Tag Archives: hidroponik

Garden Update: Curly Kale.

Standard

Setelah beberapa minggu sejak ditanam, hari ini saya memanen cukup banyak daun Kale keriting dari halaman. Karena daun-daunnya sudah terlalu rimbun dan menutupi tanaman lain di dekatnya. 

Sayang setelah dipanen, nggak sempat langsung dimasak. Kebetulan hari ini ada pekerjaan lain yang tak bida ditinggal. 
Kale keriting, adalah salah satu tanaman yang sangat baik dimasukan ke dalan koleksi dapur hidup kita. Sangat mudah disemai, cukup toleran terhadap cuaca panas seperti di Jakarta dan tentunya rasanya juga enak. Selain itu bentuk daunnya yang keriting sangat dekoratif. Selalu tampak cantik dan segar. 

Advertisements

Tidak Sabar Menunggu Selada Red Ava. 

Standard

Karena sudah beberapa kali menanam selada hijau, saya penasaran ingin mencoba menanam selada berwarna merah. Selada yang sering saya temukan dihidangkan sebagai campuran salad di hotel-hotel berbintang. Nah…saya pikir keren juga nih jika dapur saya juga bisa menghidangkan salad dengan campuran sayuran ala hotel berbintang gitu. Produksi sendiri pula. 

Bibitnya dari mana? Saya coba cari di toko Trubus dan toko hidroponik seputaran Bintaro, lagi kosong. Ah, tapi saya tak mau kehabisan akal. Toko hidroponik online!. 

Selada Red Ava, reference gambar dari hidroponikshop.com

Singkat cerita dapatlah saya biji selada merah Red Ava yang re-packing. Isinya 40 butir harganya Rp 7 000 kalau saya tak salah ingat. Saya coba menyemaikan 5 butir di aras rockwool.. Lumayan, dari 5 yang hidup 4. Not bad lah ya. 

Ketika sudah mulai membesar dengan jumlah daun 4 lembar, saya memindahkannya ke dalam box hidroponik dengan system sumbu. Kemudian saya letakkan di teras belakang. Selanjutnya saya hanya melihatnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan memberinya pupuk saat weekend saja. 

Tanaman selada ini tumbuh makin besar. Ada warna merah bersawang-sawang di ujung daunnya. Saya berharap warna merahnya semakin tampak seperti foto referens. Sekarang selada ini sudah berumur kira kira 15 hari. Tapi kok warna merahnya belum keluar banyak juga ya? Malah lebih dominan warna hijaunya. Ada yang salahkah? 

​​Selada merah Red Ava ini meninggalkan penasaran di hati saya. Tapi saya akan tetap menunggu perkembangannya seminggu dua minggu ke depan ini, berharap semburat pigmen merahnya keluar lebih banyak. 

Bertanam rupanya membutuhkan kesabaran untuk melihat hasil. Karena alam membutuhkan proses dan tidak menyediakan hasil instant. 

Urban Farming: Hidroponik Tahap Ke Dua.

Standard

wpid-20151101_104023.jpgSebelumnya saya sempat bercerita tentang berbagai masalah yang saya hadapi saat melakukan percobaan bertanam hidroponik. Mulai dari tanaman yg pucat pasi karena kurang sinar matahari, selang irigasi yang jebol hingga sumbatan sekam bakar di saluran irigasi.
Untungnya pengalaman saya itu sempat saya share di sini. Sehingga mendapat tanggapan dari teman-teman. Salah satunya adalah dari Mas Purple Garden yang menyarankan saya untuk menanam ulang.
Semua tanaman hidroponik yang kurang sukses itu saya turunkan. CUT-OFF!. Orang bilang agar bisa sukses melompat ke depan, kadang dibutuhkan sebuah langkar mundur untuk mengambil ancang-ancang.
Akhirnya saya coba kembali dari awal. Sangat kebetulan saya sudah menemukan tempat dimana saya bisa membeli rockwool. Jadi semua sekam bakar saya tiadakan dan ganti dengan rockwool. Saya menanam ulang. Kali ini saya bereksperimen dg beberapa jenis sayuran mix. Pakchoy, caisim, seledri, kangkung dan selada.
Saya memastikan semua aliran irigasi lancar. Tidak ada yang mampet. Pemupukan dengan pupuk cair hidroponik A&B saya lakukan dg disiplin seminggu sekali. Cahaya matahari juga optimal.

imageHasilnya ternyata lumayan. Tanamannya sehat dan lumayan subur. Hijau royo-royo. Saking hijau dan menggiurkannya, saat saya tinggal keluar kota,  si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah,  ternyata sudah memanen sayuran-sayuran itu tanpa memberi isyarat kepada saya terlebih dahulu. Walaupun umurnya belum mencapai 25 hari. Yaah…

image

Tapi nggak apa apalah. Saya tetap senang karena upaya saya menghasilkan cukup sayuran sehat dari halaman rumah sendiri berhasil dengan cukup baik. Dengan memanfaatkan halaman sempit hanya 1 x 1.5 meter saya bisa memanen setiap 25 – 30 hari sekali. Dengan memiliki Dapur Hidup begini, lumayan bisa sedikit mengirit uang belanja dapur. Betul nggak, teman-teman?
Selain itu dengan bertanam sayuran di halaman saya juga ikut memproduksi oksigen bagi lingkungan di sekitar saya..
Banyak untungnya ya…
Yuk kita bertanam sayuran di halaman! Kita ikut berpartisipasi dalam menghijaukan lingkungan tempat tinggal kita.