Tag Archives: ibu rumah tangga

Rahasia Si Mbak, Bumbu Instant dan Peradaban Manusia.

Standard

Hingga remaja, saya bukanlah tukang masak yang handal. Setelah menikah, saya mulai belajar memasak, dengan tujuan agar suami dan anak-anak bisa makan dengan enak dan nyaman di rumah. Tetapi karena kesibukan dan keterbatasan waktu, belakangan tugas memasak di rumah lebih sering diambil alih oleh si Mbak yang membantu di rumah. Saya hanya sekali sekali saja ke dapur jika ada waktu.

Nah…saya mau cerita sedikit nih tentang urusan masak memasak.

Saya dan suami memiliki selera makan yang berbeda. Tapi sebagai istri, saya berusaha belajar memasak makanan kesukaan suami seperti sayur asem, sayur lodeh, pepes oncom, dsb, di luar upaya saya memperkenalkan juga masakan Bali seperti pelecing kangkung, sate lilit, ayam sisit, dsb di lidahnya. Di luar itu, anak-anak ternyata lebih menyukai masakan modern seperti European food atau Japanese food.

Sebenarnya tidak seruwet yang dibayangkan. Karena di luar itu ada juga jenis masakan yang kami semua menyukainya. Misalnya nasi goreng, bihun goreng, telor dadar, perkedel kentang dan sebagainya.

Jadi perbedaan selera makan itu tak menjadi halangan buat saya. Justru memicu saya untuk terus belajar banyak resep masakan, dan mengenal berbagai jenis bumbu seperti bawang merah putih, bombay, cabe, sereh, lengkuas, kunyit, limau, kencur, jahe, pala, ketumbar, lada, seledri, asem, jinten, kemiri, salam, terasi, kayu manis dan sebagainya serta takarannya, juga termasuk bumbu dapur lain seperti rosemary, parsley, sage, thyme, oregano, wansui, wasabi dan sebagainya. Jika perlu tanaman bumbu itu saya tanam di rumah.

Yang paling penting dari proses memasak adalah di tahap persiapan. Membersihkan bahan dan bumbu, memotong, mengulek dan mencampur. Karena jika tak tahu resep, atau takaran bumbunya kurang tepat, tentu rasa masakan akan jadi amburadul. Karena itu biasanya saya luangkan waktu lebih di stage persiapan ini. Menurut saya, memasak yang benar itu sungguh butuh waktu.

Nah…bagaimana jika tugas masak memasak ini dihibahkan kepada pembantu rumah tangga?.

Sejak tinggal di rumah yang saya tempati sekarang, banyak pembantu rumah tangga yang pernah tinggal silih berganti di sini. Dengan ragam kemampuan memasak yang berbeda. Ada yang berbakat memasak dari sononya, ada yang sudah berpengalaman masak dari tempat bekerja sebelumnya, ada yang belum bisa masak, ada yang sama sekali tidak berbakat memasak.

Pembantu rumah tangga terakhir yang bekerja di rumah saya termasuk pintar memasak. Masakannya tergolong enak dan mudah diterima di lidah. Jika saya ajarkan resep masakan baru, dengan cukup cepat ia bisa mengcopynya. Walaupun kadang-kadang kwalitas masakannya juga menurun jika ia telah melakukan berulang-ulang. Misalnya membuat klapper tart, aslinya empuk lama lama menjadi keras. Belakangan saya tahu, penurunan kwalitas itu disebabkan karena ia merubah komposisi bahan dan skipping satu langkah penting dari proses memasak itu dengan tujuan biar cepat selesai.

Tapi ada jenis jenis masakan tertentu yang ia bisa masak dengan cita rasa yang konsisten enak dari waktu ke waktu dan bisa ia hidangkan dalam waktu yang relative singkat juga. Misalnya ayam goreng, nasi goreng, soto ayam, sayur asem dan sebagainya. Untuk hal ini saya harus acungkan jempol lah ya. Karena kita perlu memuji seseorang jika memang pekerjaannya bagus.

Suatu hari apes nasib saya, si Mbak ini confirm bilang mau keluar setelah mengambil cuti beberapa hari. Dan ia meminta saya untuk mencari penggantinya. Ya sudahlah. Karena mencari pengganti juga tidak mudah, maka selama itu saya kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam keluarga di sela sela kesibukan kantor. Kadang kadang saya beli lauk juga kalau sudah kepepet atau kelelahan dari kantor.

Saat

memeriksa dapur saya menemukan beberapa bungkus bumbu instan. Ada yang masih utuh, ada yang sudah terpakai setengahnya. Ada bumbu ayam, bumbu soto ayam. … wah bumbu nasi goreng juga ada. Semuanya instant. Nggak perlu mikir-mikir berapa banyak tajaran bawang merahnya, bawang putihnya, atau jahenya.

Hmm…. saya mengamatinya. Jadi??????? Selama ini si Mbak yang pinter masak itu rupanya banyak menggunakan bumbu instant ya?. Jadi ini to rahasianya?. Mengapa ya saya tidak ngeh sama sekali. Kalau ke dapur, apa saja yang saya lihat ya? Kok saya belum pernah memperhatikan adanya bumbu-bumbu instant ini?. Pantesan saja rasa masakannya konsisten terus dari waktu ke waktu.

Sebenarnya sudah lama saya tahu tentang bumbu bumbu instant ini dari supermarket atau minimarket. Tapi selama ini saya tak pernah nelirik apalagi membeli. Karena saya lebih yakin akan kesehatan bahan bumbu yang segar, yang diulek sendiri apalagi yang dipetik sendiri dari kebun. Jadi jauh sekalilah pikiran saya untuk menggunakan bumbu bumbu instant ini di dapur saya.

Tapi sekarang?

Saya melihat ke kemasan-kemasan bumbu instant itu dengan hati yang galau.Rasanya sedang berada di persimpangan. Apakah saya perlu menggunakan bumbu bumbu instant ini untuk menolong hidup saya? Atau justru menolaknya karena saya tidak yakin akan dampak baik jangka panjangnya bagi kesehatan anak-anak saya.

Saya adalah wanita bekerja yang sesungguhnya tidak punya kemewahan waktu untuk berlama- lama mempersiapkan bumbu di dapur. Bukankah penemuan ini akan membantu saya untuk menyiapkan masakan dengan lebih cepat?. Jadi saya bisa lebih cepat di dapur & lebih cepat berangkat ke kantor.

Dan bumbu instant begini juga akan menolong para wanita yang tidak menguasai resep masakan jadi bisa memasak tanpa was-was suami akan suka rasanya atau tidak. Sudah tentu bumbu instant itu formulanya diracik oleh ahli masak. Jadi jangan takut tidak bisa memasak.

Tapi di satu sisi, begitu memikirkan ingredientnya, rasanya hati saya mulai mengkeret juga. Bumbu instant ini sudah pasti mengandung preservative. Jika tidak, bagaimana mengawetkannya ? Lalu apa ya dampak jangka panjangnya jika kita menelan preservative terus menerus dalam jangka waktu panjang? Juga mengandung penguat rasa, pwrasa sintetik, pengatur keasaman dan sebagainya. Tega kah saya menberikan ini dalam jangka waktu panjang untuk keluarga saya, untuk orang-orang yang saya cintai?.

Hal lain yang juga melintas di kepala saya tiba tiba adalah, bumbu instant ini nantinya akan sangat memanjakan wanita. Dengan adanya Bumbu instant ini, lama-lama mungkin juga membuat kita akan lupa pada resep resep masakan traditional. Karena tak perlu kita tahu lagi. Seseorang sudah meresepkan dan menyiapkannya. Cukup beli di supermarket dan tersaji eh dengan cepat di meja makan. Jadi untuk apa tahu resepnya?. Lama lama resep masakan akan punah dan hanya dikuasai oleh kaum industri saja.

Ini mirip dengan kalkulator yang membuat kecepatan otak kita berhitung melambat, melemah atau bahkan berhenti. Ketika kita sudah terlalu tergantung pada mesin hitung, kita tak mampu lagi bahkan menghitung tambah- kurang -kali -bagi dalam hitungan detik seperti dulu sering dilombakan oleh guru kita di sekolah dasar.

Hasil peradaban yang sangat jelas membantu manusia untuk menghadapi jaman, tetapi di sisi lain tanpa sadar juga menumpulkan kemampuan lain dari diri manusia.

Sungguh buah si malakama. Saya jadi mikir, jika suatu saat (bahkan sekarang) ketika manusia sudah sedemikian tergantungnya pada produk-produk hasil peradaban, dan tiba-tiba sebuah gangguan system membuatnya tak bisa dipakai lagi…. apakah manusia masih bisa exist? Ataukah species manusia akan jadi lumpuh dan punah pada akhirnya? Whua… pikiran yang kepanjangan.

* catatan siang bolong dari sudut dapur seorang ibu rumah tangga bekerja.

Advertisements

Kisah Selembar Kain Songket Dan Pelajarannya.

Standard

Saya sedang merapikan isi lemari dan menemukan selembar kain songket lama yang kusam dan mbleber warnanya. Melihat kain itu, Songket Yang Lunturkenangan lama seketika muncul ke permukaan kepala saya.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Bali, kakak perempuan saya menghadiahkan selembar kain songket. Kain songket berwarna ungu buah manggis dengan tenunan benang emas yang cemerlang bervariasi benang katun berwarna yang cukup renyep. Walaupun sangat jarang berpakaian adat, namun saya menyukainya. Buat jaga-jaga siapa tahu ada undangan, rasanya perlu juga mempunyai selembar kain adat itu. Setelah berterimakasih atas kebaikan hati kakak saya, maka songket itu pun saya bawa ke Jakarta.

Suatu kali saya benar-benar punya kesempatan untuk menggunakan kain itu. Seorang teman menikah. Sepulangnya dari kondangan, maka saya berganti pakain. Saya ingat ajaran ibu saya bahwa kain songket tidak boleh dicuci. Hanya boleh dijemur atau diangin-angin saja. Biar tidak lembab dan tiddak meninggalkan sisa keringat. Mengingat pesan itu dan mempertimbangkan hari yang sudah malam, maka sayapun hanya membentangkan kain songket itu di tempat jemuran. Besok saya tidak akan sempat melakukannya karena harus ke kantor pagi-pagi. Kebetulan Si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga juga tidak menginap di rumah saya. Ia hanya datang pagi (kadang agak siang) dan pulang kembali di sore hari. Setidaknya jika saya bentangkan di tempat jemuran, Si Mbak besok tinggal mengeluarkan jemuran itu ke halaman belakang dan mengangkatnya lagi jika sudah benar-benar kering. 

Esok malamnya sepulang dari kantor, saya melihat kain songket itu sudah terlipat dengan baik di atas kursi. Tapi alangkah terkejutnya saya, ketika saya mendekat. Kain songket itu ternyata luntur!. Benar-benar luntur habis. Warna merah keunguan mbleber kemana-mana membuat keseluruhan tampilan kain songket itu kusam dan tidak kinclong lagi. Seketika saya merasa lemas tak berdaya. Ya ampuuun..apa yang harus saya katakan kepada kakak saya jika ia tahu bahwa saya tidak menjaga dengan baik kain pemberiannya? Tentulah ia akan merasa sedih. Mungkinkah ia menyangka bahwa saya tidak menghargai pemberiannya? Memikirkan itu, hati saya rasanya sedih sekali dan sangat tidak enak.

Aduuuh..bagaimana sih Si Mbak ini. Saya ngga habis pikir padahal itu kan kain songket. Semua orang juga tahu bahwa kain songket tidak boleh dicuci. Kok bisa sih dia mencuci kain itu, padahal saya tidak pernah menyuruh begitu. Aduuuuh…

Namun saya ingat, akhirnya saya menyadari bahwa itu bukan kesalahan siMbak. Dan setidaknya ada 5 butir pelajaran yang bisa saya temukan dari kesalahan itu.

Pertama, hal itu sudah kepalang terjadi. Dan kita tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Dalam kejadian seperti ini, hanya ada dua pilihan yang harus dilakukan. Berusaha keras mencari tahu bagaimana cara memperbaikinya, lalu perbaiki hingga bisa pulih kembali seperti semula. Jika pilihan pertama itu tidak bisa kita lakukan, pilihan satunya lagi adalah  menerimanya dengan ikhlas. Apa adanya. Rusak tidak rusak.  Yang penting diingat hanyalah kenangannya.

Kedua, bahwa itu hanyalah selembar kain. Materi!. Harta! Mengikatkan diri pada selembar kain, dan merasa sedih karenanya tidak akan pernah membantu saya untuk membebaskan diri dari keinginan duniawi. Harta alias Materi-lah yang banyak men’drive’ orang untuk bertindak berlebihan dan tidak pada tempatnya. Banyak penipuan, kecurangan, pelacuran, kejahatan dilakukan orang dipicu oleh kegilaan pada harta benda duniawi. Dan  kesenangan duniawi ini membelit dan mengganduli jiwa manusia sedemikian beratnya laksana bola besi yang diikatkan pada kaki tawanan,  sehingga jiwanya sulit terbebas dan bersih untuk kembali menyatu denganNYA.

Ketiga,  barang pemberian, biasanya tidak akan ditanyakan juga oleh pemberinya. Kalaupun nanti ditanyakan, katakan saja apa adanya. Toh saya tidak bermaksud untuk merusaknya dengan sengaja. Itu terjadi begitu saja. Niatnya adalah cuma menjemur saja, bukan mencuci. Pelajarannya adalah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan sebaiknya selalu dengan niat baik. Sehingga kalaupun terjadi hasil yang kurang memuaskan ataupun kekeliruan dalam mengeksekusi, orang lain akan lebih mudah menerima dan memaafkan. Selain itu, pemberinya adalah kakak kandung sendiri – yang sudah pasti bisa memaklumi keteledoran yang terjadi.

Keempat,  kesalahan yang pasti adalah di tangan saya. Bukan pada Si Mbak. Jadi saya harus mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan itu untuk memperbaiki diri ke depannya. Saya tidak memberi instruksi dengan baik kepada Si Mbak sebelum berangkat kerja “Jangan di cuci ya!”. Instruksi yang jelas sangat penting diberikan di awal sebuah pekerjaan, jika kita memang benar-benar menginginkan sebuah kesuksesan dalam mengeksekusi. Tanpa instruksi yang jelas, akan selalu membuka peluang bagi bawahan kita untuk membuat interpretasi sendiri yang belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kelima, jangan berasumsi dan memandang setiap hal dari hanya sudut pandang kita sendiri. Walaupun kain Songket adalah kain yang umum digunakan oleh beberapa suku, jangan berasumsi bahwa semua suku mengenal kain Songket dengan baik. Dan selanjutnya, tidak semua orang dalam suku pengguna kain Songket itu, juga menggunakan atau mengenal Songket. Entah dengan alasan apa.  Dengan demikian, tidak semua orang mengetahui cara memelihara kain songket dengan baik, karena tidak ada di dalam kebiasaannya dia. Berasumsi bahwa semua orang memiliki kesamaan pengetahuan atau kebiasaan dengan diri kita, tentulah sebuah kesalahan besar. Karena walaupun saya dan Si Mbak misalnya sama-sama memiliki 10 pengetahuan dan kebiasaan, barangkali saya mengetahui  A, B,C, D, E, F, G, H, I, J…. Si Mbak mungkin pengetahuannya G,H, I, J, K, L, M,N,O,P. Sehingga ada beberapa pengetahuan yang saya tahu, Si Mbak tidak tahu. Dan sebaliknya ada pengetahuan yang Si Mbak tahu yang saya tidak tahu.  

Esok paginya, SI Mbak datang tergopoh-gopoh lebih pagi daripada biasanya. Wajahnya tegang  “Bu! Ibuuuu! Maaf ya Bu, kainnya kemarin saya cuci kok luntur ya Bu. Saya bingung itu mesti diapain…” katanya.

Sayapun hanya tersenyum dan berkata “Ya sudah… Saya juga lupa memberi tahu kalau kain itu tidak boleh dicuci…”kata saya yang membuat wajahnya tenang kembali.

Kain itu masih terlipat dengan rapi. Mengingatkan saya pada Si Mbak, pembantu rumah tangga yang sangat baik dan rajin, yang kini sudah tidak bekerja di rumah saya lagi, karena sudah terlalu sibuk melayani pelanggan di warungnya.

Membersihkan Kulkas.

Standard

Isi KulkasSalah satu hal yang sangat perlu saya lakukan sebelum meninggalkan rumah untuk berlibur panjang ke luar kota adalah membersihkan kulkas.  Karena saya tidak mau setelah kembali ke rumah dalam keadaan lelah, saya menemukan kulkas saya  juga penuh dengan bahan makanan yang membusuk dan menumpuk. Jadi beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai bersiap-siap. Mengambil ancang-ancang, sejak si Mbak yang membantu urusan rumah tangga pamit pulang untuk berlebaran.

Pertama, saya menghentikan belanja dapur harian ke tukang sayur. Berikutnya, saya mengeluarkan semua isi kulkas.  Memilah bahan-bahan makanan yang masih bisa dimanfaatkan dan memilih mana bahan makanan yang akan segera rusak (perishable food) dan mana yang akan masih bisa bertahan dalam waktu beberapa hari. Beberapa hari terakhir ini kebetulan saya agak  sibuk urusan kantor,jadi benar-benar tidak mengikuti ada jenis bahan makanan apa saja dikulkas.  Nah  kesempatan inilah saya gunakan sekalian untuk memilah sekaligus membersihkan.

Daging, telor dan sumber protein yang lain.

Saya memiliki dada ayam yang bisa saya olah untuk menjadi ayam goreng kering, sepapan tempe, dua buah tofu dan beberapa butir telor. Saya pikir cukup untuk keperluan dua hari. Jadi saya benar-benar memutuskan untuk hanya memanfaatkan yang ada saja tanpa perlu menambah pembelian lagi di tukang sayur.

Sayur mayur.

Nah! Ini peninggalan si Mbak yang paling banyak di kulkas. Ada banyak sekali jenis dan jumlahnya. Saya agak kurang mengikuti, bagaimana bisa kok si Mbak menumpuk banyak sekali sayuran ya? Rasanya sangat sangat lebih untuk keperluan selama dua hari. Ada tauge di dalam kantong plastik. Masih segar. Lalu di kantong plastik yang lain ada daun bayam yang sudah dibersihkan, siap untuk ditumis. Lalu saya melihat sawi keriting beberapa buah,mulai agak layu.  Berikutnya saya membuka bungkusan koran, rupanya ada daun ciwis kesukaan saya – lumayan untuk sekali nyayur.  Lalu ada caisim.  Terus ada seikat kacang panjang yang masih segar. Terus ada kol ungu – saya ingat kol ini saya yang membeli di Supermarket. Lalu ada terong ungu yang panjang – cukup banyak juga jumlahnya.

Namun itu belum semuanya. Saya masih menemukan  beberapa buah pare, sebatang wortel,  jagung putren, sawi putih, timun, kapri manis, seledri, bawang daun, cherry tomato, broccoli dan jamur shiimeji.  Yang terakhir itu hasil belanjaan saya. Waduuh banyak juga ya. Saya tidak sadar bahwa saya dan Si Mbak telah melakukan penumpukan bahan makanan yang berlimpah di kulkas. Ini pasti terjadi akibat kurangnya koordinasi saya di dapur selama beberapa hari terakhir ini.   Karena saya hanya punya waktu dua hari untuk menghabiskannya, maka saya hanya membersihkan semua sayuran itu, lalu memilahnya. Memasak yang bisa saya masak, sisanya saya bungkus rapat di dalam plastik untuk saya bawa ke rumah ibu mertua saya saja. Daripada layu dengan sia-sia. Di sana lebih banyak orang. Tentu sayuran ini akan lebih bermanfaat.

Buah-buahan.

Tidak sebanyak sayuran. Tapi saya menemukan beberapa jenis. Sebagian sudah ada yang kurang layak dikonsumsi – jadi saya buang.  Tapi masih ada juga yang layak konsumsi.  Dimakan secukupnya. Lalu masih ada sisa,  saya buat untuk jus.  Lalu ada  buah timun suri. Wah,ini untuk apa ya? Kalau tidak dibuat es buah tentu kurang enak. Akhirnya saya jus saja. Juice Timun Suri! Pernah ada yang mencoba tidak? Rasanya hambar. Tapi jika kita tambahkan gula, sungguh unik juga rasanya. Enak!.

Nah..sekarang kulkas sudah bersih. Sudah siap untuk ditinggal berlibur selama beberapa hari. Hati tenang,kulkas bersih dan tidak ada bahan makanan yang masih layak  terbuang percuma.

Show Me The Meaning Of Being Lonely…

Standard

Lapangan itu sepi. Tidak ada kaki-kaki kecil yang berlari mengejar bola. Tidak ada riuh rendah teriakan dan sorakan dari bibir-bibir mungil yang riang gembira menyemangati permainan. Hanya sebuah bola kotor oleh debu teronggok di pojok lapangan. Sejak bulan Ramadhan, aktifitas anak-anak di lapangan itu sangat berkurang dan nyaris tidak ada. Memandang lapangan itu dari sudut halaman rumah, terasa kesepian merangkak diam-diam ke dalam hati saya. Alangkah sepinya waktu. Read the rest of this entry

Hari Kartini: Setelah Kesetaraan Gender Itu Diperoleh…

Standard

Melihat  anak-anak sekolah berpakaian adat,  saya baru teringat bahwa hari ini adalah tanggal 21 April.  Hari Kartini. Hari yang ditetapkan untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah dalam usahanya untuk meningkatkan emansipasi wanita. Karena kita lahir belakangan, tentu hanya bisa membayangkan betapa sulitnya keadaan wanita pada jaman itu.  Saat ini, jejak-jejak keterkungkungan wanita sudah sulit ditemukan di negeri ini. Mungkin masih ada satu dua. Namun secara umum, wanita Indonesia sekarang sudah sangat maju.  Menikmati pendidikan yang sangat baik dan bahkan menempati posisi yang setara dengan pria. Read the rest of this entry