Tag Archives: Handicraft

Cuci Mata: Tas Renda Cantik Dari Yogyakarta.

Standard

Pikiran positive akan selalu menghasilkan hal yang positive“.

*****

Tas Crochet 7

Dalam perjalanan ke Yogyakarta, teman duduk di sebelah saya bercerita “Bu, sekarang yang lagi happening banget  di Yogyakarta itu tas renda, Bu. Nanti kalau ada waktu saya pengen mampir melihat-lihat tas untuk istri saya” katanya.  Sebagai seorang penggemar karya-karya kerajinan crochet, saya jadi tertarik untuk mengekor teman saya itu ikut melihat-lihat tas crochet yang dimaksud.  Lebih baik petang ini saja selagi bukan jam kantor. Akhirnya berangkatlah kami menuju workshopnya di Jl Deresan I no 5, Yogyakarta.

Wah.. senangnya berkunjung ke workshop itu ya seperti ini. Ada banyak produk yang baru saja selesai atau bahkan yang masih belum jadi.  Berbagai macam model. Ada  yang bentuknya persegi, ada yang seperti box, ada yang setengah lingkaran. Ada yang tali panjang, tali pendek. Ada yang besar ada yang kecil. Berbagai macam warna. Ada yang hitam,  coklat tua, beige, biru, hijau,ungu, belang-belang dan sebagainya. Demikian juga motif crochet-nya. Berbagai rupa.  Whuaaa!!!! Saya senang sekali. Dan pastinya… harganya pun lebih miring dibanding jiia kita beli di boutique resmi  di hotel.

Saya sendiri tertarik untuk membeli tas yang modelnya lebih firm, dengan rusuk-rusuk yang kuat. Sudah ketemu sih sebenarnya. Ada 2-3 alternative dan sudah sempat saya foto-foto. Tetapi kemudian ketika melihat tas lain dengan lapis dalam berbahan suede, entah kenapa saya jadi mulai galau dan bingung memilih. Kadang-kadang kalau kebanyakan pilihan, kita malah jadi bingung sendiri. Semuanya bagus. Ha ha..

Dibalik semua karya-karya crochet yang bagus itu, sebenarnya saya lebih tertarik lagi dengan semangat dua orang wanita dibalik brand tas crochet yang bernama TULIP ini, yaitu Mbak Linda dan Mbak Tutut.   Kebetulan keduanya saat itu sedang ada di workshop. Jadi kesempatan banget deh buat saya ngobrol dengan mereka berdua.

Mbak Tutut & Mbak Linda dari TULIP tas rajut

Saya baru tahu kalau ternyata nama TULIP itu sendiri adalah gabungan nama dari 2 orang wanita kreatif itu, yakni singkatan dari “TUtut & LInda Production”.  Owalaaa….keren banget!.

Saya jadi penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa memulai bisnisnya berdua?

Mbak Linda bercerita kalau pada awalnya mereka adalah Ibu Rumah Tangga biasa yang berteman gara-gara bertemu saat mengantar dan menunggu anak-anak mereka di Sekolah. Dari sini mereka menjadi bersahabat. Daripada mengisi waktu dengan ngerumpi yang kurang produktif atau menjadikan pertemuan ibu-ibu sebagai ajang pamer kekayaan, mereka memutuskan untuk mengisi persahabatannya dengan sesuatu yang positive. Merekapun mulai membuat batik  dan menggunakannya sendiri. Eh..ternyata para ibu-ibu yang lain pada menyukainya dan memesan. Lalu selanjutnya mereka mencoba membuat tas. Ibu-Ibu yang lainpun menyukainya juga. Lalu rame-rame memesan. Demikian seterusnya mereka memproduksi tas rajut/renda dan dompet, selain juga tas/dompet yang berbahan kulit dan berbahan kain batik.  Memasarkannya dari mulut ke mulut. Bahkan ketika anak-anak sudah tidak sekolah lagi di sana, mereka meneruskan kegiatannya dan mendirikan usaha dengan merk TULIP ini. Wah…luarbiasa!. Positive banget.  Saya sangat terkesan.

Lalu apa bedanya dengan tas rajut merk lain yang ada di kota itu? Mereka memiliki koleksi dengan design -design bagus yang mereka rancang sendiri. Bahkan saat saya di sana, saya juga dipersilakan misalnya jika ingin memesan dengan motif yang begini tapi design yang begitu juga boleh (tentunya perlu beberapa hari ya untuk mengerjakannya). Mereka juga menyediakan tas-tas dengan handle berbahan kulit asli dengan lapisan dalam suede yang berbeda dengan pengrajin lainnya  karena kebanyakan pengrajin menggunakan bahan plastik sebagai handle-nya.

 

Yang jelas, karya ke dua Ibu-Ibu muda ini telah berhasil memperkaya kota Yogyakarta dengan memberikan option lain bagi pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh ataupun kerajinan khas Yogyakarta yang bermutu bagus, selain batik, gudeg, bakpia ataupun wingko.  Dan tentunya itu sangat penting bagi kota Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Saya rasa apa yang dilakukan oleh kedua wanita ini juga bisa memberi inspirasi bagi kita, para wanita agar lebih positive dalam menjalani hidup. Lebih kreatif dan tentunya lebih produktif.

Yuk kita main ke Yogyakarta! Banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan nikmati di sini.

Menjahit Boneka Mini.

Standard

Pulang kantor, anak saya yang kecil sudah menunggu depan pintu. “Mama, aku ada tugas sekolah bikin boneka” kata anak saya. Ha? Bikin boneka? Sejenak agak terkejut. Bukannya itu urusan anak perempuan ya?  “Memang ada tugas jahit menjahit dari Pak Guru”  jelas anak saya. Saya tertawa akan pikiran konvensional saya. Memang kenapa kalau anak lelaki menjahit? Bukankah banyak perancang busana yang terbaik justru para lelaki? Serupa dengan memasak. Memasak adalah pekerjaan yang dikonotasikan dengan urusan perempuan. Tapi bukankah banyak chef terbaik dunia justru adalah laki-laki? “Lalu siapa yang men-drive pikiranmu, mengapa anak laki-laki tidak boleh menjahit atau memasak?” tanya saya kepada diri saya sendiri.

Sambil masih menahan tawa atas kebodohan saya,  lalu saya bertanya “Perlu bantuan apa dari mama?”. Anak saya berkata kalau saya perlu mengajarinya cara menjahit dan memberi contoh. Besok ia akan membuat sendiri bonekanya di sekolah sesuai dengan apa yang saya contohkan. Besok?. Waduuuh!. Sudah nyaris jam sepuluh malam.

Saya memeras otak sebentar.  Boneka apa yang bisa dibuat dalam waktu kira-kira sejam. Anak saya buru-buru mengambil felt, gunting, benang dan pernak pernik.”Aku pengen diajarin cara menjahit boneka kecil-kecil yang dulu sering mama bikinkan buat aku” katanya. Oh ya.. saya jadi teringat boneka-boneka mini buatan saya di jaman dulu. “Maunya boneka apa?” tanya saya. “Kelelawar atau anjing, atau ikan paus” katanya. Ok. Saya menyetujui untuk membuat contoh kelelawar, karena paling gampang. Bisa cepat.

KelelawarSaya mengambil kertas buffalo. Mengingat-ingat bentuk kelelawar sebentar, menggambar sketsa kelelawar, lalu menterjemahkannya ke dalam pola di kertas buffalo. Kelihatannya sudah masuk akal,  lalu saya menggunting pola itu pelan-pelan, dan menempelkannya di  kain felt dan mengguntingnya. Berikutnya saya mulai mengajarkan anak saya menjahit.

Untuk menjahit kita bisa menggunakan berbagai macam jenis stitch. Ada yang namanya stitch lurus, stitch rantai, stitch penuh, stitch kali, stitch feston, stitch batang, stitch bulu, dsb. Tapi kali ini saya hanya mengajarkan anak saya dua jenis stitch saja. Yakni stitch feston, untuk  menjahit pinggiran/gabungan kain felt- seperti misalnya sayap kelelawar, telinga kelelawar dsb. Lalu menjahit dengan menggunakan stitch lurus pada saat harus menggabungkan sayap kelelawar dengan badannya.   Anak saya memperhatikan dengan baik sambil sesekali mencoba melanjutkan menjahit sendiri. Saya melihat dengan awas. Hati-hati! jangan sampai jari tertusuk jarum. Tidak sampai sejam saya sudah menyelesaikan boneka kelelawar yang sesuai dengan keinginannya. Sayapnya terbentang – cukup dua dimensi saja. Hanya badannya saya sumpal sedikit bagian tengahnya dengan kapas agar lebih berisi. Anak saya tampak happy dengan apa yang sudah saya contohkan.

Lalu saya melanjutkan menggambar design untuk Paus Pembunuh, tapi mungkin karena sudah terlalu malam, anak saya tertidur. Sayapun merapikan posisi tidurnya,  menyelimuti tubuhnya dan membereskan sisa sisa kertas dan kain bekas guntingan yang tercecer.

Kelelawar 1Esok paginya ia pamit berangkat sekolah. Saya bertanya untuk memastikan, apakah ia masih ingat pelajaran menjahit dari saya.  Ia menjawab masih ingat dan pasti bisa membuatnya. Saya tersenyum dan berdoa semoga ia memang bisa.

Pulang kerja, anak saya menunjukkan hasil pekerjaannya di sekolah. Ohh…seekor kelelawar coklat dengan sayap berwarna hitam. Lebih menarik ketimbang  menggunakan satu warna saja. Warnanya kelihatan lebih masuk akal dari kelelawar buatan saya yang berwarna jingga. Bukankah warna kelelawar memang coklat kehitaman? Ah ya… anak memang harus minimal satu step lebih kreatif dibanding orang tuanya.

Barangkali diajarin Gurunya, iapun menempelkan mata boneka di wajahnya. Hi lucu juga bisa bergerak-gerak. Saya memuji hasil pekerjaannya.  Tapi ia tidak terlalu puas dengan hasilnya. Menurutnya jahitannya kurang rapi. “Tidak serapi jahitan mama” katanya. Ia juga mengeluh bahwa ada bekas lem UHU yang mengering di dekat mata kelelawarnya, karena ia sempat salah meletakkan mata dan mengangkatnya serta meletakkannya kembali di tempat yang sedikit berbeda. “Bekas lemnya jadi jelek” katanya. Saya menghiburnya. Saya pikir jahitannya cukup rapi, mengingat bahwa ia baru pertama kali menjahit. Dan ia bisa membuat lebih rapi lagi untuk berikutnya.

Paus PembunuhLalu saya menemaninya membuat boneka yang ke dua. Boneka Ikan Paus Pembunuh, alias Orca – the Killer Whale.  Lagi-lagi ia ingin membuatnya dalam dua warna. Biru dan putih. Ya. Saya pikir warna putih pada Paus Pembunuh itu adalah ciri khasnya.

Untuk membuat bonekanya menjadi lebih 3 dimensi, anak saya menyumpalkan kapas ke dalam perutnya. Lalu dijahit tutup. Nah…jadi deh. Kelihatan dengan jelas bentuk ikannya. Panjang ikan itu,  baik hanya badannya saja, maupun dengan ujung sirip ekornya. Juga bisa dilihat tinggi ikan itu, beserta ujung sirip punggungnya. Dan  tentu saja kelebaran tubuhnya, beserta sirip dadanya.

Lama-lama setelah saya pikir, saya senang dengan keputusan gurunya mengajak anak didiknya  membuat boneka.  Awalnya memang saya kurang antusias dengan tugas sekolahnya itu. Karena ya itu tadi..anak laki-laki kan nggak perlu pintar menjahit (walaupun pikiran saya itu ternyata salah). Tapi sekarang saya berpikir, menjahit boneka selain meningkatkan kreatifitas anak, juga melatih kemampuan anak untuk melihat dan berpikir 3 dimensi.  Dan itu sangat penting bagi perkembangannya. Satu step pemikiran, sebelum ia mampu meningkatkan kemampuan berpikirnya ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi.

 

 

 

Pouch Renda: Selalu Romantis, Selalu Feminine.

Standard

Andani- Crochet PouchMelakukan pekerjaan rutin dari waktu ke waktu tanpa variasi tentu sangat membosankan, bukan? Untuk menghilangkannya saya suka melakukan hal-hal yang menyenangkan hati saya. Apasaja. Dan tak jarang adalah kegiatan  yang sudah lama tak pernah saya lakukan lagi. Misalnya kali ini, sambil menunggu hujan reda, saya teringat akan sisa-sisa benang lama saya yang masih bisa saya manfaatkan. Saya akan membuat renda dari benang nylon (karena benang sudah lama – saya sudah tidak melihat lagi entah apa merknya – tapi yang jelas warnanya coklat muda/krem yang terlihat sangat manis). Saya sangat menyukai renda atau crochet dalam bahasa internationalnya, karena menurut saya renda selalu terlihat feminine dan romantis. Apapun warnanya. Read the rest of this entry

India : Channapatna – the Toy’s City.

Standard

Mungkin diantara kita ada yang suka memperhatikan mainan anak-anak yang terbuat dari kayu? Atau boneka-boneka kayu berwarna-warni ?  Atau gelang-gelang  kayu yang bertumpuk  merah, jingga,kuning, hijau yang makin lama makin mengecil?  Atau mainan bola kayu kecil yang diikat dengan tali dan disambungkan dengan alat penangkap bola yang juga dari kayu? Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bahwa mainan-mainan itu adalah produksi  India. Tepatnya di daerah Channapatna.

Dalam perjalanan ke Mysore, saya diberikan informasi  bahwa kami akan melewati daerah Channapatna yang dikenal sebagai Toy’s City-nya India. Wah, kabar yang baik. Jadi kami berhenti sebentar dan melihat-lihat. Konon kerajinan kayu di Channapatna ini sudah berkembang sejak beberapa ratus tahun yang lalu dan disupport oleh kerajaan. Read the rest of this entry

Cuci Mata: Asia Art Fusion Pada Keramik Vietnam.

Standard

Ketika menikmati sarapan pagi di hotel,  teman saya tertarik kepada sebuah teko di atas meja yang digunakan untuk menghidangkan teh bagi kami.  Saya jadi ikut mengamati teko itu. Teko cantik berbahan keramik. Dengan finishing coklat kelam mirip perunggu dan gagang dari logam. Terlihat sangat etnik dan elegant. Contoh sebuah ‘fine art’ yang tak akan saya lupakan. Teman saya rupanya juga jatuh cinta pada teko itu. Saya menghiburnya dengan mengatakan nanti kalau punya waktu, kita cari teko sejenis di toko-toko atau di pasar yang akan kita kunjungi. Namun sayang, hingga kami pulang kembali ke tanah air,  teko dengan buatan seindah itu tak berhasil kami temukan. Sayangnya pula, saya lupa mengambil gambar teko itu. Read the rest of this entry

Bunga Untuk Ibu Guru…

Standard

Menemani Anak Membuat Prakarya.

Sungguh merupakan saat yang menyenangkan ketika punya waktu untuk menemani anak kita membuat prakarya. Pertama karena saya percaya bahwa latihan membuat prakarya – apapun bentuknya – akan membantu anak untuk berpikir lebih kreatif. Anak akan lebih terlatih untuk mengimajinasikan sebuah objek dalam pikirannya lalu berusaha untuk membuatnya menjadi nyata sehingga orang lain bisa ikut menikmati indahnya alam pikirannya. Kedua, membuat prakarya juga melatih motorik anak dengan sendirinya. Anak menjadi lebih cekatan, gesit,trampil dan teliti. Ketiga, karena saya juga berpikir bahwa paparan terhadap aneka warna bahan-bahan prakarya juga memberikan dampak yang sangat positive terhadap perkembangan mental dan mood anak. Read the rest of this entry

Gerabah Kasongan – Cuci Mata

Standard

Sungguh menyenangkan pada sebuah perjalanan di akhir pekan di Jogja, teman saya  yang tahu saya menyukai benda benda kerajinan rakyat, mengajak  saya main ke Kasongan, sebuah desa yang merupakan pusat kerajinan gerabah yang letaknya tak jauh letaknya dari sana.

Banyak gerabah yang bisa kita lihat, mulai dari gerabah polos tanpa pulasan apa-apa yang terlihat sangat natural, hingga yang dipoles dengan berbagai jenis warna dan didandanin dengan kombinasi berbagai bahan natural lain seperti serat pisang, pecahan cangkang telor, dsb. Harganya pun  miring jika dibandingkan dengan harga pasaran di Jakarta. Jadi tak ada salahnya jalan-jalan sambil cuci mata ke Kasongan. Setidaknya menambah pengetahuan akan kekayaan tanah air.

White Lace Crochet..

Standard

Renda dari benang putih selalu terlihat cantik, anggun dan abadi sepanjang jaman.  Renda putih ini sudah kita temukan ada sejak kita lahir di rumah orang tua/nenek kita, dikerjakan pada waktu senggang sambil menjaga anak atau mengisi ketenangan sore hari.  Merenda merupakan pelajaran ketrampilan yang saya pelajari saat di bangku Sekolah Dasar, di Bangli, Bali – yang pada saat itu saya tak pernah menyangka akan tetap bisa ingat cara membuatnya hingga kini.  Betapa tidak, saat itu guru saya mengajarkan langkah demi langkah secara lisan sambil memberikan contoh sekait dua kait dan sama sekali tanpa menggunakan pola yang bisa kita lihat dalam gambar, lalu meminta murid-muridnya mengulangi langkah langkah berikutnya dengan hanya menggunakan logika matematika sederhana.  Menambah 1 rantai pendek, menambah rantai panjang penuh, mengosongkan, dsb. Jadi design itu semuanya ada dalam kepala kita dan guru kita. Tidak ada blue-printnya sama sekali. Tapi semuanya itu sangat menyenangkan dan sangat berguna, karena dengan demikian tanpa kita sadari kita diajarkan untuk mendesign renda secara kreatif dalam benak kita. Kita jadi bisa membayangkan sebuah bentuk renda sebelum renda itu benar-benar tercipta. Kadang kadang kita baru memikirkan designnya sambil jalan, saat lingkaran atau baris pertama renda sudah dibuat dan  atau membiarkan pola terbentuk otomatis secara natural melalui jari kita tanpa intervensi otak.

Belakangan, setelah saya tinggal di Jakarta dengan mudah saya bisa mendapatkan pola-pola renda dari buku-buku kewanitaan yang banyak tersebar di toko-toko buku. Namun demikian, saya tetap lebih menyukai renda yang terbuat dari benang putih yang klasik dan anggun.

Bantal Putihku…

Standard

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bantal putihku
Pelabuhan kepenatan hariku
Dermaga impian kasihku

Putih adalah kemurnian jiwa
saat melebur bersamamu dalam semesta
menyatu dengan Sang Pencipta