Tag Archives: Ilmu

Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Standard
Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Hi! Saya mau berbagi cerita lagi nih. Cerita menarik hasil saya ikut nguping dari lapangan panahan minggu lalu ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Teman-teman pembaca pernah nguping nggak? Mendengarkan pembicaraan orang lain diam-diam. Ihhh….itu kan tidak sopan ya?. Ya memang. Tetapi kadang-kadang kita terjebak dalam situasi dimana kita terpaksa jadi ikut nguping juga karena kepepet ๐Ÿ˜€.

Itu terjadi pada saya. Bukan karena niat nguping sih… tapi ya…awalnya nggak sengaja, tapi karena percakapan itu sungguh menarik, saya pun meneruskan kegiatan menguping itu hingga selesai.

Hari Sabtu yang lalu saya menemani anak-anak saya yang ingin mencoba bermain panahan di BSD Archery. Dikasih kontak oleh Mbak Pimpim, seorang teman baik, sayapun bertemu dengan Pak Azmi dan Pak Heidar yang mengelola tempat latihan panahan itu.

Anak-anak ikut berlatih ๐ŸŽฏ๐ŸŽฏ๐ŸŽฏdan mencoba dengan penuh semangat. Saya sendiri hanya menonton dan sesekali mengabadikan kegiatan anak saya dengan kamera hape. Mereka belajar meletakkan anak panah, merentangkan busur dan membidik sasaran. Mulanya meleset banyak. Tapi karena dicoba dan dicoba terus, anak-anak kelihatannya mulai dapat ‘feels’ nya.

Ini adalah kali pertama saya melihat peralatan panah yang benar dari dekat. Sebelumnya yang pernah saya lihat hanyalah panah mainan saja ๐Ÿ˜€. Jadi saya tertarik juga untuk memperhatikannya.

Serupa dengan panah mainan, peralatan panah terdiri atas Anak Panah dan Busur.

Kalau anak panah sih sudah sangat jelas ya. Terdiri atas batang, mata panah yang tajam dan pangkal panah yang mirip bulu ayam.

Busur, jika diperhatikan terdiri atas bagian yang melengkung ke atas dan bawah yang disebut dengan limb dan tali panah.

Lalu di bagian tengah limb, saya melihat ada bagian dari bahan kayu tempat pegangan tangan yang disebut dengan riser.

Di atas lekuk pegangan tangan, rupanya terdapat celah kecil tempat meletakkan anak panah. Dan sedikit lagi di atasnya terdapat celah bidik atau visir.

Saya memperhatikan Pak Azmi dan Pak Heidar memperagakan bagaimana cara memegang busur panah yang benar. Para peserta pun mulai mencoba, berlatih dan terus berlatih membidik ke sasaran yang sudah ditetapkan.

Latihan berjalan santai ditingkahi obrolan kiri kanan dan curhatan oleh peserta lain tentang kerjaan kantor yang entah bagaimana awalnya, kemudian berakhir dengan topik ‘Leadership’. Semakin seru karena tiba tiba Pak Heidarpun ikut nimbrung dan membagikan ilmu dan pengalamannya dalam hal ‘Leadership’ kepada sekelompok peserta latihan itu.

Sayangnya saya belum kenal dengan kelompok itu, jadi nggak bisa ikut nimbrung ya. Selain itu anak-anak saya masih meneruskan latihan walaupun panas makin terasa menghentak. Jadi sambil mengawasi dan memotret anak-anak, sebelah telinga saya ikut mendengar dan saya ikut menyimak pembicaraan Pak Heidar yang menarik itu. Begitulah asal muasalnya mengapa saya jadi ikut menguping *mencari pembenaran๐Ÿ˜€.

Menurut Pak Heidar, menguasai ilmu memanah, juga membuat kita memperbaiki kemampuan leadership kita. Bagaimana?. Nah ternyata ada ceritanya nih teman-teman pembaca….

Jika kita perhatikan bagaimana orang memanah, kita akan mengetahui sang pemanah akan menggenggam busurnya tepat di tengah pada riser.

Saya melirik sekilas, Pak Heidar menjelaskan bahwa bagian riser dari tengah ke bawah berfungsi sebagai pengendali. Bagian ini kurang lebih porsinya 60%.

Sedangkan bagian riser dari tengah ke posisi celah bidik berfungsi sebagai pembidik. Kurang lebih porsinya 40%.

Jika sebagai seorang pemanah, kita memfokuskan diri pada bagian “Pengendali” yang porsinya 60 % tadi, maka kita akan cepat merasa lelah dan hasil bidikanpun belum tentu tepat mengenai target.

Hal yang sama akan terjadi jika hal itu kita lakukan sebagai seorang pemimpin. Kadang-kadang karena kekhawatiran yang berlebih, sebagai pemimpin kita cenderung sibuk mengawasi, meneriksa, mengontrol semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bawahan kita (bahkan jika perlu membantu) hanya untuk memastikan semua sudah dikerjakan dengan baik. Sebagai akibatnya, kita akan merasa lelah sendiri. Karena bagian ini adalah bagian dengan porsi yang lebih besar yang seharusnya kita lepaskan kepada team untuk mengerjakannya. Sehingga kita bisa lebih fokus pada bagian lain yang lebih penting.

Sebaliknya jika sebagai pemanah kita memfokuskan diri pada bagian “Pembidik” yang porsinya cuma 40% tadi itu, maka kita tidak akan merasa terlalu lelah. Dan kemungkinan terbidiknya target sasaranpun semakin besar.

Sebagai leader pun demikian. Jika kita lebih memfokuskan diri pada membidik target dan mengarahkan team untuk mencapainya, maka kemungkinan untuk tercapainya objective menjadi lebih besar. Dan sebagai leaderpun pekerjaan kita menjadi tidak terlalu berat. Karena bagian detail yang merupakan porsi besar dari pekerjaan itu sendiri, telah kita percayakan pada team kita. Dan mereka akan baik-baik saja.

Wow! Analogi yang sangat bagus. Saya pikir itu sebuah tips yang sangat berguna bagi siapapun yang memegang posisi sebagai leader. Sungguh beruntung saya berada di situ dan jadi ikut mendengar dengan tanpa sengaja (nguping maksudnya ๐Ÿ˜€).

Selain itu, memanah juga mengajarkan ketahanan dan spirit yang bagus. Menurutnya lagi, diantara bala tentara kerajan jaman dulu, para pemanah adalah yang dianggap sebagai armada yang paling berbahaya. Karena mereka sangat tangguh dan memiliki mental baja. Itulah sebabnya pula, mengapa jika seseorang ingin menaklukan sebuah kerajaan lain maka armada pemanahnyalah yang dibabat habis untuk memastikan pemberontakan bisa diredam.

Hmm.. obrolan yang sungguh menarik. Terimakasih sharingnya Pak Heidar.

Advertisements

Catatan Perjalanan โ€“ Kisah Tentang Pengabdian Masyarakat.

Standard

Saat saya sedang ada di Bangli, adik lelaki saya yang nomer empat menelepon dari Denpasar dan menawarkan apakah saya berminat untuk ikut pulang kampung ke desa Songan di Kintamani atau tidak, karena kebetulan ia ada urusan di desa. Saya segera menyetujui dengan senang hati karena memang sudah lama saya tidak pulang kampung. Siapa tahu nanti sempat mengunjungi sanak keluarga atau bertemu dengan kerabat. Atau hanya sekedar menengok rumah kakek saya yang kosong. Saya punย  menyiapkan perlengkapan saya untuk mengantisipasi udara dingin akibat kabut yang umumnya turun sore hari. Rupanya adik saya yang nomer empat ini juga sudah janjian dengan adik saya yang nomer tiga. Kamipun lalu berangkat ke desa bertiga. Saya merasa sangat senang duduk di belakang sendiri, sementara kedua adik lelaki saya ย duduk di depan. Semuanya mengingatkan saya saat kedua orangtua kami masih ada.ย  Perjalanan yang menyenangkan, menanjak menuju Penelokan lalu turun menyusuri jalan berkelok ke tepi danau dan selanjutnya melaju diantara batu batu cadas yang menyuguhkan pemandangan luar biasa. Cara paling menyenangkan untuk menikmatinya adalah dengan membuka jendela kendaraan dan membiarkan angin yang dingin menerpa kulit dan menerbangkan rambut kita. Read the rest of this entry