Tag Archives: History

Bangli: Sarcophagus Dukuh Prayu Bunutin.

Standard

Wisata Sejarah- Bangli.

Melihat ketertarikan saya akan benda peninggalan sejarah Sarcophagus yang berada di desa adat cekeng, Sulahan kecamatan Susut, di Bangli, Komang Karwijaya bercerita bahwa sebenarnya Sarcophagus tidak hanya ditemukan di desa Cekeng saja lho, tapi di beberapa desa yang lain juga di Bangli.  Salah satunya adalah di desa Bunutin. Tepatnya di Dukuh Prayu. Nah, barangkali diantara para pembaca ada yang sama dengan saya, yakni memiliki ketertarikan untuk melakukan wisata sejarah, yuk kita merapat ke dukuh Prayu di desa Bunutin, Bangli.

Tentu pertanyaan pertama saya adalah, sama nggak sih Sarcophagusnya? Karena kemungkinan besar sarcophagus-sarcophagus itu berasal dari kurun waktu yang sama,  kurang lebih sarcophagusnya serupa lah.  Tetapi saya mendapatkan keterangan yang sangat menarik juga tentang sarcophagus di dukuh Prayu ini.

Total sarcophagi ada 9 buah yang letaknya sesuai dengan mata angin.  Utara, Timur laut, Timur, Tenggara. Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut dan  di Tengah. Saya tidak mendapatkan informasi lebih jauh mengapa letaknya harus sedemikian rupa di sembilan arah mata angin?. Mirip posisi sembilan mata angin dari Dewata Nawa Sanga. Akan tetapi saya tidak yakin apakah ini ada kaitannya dengan Dewata Nawa Sanga, mengingat sarcophagi ini diduga sudah ada sejak jaman pra Hindu.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di dukuh Prayu,Bunutin, Bangli. Foto milik Komang Karwijaya.

Menurut keterangan sebagian besar sarcophagus-sarcophagus itu pada saat ini tertutup tanah dan di atasnya berdiri pura. Yang lumayan terbuka dari tutupan tanah adalah yang posisinya di Timur. Sarcophagus ini masih kelihatan menempel di dinding tanah. Barangkali karena saking tuanya telah tertimbun tanah entah dari bekas letusan gunung ataupun humus yang memadat. Yang jelas sebagian masih tertutup tanah.  Sarcophagus kelihatan cukup utuh. Masih terdiri atas  bagian bawah (palungan) dan penutup (lid).  Hanya saja ada lubang di tengahnya. Diduga barangkali karena jaman dulu orang-orang yang pertama kali menemukan tidak begitu paham apa itu sarcophagus lalu penasaran ingin tahu ada apa di dalamnya. Mereka mungkin menemukan ternyata ada sisa-sisa kerangka manusia beserta  pernak pernik bekal kuburnya. Lalu karena takut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, masyarakat lalu cenderung membiarkan sarcophagus itu tetap berada di tempatnya dan setengah tertutup tanah. Bahkan membuat pura kecil di dekatnya untuk melakukan upacara mendoakan roh sang pemilik sarcophagus.

Yang menarik, sama dengan sarcophagus yang di Cekeng, sarcophagus inipun memiliki tonjolan pintu di depannya dengan ukiran yang menyerupai kura-kura. Sayangnya tonjolan yang bagian bawahnya kelihatan sudah putus.

Sarcophagus yang di Timur Laut kondisinya memprihatinkan karena pecah. Barangkali karena kurangnya pemahaman masyarakat jaman dulu yang pertama kali menemukan benda bersejarah ini sebagai sarcophagus.

Berikutnya saya juga diinformasikan bahwa yang berada di Tenggara, penutupnya juga sudah tidak ada.  Hanya tinggal palungan bagian bawah yang sudah kosong. Karena kosong dan posisinya tengadah, serta berada di alam terbuka, tentunya pada musim hujan, sarcophagus ini menjadi tempat penampungan air. Konon jaman dulu masyarakat memanfaatkannya untuk air minum ternak babi, dengan harapan ternaknya cepat hamil dan beranak. Jadi dalam hal ini sarcophagus dikaitkan dengan pembawa kesuburan. Tidak mengherankan, karena di beberapa tempat keberadaan sarcophagus juga dikaitkan dengan kesuburan sawah dan tanaman ladang juga.

Kemudian sarcophagus lain yang juga menarik ceritanya adalah yang posisinya di utara. Konon jaman dulu dari mata kura-kura hiasan tombol sarcophagus ini keluar minyak. Nah, bagaimana penjelasannya – saya kurang paham. Tetapi tentunya itu semua sangat menarik untuk diteliti lebih jauh.

Nah, itu adalah informasi tentang sarcophagus-sarcophagus yang ada di dukuh Prayu, desa Bunutin di Bangli, Bali. Saya ingin sekali ke sana. Ingin sekali melihat langsung dari dekat. Sayang saat ini masih belum punya kesempatan.

Para pembaca yang barangkali sedang berada di Bali atau sedang merencanakan liburan di Bali, bisa memasukkan desa Bunutin di Bangli sebagai salah satu tujuan wisata. Agar mengenal Bali dengan lebih dekat lagi.

Yuk kita berkunjung ke Bangli!.Kita pelajari sejarah dan cintai tanah air kita!.

Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.

Klaten: Mengunjungi Candi Sewu.

Standard

Candi sewuDi areal Candi Prambanan, sebenarnya ada 3 buah candi lagi yang lebih kecil. Yakni Candi Bubrah, Candi Lumbung dan Candi Sewu. Ketiga-tiganya adalah Candi Budha. Seorang pengunjung mengatakan bahwa jarak ke candi-candi itu tidaklah seberapa jauh. Hanya beberapa ratus meter saja. Tapi karena udara sangat panas dan kaki saya mulai terasa letih, saya memutuskan untuk naik kereta keliling saja.  Akibatnya saya hanya bisa melihat candi-candi itu dari kejauhan saja.

Candi Bubrah saya yakin nama aslinya tentu bukan itu. Karena bubrah itu sendiri artinya adalah rusak. Mungkin karena candi itu ditemukan dalam keadaan rusak parah. Dan dari kejauhan saya juga melihat kondisi candi itu  memang sangat rusak parah. Saya hanya bisa memandangnya dengan rasa sedih. Demikian juga dengan Candi Lumbung. Saya lihat tinggal reruntuhannya saja. Barangkali karena tidak ada yang bisa dilihat, kereta tak berhenti di kedua candi itu. Hanya lewat saja.

Candi sewu 2Hanya ketika tiba di depan Candi Sewu kereta berhenti. Saya menyempatkan diri turun walau hanya sebentar. Candi Sewu  walaupun namanya seribu, menurut keterangan seorang bapak yang berdiri di dekat situ ternyata jumlah candinya bukan seribu lho, tapi 249 buah. Jadi hanya seperempat sewu dan bahkan kurang satu. Tapi sebenarnya 249 buah candi saja tentu sudah sangat banyak. Apalagi dalam keadaan runtuh. Barangkali lebih susah lagi menghitungnya, sehingga untuk mempercepat akhirnya orang mengatakan candi yang reruntuhannya banyak itu sebagai  Candi Sewu saja.

Saya ikut menguping penjelasan seorang ibu pemandu wisata yang duduk di sebelah saya. Ibu itu sedang mengantarkan tamu-tamu Jepang dan menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan  candi -candi di daerah itu.

Candi sewu 1Saya tidak berlama-lama di sana.  Mengamatinya dari pintu timur yang dijaga dua arca Dwarapala dikiri kanan. Pintu masuk candi ini sebenarnya ada di empat penjuru angin, timur, barat,selatan dan utara. Setiap pintu dijaga oleh masing-masing dua dwarapala.

Candi sewu 4Menurut keterangan jika keseluruhan candi-candi di kompleks Candi Sewu yang terdiri atas 249 candi itu tegak semuanya, maka detailnya terdiri atas 1 candi utama yang terletak di tengah-tengah. Lalu 8 buah candi penjuru yang terletak di 4 penjuru angin berpasang-pasangan. Dan sisanya terdiri atas 240 candi-candi prewara  yang membentuk 4 barisan yang terdiri atas 28 candi di baris pertama, 44 candi di baris ke dua dan 80 buah candi di baris ke tiga, serta 88 buah candi di barisan ke empat.  Sungguh besar kompleks candi ini.

Sekeluar dari sana , saya semakin merasa takjub akan kemegahan yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita. Peninggalan peningglannya menunjukkan kebesaran peradaban, teknologi, budaya dan spiritual yang tidak kalah dengan kemegahan peradaban bangsa di belahan bumi yang lain. Bahkan mungkin saja di jaman itu, peradaban kita relatif maju dibanding bangsa-bangsa lain. Sangat sayang, ketinggian peradaban itu sempat hilang entah karena bencana alam ataupun bencana perang. Dan kita keturunannya harus merangkak kembali dari bawah. Sedikit demi sedikit untuk mencapai ketinggian peradaban yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Semoga pemerintah bisa memugar kembali candi-candi itu dengan baik, secepatnya. Sehingga anak cucu kita tetap bisa menyaksikan kejayaan masa lampau. Jikadulu kita pernah bisa, mengapa tidak mungkin kita membangun peradaban yang lebih hebat lagi ke depannya?. Kita adalah bangsa yang mampu.

Yuk kita berkunjung ke Klaten!.

 

 

 

 

Sleman: Mengunjungi Candi Prambanan.

Standard

Candi PrambananMumpung ada di Yogyakarta saya berusaha mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengunjungi candi candi yang bertebaran di sekitar area itu.  Saya senang melihat-lihat dan mengenang kejayaan peradaban yang pernah dicapai oleh bangsa kita di masa lampau. Walaupun saat ini hanya reruntuhannya saja yang tersisa.

Saat itu sepulang dari kunjungan ke Istana Ratu Boko, saya tiba kembali di halaman Candi Prambanan sekitar pukul 10 pagi. Matahari bersinar kuat. Berjalan sedikit sudah cukup membuat saya berkeringat. Pengunjung cukup ramai pagi itu. Selain pengunjung umum, ada rombongan anak-anak sekolah yang diantar para guru. Lalu ada juga kesibukan orang orang  yang mempersiapkan kunjungan pejabat yang katanya akan datang siang ini. Saya melenggang ke halaman luar yang penuh dengan reruntuhan candi. Beberapa orang pekerja tampak sedang  sibuk merekonstruksi candi. Rasa trenyuh hati saya memandangnya. Terlebih ketika melihat gambar bagaimana dulunya bentuk dan susunan kompleks candi itu yang sedemikian besar  dan luas.

Berdiri di tengah-tengah reruntuhan candi ini, yang menurut keterangan harusnya berjumlah 240 candi, membuat saya sadar bahwa tempat ini sangat serupa dengan tempat – tempat suci di Bali. Pembangunan candi ini juga menerapkan concept Tri Mandala, yakni   nista, madya dan utama.

Di Nista Mandala yakni latar paling bawah yang luasnya 390 meter persegi tidak saya lihat ada bangunan apapun. hanya taman beserta tanaman.

Di Madya Mandala yang merupakan latar tengah ada  banyak reruntuhan candi candi kecil yang dianggap sebagai candi pengiring. Semuanya berada dalam keadaan runtuh. Menurut keterangan, candi-candi ini berjumlah 224 buah. Jika berdiri, candi-candi ini memiliki ukuran sama, yakni 4 meter persegi dengan tinggi 14 meter. Luas Madya Mandala adalah 222 meter persegi.

Candi Prambanan 5Di Utama Mandala  yang luasnya 110 meter persegi, berdiri Candi Tri Murti (Brahma,Wisnu Siwa) dengan Siwa sebagai fokus utamanya.  Candi Trimurti ini masing-masing didampingi dengan Candi Wahana, yakni Candi Nandi, candi Garuda dan Candi Angsa.  Kemudian ada  2 buah Candi Pengapit  yang berdiri diujung Selatan dan ujung Utara dari Utama Mandala ini. Di luar itu, ada lagi 8 candi kecil yang disebut dengan Candi Kelir yang berada di delapan penjuru mata angin.  Sungguh maha karya yang sangat indah dan besar. Saya merasa kagum dan sangat hormat kepada siapapun arsiteknya.

Saya hanya sempat masuk ke dalam Candi Siwa yang merupakan Candi Utama dari gususan Candi Prambanan ini. Om Namah Shiwaya. Pertama saya masuk dengan menaiki anak tangga ke ruang utama, di mana arca  Siwa Mahadewa  berdiri di sana.  Dalam Hindu, Siwa Mahadewa adalah sinar suci  dari Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai penguasa alam semesta dan perubahan dan pelebur agar semuanya bisa kembali ke asalnya dalam semesta. Arca ini menghadap ke timur, berseberangan pintu dengan Candi Nandi. Di bagian ruang utara dari Candi Siwa ini saya  melihat arca Durga  yang di dalam Hindu merupakan  sakti dari Siwa yang menguasai kematian. Lalu di bagian ruang barat saya melihat arca Ganesha, yang juga turunan Siwa yang merupakan manifestasi  Tuhan Yang Maha Esa dalam menguasai  segala kesulitan. Orang-orang memuja Tuhan Yang Maha Esa melalui Ganesha dalam memohon agar terhindarkan dari segala aral yang melintang. Dan di ruang yang terakhir yang menghadap ke selatan saya melihat arca Siwa Maha Guru  manifestasi Tuhan Yang maha Esa dalam menguasai segala wahyu dan pengetahuan. Pada intinya Candi utama ini adalah pemujaan Umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam  manifestasinya sebagai Siwa.

Jika kita melakukan pradaksina, yaitu berdoa sambil mengelilingi candi  searah jarum jam,  kita akan  bisa mengamati relief pada candi yang bercerita tentang kisah Ramayana.  Kita juga bisa melihat pemandangan kemegahan candi candi Brahma, Wisnu dan candi candi wahana serta candi apit yang indah dari Candi Siwa. Sungguh maha karya yang luar biasa. Menurut catatan sejarah, candi ini berdiri pada abad ke IX. Didirikan oleh raja raja Dinasti Sanjaya yakni Rakai Pikatan dan diteruskan oleh Rakai Belitung pada tahun 856 Masehi-sesuai dengan prasasti Ciwagraha.

Candi Prambanan 11Buat saya, kunjungan saya kali ini ke Prambanan memberikan kesempatan bagi diri saya untuk mengenang kembali serta menghargai karya seni dan spititual yang merupakan  refleksi kejayaan peradaban yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita. Senang mengingat pelajaran sejarah kembali.

Yuk kita berkunjung ke Jawa Tengah! Kita cintai tanah air kita.

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung II.

Standard

Selain relief yang menggambarkan Sumpah Amukti Palapa, di dinding belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat daftar Raja-Raja Majapahit. Saya mencoba membaca daftar itu walaupun agak susah, karena jenis font yang dipakai agak keriting selain juga karena hari mulai gelap.

Raja-Raja MajapahitMelihat daftar para raja beserta tahun pemerintahannya, kita jadi tahu bahwa Kerajaan Majapahit berdiri selama nyaris 200 tahun. Tepatnya 193 tahun, sejak pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya (1294), hingga runtuhnya di tangan Prabhu Girinderawardhana (1487). Lama juga ya umur negara itu. Indonesia sendiri baru berumur 70 pada tahun ini. Masih dibutuhkan 123 tahun lagi agar minimal bisa meyamai panjangnya umur negara Majapahit. Dan tentunya kita semua berharap agar Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan bisa melebihi Majapahit. Lalu mengapa negara yang sedemikian besar dan sedemikian lama eksistensinya di Nusantara ini akhirnya bisa runtuh?

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Di daftar ini, sepintas lalu semua kelihatan sangat rapi. Namun jika kita tilik lebih jauh, dan pelajari kembali sejarah, di balik kejayaannya, pemerintahan kerajaan Majapahit ini sebenarnya juga tidak mulus-mulus amat.  Dihiasi dengan banyak pemberontakan, mulai dari Ra Kuti, Semi, hingga Ronggolawe. Juga dipenuhi dengan intrik-intrik politik dalam keluarga. Memperebutkan tahta dan kekuasaan, terutama sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan antara tahun 1453-1456, sempat terjadi kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Nah apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari sini?

Ketika Ego dan Keserakahan mengalahkan rasa Persaudaraan dan Kepedulian pada orang lain, maka ketika itu juga kemampuan manusia untuk berjalan ke arah kejayaan akan memudar. Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaannya. Para pendongkel sibuk berusaha merebut kekuasaan. Mereka saling menjatuhkan. Lupa bagaimana cara mengelola negara dengan baik. Lupa memikirkan kesejahteraan rakyat. Perang dan pemberontakan tak terhindarkan. Negara menjadi lemah. Rakyat menderita. Negara yang lemah, dengan sendirinya sangat mudah diguncang dan runtuh.

Hari semakin gelap. Saya tidak mampu lagi membaca. Penjaga pendopo mengajak kami ke bagian belakang Pendopo.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Di sana ada sebuah batu tempat menambatkan gajah tunggangan kerajaan. Konon batu itu sangat kuat tertancap ke tanah, sehingga bahkan tenaga gajahpun tak mampu menariknya.

Petilasan Raden Wijaya.

Di balik tembok belakang Pendopo Agung itu ada sebuah pintu. Saya melongokkan kepala saya ingin tahu. Oops! Alangkah terkejutnya saya. Waduuuh! Kuburan!. Rupanya itu tempat pemakaman. Sebuah pohon besar tampak menaungi. Ada jalan kecil membelah tempat pemakaman itu menuju sebuah bangunan kecil mirip rumah penjaga kuburan. Saya tertegun dan menghentikan langkah saya seketika.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan.Terus terang saya merasa gentar juga. Demikian juga kelihatannya ke dua teman saya. Mana malam sudah mulai turun pula. Suasana gelap remang-remang. Sekarang saya mulai meratapi keingin-tahuan saya yang terlalu besar, yang mengantarkan saya nyasar ke tempat seperti ini. Tapi sebagai orang yang tertua diantara mereka, dan yang juga memberi ide untuk bermain ke Trowulan adalah saya sendiri, mau tidak mau terpaksa saya menggagah-gagahkan diri saya agar tidak kelihatan takut di depan mereka. Jika saya menunjukkan rasa takut, pasti mereka berdua akan segera lari terbirit-birit. Jadi saya harus kelihatan setenang mungkin.

Tempat apa ini?” tanya saya kepada penjaga Pendopo. “Petilasan Raden Wijaya. Silakan ke sana” jawab bapak penjaga. Entah kenapa saya merasa kalau orang yang ada di dalam bangunan kecil itu sudah tahu, melihat dan menunggu kedatangan saya. Tentu tidak sopan jika saya menolak masuk dan kabur begitu saja. Sekarang saya tidak punya pilihan selain harus lanjut berjalan dan melawan rasa takut saya. Sayapun berjingkat di jalan kecil di bawah pohon yang kelihatan angker dengan makam di kiri-kanannya itu. Kedua teman saya mengikuti dari belakang dengan ragu.

Panggung.

Di depan gerbangnya ada tulisan.”Panggung. Tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya. Tempat Pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Patih Gajah Mada“. Saya berhenti sejenak. Dari sana saya lalu mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam yang mempersilakan saya masuk. Saya dan teman-teman sayapun masuk.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Di dalam ada seorang pria yang kelihatan masih muda duduk di lantai dan menyapa kami. Wajahnya kelihatan tenang dan tampan di bawah sinar lampu kecil.  Beliau memperkenalkan diri sebagai pemelihara tempat itu. Sayangnya saya tidak mampu mengingat nama beliau. Saya menjelaskan perihal diri saya apa adanya. Bahwa beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di Kompas tentang situs Kerajaan Majapahit dan sangat tertarik ingin tahu dan melihat sendiri situs-situs itu, tapi baru bisa datang berkunjung hari ini. Pria itu berkata bahwa tidak ada orang yang datang ke tempat itu jika tidak ada yang menuntunnya ke sana. Jika niat itu sudah lama dan ternyata baru bisa datang hari ini, ya itu artinya bahwa jodohnya memang hari ini. Semuanya sudah atas petunjukNya. Entah karena ucapannya itu atau karena suaranya yang rendah dan lambat, saya menjadi semakin ngeper.

Tapi beberapa saat kemudian saya mulai berhasil menguasai ketakutan saya. Saya lalu diberi penjelasan bahwa tempat ini adalah petilasan dari Raden Wijaya. Petilasan adalah tempat dimana Raden Wijaya melakukan tapa semadhi dan mendapatkan inspirasinya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Bukan makam Raden Wijaya. Raden Wijaya tidak dimakamkan, karena beliau adalah penganut agama Hindu Ciwa-Budha yang tentu jasadnya dibakar (diaben/diperabukan) dengan maksud mengembalikan Atma (rohnya) kepada Sang Pencipta, sementara unsur-unsur pembentuk badan kasarnya dikembalikan ke alam (Panca Maha Butha – kembali ke air, ke tanah, ke api, ke udara dan ke cahaya). Jadi tidak ada makamnya. Saya sependapat dengannya.

Namun karena keturunan beliau sangat banyak dan saat ini tidak semuanya menganut agama Hindu-Ciwa, karena sebagian diantaranya ada yang kemudian memeluk agama lain dan ingin melakukan ziarah ke leluhurnya, sementara beliau sendiri tidak punya makam. Maka dibuatkanlah maqom (bukan makam) di tempat itu, sebagai tempat berziarah.

Sedangkan makam-makam yang banyak bertebaran di sekitar tempat itu adalah makam-makam penduduk dari generasi belakangan. Paling banter baru sekitar seratusan tahun umurnya.  Bukan dari generasi Majapahit – demikian penjelasannya.

Selain itu saya juga dijelaskan bahwa di tempat ini dahulunya juga merupakan panggung tempat di mana Maha  Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa-nya yang sangat terkenal itu.

Ponco Waliko

Pria itu bercerita panjang dan lebar tentang Raden Wijaya , Gajah Mada dan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Saya mendengarkan dengan takzim. Saya juga dijelaskan tentang tuntunan hidup dari jaman Majapahit yang disebut dengan PONCO WALIKO seperti yang tertera di dinding itu  yang isinya:

1/. Kudu trisno marang sepadaning urip (Harus mencintai sesama mahluk hidup)

2/.Ora pareng nerak wewalering negara (Tidak boleh melanggar hukum negara)

3/. Ora pareng milik sing dudu semestine (Tidak boleh menguasai yang bukan hak miliknya).

4/.Ora pareng sepata nyepatani (Tidak boleh saling menghujat)

5/. Ora pareng cidra hing ubaya ( Tidak boleh melanggar janji).

Petuah hidup yang sangat baik. Jika semua orang di dunia ini berlaku seperti apa yang diajarkan Ponco Waliko itu, tentu dunia akan jauh lebih tenteram dan damai. Semoga kita semua bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Teman saya memberi saya kode kalau kami harus segera ke Surabaya agar tidak ketinggalan pesawat. Saya mencari celah agar bisa memohon pamit dengan sopan  tanpa harus memotong pembicaraan pria itu.  Saya mengucapkan terimakasih atas obrolan dan kesediaannya menerima kedatangan kami.

Sebenarnya, masih banyak  yang ingin saya lihat, dengar dan ketahui tentang Kerajaan Majapahit. Banyak yang belum saya lihat. Namun sayang saya datang sudah terlalu sore. Sudah gelap. Sehingga membuat kunjungan sangat terburu-buru . Baru sempat mengunjungi Pendopo Agung Trowulan itu saja. Suatu saat jika saya memiliki kesempatan, saya ingin datang berkunjung kembali untuk melihat situs-situs Majapahit yang lain.

 

 

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung – I.

Standard

Pendopo Agung

Beberapa tahun  yang lalu sebuah artikel di harian Kompas menceritakan tentang penggalian situs yang diduga bekas istana Majapahit di Trowulan. Saya sangat tertarik dengan tulisan itu. Dan memendam keinginan untuk bisa bermain ke sana dan melihat sendiri situs-situs peninggalan kerajaan terbesar di Nusantara itu. Sayang hingga berapa tahun berlalu, niat saya belum juga kesampaian.

Sekembalinya dari Gunung Bromo, saya punya sedikit waktu untuk bermain ke Trowulan di Mojokerto. Jalanan agak macet. Perjalanan dari Probolinggo ke Mojokerto memakan waktu lebih lama daris eharusnya. Sehingga kami baru bisa mencapai Trowulan pukul lima sore. Museum Majapahit sudah tutup. Mencoba mencari tahu di mana persisnya lokasi penggalian situs yang diduga istana itu, sayangnya bolak balik nanya ke penduduk setempat tidak ada yang tahu persis. Pak sopir jadi muter-muter karena informasi berbeda-beda yang kami terima. Sementara hari semakin sore dan saya khawatir gelap malam akan segera tiba. Akhirnya seseorang memberi tahu kami sebaiknya kami berkunjung ke Pendopo Agung saja. Daripada tidak ada situs yang berhasil kami kunjungi hari itu, akhirnya kami pun ke sana.

Petugas yang berjaga di pintu depan Pendopo Agung menemani kami masuk. Pendopo itu adalah bangunan terbuka tanpa dinding. Mirip bangunan bale banjar kalau di Bali. Saya mencoba menerka-nerka, bangunan apakah sebenarnya ini? Terlihat sangat modern dan jauuuuuuuh  sekali dari kesan bahwa itu adalah salah satu situs peninggalan Majapahit. Tidak terlihat bangunan batu bata merah khas Majapahit seperti yang terlihat di photo-photo. Saya dijelaskan bahwa areal itu sekarang merupakan property yang dibangun dan dikelola oleh TNI. Itulah sebabnya mengapa terlihat baru dan modern.

 

Maha Patih Gajah MadaMaha Patih Gajah Mada.

Begitu memasuki halaman depan, kita akan melihat sebuah arca Maha Patih Gajah Mada yang  juga terlihat sangat baru,  dipersembahkan oleh Corps Polisi Militer tahun 1986. Walaupun hati saya  agak kecewa melihat tingkat ke’baru’annya, namun sedikitnya saya terhibur bisa diajak mengenang kembali kebesaran cita-cita dan upaya sang Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya itu dalam menyatukan Nusantara. Sebuah cita-cita yang memang selayaknya tetap kita junjung sebagai bagsa Indonesia.

Raden Wijaya

Raden Wijaya Dan Resiliensi Manusia.

Di depan pendopo tampak berdiri sebuah arca baru perwujudan dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Terus terang, melihat arca itu membuat pikiran saya berlari pesat ke pelajaran sejarah yang dijelaskan oleh Pak Wayan Suta , guru saya saat kelas IV SD.  Apa yang berkecamuk dalam pikiran Raden Wijaya sebagai sang menantu Prabu Kerthanegara – raja Singasari terakhir ketika kerajaan Singasari diserang dan dihancurkan habis oleh Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang? Walaupun pasukannya sendiri menang di utara, tetapi sang prabu dan istananya telah hancur diserang dari arah selatan. Tentu beliau sangat kecewa, lelah dan sedih. Namun apakah beliau berputus asa? Tidak! sama sekali tidak!. Yang jelas beliau tetap semangat. Tetap mencari jalan keluar. Dengan bantuan sahabatnya Arya Wiraraja, sang Bupati Sumenep, beliau kembali menyusun strategy-nya dengan baik. Mencari jalan keluar yang lebih baik dan bahkan berhasil membangun  kerajaan baru, yakni Kerajaan Majapahit yang justru jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kerajaan Singasari sebelumnya.

Guru saya satu itu memang sangat jago bercerita sejarah. Sehingga ketika beliau mengajar, rasanya saya seperti ikut berada di sana. Ikut saat Raden Wijaya terlunta-lunta di dalam hutan, mencari bantuan Arya Wiraraja lalu masuk dan membangun wilayah hutan Tarik.

Saya menundukkan kepala saya. Memberikan penghormatan saya yang tertinggi terhadap Resiliensi yang beliau miliki. Kemampuan yang sangat sangat tinggi dari seorang anak manusia untuk keluar dari permasalahan yang terjadi, menata dirinya kembali, jalan pikirannya, kata-kata serta langkah-langkah yang beliau ambil  untuk akhirnya memenangkan pertarungan dalam kehidupan. Keluar dari kekisruhan Singasari dan membangun kejayaan Majapahit!.

Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah  Mada menyatakan sumpahnya

Sumpah Amukti Palapa.

Di bagian belakang pendopo terdapat dinding dengan relief yang menggambarkan peristiwa pengambilan “Sumpah Amukti Palapa” yang sangat terkenal itu diucapkan oleh Gajah Mada pada saat beliau diangkat sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit. Saya melihat ke relief itu dan membaca kalimat sumpah itu dalam keremangan senja.

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjung Pura,  ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Artinya kira-kira begini:  Jika Nusantara masih kalah, saya akan amukti palapa. Jika kalah di Gurun, di Seran, di Tanjung Pura, di Haru, di Pahang, Dompo, di Bali, Sunda,Palembang, Tumasik, selamanya saya akan amukti palapa.

Saya tidak tahu persis apa artinya “Amukti Palapa” karena sebagian orang menterjemahkannya sebagai “puasa memakan buah palapa”, sebagian lagi mengatakan “puasa istirahat & tidak mengambil cuti kerja”. Sementara guru saya waktu kelas IV SD  menjelaskan bahwa palapa = rebung bambu muda, yang konon merupakan makanan enak pada jaman dulu.  Sehingga Amukti Palapa arti literalnya adalah “puasa memakan rebung bambu” namun makna sesungguhnya adalah “Puasa dalam menikmati kenikmatan duniawi (tidak makan enak/tidak bersenang-senang/tidak berplesir- ria/tidak berhura-hura, dsb)”. Saya sendiri cenderung mengikuti penjelasan dari bapak Guru saya itu.

Namun demikian, sedikit perbedaan pemahaman buat saya tidak jadi masalah, karena pada prinisipnya semua kita paham bahwa Maha patih dari kerajaan majapahit ini telah bersumpah tidak akan bersenang-senang sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Membaca Sumpah yang tertera di dinding itu membuat saya merinding. Darah terasa mengalir sangat cepat. Gajah Mada telah menunjukkan kepada kita bahwa sebuah tekad dalam menentukan cita-cita yang tinggi dan dengan penuh ketekunan melaksanakn apa yang seharusnya dilakukan akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tidak terbayang betapa besar kerja keras yang harus dilakukan untuk menyatukan Nusantara pada jaman itu, namun Maha Patih Gajah Mada  menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan dengan keteguhan hati. Dan beliau berhasil!.

Rasanya saya sangat kagum dan terharu memikirkan ini. Gajah Mada dan kebulatan tekadnya. Majapahit yang jaya. Nusantara yang bersatu dan kuat. Semoga Indonesia tetap bersatu dan semakin jaya.

Adakah yang lebih baik dilakukan oleh seorang anak bangsa daripada mempelajari sejarah leluhurnya dan mengambil intisari pelajaran darinya dan berusaha menggunakannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari?

Yuk kita pelajari sejarah kita dan cintai tanah air dan bangsa kita!.

 

 

Malang: Mengunjungi Candi Singosari.

Standard
photo milik Wasti Priandjani.

photo milik Wasti Priandjani.

Masih ingat tentang Kerajaan Singosari dan pendirinya? Ken Arok beserta istrinya yang sangat cantik Ken Dedes yang berhasil direbutnya dari Tunggul Ametung, Sang Akuwu Tumapel ?. Salah satu topik pelajaran Sejarah yang paling menarik bagi saya adalah tentang Kerajaan  Kediri, Kerajaan Singosari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Saya masih ingat bagaimana gaya Pak Wayan Suta, guru saya waktu di kelas IV SD saat menceritakan Empu Gandring dan kerisnya beserta malapetaka yang terjadi akibat intrik kekuasaan itu.

Demikianlah ketika minggu lalu saya ada urusan di Malang, dengan sengaja saya memperpanjang keberadaan saya di kota itu agar bisa menyempatkan diri berkunjung ke Candi Singosari. Walaupun hanya sejenak. Guna melihat dari dekat jejak-jejak nyata yang ditinggalkan oleh kerajaan itu dan yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang.

Candi Singosari, terletak di Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ketika masuk ke halamannya, saya melihat banyak sekali arca dan batu-batu  yang berserakan dan semuanya tidak dalam keadaan utuh. Menurut keterangan yang saya dapatkan, dahulunya tempat itu merupakan kompleks candi yang sangat luas yang terdiri atas 7 candi yang penuh dengan arca. Dimana candi yang tersisa yang masih bisa kita lihat sekarang itu (yang kita kenal dengan nama Candi Singosari) hanyalah salah satu dari 7 candi itu. Sisanya yang enam sudah rusak dan pecahan arca-arca yang kita lihat  di halaman candi itu dikumpulkan dari reruntuhan candi yang rusak tersebut.  Bukan hanya itu, beberapa arca yang ada di dalam ruangan-ruangan candi yang utuh itu pun sudah diangkut pula ke Belanda. Yang tertinggal hanya sebuah arca Ciwa Mahaguru di ruang sisi selatan. Sangat disayangkan.

Jika ditilik dari keadaan banguan dan ukirannya, candi itu sebenarnya adalah candi yang belum tuntas dibangun keburu hancur (tepatnya dihancurkan) sebelum bangunan itu selesai. Besar kemungkinan pengrusakan itu terjadi pada saat Jayakatwang menyerang Prabu Kertanegara, raja terakhir Singosari.  Serangan yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Singosari pada tahun 1292. Hal itu terbukti dari ukiran yang baru rampung pada bagian atas, namun belum tuntas pada bagian tengah dan bawahnya. Juga menurut keterangan penjaga, arca-arca yang rusak, hancur terpenggal kepala dan tubuhnya, menunjukkan bahwa itu adalah bekas pengrusakan manusia. Bukan bencana alam ataupun aus karena waktu.

Reruntuhan candi ini secara akademis dilaporkan keberadaannya pertama kali pada tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard, lalu direstorasi oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1934 dan pemugaran selesai pada tahun 1937.

Ciwa Maha Guru

Ciwa Maha Guru

Ketika saya mendengar ada 2 pendapat yang berbeda tentang apakah Candi Singosari itu merupakan tempat pemujaan atau makam dari Prabu Kertanegara? Setelah melihat tempat itu dan membaca keterangan yang ada, saya sendiri berpendapat bahwa candi itu tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Ciwa. Ada banyak arca  yang berkaitan dengan Ciwa (Yang utuh sudah diangkut ke Belanda). Misalnya arca Ciwa Bairawa yang awalnya ada di ruang utama, lalu Durga yang awalnya ada di ruang sisi utara, lalu Ganesha yang tadinya ada di ruang sisi timur. Lalu di ruang sisi sebelah selatan ada arca Ciwa Mahaguru. Termasuk juga sebuah arca Parwati yang diletakkan berseberangan dengan pintu ruang utama candi.  Menurut saya semua arca itu ada kaitannya dengan Ciwa. Arca -arca itu digunakan untuk membantu umat memusatkan pikiran saat berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Ciwa, sang maha pelebur.

Jadi menurut hemat saya yang awam ini, candi  itu bukan makam sang prabu.

Selain itu , mengingat juga bahwa beliau adalah penganut  Hindu/Ciwa-Budha yang tentu jasadnya tidak dimakamkan namun dibakar dan abunya biasanya dikembalikan ke air, misalnya dihanyutkan ke sungai atau dilarung ke laut. Kalaupun ada kalimat dalam Kitab Pararaton yang mengatakan ” Cri Ciwabudha dhinarma ring Tumapel, bhisekaning dharma ring Purwapatapan”  menurut saya pribadi, itu hanya penjelasan bahwa pedharman -tempat keturunannya melakukan doa dan upacara penghormatan kepada Sang Prabu Kertanegara (Cri Ciwabudha) – adanya di sebuah tempat yang bernama Purwapatapan (Pertapaan Timur). Nah di manakah letak Purwapatapan itu? Apakah sama dengan Candi Singosari? Bisa jadi itu dua tempat yang berbeda. Kalaupun ternyata tempat yang sama, saya pikir itu tidak membuat Candi Singosari kehilangan fungsinya sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa.

Candi Singhasari

Kembali jika kita amat-amati bentuk candi ini, rasanya memang sangat menyedihkan. Karena walaupun sudah dipugar, candi ini sebenarnya tidak utuh. Bagian dasar candi (batur) terlihat lumayan utuh, demikian juga pada bagian kaki candi yang tinggi dan langsing, dimana  terdapat ruangan-ruangan dan awalnya ditempatkan arca-arca yang berkaitan dengan Ciwa. Walaupun saat ini hanya tersisa satu arca saja di ruangan selatan, tapi secara umum kondisi kaki candi terlihat utuh. Bagian tubuh dan atap candi banyak mengalami kerusakan.

Saat akan pulang, kembali saya harus melintasi halaman candi. Di sana tampak kondisi batu-batu yang mengenaskan. Berikut adalah beberapa diantaranya.

Arca Dewi Parwati

Arca Dewi Parwati

Di atas adalah arca Dewi Parwati yang tidak utuh. Saya tidak jelas apakah memang karena belum tuntas atau memang begini karena rusak.  Di sini diperlihatkan Dewi Parwati dalam posisi berdiri tegak (Samabhangga) dengan sikap tangan Ciwa Lingga Mudra (jari tangan kanan mengepal dengan ibu jari ke atas, di atas tangan kiri yang terbuka).

Arca Ken Dedes & Tunggul Ametung

Arca ini sudah tidak terlihat bentuknya.  Yang utuh hanya alasnya saja yang disebut dengan asana yang berbetuk bunga teratai (padmasana) dan dinding penyangganya.Warna batunya beda sendiri. Merah. Kelihatan seperti bukan berasal dari tempat yang sama. Menurut penjaga, itu adalah arca Ken Dedes dan Tunggul Ametung suaminya yang Akuwu di Tumapel.

Arca Ken Dedes

Arca Ken Dedes

Ini adalah arca seorang dewi yang oleh penjaga disebut dengan Prajna paramitha atau  sering juga dianggap sebagi perwujudan Ken Dedes. Arca ini merupakan arca yang sama dengan arca yang sempat di bawa ke Belanda dan akhirnya dikembalikan ke Museum Nasional Indonesia.

Sebenarnya masih banyak lagi arca-arca lainnya yang kondisinya sudah rusak di sana. Sayang sekali.