Tag Archives: Ice Skating

Melepas Anak Bermain Ice Skating.

Standard

Ice Skating.Sudah sejak lama anak-anak menyampaikan keinginannya untuk bermain Ice Skating kepada saya.  Karena dua hal, saya belum bisa memenuhinya. Pertama, karena saya sendiri tidak bisa bermain Ice Skate, sehingga tidak bisa menemani. Dan yang ke dua, saat liburan sekolah begini, saya masih cukup sibuk di kantor, sehingga belum  punya waktu untuk menemani mereka. Namun anak-anak  tidak kehilangan akalnya. Merasa cita-citanya tidak kesampaian ditemani bermain Ice Skating oleh saya, mereka rupanya menitipkan diri pada seorang tetangga yang kebetulan anaknya yang bernama Matthew  adalah sahabat karib mereka. Mamanya  Matt meninggalkan pesan di telpon genggam saya, bahwa mereka sedang bermain Ice Skating di Bintaro X-change. Sepulangnya   mereka berceloteh betapa menyenangkannya bermain Skate di atas lapangan yang berlapis es.

Beruntungnya punya tetangga yang juga sekaligus ibu dari teman-teman bermainnya anak-anak. Jika sibuk, jadi kami bisa bergantian menemani anak-anak melakukan aktifitasnya. Karena minggu kemarin saya kebetulan di rumah, dan anak-anak  minta bermain Ice Skating lagi, tentu  kali ini giliran saya untuk menemani mereka. Yang bermain ada empat orang anak.

Tiba di Bintaro X-change pukul dua siang. Anak-anak memesan ticket yang harganya sedikit lebih mahal karena weekend. Ticketnya seharga Rp 70 000/orang pada saat weekend. Dan saya mengingatkan agar anak-anak juga mengenakan glove agar tidak kedinginan saat berada di ruangan es dan menyewa sebuah locker untuk menyimpan barang bawaannya.

Lapangan terlihat sangat penuh. Maklum musim liburan sekolah. Katanya Ice Skating ring yang ada di dekat rumah ini adalah Ice skating yang terbaik dan terluas di Indonesia. Saya tidak tahu kebenarannya. Namun bisa jadi sih. Rasanya lapangan es yang saya lihat di Malaysia, agak lebih kecil dari yang ini.

Saat akan masuk, petugas menginformasikan bahwa setengah jam  lagi  akan dilakukan pelapisan es. Proses pelapisan es akan memakan waktu setengah jam sendiri. Ia menyarankan agar anak-anak masuk sekitar jam tiga saja.  Saya melongokkan kepala saya ke lapangan es dan memang lapangan itu mulai kelihatan mencair. Saya setuju dan menjelaskan keadaan itu pada anak-anak. Merekapun setuju untuk menunda masuk, lalu mengisi waktu dengan bermain games di  counter Hawaii. Saya memutuskan untuk duduk di Food Exchange satu lantai di atas Ice Skating ring itu dan melihat proses pelapisan es dilakukan oleh petugas.

Pukul tiga sore, anak-anak turun ke ring. Ke dua anak saya kelihatan belum bisa bermain dengan baik. Namun atas bantuan Matt yang kelihatan lebih percaya diri dan lebih jago, perlahan-lahan yang kecil  mulai bisa bergerak sedikit ke tengah. Mulai melepaskan pegangannya di tepi ring.

Ia mulai berjalan pelan-pelan. Sempat terjatuh sekali, lalu bangkit lagi. Kelihatan tidak patah semangat sama sekali. Berdiri dan mencoba bergerak lagi. Kali ini lebih stabil. Ia melepaskan tangannya sama sekali dari ring dan berjalan ke tengah dituntun Matt. Saya melihat betapa tinggi tingkat kesabaran  si Matt dalam menuntun dia agar bisa lepas berjalan sendiri di tengah-tengah lapangan es. Beberapa saat kemudian ia sudah mulai bisa bergerak sendiri, meluncur dan melakukan aktifitas seperti halnya orang-orang lain di lapangan es itu. Ah, big thanks to Matt!. Ketika anak saya mulai bergerak sendiri,Matt tetap mengikuti dengan pandangannya dan sesekali mendekat untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Sehingga ia sendiri mengorbankan waktunya sendiri untuk bersenang-senang demi memastikan sahabatnya bisa meluncur sendiri.  Hanya setelah lebih dari dua jam dan anak saya memutuskan untuk berhenti bermain,barulah Matt kelihatan  meluncur sendiri  dengan kecepatan yang tinggi,menikmati permainannya sendiri dan enjoy life!.  Saya terharu melihat persahanatan luar biasa yang ditawarkan Matt kepada Aldo, anak saya.

Anak saya yang gede kelihaannya tidak mengalami kemajuan sebaik adiknya. Kerjanya hanya nempel dan berpegangan di pinggir ring saja. Namun demikian ketika saya tanya apakah ia ketakutan, putus asa atau masih tertarik untuk bermain Ice Skating? Iia mengatakan ia bahwa ia masih tetap ingin mencoba. Melihat itu semua saya berpikir lain kali saya  akan mencarikan coach yang benar untuk mengajarkan anak saya agar bisa bermain Ice Skating dengan baik dan benar.

Pelajaran yang saya ambil dalam menemani anak bermain Ice Skating ini antara lain:

1/.  Karena lapangan es cukup licin, dibutuhkan keberanian dan kesiapan mental untuk jatuh, dan kesediaan untuk bangun kembali. Dorong anak yang memang tertarik dan memiliki minat besar untuk bermain Ice Skating. Jika anak mengatakan takut untuk mencoba sejak awal, sebaiknya jangan dipaksa. Omong-omong, bermain Ice Skating ini juga cukup bagus untuk keberanian dan melatih mental siap jatuh bangun dari anak.

2/.  Anak yang belum sukses pada hari pertama, bukan berarti tidak akan sukses di kali berikutnya. Jika ia menyatakan tetap berminat, perlu dibantu oleh orang yang sudah lebih pengalaman dan berani. Atau jika tidak ada, mencarikannya seorang coach bisa jadi merupakan hal yang tepat.

3/ Sahabat merupakan orang yang tepat bagi anak untuk diajak bersama bermain.Mereka bisa saling mendukung dan saling menyemangati.

4/. Pastikan anak-anak berpakaian dengan cukup baik agar tidak mudah kedinginan. Sarung tangan dan kaus kaki bisa disewa, tapi jika sering bermain,  lebih baik bawa sendiri dari rumah.  Cegah anak bermain Ice Skating dalam keadaan flu. Karena dingin es akan menambah beban pada hidungnya.

Dan pelajaran terakhir yang sangat menyentuh hati saya kali ini adalah tentang persahabatan yang tulus pada anak-anak – dimana saya bisa melihat sebuah bentuk kebersamaan dan dukungan penuh terhadap sahabat yang berada diatas kepentingan sendiri yang ditunjukkan oleh Matt kepada saya. Sekali lagi, thanks to Matt for the inspiration!.