Tag Archives: India

Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Standard
Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Ini adalah saat yang ditunggu -tunggu. Pernikahan sahabat saya Karanjit Singh dengan Shela. Mengambil tempat di sebuah Sikh Temple yang berlokasi di kota kecil Pathankot, tidak jauh dari Amritsar di wilayah Punjab. Pasti pada penasaran dong ya, seperti apa upacara pernikahan adat India di Sikh Temple?.

Bentuk bangunan Temple ini sekilas tampak serupa dengan bangunan masjid. Terutama karena kubah dan lengkung pintu masuknya. Tak heran karena kota Pathankot ini tidak jauh letaknya dengan perbatasan Pakistan, negara yang kebetulan memang kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Padahal jika kita dalami lebih jauh ternyata arsitektur seperti ini bukanlah berkaitan dengan agana tertentu, tetapi lebih berkaitan dengan wilayah tertentu.

Walaupun tampak kecil dari luar, tetapi di dalamnya ternyata cukup lebar juga.

Saya masuk ke Temple ini sebelum pengantin datang. Mencuci tangan, melepas sepatu dan memastikan kepala dan rambut saya tertutup dengan baik. Tentunya untuk menghargai umat Sikh yang bersembahyang di tempat itu. Pasalnya semua Sikh Temple menetapkan peraturan bagi setiap orang yang memasuki wilayah Temple diwajibkan untuk menutup kepala dan rambutnya, terlepas dari apakah ia pria ataupun wanita. Pokoknya sama sama harus menutup kepalanya.

Saya memasuki ruang utama Temple itu dan mengikuti tata cara yang seharusnya. Memberi penghormatan dengan mencakupkan ke dua belah tangan, lalu sujud dan mengakhirinya dengan nencakupkan kedua belah tangan lagi.

Sayapun menepi dan mengambil posisi duduk di sayap sebelah kanan bersama para wanita dari keluarga Karan. Sementara rombongan pria duduk berkumpul di sayap bangunan sebelah kiri.

Dua pemain musik tradisional tabla masuk. Mereka mengambil posisi di depan saya. Merapikan duduknya dan mulai bernyanyi dengan diiringi alunan musik yang ceria.

Lalu kedua pengantin memasuki ruangan. Melakukan upacara penghormatan yang sama lalu bersimpuh di depan altar yang isinya kitab suci.

Pemuka agama melantunkan doa doa yang panjang dengan irama dan suara yang sangat merdu. Tak sepotongpun saya mengerti artinya. Tetapi saya pikir pastinya berisi tentang permohonan agar kedua mempelai diberkahi dengan kebahagiaan yang langgeng sampai akhir hayat.

Saya disarankan duduk di belakang pengantin. Sayapun bergeser posisi. Pendeta kembali melantunkan doa doa yang panjang dan merdu. Saya ikut mendoakan kebahagiaan buat kedua pengantin. Semoga langgeng seterusnya.

Setelah beberapa saat, pemuka agama memberikan aba-aba kepada pengantin untuk berkeliling altar yang isinya kitab suci.

Kedua pengantin pun bangkit dari duduknya dan berjalan berkeliling. Lalu menghadap kembali ke altar dan duduk serta memberikan penghormatan kembali.

Pendeta melantunkan doa doa. Lalu menyuruh pengantin untuk bangun dan berjalan mengelilingi kitab suci lagi.

Demikian seterusnya hingga empat kali berkeliling.

Pemuka agama kembali dengan doa dan wejangan yang saya pikir isinya adalah nasihat- nasihat tentang bagaimana berumah tangga yang baik. Dan pernikahanpun disyahkan.

Upacara lalu ditutup dengan pembagian sejenis penganan yang manis mirip dodol kepada hadirin semua sebagai tanda kehidupan yang manis.

Hadirin berdiri dan memberi selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Selamat nenempuh hidup baru ya Karan dan Shela!. Semoga langgeng dan bahagia sampai seterusnya ūüėėūüėėūüėė

Advertisements

Melepas Pengantin Pria.

Standard
Melepas Pengantin Pria.

Seusai acara mendoakan kemakmuran bagi pengantin pria dan berfoto bersama, kini saatnya keluarga mengiringi pengantin pria keluar rumah untuk berangkat ke Temple.

Saya mendapat informasi, biasanya pengantin pria akan berangkat untuk menjemput pengantin wanita di kediamannya, lalu mereka berangkat bersana ke Temple.

Nah…karena kali ini sang pengantin wanita berasal dari Indonesia, tentu rombongan tak bisa menjemput pengantin wanita ke Indonesia karena jarak yang sangat jauh kan…jadi upacara cukup dilakukan di depan rumah sang pengantin pria dan nanti pengantin pria akan bertemu dengan pengantin wanita di Temple saja.

Begitu keluar dari rumah, dengan wajah yang ditutup tirai mutiara dari turbannya, sang pengantin pria langsung ditunggu seekor kuda putih yang sangat gagah.

Sebagai catatan, upacara ini merupakan ritual adat sejak jaman dulu dimana kuda merupakan akat transportasi utama pada jaman itu. Dan tentunya, hanya kaum bangsawan dan kaya raya saja yang mampu memiliki kuda tunggangan pada janan itu.

Dengan diiringi musik yang gegap gempita, mempelai pria pun naik ke punggung kuda putih itu.

Selagi pasukan musik mendendangkan lagu lagu bahagia, satu persatu keluarga memberikan restunya kepada sang pengantin pria dengan cara membuka tirai mutiara yang menutup wajahnya dan menyampirkannya di atas turban. Mulai dari sang ayah, om, kakak dan kakak ipar.

Sementara anggota keluarga yang lain pun ikut bergembira dan menari nari bersama.

Dan tentunya sayapun ikut menari nari juga sebagai bagian dari keluarga Karan.

Rombongan pengantin pria yang diiringi musik dan tarian para anggota keluarga yang bergembira berjalan kira kira beberapa puluh meter ke depan. Samgat seru. Karena di luar video dan tivi baru kali ini saya melihat langsung para wanita India, tua dan muda menari-nari di jalan.

Kemudian mempelai pria turun dan melambaikan tangannya kepada semua hadirin. Rombongan lalu berangkat ke Temple Sikh ysng letaknya tak terlalu jauh dari rumah sang pengantin pria.

Turban.

Standard
Turban.

Bangun di pagi hari di kota kecil Pathankot sungguh menyegarkan. Udara di sini sangat sejuk dan saya sangat bersemangat karena siang ini kami akan pergi ke Temple untuk menyaksikan upacara pernikahan Karan dengan Shela. Bergegas mandi dan berdandan yang pantas untuk pergi ke tempat suci.

Sebelum pergi, kami berkumpul dulu di rumah Karan untuk sarapan bersama dan menyaksikan persiapan yang dilakukan oleh pengantin pria.

Karan memilih untuk menggunakan pakaian berwarna krem dengan turban dan selendang berwarna merah. Sungguh pantas dan menawan. Baru pertama kali saya melihat Karan dalam busana adat seperti itu.

Diantara busananya itu yang paling menarik untuk dibicarakan adalah tentang Turban. Karena Turban yang digunakan oleh pria Sikh ini sangat menarik dan unik bentuknya.

Secara adat, pria Sikh umumnya tidak memotong rambut, jenggot maupun cambangnya. Rambut yang panjang ini kemudian digelung ke atas dan ditutup dengan kain yang disebut dengan Turban. Saya lihat, di daerah Punjab ini bahkan anak-anakpun sudah menggunakan penutup kepala yang berupa sapu tangan atau ikat kepala yang dicepol di ubun ubun.

Selain mempunyai fungsi sebagai penutup kepala, Turban juga berkaitan dengan keyakinan. Jika kita bayangkan, mungkin fungsinya sama dengan “Blangkon” dalam adat Jawa atau “Iket” dalam adat Sunda atau “Udeng” dalam adat Bali.

Turban bisa berwarna macam macam. Ada yang hitam, merah, hijau, kuning dan sebagainya tergantung selera sang pemakai. Walaupun saya pernah dengar kalau jaman dulu warna turban juga dihubungkan dengan kelompok masyarakat tertentu. Saya tidak tahu apakah hal itu masih berlaku sekarang, yang jelas saya tahunya Turban sangat penting artinya dalam kehidupan orang Sikh.

Berbincang dengan Ravindra, salah seorang kakak Karan, Turban merupakan salah satu busana yang khas untuk pria Sikh guna menutupi rambut yang merupakan salah satu dari 5 hal penting dalam keyakinan orang Sikh yakni:

1. Kesh = Rambut (yang biasanya tidak dipotong).

2. Kaccha = Pakaian Dalam khusus yang terbuat dari bahan katun.

3. Kara = Gelang (biasanya terbuat dari baja).

4. Kanga = Pedang (yang biasanya panjang dan terbuat dari baja).

5. Kirpan = Sisir (yang biasanya terbuat dari kayu).

Saya sangat beruntung karena saat pemakaian turban di kepala pengantin pria, saya ada di tempat itu dan ikut menyaksikan.

Sebenarnya agak rumit bagi saya, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa memakai atau memakaikan tentu saja ini sangat mudah.

Pemasangan turban di kepala Karan berlangsung cepat dan lancar. Tahu tahu sudah jadi saja.

Busana pengantin pria Sikh

Sekarang dengan ditambahkan dengan untaian mutiara sebagai penutup wajah dan kalung serta pedang panjang, pakaian pengantin pria terasa semakin lengkap dan mantap.

Pagi itu acara di dalam rumah ditutup dengan upacara memutar – mutarkan uang di atas kepala pengantin pria oleh papa, mama, om, tante, saudara dan keluarga serta sahabat Karan (termasuk saya) dengan harapan kelak rejeki sang pengantin pria terus berlimpah. Semoga.

Lalu kami berfoto bersama. Sungguh keluarga yang bahagia.

Undangan dan Perjalanan ke Amritsar.

Standard
Undangan dan Perjalanan ke Amritsar.

Karanjit Singh, seorang sahabat saya memberi kabar jika ia akan segera menikah dan mengharapkan kehadiran saya di Amritsar, di kaki Himalaya. Sungguh senang dan ikut berbahagia mendengarnya. Sayapun segera memeriksa jadwal dan menyesuaikan pekerjaan agar bisa menghadiri acara pernikahannya.

Saya rasa perjalanan ke kaki Himalaya ini akan sangat menarik bagi saya. Pertama karena saya akan menyaksikan secara langsung upacara pernikahan sahabat saya itu dalam adat Sikh. Saya belum pernah menyaksikan pernikahan adat Sikh sebelumnya. Pasti akan sangat menarik.

Selain itu, selagi di Amritsar nanti, saya juga ingin berkunjung ke Golden Temple, salah satu Sikh Temple yang sangat terkenal. Lalu Durgana Mandhir, salah satu Hindu Temple yang juga cukup terkenal sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam fungsinya sebagai Dewi Durga. Dan saya juga ingin sekali mengunjungi Walmiki Temple – karena kota Amritsar ini dulunya adalah tempat kediaman Bhagawan Walmiki sang penulis Ramayana.

Sementara, teman saya yang akan ikut berangkat mengajak kami sekalian mampir ke kota Agra, sekitar 4 jam perjalanan dari New Delhi untuk mengunjungi Taj Mahal dan Agra Fort, dua tempat terkenal dan bersejarah di India.

Akhirnya Karan mengatur agenda perjalanan kami seperti ini:

– 2 hari pertama di India kami akan mengikuti acara pernikahan Karan.

– 1 hari di Amritsar untuk mengunjungi Golden Temple, Durgana Mandhir, Walmiki Temple serta belanja-belanja.

– Lalu di hari terakhir kami akan ke Agra untuk mengunjungi Taj Mahal dan Agra Fort.

Saya berangkat dari Jakarta bersama 2 orang teman. Saat itu akhir bulsn Oktober.

Kami transit sebentar di Kuala Lumpur. Di sana kami bertemu dangan seorang teman lain yang juga akan datang ke acara yang sama di Amritsar.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Kuala Lumpur, akhirnya mendaratlah kami di kota Amritsar pada tengah malam.

Cuaca terasa sejuk. Sekitar 21¬į C. Kami turun dari pesawat. Udara menyebar wangi rempah. Mengingatkan saya akan wangi udara di Bengalore yang juga menebarkan wangi rempah walaupun di sini terasa lebih ringan.

Jalan ke Pathankot yang berkabut.

Kami dijemput oleh 2 orang pria yang diutus oleh keluarga Karan. Keluarga Karan tinggal di kota kecil bernama Pathankot sekitar 2 jam perjalanan dari Amritsar. Ke sanalah kami menuju.

Begitu keluar dari bandara, jalanan sangat sepi. Hanya satu dua truk yang membawa beban yang melintas. Di kiri kanan jalan itu hanya pepohonan yang berdiri tegak.

Kabut mulai turun dan menyebar di sepanjang perjalanan kami dari Amritsar ke Pathankot. Di beberapa titik kabut bahkan sangat tebal hingga jarak pandang kami bahkan tidak mencapai setengah meterpun. Sungguh pekat. Supir kami yang cenderung melarikan kendaraannya kencang -kencang, kali ini harus berhati hati dan memperlambat kendaraan setiap kali kabut menebal dan menghalangi pandangan.

Kira kira 2 jamnya kemudian, kami tiba di rumah keluarga Karan di Pathankot. Disambut dengan hangat oleh kedua orang tua Karan, kakak kakak serta ipar dan saudaranya yang lain.

Lampu lampu generlap biru putih menjuntai dan menebarkan kebahagiaan. Rumah yang hangat.

Rupanya mereka baru saja selesai menjalankan acara adat pra pernikahan termasuk di dalamnya memasang mhendi yakni lukisan di tangan sang mempelai wanita. Sayang saya ketinggalan tak bisa menyaksikan acara yang sangat seru ini.

Apa boleh buat, akhirnya kami cuma bisa betistirahat agar esok hari sehat dan segar untuk menyaksikan pernikahan Karan di Sikh Temple.

Floor Art : Halaman Rumah dan Rangoli.

Standard

Rangoli - BaliKetika sedang ceklak ceklik di timeline facebook kakak sepupu, saya melihat foto seorang keponakan saya sedang berdiri di halaman rumah siap mau berolahraga. Kakinya persis menginjak gambar dekorasi halaman. Berikutnya saya melihat foto lain yang diupload kakak saya –¬† masih di halaman ¬†dan saya melihat lagi gambar ¬†dekorasi itu. Lalu ada gambar kolam yang baru saja dikuras. Kata kakak saya seorang keponakan yang lain sedang deman, takutnya demam berdarah. Jadi ia kuraslah kolam itu.¬† Kebetulan kakak saya yang satu ini memang hobinya mendandani halaman rumahnya dan berkebun ria. Saya sering mengolok-oloknya sebagai si tukang kebun, walaupun sebenarnya saya suka mengagumi bakatnya yang natural itu. ¬†¬† Binatang peliharaannya juga banyak. Mulai dari anjing,monyet, musang, tupai, burung dan sebagainya, membuatnya menjadi lebih paham ¬†tata cara merawat hewan dibanding adiknya yang dokter hewan ini. ¬†Entah kenapa melihat photo keponakan dan halaman rumah yang didandani kakak saya itu, membuat perasaan kangen tiba-tiba melanda dengan berat ke hati saya. Homesick!.

Teringat masa kecil yang indah di sana. Saya dan kakak, adik dan¬† sepupu-sepupu saya – bermain-main bersama, tertawa bersama, berkelahi ¬†lalu menangis dan kembali lagi tertawa. Bermain ke sawah, bersepeda di lapangan,¬† mandi di sungai, mengejar capung dan sebagainya. Ah, sayang sekali sekarang kami tinggal terpencar-pencar. Walaupun dulu sering bertengkar juga, tapi saya selalu tahu betapa saudara-saudara saya sangat menyayangi saya, sebagaimana saya menyayangi mereka. Keluarga! Adalah tempat dimana saya selalu mendapatkan kehangatan dan kasih sayang. ¬†Memikirkan itu mata saya jadi berkaca-kaca. “Huaaaaaahh… kangen! Pengen pulang” kata saya kepada kakak saya itu di photo di timelinenya. Kakak saya hanya tertawa ¬†aha. ¬†Mudah-mudahan ia ingat janjinya akan mengajak saya makan ikan mujair ala tepi danau Batur jika saya pulang.

nanda

Saya melihat lagi ke foto keponakan saya itu. Ia tampak serius dengan kacamatanya.  Saya lalu memperhatikan tanaman hias di dekatnya. Dan kembali lagi terpaku pada gambar dekorasi di kaki keponakan saya itu.  Kenapa ya baru kali ini saya memperhatikan gambar itu dengan detail.  Apa mungkin kakak saya  baru habis merapikan atau barangkali mengecatnya ulang? Atau baru menggantinya dengan cone block hias yang  baru ya? Tapi tidak mungkin lah itu gambar baru Рtentu saja saya sudah melihatnya berkali-kali setiap kali saya pulang. Wong warnanya saja sudah kelihatan agak luntur begitu. Apanya yang beda ya? Saya mencoba mencari-cari dan mengingat-ingat. Tapi tidak berhasil menemukan apapun. Ah, barangkali hanya kebetulan saja kaki keponakan saya itu pas berada di atasnya saat dipotret, sehingga mata saya tertarik melihatnya.

Tiba-tiba saya teringat akan gambar-gambar serupa di depan rumah-rumah penduduk di daerah Karnataka, India yang pernah saya ambil tahun yang lalu. Bentuknya sangat beragam,  ada yang berbentuk bunga dengan mahkota delapan, ada yang bergambar bunga lotus, ada yang  berbentuk swastika, empat sudut, mandala dan sebagainya.  Lalu gambarnya juga ada yang kosongan dan sederhana, hanya digambar dengan kapur tulis berwarna putih atau cat putih saja, namun  banyak juga yang padat dan penuh warna-warni dan sulur-sulur. Yang di halaman rumah kakak saya  gambarnya penuh warna. Sekarang saya menyadari  ada banyak persamaan antara seni yang berkembang di India dengan seni di Bali. Setidaknya jika kita memperhatikan design-design dekorasi halaman itu dengan seksama.

Itulah Rangoli.  Dekorasi lantai halaman maupun lantai rumah yang cantik Рdigunakan utamanya hanya sebagai penghias halaman.  Saya mendapatkan informasi, kalau di India sendiri Rangoli dipasang hanya untuk menyambut hari raya, atau acara tertentu seperti misalnya pernikahan dan sebagainya dan dimaksudkan sebagai area suci untuk menyambut  dewa dewi masuk ke rumah.  Sehingga saya banyak melihat digambarnya di depan pintu halaman. Selain itu rangoli digambar sebagai  tanda keberuntungan dan mencegah kesialan. Terelepas dari fungsinya itu, gambar-gambar itu memang sangat indah.

Sayapun memeriksa file foto-foto saya kembali . Sayang disayang- rupanya saya tidak ada menyimpan gambar rangoli yang berwarna-warni. Padahal banyak melihatnya saat saya di sana. Mungkin saya kelupaan memotret.

Saya lalu menghubungi kakak saya kembali dan meminta ia memotretkan Rangolinya dari arah yang lebih baik, sehingga saya bisa melihatnya dengan baik.  Rangoli-rangoli itu memang terlihat cantik dan menarik jika dipasang di halaman.

Berjalan Di Atas Api: Tentang Keberanian & Kemauan.

Standard

???????????????????????????????Pernah suatu kali , saya ikut sebuah kelas¬† Mindful Leadership ¬†dibawah bimbingan Dr Pramod Tripathi yang diakhiri dengan acara ‘firewalking’ alias berjalan di atas api. ¬†Hah???!!! Berjalan di atas api??? ¬†Ya!. Dengan kaki telanjang!. Waduuuh! Kok kaya Debus ya? Atau Kuda Lumping yang makan api? Atau kalau di Bali juga ada kesenian sejenis yang disebut ¬†Tari Sang Hyang Jaran. Para penarinya kesurupan dan bisa berjalan di atas api dengan selamat tanpa sedikitpun melepuh. ¬†Addduuuh, bagaimana mungkin saya akan bisa melakukannya ya? Boro-boro berjalan di atas api, kena percikan minyak panas saat goreng ikan saja sudah melepuh kesakitan.

Saat pertama kali tahu bahwa saya harus menjalaninya, saya sangat terkejut.  Dan sudah pasti merasa sangat khawatir dan takut. Tak bisa membayangkan bagaimana saya akan melakukannya.  Karena tidak punya pilihan lain, maka sayapun berusaha bertanya ke kiri dan ke kanan. Bagaimana sih caranya agar orang bisa selamat jika disuruh berjalan di atas api? .

Rupanya berjalan diatas api ini memang sudah menjadi ritual sejak jaman dulu kala di India. ¬†Dijadikan sebagai alat untuk melakukan test terhadap ¬†Kemauan & Keberanian seseorang. ¬†Juga sebagai alat test terhadap ¬†Kejujuran seseorang. ¬†Oh ya, saya ingat dalam Ramayana, juga dikisahkan bahwa Dewi Sita juga melakukan “Fire Test”¬† untuk menunjukkan kesucian diri dan kejujurannya terhadap Rama suaminya, setelah sempat dibawa kabur dan disekap oleh Rahwana sang raja raksasa di Kerajaan Alengka. Nah.. tentu saja saya bukan Dewi Sita. Lalu bagaimana saya harus melakukannya? ¬†Karena jika dari penjelasan itu saja, saya belum menemukan penjelasan logis yang memuaskan hati saya.

Seorang teman memberi penjelasan ilmiah dibalik  kemampuan orang-orang yang mampu berjalan dengan selamat di atas bara api. Menurutnya, (belakangan saya mendapat konfirmasi kebenaran dari Om Google) Рsebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir atau takut jika berjalan di atas bara api kayu.

Pertama, karena bara api dari kayu yang digunakan dalam kegiatan Firewalk itu bukanlah penghantar panas yang baik. Setidaknya daya hantarnya tidak sebaik logam. Jadi sepanjang baranya adalah dari kayu, kita masih ada kesempatan aman berjalan di atasnya,asalkan kita tahu caranya. Jika baranya logam.. nah itu baru berbahaya.

Kedua,  bara api kayu itu sudah disiapkan sedemikian rupa, dimana sedikitnya sudah ada lapisan abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran itu. Dan abu adalah insulator yang baik. Lumayan buat mengurangi kemungkinan terbakar.

Ketiga, teori mengatakan bahwa jika ada dua benda yang memiliki temperatur berbeda bertemu (bara api vs telapak kaki),  benda yang lebih panas (bara api) akan mendingin, sdangkan benda yang lebih dingin (telapak kaki) akan memanas Рhingga keduanya mencapai titik suhu yang  equal.  Nah kapan persamaan temperatur itu akan terjadi ?  Rupanya tergantung dari temperatur  masing-masing, tingkat kepadatan benda tersebut dan kemampuan konduktifitasnya.  Kata teman saya,  secara umum suhu equal antara bara dan telapak kaki kita itu akan terjadi dalam waktu 5 detik. Jadi jika kita berjalan biasa saja (jangan terlalu lambat atau terlalu cepat), umumnya kita akan selamat. Karena menurut teman saya itu jika kita berjalan normal, maka saat kaki kita menyentuh tanah itu waktunya kurang dari 5 detik sebelum kita angkat kembali.

Sekarang saya sudah paham penjelasan ilmiah itu. Jadi berjalan di atas api itu sungguh bukan sulap bukan sihir. Bukan pula Debus atau Jaran Kepang maupun Sang Hyang Jaran. Semua orang bisa melakukannya. Asal tahu caranya.  Berjalanlah normal atau sedikit lebih cepat dari biasanya. Jangan letakkan telapak kaki di bara terlalu lama. Maksimum 5 detik, lalu cepat angkat kembali. Sisanya biarkan bara dan abu itu  yang bekerja. Dijamin selamat dan tidak terbakar.

Jangan juga berlari kencang  yang menyebabkan tekanan terhadap bara api meningkat. Karena jika terpeleset, beberapa buah bara api mungkin saja bergeser posisinya atau bahkan naik ke permukaan kaki  yang menyebabkan kaki kita sedikit melepuh pada bagian atas.

Saya sudah tahu semuanya itu. Ketakutan saya rasanya agak berkurang. Namun kenapa saya masih deg-degan juga rasanya? Tetap saja khawatir rasanya. Walaupun memang tidak separah sebelumnya.  Tapi waktu yang tersisa cuma sedikit. Saya benar-benar tak punya waktu lagi untuk ragu -ragu. Tak punya pilihan lain. Simple question: mau atau tidak?.

Mau!!!. Saya harus bisa! Saya harus berani!. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian yang cuma secuil, sayapun menggulung celana panjang saya hingga di atas lutut agar tidak terjilat api, melepas sepatu dan memfokuskan diri saya ke jalur api. ¬†Saya harus bisa melewatinya!. Kemudian saya berlari-lari kecil di tempat, mengambil ancang-ancang ….Ho ho ho!… Ho ho ho!.. Ho ho ho… ¬†saya mendengar teman-teman saya¬† berteriak memberi semangat . Lalu…yiaaaatt…. sayapun berjalan cepat nyaris berlari di tas api. Yes!!! ¬†Horre. Berhasil! Berhasil!. Teman-teman saya¬† bertepuk tangan. ¬†Ternyata memang tidak terasa panas, saudara saudara!. Biasa saja, seperti berjalan di atas arang kering yang tidak menyala. Kaki saya tidak terbakar dan tidak melepuh. Jadi, saya membuktikan bahwa teori ilmiah teman saya itu benar.

Lalu mengapa saya setakut itu sebelumnya?

Ketidak tahuan akan sesuatu, membuat kita menjadi takut. Sebelumnya saya tidak tahu bahwa berjalan di atas bara itu cukup aman sepanjang kita hanya membiarkan telapak kaki kontak dengan bara tidak lebih dari 5 detik. Jadi saya sangat takut dan khawatir. Sama dengan hantu. Mengapa kita takut hantu? Karena kita tidak tahu dan tidak kenal dengannya. Tapi seandainya kita tahu, mungkin minimum setengah dari ketakutan itu akan berkurang. Sisanya tinggal bagaimana kita memastikan kemauan kita untuk menghadapinya dan menggalang keberanian kita untuk menuntaskan sisa ketakutan yang ada.  Memusatkan fikiran dan hanya berfokus pada apa yang kita lakukan, juga sangat membantu.

Jadi berjalan diatas api, bukanlah sesautu yang berkaitan dengan mistis, paranormal dan sebangsanya. Bisa dijelaskan secara ilmiah dan sangat logis. Semua orang bisa melakukannya asalkan punya kemauan dan keberanian.

The Banyan Tree – Living Life To The Fullest.

Standard

Pohon BanyanAda sebuah pohon yang selalu membuat saya penasaran karena saya sering mendengar namanya, namun tidak pernah melihatnya seumur hidup saya. Konon menurut cerita, itu adalah pohon yang terbesar yang mungkin ada di permukaan bumi. Dahannya rindang, akar gantungnya banyak, yang kemudian semakin berkembang membentuk batang-batang baru yang membesar. Sedemikian perkasanya pohon itu, sehingga dikatakan sebagai rajanya pohon. Bahkan beberapa sumber merefer pohon itu sebagai Kalpataru,walaupun beberapa sumber lain menyatakan bukan. Pohon itu adalah Pohon Banyan (Ficus bengalensis).

Setelah usia saya mendekati setengah abad, akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk melihat tanaman itu hidup-hidup.  Walaupun dari jarak beberapa meter saja, karena sore telah menjelang malam. Awalnya saya mengira bahwa pohon Banyan itu sama dengan pohon Beringin (Ficus benyamina). ternyata bukan.  Rupanya cuma bersaudara saja. Daunnya kelihatannya berbeda. Daun Beringin biasanya kecil-kecil, agak kaku dan berbentuk ellips. Namun daun pohon Banyan kelihatannya sedikit lebih besar dan mengkilat, walaupun bentuknya juga ellips.  Batang dan akarnya kelihatan mirip, namun kalau diteliti, rupanya batang pohon Banyan biasanya lebih banyak dari pohon Beringin.  Kenapa demikian? Usut punya usut ternyata perbedaan ini ada sebab musababnya.

Pohon Beringin biasanya tumbuh sebagai batang tunggal yang tumbuh dan membesar, lalu mulai mengembangkan akar-akar gantungnya untuk bernafas dan mencari makan di udara agar bisa tumbuh dengan lebih cepat. Akar-akar gantung ini biasanya tetap menggantung dengan ukuran relatif kecil dibanding batang utamanya. Jarang ada yang sangat membesar. Kalaupun ada, biasanya hanya satu dua dan jaraknya tidak jauh  dari batang utamanya. Sehingga jika kita perhatikan, pohon Beringin biasanya memiliki batang yang sangat besar, dahan yang rimbun penuh dedaunan serta akar yang menggantung banyak dan kecil-kecil.

Pohon Banyan rupanya sedikit berbeda.  Ia mulai tumbuh sebagai pohon kecil, seringkali di sela-sela batang pohon hidup yang lain.  Barangkali karena bijinya disebarkan oleh burung dan jatuh di sana. Ia mulai membesar lalu memiliki akar-akar gantung yang banyak. Nah akar gantungnya ini ada yang tumbuh membesar, melilit tanaman induknya, ada juga yang kemudian tumbuh membesar ke bawah  menyaingi batang utamanya dalam ukuran. Tumbuhnya pun agak beberapa jauh dari batang utamanya.  Sehingga pohon Banyan akan terlihat memiliki banyak sekali batang dan dahan.  Iapun bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang luas. Kebetulan yang saya lihat di tempat itu adalah pohon yang masih muda.  Jadi akarnya yang telah menjadi batang belum terlalu banyak. Namun saya sudah bisa melihat, beberapa diantaranya sudah cukup besar diameternya.

Mengapa saya sangat tertarik ingin melihat pohon ini dengan mata saya sendiri adalah karena cerita yang saya dengar bahwa pohon ini bisa tumbuh menjadi sedemikian besarnya menaungi wilayah lebih dari 1.5 hektar dengan sedemikan banyak batangnya. Sehingga jika kita bayangkan, pohon Banyan yang dibiarkan besar, satu pohon bisa membentuk hutan tersendiri. Cukup untuk menaungi kehidupan satwa liar di bawahnya. Selain itu, pohon Banyan ini juga memiliki banyak kisah, selain merupakan salah satu pohon yang disakralkan di India.

Memandang pohon ini, melihat bagaimana akarnya yang berubah menjadi batang tumbuh dari atas ke bawah (bukan hanya dari bawah ke atas seperti umumnya batang¬† pohon) membuat kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang diajak berpikir “out of the box ‘ oleh sang pohon. Bahwa dunia ini bukan hanya bisa berjalan seperti bagaimana aturan yang umum berjalan. Namun juga menyediakan berbagai pilihan lain yang selama ini belum berhasil kita lihat. ¬†Kita perlu men’challenge’ diri kita dengan lebih keras lagi untuk mencari pendekatan-pendekatan alternatif yang beda dari biasanya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari.

Untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, pohon Banyan ini telah melakukan upaya hidup yang sepenuhnya. Telah menjalankan segala kemungkinan cara tumbuh baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Jungkir balik tanpa peduli. Jalani hidup yang sepenuhnya. Secara maksimal. Living life to the fullest!. Itulah sebabnya ia menjadi sedemikian digjaya. Sedemikian perkasa diantara pepohonan.

Matahari sore bergerak turun. Meninggalkan desauan angin yang seolah bertanya. Apakah kita sudah menjalankan kehidupan kita dengan maksimal? Mengerahkan segala upaya kita? Sudah jangkir balik? Kaki ke tas kepala ke bawah? Habis-habisan? Sebelum kita merasa puas dengan pencapaian kita. Atau bahkan sebelum kita menyerah dengan mengatakan bahwa  hanya sebatas ini kemampuan kita. Jika belum jungkir balik, ikhtiarkanlah lebih kuat lagi. Sehingga semua potensi yang ada pada diri kita termanfaatkan dengan baik. jangan cepat merasa puas akan pencapaian kita, karena mungkin saja masih banyak potensi yang belum kita gali dengan optimal. Dan hanya baru mengatakan menyerah dan tak sanggup ketika kita memang benar-benar telah menjalani semuanya dengan semaksimal mungkin namun tetap tak berhasil.

Saya menoleh sekali lagi kepada pohon Banyan di Vassanthanahalli itu. Mengucapkan terimakasih di dalam hati saya.  Lalu melangkah pergi.

Aksara Dalam Mata Uang India.

Standard

Indian RupeeSaya mengamat-amati lembaran uang kertas Rupee . Indian Rupee.  10 Rupee, 20 Rupee, 500 Rupee, 1000 Rupee, semua ada gambar Mahatma Gandhi-nya.  Seperti umumnya mata uang asing lain, sebagian yang saya mengerti hanyalah angka, kalimat dalam bahasa Inggris dan berhuruf latin. Mungkin juga gambar-gambarnya. Selebihnya saya tidak mengerti.

Yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya sebuah  kotak yang berisi berbagai macam jenis tulisan yang berbeda-beda. Sepintas lalu saya melihat ada huruf yang serupa dengan aksara Bali. Walaupun tidak sama, tapi mirip-mirip. Saya berusaha keras untuk menerka apa bacaannya, namun tetap saja saya tidak bisa membacanya.  Aksara di dalam kotak di lembaran uang kertas itupun menjadi teka-teki yang  tak terjawab oleh saya.

Entah sebuah kebetulan,pada suatu malam saya berkesempatan hadir dalam sebuah Cultural Night, dimana diperkenalkan sejarah, budaya dan segala hal tentang India dan Bangalore khususnya. Dalam acara itu saya mendapatkan informasi mengenai tulisan dalam uang Rupee itu.

Penduduk yang Beragam, Bahasa yang Beragam, Aksara Yang Beragam.

Jika di Indonesia, kita memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” – walaupun berbeda-beda,namun tetap satu – demikian juga rupanya di India. India juga memiliki sangat banyak suku bangsa yang berbicara dalam beragam bahasa yang dibicarakan oleh kurang lebih 1,27 Bahasa Dalam Indian RupeeMilyar penduduknya. Ada bahasa Telugu,Urdu, Hindi, Sanskrit, Kannada, Malayalam, Gujarati, Bengali, Tamil, Kashmiri dan sebagainya masih sangat banyak lagi. Atas perbedaan ini, maka diambil keputusan untuk menetapkan Bahasa Hindi sebagai bahasa resmi negara.

Sangat mirip dengan kita di tanah air.  Kita memiliki berbagai macam suku, bahasa dan tulisan, ada Aceh,Batak, Minang, Nias, Sunda, Jawa, Sasak, Dayak, Bugis dan sebagainya Рnamun akhirnya memutuskan untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sekaligus bahasa pemersatu bangsa.

Namun sayangnya, walaupun bahasa resmi yang digunakan adalah Hindi, saya mendapatkan penjelasan ternyata tidak semua orang bisa berbahasa Hindi.  Entah apa sebabnya.

Mungkin permasalahan keberagamannya lebih kompleks dibanding kita. Hal ini tentu membuat kesulitan dalam berkomunikasi. Contohnya misalnya jika seorang penduduk Bangalore pergi ke daerah Maharashtra, rupanya ia tidak bisa berkomunikasi karena bahasanya berbeda.  Demikian juga aksara yang digunakan di jalan-jalan pun berbeda. Nah lho??

Sebagai akibat, maka di dalam mata uangpun terpaksa dimasukkan penjelasan dalam 15 sub bahasa India. Ada aksara Assamese, Bengali, Gujarati, Kannada, Kashmiri, Konkai, Malayalam, Marathi, Nepali, Oriya, Punjabi, Sanskrit, Tamil, Telugu dan Urdu.  Dengan demikian,diharapkan banyak orang akan lebih mudah mengerti akan mata uang tersebut.

Saya juga ¬†mendengar bahwa seorang pemasar di India, jika ingin melakukan kampanye produknya di beberapa negara bagian/provinsi, mau tidak mau terpaksa membuat ¬†film iklan dalam beberapa bahasa jika mau penjualannya lancar. Waduuuh…repot juga ya… Penduduk yang berpendidikan baik, ¬†akhirnya banyak yang menggunakan Bahasa Inggris untuk memudahkan berkomunikasi.

Tulisan yang Mirip.

Aksara BaliHal lain yang menarik perhatian saya, adalah bentuk bentuk tulisan yang ada kemiripannya satu sama lain.  Termasuk kemiripannya dengan aksara Bali dan Jawa.  Seolah-olah memang semuanya berasal dariinduk aksara yang sama. Sayapun penasaran, dari manakah tepatnya kira-kira aksara Bali yang sekarang, dahulunya berasal?.  Benarkah daerah India Timur?

Saya pernah mendengar bahwa aksara Jawa, Bali  dan aksara suku-suku lain yang ada di Indonesia maupun aksara-aksara yang ada di negara-negara Asia Tenggara berinduk pada aksara Brahmi yang dibawa dari India, ribuan tahun yang lalu. Sayangnya saya tidak melihat ada aksara Brahmi dalam uang kertas itu. Barangkali aksara Brahmi itu juga sudah punah sekarang dan meninggalkan anak cucu serta cicit aksara yang menyebar. Untungnya, walaupun punah namun masih tetap meninggalkan keturunan yang masih hidup dan berevolusi hingga saat ini. Nah, bagaimana jika aksara ini punah tanpa meninggalkan jejak ?

Saya merenung. Jika semua orang tidak lagi menggunakan aksaranya sendiri, tentu lama kelamaan akan punah. Demikian juga aksara Bali. Jika tidak digunakan, tentu suatu saat akan punah juga. Syukurnya aksara ini masih cukup sering digunakan secara pasive dalam berbagai kegiatan di Bali.

Hmm..mengingat itu, saya jadi teringat pada diri saya sendiri. Sudah lama saya tidak pernah menggunakan huruf Bali lagi dalam kegiatan saya sehari-hari.  Karena semuanya ada dalam huruf Latin.  Maka saya pun mencoba mengingat-ingat dan berlatih menulis lagi.

Saya mencoba menulis nama saya sendiri kembali dalam Aksara Bali.

Mengenal Alam Pedesaan Di Pedalaman India.

Standard

Selama beberapa hari saya berada di Camp Pegasus yang jika saya lihat di Google Map berada di daerah yang bernama Vassanthanahalli, dekat desa Kallukote, di wilayah Karnataka, India.  Tempat dan kegiatan yang sangat menyenangkan. Berada di atas tanah yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan.  Saya melihat ada pohon asam, sawo, ceremai, jambu biji, banyak pohon jati dan sebagainya ditanam di tempat itu.  Sangat teduh.Sementara di bawahnya di tanam berbagai macam sayuran, seperti kubis,tomat, terong dan sebagainya. Mengingatkan saya akan masa kecil saat aktif di Pramuka, melakukan camping, tidur di tenda, makan dengan beralaskan daun dan sebagainya. Benar-benar kehidupan yang sangat dekat dengan alam.

Ini adalah tenda dimana saya tidur selama berada di sana.

Ini adalah tenda dimana saya tidur selama berada di sana.

Mungkin karena kesenangan saya akan alam, maka saya memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di sela-sela kesibukan untuk menikmati alam sekitarnya. ¬†Demikian juga sore itu. ¬†Dua orang teman India saya¬† mengajak berjalan-jalan keluar Camp. “Dani! jalan-jalan yuk! ” ajaknya begitu melihat saya usai dengan kegiatan saya sore itu.¬† Sayapun segera menyimpan alat-alat tulis saya dan mengambil kamera saku di tenda lalu segera berlari ke arah teman saya itu. “Kemana?” tanya saya. “Kemanapun kamu mau, akan kuantar” kata teman saya itu. Yes!! teman yang sangat baik!. Sayapun mengutarakan keinginanan saya untuk pergi ke danau. “Iwant to take some pictures” kata saya. Teman saya setuju. Mendengar itu, dua orang teman saya yang berkebangsaan Inggris pun mau ikut juga. Maka berangkatlah kami berlima menuju danau.

Tanah ladang yang berwarna merah sehabis di olah dan siap untuk ditanami kembali.

Tanah ladang yang berwarna merah sehabis di olah dan siap untuk ditanami kembali.

Perjalanan ke danau cuma makan beberapa puluh menit. Melewati ladang-ladang penduduk . Banyak tanah ladang yang terbuka dan kelihatannya baru habis diolah dan siap ditanami kembali. Tanahnya yang merah terlihat sangat indah diterpa matahari sore yang hangat. Sambil berjalan, saya melihat-lihat ke kiri dan kanan.

Suara burung terdengar riuh sekali bercericit dan berkicau dari arah semak-semak. Burung-burung  Pipit Benggala (Amandava amandava) yang sangat banyak populasinya.  Masih sekeluarga dengan pipit di tempat kita, namun warnanya merah  dengan bintik-bintik yang indah.  Sayang saya tak membawa kamera yang baik untuk menangkap gambar burung-burung itu. Juga banyak sekali burung Gagak di sana. Ukurannya sangat besar. Saya pikir burung-burung itu lebih besar dari ukuran tubuh seekor kucing. Membuat saya berpikir keras, apakah burung ini termasuk Raven atau Crow?  Bulunya yang  kusam dan paruhnya yang agak pendek membuat saya berpikir bahwa itu adalah gagak Crow. Sedangkan ukuran badannya yang sedemikian besar membuat saya berpikir bahwa itu adalah gagak Raven. Di Indonesia, baik Raven maupun Crow keduanya disebut dengan Gagak. Juga sangat jinak. Suaranya berkaok-kaok, hinggap di pepohonan, di tiang bahkan di tanah tanpa memperdulikan orang yang lewat. Barangkali karena tak pernah diganggu manusia, sehingga burung-burung itu merasa aman , tentram dan damai tanpa terusik.

Burung gagak berukuran besar sedang bertengger di atas batu pagar camp

Burung gagak berukuran besar sedang bertengger di atas batu pagar camp

Selain melihat-lihat burung,saya juga sekalian melihat bunga-bunga liar yang tumbuh di kiri kanan ladang. Banyak sekali. Salah satu yang membuat saya terkejut kegirangan, di sana saya menemukan pohon Kayu Tiblun. Dulu waktu saya kecil, bunga Tiblun ini selalu ada setiap hari raya Galungan. Bersama-sama dengan Bunga Padang Kasna (Edelweiss), bunga Tiblun selalu menjadi pertanda datangnya hari raya di Bali. Sudah lama saya tidak melihat bunga itu lagi di pasaran, tergantikan dengan bunga-bunga yang dibudidayakan manusia. Sehingga pernah berpikir jangan-jangan tanaman Kayu Tiblun itu sudah punah. Namun kali ini tiba-tiba saja tanaman itu ada di depan mata saya dan sedang berbunga pula.  Alangkah girangnya!.

Pohon Kayu Tiblun yang sedang berbunga

Pohon Kayu Tiblun yang sedang berbunga

Yang menarik hati lagi adalah lapisan batu-batu tua dari jaman precambrium yang sangat banyak yang mencuat ke permukaan tanah.  Sangat mencengangkan, karena area area yang terbuka yang tadinya saya pikir tanah tandus yang tak bisa ditanami ternyata setelah saya dekati adalah hamparan batu  besar yang sangat luas. Seringkali sama luasnya dengan ladang. Oh,pantas saja tak ada tanaman yang tumbuh diatasnya.

Tanah itu ternyata adalah batu yang sangat luas dari jaman precambium.

Tanah itu ternyata adalah batu yang sangat luas dari jaman precambium.

Namun demikian, di sela-sela lapisan batu-batu itu, selalu ada sedikit lapisan tanah yang cukup subur bagi peladang walaupun lapisannya sangatlah tipis dibanding luasnya lapisan batu yang ada di situ. Penduduk memanfaatkannya untuk untuk bertanam bawang putih, kentang, jagung, kacang dan sebagainya.  Sangat hijau dan subur.

Ladang bawang putih yang mengingatkan saya akan kampung halaman saya, desa Songan di tepi danau Batur Kintamani di Bali.

Ladang bawang putih yang mengingatkan saya akan kampung halaman saya, desa Songan di tepi danau Batur Kintamani di Bali.

Kami terus berjalan. Akhirnya mencapai sebuah persimpangan. beberapa orang penduduk terlihat berjalan pulang dari ladang. Ada seorang wanita yang menggiring sapinya yang terlihat kurus agak kurang makan. Saya sempat bertanya, untuk apa penduduk memelihara sapi,bukankah sebagian besar penduduk India tidak mengkonsumsi daging sapi? jawabannya adalah untuk membantu mereka bekerja di ladang dan diperah susunya. Teman saya yang bisa berbahasa setempat menanyakan dimana letak danau. kamipun diberi petujuk jalan yang tersingkat. Sungguh sangat beruntung memiliki teman yang mengerti, sehingga saya merasa sangat aman bersamanya dan tidak khawatir tresesat.

Danau di Vassanthanahalli

Akhirnya kami berbelok, tidak lagi mengikuti jalanan kampung itu, tapi masuk dan berjalan di pinggir ladang yang baru saja ditanami kacang.  Danau tampak kecil. Saya pikir debit airnya kurang karena kemarau yang panjang.  Namun rupanya saya hanya melihat sebagian kecil saja dari sisi barat danau itu.  Saya dan teman-teman turun ke danau. Banyak kerang air tawar  bertebaran di pantainya. Sayapun mengambil beberapa gambar.  Hari semakin sore. Matahari perlahan lahan tenggelam dan danau itupun  menjadi gelap.

Danau kecil di Vassanthanahalli

Danau kecil di Vassanthanahalli

Kamipun kembali pulang ke Camp. kembali menyusuri jalan setapak dan ladang-ladang yang sekarang telah gelap. Merekam semua ini ke dalam ingatan saya dan mengenang teman-teman yang bersama saya dalam perjalanan ini. Kebersamaan yang indah.

 

Rapelling : Rock & Roll Moment…

Standard

???????????????????????????????Di pedalaman India, di dataran tinggi Deccan, ada sebuah daerah yang sangat menarik perhatian saya. Kata orang daerah itu bernama Kallukote. Daerah yang sejuk, penuh dengan perbukitan batu. Dari bawah pohon asam yang rindang yang tumbuh di salah sebuah punggung bukit batu itu, mata kita bisa bebas lepas menelusuri dataran di bawahnya. Angin bertiup dengan lembut, matahari bersinar terang tanpa terasa panas, suara kambing yang mengembek saat digiring menaiki perbukitan oleh gembala. Bunga-bunga liar  bermekaran serta burung-burung beterbangan dari satu semak ke semak yang lainnya di sekitar batu-batu besar yang menghampar. Luar biasa tentram dan damainya.

Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ‚ÄúRapelling‚ÄĚ ¬†di tempat itu, yang dikaitkan dengan Global Leadership Training yang saya ambil. ¬†Rapelling adalah kegiatan menuruni dinding batu yang terjal dengan hanya menggunakan bantuan tali. Mungkin banyak yang sudah mengalaminya atau bahkan ahli di bidang itu. Namun saya baru pertama kali melakukannya.

Menghadapi Ketakutan.

Setiap manusia, tentunya pernah mengalami rasa takut di dalam hidupnya. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika melihat batu besar yang tingginya beberapa meter serta sangat  curam yang harus saya turuni. Saya merasakan ketakutan dan keraguan yang luar biasa. Bisakah saya melewatinya? Bagaimana jika tali itu tidak kuat menopang berat tubuh saya? Atau jika kaki saya terpeleset dari atas?  Atau seandainya tangan saya terlepas dari tali?

Oohh! Mungkin saya akan jatuh bergedebum ke tanah di bawah batu itu dan… mungkin tubuh saya akan hancur remuk berserakan.

Ooh! Bagaimana nasib anak-anak saya  yang masih kecil? Pikiran buruk menyerang kepala saya. Rasa takut, khawatir dan ragu yang sangat melemahkan diri dan otot-otot tubuh saya.

Seorang teman ada yang memutuskan untuk mundur. Rasanya saya juga ingin menarik diri. Ingin membatalkan kegiatan itu. Banyak sekali bujukan-bujukan melemahkan yang berseliweran di kepala saya. Dan pelatih kami, seolah tidak mendengar sama sekali apa yang ada di kepala kami. Ia tetap memberikan informasi dan  instruksi bagaimana caranya memasang cantelan tali di pinggang kita. Menarik, mengencangkannya dan menguncinya. Lalu memberikan instruksi untuk menggunakan helmet, cara memegang dan mengendalikan tali serta mengatur jarak genggaman tangan kiri dan kanan versus tali. Lalu memerintahkan kami untuk naik ke atas batu dan mulai menuruninya satu per satu. Ia tidak membuka option untuk mundur sama sekali.

Satu per satu teman-teman saya dari negara lain maju dan menuruni dinding batu terjal itu dan berhasil. Hal ini membuat saya berpikir, bahwa saya harus menghadapi rasa ketakutan saya.  Jika orang lain bisa melakukannya,mengapa saya tidak bisa? Apakah saya akan memanfaatkan alasan gender untuk menyerah? Ah! Yang benar? Apakah memang kaum wanita lebih lemah, lebih penakut, lebih khawatir dan lebih peragu daripada kaum lelaki? Apa yang terjadi jika saya mundur? Gagal??!!! Saya tidak menyukai kata itu. Saya tidak suka gagal. Dan saya tidak mau gagal.  Saya  harus melakukan sesuatu untuk membuat diri saya sukses!.

Sekarang saya merasa tidak punya pilihan selain menghadapinya. Takut adalah satu hal. Namun jika saya tidak mau gagal, maka saya tidak punya pilihan selain menghadapinya. Maka mau tidak mau saya harus terus maju. Saya harus menghadapi rasa ketakutan saya dan bukan lari darinya. Maka saya melangkahkan kaki saya ke arah batu besar itu.

Menggalang Keyakinan.

Instruktur saya mencantelkan tali di pinggang saya. Memeriksa serta memastikan semua tali berada dalam keadaan baik. Ia lalu menanyakan nama saya dan dari negara mana saya berasal. Saya pun bercerita singkat tentang diri saya  dan bertanya bagaimana teknik yang terbaik agar perjalanan saya ke bawah berhasil dengan selamat. Pendek kata ia memberitahukan, bahwa secara umum tali itu sangat aman. Sebaiknya saya selalu memegang erat tali di belakang pinggang saya dengan tangan kiri, menggesernya sedikit demi sedikit untuk memberi kesempatan tubuh saya bergerak turun. Sementara tangan kanan bisa longgar memegang tali yang di depan tubuh saya. Ia juga memberi tips agar saya selalu menjaga lutut saya tetaplurus dan tidak bertekuk, merebahkan tubuh saya dengan kemiringan yang sesuai dengan kemiringan permukaan batu dan berjalan mundur setahap demi setahap seperti bayi.

Pemahaman teknis ini memberikan tambahan keyakinan pada diri saya, bahwa saya pasti akan mampu melaluinya dengan selamat.  Sayapun membulatkan tekad saya. Mulai mengatur strategy untuk gerakan kaki, tangan dan tubuh saya dalam kaitannya dengan permukaan batu dan tali penyelamat yang diberikan kepada saya.  Sekarang saya siap, lalu saya melangkahkan kaki pertama saya turun.

Wow! Luarbiasa! Saya merasakan badan saya miring. Tiba-tiba sejumput keraguan melintas tipis di kepala saya. Akankah saya aman?

Rupanya sang instrukstur menangkap keraguan di sinar mata saya ‚Äď karena seketika ia berkata kepada saya ‚ÄúDon‚Äôt worry. You have me here for you. Trust me! Look into my eyes!‚ÄĚ. Saya melihat ke dalam matanya dan saya merasakan ketenangan dengan mempercayakan seluruh keselamatan diri saya padanya. Ia terus memberi instruksi kepada saya ‚ÄúAnd keep stepping…. Down! Downward! Downward! Good! Keep Stepping!‚ÄĚ Dan seterusnya…

 Saya  terus berjalan mundur ke bawah. Selangkah demi selangkah dengan berani. Lalu tiba pada bagian turunan batu yang sangat terjal dan agak cekung ke dalam. Saya berusaha mencari-cari tempat berpijak  yang aman untuk kaki saya dalam posisi tubuh sejajar dengan permukaan tanah namun menggantung beberapa meter di atasnya.

Sekarang saya tidak lagi mendengarkan kata-kata instruktur saya. Ia sudah terlalu jauh di atas sana dan tidak kelihatan lagi oleh saya. Yang ada hanya saya, tali dan batu terjal itu. Angin berhembus sepoi-sepoi. Saya merasakan kenyamanan yang sangat. Berada di udara! Menengok ke bawah. Alangkah indah pemandangan dari atas sini. Saya sangat bersyukur diberinya kesempatan untuk memandang ciptaanNYA yang maha agung dari posisi tempat saya bergantung dengan seutas tali. Jika saya sebelumnya mundur, tentu saya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk merasakan hal ini.

¬†‚ÄúYiiihaaaaahhhhhh!!!!‚ÄĚ ¬†¬†Suara saya bergema di udara. Saya tersenyum bahagia kepada diri saya sendiri. Bahagia, atas kesuksesan saya menghadapi ‚ÄúRasa Ketakutan‚ÄĚ saya sendiri ‚Äď yang merupakan ‚ÄúObstacle‚ÄĚ terbesar di dalam diri saya.

Lalu saya melambaikan tangan kanan ke arah teman-teman saya yang menunggu di bawah, memberi semangat dan  bertepuk tangan atas keberanian saya.Sayapun kembali melangkah perlahan. Turun, turun dan turun  dengan bantuan tali di batu itu.

Akhirnya sayapun menjejakkan kaki saya ke tanah dengan selamat.

‚ÄúRock and Roll. Yeah!!!‚ÄĚ kata seorang teman saya.