Tag Archives: Go Green

Kreatifitas Barang Bekas Di Kantor.

Standard
Kreatifitas Barang Bekas Di Kantor.

Sebenarnya ini sudah agak lewat sedikit. Baru sempat menceritakannya. Ini tentang lomba kebersihan antar Department yang diadakan di kantor saya, Wipro Unza, dalam rangka memperingati Hari Bumi yang sebetulnya jatuh pada tanggal 22 April yang lalu. Tapi kegiatannya masih tetap terasa hingga bulan Mei ini. Saya bangga sih dengan apa yang dilakukan di kantor.

Sungguh tidak menyangka antusias dari teman teman sangat tinggi. Selain tentunya kesadaran untuk berbersih -bersih, ternyata teman-teman juga pada kreatif memanfaatkan barang barang bekas. Yuk kita lihat :

1. Box Tanaman Dari Kardus Bekas.

Sebagai petusahaan yang memproduksi roduk Fragrance dan perawatan kulit, tentunya kardus adalah salah satu limbahnya. Nah gimana caranya memanfaatkan dus bekas ini?.

Tanaman Ginseng Jawa dalam box kardus bekas.

Salah satunya adalah dengan memanfaatkannya sebagai box tanaman.

Kardus bekas untuk menutup pot tanaman.

Selain untuk menutupi pot hitam yang jelek tampangnya, menempatkan tanaman di dalam box juga memudahkan pengangkutan tanaman.

Pot tanaman dalam kardus bekas.

Misalnya jika ingin dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain.

2. Frame Photo Dari Kardus Bekas.

Frame Photo Team Marketing PT Unza Vitalis saat 17 Agustusan, te4buat dari kardus bekas.

Kardus tak terpakai , selain bisa digunakan untuk menutup pot tanaman, bisa juga dipakai untuk Frame Photo.

Frame Photo dari barang bekas.

Dengan sedikit kreatifitas gunting gunting dan tempel, kita bida memanfaatkan kardus bekas yang tak terpakai untuk mem- framing foto foto team kita di kantor. Tentu tambah seru ya…

3. Daur Ulang Tatakan Parcel.

Walaupun agencies, suppliers atau rekanan kerja perusahaan selalu dihimbau agar tidak mengirimkan Parcels, namun pada hari-hari tertentu misalnya Idul Fitri, Natalan dan Tahun Baru, tetap saja ada Parcel yang diterima oleh karyawan atau perusahaan.

Enchanteur dan Izzi

Nah, kalau sudah kepalang diterima lalu bagaimana?.

Romano

Biasanya parcel parcel itu kami kumpulkan di HRD, isinya dipecah lalu diundi dan dibagikan ke seluruh karyawan.

Vitalis

Beberapa tempat Parcel yang bentuknya menarik, digunakan ulang untuk keperluan display di acara-acara yang diselenggarakan oleh kantor atau brand.

Sumber Ayu

Nah…kali ini team Marketing pun ikut memanfaatkan bekas tatakan parcel dan barang bekas lainnya untuk mendisplay produknya masing masing.

Doremi

Tetap kelihatan cantik dan menarik.

Safi

BioEssence

Walaupun begitu, ada juga brand kami yang ikut didisplay, walaupun kehabisan tatakan parcel bekas ūüėÄ.

4. Wadah dari Botol dan container bekas.

Yang sangat kreatif lagi adalah pemanfaatan botol bekas sisa sisa development yang digarap cantik menjadi berbagai wadah yang menarik oleh team R&D kami.

tempat sampah dari botol bekas yang dirangkai.

Tempat sampah dari jerrycan bekas.

Ada yang menjadi tempat sampah.

tempat pulpen dari botol bekas

Ada yang menjadi tempat pulpen dan pensil.

4. Memisahkan Jenis Sampah.

Selain berkreasi dengan barang bekas, karyawan juga memisahkan jenis jenis sampah berdasarkan bahan dan keamanannya.

Seperti yang kita lihat di gambar gambar ini yang dilakukan oleh teman teman dari HR dan Sales. Sampah dibedakan tempatnya. Ada sampah plastik, sampah kertas, sampah botol dan sebagainya.

Semuanya kelihatan nenarik dan rapi.

Satu lagi…. kalau beli apa apa kan suka ada jantong plastiknya ya. Nah…kantong plastik ini pun disimpan agar bisa digunakan ulang kembali.

Begitulah cerita saya tentang kegiatan Cleaning Day dan Kreatifitas Daur Ulang di kantor kami, Wipro Unza.

Aktifitas yang lain yang juga dilakukan adalah menyumbangkan sampah kertas dan plastik kepada Yayasan yang bisa mengelola sampah ini yang mana hasil olahnya dijual dan uangnya digunakan untuk membantu pendidikan untuk anak-anak jalanan.

Keren kan, tempat saya bekerja? . Saya bangga menjadi bagiannya.

#unzavitalis

#greatplacetobelong

Dapur Hidup: Kencur, Bumbu Dapur Multi Guna.

Standard
Kencur - tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Kencur – tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Salah satu tanaman bumbu dapur yang menarik untuk disiagakan di halaman rumah adalah Kencur (Kaempferia galanga). Dengan nama daerah Cekuh, bumbu dapur yang satu ini sangat populer penggunaannya di Bali.

Kencur atau cekuh ini bersama dengan Suna (bawang putih) merupakan bahan utama untuk bumbu standard masakan traditional khas Bali yang sangat lezat yang disebut dengan “Basa Suna Cekuh”. Ada banyak jenis masakan Bali yang menggunakan Basa Suna Cekuh. Mulai dari ikan cue atau pindang suna cekuh, ayam mebasa suna cekuh, lindung (belut) suna cekuh, kakul (keong) suna cekuh,¬† hingga nasi goreng bumbu suna cekuh. Walaupun judul bumbunya Suna-Cekuh, sebenarnya pembangun bumbu ini bukan hanya suna dan cekuh saja, tetapi juga ada bahan bumbu lain seperti kunyit, sedikit bawang merah, cabe dan garam serta daun salam. Hanya saja penggunaan Suna dan Cekuh itu dominan.

Berikutnya, jenis bumbu standard masakan traditional Bali lainnya yang menggunakan kencur adalah “Basa Gede”(bumbu besar). Bersama sama dengan bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, jahe, kunyit dan garam serta rempah rempah lainnya, kencur juga ikut berperan di dalamnya. Di sini kencur tidak lagi menjadi pemain utama, tetapi keberadaannya sangat penting. Tanpa kencur rasa basa gede yang menjadi bumbu standard sebagian besar masakan Bali akan bubar. Banyak masakan Bali yang menggunakan Basa Gede sebagai bumbu standard misalnya lawar, be siap mekuah, jukut timbul, junkut nangka dan lain sebagainya. Nah..jadipenting ya keberadaan kencur ini?.

Selain sebagai bumbu dapur, kencur juga banyak dimanfaatkan untuk pengobatan traditional. diketahui bahwa kencur mengandung minyak atsiri dan alkaloid. Penggunaannya secara traditional misalnya untuk meredakan batuk,. Lalu ada juga yang menggunakannya untuk meredakan sakit perut dan kelebihan gas di lambung. Ada juga wanita dan ibu-ibu yang memanfaatkannya untuk meredakan rasa nyeri saat datang bulan.

Atas dasar pertimbangan itu, sayapun menanam kencur di halaman rumah. Untuk berjaga jaga jika perlu dan tukang sayur tidak punya. Saya pikir ini penting untuk meneruskan tradisi keluarga. Jaman dulu, Ibu saya juga menanam kencur di halaman. Dan saya masih ingat di rumah kakek saya dulu ditanam kencur dalam pongpongan (buah kelapa bulat yang jatuh dari pohonnya karena bolong akibat dimakan tupai) lalu digantung-gantung di pohon, kelihatan artistik dan natural juga.  Saat ini saya menanamnya di polybag saja. Ada 6 polybag. Lumayanlah.

Menanamnya cukup mudah. Saya hanya memanfaatkan  potongan kecil kencur sisa dapur. Lalu saya tanam rimpang kencur ini di tanah dalam polibag. Berikutnya saya hanya menyiramnya saja. Kelihatannya kencur ini suka tempat yang lembab.

Kencur sekarang siap untuk diambil daunnya untuk¬† lalap ataupun urab. Dan rimpangnya untuk bumbu dapur maupun obat. Nah… enak kan kalau punya pohon kencur¬† di halaman?.

Yuk kita  tanam kencur!. Bikin Dapur Hidup dan Apotik Hidup di halaman.

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang. ¬†Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Dapur Hidup: Kejutan Dari Si Timun Putih.

Standard

Hai! Saya memanen timun dari halaman. Memanennya tanpa rencana. Gara gara saya baru ngeh kalau ada buah timun yang sudah cukup besar ternyata bergelantungan di tembok bagian atas ketutupan daun yang rimbun. Anak saya yang kecil yang pertama kali melihat dan memberi tahu saya.

Buah timun baru petik dari pohon. Lengkap dengan getah dan duri-durinya. Rasanya jauh lebih segar dari buah timun yang dibeli dari pasar maupun supermarket.

20151206_094050.jpg

Bagaimana ceritanya kok bisa nanem timun di halaman rumah?.  Terus terang sjak awal saya sangat tertarik pada tanaman cucurbitaceae. Timun, pare, oyong, melon, semangka, belewah, beligo, timun suri, labu siam, labu parang dan sebagainya.Saya suka melihat lihat dan  membaca-baca artikel tentang keluarga tanaman ini. Sayang sekali saya tidak punya lahan yang cukul luas agar bisa menanamnya. Tanaman ini butuh area yang luas karena merambat kemana mana. Sementara halaman rumah saya terbatas. Dan sudah penuh pila saya tanami dengan cabe, tomat, terong, pare, kemangi, bawang daun, jahe, kunyit, seledri dan lain lain kebutuhan dapur sehari-hari.

Tapi saya tidak mau menyerah. Jadi dimana akan  saya tanam biji timun ini?  Di pot yang akan saya letakkan di pinggir tembok. Dan saya rambatkan batangnya ke tembok. Mulailah saya membuat rambatan kawat ke tembok.
Tanam biji timun putih. Dua biji, dua biji di setiap lubang dekat kawat. Untuk antisipasi jika ternyata ada yang mati.
Hanya dalam beberapa hari sidah tumbuh. Dan tumbuh terus dengan cepat merambat di tembok. Hanya sayangnya setelah berbunga kok  pada rontok. Tak ada satupun yang saya lihat menjadi buah. Setiap hari saya periksa tapi kok pada rontok semua.

Rupanya buah yang di batang bagian atas tidak kelihatan oleh saya, karena tertutup daunnya yang rimbun. Hari ini tiba tiba anak saya melihat ada buahnya. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan di hari Minggu.

Dengan semangat kamipun menyibak nyibak daun tanamam itu. Eh..ternyata ada lebih dari satu. Sebenarnya agak ketuaan sedikit kelihatannya. Kami lebih suka mengkonsumsi timun muda. Sayang waktu ukuran dan umurnya tepat untuk dipanen kami tidak melihatnya. Nggak apa apalah. Nggak terlalu tua juga kok.

Bagaimana cara memetiknya? Tinggi begitu. Anak saya mencoba memetik sebuah dengan galah. Tapi …prakkk! Timunnya retak karena jatuh ke halaman yang ditutup cone block. Yaaah…. sayang ya.
Oke. Anak saya tidak kehilangan akal. Pakai galah disambung serokan ikan yang sudah dicuci terlebih dahulu. Asyiiiik!.

Sekarang buah timun bisa dipetik tanpa pakai acara jatuh. Tapi ada juga sih yang karena ditarik, batangnya ikut tertarik ke bawah dan anak saya bisa menggapai dan memetiknya langsung dengan tangan.
Lumayan dapat 6 buah. Seneng banget hati saya.

Timun (Cucurbitae sp) adalah salah satu tanaman dari keluarga timun-timunan yang umum dikonsumsi manusia. Tanaman merambat ini memiliki daun yang lebar seukuran daun pohon labu siam. Batangnya merambat dengan bantuan sulur sulur. Bunganya kecil-kecil berwarna kuning. Yang sejak awal sudah terpisah mana yang jantan dan mana yang betina.

Buah timun paling enak dimakan mentah mentah. Buat lalapan, teman nasi goreng atau buat acar. Kalau siang hari dan panas panas begini enak juga diserut dibikin minuman. Tambah syrop gula sedikit. Jadilah es mentimun!. Hmmm….segarnya.

Manfaat lain dari timun…bisa juga digunakan untuk mengompres mata yang lelah. Atau digunakan untuk menyegarkan kulit wajah biar segar dan kinclong.

Selain itu mentimun juga berfungsi untuk kesehatan. Banyak orang menganjurkan penderita hypertensi untuk mengkonsumsi mentimun karena khasiatnya yang sangat baik untuk menurunkan tekanan darah.

Intinya, nggak rugilah menanam timun di pagar ataupun dirambatkan di tembok rumah. Banyak untungnya. Minimal mengurangi sedikit belanja dapur, menghijaukan halaman rumah dan sekaligus membantu meningkatkan kwalitas udara di lingkungan tempat tinggal kita. Go green.

Yuk kita tanam mentimun. Kita bikin Dapur Hidup!.

Urban Farming: Hijaunya Selada.

Standard

 

Saya pernah heran mengapa tidak umum orang menumis selada? Padahal sawi jenis lain biasa ditumis orang. Ada yang memberi komentar karena harga selada relatif lebih mahal dibanding sawi jenis lain. Oh ya? Saya baru ngeh. Dan¬† setelah saya doule check memang benar sih lebih mahal. Tapi mengapa ia harus lebih mahal?¬† Nah…sekarang saya sedikit agak tahu jawabannya.

Rupanya harga biji selada (Lactuca sativa) jauh lebih mahal dibandingkan harga bibit sawi lain misalnya Caisim. Saya membeli sebungkus biji selada di Trubus harganya sama dengan harga sebungkus biji sawi Caisim. Tapi setelah dibuka,  ternyata jumlah biji selada di dalamnya cuma 1/4 atau bahkan 1/5 jumlah biji Caisim. jadi memang mahal.

Lalu setelah ditabur, hampir semua biji Caisim tumbuh. Tapi hanya sangat sedikit dari biji selada yang tumbuh.
Wah…kalau begini panteslah selada mahal. Terus berikutnya, pertumbuhan Caisim alangkah cepatnya. Sementara Selada lebih lambat.

Walau demikian, selada tetapbermanfaat ditanam.Dan saya tetap semangat mencoba menanamnya dengan system hidroponik. Satu dua mulai ada yang bisa dipanen. Daunnya hijau royo royo nenggiurkan. Terutama yang muda, sangat segar dan renyah. Bagus untuk lalap ataupun untuk bahan salad. siapa yang tidak mau menikmati sayuran  hijau segar langsung dari halaman?
Bertanam sayuran di halaman memang tak pernah ada ruginya.
Yuk kita bikin Dapur Hidup!.

Urban Farming: Hidroponik Tahap Ke Dua.

Standard

wpid-20151101_104023.jpgSebelumnya saya sempat bercerita tentang berbagai masalah yang saya hadapi saat melakukan percobaan bertanam hidroponik. Mulai dari tanaman yg pucat pasi karena kurang sinar matahari, selang irigasi yang jebol hingga sumbatan sekam bakar di saluran irigasi.
Untungnya pengalaman saya itu sempat saya share di sini. Sehingga mendapat tanggapan dari teman-teman. Salah satunya adalah dari Mas Purple Garden yang menyarankan saya untuk menanam ulang.
Semua tanaman hidroponik yang kurang sukses itu saya turunkan. CUT-OFF!. Orang bilang agar bisa sukses melompat ke depan, kadang dibutuhkan sebuah langkar mundur untuk mengambil ancang-ancang.
Akhirnya saya coba kembali dari awal. Sangat kebetulan saya sudah menemukan tempat dimana saya bisa membeli rockwool. Jadi semua sekam bakar saya tiadakan dan ganti dengan rockwool. Saya menanam ulang. Kali ini saya bereksperimen dg beberapa jenis sayuran mix. Pakchoy, caisim, seledri, kangkung dan selada.
Saya memastikan semua aliran irigasi lancar. Tidak ada yang mampet. Pemupukan dengan pupuk cair hidroponik A&B saya lakukan dg disiplin seminggu sekali. Cahaya matahari juga optimal.

imageHasilnya ternyata lumayan. Tanamannya sehat dan lumayan subur. Hijau royo-royo. Saking hijau dan menggiurkannya, saat saya tinggal keluar kota,¬† si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah,¬† ternyata sudah memanen sayuran-sayuran itu tanpa memberi isyarat kepada saya terlebih dahulu. Walaupun umurnya belum mencapai 25 hari. Yaah…

image

Tapi nggak apa apalah. Saya tetap senang karena upaya saya menghasilkan cukup sayuran sehat dari halaman rumah sendiri berhasil dengan cukup baik. Dengan memanfaatkan halaman sempit hanya 1 x 1.5 meter saya bisa memanen setiap 25 – 30 hari sekali. Dengan memiliki Dapur Hidup begini, lumayan bisa sedikit mengirit uang belanja dapur. Betul nggak, teman-teman?
Selain itu dengan bertanam sayuran di halaman saya juga ikut memproduksi oksigen bagi lingkungan di sekitar saya..
Banyak untungnya ya…
Yuk kita bertanam sayuran di halaman! Kita ikut berpartisipasi dalam menghijaukan lingkungan tempat tinggal kita.

Urban Farming: Lima Ribu Rupiah Yang Membahagiakan.

Standard

Kangkung

Segenggam kangkung hasil panen perdana.

Tanaman kangkung yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya kini sudah berusia sebulan. Bukan saja tumbuh subur dan segar, tetapi satu dua batangnya mulai ada yang tumbuh sangat panjang bagaikan sulur. Barangkali jenis kangkungnya berbeda dengan yang lainnya. Tidak tahu juga. Selain itu ada juga satu-dua daun paling bawahnya yang sudah mulai tua dan menguning. “Kelihatannya seperti tanda-tanda sudah bisa dipanen” kata anak saya. Jadi kemarin Sabtu, berhubung saya ada di rumah, untuk pertama kalinya saya dan anak saya mulai bisa memanen sayur kangkung hasil tanam sendiri di halaman dalam polybag. Horreeee!. Lumayan, cukup untuk makan siang bersama keluarga.

Kangkung 1Hasilnya mungkin tidak banyak. Hanya cukup buat satu kali masak. Kalau beli di tukang sayur  paling banter harganya hanya Rp 5 000. Barangkali buat sebagian ibu rumah tangga Rp 5 000 sama sekali  tidak ada artinya. Tapi bagi sebagian ibu rumah tangga lain, segenggam kangkung dengan nilai Rp 5 000 juga barangkali sesuatu banget. Saya sendiri sangat senang dan bangga sekali dengan apa yang kami lakukan. Menurut saya nilai Lima Ribu Rupiah ini benar-benar berharga.  Mengapa? Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Menanam kangkung dari limbah sayuran yang tidak terpakai memberi sensasi sendiri karena ternyata kita menemukan fakta bahwa sesuatu yang kita pikir tak berguna sesungguhnya masih bisa di-recycle untuk kita manfaatkan kembali.  Dan kwalitas hasil re-cycle itu tidak selalu harus lebih buruk dari yang aslinya. Saya lihat batang dan daun kangkung yang saya tanam ini sama subur dan hijaunya dengan apa yang saya beli di pasar atau dari tukang sayur.

Menanam kangkung sendiri juga memberi kepastian kepada kita bahwa tanaman terkontrol dari pestisida dengan baik. Karena jumlah tanamannya yang cuma seuprit dan setiap hari saya lihat dan periksa, jadi saya bisa memastikan tidak ada kupu-kupu atau ngengat yang bertelor dan menetas menjadi ulat di sana. Sehingga saya tidak perlu menggunakan pestisida. Selain itu tanaman ini juga sudah bisa dipanen pada umur 4-5 minggu. Sangat singkat. Jadi pestisida memang benar-benar tak perlu digunakan.

Sayur kangkungSetelah ditumis, kangkung yang benar-benar fresh baru dipetik dan langsung dimakan, ternyata jauh lebih manis, renyah, segar dan lebih enak rasanya ketimbang yang sudah dipanen sehari atau bahkan dijajakan setengah layu di tukang sayur. Anak- anak dan suami  saya semuanya berkomentar yang sama dan memuji rasa sayuran segar hasil petik dari halaman sendiri itu.

Hm… sangat menarik sekali. Barangkali jika begitu dipanen langsung disayur, semua zat baik yang ada pada sayuran belum sempat menguap atau hilang dari batang dan daunnya. Semuanya masih tersimpan dengan baik.

Saat memanen, batang kangkung itu hanya saya gunting sedikit diatas ruang batangnya yang pertama. Tidak saya cabut. Karena saya ingin melihat apakah tanaman ini masih bisa direcycle kembali dengan cara begini. Jika ya, maka saya tidak perlu menanam ulang lagi. Bisa memanfaatkan tanah media tanam yang dipolybag itu kembali – dan barangkali hanya perlu menggemburkannya kembali dan menambahkan sedikit media tanam baru untuk memastikan unsur haranya cukup. Menggunakan kembali polybag yang ada, sehingga tidak menambah pencemaran alam dengan plastik.

Memanen kangkung

Memanen kangkung

Keberhasilan kecil kami menanam sayuran dan akhirnya memanennya dalam waktu sebulan,  memberi anak-anak saya contoh nyata yang baik, tentang hubungan antara NIAT- USAHA -SUKSESan. Niat memanfaatkan limbah sayuran Рmelakukan apa yang kita niatkan itu dan rajin memeliharanya setiap hari Р tanaman yang subur dan panen yang memuaskan. Contoh yang sangat kecil dan sederhana tapi  benar-benar real. Bahwa jika kita bersungguh-sungguh dengan apa yang niatkan, kita lakukan dengan baik dan letakkan semangat kita pada prosesnya, maka dengan pasti kita akan berhasil mendapatkannya dengan baik.

Jadi nilai-nilai yang bisa saya ajarkan kepada anak saya adalah bahwa untuk segala sesuatu, kita bisa mulai dari hal-hal kecil, mudah dan sederhana. Tapi kita kerjakan sendiri, lakukan sendiri, nikmati prosesnya dan berbanggalah atas apa yang kita lakukan dengan baik.

Yuk, ikut saya bertanam sayur dengan memanfaatkan limbah sayuran yang ada!. Bikin dapur hidup. Setahap demi setahap, kita jadi Ibu Rumah tangga yang lebih peduli lingkungan (dan kalau bisa menjadi lebih mandiri). Walaupun sedikit, kita berhemat pengeluaran dan ikut memproduksi oksigen dan menciptakan udara yang lebih bersih di halaman rumah kita sendiri.

 

 

 

Berkawan Dengan Alam: Mangkok Daun Jati Kering.

Standard

Mangkok Dari Daun Jati KeringDalam dunia modern ini, tidak mudah bagi kita untuk menghindarkan diri dari penggunaan bahan-bahan plastik yang tidak ramah bagi lingkungan alam sekitar kita. Dengan segala kemudahan dan kepraktisannya,  membuat kita menjadi sangat bergantung pada keberadaannya.  Demikian juga dengan bahan glass. Walaupun sebagian glass bisa digunakan lebih lama daripada plastik dan lebih mudah didaur ulang, namun sebagian bahan gelas terutana gelas yang dilapis tetap tidak ramah lingkungan.  Namun di sini, di sebuah camp di pedalaman India, saya melihat upaya untuk memperkecil perusakan lingkungan oleh aktifitas manusia  dilakukan dengan sungguh-sungguh di camp itu.

Salah satu upaya kegiatan ramah lingkungan yang saya lihat dilakukan di sana adalah mengganti penggunaan mangkok-mangkok plastik dan kaca dengan mangkok daun jati kering.  Saya belum pernah melihat yang ini sebelumnya. Menarik juga!.

Saya memang melihat banyak pohon kayu jati (Tectonia grandis) di tanam di sana. Daunnya banyak dan sebagian ada yang menguning lalu gugur ke tanah di tiup angin. Melihat banyaknya pohon jati, seseorang mungkin ada yang memunguti daunnya. Mengeringkannya dengan baik,  lalu  cukup kreative membentuknya menjadi cekung serupa mangkok dan memanfaatkannya untuk menikmati makanan.

Kacang Ijo Dalam Mangkok Daun JatiSaya menemukannya ketika sore hari kami disuguhi snack yang terbuat dari kacang ijo kukus berbumbu bawang dan cabe kering.   Snack alami dari kacang-kacangan, dihidangkannya dengan memanfaatkan mangkok daun jati. Dan dimakan sambil berdiri di luar ruangan di bawah pohon-pohon yang rindang. Di antara desau angin sore pedesaan.  Diantara kicauan burung dan tupai yang sibuk berlarian ke sana kemari mencari biji-bijian. Tidak ada sebuah aturan protokoler  acara makan yang harus diikuti. Semuanya sangat natural. Aduuuuh..saya merasa sangat menyatu dengan alam.

Setelah makan, kami membuang daun jati kering itu ke tempat sampah dan kamipun kembali ke aktifitas kami masing-masing. Saya terkesan sekali dengan upaya mereka merawat lingkungan.

Sebenarnya, jika kita ingat-ingat,  sebelum plastik datang merajalela, di Indonesiapun kita banyak memanfaatkan bahan alam ramah lingkungan untuk aktifitas kita sehari-hari.  Seperti contohnya daun jati ini. Di Jawa, daunnya yang lebar-lebar secara traditional  sangat umum kita lihat digunakan untuk membungkus makanan.  Demikian juga di tempat lain. Daun pisang.  Sangat umum  digunakan sebagai pembungkus.  Lalu  daun talas dimanfaatkan untuk payung. Namun semakin ke sini,  semakin sedikit pemanfaatannya karena semuanya sudah tergantikan dengan plastik.   Barangkali karena semakin sulit dan mahal juga didapatkan, karena pohonnya juga semakin banyak yang ditebang. Kembali lagi kealasan bahwa plastik lebih  praktis, lebih murah dan lebih mudah di dapat.

Jaman dulu orang di Bali juga biasanya makan dengan menggunakan kau, ingka atau tamas. Namun semakin ke sini, semakin tergantikan oleh piring kaca atau plastik. Kau, yakni mangkok  yang terbuat dari batok kelapa barangkali sudah tidak ada yang menggunakannya lagi selain sebagai hiasan.  Ingka, yakni piring yang terbuat dari jalinan lidi kelapa saya lihat masih digunakan sesekali.  Tamas, yakni piring yang dibuat dari daun kelapa hanya digunakan untuk upacara saja.   Agar bisa dipakai berulang-ulang ingka dan tamas ini biasanya dilapisi dengan daun pisang. Sekarang lapisan daun pisang ini  lebih sering diganti dengan lapisan kertas coklat pembungkus makanan. yang menggunakannya pun tetap lebih sedikit daripada yang menggunakan piring berbahan plastik atau gelas.

Nah melihat mangkok daun jati kering ini digunakan untuk menjamu tamu-tamunya, saya benar-benar merasa hormat kepada tuan rumah.  Sangat berkawan dengan alam!.

Pohon Di Halaman Yang BersihSebenarnya sebelum saya datang ke sana, saya sudah disurati agar mengatur sedemikian rupa pakaian saya, karena tuan rumah mempunyai komitment yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Saya pikir tentu maksudnya supaya saya tidak menggunakan detergent selama di sana.  Maka sayapun hanya membawa pakaian seadanya. Sesedikit mungkin agar tidak menyusahkan tuan rumah. Saya bisa mengerti akan maksud baik tuan rumah terhadap lingkungan.

Dan ketika tiba di sana,  saya melihat ternyata lingkungan di tempat saya menginap itu memang benar-benar sangat asri. Penuh pepohonan besar yang rindang dan hijau. Di bawah pepohonan itu, halamannya tampak bersih dan tak ada sampah plastik. Ada beberapa tempat sampah yang disediakan. Isinya sampah organik semua. Di belakang camp itu, saat saya pergi ke danau,  saya melihat ada tempat sampah untuk membuang sisa-sisa makanan. Ada juga sampah plastik di dalamnya, namun jumlahnya sangat sedikit sekali. Hebat juga!.  Saya pikir,hal ini mungkin bisa dicapai karena semua bahan-bahan yang dibutuhkan termasuk bahan makanan semua di swadaya oleh masyarakat setempat.Sehingga kebutuhan akan bahan-bahan dari luar yang umumnya dibungkus plastik menjadi berkurang.

Namun secara keseluruhan, memang bisa kita acungi jempol untuk upayanya dalam mengurangi plastik seminimal mungkin guna menyelamatkan lingkungan.

Let’s Go Green!.

Menikmati Lukisan Anak-Anak II.

Standard

Beberapa peserta melukis pada hari Painting Day tanggal 6 April 2012 kemarin  di Villa Bintaro Regency, melukis di atas canvas dengan posisi yang membujur. Sehingga untuk memudahkan tata letak,  saya mengelompokkannya menjadi satu.

Sama  halnya dengan lukisan  anak-anak pada part I, lukisan ini pun mengikuti thema yang diberikan panitya yakni yang berkaitan dengan cinta lingkungan hidup. Kebanyakan diantaranya menggambarkan pohon-pohon, alam yang hijau, matahari, langit, pelangi maupun gunung-gunung.

Warna yang dijadikan banyak pilihan adalah juga seputar warna  hijau dan biru. Walaupun ada juga warna-warna cerah lainnya digunakan, seperti misalnya  merah, jingga atau kuning.  Tentu saja seperti umumnya lukisan anak-anak, kejernihan pemikiran dan kepolosan terekspresikan dengan sangat kuat di sini.  Secara umum yang diperlihatkan keindahan lingkungan penuh kedamaian seperti yang ada dalam alam pikir mereka. Sangat jauh dari  pencemaran dan segala bentuk kontaminasi lainnya. Read the rest of this entry

Villa Bintaro Regency – Go Green & Painting Day.

Standard

Salah satu alasan mengapa saya sangat senang tinggal di perumahan ini adalah karena keakraban dan silaturahmi  warga yang sangat baik. Selain itu,  lingkungan di sekitar perumahan ini juga tertata cukup rapi, bersih dan hijau, sehingga berada di rumah terasa sangat nyaman dan teduh. Burung-burung dan beraneka kupu-kupu juga rajin datang  beterbangan.  Tentu saja hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan hidup warganya yang mencintai lingkungan hidup di sekitarnya.

Minggu,tanggal 6 ¬†May ¬†ini warga Blok F yang dikomandani oleh¬† Bapak Harry selaku ketua RT melakukan kegiatan ¬†yang diberi tajuk ‚Äú Go Green Painting Day‚ÄĚ.¬† Sebenarnya ¬†kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari ¬†rangkaian kegiatan¬† yang berkenaan dengan program Lingkungan Hidup yang diketua oleh Bapak Handoko. Selain Painting Day, juga ada program-program yang lain seperti misalnya penanaman pohon, ¬†pembersihan dan merapikan bantaran kali di belakang perumahan dan gagasan ‚Äú Urban Farming‚ÄĚ yang sepintas disampaikan beliau kepada saya saat berbincang-bincang¬† di sela sela kegiatan ¬†melukis bersama. Saya merasa bahwa gagasan itu sangat menarik perhatian saya. Read the rest of this entry