Tag Archives: Grow Your Own Food

Jeruk Kalamansi.

Standard
Jeruk Kalamansi.

Suatu ketika saya datang ke pameran di JCC yang memajang hasil-hasil bumi dan olahan dari setiap propinsi di Indonesia. Salah satunya adalah Sirup Jeruk Kalamansi, kalau tidak salah dari Bengkulu. Tertarik saya untuk membeli, karena baru pertama kali mendengar nama Jeruk Kalamansi.

Setelah sampai di rumah dan mencicipinya barulah saya sadar bahwa Jeruk Kalamansi itu sama dengan Jeruk Kasturi atau Jeruk Sonkit. Ooh…kalau begitu saya punya dong pohonnya di halaman. Dan saat ini sedang berbuah. Lumayan banyak. Walaupun sudah mulai berkurang buahnya karena saya petikin hampir setiap hari.

Jeruk Kalamansi (Citrofortunella microcarpa), memang menarik untuk ditanam di halaman. Buahnya kecil-kecil dengan diameter tidak lebih dari diameter uang logam. Walau demikian 1 butir jeruk ini cukup untuk membuat segelas air jeruk.

Lumayan banget pas hujan hujan pengen minum sesuatu yang hangat.

Oregano, Rempah Serba Guna.

Standard

Ketika mencicipi Italian Piza, kita selalu merasakan ada bumbu dengan aroma khas di dalamnya. Nah…itulah Oregano. Bumbu masak yang sangat umum digunakan di dapur-dapur Eropa dan Mediterania. Tanpa Oregano, rasa piza ataupun spaghetti yang kita buat terasa ada yang kurang.

Oleh karena itu, bagi yang suka mencoba- coba memasak berbagai jenis resep mancanegara di dapur, keberadaan oregano ini amatlah penting.

Sebenarnya cukup mudah mendapatkan Oregano kering di supermarket, tetapi saya tetap merasa memiliki pohon Oregano di halaman sendiri tetap merupakan pilihan yang terbaik buat saya. Karena, jika masak saya lebih menyukai bumbu ataupun bahan- bahan yang masih segar ketimbang yang sudah kering.

Apanya yang kita manfaatkan untuk bunbu?. Daunnya. Tapi saya dengar bubganya juga sama, bisa dipakai untuk bumbu. Rasanya pedas lemah sedikit pait.

Oregano (Origanum vulgare), adalah tanaman rempah yang masih berkerabat dengan pohon Mint. Tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan dapur, tetapi juga sebagai obat traditional.

Di Yunani sana, secara turun temurun, Oregano telah dikenal sebagai salah satu natural antiseptic. Umum digunakan untuk mengatasi jerawat ataupun mengurangi ketombe.

Selain itu saya juga menemukan penjelasan bahwa Oregano ini juga dimanfaatkan untuk mengatasi keluhan kesehatan lain seperti batuk, sakit saat haid, sakit perut dan sebagainya.

Bahkan sebuah informasi mengatakan bahwa Oregano mengandung anti cancer property. Waaah… berguna banget ya jika kita tanam di halaman kita.

Dapur Hidup: Lemon Thyme.

Standard

Bagi penggemar masakan Eropa, tentu paham jika Thyme adalah salah satu bumbu dapur yang sangat penting digunakan. Sesungguhnya saya sudah beberapa kali pernah menanam Thyme, bumbu dapur yang umum digunaksn di dapur dapur Eropa. Tetapi setelah agak besar, tanaman ini mati akibat kurang terurus saat saya tinggalkan beberapa lama ke luar kota.

Minggu lalu saya sempat membeli Thyme di Supermarket. Karena melihat ada beberapa batangnya cukup tua, saya jadi berniat untuk menanamnya lagi. Begitu saya masukkan ke keranjang baru saya sadari jika Thyme ini daunnya agak lebih bundar dan sedikit lebar dari jenis Thyme yang pernah saya tanam di rumah. Biasanya daunnya sedikit meruncing dan lebih kecil.

Oooh… rupanya tanaman ini adalah jenis Lemon Thyme. Waaah… ini akan menjadikan koleksi tanaman dapur hidup di halaman saya bertambah. Saya sangat senang. Mudah mudahan saya berhasil membuatnya hidup.

Sayapun mempersiapkan media tanam yang baik dalam pot dan mulai menancapkan batang Thyme yang sudah agak tua ke dalamnya.

Seminggu sudah berlalu, dan kelihatannya tanaman ini tumbuh dengan baik dan segar.

Garden Update: Selepas Liburan.

Standard

Saat liburan rasanya selalu menyenangkan. Akan tetapi setelahnya, ada banyak tugas yang menanti. Mulai dari cucian pakaian yang menumpuk, tugas dapur, beres beres rumah hingga tumpukan kerjaan kantor. Dan buat saya yang lebih menyedihkan lagi adalah tanaman di halaman yang meranggas, layu dan bahkan ada yang mati kekeringan๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ.

Tak punya pilihan, terpaksa harus gunting gunting dulu dan bersihkan tanaman yang pada mati dan rusak itu.

Tak terbilang lagi berapa batang tanaman cabe yang mati, bibit kelengkeng, jeruk, pohon kecombrang dan kangkung yang harus dibuang ke tong sampah.

Tapi anehnya, ditengah kekisruhan yang terjadi di halaman, ada satu batang pohon cabe rawit yang justru berbuah lebat saat ditinggalkan liburan. Bahkan buahnya banyak yang sudah kering dan rontok ke tanah.

Luarbiasa pohon cabe yang satu ini. Karenanya saya petiklah cepat cepat sebelum makin banyak lagi buahnya yang kering.

Saya mulai bertanya tanya, mengapa tanaman ini mampu bertahan sedangkan yang lain mati?. Setelah mengamat-amati pohon pohon yang mati itu, saya pikir penyebab kematiannya sebenarnya bukanlah karena kekeringan akibat kurang disiram air semata, melainkan karena terserang penyakit lain juga seperti kutu putih, karat, virus mozaik atau tungau. Jadi serangan penyakit plus kekeringan lah yang menyebabkan tanaman saya pada mati.

Sedangkan pohon cabe ini, walaupun tumbuh di sebelah tanaman yang pada mati itu, rupanya ia tetap bertahan hidup karena tidak terserang penyakit. Sebuah muzizat, vitus- virus itu belum sempat merambat ke tanaman ini.

Dapur Hidup : Daun Pepaya Jepang.

Standard

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

=Koes Plus=

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang tanaman sayuran apa yang sebaiknya ditanam di halaman jika tak punya waktu untuk merawatnya, maka jawaban saya akan sangat cepat dan pasti : Daun Pepaya Jepang. Beneran!. Ini kayak yang dibilang sama Koes Plus. Tancepin batangnya, pasti jadi tanaman ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Tancapkanlah beberapa batang pepaya Jepang di mana saja di halaman. Asalkan ada sejumput tanah, maka iapun akan hidup dan tumbuh dengan baik. Dan ketersediaan sayuran di dapurpun terjamin.

Ini adalah beberapa dari tanaman pepaya jepang saya yang tumbuh di setiap pojok halaman rumah. Setiap ada sesenti tanah yang nganggur saya tancepin batang tanaman ini. Lumayan banget…

Sapo Tahu Dengan Sawi Pagoda.

Standard

Hari ini saya bangun lebih siang. Badan saya terasa agak lebih sehat dibanding kemarin pagi. “Siang ini mau masak apa Bu?” tanya si Mbak. Rasanya kok sangat malas berpikir ya. “Yang ada di tukang sayur sajalah” kata saya. Tapi lalu saya keingetan tanaman sayuran di halaman.๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ Beberapa mungkin harus dipetik segera biar tak ketuaan atau kepalang tumbuh bunga. 

Sayapun ke halaman melihat-lihat sayuran๐Ÿ€. Kebanyakan masih kecil kecil. Tapi ada juga beberapa sisa sisa yang masih bisa dipanen. Ada Kailan dan Daun Pepaya Jepang. Ada juga sisa-sisa Sawi Pagoda yang penghabisan. Dipanen ah!.

Dimasak apa ya? Buka kulkas. Kebetulan masih punya sisa  tofu dan cumi. Ah!. Cukuplah. Mau dimasak Sapo Tahu Sayuran saja. 

Masaknya sederhana saja. 

1/ Sawi Pagoda dibersihkan dan daunnya dipetik satu per satu. Cuci bersih lalu tiriskan. 

2/. Potong-potong  tofu, goreng hingga matang. 

3/. Cumi dibersihkan, dipotong potong dan dicuci lalu digoreng. 

4/. Parut bawang putih, ditumis dengan irisan bawang bombay dan jahe hingga harum. Masukan irisan paprika (kebetulan ada di kulkas). 

5/. Masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan dengan air. Tambahkan sedikit garam dan gula. 

6/. Masukkan cumi dan tofu goreng.  Dimasak kembali dengan api sedang.  Tambahkan sedikit minyak wijen dan kecap inggris. 

7/. Terakhir masukkan Sawi Pagoda kesayangan. Masak dengan api besar lalu angkat. 

8/. Hidangkan panas-panas. ๐Ÿœ๐Ÿœ๐Ÿœ

Sawi Pagodanya sangat enak dan empuk.