Tag Archives: Ideas

Cara Menikmati Tomat Ala Jaman Dulu.

Standard

Cara menikmati tomat ala jadul.

Masih seputaran panen tomat dan bagaimana cara memanfaatkannya. Saya jadi ingat pada masa kecil saya di kampung. Saya ceritain sedikit di sini ya…
Desa Songan, kampung saya adalah salah satu desa penghasil sayuran yang memasok kebutuhan di pasar-pasar di Bangli dan juga kabupaten lain di Bali. Salah satu hasil panen  yang selalu membanggakan adalah tomat. Ya… tomat yang besar buahnya bisa seukuran telapak tangan orang dewasa. Oleh karenanya, setiap kali musim panen ibu saya juga selalu kebagian banyak tomat yang dikirimkan oleh paman, bibi  dan keluarga kami yang lain. 

Selain untuk dimasak dan membuat sambal, salah satu cara favorit pada jaman dulu untuk menikmati tomat adalah dengan membuatnya menjadi minuman tomat. Sejenis  Juice tomat yang dibuat dan dihancurkan secara manual dengan sendok . Hasilnya tentu tidak sehalus Juice tomat jaman sekarang karena tidak menggunakan mesin juicer ataupun blender. 

Tapi walaupun tidak halus seperti juice tomat, sensasi meminum/memakannya sungguh berbeda. Rasa tomatnya masih kuat  dan lebih enak dibanding juice tomat biasa, karena di dasar gelas kita masih bisa menikmati sisa sisa buah tomat segar yang kurang hancur. Nah… asyiiiknya tuh justru di bagian di sini.

Jaman sekarang kita sudah sangat jarang membuat juice tomat dengan cara seperti ini. Jadinya kangen untyk membuatnya kembali seperti jaman dulu.

Ada yang tertarik untuk mencobanya nggak?. Cara membuatnya sangat gampang:

1. Cuci buah tomat hingga bersih.

2. Bagi yang suka buah tomat yang hancur lebih halus, sebaiknya kulit ari buah tomat dikupas dulu agar lebih mudah dan cepat saat kita menumbuk-numbuknya dengan sendok.

3. Potong-potong buah tomat. Masukkan ke dalam gelas. 

4. Tambahkan gula pasir secukupnya (bagi yang suka manis).

5. Hancurkan buah tomat di dalam gelas dengan sendok atau garpu. 

6. Seduh dengan air panas atau air minum biasa. Aduk aduk sampai hancur.

Jadi deh….

*bagi yang suka minuman dingin, busa disimpan dulu beberapa saat di lemari es sebelum diminum.

Advertisements

Mengapa Kreatifitas Kita Berhenti?

Standard

KreatifitasSuatu kali, sepulang saya dari kantor anak saya yang kecil berkata “Ma… aku besok ada tugas dari Ibu Guru untuk membuat prakarya dari flanel“. Saya meletakkan tas kantor dan laptop saya di atas meja belajar. Hari sebenarnya sudah agak malam. “Terus, sudah bikin?” tanya saya. Saya ingat kami masih punya tumpukan flanel warna warni yang cukup banyak. Jadi ia tidak usah membeli lagi.  “Belum! Bikinnya besok di sekolah”katanya. Ooh..jadi tidak perlu terburu-buru ya. “Pengen latihan bikin dulu sekarang. Sama mama aja. Aku takut kalau sendiri nanti nggak bisa” katanya. Ya ampyuuuuun!. Hari sudah malam begini. Menunggu saya yang pulang malam, itu sebenarnya sama saja memangkas waktu untuk berkreatifitas. Padahal bikin, bikin aja dulu. Nanti  kalau ada yang kurang sreg kan bisa dibetulkan lagi.  Walaupun setelah saya katakan begitu,akhirnya anak saya bikin sendiri juga.

Pernah juga di lain kesempatan, seorang teman yang bekerja di sebuah Agency periklanan mengeluh jenuh dengan pekerjaannya. Belakangan ia sering merasa buntu idea. Setiap idea yang keluar terasa garing. Nggak ada sedikitpun kreatif-kreatifnya. Ia pun mulai menyalahkan banyaknya batasan yang diberikan berkenaan dengan positioning Brand yang dikelolanya. Ujung-ujungnya ia merasa kreatifitasnya mandek.

Kalau kita perhatikan, banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang merasa kering kreatifitas. Macet dan tak tahu lagi bagaimana harus mencairkannya kembali. Mulai dari blogger yang mengeluh kehabisan idea menulis, pelukis yang catnya mengering sendiri karena lama tak dipakai lagi, pemasar yang kehabisan ide promosi,  dsb hingga ibu rumah tangga yang kehabisan idea memasak. Nah pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah, “Mengapa kreatifitas kita berhenti?”. Saya mencoba memikirkannya. Dan ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya.

Pertama, adalah takut tidak bisa. Seperti dalam kasus anak saya. Ia berhenti berkreatifitas karena merasa takut tidak bisa (menjahit). Daripada mencari ide dan mencobanya sendiri dulu, ia lebih memilih menunggu mamanya pulang. Menunggu dan tidak melakukan apa-apa dalam rentang waktu tertentu, sudah pasti membuat kita tidak produktif. Nah..itu semuanya gara-gara perasaan takut tidak bisa. Takut hasilnya salah. Takut hasilnya kurang keren. Perasaan takut akan ‘tidak bisa’ ini sering membuat kita jadi ragu dan akhirnya benar-benar membuat kita tak mampu. Itulah sebabnya banyak yang memberi tahu kita sebagai orang tua untuk mengajarkan anak bahwa ia pasti bisa. Karena dengan mengubah keyakinan anak bahwa ia pasti bisa dalam melakukan sesuatu, akan membantu menumbuhkan semangat dan kepercayaan dirinya bahwa ia sesungguhnya bisa dan hasilnya memang pasti benar-benar bisa. Ayo, kamu pasti bisa!

Kedua, adalah kepercayaan yang salah. Contohnya adalah pemahaman salah bahwa anak lelaki tidak bisa memasak. Anak perempuan tidak bisa memperbaiki atap rumah. Anak perempuan tidak bisa membetulkan kendaraan. Dan sebagainya ‘judgment masyarakat’ yang premature dan bisa jadi salah. Kalau kita percaya pada hal-hal seperti ini, besar kemungkinan akan melimitasi kreatifitas kita. Sebagai perempuan kita cenderung melimitasi diri kita sendiri untuk belajar urusan mesin mobil, karena merasa diri tidak berbakat atau tidak umum perempuan jago otomotif. Bagaimana pula mau disuruh kreatif ya? Wong kita sudah mencap diri kita sejak awal bahwa perempuan tidak berbakat di bidang otomotif? Nah..ujung-ujungnya jadi beneran deh itu kita tidak bisa.  Nah … kepada kedua anak laki-laki saya, saya tidak pernah mau anak saya berpikir bahwa anak laki-laki itu tidak bisa menjahit atau anak laki-laki itu tidak bisa memasak itu biasa. Harus belajar menjahit! Harus bisa memasak. Tidak ada urusan gender di sini.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab matinya kreatifitas adalah rasa khawatir dianggap nyeleneh bin aneh. Takut menjadi pencilan. Khawatir dikatakan sebagai anti-main stream. Datang dengan ide baru yang berbeda yang tidak biasa terkadang membuat seseorang merasa nggak nyaman sendiri dengan kreatifitasnya. Padahal cuek saja. Toh ide kreatif tidak akan membuat kita masuk penjara, sepanjang kreatifitas kita itu tidak melanggar hukum negara, norma agama dan tidak merugikan orang lain.

Atau ada pula teman saya yang sangat reluktan jika diminta membangun ide di atas ide orang lain yang sudah ada. Atau ide di atas idenya sendiri yang sudah dikeluarkan sebelumnya.  Ia merasa hasil kreatifitasnya kurang afdol. Padahal memang demikianlah mekanisme peradaban manusia itu bekerja. Banyak kreatifitas baru yang dibuat untuk memperbaiki kreatifitas yang sudah ada sebelumnya. Demikian juga banyak penemuan dan theory baru dibangun di atas theory lama yang barangkali sudah tidak relevan atau perlu diperbaiki.  Mencontek, menjiplak atau mengcopy ide/kreatifitas orang lain tentu itu tidak ethis. Tetapi jika kita datang dengan ide-ide dan kreatifitas baru yang lebih baik, atau merupakan perbaikan dari ide /kreatifitas orang lain tentu itu syah syah saja.

Ada satu lagi nih…yang menurut saya juga membuat limitasi terhadap kreatifitas kita. Yakni jika kita terlalu “terikat” akan sesuatu . Misalnya terikat akan aturan-aturan design tertentu, atau misalnya brand code – tidak boleh pakai warna tertentu tapi harus warna ini, ini dan itu saja.  Otomatis kreatifitas kita berkurang. Atau di perusahaan tertentu, sangat terikat akan kepercayaan tertentu. Dilarang menggunakan angka yang berakhir dengan 13, karena itu artinya sial atau angka 4 karena erat kaitannya dengan kata mati. Waduuhhh… nah kalau sudah begini, kita menjadi was-was duluan. Takut salah. Bagaimana pula mau menjadi kreatif dalam keadaan takut dan terbatas begini? Atau ada juga misalnya, keterikatan dengan kesuksesan masa lampau. “Dulu sukses lho waktu pakai iklan begini. jadi jangan rubah!“. Lah..tapi kan pasar berubah? Dunia berubah? Masyarakat berubah? Kita tidak bisa selalu memaksakan semua yang sukses di masa lalu. Karena apa yang sukses di masa lalu belum tentu tetap diterima pasar dengan baik saat ini juga.

Mungkin masih ada banyak penyebab mandeknya kreatifitas kita yang belum sempat keluar dari kepala saya. Tapi intinya, yuk kita move on! Terus berkreasi dan gali terus ide-ide baru!. Jangan biarkan segalaketakutan dan kekhawatiran itu membatasi kreatifitas kita.

Selamat pagi, teman-teman! Selamat berkreatiftas. Semoga sukses setiap hari!.

Nasi Sushi Oncom – Building Idea On Idea.

Standard

Ketika berdiskusi tentang bagaimana akan menghabiskan waktu di akhir pekan bersama, saya meminta anak-anak untuk mencari ide yang kreatif dan menyenangkan. Anak saya yang besar mengusulkan ide untuk memasak. Awalnya saya pikir ia akan mengajak saya memasak pancake atau bola-bola coklat kesukaannya. Namun ternyata kali ini idenya adalah memasak makanan Jepang. “Masak sushi!”. Ia mendapatkan ide itu dari teman sekelasnya yang membawa sushi ke sekolah untuk bekal makan siang. Temannya yang baik hati itu, rupanya menawarkannya untuk mencoba. Maka iapun tertarik.

Saya pikir itu ide bagus. Selain mengenal cara memasak makanan Indonesia, anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan kebudayaan lain, termasuk cara memasak dan menyajikan makanan yang dilakukan bangsa lain. “Good idea” kata saya sambil menepuk bahunya.

Maka sayapun segera membeli beberapa lembar nori (lembaran ganggang laut kering). Kebetulan ada  yang sedang berpromosi dengan memberikan hadiah sebuah makishu (gulungan dari bambu untuk menggulung nori). Sambil menyiapkan nasi untuk sushi, anak saya yang kecil bertanya akan kita isi apa lembaran rumput laut itu. Saya lalu menjelaskan bahwa nasi sushi biasanya diberi perasa berupa gula, garam dan cuka. Di tata di atas lembaran nori bersama-sama dengan  dadar telor berkaldu dashi (kaldu ikan kecil/rumput laut) dan shoyu (kecap ala Jepang), irisan jamur shiitake dan irisan filet ikan, lalu digulung dan dipotong-potong. Sushi akan tampak sangat cantik dan menarik untuk dimakan.

Anak saya manggut-manggut mendengar penjelasan saya sambil memperhatikan cara saya membentangkan lembaran nori di atas makishu. ”Jadi hasilnya nanti, nasi gulung isi ya, Ma?” Tanyanya.  “Ya. Nasi gulung isi ikan, telor dan jamur”. Jawab saya.  Ia tampak berpikir sejenak.

“Sebenarnya kita bisa ganti isinya dengan apa saja yang kita sukai kan, Ma?” Tanyanya lagi. “Iya. Boleh saja  kalau mau” Kata saya. “Kalau begitu kenapa kita nggak isi saja dengan tahu?. Jadi nasi sushi tahu?”.  Ha ha.. bagus juga idenya. Tapi saat itu saya tidak sedang memasak tahu dan tidak memiliki persediaan di kulkas. “ Oh ya. Nasi Sushi Indonesia” kata anak saya yang besar. “Mari kita bikin nasi sushi Indonesia” ajaknya. Saya senang dengan ide baru itu. Ya, oke. Akhirnya kami  isi saja dengan apa saja lauk yang tehidang di atas meja. Kami gulung dan… sim salabim abrakadabra! Ada nasi sushi oncom. Ada nasi sushi tumis jantung pisang. Ada nasi sushi tumis brokoli. Ada nasi sushi telor dadar dan sebagainya. Wow! Sungguh idea yang sangat kreative.

Bahkan esoknya ketika di rumah kami memasak nasi kuning, maka nasi kuning itupun kami gulung dengan nori. Jadilah nasi kuning gulung nori. Demikian seterusnya sampai lembaran norinya habis. Sebagian dari karya kreatif itupun saya bawa ke kantor dan nikmati ramai-ramai bersama teman-teman sambil tertawa akan ‘menu baru’ yang aneh tapi menarik itu. Tanda diduga, ‘Nasi Sushi Oncom’ hari itu menjadi fast moving items. Ada beberapa teman yang bertanya bagaimana cara membuatnya. Dan itu membuat saya senang.

Saya senang, selain karena teman-teman saya juga menyukai masakan saya, namun yang  lebih penting lagi karena  saya menyadari suatu proses berpikir kreatif telah terjadi pada anak saya. Proses membangun ide di atas ide yang lain. Ketika seorang temannya membawa sushi, sebuah ide telah tertangkap untuk mempelajari bagaimana cara membuatnya. Ketika ide membuat sushi muncul, sebuah pemahaman baru muncul bahwa ‘filler’ dari sushi sebenarnya bisa diganti, yang kemudian memunculkan ide baru lagi untuk mengisinya dengan makanan khas Indonesia.

Jadi pembangunan ide di atas ide inilah yang menghasilkan sesuatu yang berbeda, unik dan mengena untuk target tertentu. Dalam hal ini, sesuatu yang berbau Jepang tapi kental dengan selera lidah Indonesia yakni: Nasi Sushi Oncom.

Seperti dalam bukunya “How To Have Creative IdeasEdward De Bono pakar creative & lateral thinking yang terkenal dengan “Six Thinking Hats” nya mengatakan bahwa sebenarnya kreatifitas itu bukan sesuatu yang kita miliki atau tidak di dalam diri kita, tapi lebih kepada sesuatu yang bisa dilatih.  Saya sangat setuju itu. Kreatifitas bisa  kita latih! Kreatifitas bisa dibangun dari sesuatu yang ada di sekeliling kita, yang kita ambil secara acak. Lalu kita gabung dan padu padankan dengan hal-hal lain (juga secara acak) yang sebelumnya belum tentu ada hubungannya secara natural. Mix & match!  Jadi, tidak usah merasa diri kurang kreatif untuk menjadi kreatif. Setiap orang bisa menjadi kreatif!.