Saat saya berkunjung, Sakura telah berhenti berbunga. Bunganya telah gugur dan sebagian menjadi buah cherry kecil kecil. Pertanyaannya, jika bunga Sakura telah gugur apakah tak ada bunga lain yang menarik lagi di Jepang?.

Jawabannya tentu banyak. Setidaknya ada 2 jenis bunga lagi yang sangat dominant di lanskap taman-taman di Jepang, yakni Azalea dan Hydrangea alias Bunga Pecah Seribu.

Di Indonesia kita bisa menemukan Kembang Pecah Seribu ini di berbagai area berudara dingin, seperti misalnya Malang, Puncak, Bedugul, Dieng dan sebagainya. Jenis yang umum di Indonesia adalah yang berwarna biru (paling banyak) , warna pink (jarang).

Nah, saat bermain ke Jepang, saya menemukan banyak sekali jenis jenis Bunga Pecah Seribu. Warnanya memang seputaran biru, pink dan putih, tetapi variantnya ternyata banyak sekali.

Ini adalah sebagian variant bunga Pecah Seribu dalam berbagai warna biru. Semuanya dalam gradasi warna biru. Tapi ada yang biru keputihan, biru kehijauan, ada yang biru keunguan, ada yang biru murni. Lalu ada yang binganya bergerombol, ada yang menyendiri, dan bahkan ada juga yang mempunyai putik dan benang sari terpisah. Orang Jepang mrnyebutnya dengan Hidrangea Pegunungan. Sungguh sangat cantik-cantik.

Ada juga yang berwarna pink. Dan berbagai varisnt warna pink. Sungguh cantik cantik. Pengen rasanya bawa ke Indonesia.

Dan yang baru saya lihat adalah variant yang berwarna putih. Inipun beragam juga. Ada yang benang sarinya benar benar putih, ada yang biru dan ada juga yang campuran.

Garden Update: Selepas Liburan.

Standard

Saat liburan rasanya selalu menyenangkan. Akan tetapi setelahnya, ada banyak tugas yang menanti. Mulai dari cucian pakaian yang menumpuk, tugas dapur, beres beres rumah hingga tumpukan kerjaan kantor. Dan buat saya yang lebih menyedihkan lagi adalah tanaman di halaman yang meranggas, layu dan bahkan ada yang mati kekeringan😭😭😭.

Tak punya pilihan, terpaksa harus gunting gunting dulu dan bersihkan tanaman yang pada mati dan rusak itu.

Tak terbilang lagi berapa batang tanaman cabe yang mati, bibit kelengkeng, jeruk, pohon kecombrang dan kangkung yang harus dibuang ke tong sampah.

Tapi anehnya, ditengah kekisruhan yang terjadi di halaman, ada satu batang pohon cabe rawit yang justru berbuah lebat saat ditinggalkan liburan. Bahkan buahnya banyak yang sudah kering dan rontok ke tanah.

Luarbiasa pohon cabe yang satu ini. Karenanya saya petiklah cepat cepat sebelum makin banyak lagi buahnya yang kering.

Saya mulai bertanya tanya, mengapa tanaman ini mampu bertahan sedangkan yang lain mati?. Setelah mengamat-amati pohon pohon yang mati itu, saya pikir penyebab kematiannya sebenarnya bukanlah karena kekeringan akibat kurang disiram air semata, melainkan karena terserang penyakit lain juga seperti kutu putih, karat, virus mozaik atau tungau. Jadi serangan penyakit plus kekeringan lah yang menyebabkan tanaman saya pada mati.

Sedangkan pohon cabe ini, walaupun tumbuh di sebelah tanaman yang pada mati itu, rupanya ia tetap bertahan hidup karena tidak terserang penyakit. Sebuah muzizat, vitus- virus itu belum sempat merambat ke tanaman ini.

Memilih Tanaman Dapur Hidup Buat Si Penyuka Salad?.

Standard

Salad, adalah sayuran segar bergizi yang sangat populer belakangan ini. Kebanyakan dimakan mentah, seperti kita memakan lalapan. Bedanya hanya didressingnya. Salad semakin populer ketika tubuh ramping dan sehat menjadi impian setiap orang.
Melihat saya sering memposting tanaman dapur hidup, seorang teman bertanya tanaman apa saja yang sebaiknya ditanam biar kebutuhan akan saladnya bisa dipenuhi setiap hari?.

Sebenarnya jawabannya sangat kondisional tergantung jenis sayuran yang disukai. Walaupun demikian saya akan coba menceritakan mix tanaman sayuran yang enak buat campuran salad. Menurut saya tapi lho…

Buat saya, untuk membuat salad setidaknya kita harus punya daun selada (lettuces). Jadi, tanaman pertama yang perlu kita pilih untuk ditanam adalah dari jenis selada. Selada ada banyak jenisnya. Ada yang hijau, ada yang keputihan, ada yang merah atau campuran darinya. Ada yang bulat seperti kol, ada yang berdaun lonjong mirip sawi. Ada yang keriting, ada yang bergerigi. Semuanya enak. Jadi pilihlah jenis selada yang kita sukai. Kita juga bisa mencampurkan beberapa jenis daun selada sekaligus.

Lalu berikutnya kita pilih tanaman pelengkap salad. Misalnya Mint, Basil, Kemangi, kol, seledri, parsley, rosemarry, dsb.

Daun daun tanaman ini memperkaya rasa dari selada yang kita buat. Daun mint memberikan rasa segar dan bersih di mulut. Sweet Basil memberikan rasa nyaman. Parsley dan Seledri ada sedikit rasa pengah tapi enak juga. Rosemerry memberi rasa hangat. Dan sebagainya. Jadi tidak rugi jika kita tanam di halaman.

Sayuran buah atau umbi, misalnya tomat, timun, wortel atau bawang bombai dan sebagainya juga merupakan pilihan menarik untuk ditanam.

Dengan menanam tanaman yangvsaya sebut di atas kita bisa membuat summer Salad hasil petik dari halaman kita sendiri.

Bawang Daun Hasil Daur Ulang Limbah Dapur.

Standard
Bawang Daun Hasil Daur Ulang Limbah Dapur.

Bawang Daun (Leek), sangat kita butuhkan sehari hari untuk di dapur. Sebenarnya mudah juga sih kita dapatkan di tukang sayur. Tetapi adakalanya saat bikin dadar telor atau masak mie instan pengen nambahin irisan daun bawang ini… buka kulkas…eh stok lagi habis. Melorot deh semangat masaknya. Nyari kemana? Sementara tukang sayur sudah tidak ada.

Tapi sebenarnya kita bisa menyimpan stok Bawang Daun dalam posisi hidup lho!. Caranya? Ya..kita tanam sendiri di halaman.

Kalau membersihkan Bawang Daun, biasanya kita memotong bagian akarnya lalu kita buang. Gunanya untuk memudahkan pembersihan.

Bawang daun

Nah kali ini, bagian akar ini jangan kita buang. Kita potong sedikit agak lebih panjang dari biasany, lalu coba tanam di pot ataupun di tanah. Jangan lupa disiram agar tidak kekeringan.

Tak berapa lama bawang ini akan memberikan daunnya kembali pada kita.

Kita tinggal ngambil seperlunya saat kita butuh.

Selebihnya biar alam sendiri yang menjaganya.

Jika kita sedikit cermat, ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari limbah dapur. Bukan hanya limbah Bawang Daun ini saja, kangkung, seledri, dan sebagainya… semuanya bisa ditanam ulang kembali.

Yuk kita bikin Dapur Hidup!.